Jumat, 05 Juni 2015

Exocet MM40 Block 3: Rudal Anti Kapal High Subsonic Andalan Korvet TNI AL

KRI-BUNG-TOMO-357-Luncurkan
Nama besar rudal anti kapal Exocet beberapa waktu lalu kembali melambung, pasalnya untuk pertama kali, korvet Bung Tomo Class yang diwakili KRI Bung Tomo 357 berhasil melalukan uji tembak rudal Exocet MM40 Block 2 dengan sasaran eks KRI Kupang 58 di perairan antara Pulau Raas, Sumenep dan Bawean, Gresik, pada hari Kamis lalu (28/5/2015).
Exocet MM40 Block 2 memang sudah tak asing di jagad alutsista TNI AL, sejak kedatangan empat unit korvet SIGMA Class dari Belanda pada tahun 2007 – 2008, praktis TNI AL mengenal rudal anti kapal buatan MBDA ini. Dan pada bulan Juni 2014, KRI Sultan Hasanuddin-366 dan KRI Sultan Iskandar Muda-367 pun telah melaksanakan uji penembakan Exocet MM40 Block 2 ke eks KRI Karang Banteng perairan Samudera Hindia.
Exocet MM40 Block 3 meluncur dari KRI Bung Tomo 357.
Exocet MM40 Block 3 meluncur dari KRI Bung Tomo 357.
KRI Nala saat melakukan penembakan MM 38 Exocet
KRI Nala (Fatahillah Class) saat melakukan penembakan MM 38 Exocet

