Selasa, 10 Maret 2015

10-3-1965: Usman Harun dan Pengeboman MacDonald House Singapura

Pengeboman MacDonald House Singapura (Straits Times)
Jarum jam menunjuk ke pukul 15.07 waktu Singapura, 10 Maret 1965. The Hongkong and Shanghai Bank yang berada di dalam Gedung MacDonald House di Orchard Road sudah tutup 7 menit sebelumnya, namun 150 karyawannya masih sibuk mencatat transaksi hari itu.
Tiba-tiba, ledakan kuat terjadi, merobek pintu lift, menghancurkan dinding dan tangga lantai mezzanine, meruntuhkan pilar-pilar bangunan serta mempertontonkan kerangka baja di dalamnya. Kaca-kaca jendela di bangunan berjarak 100 meter hancur. Dampak bom juga merusak nyaris semua mobil yang terparkir di depan gedung.
Bom juga merusak kantor Komisi Tinggi Australia (Australian High Commission) yang juga ada di dalam bangunan. Para saksi mata mengaku melihat kilatan cahaya sebelum suara ledakan menggelegar memekakkan telinga.
“Pemeriksaan pada bangunan menunjukkan, 9 hingga 11 kilogram bahan peledak nitrogliserin yang digunakan dalam pemboman,” demikian Liputan6.com kutip dari situs Singapore Infopedia.
Dua karyawan bank tewas seketika dalam kejadian tersebut: Elizabeth (Suzie) Choo, sekretaris berusia 36 tahun dan asistennya yang baru berusia 23 tahun Juliet Goh. Korban jiwa ketiga adalah Mohammed Yasin bin Kesit, seorang sopir berusia 45 tahun. Korban terakhir menderita koma selama beberapa hari sebelum dinyatakan meninggal dunia.
Sebanyak 33 orang lainnya juga mengalami cedera akibat insiden tersebut. Deputi Perdana Menteri  Toh Chin Chye mengutuk serangan tersebut dan menyebutnya sebagai ‘kekejaman yang tak masuk akal’.
Singapura menyebutnya, aksi terorisme. Sebaliknya, bagi Indonesia, itu adalah aksi heroik.

