Senin, 09 November 2015

TNI AL di antara, Kapal Selam Kilo, Lada, dan Amur

Pandangan Umum
Pemerintah melalui Kemenhan telah memtuskan untuk kembali melanjutkan rencana pembelian Kapal Selam baru  dari Rusia. Ada pun yang dipilih adalah tipe Kilo class, Amur class  atau  Lada class  yang semuanya mempunyai  kemampuan menembakan rudal  dari dalam laut  ke udara atau darat.
Sementara jika kita lihat kembali ke  sejarah  awal,  rencana pembelian sudah dianggarkan pada tahun 2003  oleh mantan Presiden Megawati melalui kredit export dan  perkembangan selanjutnya ditindaklanjuti  oleh mantan Presiden  SBY dengan kredit export baru dari Rusia  untuk pembelian 4 unit Kilo class submarine  dan Sukhoi SU-30MK. tahun 2005-2007.
Namun perkembangan selanjutnya tidak jelas, apakah pembelian tersebut sudah terjadi atau tidak, serta apakah telah  dilakukan  pengiriman ke pihak TNI AL atau belum. Beberapa  bocoran dan clue ada yang menyatakan  sudah dikirim dan menjadi rahasia negara yang tidak boleh dipublikasikan. Namun  ada juga menyatakan  kita hanya menyewa.
Lalu atas dasar itulah maka pemerintah kembali menyatakan akan membeli beberapa unit kapal  selam  Kilo atau Amur  dari Rusia dengan alasan “KITA SUDAH BIASA MENGUNAKAN  DAN SUDAH FAMILIAR DENGAN KAPAL SELAM DARI RUSIA”  hal  ini  mirip dengan pernyataan dari TNI AU yang menyatakan akan membeli  pesawat tempur Sukhoi dan F-16 dengan alasan sudah terbiasa mengunakannya. Jadi tidak salah jika TNI AL akan membeli kapal selam  dari Rusia  karena sudah terbiasa mengunakannya.
 
 Dalam sebuah berita dari kantor berita Rusia, ITAR-TASS menyebutkan TNI AL tertarik dan telah memesan beberapa kapal selam kelas kilo class ,lada class  dan Amur-class 1650 / amur 950 dengan VLS. Hal ini  disampaikan Direktur Rosoboronexport  sendiri. Prosesnya kita  tunggu pertemuan dengan pemerintah Indonesia  dalam waktu dekat dan kita siap memberikan apa yang diminta oleh sahabat kita Indonesia dan akan kita beri yang terbaik  untuk sahabat kami.
Ibarat   sebuah istilah yaitu  “PALUGADA” yang artinya  ” apa yang elu mau  gue ada” hal ini ditujukan  Rusia  kepada  Indonesia. Mau  cash  boleh, mau utang  boleh, mau barter  boleh. “everything you can eat” , sebuah anekdot atas gampangnya metode pembayaran yang ditawarkan oleh Rusia.
 
Sementara itu  dari Pemerintah yang diwakili oleh Kementerian Pertananan membenarkannya. Menhan Ryamizard Ryacudu pernah  menyatakan, ketertarikannya  pada kapal selam produksi  Rusia yang mampu menembak rudal dari dalam laut ke udara/daratan, serta beberapa model lainnya yang mempunyai teknologi tinggi dan menjadi idaman TNI AL. “Kita minta yang tercanggih dan barang baru” bukan  bekas. Kira kira begitu ungkapannya. Dananya sudah  kita siapkan.

 
Sumber lain dari media lokal juga membenarkan hal tersebut “Untuk rencana pengadaan kapal selam produk Rusia masih dalam tahap pengkajian. Tapi belum ada pembicaraan terkait model kapalnya  (kilo,lada atau amur)  yang akan di pilih maupun pendanaannya dan skenario pengadaannya,(pengiriman) menunggu  keputusan dari pemerintah R.I.
 
Hal ini  mungkin didasarkan atas momen gagalnya mengakuisisi (memperoleh) Kapal Selam Kilo 2 unit bekas Rusia, beberapa  waktu lalu yang saat itu delegasi dipimpin sendiri oleh Pak Ade Supandi  yang sekarang menjadi KSAL, dan alasan lain Kemenhan masih mencoba memilih milih versi apa yang akan dibeli. Yang pasti itu barang baru alias bukan bekas. Namun prosesnya  itu akan disesuaikan dengan anggaran yang ada  karena mahalnya harga kapal selam  baru  jika di banding barang bekas.

