Rabu, 01 Oktober 2014

Frigate Indonesia di Laut Karimunjawa

 Sejumlah kapal Republik Indonesia (KRI) kelas Van Speijk dan Multi Role Light Fregate (MRLF) melakukan manuvera taktis di perairan Karimunjawa, Jawa Tengah, Minggu (28/9). Latihan tersebut bagian dari penyambutan KRI John Lie (JOL)-358 dan KRI Usman Harun (USH)-359 buatan BAE System Maritime Naval Ship Inggris yang selanjutnya akan bergabung dengan KRI Bung Tomo (TOM)-357 di jajaran Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Komando Armada RI wilayah Timur (Koarmatim) TNI AL. [Antara/M Risyal Hidayat] -
KRI Van Speijk class menyambut KRI John Lie (JOL)-358 dan KRI Usman Harun (USH)-359 di perairan Karimunjawa, Jawa Tengah, Minggu (28/9). [Antara/M Risyal Hidayat] -
Kapal Republik Indonesia (KRI) kelas Multi Role Light Fregate (MRLF) KRI Usman Harun (USH)-359 melintas diperairan Karimunjawa, Jawa Tengah, Minggu (28/9). [Antara/M Risyal Hidayat] -
Kapal Republik Indonesia (KRI) kelas Multi Role Light Fregate (MRLF) KRI Usman Harun (USH)-359 melintas diperairan Karimunjawa, Jawa Tengah, Minggu (28/9). [Antara/M Risyal Hidayat] -
Sejumlah kapal Republik Indonesia (KRI) kelas Van Speijk dan Multi Role Light Fregate (MRLF) melakukan manuvera taktis di perairan Karimunjawa, Jawa Tengah, Minggu (28/9). [Antara/Suryanto] -
Sejumlah kapal Republik Indonesia (KRI) kelas Van Speijk dan Multi Role Light Fregate (MRLF) melakukan manuvera taktis di perairan Karimunjawa, Jawa Tengah, Minggu (28/9). [Antara/Suryanto] -
KRI John Lie (JOL-358) dan KRI Usman Harun (USH-359) yang baru tiba melaksanakan latihan formasi di Perairan Karimunjawa, Jateng, Minggu (28/9). [Antara/Joko Sulistyo] -
KRI John Lie (JOL-358) dan KRI Usman Harun (USH-359) yang baru tiba melaksanakan latihan formasi di Perairan Karimunjawa, Jateng, Minggu (28/9). [Antara/Joko Sulistyo] -
 Kapal Republik Indonesia (KRI) kelas Multi Role Light Fregate (MRLF) KRI Usman Harun (USH)-359 melintas diperairan Karimunjawa, Jawa Tengah, Minggu (28/9). [Antara/M Risyal Hidayat] -

Kapal Republik Indonesia (KRI) kelas Multi Role Light Fregate (MRLF) KRI Usman Harun (USH)-359 melintas diperairan Karimunjawa, Jawa Tengah, Minggu (28/9). [Antara/M Risyal Hidayat] -
Sejumlah kapal perang frigate Van Speijk class dan Multi Role Light Frigate (MRLF) melakukan manuver taktis di perairan Karimunjawa, Jawa Tengah, Minggu (28/9). Latihan ini bagian dari penyambutan KRI John Lie (JOL)-358 dan KRI Usman Harun (USH)-359 buatan BAE System Maritime Naval Ship Inggris yang selanjutnya akan bergabung dengan KRI Bung Tomo (TOM)-357 di jajaran Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Komando Armada RI wilayah Timur (Koarmatim) TNI AL. (Suara.com/ Antara/M Risyal Hidayat).
 

Pranoto Reksosamodra, nasib tragis jenderal pilihan Soekarno


Pranoto Reksosamodra, nasib tragis jenderal pilihan Soekarno


jenderal pranoto reksosamodra. ©dok keluarga/buku jenderal pranoto reksosamodra

1 Oktober 1965, seluruh Jakarta dilanda kebingungan. Menteri/Panglima Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani dan sejumlah jenderal diculik dari rumah mereka.

Di saat genting itu, Presiden Soekarno menunjuk Mayor Jenderal Pranoto Reksosamodra sebagai pelaksana harian Angkatan Darat, pengganti sementara jenderal Yani.

Soekarno menolak usulan tiga jenderal lain. Mayjen Soeharto dianggap keras kepala. Mayjen Moersjid suka berkelahi dan main gebuk. Sementara Mayjen Basuki Rachmat tidak begitu sehat.


Pranoto yang saat itu menjabat Asisten III Men/Pangad bidang personalia dianggap bisa diterima kalangan yang bertikai. Dia jenderal tanpa ambisi dan tak memiliki lawan. Pranoto juga mantan Panglima Divisi Diponegoro Jawa Tengah yang diharapkan dapat mengendalikan anggota divisi yang terlibat G30S.

Soekarno memerintahkan Pranoto menghadap ke Halim hari itu untuk menemui dirinya. Namun Pranoto tak datang. Dia mematuhi perintah Soeharto yang melarangnya pergi ke Halim.

Saat itu para perwira Angkatan Darat tanpa sepengetahuan Soekarno telah menunjuk Soeharto sebagai pengganti sementara Men/Pangad. Pranoto yang saat itu berada di Mabesad pun menyatakan dukungannya pada Soeharto. Dia merasa Soeharto lebih layak memimpin. Dia manut dilarang Soeharto ke Halim.

"Seandainya saat itu Pranoto bersedia datang ke Halim Perdanakusuma tanggal 1 Oktober 1965, mungkin Soeharto akan dipangkas wewenangnya dan kehilangan kesempatan untuk berkuasa. Tetapi faktanya, sejarah tidak mementingkan kata 'seandainya'," tulis sejarawan Asvi Warman Adam dalam pengantar Buku Catatan Jenderal Pranoto dari RTM Boedi Oetomo sampai Nirbaya yang diterbitkan Kompas tahun 2014. 
Kenapa Soekarno menunjuk Pranoto? Mungkin karena keduanya cukup dekat. Setelah perang kemerdekaan, Soekarno pernah meminta Pranoto menjadi ajudan presiden. Saat itu Pranoto menolak dengan halus permintaan Soekarno. Alasannya dia ingin berkarir sebagai komandan lapangan lebih dulu.

Secara khusus Soekarno pernah menuliskan memo khusus untuk Pranoto tahun 1961. "Kolonel Pranoto, kerjalah baik-baik untuk negara. Bapak percaya penuh kepadamu."

Soekarno pun pernah mengagumi bagaimana Pranoto menjunjung tinggi falsafah Jawa. Dalam sebuah kesempatan, Soekarno memuji kemampuan Pranoto mendalang.

Sementara Soekarno dan Soeharto tak terlalu cocok. Soekarno menjuluki Soeharto opsir koppig atau perwira keras kepala karena pernah menolak perintahnya.  

1 Oktober 1965, sejarah dua manusia sudah diputuskan. Posisi Soeharto makin kuat memimpin Angkatan Darat sementara Pranoto tersingkirkan.

"Pak Pran itu jenderal santun. Dia tidak mau ribut-ribut karena itu dia mematuhi perintah Soeharto dan mendukungnya," kata Imelda Bachtiar, penyunting buku tersebut.

Tanggal 14 Oktober 1965, Soeharto diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Pranoto kehilangan jabatannya dan menjadi perwira tinggi non job.
Tanggal 16 Februari 1966, Soeharto memberikan perintah penangkapan untuk Pranoto. Soeharto menuding Pranoto terlibat G30S. Bahkan Pranoto masuk salah satu gembong gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pranoto mencoba menyanggah tudingan yang dialamatkan padanya. Namun percuma, tak ada keadilan atau pengadilan bagi tahanan politik yang sudah dicap PKI.

