Senin, 30 Maret 2015

Panglima TNI sinyalir pembunuh dua anggotanya adalah mantan GAM

Panglima TNI sinyalir pembunuh dua anggotanya adalah mantan GAM
Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko memberikan pidato saat membuka secara resmi pertemuan 100 ahli pangan di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Senin (30/3). (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
 
Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko mensinyalir pelaku pembunuhan dua anggota TNI di Aceh adalah mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ingin merasa eksis.

"Ada sempalan lama yang ingin merasa eksis," kata Panglima TNI usai membuka pertemuan dengan 100 ahli pangan atau "100 Expert Meeting" dengan tema "Memastikan Terwujudnya Kedaulatan Pangan" di Aula Gatot Subroto, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin.

Saat ini, kata dia, TNI dan aparat kepolisian tengah mengidentifikasi pelaku pembunuhan dua anggota anggota intel Komando Distrik Militer (Kodim) 0103/ Aceh Utara, Serda Idra Irawan dan Sertu Hendrianto itu.

"Kami bekerja sama dengan kepolisian. Perintah saya jelas, cari sampai ketemu," tegas Panglima TNI.

Ia menilai peristiwa pembunuhan itu dilakukan secara sporadis dan tidak secara sistematis.

"Semuanya itu dalam konteks pidana. Karena prajurit saya ini tiga kali menemukan ladang ganja di tiga tempat, yakni 15 hektare, 8 hektare dan 1,5 hektare. Kemudian waktu sweeping juga menemukan sabu-sabu. Mungkin mereka sangat terganggu dengan itu," jelas Moeldoko.

Dari cara pelaku memperlakukan prajurit TNI sangat jelas pesannya, ditembak diberondong dan ditelanjangi. "Itu sebuah pesan yang jelas kepada kita. Untuk itu saya juga akan berikan pesan yang jelas pada mereka," tegasnya.

Dua anggota TNI AD dari satuan Kodim 0103 Aceh Utara meninggal dunia yaitu Sertu Hendrianto dan Serda Indra Irawan.
 

Danrem 011/Lilawangsa bantah ada kontak tembak

Danrem 011/Lilawangsa bantah ada kontak tembak
Rekan-rekan Serda Hendri menghibur keluarga almarhum saat jenazah tiba dari kawasan Batee Pila Desa Alue Papeun Aceh utara, Provinsi Aceh. Selasa (24/3). Dua Intel Kodim 0103 Aceh Utara Serda Hendri dan Sertu Indra diculik sekelompok pria bersenjata pada Senin (23/3) dan ditemukan tewas dengan hampir seluruh bahagian tubuh korban alami luka tembak. (ANTARA FOTO/Rahmad)
 
Komandan Korem 011/Lilawangsa Kolonel Inf Achmad Daniel Chardin membantah ada kontak tembak selama sepekan untuk pencarian pelaku penculikan dan pembunuhan dua anggota unit intel Kodim 0103/Aceh Utara di Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara, Provinsi Aceh.

"Tidak benar isu itu yang banyak beredar di media sosial dan broadcast di BBM. Tidak pernah terjadi kontak tembak," tegas Danrem kepada sejumlah wartawan saat ditemui di Makoramil Nisam Antara, Minggu.

Ditambahkan Danrem, upaya pengejaran dan pencarian terhadap kelompok bersenjata pelaku penculikan dan pembunuhan masih terus dilakukan.

Akan tetapi, kehadiran Polisi dan TNI tidak hanya berkonsentrasi pada upaya pencarian pelaku semata, namun juga fokus untuk menjaga keamanan dan ketenangan rakyat agar tetap merasa aman dan tenteram, katanya.

Menurut dia, keberhasilan Ayah Mud meloloskan diri dari sekapan kelompok Din Minimi, juga tidak terlepas dari keberadaan personel Polri dan TNI yang terus melakukan pengejaran dan pencarian keberadaan pelaku.

Saat disinggung apakah sudah teridentifikasi kelompok yang melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap dua prajurit TNI, Danrem mengatakan masih belum bisa dipastikan. "Tetapi kita memperkirakan mereka berjumlah 17 orang," jelasnya.

Danrem juga membantah bahwa pihaknya telah melarang masyarakat yang akan pergi ke kebun sebagaimana isu yang beredar selama ini saat proses perburuan para pelaku penculikan dan pembunuhan terhadap dua anggota TNI dari Kodim 0103 Aceh Utara.