Meski TNI AL cukup update dalam urusan rudal anti kapal, terbukti dari adopsi rudal C-705, C-802 dan rudal Yakhont, tapi rupanya TNI AL tak ingin meninggalkan tradisi sebagai pemilik varian Exocet. Boleh jadi, TNI AL ingin menguasi update beragam platform rudal anti kapal, jika C-705 dan C-802 mewakili cita rasa Cina, Yakhont mewakili kedigdayaan generasi rudal jelajah dari Rusia, maka Exocet menjadi wakil dari eksistensi sistem perudalan Eropa Barat/NATO yang kebetulan sudah battle proven. Sejarah juga mencatat, Exocet MM38 menjadi rudal anti kapal pertama bagi TNI AL sejak bangkitnya era Orde Baru, ditandai lewat penggunaan Exocet MM38 pada frigat Fatahillah Class dan KCR (Kapal Cepat Rudal) Mandau Class.
Rudal Exocet MM40 Block 2 milik TNI AL.
Rudal Exocet MM40 Block 2 milik TNI AL.
Peluncur rudal MM40 Block 2 di Bung Tomo Class.
Peluncur rudal MM40 Block 2 di Bung Tomo Class.
Peluncur rudal Exocet MM40 Block 2 di korvet SIGMA Class TNI AL.
Peluncur rudal Exocet MM40 Block 2 di korvet SIGMA Class TNI AL.
Meski Exocet MM40 Block 2 belum terlalu usang, tapi TNI AL telah mencanangkan untuk mengadaptasi varian terbaru Exocet MM40 Block 3. Hingga kini belum ada informasi yang jelas, apakah Exocet MM40 Block 3 sudah terpasang di kapal perang TNI AL. Kalau pun sudah terpasang, bisa dipastikan pilihannya adalah pada empat unit korvet SIGMA Class dan tiga unit korvet Bung Tomo Class. Mengapa pilihannya jatuh pada kedua korvet diatas?
Jawabannya sederhana, sebab Exocet MM40 Block 3 dapat diluncurkan dari peluncur (launcher) ITL-70A yang digunakan untuk Exocet MM40 Block 2 tanpa dilakukan modifikasi. Hal ini dikarekanakan, antara Exocet MM40 Block 2 dan Block 3 punya ukuran panjang yang sama (5,8 meter) dan berat pun identik (870 Kg).
39d95a3210e0191f978245e7e75
Mengutip dari situs ARC.web.id (10/6/2014), disebutkan bahwa TNI AL telah membeli Exocet MM40 Block 3. Bahkan menurut agen penjualnya, Rudal itu telah tiba pada akhir 2013 lalu. Menurut sang agen, Indonesia sudah 2 kali membeli Exocet MM40, yang pertama pada tahun 2008 senilai 60 juta euro, termasuk rudal mistral dan test bench mistral. Lalu yang kedua, pada tahun 2011 pembelian Exocet MM40 Blok 2 senilai 70 juta Euro, termasuk rudal mistral dan test bench MM40. Namun pada kontrak kedua ini terjadi amandemen. Saat itu MBDA menawarkan pesanan Exocet MM40 Block 2 diupgrade ke Block 3 secara gratis, namun tentunya jumlah pembeliannya berkurang. Selain karena harganya lebih mahal, juga lantaran adanya modifikasi dan adaptasi pada 4 KRI pengusung rudal dari Exocet MM40 Block 2 ke Block 3. Informasi dari nationcreation.wikia.com, harga anyar rudal Exocet MM40 Block 3 per unit-nya ditawar antara US$3,5 – 4 juta.
Namun demikian, memang Exocet MM40 Block 3 yang dimiliki TNI AL sampai ini belum pernah diuji coba. Meski punya dimensi dan berat yang sama dengan Block 2, Exocet MM40 Block 3 punya kinerja yang lebih baik. Sebut saja dari jangkauan, bila Block 2 hanya bisa menyasar target OTH (over the horizon) sejauh 120 km, maka di Block 3 jangkauan ditingkatkan hingga 180 – 200 km. Peningkatkan performa tak lain berkat adopsi pendorong dari jenis Turbomeca TR-40/263 turbojet buatan NAMMO dengan booster roket, sedangkan MM40 Block 2 masih memakai solid propellant dengan booster roket. Meski begitu, dalam hal kecepatan MM40 Block 3 masih sama dengan Block 2, yakni ada di level high subsonic dengan Mach 0,93 ber-high G manuver tingggi (10g).
Daru sistem penuntun terminal pada fase akhir, rudal Exocet Blok 3 juga dilengkapi GPS guidance hingga lebih dari 10 waypoint, sehingga bisa menyerang kapal atau sasaran permukaan, dengan sudut serang yang rumit, agar pergerakan rudal ini susah diantisipasi penangkis rudal dari kapal perang lawan. Selain itu, Exocet MM40 Block 3 juga dibekali laser gyro, GPS (global positioning system), INS (inertial navigation system), radar aktif J band, dan image recognition.
Exocet MM40 Block 3 punya RCS (radar cross section) yang kecil, dipadukan dengan mesin beremisi panas rendah (low IR signature) membuat MM40 Block 3 diklaim sebagai stealth anti ship missile. Untuk memudahkan dalam hal pemasaran, pihak MBDA menawarkan fleksibilitas, dimana operator Exocet MM40 Block 2 tak perlu beli rudal baru jika ingin MM40 Block 3. Persisnya MBDA telah melansir kit modifikasi untuk upgrade MM40 Block 2 menjadi Block 3. Selain pendorong baru, bagian hulu ledak seberat 165 kg dan sistem penuntun ikutan dirombak. Kit upgrade ini sudah tersedia bersamaan dengan dilansirnya varian Block 3 yang masih kompatibel dengan peluncur MM40 Block 2.
Rudal Exocet MM-40 Block 3 pertama kali ditembakkan oleh Frigat Perancis, Chevalier Paul pada 18 Maret 2010 dan sukses menghantam sasaran. Selain Perancis, negara yang telah menggunakan Exocet Block 3 adalah Angkatan Laut Yunani, UAE, Peru, Brunei, Malaysia, Maroko, Oman dan Qatar. (Bayu Pamungkas)

Spesifikasi Exocet MM40 Block 3
– Manufaktur : Aerospatiale (sekarang MBDA) – Perancis
– Operasional : 2010
– Platform peluncur : surface launched
– Sistem penuntun : GPS-INS
– Sistem penuntun terminal (fase akhir) : radar aktif J band dan image recognition
– Panjang : 5,8 meter
– Diameter : 35 cm
– Bobot luncur : 870 kg
– Berat hulu ledak : 165 kg HE (high explosive)
– Pendorong : Turbomeca turbojet dengan booster roket
– Jangkauan : 180 – 200 km
– Kecepatan : Mach 0,93