15 Tahun Pranoto ditahan tanpa diadili. Hak-haknya sebagai perwira tinggi dicabut sejak di tahanan. Tahun 1975, Pranoto tak lagi menerima sepeser pun dari pemerintah.  

Tanggal 16 Februari 1981, Pranoto dibebaskan dari tahanan. Dia berjalan kaki ke rumah anak-anaknya di Kramatjati, Jakarta Timur.

Jenderal pilihan Soekarno ini meninggal 9 Juni 1992. Cap tahanan politik belum lepas bahkan saat kematiannya. Nasib Pranoto sama buruknya dengan Soekarno yang meninggal dengan status tahanan rumah. 


Kisah Jenderal Pranoto, ditahan Soeharto 15 tahun tanpa diadili


 Dua pasukan tentara itu saling menodongkan senjata di muka sebuah rumah di Jl Taman Kimia nomor 3 Jakarta Pusat. Peleton Corps Polisi Militer (CPM) di sisi luar dan regu pengawal di dalam halaman rumah. Keduanya sudah dalam posisi siap tembak.

Mayor Jenderal Pranoto Reksosamodra keluar dari rumah. Dia melerai dua pasukan yang nyaris saling tembak di muka rumahnya.

Pranoto meminta komandan regu pengawalnya mundur. "Jangan ada sebutir peluru pun meletus!" teriaknya.

Pranoto lalu memanggil komandan peleton polisi militer. Dia marah. Merasa tersinggung dijemput seperti penjahat seperti itu. Pranoto tahu mereka diperintahkan Menteri/Panglima Angkatan Darat Mayjen Soeharto untuk menangkapnya setelah geger 30 September 1965.

"Aku bukan babi hutan atau harimau liar yang masuk kota. Bubarkan peletonmu itu dan aku akan berangkat tepat di tempat mana dan di saat kapan sesuai surat perintah Men/Pangad ini, dengan tanpa kalian kawal, barang seorang pun," tegas Pranoto.

Komandan polisi militer menurut. Dia dan pasukannya meninggalkan rumah Pranoto dengan bus militer.

16 Februari 1966, itulah episode awal penahanan Jenderal Pranoto. Perwira tinggi asal Bagelen, Purworejo ini kemudian menepati janjinya untuk datang sendiri ke tahanan polisi militer di komplek CPM Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Pranoto mengingat di tahanan itu ada seorang perwira tinggi Angkatan Udara Sri Mulyono Herlambang. Ada juga Bung Tomo, tokoh 10 November 1945.
Dalam interograsi awal oleh CPM, Pranoto tak terbukti terlibat G30S. Dia kemudian dipulangkan tanggal 7 Maret 1966 dan statusnya diubah menjadi tahanan rumah.

Dua tahun Pranoto menjadi tahanan rumah, dia merasa masalah ini sudah beres. Tiba-tiba 4 Maret 1969 Pranoto kembali ditahan di Inrehab Nirbaya. Pemeriksaan yang dilakukan hanya sebatas tanya jawab soal peristiwa G30S. Tak sekalipun dia dibuatkan berita acara pemeriksaan (BAP), apalagi dibawa ke pengadilan.  

 Tahun 1970 hingga 1975, Pranoto masih menerima gaji skorsing. Nilainya tak lebih dari Rp 7.500. Setelah tahun 1975, tak ada lagi uang seperser pun untuk jenderal bintang dua ini.

Pranoto menolak dituding terlibat G30S. Dia membeberkan bukti-bukti kepada tim pemeriksa pusat tak terlibat gerakan penculikan para jenderal tersebut. Dia berharap bisa menjelaskan secara utuh dan dibawa ke pengadilan untuk menepis tudingan tersebut.

Tapi Pranoto tak pernah diberi kesempatan membela diri. Dia menjalani penahanan di Inrehab Nirbaya dan Rumah Tahanan Militer Boedi Utomo. Pranoto baru bebas tahun 1981, tepat setelah 15 tahun ditahan tanpa proses pengadilan. Pranoto merintis karir dari PETA, kemudian komandan Batalyon TNI, komandan resimen, hingga akhirnya menjabat asisten personalia Menteri Panglima Angkatan Darat. Dia tak pernah absen dalam perang mempertahankan kemerdekaan dan menumpas berbagai pemberontakan.
Saat Ahmad Yani diculik gerombolan Untung, Pranotolah yang ditunjuk Soekarno untuk menjadi pelaksana harian Angkatan Darat. Bukan Soeharto.

Kisah Pranoto menjadi menarik karena Soeharto rupanya menyimpan dendam pada mantan koleganya ini. Pranoto pernah membantu Tim AD membongkar kasus korupsi saat Soeharto menjadi panglima di Jawa Tengah.

Pranoto tak pernah dibawa ke persidangan. Dia mencatat seluruh pengalamannya selama ditahan dalam buku harian. Setelah puluhan tahun disimpan rapat keluarga, kini catatan itu disunting Imelda Bachtiar dan diterbitkan Kompas tahun 2014 dengan judul Catatan Jenderal Pranoto dari RTM Boedi Oetomo sampai Nirbaya.
Sebelumnya sebenarnya catatan Pranoto sudah diterbitkan secara terbatas tahun 2002.

"Saat pertama kali membacanya, tulisan Pak Pran jauh dari kesan amarah atau dendam. Catatan pribadinya banyak menggunakan falsafah Jawa. Banyak sisi hidup Pak Pran yang menarik," kata Imelda Bachtiar saat berbincang dengan merdeka.com pekan lalu.
Kisah Pranoto ini melengkapi teka-teki potongan misteri G30S yang tak pernah terungkap sempurna.

"Tulisanku ini bukanlah bermaksud menggugat suatu balas budi dari pihak yang berwenang atas sumbangsihku dalam pengabdian pada nusa dan bangsaku. Namun, kesemuanya ini merupakan goresan tuntutan bela diri. Aku menuntut rasa keadilan atas asas-asas Pancasila sebagai falsafah kehidupan bangsa dan negara kita, Indonesia tercinta ini."

Pranoto mungkin bukan putih tanpa cela. Tapi dia juga tak sehitam apa yang dituduhkan Soeharto.

Sejarawan Asvi Warman Adam menilai Pranoto terlempar dari puncak karirnya sebagai jenderal bintang dua dan kemudian menjadi pesakitan politik yang tidak jelas kesalahannya.

"Nama baik Pranoto perlu dipulihkan," tulis Asvi. 

Soeharto dendam Pranoto bongkar kasus korupsinya di Jawa Tengah


 Pranoto Reksosamodra sejatinya teman karib Soeharto. Saat Jepang membuka pendidikan Pembela Tanah Air (PETA), kedua pemuda tersebut terpanggil untuk mendaftar.

Pranoto dan Soeharto sama-sama lulus dengan hasil memuaskan sebagai kompandan peleton. Sebentar bertugas, keduanya dipanggil mengikuti pendidikan lanjutan sebagai komandan kompi di Bogor.

Karir Pranoto dan Soeharto juga maju beriringan. Tahun 1948, Letkol Pranoto diangkat menjadi Komandan Brigade IX/Divisi III/Diponegoro di Muntilan, sementara Letkol Soeharto menjadi Komandan Brigade X di Yogyakarta.

Saat Soeharto sebagai komandan serangan Umum 1 Maret, Pranoto dan pasukannya kebagian tugas menyerang Yogyakarta dari Utara lewat Kali Code.