"Kita tidak melarang masyarakat untuk pergi ke kebunnya. Namun kita meminta kepada mereka untuk berhati-hati, karena saat ini pihak Polisi dan TNI sedang melakukan pengejaran terhadap kelompok bersenjata yang telah mengganggu ketenangan dan ketenteraman," katanya.

Pewarta Antara melaporkan sejauh perjalanan dari dan menuju ke Ibukota Kecamatan Nisam Antara, aktivitas masyarakat berjalan normal dan tidak terpengaruh dengan upaya Polisi dan TNI yang sedang melakukan perburuan kelompok bersenjata pelaku penculikan dan pembunuhan dua anggota intel Kodim 0103/Aceh Utara. 
 

KT-1B Wong Bee: Pesawat Latih Dasar dengan Cita Rasa Tempur Taktis

LD-0108-LIMA-26-3-13-edit_e
Belakangan nama KT-1B Wong Bee banyak diperbincangkan publik, selain kiprahnya sebagai pesawat andalan JAT (Jupiter Aerobatic Team) yang banyak menampilkan atraksi memukau dalam beberapa perhelatan, dua pesawat Wong Bee belum lama ini mengalami musibah tabrakan di udara saat persiapan LIMA (Langkawi International Maritime & Aerospace) Exhibition 2015 di Malaysia (15/3).
Insiden di Malaysia tersebut, jadi kali kedua KT-1B mengalami naas di udara. Di Lanud Ngurah Rai, Bali, pada 24 Juni 2010, Wong Bee yang di piloti Letkol Pnb Ramot Sinaga dan penumpang Mayor Jenderal Rachmad Budianto (Panglima Kodam IX/Udayana) juga mengalami total lost. Saat itu, Rachmad Budianto menarik tuas kursi lontar setelah sebelumnya Ia merasa mendengar adanya gangguan pada pesawat. Pilot pesawat yang tidak siap untuk melakukan lompatan terluka parah akibat benturan. Secara resmi Panglima TNI menyatakan pesawat jatuh karena gangguan mesin. Berbeda dengan penyebab jatuhnya dua Wong Bee di Malaysia yang lebih terkesan karena kesalahan manuver. Tapi ada satu simpul yang menyatukan dari kedua insiden Wong Bee, yakni kehandalan sistem kursi lontar (ejection seat) yang mengadopsi Martin Baker MK.16.
Serempetan di udara pesawat Wong Bee Jupiter Aerobatic Team di Langkawi, Malaysia.
Serempetan di udara pesawat Wong Bee Jupiter Aerobatic Team di Langkawi, Malaysia.
Kursi lontar Martin Baker MK.16 dari KT-1B Wong Bee TNI AU.
Kursi lontar Martin Baker MK.16 dari KT-1B Wong Bee TNI AU.

Di lingkungan TNI AU, Wong Bee menjadi arsenal Skadron Pendidikan (Skadik) 102 yang ber-home base di Lanud Adisutjipto, Yogyakarta. Merujuk informasi dari Wikipedia.com, Indonesia membeli tujuh pesawat plus spare part pada akhir 2003 dengan nilai kontrak US$60 juta. Dan, pada tahun 2006 Indonesia kembali membeli 12 unit Wong Bee. Sementara informasi dari situs Koreaaero.com menyebutkan Indonesia membeli 17 unit.
Dengan cat warna merah putih yang khas, Wong Bee lebih dikenal khalayak sebagai pesawat JAT. Namun, sejatinya KT-1B Wong Bee mengemban peran sebagai pesawat latih dasar. Debutnya di TNI AU hadir untuk menggantikan pesawat T-34 Charlie yang usianya sudah uzur. Meski kodratnya sebagai pesawat latih dasar, Wong Bee punya beberapa kelebihan, diantaranya instrumen kokpit yang sudah mengintegrasikan antara sistem analog dan digital, sedangkan sistem avionik disokong teknologi EHSI (Electronic Horizontal Situation Indicator), EADI (Electronic Attitude Director Indicator), EEI, TACAN (Tactical Air Navigation), AHRS (Attitude Heading Reference System), radio UHF/VHF hingga IFF (Identification Friend or Foe). Singkat kata, Wong Bee menjadi wahana yang ideal guna melatih pilot guna kelak transisi ke jet tempur.
fixed02_img09
Display kokpit KT-1B.
Display kokpit KT-1B.
kt1_02KT1
Tapi bagi penulis, yang lebih menarik adalah rancangan desainnya yang identik dengan pesawat tempur taktis COIN (Counter Insurgency) andalan Skadron Udara 21 EMB-314 Super Tucano. Secara keseluruhan desain antara Wong Bee dan Super Tucano memang sangat mirip, terlebih pada rancangan bagian depan (mesin) dan area kokpit. Wong Bee punya panjang body 10,3 meter dan lebar sayap 10,3 meter. Sedangkan Super Tucano punya panjang body 11,3 meter dan lebar sayap 11,14 meter.
EMB-314 Super Tucano
EMB-314 Super Tucano