Kamis, 04 Juni 2015

Rudal TNI AU Sergap Drone di Belitung

 
tni-au-luncurkan-rudal-pengendali-ledakkan-pesawat-drone
Latihan Jalak Sakti TNI Angkatan Udara 2015 memamerkan senjata rudal pengendali QW-III dengan sasaran pesawat drone S-70 Wings 09-14 yang mempunyai kecepatan 300 kilometer per jam. Pesawat drone S-70 W09-14 diterbangkan dengan remote kontrol.
Namun, sebelum rudal mencapai sasaran target, pesawat drone yang memiliki mesin 350 cc harus tertangkap oleh radar untuk mengkoneksikan agar bidikan rudal tepat sasaran.
Pantauan merdeka.com, Kamis (6/4) di Lapangan AWR Budding, Belitung, pesawat drone melaju cepat di atas ketinggian sekitar 5000 kaki. Kemudian rudal QW-III menghancurkan pesawat drone dengan sekali tembakan.
Keberhasilan penembak rudal disambut gemuruh tepuk tangan pengunjung yang menghadiri latihan Jalak Sakti di Lapangan AWR Budding, Belitung. Ahmad salah satu warga yang mengunjungi latihan Jalak Sakti merasa senang bisa melihat langsung aksi-aksi TNI AU dengan alutsistanya.
“Ternyata senjata TNI tak kalah saing dengan negara yang sekali tembak langsung hancur pesawatnya,” cetusnya di lokasi.
Seperti diketahui, rudal QW-III dan pesawat drone S-70 Wings 09-14 merupakan buatan Cina. Rudal merupakan senjata yang dimiliki oleh Kopaskhas.
Sebelumnya, Panglima Komando Operasi Angkatan Udara I (Pangkoopsau I) Marsekal Muda TNI A Dwi Putranto membuka Latihan Antar Satuan Jalak Sakti 2015 pada Senin (25/5) kemarin. Menurut A Dwi Putranto, latihan ini dilaksanakan di Makoopsau I Jakarta dan Lanud H. AS. Hananjoeddin Tanjung Pandan.
Tak hanya itu, latihan ini diikuti satuan jajaran Koopsau I seperti Lanud Halim Perdanakusuma, Lanud Atang Sendjaja, Lanud Roesmin Nurjadin, Lanud Supadio dan Wing I Paskhas Jakarta. Latihan ini Satuan Jalak Sakti 2015 meliputi Gladi Posko dan Tactical Air Manuvering Game (TAMG), serta Manuver Lapangan di Tanjung Pandan dari tanggal 1 hingga 4 Juni 2015.

Merdeka.

Changbogo, “Siluman” Penjaga Nusantara

 