Kolonel Pranoto juga yang menggantikan Kolonel Soeharto menjadi Panglima Tentara & Teritorium IV/Diponegoro. Pada saat itu Panglima menjabat penguasa perang daerah (Paperda).

Di sinilah hubungan kedua perwira Angkatan Darat ini memburuk. Penyebabnya saat tim pemberantasan korupsi Angkatan Darat turun ke daerah-daerah menyelidiki dugaan korupsi para panglima. Tim ini diketuai oleh Brigjen Soengkono.
Kolonel Pranoto menuliskan peristiwa ini dalam catatan pribadinya. Buku catatan ini kemudian disunting Imelda Bachtiar dan diterbitkan Kompas tahun 2014 dengan judul Catatan Jenderal Pranoto dari RTM Boedi Oetomo sampai Nirbaya.

Pranoto mengaku memberikan fasilitas dan keleluasaan untuk tim audit tersebut selama bergerak di wilayah militernya.
Tim ini menemukan sejumlah pelanggaran yang dilakukan Kolonel Soeharto saat menjabat Panglima di Jawa Tengah. Antara lain barter liar, monopoli cengkeh dari asosiasi gabungan pabrik rokok kretek Jawa Tengah. Ada juga penjualan besi tua yang disponsori sejumlah pengusaha Tionghoa seperti Lim Sioe Liong.

Brigjen Soengkono melaporkan hal ini pada Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Nasution yang. Soeharto sempat malu dan berniat mengundurkan diri karena kasus ini. Namun Nasution menolaknya.

Nasution pula yang kemudian menyelesaikan kasus ini. Soeharto akan diberi sanksi administrasi sedangkan Pranoto diperintahkan menertibkan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di Jawa Tengah.

Masalah rupanya belum selesai. Soeharto sudah menaruh dendam pada Pranoto. Dia termakan kasak kusuk yang menyebut Pranotolah yang meminta tim Angkatan Darat menyelidiki masalah ini.
Wakil Kasad Letjen Gatot Soebroto memanggil kedua anak buahnya ini. Dia meminta keduanya berbaikan. Namun Soeharto sempat menolak.

"Bagaimanapun aku merasa dipermalukan dan dicoreng-moreng oleh sebab perbuatannya," kata Soeharto.
Pranoto membela diri. "Demi Allah, laporan-laporan itu bukanlah aku yang melakukan dan aku pun tak perlu menuduh dari mana ataupun dari siapa laporan itu dibuat. Hal itu tidak benar dan kalau perlu kolonel dapat menuntutnya."

Letjen Gatot Subroto menyela perdebatan itu dengan gayanya yang kebapakan. Dia meminta Pranoto dan Soeharto berdamai.

"Kalian seperti anak kecil. Di hadapanku jangan pada bertengkar. Sudah bubar. Ayo pada salaman," kata Gatot.

"Kami terpaksa bersalaman. Betapapun di hati masing-masing terasa hambar," kenang Pranoto melukiskan peristiwa tahun 1960 itu.

Persahabatan dua perwira TNI ini pun berakhir. 
Kelak setelah G30S meletus, Mayor Jenderal Soeharto menahan Mayjen Pranoto dengan tuduhan terlibat aksi militer G30S yang didalangi PKI. Tanpa pengadilan, Pranoto menjalani penahanan selama 15 tahun.

Sejumlah pihak menyangka dendam Soeharto yang melatarbelakangi penangkapan tersebut. Namun rupanya Pranoto tak mau berburuk sangka.

"Dari catatan Pak Pran, beliau juga tidak tahu apakah karena masalah itu atau yang lain. Karena itu Pak Pran selalu berharap ada pengadilan sehingga bisa menjawab semua tuduhan. Tapi pengadilan tersebut tak pernah ada," kata Imelda Bachtiar saat berbincang dengan merdeka.com.  
Sejarawan Asvi Warman Adam menilai cara-cara Soeharto menggandeng konglomerat dan mendirikan aneka yayasan terus dipertahankan saat dia menjadi presiden RI. Sama dengan di Jawa Tengah dulu, yayasan yang didirikan Soeharto selalu diklaim untuk mensejahterakan anggota TNI atau masyarakat. Namun tentunya Soeharto dan koleganya pun dapat keuntungan.

"Menarik apa yang disampaikan dalam biografi Liem Sioe Liong. Apa yang dia peroleh dari monopoli. Di sisi lain jika Soeharto butuh, dia tinggal minta dana ke Liem. Ini mutualisme," kata Asvi.

Selasa, 30 September 2014

TNI akan unjuk kekuatan alutsista di Surabaya

TNI akan unjuk kekuatan alutsista di Surabaya
Panglima TNI, Jenderal TNI Moeldoko (ANTARA FOTO/Maulana Surya)
 
Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan unjuk kekuatan alat utama sistem senjata dalam perayaan HUT TNI ke-69 di Dermaga Ujung Armatim, Surabaya, Jawa Timur pada 6-7 Oktober 2014.

"Kita akan show of force pada HUT TNI nanti. Ini Sebagai wujud pertanggungjawaban pemerintah kepada masyarakat," kata Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko setelah membuka kejuaraan lomba unjuk gelar dan konser harmoni piala Panglima TNI 2014 di GOR Ahmad Yani Mabes TNI, Selasa.

Moeldoko mengatakan, unjuk kekuatan alutsista pada saat HUT TNI untuk menunjukkan kepada dunia internasional kekuatan pertahanan yang dimiliki Indonesia.

"Kepada semuanya baik di kawasan, internasional maupun dunia. Bahwa TNI memiliki kekuatan yang cukup. Jadi jangan macam-macam dengan TNI," katanya.

Moeldoko mengatakan, dengan kemampuan alutsista yang sudah dimiliki dan digelar secara bersamaan, juga sekaligus membuktikan pertanggungjawaban kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Pertanggungjawaban selama kepemimpinan beliau (SBY) kepada masyarakat. Panglima TNI memamerkan sebagai wujud kekuatan biar prajurit bangga. Masyarakat bangga memiliki TNI dan memberikan pesan bahwa TNI memiliki tingkat kekuatan cukup baik," ucapnya.

Terkait perayaan HUT, TNI AL dipastikan akan memperlihatkan tiga kapal perang baru jenis frigate yang masing-masing diberi nama KRI Bung Tomo, KRI Usman Harun dan KRI John Lie.

Dua kapal terakhir yang disebutkan diketahui telah tiba di Surabaya, menyusul KRI Bung Tomo yang telah bersandar di lokasi lebih awal.

KRI Bung Tomo-357, KRI John Lie-358 dan KRI Usman Harun-359 merupakan Kapal Perang produksi BAE System Maritime Naval Ship Inggris yang dibeli oleh pemerintah Indonesia.

Ketiga kapal ini memiliki spesifikasi berat 1.940 ton dengan panjang keseluruhan 95 meter, lebar 12,8 meter menggunakan tenaga penggerak mesin 4 X Man B&W ruston diesel engine yang dapat memacu kecepatan mencapai 30 knot dengan daya jelajah 9.000 km.

Adapun persenjataan dimiliki ketiga kapal ini antara lain meriam Oto Melara 76 mm, dua meriam MSI Defence DS 30 B REMSIG 30 mm, peluncur triple BAE System kaliber 324 mm yang berfungsi untuk perang atas air, enam belas tabung peluncur peluru kendali permukaan ke udara VLS MBDA VLS Mica (BAE System), dua tabung peluru kendali MBDA (Aerospatiale) MM-40 Block II Exoxet.

Selain itu, dilengkapi pula perangkat "sensor elektro optic weapon director" bernama Radamec 2500 yang dapat memantau lima sasaran sekaligus dari jarak 18.000 meter.