“Masih kita pelajari, yang bekas dari segi ekonomi tidak jadi pilihan. Kita bisa beli, tapi belum tentu bisa merawat, makanya kita kaji. Tapi kita sesungguhnya menginginkan itu untuk laut dalam. Tapi uang kita masih di tipe laut dangkal. Kalau ekonomi semakin membaik, diharapkan pemenuhan 12 kapal selam bisa terpenuhi,” karena kita akan beli  yang baru dan hebat karena mampu meluncurkan rudal dari dalam laut  untuk menembak kapal permukaan dan pesawat terbang. kata seorang pejabat KeMenhan  

Aspek Kawasan
Memanasnya LCS juga mengundang kehadiran kekuatan negara negara besar seperti  Amerika, Jepang, Australia ikut bermain. Lalu hal ini dilihat pemerintah Indonesia sebagai  lampu kuning yang mengharuskan kesiapan negara pada umumnya dan TNI pada khususnya  untuk bersiap sedia payung sebelum hujan. Yang artinya bersiap sebelum pecah  konflik. Jangan sampai setelah terjadi konflik baru sibuk belanja alutsista.
LCS yang 99% adalah lautan adalah medan yang cocok untuk diterjunkannya kapal selam baik untuk  pengawasan ataupun patroli. Menurut pengamat militer dari Amerika Serikat, mantan  kepala staff Armada Gabungan mengatakan, perang di LCS adalah perangnya kapal selam, kapal permukaan. Jadi  siapa  yang berkuasa di laut maka akan berkuasa di LCS.
Jadi  tidak salah jika TNI AL mengingikan alusista kapal selam  yang canggih  untuk memodernisasi alusistanya. Sehingga  keinginan untuk memiliki  kapal selam canggih adalah suatu keharusan yang tidak  bisa di tunda lagi.sebelum bom  waktu  LCS meledak.
Jadi  jika  melihat  ke depannya maka  jika boleh menebak Kapal selam apa yang akan dibeli  TNI AL, maka  kemungkinan  besar  adalah  tipe  Amur class  dengan  VLS.  Hal  ini  dilihat  dari silsilah  kapal selam  itu sendiri, di mana  kapal selam Kilo merupakan  nenek  moyang  kapal selam AIP  yang sangat sunyi, yang dijuluki  NATO “black hole” dari  Rusia, lalu dari pengembangannya lahirlah Lada class dan KS Amur class -1650  / Amur -950
Tentang Amur class -1650 dan 950
Kapal Selam kelas Amur-1650 /950 adalah versi ekspor kelas Lada yang lebih canggih atau Kapal Selam Kilo modern yang telah ditingkatkan kemampuan acoustic stealth-nya, AIP, dan sistem persenjataan dengan teknologi terbaru  untuk  laut dalam
 
Amur-  class bisa bertugas pada segala cuaca. Di laut dangkal maupun dalam selama 45 hari tanpa kembali ke pangkalan.serta mampu di persenjatai dengan  rudal taktis jarak jauh dan mematikan. karena kilo atau amur dibutuhkan oleh TNI AL untuk melakukan pengamanan di laut dalam. Sementara untuk laut dangkal kita akan pakai produk yang dari Korea Selatan.



 
Melihat wilayah laut Indonesia yang 50 persen mempunyai kedalam rata-rata di bawah 100 meter, Indonesia juga memerlukan kapal selam kecil (midget). Untuk memenuhi kapal selam kecil, tim dari BPPT dan Dislitbang TNI AL telah mengembangkannya, namun  untuk mewujudkan kedalam prototipe butuh  dukungan dana dari pemerintah.


Kapal selam yang dirancang Rubin Central Design Bureau ini memiliki panjang 66,8 meter, tinggi 6,4 meter dan bisa menyelam dengan kedalaman hingga 300 meter. Kapal selam diesel ini bisa meluncurkan hingga 18 torpedo dan menembakkan rudal jelajah tipe Club-S dengan jarak 300 km.
 
Sambil menungu kedatangan  KS Rusia,  sementara TNI AL harus tetap  tabah  sampai akhir dengan KS Cakra dan Nanggala kebanggaan bangsa Indonesia.

Terimakasih
oleh : Telik Sandi / JKGR.

