Rabu, 14 Januari 2015

Panglima TNI : 1.052 Personel TNI Dilibatkan Dalam Operasi Gaktib dan Yustisi TNI 2015

Panglima TNI : 1.052 Personel TNI Dilibatkan Dalam Operasi Gaktib dan Yustisi TNI 2015
Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko bertindak selaku Inspektur Upacara (Irup) pada gelar operasi Penegakan Ketertiban (Gaktib) dan Yustisi TNI tahun 2015 dalam suatu upacara militer bertempat di Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur, Selasa (13/1/2015).
Gelar Operasi Gaktib dan Yustisi TNI 2015, mengambil tema "Melalui Operasi Gaktib dan Yustisi TA 2015 Kita Wujudkan Prajurit Yang Memiliki Jiwa Patriot Sejati, Profesional dan Dicintai Rakyat", melibatkan 1.052  personel, terdiri dari Mabes TNI 61 personel, TNI AD 271 personel, TNI AL 266 personel, TNI AU 266 personel dan POLRI 188 personel.
Operasi Gaktib dan Yustisi dilaksanakan sebagai upaya untuk menekan dan mencegah terjadinya pelanggaran serta perbuatan melanggar hukum, tujuannya adalah terselenggaranya operasi ini dengan tegas dan berwibawa serta dilaksanakan secara mandiri maupun gabungan di wilayah hukum masing-masing Angkatan dengan melibatkan seluruh Prajurit Polisi Militer TNI AD, AL dan AU serta para Ankum dibantu Provost Polri.
Sedangkan sasarannya adalah meningkatkan disiplin dan tatatertib serta kepatuhan hukum prajurit TNI baik perorangan maupun kesatuan; Terciptanya prajurit TNI yang memiliki jiwa patriot sejati, profesional dan dicintai rakyat; Mewujudkan kehidupan prajurit TNI yang bebas dari narkoba dan barang terlarang lainnya dan mencegah terjadinya kesalahpahaman antara prajurit TNI dan Polri serta masyarakat.
Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko dalam sambutannya menyampaikan, bahwa pembangunan kekuatan dan kemampuan TNI di era saat ini telah menunjukkan kemajuan yang signifikan, seiring dengan kompleksitas tantangan tugas TNI, yang terus bergerak dinamis dan kecenderungan tidak semakin ringan. Namun pada sisi lain, secara jujur harus diakui bahwa ditengah kesibukan kita melaksanakan tugas, masih terdapat penyimpangan-penyimpangan perilaku dan sikap-sikap primitif prajurit, yang melanggar kaidah-kaidah norma, moral, sosial dan keagamaan.
"Penyimpangan perilaku dan sikap primitif tersebut merupakan pelanggaran  disiplin, yang dapat menjadi parasit bagi upaya membangun TNI yang profesional, solid, militan dan dicintai rakyat, karena upaya membangun TNI pada hakikatnya harus berorientasi kepada nilai sikap dan kode etik, sebagaimana yang terdapat di dalam Sapta Marga dan Sumpah Prajurit", kata Panglima TNI.
Lebih lanjut Jenderal TNI Dr. Moeldoko mengatakan, dalam kaitan tersebut, upaya penegakan disiplin dan kode etik keprajuritan menempati posisi penting dan sangat dibutuhkan guna mampu secara maksimal memberikan dampak positif bagi konsistensi sikap dan perilaku prajurit TNI. Untuk itu, diharapkan kepada seluruh petugas Opsgaktib dan Yustisi  untuk memiliki kesamaan persepsi dalam proses penegakan dan penyelesaian pelanggaran hukum, disiplin dan tata tertib prajurit TNI.
"Pada sisi lain, sangat tidak mungkin penegakan hukum, disiplin, dan tata tertib dapat berjalan dengan baik, apabila petugasnya sendiri tidak disiplin dan tidak profesional, karena ketidakdisiplinan dan tidak profesionalnya petugas akan sangat berdampak negatif pada upaya penegakan hukum, disiplin, dan tata tertib yang diselenggarakan", kata Panglima TNI.

TNI. 