Sementara itu, TNI Angkatan Udara memamerkan seluruh kekuatan udaranya yang terdiri dari pesawat helikopter, pesawat angkut, pesawat latih maupun pesawat tempur serta unsur Kohanudnas dan Paskhas.

Pesawat helikopter terdiri dari pesawat Bell G-47 Solloy, EC 120 Colibri, SA-330 Puma dan NAS-332 Super Puma. Pesawat angkut terdiri dari Cassa-212, CN-235, CN-235 Maritime Patrol, CN-295, C-130 Hercules, Boeing 737-200 Maritime Patrol, Boeing 737-200 VIP, dan Being 737-400 VIP.

Sedangkan pesawat latih terdiri dari C-34 Charly, Grob G-120 TP-A, dan KT-1B Wong Bee. Sedangkan unsur pesawat tempur terdiri dari EMB-314 Super Tucano, F-5 Tiger II, Hawk 109/209, F-16 A/B, F-16 C/D, T-50 Golden Eagle dan SU-27/30 Sukhoi.

Sementara Kohanudnas menampilkan Radar C-MOG, radar cuaca mobil, dan ATC mobil, serta Korpaskhas menampilkan Satuan antiteror Den Bravo90, Rudal Hunter, Rudal QW serta senjata teranyar Skyshield Misille Gun 35 mm MK-2.

Van Speijk Class: “Benteng Laut Nusantara” – Tiga Dasawarsa Flagship Armada Eskorta TNI AL

KRI Yos Sudarso 353
KRI Yos Sudarso 353

Meski saat ini terus berdatangan kapal perang Eskorta baru untuk TNI AL, seperti korvet SIGMA Class dan korvet Bung Tomo Class, tapi identitas kekuatan Satuan Kapal Eskorta (Satkor) TNI AL masih begitu lekat pada sosok frigat Van Speijk Class. Usia frigat ini memang tak muda lagi, karena diproduksi pada kurun waktu 1967 – 1968. Tapi untuk urusan penugasan dan operasional tempur, justru Van Speijk Class  dipercaya jadi maskot unjuk kekuatan TNI AL. Eksistensi Van Speijk Class saat operasi pembebasan MV Sinar Kudus dari tangan perompak Somalia pada Maret 2011, serta kemampuannya sebagai platform peluncuran rudal Yakhont, menjadikan nama Van Speijk masih amat diperhitungkan.
Bagi Gugus Tempur Laut TNI AL, keberadaan frigat Van Speijk sangat vital, pasalnya di lini frigat, inilah jenis frigat terbanyak yang dimiliki TNI AL, yakni ada enam unit. Lini frigat lainnya memang ada, yaitu Fatahillah Class, namun hanya tiga unit. Sebelumnya TNI AL punya frigat Tribal Class buatan Inggris, jumlahnya ada 3 unit. Selain itu, kini masih ada frigat latih KRI Ki Hajar Dewantara 364. Merujuk ke referensi internasional, kini frigat Van Speijk disebut sebagai Ahmad Yani Class (mengikuti penamaan kapal pertama di antara sejenis atau lead ship/KRI Ahmad Yani 351). Meski demikian, masih banyak pula yang menyebutnya dengan label asli, Van Speijk.
KRI Ahmad Yani 351
KRI Ahmad Yani 351
08022010818
KRI Yos Sudarso 353 melepaskan rudal Harpoon.

Merujuk ke sejarahnya, frigat Van Speijk merupakan varian dari frigat Leander Class (Type-21) buatan Inggris. Sebanyak 26 kapal dibangun untuk Royal Navy (AL Inggris). Belanda membuatnya sebanyak enam unit dengan melisensi dengan struktur maupun mekanikalnya. Perbedaan ada pada sistem manajemen tempur terutama radar yang dibuat Belanda sendiri.
Dalam hal lisensi Belanda tidak sendiri. Australia menempuh langkah serupa dengan membangun enam kapal berdesain serupa yang dinamai River class. Begitu pula India membuat sendiri (lisensi) sebanyak enam unit dan dinamai Nilgiri class. Sekadar catatan, INS Nilgri merupakan kapal perang kelas frigat pertama yang dibangun secara mandiri oleh India.
Leander class mulai operasional tahun 1965, disusul Van Speijk class yang berdinas 1965. Pembangunannya berangkat dari kebutuhan mendesak NATO akan sekelompok frigat yang mampu bergerak cepat, tidak terlalu berat namun cukup untuk melaksanakan pengawalan di wilayah Laut Utara. Persenjataannya pun dirancang cukup lengkap sehingga jika diperlukan mampu beroperasi secara mandiri tanpa harus mekakukan formasi.
KRI Oswald Siahaan 354.
KRI Oswald Siahaan 354.
KRI Slamet Riyadi 352.
KRI Slamet Riyadi 352.

Bila menilik tahun usianya, kapal perang buatan Belanda ini merupakan alutsista yang usianya sudah cukup tua. Meski demikian, letalitasnya tetap harus diperhitungkan siapa saja yang mencoba jadi lawannya, lantaran TNI AL secara berkala melakukan peningkatan kemampuan tempur pada kapal yang pernah jadi andalan armada Belanda di tahun 60-an ini.

Program Repowering
Secara teknis, usia kapal perang permukaan (surface warship) memang bisa sangat panjang. Namun sekali lagi hal itu sangat tergantung dari perawatan dan peningkatan sistem-sistem yang terkandung di dalamnya (propulsi, sensor, manajemen tempur, serta senjata). Mulai 1986, keenam Van Speijk Class mulai dipensiunkan secara bertahap oleh AL Belanda dan dijual ke Indonesia. Dari sisi tenaga, aslinya Van Speijk class dan Leander class ditenagai sepasang mesin turbin uap (steamed turbin) yang mampu menyemburkan daya sebesar 30.000 shp. Daya sebesar itu mampu menggeber kapal hingga 28 knots (52 km per jam). Tentu soal kecepatan menjadi poin penting, mengingat salah satu tugas kapal ini sebagai pemburu kapal selam Uni Soviet.
Ilustrasi grafis saat Van Speijk masih menjadi milik AL Belanda.
Ilustrasi grafis saat Van Speijk masih menjadi milik AL Belanda.
Harus diakui jika mesin turbin uap tergolong berat, relatif boros bahan bakar, dan keseluruhan sistemnya makan tempat serta cenderung sulit dalam perawatan. Menyikap hal tersebut, TNI yang punya budget serba ngepas, secara bertahap mulai tahun 2003, mulai melakukan penggantian sistem propulsi sebagai bagian dari upaya peningatan performa Van Speijk class. Proyek pertama dimulai pada KRI Karel Satsuit Tubun 356 yang diganti mesinnya dengan jenis diesel Caterpillar CAT DITA, disusul kapal lainnya dalam kurun 2007 – 2008.
Pengecualian ada pada KRI Oswald Siahaan 354 yang mesinnya diganti dengan diesel SEMT Pielstick, mirip (meski dari sub tipe berbeda) dengan yang mentenagai korvet SIGMA class TNI AL. Dengan repwering, kini Van Speijk class mampu ngebut 24 knots (45 km per jam). Memang agak turun kemampuan pada kecepatan dibandingkan mesin turbin uap, namun daya jelajahnya meningkat lantaran lebih irit konsumsi bahan bakar. Akselerasi dan kelincahan kapal pun lebih baik lantaran respon semburan tenaga mesin diesel lebih cepa ketimbang turbin uap.