(Breaking News) Indonesia Telah Putuskan Pembelian Su-35

  su-35-8

Indonesia tertarik tidak hanya membeli Su-35, tetapi juga membangun pusat layanan teknis di wilayahnya dan memperoleh transfer teknologi perakitan pesawat.

“Indonesia telah mengambil keputusan mengenai pembelian pesawat tempur Rusia Su-35, sekarang dibicarakan transfer teknologi perakitan pesawat”, ucap Kepala Departemen Kerja Sama Internasional Perusahaan “Rostech” Viktor Kladov kepada agensi berita RIA Novosti di pameran aviasi internasional Dubai Airshow-2015.

“Indonesia telah mengambil keputusan, apa langkah berikutnya? Tunggu saja “, kata Kladov, menjawab pertanyaan wartawan mengenai proses negosiasi pemasokan Su-35 ke Indonesia (08/11/2015).


Beliau menambahkan bahwa Indonesia tertarik tidak hanya membeli Su-35, tetapi juga membangun pusat layanan teknis di wilayahnya dan memperoleh transfer teknologi perakitan pesawat.

“Negosiasi menjadi lebih kompleks karena saat ini dibicarakan bukan hanya pemasokan Su-35, tetapi juga transfer teknologi”, tutur Kladov.

Pada bulan September Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu mengumumkan niatnya untuk membeli skuadron pesawat tempur Su-35 untuk menggantikan pesawat tempur F-5 Tiger milik Amerika yang usianya sudah mencapai umur empat dekade.

RBTH

Pertama kali dipublikasikan di RIA Novosti.

Minggu, 08 November 2015

TNI AL kerahkan tujuh KRI ke Natuna

TNI AL kerahkan tujuh KRI ke NatunaIlustrasi--KRI Beladau (ANTARA/Maha Eka Swasta) Jakarta (ANTARA News) - TNI Angkatan Laut mengerahkan tujuh Kapal Perang RI (KRI) untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia di perairan Natuna, Kepulauan Riau.

"Ini merupakan patroli rutin yang dilakukan oleh TNI AL untuk menjaga perairan Natuna. Terlebih, di kawasan Natuna sering terjadi illegal fishing," kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI M Zainudin ketika dikonfirmasi, di Jakarta, Minggu.

Ia pun membantah pengerahan tujuh kapal perang milik TNI AL itu untuk mengantisipasi memanasnya Laut China Selatan.

"Kita tidak ada konflik terkait Laut China Selatan. Kita hanya menjaga kedaulatan dan pertahanan NKRI," jelasnya.

Menurut dia, tujuh KRI yang dikerahkan itu tidak seluruhnya berada di perairan Natuna, Kepulauan Riau, namun secara bergiliran melakukan operasi atau patroli.

"Tiga KRI standby di perairan Natuna, sementara empat KRI lainnya berada di pangkalan Tanjung Uban. Mereka secara bergiliran melakukan patroli," tuturnya.

Ia mengungkapkan, dalam menjaga kedaulatan dan pertahanan negara, TNI AL selalu melakukan patroli setiap harinya, baik di wilayah Timur maupun di wilayah Barat dengan jumlah KRI sekitar 40 kapal lebih.

"Di wilayah Indonesia Timur kita kerahkan sebanyak 20 kapal lebih untuk menjaga wilayah Ambalat, Laut Arafuru dan lainnya. Di wilayah Indonesia bagian Barat, kita juga mengerahkan 20 kapal, seperti Selat Malaka, Laut Natuna dan lainnya," katanya.

Hal senada dikatakan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Ade Supandi, pengerahan tujuh KRI ke perairan Natuna untuk melakukan patroli.

"Itu kan operasi rutin, kita kan dalam 365 hari kegiatan patroli itu kegiatan patroli pengamanan perbatasan. Dan juga kegiatan patroli yang berkenaan dengan keadilan di laut, baik di Laut Natuna, Sulawesi, maupun Samudera Hindia. Termasuk yang sudah tergelar berkaitan dengan kerja sama bersama tetangga, patroli koordinasi," katanya.
 

Lima Lokasi Jadi Kandidat Bandar Antariksa Nasional

Lima Lokasi Jadi Kandidat Bandar Antariksa Nasional
Logo baru Lembaga Penerbangan dan Antariksa (Lapan). (VIVA.co.id/Agus Tri Haryanto)
 
Lembaga Penerbangan dan Antariksa (Lapan) sedang mengkaji sejumlah lokasi untuk pembangunan bandar antariksa nasional. Ada lima lokasi yang menjadi kandidat, yakni Pulau Nias (Sumatera Utara), Pulau Enggano (Bengkulu Utara), Biak Numfor (Papua), Morotai (Maluku Utara), dan Pemeungpeuk (Jawa Barat).