Kisah Usman dan Harun
Pagi jelang siang, 10 Maret 1965,  Harun Said dan Usman Bin Hj Mohd Ali tiba di Singapura. Menyamar sebagai orang biasa, 2 prajurit Korps Komando Operasi (KKO) sebutan untuk pasukan Marinir pada zaman Presiden Sukarno memasuki MacDonald House.
Masing-masing meletakkan bahan peledak di tangga lantai mezzanine, dekat area lift. Setelah memasang timer, mereka meninggalkan bangunan sekitar pukul 15.00, menggunakan bus.
Seorang saksi mata mengaku melihat tas bepergian berbahan kanvas bertuliskan ‘Malayan Airways’  di lantai mezzanine yang menghasilkan suara mendesis serta kepulan asap.
Tindakan tersebut mereka lakukan atas nama negara. Kala itu,  pemerintah Indonesia di bawah pimpinan Sukarno menentang penggabungan Federasi Tanah Melayu, Singapura, Brunei, Serawak, dan Sabah ke dalam satu Malaysia.
Tiga hari setelah kejadian, Usman dan Harun ditangkap saat berusaha melarikan diri dari Singapura. Lewat jalur laut.
Pada 20 Oktober 1965, Usman dan Harun dinyatakan bersalah atas kasus pengeboman MacDonald House yang menyebabkan 3 orang tewas. Kasasi mereka ditolak Pengadilan Federal Malaysia pada 5 Oktober 1966. Permintaan terbuka presiden kala itu  Soeharto kepada Lee Kuan Yew untuk memberikan keringanan hukuman kepada dua anggota KKO tersebut juga ditepis. Keduanya lalu dieksekusi gantung pada 17 Oktober 1968.
Penolakan Singapura tersebut memicu kemarahan di Indonesia. Kepulangan jenazah kedua personel KKO itu ke Tanah Air disambut secara besar-besaran.
Ketegangan hubungan antara Indonesia dan Singapura mencapai klimaks. Kedutaan Besar Singapura di Jalan Indramayu, Menteng, Jakarta, diserbu dan dirusak massa yang membawa bambu runcing.
Tiga tahun setelah insiden itu, Lee Kuan Yew merencanakan kunjungan ke Indonesia. Soeharto lantas mengajukan syarat: Lee harus menaburkan bunga di makam Harun dan Usman di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Hal itu disetujui Lee.
“Namun entah dengan pertimbangan apa, PM Lee setuju meletakkan karangan bunga di makam Usman dan Harun,” ujar  Abdul Rachman Ramly, liason officer RI pada kasus Usman-Harun, dalam buku Pak Harto The Untold Story. Hubungan Indonesia dan Singapura pun akhirnya pulih.
Persoalan Usman Harun kembali jadi kontroversi dua negara pada tahun 2014. Gara-garanya, Tentara Nasional Indonesia (TNI) menamakan kapal perang terbarunya sebagai KRI Usman Harun.
Singapura mengajukan protes. Menteri Luar Negeri Singapura K. Shanmugam dalam pernyataan tertulisnya menyebut, “tindakan tersebut akan mengorek kembali luka lama warga Singapura, terutama keluarga para korban.”
Namun, Indonesia bergeming. Tak mau ganti nama. “Saya tidak terima kalau Usman-Harun itu dinyatakan sebagai teroris. Mereka (Usman dan Harun) Marinir kok,” kata Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko.
Selain pengeboman MacDonald House Singapura, tanggal 10 Maret juga menjadi momentum sejumlah peristiwa penting dunia. Pada 1876,  Alexander Graham Bell melakukan panggilan telepon pertamanya. Sebuah upaya yang berhasil.
Panggilan telepon perdana itu ditujukan pada Thomas Watson. Ini yang ia ucapkan. “Watson, come here. I need you.”
Sementara, pada 1945, pesawat-pesawat pengebom  B-29 menyerang Toyi, Jepang. Menewaskan sekitar 100.000 jiwa. Insiden itu menjadi salah satu aksi bombardir paling mematikan sepanjang sejarah.
Pada 10 Maret 1969 dinyatakan bersalah atas kasus pembunuhan  Dr. Martin Luther King. Ia divonis 99 tahun bui. (Liputan6)

Tuntutan Yang Harus Dimiliki Oleh Kekuatan Pertahanan Adalah Interoperability Antara Matra Militer

Tuntutan Yang Harus Dimiliki Oleh Kekuatan Pertahanan  Adalah   Interoperability  Antara Matra Militer
Salah satu tuntutan yang harus dimiliki oleh kekuatan pertahanan adalah Interoperability antara matra militer.  Interoperability harus dibangun  dalam  setiap pelaksanaan operasi dan latihan.   Setiap unsur matra yang Alutsistanya berbeda, diharapkan harus  mampu interoperable dengan unsur-unsur matra lainnya.         
Demikian amanat Panglima Kohanudnas Marsda TNI Hadiyan Sumintaatmadja pada acara Serah Terima jabatan Asisten Khusus Matra Laut (Assus Matral) dari Kolonel Laut (P) Deddy Suparli  kepada Kolonel Laut (P) Chrisanto Budi Maesa Paath di aula Leo Wattimena Makohanudnas Halim Perdanakusuma Jakarta,  Selasa (10/3).  
Lebih lanjut Pangkohanudnas mengatakan,  bahwa keberhasilan pelaksanaan operasi dan latihan tidak hanya mengandalkan dukungan  Alutsista dari matra lain, namun  kemauan dan ketulusan untuk berbagi demi tercapainya tujuan. Hal ini yang harus ditanamkan di benak kita semua, sehingga apa yang menjadi cita-cita kita sebagai alat pertahanan negara yang kuat, dan  disegani negara lain dapat tercapai.    
Assus Matral  sebagai Staf Khusus Pangkohanudnas  di bidang teknis Matra Laut memiliki tugas merumuskan kegiatan khusus atau teknis pelibatan unsur Hanud TNI Angkatan Laut serta mengadakan koordinasi fungsional  dalam rangka penyelenggaraan operasi dan latihan pertahanan udara .  Oleh karena itu, Assus Matral harus mampu memberikan pertimbangan dan saran kepada Pangkohanudnas mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan bidang tugasnya, sehingga Kohanudnas mampu melaksanakan tugasnya dengan optimal, tegasnya. 
Pelantikan tersebut dihadiri: Kas kohanudnas Marsma TNI Barhim, para Pejabat Kohanudnas, perwakilan Perwira, Bintara, dan Tamtama serta PNS Kohanudnas.