4
Di dalam rencana pemenuhan alutsista yang mengacu kepada MEF, di tahun 2013 dalam sidang KKIP Kepala Staf TNI Angkatan Laut pada waktu itu telah mengungkapkan kebutuhan TNI AL, yaitu sebanyak 12 unit Kapal Selam untuk menjamin pengamanan wilayah NKRI. Dan sudah pula kita ketahui bahwa TNI Angkatan Laut kemudian memilih Kapal Selam dari Korea Selatan, yang  dinamai DSME209/1400.
Dalam kontrak pembelian, disebutkan Indonesia membeli 3 unit, di mana 1 unit terakhir rencananya akan dibuat di Galangan Kapal Nasional, PT. PAL Surabaya. DSME209/1400 yang dipesan oleh TNI AL  melalui Kementrian Pertahanan tersebut dari segi fisik  bangunan kapalnya, adalah merupakan pengembangan serta perkawinan desain antara jenis 209/1200 Changbogo milik Korea Selatan dengan jenis 209/1300 Cakra milik Indonesia.
Nama Changbogo  sendiri yang diambil sebagai nama kapal selam Korea Selatan adalah nama seorang tokoh Jenderal Laut yang terkenal pada saat pemerintahan Silla  Bersatu pada tahun 787-846 dan dikenal juga sebagai Gunbok  yang diartikan sebagai tokoh bahari yang berkuasa selama beberapa dekade secara efektif mengontrol laut barat (laut kuning) dan pantai Korea antara barat daya Korea dan semenanjung Shandong (China).
1
Sedangkan nama Cakra yang dipilih oleh Indonesia adalah senjata andalan Batara Wisnu. Senjata itu juga dimiliki para titisannya, termasuk Prabu Kresna, raja Dwarawati. Sebagai senjata milik dewa, Cakra bukan hanya ampuh, tetapi juga mempunyai bermacam kegunaan. Kebanyakan makhluk di dunia ini tidak ada yang sanggup mengelak dan menangkal dari serangan senjata Cakra kecuali tokoh tertentu yang berpihak pada kebajikan.
Dengan pengembangan dan perkawinan dua desain 209 ini menghasilkan varian 209 dengan bobot 1400 ton dengan berbagai kelebihan dan kecanggihan komponen-komponen pendukung yang terintegrasi di dalamnya. Selain mengembangkan jenis 209 mulai 1200 s.d. 1500 ton, galangan kapal DSME juga diketahui sedang memulai mengembangkan turunan dari desain 209 dengan bobot 3000 ton.
Kapal selam ini merupakan pesanan khusus dari Korean Navy untuk memperkuat skuadron kapal selam negara Korea yang mana sekarang ini baru terdiri dari beberapa kelas Midget, U209/1200 dan U214/1800. Proyek desain kapal selam berbobot 3000 ton ini sudah dimulai awal tahun 2015 dan rencana pembangunannya akan dimulai pada tahun 2016.
Kapal selam pesanan pemerintah Indonesia, meski merupakan turunan dari tipe U-209 buatan Jerman, TNI AL meminta spesifikasi yang tinggi terhadap kapal selam DSME209. Diantaranya adalah, memiliki kesenyapan yang tinggi, mampu menghindari deteksi, mampu menyelam hingga 250 meter, memiliki teknologi yang canggih serta memiliki kecepatan yang mampu dipacu hingga 21 knot ketika menyelam.
Disebutkan juga bahwa kapal selam DSME209 harus mampu beroperasi terus menerus selama lebih kurang 50 hari. Desain Kapal Selam Baru DSME 3000 ton Pesanan ROK-Navy selama proses pembangunan kapal selam di Korea, TNI AL telah mengirimkan 7 (tujuh) orang personel yang masing-masing memiliki kemampuan dan pengetahuan khusus tentang kapal selam jenis 209 secara profesional.
Dalam satuan tugas kapal selam tersebut Komandan Satgas bertanggungjawab kepada keseluruhan proses pembangunan dengan dibantu oleh personel lainnya. Pembagian tugas secara khusus dalam satuan tugas ini terdiri dari:
  1. Pengawas Platformyang mencakup bidang permesinan, badan kapal, outfitting, painting, baterai dan pendorongan serta kelistrikan kapal selam.
  2. Pengawas Sewaco yang mencakup bidang sensor, navigasi, komunikasi, senjata dan sistem kendali senjata kapal selam.
  3. Perwira Diklat yang bertugas mengatur serta mengendalikan kegiatan pendidikan dan pelatihan bagi awak kapal selam.
  4. Perwira Administrasi dan Logistik yang bertugas mengatur dan mengendalikan proses administrasi kontrak serta sistem logistik komponen-komponen kapal selam.
  5. Kesekretariatan yang bertugas mengendalikan kegiatan ketatausahaan dan administrasi personel dalam satuan tugas kapal selam.
Secara umum kapal selam DSME209/1400 memilki beberapa kelebihan dari sisi teknologinya. State of the art technology yang dimiliki oleh kapal selam ini meliputi Latest combat system, Enhanced operating system, Non-hull penetrating mast and Comfortable accommodation. Dan sebagai elemen terpenting dalam kapal selam, baterai buatan Korea digunakan sebagai sumber tenaga utamanya.
Jenis baterai kapal selam buatan Korea ini digunakan pada semua kapal selam Korea. Salah satu poin yang mengejutkan adalah mengenai Persenjataan dan Sistem kendali senjatanya. Selain dipersenjatai 8 buah tabung peluncur Torpedo untuk torpedo berukuran 533 mm Blackshark juga mampu untuk men-deploy ranjau laut, Ia juga memiliki desain yang mampu untuk meluncurkan rudal.
ASM/SSM-700K Hae Sung