Dilansir dari laman resmi Lapan, Lapan.go.id, lembaga itu tengah merampungkan studi untuk menyerap masukan teknis maupun nonteknis tentang lokasi pembangunan bandar antariksa nasional melalui forum focus group discussion "Pengkajian Pembangunan Bandar Antariksa" di Jakarta.

"Kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh masukan dari berbagai lapisan masyarakat," kata Deputi Bidang Teknologi Penerbangan dan Antariksa Lapan, Rika Andiarti, yang dikutip dari laman itu, Minggu, 8 November 2015.

Bandar antariksa Indonesia itu untuk mengimplementasikan amanat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan pasal 44 mengenai Bandar Antariksa. Disebutkan dalam undang-undang itu bahwa secara geografis, Indonesia berada di posisi yang strategis, karena terletak di antara dua benua, yaitu Benua Australia dan Asia, serta dua samudera, yaitu Samudera Hindia dan Samudera pasifik. Indonesia berada pada posisi silang dunia dan menjadi pusat jalur lalu lintas dunia.

Kepala Pusat Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan Lapan, Husni Nasution, menjelaskan bahwa lembaganya telah mengkaji pembangunan bandar antariksa nasional untuk orbit ekuatorial dan polar. Program Lapan itu dituangkan dalam draf rencana induk penyelenggaraan keantariksaan 2015 hingga 2039.

"Rencana induk ini memuat arahan untuk mendorong pembangunan dan pengoperasian bandar antariksa, termasuk bandara riset, di wilayah Indonesia. Untuk itu, dalam pembuatan master plan atau grand design pembangunan bandar antariksa perlu kerja sama dengan berbagai pihak," ujarnya.

Bandar antariksa nasional untuk keperluan peluncuran roket pengorbit satelit (RPS) dan satelit lain. Dapat dimanfaatkan sebagai lokasi uji terbang pesawat unmanned aerial vehicle (UAV) atau pesawat tak berawak.
 

Bela Negara? Mahasiswa Sudah Lama Punya Menwa

 
Open Recruitment Menwa Di UGM
 
Akhir-akhir ini, masyarakat heboh dengan isu bela negara yang diwacanakan oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Kementerian Pertahanan berencana membentuk 4.500 kader Pembina Bela Negara di 45 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Heboh boleh saja. Tapi tahukah kalian kalau kegiatan bela negara sebetulnya sudah ada di bangku kuliah? Di sejumlah perguruan tinggi ada yang namanya Menwa atau Resimen Mahasiswa.

Menwa tak cuma baris berbaris atau latihan ala militer. Tercatat kelompok Menwa pernah terlibat dalam Operasi Trikora merebut Irian Barat pada tahun 1960an.

Kemudian beberapa tokoh pemerintahan maupun akademisi dahulunya merupakan aktivis Menwa. Sebut saja mantan menteri keuangan dan direktur pelaksana Bank Dunia, Sri Mulyani Indrawati, atau guru besar Fakultas Ekonomi UI, Prof. Rhenald Kasali. Agung Laksono dan ketua DPD RI, Irman Gusman juga pernah mengikuti kegiatan Resimen Mahasiswa.

Bela Negara ala Mahasiswa

Jika memaknai arti bela negara, tentu tidak dapat lepas dari Sishankamrata (Sistem Pertahanan Rakyat Semesta) yang memiliki dua unsur yaitu unsur militer (TNI-Polri) dan unsur non-militer. Menwa berada di unsur non-militer ini.

Salah satu Resimen Mahasiswa yang aktif adalah Menwa di Universitas Negeri Jakarta. Menurut Dansat (komandan satuan) Menwa UNJ, Oka Bintor, merupakan salah satu organisasi menwa yang cukup tua dan menghasilkan banyak lulusan di dunia akademisi.

Menurut Oka, konsep bela negara yang didengungkan akhir-akhir ini sebenarnya adalah hal yang sama dengan resimen mahasiswa. Hanya saja penerapan dan pengklasifkasiannya yang mungkin berbeda di tiap-tiap jenjang pendidikan seperti penerapan bela negara di SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi berbeda-beda.