Upgrade Rudal Hanud
Urusan persenjataan tentu saja tak dilupakan. Dari Belanda, sejatinya sudah ada peningkatan persenjataan sebelum dijual ke Indonesia secara bergelombang mulai tahun 1986. Aslinya, Van Speijk saat digunakan AL Belanda menggunakan Twin mount gun kaliber 113 mm, dan saat dijual ke Indonesia memang sudah diganti dengan meriam reaksi cepat OTO Melara (sekarang Otobreda) kaliber 76 mm yang sudah battle proven. Meriam ini jenis ini juga menjadi senjata andalan pada sisi haluan korvet SIGMA TNI AL.
OTO Melara 76 mm pada haluan Van Speijk Class.
OTO Melara 76 mm pada haluan Van Speijk Class.
Rudal Seacat dilepaskan dari Van Speijk Class.
Rudal Seacat dilepaskan dari Van Speijk Class.
Beberapa kali Seacat difungsikan sebagai target untuk penembakan rudal hanud yang baru.
Beberapa kali Seacat difungsikan sebagai target untuk penembakan rudal hanud yang baru.
Rudal Mistral dengan peluncur Simbad pada Van Speijk Class.
Rudal Mistral dengan peluncur Simbad pada Van Speijk Class.

Untuk urusan rudal anti kapal, aslinya saat diterima dari Belanda, Van Speijk dibekali rudal jenis RGM-84 Harpoon produksi McDonnell Douglas, AS. Sementara rudal hanud (pertahanan udara)-nya dipercayakan dari jenis SHORAD Seacat buatan Inggris. Dan ketika usia pakai kedua senjata tersebut sudah berakhir, TNI AL pun telah mengambil langkah strategis untuk melakukan penggantian.
Untuk rudal hanud Seacat, diganti dengan Simbad air defence missile system. Simbad merupakan sistem rudal hanud yang dioperasikan secara manual dengan peluncur ganda. Simbad memakai platform rudal Mistral buatan Perancis. Rudal ini berdimensi lebih ringkas dengan jangkauan tembak sekelas Seacat. Sistemnya pun sudah modular, sehingga jika diperlukan Simbad dapat diganti dengan peluncur Tetral, jenis SAM yang digunakan pada korvet SIGMA class TNI AL.

Helikopter
Saat berdinas di AL Belanda, Van Speijk disandingkan dengan helikopter AKS (Anti Kapal Selam) jenis Westland Lynx. Namun, saat Van Speijk menjadi milik TNI AL, varian helikopternya turun kelas. Meski tetap menggunakan jenis helikopter AKS, tapi yang digunakan adalah Westland Wasp. Kedua helikopter AKS ini sama-sama buatan Inggris, bedanya usia Wasp sudah lebih tua dan kuno. Dibandingkan kapal perang TNI AL lainnya, maka Van Speijk punya perlakuan khusus untuk heli, yakni dengan adanya fasilitas hangar.
NBO-105 mendarat di deck Van Speijk Class.
NBO-105 mendarat di deck Van Speijk Class.
Untuk operasi khusus, NBO-105 TNI AL dipasangi doorgun.
Untuk operasi khusus, NBO-105 TNI AL dipasangi doorgun.
GPMG FN MAG kaliber 7,62 mm sebagai doorgun NBO-105 TNI AL.
GPMG FN MAG kaliber 7,62 mm sebagai doorgun NBO-105 TNI AL.

Saat Puspenerbal TNI AL memensiunkan Wasp, sebagai penggantinya adalah helikopter NBO-105C rakitan PT Dirgantara Indonesia. Sayangnya, NBO-105 TNI AL tidak punya kemampuan AKS. NBO-105 cukup lama menjadi bagian dari frigat Van Speijk. Karena tak punya kemampuan AKS, paling banter helikopter ringan ini dipakai untuk dukungan misi SAR, intai terbatas, dan bantuan tembakan udara ringan, dengan dipasangkannya door gun berupa senapan mesin FN MAG kaliber 7,62 mm. Besar harapan, bila nantinya peran NBO-105 dapat digantikan helikopter AKS terbaru TNI AL, AS 565 Panther.
Walau NBO-105 TNI AL tak punya kemampuan AKS, tapi kiprah helikoper ini cukup lekat bagi armada Van Speijk. Di tahun 1992, helikopter ini wara wiri dalam operasi Aru Jaya dalam mengusir kapal feri Lusitania Expresso dari Portugal. Dan kiprah yang paling gress dalam memberi bantuan tembakan bagi Satgas Gultor TNI saat memburu perompak Somalia. NBO-105 yang lepas landas dari KRI Abdul Halim Perdanakusuma 355. Dalam operasi air cover tersebut, NBO-105 dipasangi GPMG FN MAG 7,62 mm dan pemembak sniper. Dalam operasi militer yang dramatis ini, TNI AL mengerahkan dua Van Speijk Class, yakni KRI Yos Sudarso 353 dan KRI Abdul Halim Perdanakusuma 355 sebagai kapal komando.

Rudal Anti Kapal
Pasca pensiunnya rudal Harpoon, maka TNI AL kini memasang dua pilihan jenis rudal anti kapal. KRI Oswald Siahaan 354 menjadi yang terdepan, dengan mengadopsi rudal anti kapal tercanggih dan paling ditakuti di Dunia, yaitu rudal supersonic P-800 Yakhont yang hingga kini belum ada tandingannya di kalangan Barat. Perihal profil dan kecanggihan Yakhnont telah kami bahas tuntas di artikel terdahulu. Selain KRI Oswald Siahaan 354, lima Van Speijk lainnya menggunakan rudal anti kapal besutan Cina, yaitu rudal C-802. Mengenai sepak terjang rudal C-802 yang digunakan Iran dan ditakuti AS ini pun telah kami bahas tuntas di artikel terdahulu.
Rudal C-802 sebagai pengganti Harpoon.
Rudal C-802 sebagai pengganti Harpoon.
355_KRI_Abdul_Halim_Perdanakusuma_C_802
KRI Karel Satsuit Tubun 356.
KRI Karel Satsuit Tubun 356 – “Benteng Laut Nusantara”
KRI Karel Satsuit Tubun 356.
KRI Karel Satsuit Tubun 356.

Di luar semuanya itu, meski dipercanggih sampai bagaimana pun, namanya usia pakai pastilah akan tiba garis akhirnya. Kini praktis tinggal TNI AL yang mengeoperasikan turunan keluarga Leander class. Setelah sebelumnya AL India memensiunkan kapal perang jenis ini pada awal 2012. AL Selandia juga mengakhiri masa bakti frigat ini pada tahun 2005 silam.
Ada kenangan tersendiri untuk KRI Karel Satsuit Tubun (KST) 356, penulis di sekitar tahun 1997 pernah mengunjungi kapal perang tersebut saat bersandar di Dermaga Ujung Koarmatim, Surabaya. Saat itu, Van Speijk masih tampak dipasangi rudal Harpoon, dan yang menarik perhatian di dalam kapal terdapat kios kecil yang menjual pernak pernik frigat, kesempatan emas pun tak dilewatkan, beberapa gantungan kunci dan stiker logo bertuliskan “KRI Karel Satsuit Tubun 356 – Benteng Laut Nusantara” langsung kami beli sebagai kenang-kenangan. (Haryo Adjie)

Spesifikasi Van Speijk Class
Bobot standar : 2.200 ton
Bobot Tempur Maks : 2.850 ton
Dimensi : 113,4 x 12,5 x 5,8 meter
Propulsi Awal : two geared steam turbines delivering 22,370kW (30,000shp) to two shafts.
Propulsi Baru : 6 have now been re-engined with Caterpillar (5 ships) or SEMT-Pielstick Diesels (1 ship)
Kecepatan mesin lama : 28,5 knots.
Kecepatan mesin baru : 24 knots.
Jangakauan maks : 8.100 km dengan kecepatan 12 knots
Awak kapal : 180
Sensors and processing systems: Radar: LW-03, DA-02, M45, M44
Sonar: Types 170B, 162
Combat system: SEWACO V