TNI. 

Indonesia Ranking 8 Importir Senjata Terbesar Sedunia

Ilustrasi Militer (ist)
Indonesia masuk urutan ke delapan sebagai negara importir senjata terbesar sedunia pada 2014. Importir terbesar pertama diduduki Arab Saudi.
Data itu dirilis HIS Jane yang berbasis di London, kemarin. Pada 2013, importir senjata terbesar di dunia adalah India. Indonesia pada tahun 2013 masuk urutan ke-6 sebagai importir senjata terbesar di dunia. Penelitian IHS Jane itu dilakukan terhadap 65 negara di dunia.
Data HIS Jane yang dirilis Global Defense Trade Report, menunjukkan bahwa Arab Saudi menghabiskan lebih dari 6,4 miliar dolar Amerika Serikat (AS) untuk belanja senjata pada tahun 2014. India tergeser di urutan kedua dengan biaya belanja senjata sebesar 5,5 miliar dolar AS.
Cina menjadi pegimpor senjata terbesar ketiga. ”China terus membutuhkan bantuan kedirgantaraan militer dari Rusia dan anggaran pengadaan pertahanan total akan terus meningkat dengan sangat cepat,” kata Paul Burton, Direktur Industri Pertahanan dan Anggaran di HIS Jane.
Yang sulit diprediksi, menurut IHS Jane adalah Arab Saudi. Sebab, impor senjata besar-besaran belum pernah dilakukan negara itu. ”Pertumbuhan di Arab Saudi telah dramatis dan, berdasarkan pesanan sebelumnya, angka-angka ini tidak akan melambat,” ujar ahli HIS Jane, Ben Moores.
Masih menurut IHS Jane, ketegangan regional di Timur Tengah dan Asia Pasifik yang memicu lonjakan impor senjata besar-besaran.
Untuk negara pengekspor senjata terbesar sejagat masih ditempati Amerika Serikat dengan nilai ekspor sebesar 23,7 miliar dolar AS dan tercatat nilai ekspor senjata tumbuh 19 persen.
Di urutan kedua negara eksportir senjata ditempati Rusia dengan nilai ekspor 10 miliar dolar AS dan nilai ekspornya tumbuh 9 persen. Namun, Rusia juga sulit diprediksi karena negara itu sedang dihantam sanksi oleh negara-negara Barat.
”Sebuah penurunan ekspor senjata (Rusia) diperkirakan terjadi tahun 2015 ini, karena sebuah tren (kondisi ekonomi) yang bisa dipercepat oleh sanksi,” katanya. ”Selain itu, harga minyak yang anjlok ikut mempengaruhi,” lanjut dia seperti dilansir Russia Today.