Angkat Senjata

Selain membina fisik, mental, hingga kedisiplinan, resimen mahasiwa juga memiliki kegiatan lain yang tak kalah menariknya dan bahkan mungkin berbeda dengan kegiatan mahasiswa sejenis di universitas-universitas yang ada, yaitu mengoperasikan senjata api.

“Kami hampir setiap bulan (berlatih) menembak dengan berbagai macam senjata baik itu air soft gun, (senapan dengan) peluru hampa, senapan angin, hingga SS-1. Bahkan kemarin Agustus kami juara 1 menembak di Seskoal,” tutur Oka.

Namun, mahasiswa jurusan Psikologi UNJ ini juga mengatakan bahwa pelatihan menembak ini hanyalah wadah penyaluran hobi dan tidak berefek apa-apa dengan kehidupan sehari-hari. Oka juga berpesan kepada seluruh mahasiswa dan pemuda di Indonesia untuk menyambut konsep bela negara yang akan datang dan tetap menjungjung tinggi sendi-sendi bangsa ini.

“Undang-undang Dasar dan Pancasila itu semua harus menjadi prinsip dan tekad kita sebagai pemuda agar bangsa ini tak lepas dari komponen rakyatnya baik itu TNI ataupun mahasiswa tapi juga rakyatnya, rakyat semesta.” tutup Oka, yang saat ini sedang menempuh semester 9. 
 
CNN. 

Praka Mulyana, Sniper Tangguh TNI AD Yang Dikagumi Petembak Amerika


Di tengah peringatan ke-107 Hari Kebangkitan Nasional Indonesia tahun 2015, Tim Petembak Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) berhasil menjadi juara umum di kejuaraan menembak tahunan Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) yang berlangsung pada 20-23 Mei di Australia.

Dalam kejuaraan yang diadakan Angkatan Darat Australia, TNI AD berhasil menggondol medali terbanyak, mengalahkan 17 negara peserta lainnya. Keberhasilan tersebut merupakan buah dari latihan keras yang rutin dilakukan. Selain itu momen tersebut menjadi ajang pembuktian bahwa persenjataan buatan dalam negeri yang digunakan TNI kualitasnya tidak kalah dengan persenjataan yang digunakan oleh petembak dari negara negara maju.

Pada lomba tersebut, TNI AD menurunkan petembak terbaiknya dari satuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dan Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Posisi juara umum di Australia ini merupakan kemenangan kedelapan kalinya bagi TNI AD dalam lomba menembak di kawasan Asia-Pasifik.

Lomba yang bertajuk Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM), perwakilan Indonesia mampu mengalahkan tim tuan rumah Australia, termasuk tim Amerika Serikat, dan Inggris. Raihan medali yang diperoleh pun terpaut sangat jauh, bisa dibilang TNI AD menang mutlak.

Ketangguhan para petembak TNI bahkan tidak dapat disaingi oleh tim petembak handal negara maju lainnya, termasuk Inggris dan Amerika Serikat. Pada klasemen akhir, kontingen Indonesia sukses meraih 30 medali emas, 16 perak, dan 10 perunggu. Sementara Angkatan Darat Australia yang duduk di posisi kedua hanya mengantongi 4 medali emas, 9 perak, dan 6 perunggu. Perwakilan Amerika Serikat yang bertengger di posisi ketiga mendapat 4 medali emas, 1 perak, dan 2 perunggu.

Salah satu anggota tim TNI AD yang berhasil meraih medali emas di Australia tersebut adalah Praka Mulyana. Pria kelahiran Leuwiliang Bogor 1 Desember 1984 ini adalah bungsu dari 7 bersaudara. Ayahnya bernama Anap telah meninggal dunia ketika Mulyana duduk di bangku SLTA, sedangkan Ibu yang melahirkannya bernama Wariyah (71 th ) kini tidak mampu lagi menjadi buruh tani karena sudah termakan usia.

Meski meniti karier militer dari bawah, Praka Mulyana sebenarnya memiliki tingkat kecerdasan diatas rata-rata. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri Dharma Bhakti hingga Sekolah Menengah Pertama Negeri Leuwiliang dan Sekolah Menengah Atas Negeri Leuwiliang, ia selalu menduduki prestasi tiga besar. Bahkan setamat SLTA pada tahun 2005, beberapa perguruan tinggi negeri memberikan dispensasi untuk masuk penerimaan tanpa tes. Namun pria desa yang sebelumnya bekerja sebagai penggembala kerbau milik orang lain dan memiliki hobi bermain ketapel ini terlanjur memiliki keinginan kuat untuk menjadi prajurit TNI AD. Hal itu menjadi motivasi karena seringnya kediaman Mulyana di pelosok dijadikan area berlatih oleh para prajurit yang sedang melaksanakan latihan militer.