TNI AU Menerima F-16 C 52ID Gelombang Kedua

http://tni-au.mil.id/sites/default/files/imagecache/body/2014-09/P1300349.jpg
Dua pesawat F-16 C 52ID TNI AU pengiriman tahap kedua sudah mendarat dengan selamat di Lanud Iswahjudi Madiun pada hari Sabtu (27/9) siang pukul 11.18 WIB setelah meninggalkan Andersen AFB Guam tepat 5 jam 18 menit sebelumnya.  Kedua pesawat diawaki penerbang dari Tucson Air National Guard dengan nomer ekor TS-1641 dan TS-1643. Kedua pesawat  F-16 C lepas landas dari Andersen AFB Hawaii pukul 11.00 waktu setempat (06.00 WIB) selanjutnya terbang dikawal pesawat tanker KC-10 sampai Laut Jawa. Dan akhirnya  pada leg leg terakhir tanggal 27 September kedua pesawat mendarat pada pukul 11.18 WIB  di lanud Iswahjudi Madiun dan  langsung diparkir di hanggar Skadron Udara 3.
Perjalanan ditempuh dengan ketinggian 25.000 kaki pada kecepatan 0.8 MN (Mach Number) atau sekitar 480 KTAS (Knots True Air Speed) melewati Samudera Pasifik yang tenang sebelum memasuki wilayah Indonesia. Selama perjalanan dilaksanakan air to air refueling dg pesawat KC-10 dari Travis dengan lima kali pengisian bahan bakar di udara.
Pesawat touchdown di RW 17 Lanud Iswahjudi pada pkl 11.18 WIB dan langsung menuju Hanggar Skadron Udara 3 “The Dragon Nest”.Kedua penerbang diterima oleh Komandan Lanud Iswahjudi yang didampingi segenap pejabat lanud lainnya disamping para penerbang dari berbagai skadron tempur yang berkumpul di Lanud Iswahjudi. Pesawat-pesawat terbaru ini rencananya akan memperkuat  formasi Fly Past untuk  memeriahkan HUT TNI ke-69 pada tanggal 7 Oktober 2014 di Surabaya
Kedua pesawat memulai perjalanan panjang melintasi separuh bumi, dengan berangkat dari Hill AFB Utah pada hari Senin (22/9) pukul 11.20 waktu setempat dan terbang melintasi Samudera Pasifik selama enam jam dengan lima kali air refueling berhasil mendarat di Hickham AFB Hawaii pada pukul 13.05. Selanjutnya para awak pesawat istirahat sehari Hawaii sebelum melanjutkan perjalanan menuju Andersen AFB Guam.  pada hari Rabu (24/9).  Kedua pesawat F-16 C lepas landas dari Hickham AFB Hawaii pukul 11.06 waktu setempat (04.06 WIB) dengan dikawal pesawat tanker KC-10 dan delapan jam kemudian pada pukul 14.55 siang waktu Guam mendarat di Andersen AFB.
Kedatangan kedua [esawat merupakan bagian dari Proyek “Peace Bima Sena II” yaitu pengadaan 24 pesawat F16 C/D-52ID. Seluruh pesawat yang aslinya pesawat F-16 C/D block 25 menjalani upgrading dan refurbished rangka “airframe” disamping  modernisasi sistem “avionic” dan persenjataan di Ogden Air Logistics Center Hill AFB, Utah.
Rangka pesawat diperkuat, cockpit diperbarui, jaringan kabel dan elektronik baru dipasang, semua system lama di rekondisi atau diganti menjadi baru dan mission computer canggih baru sebagai otak pesawat  ditambahkan agar lahir kembali dengan kemampuan jauh lebih hebat dan ampuh.
Pelaksanaan regenerasi meliputi structural/airframe upgrade pesawat hingga mencapai masa usia pakai (service life) optimal. Tidak hanya itu, seluruh mesin pesawat  tipe   F100-PW-220/E  telah menjalani  upgrade menjadi baru kembali, khususnya dengan pemasangan system DEEC (Digital Electronic Engine Computer) baru dan Augmentor Engine baru yang usia pakainnya dua kali lebih lama. Dan yang terpenting modernisasi avionic pesawat akan meningkatkan kemampuan menjadi setara dengan F-16 block 52.
Upgrade pesawat F-16 C/D 52ID ini yang meliputi Modernisasi dan upgrade avionic dan engine pesawat dilaksanakan untuk  meningkatkan kemampuan menjadi setara dengan F-16 block 50/ 52, khususnya dengan pemasangan “otak dan syaraf” baru  pesawat yaitu  Mission Computer MMC- 7000A versi M-5 yang juga dipakai Block 52+, demikian pula radar AN/APG-68 (V) ditingkatkan kemampuan sesuai system baru yang dipasang. Juga Improved Modem Data Link 16 untuk komunikasi data canggih,  Embedded GPS/ INS (EGI) block-52  yang menggabungkan fungsi  GPS dan INS dan berguna untuk penembakan JDAM (Bomb GPS),  Electronic Warfare Management System AN/ALQ-213,  Radar Warning Receiver ALR-69 Class IV serta Countermeasures Dispenser Set ALE-47 untuk melepaskan  Chaffs/ Flares anti radar/anti rudal. Sedangkan kemampuan radar AN/APG-68 (V) ditingkatkan agar mampu mendukung peralatan dan system baru yang dipasang.
Pesawat ini cukup handal dalam pertempuran udara  karena disamping lincah maka  F-16 C/D 52ID TNI AU juga juga dilengkapi senjata canggih rudal jarak pendek AIM-9 Sidewinder L/M/X dan IRIS-T  (NATO) serta rudal jarak sedang AIM-120 AMRAAM-C untuk scenario pertempuran “Beyond Visual Range”.  Untuk menyerang sasaran permukaan pesawat dilengkapi kanon 20 mm, bomb standar MK 81/ 82/ 83/ 84, Laser Guided Bomb Paveway, JDAM (GPS Bomb), Bom anti runway Durandal, rudal AGM-65 Maverick K2, rudal AGM-84 Harpoon (anti kapal), rudal AGM-88 HARM (anti radar),  Improved Data Modem Link 16, Head Up Display layar lebar terbaru yang kompatibel dengan Helmet Mounted Cueing System dan Night Vision Google. Dilengkapi navigation dan targeting pod canggih seperti Sniper/ Litening, memungkinkan pesawat untuk operasi tempur malam hari serta mampu melaksanakan missi Supression Of Enemy Air Defence (SEAD) untuk menetralisir pertahanan udara musuh.
Kemampuan sistem avionic canggih dan senjata udara modern serta keunggulan daya jangkau operasi pesawat ini memungkinkan untuk menghadang setiap penerbangan gelap atau menghantam sasaran permukaan,  baik di luar atau dalam wilayah kedaulatan kita, pada saat siang atau malam hari tanpa kesulitan.
TNI Angkatan Udara merencanakan armada baru F-16 C/D 52ID ini akan melengkapi Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi Madiun dan Skadron Udara 16 Lanud Rusmin Nuryadin Pekanbaru. Diharapkan pada saat pesawat tempur masa depan IFX sudah siap dioperasikan maka Pengalaman dan pemahaman dari aplikasi penggunaan tehnologi perang udara modern yang didapat dalam pengoperasian F-16 CD 52ID niscaya akan sangat membantu memperbaiki perencanaan, pengadaan, pelatihan serta doktrin dan taktik perang udara TNI AU agar mampu mengungguli kekuatan udara para pesaing negara kita.    Pesawat-pesawat canggih ini akan  menambah kekuatan tempur  TNI Angkatan Udara sebagai tulang punggung Air Power (Kekuatan Dirgantara) kita demi  menjaga Keamanan Nasional Indonesia. (tni-au.mil.id)