Sistem kendali senjata MSI Mk2 buatan Kongsberg dipilih oleh TNI AL sebagai komponen yang mengendalikan dan mengatur sistem peperangan serta penembakan torpedo, ditambah lagi beberapa sensor dan peralatan elektronika yang canggih dan terkini juga ikut di dalam. Bila di kapal selam Cakra kita belum memiliki Flank Array Sonar, maka di kapal selam baru nantinya sistem ini akan dipasang dan digunakan.
Banyak sekali keunggulan serta kelebihan sistem dan peralatan yang digunakan dalam kapal selam baru ini dibanding kapal selam Indonesia yang ada sekarang. Radar serta ESM dari Indra-Spanyol, Integrated Navigation System dari SAGEM-Prancis, Optronic dan Periskop dari Cassidian-Jerman, sistem Sonar dari L3 Elac Nautic-Jerman menjadi pilihan TNI AL di dalam desain kapal selam barunya.
Prosedur keamanan dan keselamatan kapal selam dan personel juga menjadi prioritas dalam desain DSME209/1400. Dua unit Life rafts dengan kapasitas 25 personel dengan bekal darurat selama 6 hari akan terpasang di kapal selam ini. Untuk pakaian keselamatan dan pelindungan dari dekompresi selama proses evakuasi dipilih jenis MK-X buatan Inggris sebanyak 48 buah.
2
Yang paling berbeda dibanding dengan kapal selam Cakra adalah bentuk pintu baterai dibuat sesuai dengan aturan NAVSEA 0994-LP-013-9010 pada mulut pintunya. Dengan begitu bisa lakukan proses evakuasi menggunakan Deep Submergence Rescue Vehicle (DSRV).
Untuk mewujudkan kemandirian industri pertahanan, di dalam kontrak pembelian ini juga termaktub tentang skenario Transfer of Tecnology (ToT) dan juga On the Job Training(OJT) di galangan kapal DSME korea. Dua kegiatan ini diperuntukkan bagi personel PT PAL untuk lebih dapat mendalami serta menyerap semua ilmu baik desain maupun proses produksi kapal selam.
Dari sisi sumber daya manusia, pada periode desain, PT PAL telah mengirimkan SDM yang mempunyai kualifikasi untuk desain kapal sebanyak 20 personel profesionalnya. Selanjutnya mengirimkan pula personel yang tergabung dalam team OJT sebanyak 186 personel yang dikirimkan secara bertahap dimulai sejak bulan November 2013 hingga bulan Februari 2017.
3
Menilik proses pembangunan kapal selam DSME209/1400 sampai dengan Januari 2015 ini, telah sampai dalam tahap pemotongan plat untuk kapal selam ketiga. Diharapkan pada tahun 2017, dua unit kapal selam baru DSME209/1400 sudah dapat beroperasi diperairan indonesia. Sedangkan untuk kapal selam ketiga jika dilihat dari skenario kontrak pembelian, maka akan dapat dioperasikan sekitar awal tahun 2019.
Kita harapkan kehadiran kapal selam DSME209/1400 dapat memperkuat kemampuan tempur angkatan laut kita.

Majalah Cakrawala Edisi 425 TNI AL

Tank Leopard RI Bergerak ke Sumatera

  Tank Leopard Indonesia
Tank Leopard Indonesia di Lampung (@Lampung Online)

Konvoi kendaraan tempur TNI jenis tank milik TNI Angkatan Darat (TNI AD) dari Jakarta memasuki Provinsi Lampung, dengan melintasi Jalan Soekarno Hatta, By Pass, menggunakan penyeberangan dari Pelabuhan Bakauheni menuju Omiba Puslatpur Martapura, OKU Sumatera Selatan.Senin (1/6/2015) sekira pukul 11.15.
“Kendaraan tempur tersebut terdiri dari empat Leopard dan tiga Scorpion dengan berat masing masing berkisar 60 ton,” jelas Kolonel (Kav) Zulkifli Dirbinlat Mabes Angkatan Darat, yang mengawal perjalanan tersebut.
Ditanbahkan Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) 043/Gatam, Lampung, Mayor (Inf) Prabowo, sejumlah kendaraan tempur tersebut akan menuju OMIBA Puslatpur di Martapura, Sumatera Selatan, untuk melaksanaan latihan antar kecabangan yang dihadiri Panglima TNI Jenderal Moeldoko pada 15 Juni 2015 yang akan datang.