Kemiripan antara Wong Bee dan Super Tucano juga menyerempet ke soal mesin. KT-1B Wong Bee menggunakan mesin mesin turboprop Pratt&Whitney Canada PT6A-62 dengan tenaga 950 tenaga kuda yang mampu mendorong pesawat samapi kecepatan 648 Km per jam serta dapat menjelajah sejauh 1.700 Km tanpa mengisi ulang bahan bakar. Sementara Super Tucano yang buatan Embraer, Brazil ditenagai mesin yang sama, dengan kecepatan maksimum 593 Km per jam dan jarak jelajah hingga 1.500 Km.
18920454-kt1-basic-trainer-or-ligyaya
KT-1B sejatinya adalah label yang disematkan oleh Korea Aerospace Industries (KAI) untuk varian ekspor KT (Korean Trainer)-1. Pengembangannya dimulai pada 1988 dibawah program KTX untuk Angkatan Udara Korsel. Pesawat ini adalah pesawat pertama dikelasnya yang dirancang menggunakan program computer CATIA. Sembilan buah prototype berhasil dibuat pada Juni 1991 dan penerbangan pertama dilakukan pada November 1991 untuk uji statis dan kelelahan metal (fatigue). Pada 1995 proyek ini secara resmi dinamakan Wong Bee. Di tahun 1999 kontrak pembelian 85 pesawat dan 20 pesawat tambahan ditandatangai oleh pemerintah Korea selatan dan Korea Aerospace . Pesawat KT-1A pertama diserahkan kepada AU Korsel pada tahun 2000 dan 85 pesawat lengkap terkirim pada tahun 2002. Selain ke Indonesia, KT-1 juga di ekspor untuk AU Turki (KT-1C) sebanyak 40 unit.

Aura Tempur Taktis
Melihat kembarannya EMB-314 Super Tucano berhasil digadang sebagai pesawat tempur taktis, maka pihak KAI juga tak mau ketinggalan untuk menyulap KT-1 dengan atribut tempur. Dengan dalih menggantikan peran pesawat intai Cessna O-2 Skymaster, KAI kemudian menghadirkan KA-1 yang di dapuk sebagai airfield control aircraft. Bekal senjatanya memang tak segarang Super Tucano, maklum peran KA-1 hanya untuk light attact dan sebagai pemandu bagi jet tempur untuk meluncurkan rudal udra ke permukaan.
KA-1
KA-1
2-kt1-basic-trainer-or-lig
Dengan atribut tempurnya, KA-1 disokong elemen tambahan yang tak ada di KT-1, diantaranya HUD (Head up Display), flight and navigantion display, weapon release cues, dan weapon station display. Untuk bekal senjatanya peluncur roket FFAR LAU-131, gun pod HMP kaliber 12,7 mm, dan ada bekal tanki bahan bakar ekstra (2×50 galon) yang bisa di jatuhkan. Selain digunakan AU Korsel, KA-1 kini sudah digunakan AU Peru dengan label KA-1P sebanyak 17 unit. Disayangkan, KA-1 tak dibekali internal gun, juga belum disiapkan untuk dipasangi rudal, baik rudal udara ke udara atau rudal udara ke permukaan. Sementara Super Tucano dapat dipasangi rudal udara ke udara AIM-9L Sidewinder atau MAA-A1 Piranha, dan rudal udara ke permukaan Maverick. (Haryo Adjie)

Spesifikasi KT/KA-1
– Panjang body : 10,3 meter
– Lebar sayap : 10.3 meter
– Tinggi : 3,7 meter
– Berat full : 2,54 ton
– Berat kosong : 1,91 ton
– Mesin : Pratt&Whitney Canada PT6A-62
– Kecepatan max : 648 Km per jam
– Jarak jelajah : 1.700 Km
– G-limit : -3.5/+7