Teknologi Telekomunikasi Indonesia Rentan Disadap

ilustrasi (ist)
Kasus penyadapan kembali memanas setelah mantan pegawai badan intelijen Amerika Serikat, Edward Snowden membeberkan rencana Australian dan Selandia Baru menyadap jaringan telekomunikasi Telkomsel.
Kasus ini bukanlah pertama kali dialami oleh Indonesia terlebih operator. Lantas, apakah yang membuat hal ini sering terjadi? Okezone menghubungi Pratama Persadha, Ketua Lembaga Riset CISSReC yang merupakan Pakar Keamanan Cyber dan Komunikasi, Selasa (10/3/2015) untuk mendapatkan informasi.
Q: Apa penyebab Telkomsel disadap?
A: Ini bukan dibobol ya, mungkin Telkomselnya sendiri gak sadar kalau dia sudah disadap. Masalahnya teknologi-teknologi ini merupakan teknologi tingkat tinggi. Jika transfer knowladge orang Telkomsel masih menggunakan orang luar, ya bisa saja disusupi.
Q: Berbicara masalah teknologi, teknologi seperti apa yang menjadi masalah?
A: Masalahnya bukan teknologinya, tapi teknologi GSM-nya. Teknologi GSM itu menggunakan algoritma pengamanan A51 itu teknologi 3G atau A52 untuk 2G (teknologi standar). Nah, negara di seluruh dunia menggunakan teknologi yang sama, jadi bukan karena providernya tapi teknologi itu punya kelemahan. Kelemahannya ialah dapat dilakukan interset atau disadap dengan peralatan GSM Interset atau GSM Monitoring, sehingga dapat disadap dari udara. Karena ini bisa disadap, jadi harus diamankan.
Q: Jika menyadap dapat dilakukan secara udara, kemudian kenapa harus lewat operator?
A: Iya, kalau kita punya teknologi tidak perlu langsung ke operator, gak perlu kerena risikonya dapat ketahuan dan meninggalkan jejak. Tapi memang paling gampang melakukan penyadapan nyolok ke sistem operator, sehingga dapat menentukan target dan di monitor jaringan komunikasi yang dilakukan oleh target, seperti telefon, pesan singkat, dan email sudah langsung terdeteksi. (Okezone)

Kendaraan Penyerbu Ringan Buatan Indonesia

 
ILSV, Kendaraan Penyerbu Ringan Buatan Indonesia
ILSV, Kendaraan Penyerbu Ringan Buatan Indonesia
Jakarta - Dua perusahaan lokal, PT Jala Berikat Nusantara Perkasa (PT Jala) dan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) meyakini, kendaraan penyerbu ringan Indonesia (Indonesian Light Strike Vehicle/ILSV) yang mereka produksi mampu memperkuat armada militer nasional, sehingga menambah keunggulan pertahanan negara.
“Ada empat parameter jika suatu negara ingin menjadi negara yang kuat, diantaranya adalah memiliki pertahanan yang unggul. Salah satu syarat pertahanan suatu negara dikatakan unggul antara lain harus memiliki SDM profesional, fasilitas produksi, peralatan mutakhir, sistem dan metode yang mengikuti perkembangan tekhnologi serta dapat mengayomi keutuhan wilayah, keselamatan bangsa dan kedaulatan negara,” ujar Direktur Utama PT Jala Berikat Nusantara Perkasa Johny Tanoto dalam diskusi “Membangkitkan Produk Pertahanan Dalam Negeri” di Jakarta, Senin (2/3). Hadir pada kesempatan itu, tim pelaksana Teknik Manufaktur PT DI Udjang Hasan Subekti.
Johny menjelaskan, memiliki peralatan mutakhir turut ditentukan oleh kemampuan industri pertahanan dalam memenuhi kebutuhan pengadaan dan pemeliharaan alat utama sistem senjata (alutsista) secara mandiri. Salah satunya, memiliki kendaraan taktis yang unggul di segala medan buatan dalam negeri.
Hal itulah yang memacu PT Jala dan PT DI bekerja sama dalam menciptakan kendaraan multifungsi, ILSV. Johny Tanoto memang dikenal sebagai pengusaha yang lama bergelut dalam dunia industri pertahanan. Perusahaannya memproduksi berbagai produk peralatan militer seperti helm tempur dan rompi anti peluru. Kini, PT Jala merambah pada kendaraan militer.
image
“ILSV merupakan sebuah kendaraan multiguna jenis Jeep yang bisa digunakan sebagai kendaraan taktis serta kendaraan khusus,” kata dia.
Selain itu, tambah Johny, ILSV bisa dilengkapi sistem persenjataan roket dari darat ke udara, darat ke darat, dan jenis senjata lainnya.
Kendaraan itu juga sempat dipamerkan PT Jala di Indo Defence 2014 lalu. Ketika itu, ruang pamer mereka menjadi ruang pamer terbaik selama pameran. Sebab, mendapat perhatian tinggi dari masyarakat.
Johny berharap di hari-hari besar TNI, Indonesia sudah bisa mempersembahkan parade alutsista buatan dalam negeri. “Pintar tidak menggurui, cepat tidak mendahului. Kehadiran kita untuk saling melengkapi, jayalah Indonesia,” ujar dia. (beritasatu.com).