Jenderal Spanyol kunjungi Markas Indobatt di Lebanon

Jenderal Spanyol kunjungi Markas Indobatt di Lebanon
Komandan Sektor Timur Unifil Brigadir Jenderal Antonio Ruiz Olmos asal Spanyol didampingi beberapa Stafnya mengunjungi Markas Indobatt (Indonesian Battalion) Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-I/UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon), di UN Posn 7-1 Adshit Al-Qusayr, Lebanon Selatan, Selasa (13/1). 
Kunjungan Dansektor Timur UNIFIL di Markas Indobatt dalam rangka melihat secara dekat kegiatan prajurit TNI yang tergabung dalam Konga XXIII-I/UNIFIL serta Tour Area Operasi Sektor sekaligus mengecek kesiapsiagaan satuan jajaran Sektor Timur dalam menjaga keamanan di wilayahnya masing-masing. 
Kedatangan Jenderal Antonio Ruiz beserta rombongan disambut oleh Komandan Satgas (Dansatgas) Konga XXIII-I/UNIFIL Letkol Inf Andreas Nanang Dwi Prasetyo, S.IP di dampingi Wadansatgas Mayor Inf Eko Handono dan para Perwira Staf beserta prajurit Indobatt,  dilanjutkan menerima paparan singkat tentang situasi dan kondisi di sekitar area Pos serta kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan maupun rencana kegiatan kedepan dari masing-masing Kompi yang berkaitan dengan kegiatan latihan, patroli maupun administrasi.
Selanjutnya, Jenderal Spanyol dan rombongan meninjau kegiatan Kompi-Kompi yang berada di area Markas Indobatt. Kunjungan di awali ke Kompi D dengan meninjau Hospital Indobatt, dilanjutkan ke Rubb Hall di Kompi Bant untuk melihat Display Logistik dan Cimic Indobatt.  Dalam setiap peninjauannya, Dansektor Timur sempat berbincang-bincang sejenak dengan prajurit Indobatt serta mengungkapkan rasa kagumnya saat melihat beberapa peragaan kesenian yang diperagakan oleh prajurit Indobatt diantaranya kesenian tari Topeng, Debus, dan Tari Papua. 
Sebelum melakukan kunjungan ke Markas Indobatt UN Posn 7-1 di Adshit Al-Qusayr, Jenderal Antonio Ruiz beserta rombongan juga berkunjung ke Kompi Bravo di UN Posn 7-3 di Sektor Timur, selanjutnya melihat secara langsung kegiatan Pos-Pos di Panorama, Flag Point dan UN Posn 9-63 Kompi Alpa dalam rangka meninjau perbatasan Blue Line yang letaknya di perbatasan antara dua Negara Lebanon dengan Israel, yang merupakan wilayah tanggung jawab dari Kompi Alpa Indobatt. 
"Saya selaku Komandan Sektor Timur UNIFIL menyampaikan apresiasi yang sangat baik kepada prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Indobatt, agar tetap selalu berpedoman pada SOP (Standard Operating Procedure) dan STIR (Standardize Tactical Incident Reaction) yang ada", kata Jenderal Antonio saat memberikan sambutannya kepada prajurit Indobatt.

TNI. 