LampungOnline

Ini kehebatan Boeing CH-47 Chinook incaran Kemhan

Ini kehebatan Boeing CH-47 Chinook incaran Kemhan
Boeing CH-47 Chinook. ©istimewa

Indonesia kembali berencana menambah Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista), salah satu produk yang diincar adalah Chinook. Heli transportasi serba bisa ini diharapkan tak hanya berfungsi membawa prajurit ke medan tempur, tapi juga tanggap bencana.

"Ancaman kita yang pertama bencana alam, bencana alam angkatnya kok pake sekop. Berikutnya kalau mau kirim pasukan ke PBB pake kapal. Kasihan," jelas Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu di Gedung Kementerian Pertahanan, Jakpus, Rabu (3/6).

Rencana membeli Chinook ini bukan yang pertama kali terjadi. Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Pramono Edhi Wibowo juga sempat ingin membelinya. Namun sayang, rencana itu dibatalkan lantaran pemerintah memutuskan menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi.

Lalu, seperti apa sih ketangguhan Chinook yang membuat Indonesia kepincut?
CH-48 atau lebih dikenal dengan nama Chinook, merupakan produk helikopter buatan perusahaan penerbangan asal AS, Boeing. Heli ini pertama kali diperkenalkan pada dunia pada 1962 dan masih terus dibuat sampai kini. Selain AS, sudah ada 22 negara yang menggunakannya.

Bobot tubuhnya yang besar, ditambah 2 unit mesin Lycoming T55-GA-712 turboshaft serta dua buah rotor di atasnya, Chinook banyak dipakai sebagai alat transportasi berat. Meski besar dan panjang, namun heli ini memiliki kecepatan 170 knot, atay 315 km per jam.

Nama Chinook sendiri diambil dari sebuah suku Indian di barat laut Pasifik, Chinookan. Dalam perkembangannya, heli ini sudah memiliki belasan varian, baik untuk penggunaan dalam negeri maupun ekspor.

Bicara soal pengalaman tempur, heli ini sudah menjalani banyak medan pertempuran, salah satunya Perang Vietnam sejak 1965. Kemudian sempat dipakai AD Inggris saat merebut kembali Kepulauan Falkland dari Argentina.
Heli ini mampu menjalani penerbangan hingga 161.000 jam terbang, membawa jutaan penumpang dan mengangkut lebih dari 1,3 juta ton peralatan. Heli ini dapat digunakan untuk memindahkan tank, pesawat tempur dan alutsista berat lainnya hanya dengan menggunakan seutas tali.

Sekali terbang, heli ini bisa membawa 55 personel pasukan ke jantung pertahanan lawan dengan cepat.

Terdapat 3 pintle senapan mesin menengah pada heli ini, 1 terletak pada loading ramp dan 2 di sisi kanan dan kiri jendela. Senapan yang bisa dipakai umumnya 7,62 mm M240 atau FN MAG. Harga satu unit heli ini mencapai USD 38,55 juta, atau berkisar Rp 510,71 miliar.

Menhan: Beli Chinook Emang Mahal Tapi Nyawa Lebih Mahal

Menhan: Beli Chinook Emang Mahal Tapi Nyawa Lebih Mahal Ilustrasi Helikopter Chinook (Foto: Getty Image)
 
Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu mengungkapkan keinginannya untuk membeli helikopter Chinook untuk memperkuat alutsista. Meski Chinook mahal namun helikopter ini memiliki kemampuan besar.

"Beli Chinook mahal emang, tapi nyawa orang lebih mahal," ucap Ryamizard di Kemhan Jl Medan Merdeka Barat, Rabu (3/6/2015).

Menurutnya Indonesia membutuhkan penambahan alutsista canggih untuk meningkatkan pengamanan. Seperti misalnya pesawat Chinook yang bisa mengangkut beban berat.