K9 Thunder: Kandidat Self Tracked Propelled Howitzer 155mm Untuk Armed TNI AD

Korean-K9-Thunder
Dari beragam varian senjata di lini artileri medan, keberadaan self propelled (swa gerak) howitzer tidak dapat dipandang sebelah mata, bersamaan dengan towed (tarik) howitzer, self propelled howitzer punya andil yang cukup strategis dalam jalannya pertempuran, terlebih pada penekanan keunggulan daya gerak dan proteksi bagi awak. TNI AD pun termasuk senior dalam mengoperasikan self propelled howitzer.
Lewat AMX MK61, untuk pertama kalinya Indonesia mengenal self propelled howitzer, alutsista ini mulai memperkuat Armed TNI AD pada pertengahan tahun 70-an hingga 1982. Dan, lewat pengabdian yang sangat panjang, AMX MK61 hingga kini belum tergantikan di lingkup TNI AD. Upaya pembaharuan self propelled howitzer sudah ada, tapi belum menyentuh ke self tracked propelled howitzer yang mengandalan roda rantai, maklum self tracked propelled howitzer memang mengadaptasi basis tank, seperti halnya AMX MK61 yang mencomot sasis tank ringan AMX-13.
Meski bergerak lambat, TNI AD sudah melakukan upgrade self propelled howitzer, wujudnya seperti hibah FH-2000 dari Singapura dan yang paling baru TRF-1 CAESAR yang dibeli dari Perancis, keduanya mengusung kaliber 155 mm. Namun, celah kebutuhan untuk self tracked propelled howitzer belum terjawab. Dan, setelah lama menanti, akhirnya ada titik terang pengganti AMX MK61. Yang dimaksud adalah K9 Thunder buatan Samsung Techwin, Korea Selatan.
Kabarnya, Armed TNI AD akan mengakuisisi dua batalyon self propelled howitzer roda rantai, yang tiap batalyon dibekali 18 pucuk senjata. Kandidat terkuat mengarah ke K9 Thunder, lantaran ada sejarah mesra antara Armed TNI AD dan Korea Selatan, dimana sebagian besar howitzer TNI AD dibeli dari Korsel. Dua tipe howitzer yang di datangkan dari Korsel adalah KH-178 105 mm dan KH-179 155 mm. Ditambah pihak Korsel tidak pelit untuk urusan alih teknologi, maka pengadaan K9 Thunder tentu tak begitu sulit. Menurut situs Wikipedia.com, harga per unit K9 Thunder mencapai US$3,1 juta.
korea_wojsko_ap_600
K9 Thunder menawarkan sistem self propelled howitzer terbaru dengan kaganasan meriam kaliber 155 mm dalam sasis yang sepenuhnya dibuat oleh Samsung Techwin. Dirunut dari sejarah pengembangannya, K9 mengambil rancangan M109 Paladin, self tracked propelled howitzer buatan AS. Sebagai sekutu AS, sejak lama sudah menjadi pengguna setia M109 Paladin. Namanya juga Korsel, ia tidak mau membeli mentah-mentah, melainkan juga meminta skema ToT (transfer of technology), yang waktu diwjudkan dengan melisensi M109A2 sebagai K55 dan K55A1. Namun, semakin berkembangnya teknologi, mengharuskan Korsel untuk move on, pasalnya rivalnya Korea Utara (Korut) sudah memiliki self propelled howitzer berbasis tank Type-59 berkode M-1978 Koksan dengan meriam kaliber 170 mm.
Untuk memperempit selisih, Korsel lantas menugaskan Samsung Techwin (d/h Samsung Defense Aerospace) untuk mengembangkan sistem self propelled artileri sebagai komplemen. Prototipe pertama K9 Thunder tampil pada 1989, dan dilanjutkan dengan serangkaian uji coba, hingga akhirnya resmi digunakan AD Korsel pada 1998. Unit perdananya sendiri masuk kedinasan pada tahun 2000.
K9_Thunder_self-propelled_howitzer_155_MM_South_Korea_South_Korean_Army_line_drawing_blueprint_001p1p2
Dengan body yang bongsor (berat 47 ton), K9 diawaki oleh lima kru, yakni komandan, pengemudi, penembak, dan dua awak pengisi amunisi. Tugas awak pengisi dimudahkan dengan keberadaan sistem pengisi otomatis (autoreloader) yang cukup kompleks. Di luar, pengemudi memiliki palka tersendiri, sementara keempat kru lainnya dapat keluar dari palka di atas kubah. Masih ada lagi pintu (ramp) di bagian belakang, yang dapat dibuka kea rah kanan dengan engsel.
Dari segi daya muat, K9 dirancang dapat membawa 48 butir peluru howitzer 155 mm dan propelannya. Apabila kendaraan kehabisan peluru, sudah ada wahana K10 ARV untuk mengisi amunisi. K10 tidak dilengkapi meriam, sebagai gantinya ada bekal ‘belalai’ yang bertugas mengantarkan peluru yang akan diisi ke K9. Untuk self defence, komandan K9 dilengkapi dengan SMB (senapan mesin berat) M2HB 12,7 mm di atas kubah.
K10_ARV
K10_ARV
M2HB 12,7 mm untuk self defence.
M2HB 12,7 mm untuk self defence.

