Selasa, 07 April 2015

TNI Angkatan Udara berencana tambah alutsista

TNI Angkatan Udara berencana tambah alutsista
Atraksi pesawat TNI Angkatan Udara saat gladi bersih upacara peringatan Hari Angkatan Udara ke-66 tahun 2012 di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Sabtu (7/4). (FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf)
 
TNI Angkatan Udara berencana menambah alat utama sistem persenjataan (alutsista) untuk mendukung pertahanan wilayah udara Indonesia.

Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Agus Supriatna mengatakan sampai akhir 2014 TNI Angkatan Udara sudah punya 16 unit pesawat Sukhoi SU-30 dan lima unit pesawat F-16.

"Kedepan kita punya rencana dan strategi ingin pesawat early warning (peringatan dini) yang bisa meng-cover kegiatan wilayah operasi udara," katanya usai gladi bersih persiapan peringatan ulang tahun TNI Angkatan Udara di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Selasa.

TNI Angkatan Udara juga berencana memperbanyak radar supaya bisa mencakup seluruh wilayah, dari Sabang sampai Marauke.

KSAU mengatakan TNI Angkatan Udara membutuhkan 32 radar namun baru memiliki 22 radar.

"Dua radar juga sudah datang tahun ini. Setiap tahun terus bertambah, sampai kita bisa meng-cover seluruh wilayah NKRI," ucapnya.

TNI Angkatan Udara juga mengusulkan pengadaan dua jenis pesawat tempur generasi kelima, Sukhoi SU-35 buatan Rusia dan pesawat tempur F-16 Block 70 buatan Amerika, untuk menggantikan pesawat jenis F-5 yang sudah tidak layak terbang.

"TNI AU sudah mengkaji Sukhoi 35 dan pesawat F-16 Block 70. Ini generasinya jelas di atas pesawat-pesawat tempur yang kita punya saat ini," ujarnya.

TNI Angkatan Udara sudah menyampaikan kajian itu ke Kementerian Pertahanan dan sekarang sedang menunggu keputusan kementerian.

"Kita tidak beli langsung satu skuadron. Secara bertahap. Kan negara luar juga bikin pesawat tempur terbatas. Semua pabrikan di dunia misalnya, mereka bikin 20 unit, nah setelah negosiasi antara pemerintah maka empat unit bisa dijual untuk Indonesia," ucapnya.

Sebelum pesawat Sukhoi SU-35 atau F-16 Block 70, TNI Angkatan Udara menggunakan pesawat F-5 yang masih bisa beroperasi.

"F-5 masih bagus sampai 2020, tapi memang sudah tidak bisa combat," ucapnya.
 

Panglima Moeldoko: Tekan Teroris, TNI Perlu Obrak-abrik Pegunungan Poso

Panglima TNI Jenderal Moeldoko. (ist)

Panglima TNI Jenderal Moeldoko tak mempersoalkan kritik yang menganggap TNI tengah unjuk kekuatan dengan melakukan latihan gabungan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Poso, Sulawesi Tengah. Menurut dia, unjuk kekuatan TNI itu diperlukan untuk menekan kelompok teroris yang selama ini bersembunyi di Gunung Biru.
“Sudah kami sampaikan dalam permainan taktik itu, kan di Poso itu gunungnya bergelombang, kemungkinan teman-teman polisi masuk ke sana agak sulit. Untuk itu diperlukan TNI untuk mengobrak-abrik situasi di sana,” kata Moeldoko, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/4/2015).
Moeldoko mengatakan, dengan aktivitas yang dilakukan TNI di wilayah pegunungan itu, akan memaksa kelompok teroris keluar dari persembunyiannya. Dengan demikian, aparat kepolisian akan lebih mudah menangkap anggota-anggota kelompok teroris tersebut.
“Ini taktik yang kami kembangkan. Kan enggak perlu kami declare ke masyarakat sebelum kami lakukan,” kata dia.
Lagi pula, sebut Moeldoko, segala aktivitas TNI di Poso itu sudah mendapatkan persetujuan dari Presiden Joko Widodo. Menurut dia, TNI tidak akan bergerak tanpa adanya kontrol dari pemerintah.
Saat ini, sebanyak 700 personel TNI merupakan bagian dari 3.222 personel gabungan yang kini sedang berlatih di wilayah Poso pesisir hingga 15 April mendatang. Mereka adalah bagian dari Pasukan Pemukul Reaksi Cepat yang ditugaskan untuk memburu pelaku teroris kelompok Santoso yang diduga bersembunyi di Gunung Biru.
TNI bahkan sudah menembakkan 160 roket ke kawasan tersebut. Selain itu, ada sejumlah roket –M70 grad marinir kaliber 122 dengan jangkauan hingga 20 kilometer yang ditembakkan dari KRI Sultan Hasanuddin 3-6-6 yang bersandar di Teluk Poso.
TNI mensinyalir selama ini kelompok radikal nyaman bersembunyi di Poso. Ada kekhawatiran para simpatisan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang baru pulang dari Irak dan Suriah bergabung dengan kelompok ini. Oleh karena itu, TNI melakukan operasi besar-besaran di Poso.(kompas)