Selama lebih kurang satu tahun mengikuti pendidikan militer dengan menyandang predikat terbaik, membawa Mulyana dipercaya untuk bergabung dengan satuan Kostrad. Anggota Kompi Bantuan Peleton SLT Batalyon Lintas Udara 330/ Tri Dharma Kostrad ini dengan tetap rendah hati dan penuh rasa tanggung jawab melaksanakan semua tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Pada tahun 2012 Mulyana mempersunting gadis pujaan hatinya asal Tasikmalaya bernama Erma Suci Lestari S.Pd (25 th) yang berprofesi sebagai guru. Dari hasil pernikahannya kini mereka dikaruniai seorang puteri bernama Kamila Zaura Pertiwi berusia 20 bulan. Bertambahnya tanggung jawab tidak membuat semangat Mulyana menjadi surut. Sang istri yang merupakan tenaga pendidik justru terus memotivasi sang suami untuk terus berprestasi.

Sejak terpilih menjadi Tim Petembak TNI AD Mulyana tekun berlatih. Waktu yang tersisa dimanfaatkannya untuk menambah pengetahuan dan wawasan dengan cara membaca buku. Sudah sejak tahun 2014 ia tergabung untuk mengikuti lomba tembak AASAM dan sejak itu ia berhasil mengukir prestasi. Praka Mulyana berhasil mempersembahkan Medali Emas kategori Sniper (penembak jitu) dalam kejuaraan tahunan Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM). Ia pun merasa bangga karena berhasil mempecundangi tim dari Amerika Serikat, Inggris maupun Perancis yang dikenal mempunyai banyak sniper hebat. Bahkan raihan prestasi emas yang diperolehnya kemarin mendapat apresiasi dari para petembak Amerika Serikat. Para tentara negeri Paman Sam tidak ingin kehilangan kesempatan untuk saling berinteraksi dan bertukar cendera mata dengan Mulyana.

“Ini tahun kedua saya mengikuti perlombaan menembak. Alhamdulillah dapat 1 emas dan 1 perak dari kategori perorangan. Tantangan sniper kita bermain dalam suhu 6 hingga 12 derajat sangat jauh berbeda dengan suhu di Indonesia. Lalu variasi jarak tembak 100-1.200 meter membuat faktor kesulitan semakin beragam. Kelembaban udara, bahkan kecepatan angina 30-40 km/perjam itu membuat perhitungan harus sangat akurat dan itu sangat sulit,” ceritanya.

Selain itu menurut Mulyana, tantangan lain yang dihadapi yakni senjata yang digunakannya secara teknologi masih kalah jauh kualitasnya dari negara-negara maju. Mulyana hanya menggunakan senjata seri lama dengan teropong 12 X 50. “Bidikan sasaran bermacam-macam mulai dari kepala, dada, kemudian tubuh lempengan baja 400-500 meter jaraknya. Apabila tak kena akan makin kencang larinya, kalau kena langsung tumbang,” kata dia.

Secara keseluruhan Tim TNI AD berhasil menyabet 56 medali, mengalahkan kontingen lainnya dari negara-negara maju yang selama ini dikenal memiliki persenjataan canggih, seperti Amerika Serikat yang hanya mendapatkan 4 medali emas, Inggris dengan 3 medali emas, kemudian Australia hanya memperoleh 5 medali emas. Sedangkan Jepang, Brunei Darussalam, Filipina dan New Zealand, serta Singapura masing-masing mendapatkan satu medali emas. Sementara Kanada, Malaysia, Timor Leste, Tonga dan Papua New Guinea (PNG) tidak berhasil membawa pulang medali emas. Duta Besar Indonesia untuk Australia memuji prestasi yang diraih regu tembak Indonesia.

“Prestasi yang membanggakan ini menunjukkan betapa tangguhnya anggota TNI dan persenjataan buatan Indonesia di medan laga,” katanya. Di bawah tekanan dan kompetisi internasional yang ketat, para peserta dari TNI bertanding dengan semangat luar biasa dan menyelesaikan tiap kompetisi dengan profesionalisme dan skill yang tinggi.