AU di Tengah AD

Dua perwira AU melerai pertempuran dua pasukan AD di "rumahnya" Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusuma.
PAGI, 2 Oktober 1965. Pilot Komodor Udara Ignatius Dewanto dan kopilot Kapten Udara Willy Kundimang mendaratkan Cessna L-180 tanpa pemandu di Pangkalan Angkatan Udara (PAU) Halim Perdanakusuma. Setelah memarkir pesawat, keduanya turun.
Tiga anggota Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) –kini Komando pasukan Khusus atau Kopassus– menghampiri sembari menodongkan senjata AK-47. Begitu tahu mereka berhadapan dengan seorang perwira tinggi, mereka segera memberi hormat. Setelah menjelaskan tujuannya, mereka minta izin melucuti senjata –kecuali Dewanto.
Toto, sapaan akrab Dewanto, dan Kundimang tak melawan sesuai perintah Laksda Sri Moelyono Herlambang, petinggi AU yang menjadi menteri negara tanpa portofolio dalam Kabinet Dwikora I, agar sedapat mungkin menghindari kontak senjata.
Kelima orang tersebut lalu menuju hangar dan bergabung dengan prajurit Yon-1/RPKAD lainnya. Tuan rumah menjamu dengan ramah. Maklum, banyak di antara mereka saling kenal dan pernah menjalani operasi militer bersama dari Trikora hingga konfrontasi Indonesia-Malaysia. Di tengah obrolan santai, terdengar rentetan senjata. Baku tembak terjadi antara pasukan Batalyon 454 Banteng Raiders dan RPKAD.
Wakil komandan Yon 454 Kapten Inf. Koentjoro mendapat perintah dari atasannya, Mayor Sukirno, untuk mempertahankan Halim dan tak boleh ada pasukan manapun masuk kecuali AU. Di sisi lain, RPKAD di bawah Kolonel Inf. Sarwo Edhie diperintahkan Pangkostrad Mayjen Soeharto untuk menduduki Halim. Perintah itu keluar menyusul kekhawatiran Soeharto akan terjadinya serangan AU terhadap Makostrad. Dalam pandangan Soeharto, AU mendukung G30S pimpinan Letkol Untung.
“Kalau pertempuran itu kita biarkan, habis Halim. Kamu tahu Willy, di Halim ada aset negara yang sangat berharga, yaitu pesawat. Selain itu banyak keluarga AURI,” kata Toto kepada Kundimang, sebagaimana dimuat dalam Menyingkap Kabut Halim 1965 yang disunting Aristides Katoppo.
Toto dan Kundimang berinisiatif melerai. Dengan jip Nissan Patrol, mereka menembus hujan peluru menuju posisi pasukan Raiders. Kundimang menemui Koentjoro dan memintanya menghadap Toto. Koentjoro sempat marah. Setelah dijelaskan Jenderal Dewanto ingin bertemu untuk menyelesaikan pertempuran, Koentjoro mengajak dua anak buahnya.
Di depan Dewanto, Koentjoro menjelaskan alasan penempatan pasukannya di Halim. Toto mengapresiasi profesionalitasnya, tapi memerintahkan Koentjoro agar menahan tembakan. Pertempuran mereda.
Kundimang, dikawal seorang prajurit Pasukan Gerak Tjepat (PGT), lalu ditugaskan menyerahkan surat yang ditujukan untuk Sarwo Edhie. Berbekal kain putih sebagai lambang perdamaian dan pita merah-hijau di bahu kiri –tanda pengenal dari Raiders– Kundimang dan prajurit PGT berjalan ke tempat pasukan RPKAD.
Sesampai di sana, karena Sarwo Edhie masih dalam perjalanan ke Halim, mereka ditemui Mayor Inf. Goenawan Wibisono. Setelah menyerahkan surat, mereka kembali. Pita pengenal dari RPKAD tersemat di bahu kanan.
Di tengah penantian kedatangan Sarwo Edhie yang hampir sejam, dua dentuman keras tiba-tiba terdengar dan diikuti rentetan senjata. Pasukan Raiders bahkan melepaskan bazoka begitu melihat kedatangan panser Ferret Mk-1/1 dari arah RPKAD. Padahal panser itu berbendera putih dan dikirim untuk menindaklanjuti upaya perundingan. Koentjoro, atas perintah Toto, akhitnya memerintahkan pasukannya menahan tembakan.
Kundimang kembali ke posisi RPKAD. Goenawan mengatakan Sarwo Edhie minta Toto yang datang. Setelah mendapatkan pinjaman mobil, Kundimang menjemput Toto.
“Sebagai yang empunya Halim, saya akan menjemput tamu saya,” kata Toto.
Ketegangan sempat terjadi antara Toto dan Koentjoro yang bersikeras menjaga Halim. “Saya mengerti sikap Kapten, tapi untuk apa Kapten melaksanakan perintah dengan harus menutup pintu rumah saya?” kata Toto.
Toto dan Kundimang bertemu Sarwo Edhie yang setuju mengakhiri pertempuran. Maka, jip Kundimang dan Toto kembali ke posisi Raiders. Goenawan ikut bersama mereka. Sesampai di tujuan Koentjoro memberi hormat kepada Toto dan berpelukan dengan Goenawan. Koentjoro mengatakan kepada Toto bahwa dia akan menarik pasukan Raiders ke arah timur menuju Bekasi.
Pertempuran yang menewaskan seorang prajurit RPKAD itu, berhenti. Mission accomplished.
 