Sabtu, 28 Maret 2015

Produksi Massal Pesawat N-219

 
Kokpit pesawat dengan teknologi full glass cockpit dan interior kabin pesawat N-210 (photos : pr1v4t33r)
Kokpit pesawat dengan teknologi full glass cockpit dan interior kabin pesawat N-210 (photos : pr1v4t33r)

Pemerintah melalui PT Dirgantara Indonesia (DI), tengah menyiapkan produksi massal pesawat kecil jenis N-219. Pesawat tersebut dikhususkan untuk melayani penerbangan jarak dekat antarwilayah di Indonesia.
“N-219 akan digunakan untuk menjangkau antarkota berjarak sekitar 200 kilometer. Kapasitasnya kurang lebih 19 penumpang,” ungkap Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek dan Dikti), M Nasir, saat mengunjungi Solo Techno Park (STP), Selasa (24/3).
Ia mengklaim, saat ini prototipe pesawat tersebut telah selesai dibuat. “Satu unit pesawat riset itu bernilai sekitar Rp 120 miliar sampai Rp 125 miliar. Kami sedang mengupayakan agar N-219 bisa lulus uji sertifikasi pada tahun ini.” Dengan demikian, lanjut Nasir, PT DI diharapkan bisa mulai memproduksi pesawat tersebut secara massal pada 2016.
image
“Jika produksi pesawat itu bisa direalisasikan pada 2016, maka tahun depan akan menjadi tahun kebangkitan dirgantara Indonesia,” tegas Mantan Rektor Universitas Diponegoro (Undip) ini.
Nasir mengatakan, kendati biaya yang dibutuhkan untuk membuat prototipe N-219 relatif tinggi, harga pasaran yang dipatok untuk pesawat tersebut bisa di bawahnya.
“Harga keekonomiannya bisa berkisar US 6 juta dollar. Atau kira-kira Rp 70 miliar per unit. Dibanding dengan produksi luar negeri, harga segitu jauh lebih murah.” jelasnya.
image
Thailand dan Filipina, oleh Nasir diklaim sebagai contoh negara yang sudah menyatakan ketertarikannya terhadap N-219.
“Tapi kami akan fokus kepada pemenuhan kebutuhan dalam negeri dulu. Lagipula untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri saja, kami masih kesulitan,” tandasnya. (Suara Merdeka)

Pembunuhan Dua Serdadu TNI Diduga Reaksi Balik Mafia Aceh

ilustrasi (ist)
Anggota Komisi III DPR Fraksi PKS asal Aceh, Nasir Djamil, menyebut adanya dua kemungkinan yang diduga sebagai pemicu tewasnya dua anggota Kodim 0103/Aut, yang ditemukan pada Selasa (24/3) lalu.
Pertama, aksi keji yang menyebabkan kematian Sersan Satu Indra Irawan dan Sersan Dua Hendrianto, dikatakan Nasih, masih terjadi karena masih adanya penyebaran persenjataan ilegal di dataran Nangroe.
Dia pun menduga tentang adanya keterlibatan eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka.
“Aceh sebagai pasca konflik, masih ada persenjataan ilegal. Pelakunya ada kemungkinan dulunya gerombolan bersenjata yang tergabung dengan GAM, ataupun kelompok lain yang juga menguasai persenjataan,” ujar Nasir, seperti dilansir CNN Indonesia, Kamis (26/3), malam.
Selain itu, kata Nasir, kemungkinan kedua aksi pembunuhan terjadi sebagai bentuk reaksi balik mafia atau gembong yang bermain dalam pasar narkotika, yang beberapa tahun belakangan banyak ditemukan di Aceh.
“Belakangan ini polisi kan banyak menangkap narkotika-narkotika yang dikirimkan dari Aceh. Nah, ada kemungkinan ini jadi reaksi balik para mafia (senjata) dan gembong (narkotik) yang kemungkinan bekerja sama untuk melakukan perlawanan dengan aparat,” kata dia.
Karenanya, Nasir menjelaskan, pada pertemuan antara Komisi I dan Komisi III DPR dengan BAIS (Badan Intelejen Strategis), BIN (Badan Intelejen Negara), Pangdam dan jajaran Polda Aceh, pada Senin (30/3) mendatang, akan dibahas tentang kondisi keamanan masyarakat Aceh.
Mengenai pencarian pelaku pembunuhan yang telah dilakukan sejak tiga hari lalu oleh pihak kepolisian, Nasir menyarankan, polisi atau TNI sebaiknya tidak beramai-ramai turun ke jalan untuk menggelar operasi.
Menurutnya, masyarakat Aceh akan merasa resah jika operasi dilakukan dengan terang-terangan.
“Kalau masyarakat didekati dengan cara lama yakni masuk ke kampung-kampung, itu sudah tidak efektif. Lebih baik polisi melakukan kerjanya dengan cara seperti detektif. Kalau pun menggelar razia, itu seharusnya sudah mengetahui dengan jelas siapa yang dijadikan target razia,” kata Nasir.(CNN Indonesia)