Sejak mengikuti kejuaraan menembak AASAM, rangkaian prestasi yang berhasil diukir para prajurit TNI AD, yakni: tahun 2009 Juara Umum dengan perolehan 59% medali emas, 41% medali perak dan 39% medali perunggu dari jumlah 41 medali yang diperebutkan. Tahun 2010 Juara Umum dengan perolehan 22 medali emas, 13 medali perak dan 14 medali perunggu. Tahun 2011 perolehan medali emas terbanyak, yakni 7 medali emas, 9 medali perak dan 5 medali perunggu. Tahun 2012 dengan perolehan 25 emas, sementara tentara AS hanya memperoleh 2 emas dan 5 perunggu, dan reduplah pamor senjata MP4 Carabine Amerika Serikat, SAR 21 Singapura, Steyr Aug Austria, HK G36, atau HK416. Tahun 2013 perolehan 17 medali emas terbanyak dari 58 nomor menembak. Tahun 2014 Juara Umum dengan perolehan 32 medali emas, 15 perak serta 20 perunggu. Serta tahun 2015 kembali meraih Juara Umum dengan perolehan 30 medali emas, 16 medali perak dan 10 medali perunggu.
Keberhasilan ini tentunya dapat menimbulkan efek gentar yang luar biasa atas kemampuan para prajurit TNI AD di mata internasional. Terlebih dalam even itu kontingen Indonesia menggunakan senjata buatan dalam negeri, yakni SS-2 Varian 4 untuk senapan, dan G2 Elite untuk jenis pistol. Gaung tangguhnya para petembak TNI AD di kancah internasional banyak mengundang decak kagum dan menarik minat negara lain agar terjangkiti “virus jawara”. Beberapa negara, diantaranya Tim Tembak Jepang dan Malaysia telah mengutarakan hasratnya ingin menimba ilmu pada TNI AD. 
 

Pratu M. Thoyib Azizi Prajurit Pemberani, Ringkus Penembak Polisi


Sebuah peristiwa heroik dilakukan oleh seorang prajurit TNI AD, dengan mengabaikan keselamatan jiwanya, ia terpanggil untuk melakukan aksi yang sangat beresiko. Pratu M. Thoyib Azizi, Prajurit Kodam VII/Wirabuana, berhasil menangkap seorang pelaku penembakan terhadap anggota kepolisian. Dalam perburuan yang menegangkan Thoyib berhasil membekuk pelaku dan mengamankan satu pucuk senjata api jenis Revolver milik Brigadir Syarif Dunggio anggota Polres Kota Gorontalo, yang meninggal dunia akibat penembakan oleh pelaku kriminal yang merebut senjata api milik korban.

Thoyib (23 tahun), begitu panggilan akrabnya, lahir di Desa Betoyo Guci Manyar Gresik dari keluarga sederhana. Sang Ayah, Abdul Ghofar, adalah seorang petani tambak sewaan, sementara ibunya, Nafilah, sehari-hari berdagang nasi di depan rumah. Thoyib sedari kecil telah terbiasa bekerja membantu orang memanen ikan dengan upah 20 ribu rupiah setiap panen. Hal itu harus dilakukan demi membantu mengatasi biaya hidup keluarga, walau resikonya mengantuk karena sejak pulang sekolah hingga dini hari terkadang tidak tidur. Meski demikian ia tetap bersyukur bisa meringankan beban orang tuanya.

Perawakan tinggi dan kekar dari laki-laki berseragam tentara dengan pangkat prajurit dua ini, memang memberi kesan bahwa ia bukan orang yang bisa dianggap remeh. Sikapnya yang sigap dan gerakannya yang gesit, jelas mengisyaratkan bahwa ia adalah sosok yang memiliki keahlian beladiri. Sangat layak bila Prada Moh. Thoyib Azizi menjadi salah satu prajurit yang memperoleh penghargaan berupa Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) dari Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Gatot Nurmantyo pada awal tahun 2015 di Mabesad.