SU 35 Calon Pengganti F5 TNI AU

  Su-35s

Sukhoi SU 35

Tempo online tanggal 12/01/2015 mengeluarkan artikel-foto berjudul : SU 35 Calon Pengganti F5 TNI AU. Membaca tulisan itu, hati terasa senang dan saya pun senyum senyum sendiri (padahal baru tulisan saja ya :D ).
Tulisan Tempo. Co itu saya harapkan doa. Mbok kali ini, Indonesia bisa punya pesawat tempur canggih, jangan lagi beli yang bekas pakai. TNI AU dan pilot-pilotnya perlu lompatan teknologi, perlu bangga dan perlu merasa memiliki pesawat tempur yang handal.
Saya sedang membayangkan, akan meledak-ledak perasaan mereka saat memiliki pesawat SU-35 yang memang mereka mimpikan. Akankah Indonesia bisa melalui fase ini untuk naik ke fase yang lebih tinggi, atau akan tetap berputar putar di tempat.
Saya jadi ingat pembicaraan dengan pilot helikopter BO 105 di Korvet Sigma Indonesia. Sore itu, ketika kegiatannya sudah agak longgar, saya tanya, apa kehebatan BO 105 ini, sehingga ditempatkan di Korvet yang modern.
Sang pilot, tidak bisa bercerita banyak dan saya sadar memang tidak banyak yang bisa diceritakan soal kecanggihan Bolcow-105 itu, yang sudah tua. Helikopter itu hanya dipakai terbang memantau laut pakai mata kepala. Tidak punya sonar, senjata ataupun rudal.
Nah terbayang, kalau TNI jadi mengakusisi pesawat tempur SU-35, dan prajurit ditanya apa kehebatan pesawat tempur itu, tentu mereka bercerita dengan bersemangat dan bangga. Semangat dan kebanggan memang sedang dibutuhkan negeri kita ini.
Sekarang, mari kita nikmati ulasan dari Tempo.co tentang SU-35, calon pengganti F-5 TNI AU. Beli 6 unit pun tak apalah, yang penting punya dulu.
image
Biro rancang Sukhoi menerbangkan pesawat SU-35 pertama kali, pada tahun 2007. Rencana pembelian pesawat pengganti F5 Tiger TNI AU, membuat para petinggi TNI AU harus berpikir matang sebelum menentukan alutista terbaik untuk menjaga langit Indonesia. Terlebih efek deterens dari pesawat SU-35, lebih tinggi dibanding kandidat lain. Sukhoi.com
image
Sukhoi 35, merupakan pesawat jet tempur buatan Rusia, SU-35 pesawat canggih generasi 4++. Rencananya pesawat SU-35 ini calon pengganti pesawat legendaris F5 tiger milik TNI AU, selain SU-35 TNI AU mempunyai kandidat lain yaitu Typhoon Eurofighter, JAS-39 SAAB Gripen dan F16 Block 52+. ERIC FEFERBERG/Getty Images
image
Bagi orang awam sangat sulit membedakan SU-35 dengan SU-27 maupun SU-30MK. Namun untuk membedakannya cukup mudah, yaitu dari aerodinamika fuselage atau bodi pesawat. SU-35 lebih ramping dibanding dengan SU-27 milik TNI AU. Tidak adanya canard atau sirip pengendali di hidung pesawat, menjadi ciri dari SU-35. Sukhoi.com
image
Banyak pihak meyakini bahwa performa dari SU-35 setara dengan F-35 milik Amerika. Di dalam kabin SU-35 sudah tidak ditemui lagi, insturmen pesawat yang menggunakan jarum penunjuk. Panel kontrol digital menggantikan sistem analog, keuntungan jika Indonesia membeli SU-35, alutista satu ini tidak rawan embargo politik dibandingkan dengan alutista sejenis buatan Amerika. JOHANNES EISELE/Getty Images
image
Komsomolsk-on-Amur, merupakan pabrik pembuat dari SU-35, pesawat ini dilengkapi dengan Sturn / UFA AL-31F 117S turbofan engines, mampu mendorong pesawat hingga kecepatan 2.500 km perjam. Dengan daya jelajah 3.600 km, membuat pesawat yang diawaki satu orang, ditakuti banyak pihak. ERIC FEFERBERG/Getty Images
Sukhoi su 35
SU-35 dipersenjatai dengan senapan mesin GSH-30 30mm, KAB-500Kr TV-guided bomb, KAB-500S-E satellite-guided bomb. Selain senjata radar phased array Irbis-E dengan jangkauan 400km, menjadi penentu dalam duel udara. OLS-35 IRST memampukan SU-35 membidik lawan tanpa menggunakan radar, berkemampuan look down shoot down. DMITRY KOSTYUKOV/Getty Images. (Tempo.co).