Jajaran KRI produksi dalam negeri

Kita harus bangga dengan kemampuan anak anak bangsa dalam mewujudkan kemandirian bangsa di bidang maritim terutama pembuatan kapal untuk TNI AL.
FPB-57 atau Fast Patrol Boat 57 m adalah sebuah rancangan kapal patroli yang dibuat oleh Jerman. Pada perjanjiannya  PT. PAL yang awalnya hanya merakit kapal ini di  Surabaya, dan kemudian akhirnya PT PAL dpt memperoleh hak untuk memproduksi rancangan kapal ini
Kapal Patroli Cepat FPB 57 Nav I
Yg termasuk kapal kelas ini : KRI KAKAP 811, KRI KERAPU 812, KRI TONGKOL 813, KRI BARAKUDA

http://www.tni.mil.id/mod/news/images/normal/kri-barakuda-26-7-11.gif
(dok photo :www.tni.mil.id)

Kapal Patroli  Cepat kelas Torpedo FPB 57 Nav II
KRI Andau 650, KRI Singa 651, KRI Tongkak 652 dan KRI Ajak 653

dok photo www.lensaindonesia.com
Kapal Patroli Cepat FPB 57 Nav IV
KRI Pandrong 801 dan KRI Sura 802

http://www.tni.mil.id/mod/news/images/normal/kri%20padrong.jpg(dok photo : http://www.tni.mil.id)

Kapal Patroli Cepat FPB 57 Nav V
KRI Todak 803, KRI Hiu 804, KRI Layang 805 dan KRI Lemadang 806

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/d/d0/KRILayang805.JPG
(dok photo KRI Layang-805 saat meluncurkan rudal C-802 : http://upload.wikimedia.org)

Armada Patroli

Seluruh kapal dibuat oleh Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan (Fasharkan) TNI AL, mempunyai panjang 39-40 meter
Patroli cepat 36-40 meter Fiberglass yg terdiri
dari kelas Boa 9 bh, kelas Viper 5 bh, kelas Kobra 5 bh , kelas Tarihu 4 bh .
Persenjataan rata rata menggunakan
  • 1 kanon Oerlikon 20/70 kaliber 20mm dengan kecepatan tembakan 250-320 rpm, jangkauan 4,3 Km dan senapan mesin kaliber 12,7mm


http://store.tempo.co/cover/medium/foto/2004/12/01/s_UI04080683.jpg
(dok photo :http://store.tempo.co)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSD6YsgThHPgppKf7oNG495q6gxJynFXe5USR-BU7v232rbOQXUBBWtkF4nNb1s0-xFqntkkf_pkmWSD3kDtOpnRrwNFWkhkvjG-RdVNfOasiK7bKF9ViqGaMXnADbybOsFMN4qg3wkb4/s1600/KRI+808+WELANG+-+GRFP+
Kapal Patroli Cepat 43 Meter (5 September 2013)
Menteri Pertahanan RI dan Panglima TNI beserta rombongan adalah untuk me-launching 2 (dua) buah kapal patroli Jenis PC 43 yakni KRI Pari – 849 dan KRI Sembilang – 850 kedua kapal tersebut adalah karya tangan putra bangsa, produksi dalam Negeri yang diproduksi oleh PT. Palindo Marine, Tanjung Uncang, Batam.
Kedua kapal patroli jenis PC 43 ini memiliki panjang 43 Meter, Lebar 7,4 Meter memiliki mesin 3×1800 HP (Marine Diesel) dengan kecepatan Max 28 Knot serta memiliki ketahanan dalam kemampuan layar selama 4 (empat) hari.  KRI Pari – 849 akan memperkuat jajaran Satuan Kapal Patroli (Satrol) Komando Armada RI Kawasan Timur  (KOARMATIM), sedangkan KRI Sembilang – 850 akan memperkuat jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat (KOARMABAR) di wilayah pangkalan utama Angkatan Laut (Lantamal) II Padang, Sumatra Barat.
Kapal patroli Jenis PC 43 KRI Pari 849 dan KRI Sembilang 850 dilengkapi dengan Senjata Kanon Kaliber 30 mm sebagai senjata utama di haluan kapal dan Senjata Mesin Berat Kaliber 12.7 mm pada buritan kapal tersebut. (www.tni.mil.id)

http://batampos.co.id/wp-content/uploads/2013/09/Kapal-Patroli-Cepat.jpg
(batampos.co.id)
Kapal Patroli Cepat 40 meter bahan alumuniun (Desember 2008)
KRI Krait (827) adalah jenis kapal perang patroli kelas PC-40 yang merupakan hasil desain dari Fasharkan TNI AL Mentigi dan dibangun bekerja sama dengan PT BES Batam. Kapal perang ini memiliki panjang badan 40 meter dan dirancang untuk sanggup melaju hingga kecepatan 20 knot didorong oleh 2 unit mesin diesel berkekuatan 1250 HP. Badan kapal terbuat dari aluminium alloy.

 
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjekATunwGXSIOh1hta04nvbjfqAnajlfyiCtONBqcWh4cJtpPucvn7l5Dhdw9vEH4ZPr9F-W7OnKwU002jYoWLqY6YMJWfGq0Ot9wrCvzb_5SuK87cxqLD2OgonWBwTICsZnhJKtJGpNs/s400/PC-40D.jpg

Kapal cepat rudal/kapal patroli ( 40 m)
KRI Clurit 641, KRI Kujang 642, KRI Beladau  dan  KRI Alamang (644),  Kapal jenis KCR-40 ini terbuat dari baja khusus High Tensile Steel pada bagian hulu dan lambung kapal.  Sementara untuk bangunan atas kapal menggunakan Aluminium Alloy, produksi PT Citra dan Palindo Marine Shipyard Batam.