Jumat, 27 Maret 2015

Pemerintah Yakin Penembakan TNI di Aceh Murni Kriminal

Pemerintah Yakin Penembakan TNI di Aceh Murni Kriminal
Personel TNI menjaga ketat jalur masuk dan keluar kecamatan dikawasan pedalaman Nisam Antara, Aceh Utara, Provinsi Aceh. Rabu (26/3/2015) (ANTARA/Rahmad)

Wakil Presiden Jusuf Kalla, mengatakan, penembakan Sertu Indra Irawan dan Serda Hendrianto, dua personel Intel Kodim 0103 Aceh Utara murni kriminal biasa dan tak terkait dengan separatis.

"Yang di Aceh itu kriminal sebenarnya," kata Kalla di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat 27 Maret 2015.

Menurut Kalla, bisa saja oknum merampok dengan senjata api. "Kan ada beberapa oknum merampok pakai senjata mungkin ada senjata lama dipakai," ujar dia.

Sebelumnya, Kapolda Aceh Inspektur Jenderal Husein Hamidi menduga pelaku penculikan dan penembakan Sertu Indra Irawan dan Serda Hendrianto merupakan kelompok yang pernah melakukan kriminal di Langsa dan Aceh Timur.

"Kelompok tersebut pernah melakukan tindakan kriminalitas di Aceh Timur. Mereka menggunakan senjata campuran, ada yang AK 47 dan M 16," kata Kapolda Aceh, Irjen Pol Husein Hamidi, Rabu 25 Maret, di Aceh Utara.

Husein mengungkapkan, masih ada kelompok-kelompok sipil yang menggunakan senjata bekas konflik di Provinsi Aceh. Hingga saat ini belum bisa dipastikan jumlah senjata api yang masih beredar di kalangan masyarakat.

"Beberapa waktu yang lalu pernah ditemukan dua pucuk senjata jenis AK 47 pada saat dilakukan sweeping oleh Polres Aceh Utara," ujar Husein Hamidi.

Dua anggota Intel Kodim 0103 Aceh Utara ditemukan tewas di Desa Alue Mbang, Kecamatan Nisam Antara, Selasa, 24 Maret 2014, setelah sebelumnya mereka dikabarkan diculik oleh kelompok bersenjata.

Kedua anggota TNI Angkatan Darat itu ditemukan tak bernyawa lagi dengan posisi telungkup, tangan terikat, dan hanya menggunakan celana dalam. Dari sekitar lokasi penemuan jasad korban, ditemukan 12 selongsong peluru AK 47 dan tiga butir selongsong jenis M 16.

Kuat dugaan, korban ditembak belasan kali dari jarak dekat menggunakan senjata jenis AK 47 dan M 16.

"Korban ditembak di dada, dari bawah rahang tembus kepala dan di bahu," kata Kolonel Inf Achmad Daniel Chardin, kepada VIVA.co.id saat dijumpai di rumah sakit Kesrem, Selasa 24 Maret di Lhokseumawe.