Meringkus dengan Tangan Kosong

Prada Thoyib diberi penghargaan karena dianggap berjasa dalam membantu pihak kepolisian menangkap pelaku Curanmor yang menembak mati anggota kepolisian saat menyergapnya. Hebatnya lagi, Thoyib meringkus pelaku yang bersenjata api hanya dengan menggunakan tangan kosong. Dampak positif dari tindakannya tersebut, ia dianggap sebagai dewa penolong yang mencairkan suasana hubungan antara Polisi dan Prajurit TNI AD, khususnya dalam menetralisasi kesan adanya perselisihan TNI – Polisi di Gorontalo selama ini. “Dengan adanya penghargaan ini, membuat saya semakin bangga menjadi tentara, saya akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk NKRI tercinta”, ungkap Prada Thoyib.

Pria yang berdinas di Yonif 713/ST, Brigif 22/OM Gorontalo sejak 4 April 2012 itu, berhasil melumpuhkan seorang pelaku Curanmor yang melarikan diri seusai menembak Brigadir Syarif Dunggio, seorang anggota Polres Gorontalo dan seorang pengemudi becak motor, di Simpang Telaga, Gorontalo, sekitar pukul 17.30 Wita, pada 26 Desember 2014 lalu.

Kronologis peristiwa berawal ketika Prada Thoyib mendengar teriakan minta tolong dari Brigadir Polisi Syarif anggota polisi yang ditembak pelaku dengan menggunakan pistol revolver miliknya yang direbut pelaku kejahatan. Tanpa pikir panjang pria yang sangat menggemari beladiri militer Yong Moo Do ini bergegas mengejar pelaku hingga terdesak ke pemukiman warga. Melihat pelaku yang masih memegang senjata api itu terpojok, Thoyib secepat kilat menghantam dada pelaku dengan kakinya. Mendapat tendangan yang cukup keras, pelaku tersungkur tak sadarkan diri. Selanjutnya Thoyib mengamankan pelaku berikut pistol milik Brigpol Syarif anggota Polres Kota Gorontalo yang berhasil dilucuti oleh pelaku, untuk kemudian menyerahkannya ke Mapolda Gorontalo.

Kebenaran pada akhirnya akan keluar sebagai pemenang, walau tidak satupun diantara kita mengetahui persis kapan datangnya. Bila seseorang selalu berupaya menjaga niat baiknya untuk selalu berbuat baik, suatu saat perbuatan baik itu akan berbuah manis pada kehidupan orang yang menjalaninya. Agaknya hal itu jugalah yang dialami Prajurit Dua (Prada) M. Thoyib Azizi (23), personel Yonif 713 Brigif 22 Gorontalo. Berkat aksi ksatrianya, Panglima Kodam VII/Wirabuana, Mayor Jenderal TNI Bachtiar juga berkenan memberi penghargaan secara khusus kepada Prada Thoyib, bertempat di Makodam VII/Wirabuana, Makassar, Senin (19//1/2015).

Membopong Pencuri ke Pos Polisi

Salah seorang warga Kota Gorontalo bernama Syahrir Soleman, yang menyaksikan langsung kejadian tersebut mengatakan, bahwa pada mulanya orang-orang mengira peristiwa yang terjadi merupakan perkelahian antar anggota, ternyata salah sangka. Tentara tersebut (Prada Toyib) ternyata mengejar pencuri sepeda motor, dan dia terlihat sangat berani sekali. Hanya dia yang berani maju melawan pencuri tersebut, orang lain pada takut, karena pencuri tersebut memegang pistol. Setelah dia berhasil melumpuhkan penjahat dengan tangan kosong, dan hanya dengan beberapa tendangan berhasil melumpuhkan, serta melucuti pistol pencuri tersebut, selanjutnya Prada Toyib mengangkat tubuh pencuri bagaikan aksi “smack down” dan membopong tubuh pencuri yang sudah tidak berdaya menuju pos polisi terdekat”, tutup Syahrir.

Satu pesan orang tua Thoyib yang masih ia pedomani hingga sekarang; “Jangan pernah takut kalau kamu benar, kamu pasti bisa”, demikian pesan ayahnya. Rupanya Thoyib pernah menjadi saksi bahwa nasehat itu bukanlah sekedar kata-kata belaka. Di masa kecilnya, Thoyib pernah menyaksikan langsung ayahnya mengejar dan menangkap pencuri ikan di tambak. Agaknya, pelajaran ini yang memotivasi dirinya, disempurnakan dengan penghayatan dari butir ke-3 Sapta Marga, yakni “Kami Ksatria Indonesia, yang Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta Membela Kejujuran, Kebenaran dan Keadilan”, sehingga ia berani mengambil langkah tepat yang berdampak kepada citra TNI AD yang semakin baik.(Dispenad)