"Kita bisa bawa pakai Chinook bisa angkat tuh berat. Kalau pesawat besar kalau kita kirim pasukan PBB, kalau selama ini pakai kapal kasihan. Jadi bisa sekali jalan, murah meriah senang prajurit," ucapnya.

Helikopter Chinook buatan Amerika bermesin ganda, tandem rotor dan heavy-lif. Bisa terbang dengan kecepatan tertinggi 170 knot dam mampu membawa beban yang berat. Chinook juga bisa mengangkut tentara dalam jumlah banyak.

Sehingga menurut Ryamizard jika ada kejadian bencana besar di daerah yang sulit dijangkau maka dengan Chinook bantuan yang berat dan alat-alat berat lainnya bisa diangkut dengan cepat. Harga helikopter Chinook ini ditaksir mencapai US$ 30 juta.

"Harusnya ada alat berat, diangkut pakai pesawatlah. Saya mau beli (Chinook)," katanya.
 

KRI Usman Harun-KRI Hasanuddin tiba di Thailand

KRI Usman Harun-KRI Hasanuddin tiba di Thailand
ilustrasi--KRI Sultan Hasanuddin-366. (ANTARA FOTO/Joko Sulistyo)
 
Dua kapal perang dari jajaran Satkoarmatim yakni KRI Usman Harun-356 dan KRI Sultan Hasanuddin-366 tiba di Pelabuhan Sattahip, Thailand, untuk melaksanakan latihan bersama "Sea Garuda 18 AB-15".

Kadispen Armatim Letkol Laut (KH) Maman Sulaeman dalam keterangan kepada Antara di Surabaya, Rabu, melaporkan kedua kapal perang jenis Multi Role Light Fregate (MLRF) dan Sigma itu tiba di "Negeri Gajah Putih" pada Senin (1/6), setelah menempuh perjalanan sejauh 1.699 NM selama 11 hari dengan melintasi Laut Jawa, Laut Natuna, dan Laut China Selatan.

"Kedua kapal terbaru yang dimiliki TNI Angkatan Laut itu sebelumnya sempat sandar di beberapa Pangkalan Aju untuk pengisian bahan bakar, air tawar, pengecekan dan pemantapan kondisi teknis," katanya.

Kedatangan KRI Usman Harun-356 yang dikomandani Kolonel Laut (P) Didong Rio Duta ST MAP dan KRI Sultan Hasanuddin-366 yang dikomandani Letkol laut (P) Endra Hartono itu disambut oleh Capt Paisam Meesri, Chief of Staff Fregate Skuadron I Royal Thai Navy (RTN), mewakili Panglima Armada RTN.

Dalam acara penyambutan itu, hadir pula Kolonel Zeni Edy Lumintang dan Kolonel Laut (P) Adrian Syah Atase Pertahanan RI di Thailand.

Penyambutan kedatangan dua KRI itu ditandai dengan pengalungan bunga kepada kedua Komandan KRI oleh Capt Paisam Meesri diiringi dengan pementasan tarian tradisional Ramthai, yang merupakan tarian selamat datang.

"Dalam latihan bersama itu, TNI Angkatan Laut melibatkan KRI Usman Harun-356, KRI Sultan Hasanuddin-366, Pesawat Udara CN-235 dengan Lima orang observer dari Marinir dan satu Helly jenis BO-105, NV 412 Ron 400," kata Komandan KRI Usman Harun-356 Kolonel Laut (P) Didong Rio Duta selaku Komandan Satgas Latma Sea Garuda 18 AB-15.

Puncak Latma Sea Garuda 18 AB-15 akan digelar di Perairan Teluk Thailand selama sembilan hari mulai 1 Juni 2015 untuk tahapan Sea phase, sedangkan Harbour Phase dilaksanakan di Chuk Samet Port Sattahip & U-Tapao Naval Air Base,Thailand.

Sementara itu, jajaran TNI AD di Surabaya, Lamongan, dan Madiun melaksanakan latihan beladiri khas Angkatan Darat yakni Yong Moo Do.

Yong Moo Do merupakan aliran beladiri asal Korea yang menjadi beladiri wajib di kalangan TNI AD dan rencananya akan tampil di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016.