Posisi mesin pada K9 disematkan pada kanan depan. Dapur pacu K9 disokong mesin MTU 881 buatan Jerman, yang dipadukan dengan sistem transmisi otomatis Allison ATDX 1100-5A3 dengan empat gigi maju dan dua gigi mundur. Paduan mesin dan transmisi mampu menyemburkan daya 1.000 hp, sementara kecepatan maksimum di jalan raya dapat digeber hingga 67 km per jam. Dengan kapasitas bahan bakar penuh, K9 Thunder dapat melaju hingga 480 km.
Seperti halnya AMX-13 MK61, howitzer 155 mm pada K9 Thunder ditempatkan pada struktur kubah tertutup, yang tentu saja merupakan suatu keunggulan dalam pertempuran yang dinamis, dimana awak lebih terlindung dengan kubah baja dari imbas pecahan artileri lawan dan hantaman proyektil 12,7 mm. Sebagai perbandingan self propelled howitzer CAESAR 155 mm yang juga dimiliki TNI AD, punya sisi kelemahan pada elemen perlidungan awak.
m020100109000161290699069_4369554_14298727054661-aussie-thunder
Laras meriam dapat diarahkan secara vertikal hingga 70 derajat dan diturunkan sampai -2,5 derajat. Laras dapat diputar 360 derajat bersama kubahnya. Beda dengan kubah AMX-13 MK61 yang sudah dipantek, alias tidak bisa diputar. Untuk kemampuan tembakan, dengan munisi HE (high explosive) dapat dilontarkan proyektil hingga 30 km. Sementara dengan P-ICM base bleed, jangkauan tembak mencapai 38 km. Bahkan dengan munisi BB+RAP extended range, jarak lintasan bisa mencapai jarak 56 km. Melihat kondisi yang berkonfrontasi dengan Korut, mengharuskan K9 untuk mempunyai daya jangkauan tembak yang maksimal.
Meski usianya masih muda, K9 Thunder masuk kelas battle proven. Dalam peristiwa bombardir artileri di Yeonpyeong (23 November 2010) antara Korsel dan korut. Enam unitt K9 dapa bereaksi maksimal atas tembakan artileri Korut, total 80 tembakan telah dimuntahkan K9 ke arah posisi pasukan Korut.
Bila Indonesia baru berniat mengakuisisi, maka Australia, Polandia, dan Turki sudah resmi mengoperasikan K9. Bahkan, Turki membeli lisensi K9, hingga akhirnya di produksi dengan label T-155 Fırtına. (Gilang Perdana)

Spesifikasi K9 Thunder
  • Weight : 47 tonnes
  • Length : 12 m
  • Width : 3,4 m
  • Height : 2,73 m
  • Crew : 5 (Commander, Driver, Gunner, 2 Loaders)
  • Main armament : 52 cal (155mm howitzer)
  • Secondary armament : 12,7 mm
  • Engine : MTU MT 881 Ka-500 8-cylinder water-cooled diesel
  • Power/weight : 21 hp/ton
  • Transmission : S&T Dynamics X1100-5A3
  • Suspension : hydropneumatic
  • Operational range : 480 km
Indomil.
  • Speed : 67 km/h

SAAB Swedia akan tawarkan Erieye AEW&C kepada Indonesia

Click here to see a large version

SAAB AB, perusahaan industri sistem pertahanan dan keamanan Swedia, telah memulai serangkaian pembicaraan tentang penawaran sistem pengamatan udara Erieye AEW&C kepada pemerintah Indonesia untuk mengawal wilayah udara, darat, dan maritim Tanah Air.