Kohanudnas Segera Operasikan Weibel Portable Radar

MFTR-2100-40dB-with-camera-1024x682
Di tahun 2015 TNI AU tengah menyiapkan program pengadaan dan peningkatan alutista. Diantara beragam alutsista yang bakal dibeli, tersebut nama radar Weibel. Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia, seperti disampaikan Dispenau, mengkonfirmasi bahwa “Kita akan membeli 1 unit radar rudal MLAAD (Medium and Low Altitude Air Defense) dan dua unit radar Weibel,” Namun apakah radar Weibel yang jadi andalan Kohanudnas ini?
Weibel Scientific adalah perusahaan asal Denmark yang memproduksi radar dengan prinsip doppler. Radar buatan mereka termasuk yang terdepan di Dunia. Weibel menyediakan berbagai radar untuk memenuhi kebutuhan pengukuran dan pelacakan yang berbeda.
Radar portable yang diincar TNI AU ini bersifat mobile dan dapat diangkut dengan mudah oleh pesawat angkut sekelas C-130 Hercules. Radar ini dapat beroperasi di segala cuaca. Moda operasinya dapat melacak terus-menerus suatu kawasan dalam putaran 360 derajat. Jarak pelacakannya antara 550 sampai lebih dari 1000 Km dan pengintaian pada jarak 250 sampai 400 Km. Radar ini juga dilengkapi sistem Tx Synthetic Aperture untuk membuat gambar dari obyek, seperti lanskap dalam tampilan 2D atau 3D, memberikan resolusi spasial yang lebih baik daripada radar konvensional. Radar Weibel juga dilengkapi Rx Digital Multi Beam Phased array.
Seremoni penyerahan radar Weibel ke pemerintah Indonesia.
Seremoni penyerahan radar Weibel ke pemerintah Indonesia.
mflrt_newDoppler
Semua radar Weibel memiliki muzzle velocity radar system, active protection radar system, sistem doppler, tracking Radar Systems, multi frekuensi, ranging radar untuk platform pihak ketiga, pelacakan multi sensor, dan sistem pengintai dan pelacak.
Seperti halnya satuan radar militer lainnya, radar Weibel dioperasikan oleh personel TNI AU, namun jalur komandoi untuk penggunaanya berada di bawah Kohanudnas (Komando Pertahanan Udara Nasional). Penempatan radar Weibel segera dilaksanakan mengingat kecenderungan permasalahan perbatasan dengan Negara Tetangga dan kondisi geografis Indonesia yang masih terdapat blank area yang belum optimal tercover oleh radar, sehingga kerap memicu pelanggaran wilayah udara Indonesia oleh black flight. (Deni Adi)

Selasa, 13 Januari 2015

Panglima TNI: jumlah prajurit yang desersi meningkat

Panglima TNI: jumlah prajurit yang desersi meningkat
Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko. (ANTARA FOTO/Eric Ireng)
Ada peningkatan signifikan desersi, dari 865 menjadi 927 kasus
Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko mengakui jumlah pelanggaran desersi prajurit TNI mengalami peningkatan sebanyak 62 kasus dari 865 kasus pada periode Januari-September 2013 menjadi 927 kasus di periode yang sama pada 2014.

"Ada peningkatan signifikan desersi, dari 865 menjadi 927 kasus. Akan kita lihat lagi ada apa ini," kata Panglima TNI usai membuka Operasi Gaktib dan Yustisi TNI Tahun 2015, di Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur, Selasa.

Moeldoko menceritakan, sewaktu dirinya menjabat Komandan Korem, ada prajurit yang desersi. Bahkan, dirinya sempat menanyakan perihal alasan disersi.

"Waktu itu ada tekanan mental dan ketidaksiapan mereka (prajurit) masuk batalyon," katanya.

Oleh karena itu, pembinaan yang dekat antara pimpinan dan bawahan tetap diperlukan. Semua dilakukan untuk menumbuhkan sikap bertanggungjawab pada prajurit.