Tim Akrobatik Jupiter Akan Tampil saat Upacara HUT ke-69 TNI AU

Kepala Staf TNI AU Marsekal Agus Supriatna (ist)

Tim akrobatik udara Jupiter Aerobatic Team (JAT) TNI Angkatan Udara akan unjuk kebolehan dalam upacara puncak HUT ke-69 TNI AU di Lanud Halim Perdanakusuma. Kepala Staf TNI AU Marsekal Agus Supriatna mengatakan, JAT adalah salah satu tim kebanggaan TNI AU.
“Jupiter Aerobatic Team akan tetap tampil karena ada rasa kebanggaan TNI AU, serta bangsa dan negara,” ujar Agus dalam konferensi pers di Skadron II, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (7/4/2015).
Dalam sesi gladi bersih di Lanud Halim Perdanakusuma hari ini, enam pesawat KT-Wong Bee Jupiter Aerobatic Team sudah melakukan uji coba aksi akrobatik. Persiapan tersebut dilakukan untuk penampilan sesungguhnya pada upacara puncak HUT ke-69 TNI AU pada 9 April 2015.
Penampilan Jupiter Aerobatic Team ini seperti ingin membuktikan bahwa mereka tidak terpengaruh dengan kecelakaan yang terjadi bulan lalu. Dua pesawat KT-1B Wong Bee milik TNI AU yang merupakan bagian dari tim akrobatik JAT jatuh saat sesi latihan sebelum pergelaran Langkawi International Maritime & Aerospace Exibition (LIMA) 2015 di Malaysia, Minggu (15/3/2015) lalu.
Mengenai hasil penyelidikan jatuhnya dua pesawat tersebut, Agus mengatakan bahwa hingga saat ini masih dilakukan evaluasi internal.
“Sebelum ada hasil evaluasi, tetap yang paling bertanggung jawab itu saya. Kenapa kali ini diikutsertakan, agar tidak menurunkan motivasi adik-adik saya. Tugas saya memastikan agar secara psikologi mereka bisa tetap kuat,” kata Agus.
TNI AU memiliki delapan pesawat Jupiter KT-1B Woong Bee buatan Korea Selatan. Semua penerbang yang tergabung dalam tim aerobatik “The Jupiters” ini merupakan instruktur terbang TNI AU. (Kompas)

Pidato Sukarno yang Menggelegar di Pembukaan KAA

Soekarno. (ist)

Presiden Sukarno membuka Konferensi Asia Afrika pada 18 April 1955 di Gedung Merdeka, Bandung, dengan pidato berbahasa Inggris selama 40 menit. Diawali ucapan selamat datang kepada peserta dari 29 negara Asia-Afrika, Sukarno selanjutnya memaparkan kondisi dunia internasional dan imperialisme. Sukarno membakar semangat peserta konferensi untuk melawan penjajahan.
“Tuan-tuan tidak berkumpul di dunia yang damai, yang bersatu, dan yang bekerja bersama. Jurang-jurang besar dan curam mengganggu antara bangsa-bangsa dan golongan bangsa. Dunia kita yang malang ini terpecah belah, dan ternyata rakyat dari semua negeri berada dalam ketakutan, kalau-kalau di luar kesalahan mereka, serigala-serigala peperangan akan lepas lagi dari rantainya,” kata Sukarno.
Berdasarkan Risalah Konferensi Asia Afrika catatan Dinas Pengawasan Keselamatan Negara Djawatan Kepolisian Negara 1 Juni 1955, Sukarno kemudian mengingatkan kekuasaan imperialisme dulu yang membentang dari Selat Jibraltar, Lautan Tengah, Terusan Suez, Lautan Merah, Hindia, Tiongkok, hingga Lautan Jepang. Daratan sepanjang garis lautan itu merupakan tanah jajahan, rakyatnya tidak merdeka, dan hari depannya tergadaikan kepada sistem asing.
“Dan pada hari ini, di dalam gedung ini, berkumpul pemimpin-pemimpin bangsa yang tadi itu. Mereka bukan lagi menjadi mangsa kolonialisme. Mereka bukan lagi menjadi alat perkakas orang lain, dan bukan lagi alat permainan kekuasaan-kekuasaan yang tak dapat mereka pengaruhi. Today, you are representatives of free peoples, peoples of a different stature and standing in the world,” ujar Sukarno.
Singa podium itu menyebutkan berbagai perbedaan tiap bangsa, seperti latar sosial, budaya, asal mula negara, hingga warna kulit. “Mankind is united or divided by considerations other than these. Conflict comes not from variety of skins, nor from variety of religion, but from variety of desires.”
Sukarno lantas menekankan persatuan negara peserta yang hadir, berlandaskan kesamaan sikap dalam membenci kolonialisme, rasialisme, dan memperkokoh perdamaian dunia. Ia mengingatkan hadirin semua agar tidak terlena dan tertipu bahwa penjajahan telah mati. “I say to you, colonialism is not yet dead. How can we say it is dead, so long as vast areas of Asia and Africa are unfree.”
“And I beg of you, do not think of colonialism only in the classic form which we of Indonesia, and our brothers in different parts of Asia and Africa, know. Colonialism has also its modern dress, in the form of economic control, intellectual control, actual physical control by a small but alien community within a nation.” (Tempo)