Dari Penculikan Sjahrir sampai Kudeta 3 Juli 1946

Tan Malaka dianggap tokoh penting dalam penculikan Sjahrir. (ist)
Akibat perbedaan pemikiran yang frontal antara Perdana Menteri Soetan Sjahrir (EYD: Sutan Syahrir) dengan kelompok oposisi “Persatuan Perjuangan” (PP) pimpinan Tan Malaka, terjadi insiden penculikan hingga upaya kudeta Kabinet Sjahrir II pada medio 1946.
Kronologinya berawal dari penangkapan Tan Malaka dan para pengikutnya, seperti Achmad Soebardjo dan Sukarni pada 23 Maret ‘46, dengan tuduhan merencanakan penculikan Sjahrir. Hal itu benar-benar terjadi empat hari kemudian.
Penculikan itu bahkan lebih dulu dilengkapi surat penangkapan dari Jenderal Soedarsono, Komandan Batalyon 63 dan juga “di-acc” Panglima Divisi IV, Kolonel Sutarto. Berbekal surat itulah A.K. Yusuf tak menemui halangan berarti dari Kepolisian Solo.
Kepala Polisi, Domopranoto sedianya ingin mengklarifikasi pada Jenderal Soedirman dan Presiden Soekarno. Tapi kelompok Jenderal Sutarto bersikeras bahwa surat ini sudah resmi tanpa harus diklarifikasi. Dengan begitu, terbuka lebar jalan A.K. Yusuf dan Sutarto menculik Sjahrir di Hotel Merdeka, sekira pukul 01.00.
Anggota polisi pengawal Sjahrir pun bergeming ketika dibawa komplotan PP itu setelah melihat surat printah penangkapan. Seperti dalam buku “Peristiwa 3 Juli 1946: menguak kudeta pertama dalam sejarah Indonesia”, Penculikan terjadi tanpa kekerasan. Sjahrir juga dibawa dengan sopan, tidak selayaknya orang yang tengah diculik.
“Saudara mesti saya tangkap,” tutur A.K. Yusuf sembari menyodorkan surat penangkapan. Lantas Sjahrir menjawab, “Bagaimana ini, saya masih dibutuhkan oleh rakyat,”. Meski begitu, Sjahrir pun akhirnya menuruti Yusuf.
Sementara itu ada dua anggota kabinet Sjahrir, yakni Dr. Sudarsono dan Subadio, berhasil lolos dengan menyeberangi sungai kecil di belakang hotel. Sementara itu, Sjahrir dibawa ke Kasunanan Paras, Boyolali, di mana Sjahrir dijaga Komandan Batalyon Paras, Mayor Soekarto.
Soal keterlibatan Tan Malaka sendiri dalam penculikan ini sedianya masih jadi perdebatan. Pada 28 Juni, Presiden Soekarno mengeluarkan Maklumat No.1 tahun 1946, untuk sementara mengambil kekuasaan penuh dan menggulirkan sistem presidensiil.
“Berhubung dengan kejadian-kejadian dalam negeri yang membahayakan keselamatan Negara dan perjuangan kemerdekaan kita, maka kami Presiden Republik Indonesia dengan persetujuan Kabinet dalam sidangnya pada tanggal 28 Juni 1946 mengambil kekuasaan pemerintah sepenuhnya untuk sementara waktu sampai keadaan biasa yang memungkinkan kabinet dan lain-lain badan resmi bekerja sebagaimana mestinya” bunyi isi maklumat Soekarno.
Selang kemudian pada 3 Juli ’46, Mayjen R.P. Sudarsono yang merupakan dalang penculikan yang sepaham dengan PP, menghadap presiden untuk meminta tanda tangan atas penyodoran maklumat yang meminta Presiden memberhentikan Kabinet Sjahrir II, Presiden menyerahkan kewenangan sosial, politik dan ekonomi pada Dean Pimpinan Politik.
Dua isi maklumat lainnya yakni meminta presiden mengangkat 10 anggota Dewan Pimpinan Politik yang diketuai Tan Malaka bersama Mohammad Yamin, Achmad Soebardjo, Buntaran Martoatmodjo, Sundoro Budhyarto, Sukarni, Chaerul Saleh, Sudiro, dan Iwa Kusuma Sumantri. Terakhir, mereka meminta presiden mengangkat 13 menteri negara yang dari nama-nama dalam pencantuman maklumat.
Sayangnya maklumat itu ditolak mentah-mentah. Bahkan, Soekarno langsung memerintahkan penangkapan pada para komplotan “Kudeta 3 Juli ‘46” yang juga jadi kup pertama dalam sejarah Indonesia itu dan diajukan ke Mahkamah Tentara Agung. Sementara itu pada, Sjahrir akhirnya dibebaskan dan Tan Malaka Cs masuk jeruji besi di Penjara Wirogunan, Yogyakarta. (Okezone)