"Ini perlunya pembinaan yang dekat antara pimpinan dan bawahan. Persoalannya adalah leadership yang kurang. Makanya tadi saya tekankan bahwa pembinaan mental juga fungsi komando harus ditingkatkan," tegas Panglima TNI.

Meski, jumlah prajurit disersi bertambah, namun panglima juga apresiasi penurunan sejumlah kasus di lingkungan TNI seperti kasus narkoba dan penganiayaan.

Peningkatan perkara berdasarkan kuantitas dan kualitas bulan Januari-September 2013 dan bulan Januari-September 2014 untuk kasus disersi 2013 sebanyak 865 kasus. Pada Januari-September 2014 meningkat menjadi 927 kasus.

Kasus asusila tahun 2013 sebanyak 242 kasus dan tahun 2014 sebanyak 171 kasus, atau turun sebanyak 71 perkara. Untuk kasus penganiayaan pada 2013 sebanyak 187 perkara dan pada 2014 sebanyak 143 perkara, atau turun 44 perkara.

Khusus kasus narkoba pada 2013 ada 177 kasus dan pada 2014 sebanyak 155 perkara atau alami penurunan sebanyak 22 kasus. Penyalahgunaan senjata api tahun 2013 sebanyak 12 perkara dan pada tahun 2014 sebanyak 14 perkara atau naik 2 kasus.

Data hasil pelaksanaan operasi gaktib TNI bulan Januari sampai dengan September 2013 dan bulan Januari sampai dengan September 2014, tercatat pelanggaran disiplin murni pada 2013 sebanyak 224 pelanggaran. Pada 2014 sebanyak 259 pelanggaran, alami kenaikan sebanyak 35 pelanggaran.

Pelanggaran disiplin murni tahun 2013 sebanyak 141 pelanggaran. Tahun 2014 sebanyak 106 kasus atau alami penurunan sebanyak 35 pelanggaran. Pelanggaran lalu lintas tahun 2013 sebanyak 553 perkara dan tahun 2014 sebanyak 478 kasus atau alami penurunan sebanyak 75 kasus.

Sementara itu, kerugian personil dan materiil akibat kecelakaan lalu lintas, yakni sebanyak 53 orang meninggal dunia pada 2013 dan tahun 2014 sebanyak 66 orang.

Panglima menjelaskan, operasi Gaktib dan Yustisi dilaksanakan sebagai upaya untuk menekan dan mencegah terjadinya pelanggaran serta perbuatan melanggar hukum. Sedangkan sasarannya adalah untuk meningkatkan disiplin dan tatatertib serta kepatuhan hukum prajurit TNI.
 

Temukan "Black Box", Penyelam Dapat "Vitamin" Rp 100 Juta dari Panglima TNI

Panglima TNI Jendral (TNI) Moeldoko
Penyelam gabungan TNI Angkatan Laut yang berhasil menemukan dan mengambilflight data recorder pesawat AirAsia QZ8501 mendapatkan hadiah sebesar Rp 100 juta dari Panglima TNI Jendral (TNI) Moeldoko. Uang tersebut untuk dibagi rata kepada 57 orang penyelam dari Komando Pasukan Katak, Marinir, dan Dinas Selam Bawah Air.
“Ini untuk ‘vitamin’ penyelam, Rp 100 juta,” kata Panglima TNI sambil memberikan sebuah tas kecil kepada Komandan Gugus Keamanan Laut Barat Laksma TNI Abdul Rasyid di KRI Banda Aceh, Senin (12/1/2014).
Panglima TNI mengapresiasi kinerja tim penyelam yang tidak kenal lelah dalam mencari black box. Sebelumnya, tim penyelam juga telah berhasil menemukan dan mengevakuasi ekor pesawat.
“Saya harap tim penyelam terus bekerja untuk mencari satu lagi black box, yaitu voice (cockpit) recorder, yang sampai sekarang belum ditemukan,” ujarnya.
Tim penyelam menemukan flight data recorder itu di dasar laut Selat Karimata, dekat Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, pada Senin pagi. Black box itu kemudian dipindahkan ke KRI Banda Aceh dan disimpan sampai kedatangan Panglima TNI dan rombongan.

Sumber: Kompas