Marinir Indonesia-AS latihan perang kota di Banyuwangi

Marinir Indonesia-AS latihan perang kota di Banyuwangi
Sejumlah prajurit Taifib Korps Marinir TNI AL dan US MARSOC mengikuti upacara pembukaan latihan dengan sandi Lantern Iron 15-5524 di Pusat Latihan Tempur Korps Marinir Baluran, Karangtekok, Situbondo, Jatim, Kamis (19/3). Latihan tersebut untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan teknik dan taktik prajurit Taifib Korps Marinir serta mempererat kerja sama dengan prajurit US MARSOC dalam bidang militer yang berlangsung hingga 10 April. (ANTARA FOTO/Sertu Mar Kuwadi)
Secara umum latihan ini untuk meningkatkan profesionalisme prajurit Taifib Korps Marinir yang memiliki kemampuan bertempur di tiga medan atau tri media, yaitu di darat, laut dan udara."
Prajurit Intai Amfibi Marinir TNI AL bersama dengan prajurit khusus Marinir AS, US Marsoc, melakukan latihan perang kota di Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur.

Komandan Satgas Latihan Letkol Marinir Freddy Ardianzah dalam keterangan tertulis Dinas Penerangan Korps Marinir di Banyuwangi, Selasa menjelaskan bahwa latihan bersandi "Lantern Iron 15-5524" melibatkan sejumlah pihak, termasuk helikopter TNI AL.

"Tujuan latihan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan teknik dan taktik prajurit Taifib Korps Marinir dalam melaksanakan perang kota," ujarnya.

Letkol Freddy Ardianzah mengatakan selain materi perang kota, Senin (6/4), prajurit Taifib Korps Marinir pada Minggu (5/4) juga melaksanakan latihan melompat ke air dari helikopter dan stabo atau diangkut dengan helikopter menggunakan tali.

Satu unit helikopter jenis Bell 412 yang dilibatkan berasal dari Skuadron 400 Wing Udara-1 Pusat Penerbangan TNI AL (Puspenerbal) yang dipiloti Lettu Laut (P) V. Oktomiawan dan Copilot Lettu Laut (P) Tri Yudha.

"Secara umum latihan ini untuk meningkatkan profesionalisme prajurit Taifib Korps Marinir yang memiliki kemampuan bertempur di tiga medan atau tri media, yaitu di darat, laut dan udara," ujarnya.

Pada akhir Maret lalu, prajurit Taifib Marinir bersama dengan US Marsoc mengadakan latihan pengintaian pantai di daerah Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Lampon, Banyuwangi.

Letkol Freddy Ardianzah menjelaskan pada latihan itu marinir kedua negara melaksanakan berbagai materi latihan, di antaranya, renang rintis, pengintaian pantai lanjutan dan raid amfibi.

Pada latihan bersama itu kedua marinir merasakan lokasi latihan tempat para calon pasukan Taifib Marinir digembleng.

Freddy Ardianzah menjelaskan bahwa para marinir itu juga berlatih tentang identifikasi serta tindakan terhadap bahan peledak, pertempuran jarak dekat, bertahan hidup dan lainnya.

Menurut dia, latihan bersama ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan teknik dan taktik prajurit Taifib serta menjalin kerja sama dengan prajurit US Marsoc dalam bidang militer.
 