"Kami akan senang jika sistem kami itu bisa diterima Indonesia dan kami telah melakukan pembicaraan soal ini dengan pemerintah Indonesia,” kata Wakil Presiden dan Kepala Sistem Pengamatan Udara dan Bisnis Sistem Pertahanan Elektronika SAAB AB Lars Tossman di Gotheborg, Swedia, Senin waktu setempat.

Penawarannya itu, kata Tossman, terkait juga dengan penawaran sistem pesawat tempur JAS-39 Gripen yang turut dalam proyeksi pengganti pesawat tempur F-5E/F Tiger II pada Skuadron Udara 14 TNI AU.

Menurut dia, sistem yang dikembangkan SAAB AB pada piranti Erieye AEW&C sangat pas dengan keperluan Indonesia yang memiliki wilayah udara sangat luas.

Dari ketinggian operasionalnya, sistem pengamatan dan intelijen Erieye AEW&C ini bisa menjangkau wilayah pada radius lebih dari 900 kilometer yang berarti sudah di balik kelengkungan Bumi, setara dengan “volume” ruang diawasi 500.000 kilometer persegi horisontal dan 20 kilometer vertikal.

Berbasis sistem Active Electronically Sensor Array, sistem ini bekerja pada frekuensi S-band, dengan sensitivitas ultratinggi, dan pencitraan objek diamati secara seketika. Data-link yang diterapkan berbasis NATO data-link L16 dan L11.

Jika ditempatkan di wilayah udara Indonesia, maka cuma diperlukan dua Erieye AEW&C di udara Jakarta dan Makassar agar bisa melingkupi 80 persen wilayah udara Tanah Air.

Secara teknis, jika ada pesawat terbang penyusup berkecepatan suara (sekitar 900 kilometer perjam), sistem ini bisa segera mengetahui kehadirannya sehingga pesawat tempur Indonesia memiliki cukup waktu untuk menangkalnya.

Sejauh ini, TNI AU hanya memiliki satu skuadron udara pengamatan (surveillance) itu, yaitu Skuadron Udara 5 yang terdiri dari tiga pesawat Boeing 737-200 Maritime Patrol. Pesawat ini dilengkapi sensor SLAMMR ( Side Looking Airborne Modular Multimission Radar), peralatan navigasi INS (Inertial Navigational System) dan Omega Navigation System. Semuanya berbasis teknologi dasawarsa 1980-an.

Lossman menyatakan, sistem Erieye AEW&C memiliki beberapa keunggulan, antara lain bisa disesuaikan dengan keperluan domestik pemakainya. "Bahkan, pijakan alias platform pesawat terbang pembawanya bisa disesuaikan. Yang sudah disertifikasi sejauh ini adalah SAAB 2000 dan Embraer 145," kata dia.

Tipe pesawat terbang "penggendong" yang pertama, SAAB 2000 adalah turboprop.

"Kami sangat memperhatikan aspek operasionalisasi dan biaya ikutannya. Itu sebabnya, pengoperasian pesawat terbang turboprop bisa menekan biaya operasional tanpa mengenyampingkan fungsi dan efektivitasnya," kata dia.

Direktur Pemasaran Sistem Udara SAAB AB Magnus Hagman menyatakan, dari Asia Tenggara, baru Thailand yang menandatangani pemesanan jadi Erieye AEW&C. Angkatan Udara Kerajaan Thailand juga menjadi operator perdana JAS-39 Gripen di ASEAN.

Pensiunan instruktur penerbang tempur pada Angkatan Udara Kerajaan Swedia itu juga berkata, "Salah satu prinsip penting dalam operasi udara militer tempur adalah menempatkan ataus menerbangkan pesawat tempur pada tempat dan waktu yang tepat. Antara sistem Gripen dan Erieye AEW&C saling melengkapi."