Baru baru ini Sabtu 27 september 2014,
Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro menerima dan meresmikan lima unit Kapal Perang Indonesia (KRI) buatan dua perusahaan galangan kapal Batam, Sabtu (27/9) siang. KRI yang diresmikan itu di antaranya KRI Surik-645, KRI Siwar-646, KRI Parang-647 dan KRI Terapang-648 dan KRI Sidat-851.
Lima unit KRI perang itu semuanya asli buatan Batam.  KRI Surik 645, KRI Siwar 646 dan KRI Parang 647 dibuat oleh PT Palindo Marine di Tanjunguncang. Sedangkan KRI Sidat dan KRI Teripang dibuat PT Citra Shipyard.
Purnomo mengatakan, lima KRI yang diterima dan diluncurkan itu merupakan jenis kapal cepat cepat rudal (KCR). Kapal-kapal tersebut dilengkapi dengan sistem persenjataan modern yang dikenal dengan sensor weapon control (sewaco). Di antaranya meriam kaliber 30 MM, 6 laras panjang sebagai sistem pertempuran jarak dekat dan 2 set rudal C-705.
Bagian lambung KCR ini terbuat dari baja khusus high tensile steel. Kapal dengan sistem pendorong fixed propeller lima daun itu juga dilengkapi dua unit senjata kaliber 20 MM di anjungan kapal. ”Empat KRI yang diluncurkan sudah resmi masuk jajaran armada TNI,” kata Purnomo  di Pelabuan Batuampar. (www.jpnn.com)
KRI Parang, satu dari 5 KRI buatan galangan kapal Batam yang diluncurkan Menhan Purnomo Yusgiantoro Sabtu (27/9). </p><br /><br /><br /><br />
<p>Foto: Dalil Harahap/Batam Pos/JPNN
(www.jpnn.com)
Kapal cepat rudal yang mempunyai panjang 60 meter, terdiri KRI Sampari 628, KRI Tombak 629, KRI Halasan 630
“KCR 60 meter ini pengembangan dari kapal patroli cepat (FPB-57) yang telah kami bangun sebelumnya,” ujarnya.
Sebelumnya, jelas dia, pihaknya telah menyerahkan KCR-60 meter pertama, yang dibaptis dengan nama KRI Sampari-628 pada 28 Mei lalu, diikuti KRI Tombak-629 pada 27 Agustus 2014.
Selanjutnya KCR 60/KRI Halasan-630 itu dibaptis dan diresmikan Menteri Pertahanan Indonesia, Purnomo Yusgiantoro.
Sumber : www.antaranews.com
photo.sindonews.com
 PT PAL serahkan kapal W000275 ke TNI AL
Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro (kiri), bersama Wakil Kepala Staf TNI AL, Laksamana Madya TNI Didit Herdiawan (kedua kiri), dan Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero), M Firmansyah Arifin (tengah), usai berkunjung geladak KRI Halasan-630 jenis Kapal Cepat Rudal (KCR)-60 Meter, di Surabaya, Rabu (17/9). KRI Hasalan-630 yang merupakan kapal perang jenis KCR-60 Meter terakhir pesanan TNI AL itu, menambah jajaran armada laut dalam mengamankan wilayah Indonesia. (ANTARA FOTO/Eric Ireng)

Armada Pendukung  :

Landing Platform Dock
LPD (Landing Platform Dock) seperti KRI Banjarmasin 592 dan KRI Banda Aceh 593, Keduanya dibangun di PT PAL Indonesia
KRI Banjarmasin-592 merupakan salah satu dari empat kapal LPD yang dipesan TNI Angkatan Laut. Dua unit kapal dikerjakan di Korea Selatan yaitu KRI Makasar-590 dan KRI Surabaya-591, sedangkan dua unit lainnya yaitu KRI Banjarmasin-592 dan KRI Banda Aceh-593 dikerjakan di galangan kapal PT PAL Surabaya dengan menerapkan prinsip transfer of technology (ToT) dengan pengawasan tenaga ahli dari galangan kapal Dae Sun Shipbuilding, Korea Selatan.
Seperti halnya kapal jenis LPD lainnya, KRI Banjarmasin-592 mampu menampung lima helikopter, tiga helikopter di dek, dan dua helikopter di dalam hanggar. Kapal ini juga dirancang mampu mengangkut 22 tank, juga dapat mengangkut kombinasi 20 truk dan 13 tank, 560 pasukan, dan 126 awak. Selain berfungsi untuk memobilisasi pasukan, kapal sepanjang 125 meter x 22 meter ini juga dapat digunakan untuk fungsi Operasi Militer Selain Perang (OMSP), seperti membawa logistik ke daerah bencana alam, operasi kemanusiaan, dan lainnya. KRI Banjarmasin-592 memiliki berat 7.300 ton, dan dapat melaju maksimal hingga kecepatan 15,4 knot. Sebagai kapal perang TNI AL, KRI Banjarmasin-592 dipersenjatai dengan satu unit meriam kaliber 57 mm, dan dua unit meriam kaliber 40 mm. (www.tnial.mil.id)
Landing Ship Tank
Kelas LST 117 meter (LST)
buatan PT. Dok dan Perkapalan (DKB) Kodja Bahari (kemenhan pesan 2 bh), Jakarta dan ke PT. Daya Radar Utama (KRI Teluk Bintuni)
Lampung – Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan kapal jenis “landing ship tank” (LST), yakni Kapal Republik Indonesia (KRI) Teluk Bintuni 520 yang merupakan hasil produksi industri galangan kapal dalam negeri.
KRI Teluk Bintuni 520 memiliki panjang 120 meter, dapat mencapai kecepatan 16.000 knot, didukung dua unit mesin yang masing-masing berkapasitas 3.285 KW.
Kapal yang dibangun dengan biaya sekitar Rp 160 miliar dan dikerjakan selama 16 bulan ini mampu mengangkut hingga 10 unit tank Leopard buatan Jerman seberat 62,5 ton ditambah 120 orang awak kapal dan 300 orang pasukan. (BeritaSatu.com).
KRI Teluk Bintuni | http://www.saibumi.com
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan KRI Bintuni 520 di Lampung (photo: Antara)
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan KRI Bintuni 520 di Lampung (photo: Antara)

Kapal jenis Bantu Cair Minyak (BCM)
KRI Tarakan-905 merupakan kapal jenis Bantu Cair Minyak (BCM), produksi PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari (Persero), Jakarta Utara.
KRI Tarakan-905 memiliki panjang keseluruhan 122,40 m, panjang garis tegak 113,90 m, lebar 16,50 m, tinggi 9,00 m, kecepatan maksimal 18 knots, jarak jelajah 7.680 nm, kapasitas muatan cair 5.500 matrik, tenaga penggerak utama berjumlah dua buah daya 6.114 PS, berat baja 2.400 ton, dengan sistem propulsi twin screw dan fixed pitch propeller. (Jurnas.com).
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro didampingi KSAL Laksamana Marsetio
meresmikan KRI Tarakan-905,di Jakarta. (Photo: Dispenal)

Yang masih dalam proses produksi :
SIGMA 10514 Guided Missile Frigate, PKR – Perusak Kawal Rudal, PT PAL akan membuat tiga unit kapal perusak kawal rudal 105 (PKR-105)/Frigate nomor 1. Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Marsetio mengatakan proyek ini menggandeng Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS), Belanda. “Kami produksi bersama DSNS, Belanda, dalam kerangka transfer of techonolgy,” kata Marsetio di sela-sela Keel Laying modul 2 seksi 231 PKR-105 di PT PAL (Persero), Rabu, 16 April 2014 (www.tempo.co)
Kapal Selam Kelas Changbogo,
Kementerian Pertahanan menunjuk PT PAL Indonesia memproduksi satu unit kapal selam guna memperkuat keamanan Indonesia, terutama dalam menjaga alur dan kedaulatan negeri ini.
“Upaya ini sesuai penunjukan PT PAL Indonesia sebagai lead integrator pembangunan alutsista kapal perang,” kata Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, ditemui pada serah terima kapal cepat berpeluru kendali KRI Halasan-630, di dermaga PT PAL Indonesia, di Surabaya, Rabu.
Untuk merealisasi kapal selam itu, ungkap dia, PT PAL Indonesia akan mendapatkan kucuran penyertaan modal negara sebesar Rp1,5 triliun untuk membangun tiga unit kapal selam, alias Rp500 miliar perunit.
“Sebanyak dua unit kapal selam akan dibangun di Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME), Korea Selatan. Lalu, satu unit dibangun di PT PAL Indonesia,” katanya. (www.antaranews.com)
Kapal Selam Changbogo Korea Selatan (Photo:  MC2 Benjamin Stevens/United States Navy)
Kapal Selam Changbogo Korea Selatan (Photo: MC2 Benjamin Stevens/United States Navy)

Demikian sekilas hasil karya anak Bangsa , dan marilah  kita dukung mewujudkan kemandirian bangsa di bidang maritim terutama pembuatan kapal untuk TNI AL.
“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno).
(Dirangkum dgn berbagai sumber berita)

JKGR.