Risma Persilakan Penelitian 'Makam Hitler' di Ngagel

Adolf Hitler (ist)

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini membuka kesempatan bila ada orang atau lembaga yang ingin melakukan penelitian di makam dr G.A Poch yang diduga merupakan penyamaran pemimpin Nazi Jerman Adof Hitler.
“Kalau memang dimungkinkan ada penelitian, ya bisa, tapi bukan di bawah saya,” kata Risma kepada wartawan di Ruang Sidang Wali Kota Surabaya, Senin 6 April 2015.
Menurut Risma, inisiatif diadakannya penelitian tidak harus dilakukan oleh Pemerintah Kota. Tapi bisa juga antar pemerintah. Yang jelas, dia tidak ingin menyinggung bangsa Indonesia maupun bangsa lainnya.
Risma juga tidak berani menyatakan bahwa Poch berkaitan langsung dengan Hitler. Meskipun diakuinya ada beberapa tanda yang bisa menghubungkan Poch dengan Hitler. Salah satunya temuan kapal selam di Sumbawa. “Coba kaitkan, itu milik siapa. Tapi memang belum bisa dipastikan,” ujar Risma.
Risma juga tidak berkeinginan untuk menggandeng negara-negara tertentu guna meneliti kebenaran informasi tersebut. “Enggak beranilah aku. Nanti ada bangsa yang tersinggung, aku jadi repot,” kata Risma.
Risma menyatakan, dia banyak menemukan makam-makam orang dari negara luar yang punya riwayat penting dalam sejarah. Namun, Risma tidak mempunyai kewenangan untuk meneliti satu per satu makam.
Sebelumnya, Risma sempat menyebut akan menelusuri kaitan dr G.A Poch dengan Adolf Hitler. Sejumlah sumber meyakini bahwa Poch merupakan Hitler yang melarikan diri dari Jerman dan berubah identitas. Poch sendiri dimakamkan di Makam Islam Ngagel Rejo Surabaya. Di nisannya tertulis Poch wafat pada 16 Januari 1970.
Beberapa buku seperti Hitler Mati di Indonesia karya Ir KGHP Soeryo Goeritno MSc menyatakan bahwa Poch diduga merupakan pemimpin Nazi Jerman, Adolf Hitler.
Disebutkan Hitler sebenarnya tidak tewas bunuh diri di dalam bunker bersama Eva Braun. Sang diktator itu diyakini sempat melarikan diri ke negara lain dan mengubah namanya.(Tempo)

Minggu, 05 April 2015

Latihan Perang TNI Permudah Pengejaran Teroris

 
Wakil Kepala Polri, Komisaris Jenderal Badrodin Haiti (KOMPAS/IWAN SETIYAWAN)
Wakil Kepala Polri, Komisaris Jenderal Badrodin Haiti (KOMPAS/IWAN SETIYAWAN)

Wakil Kepala Polri Komjen Badrodin Haiti mengemukakan, latihan perang TNI sejak 1 April 2015 di Kabupaten Poso mempermudah Polri mengejar kelompok teroris pimpinan Santoso dan Daeng Koro. Badrodin Haiti kepada wartawan di Palu, Sabtu (4/4/2015) malam, mengatakan latihan perang yang melibatkan 3.000-an anggota TNI tersebut membuat kelompok teroris yang dipimpin Santoso dan Daeng Koro menghindar ke tempat yang lebih aman.
Latihan perang TNI tersebut dilakukan di sekitar Gunung Biru, Kabupaten Poso. Lokasi itu selama ini dikenal sebagai lokasi persembunyian kelompok sipil bersenjata. Saat latihan perang, TNI meluncurkan beberapa roket ke arah Gunung Biru.
Badrodin mengaku, Polri sudah mengantisipasi menyingkirnya kelompok teroris. Polri kemudian melakukan penyekatan di beberapa lokasi di Kabupaten Poso dan wilayah perbatasan. “Ini terbukti berhasil, dan telah menangkap dua terduga teroris,” kata mantan Kepala Polda Sulawesi Tengah ini.
Dia juga berterima kasih kepada TNI selama menggelar latihan perang di Kabupaten Poso sehingga tugas Polri lebih ringan. Menurut Badrodin, Polri dan TNI terus berkoordinasi dalam menumpas gerakan radikal di Kabupaten Poso dan sekitarnya.
Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Moeldoko menyatakan latihan perang TNI itu adalah kegiatan rutin tahunan yang lokasinya bisa di mana saja.
“Latihan ini tidak untuk menangkap kelompok teroris. Tapi kalau ketemu mereka, ya, diminta menyerah atau ditembak,” kata Moeldoko saat berkunjung ke Palu. (KOMPAS.com).