Jagad senjata perorangan, khususnya Submachine Gun (SMG) untuk TNI
kembali bertambah dengan hadirnya CZ Scorpion Evo 3 lansiran Česká
zbrojovka Uherský Brod, asal Republik Ceko. Senjata kompak berdesain
futuristik dengan kaliber 9 x 19 mm ini terlihat digunakan oleh prajurit
Kostrad (Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat) dalam suatu latihan
penanganan teror di Mabes TNI.
Apa yang menarik dari CZ Scorpion Evo 3? Selain desain yang serba baru, rancangan laras senjata berbobot 2,77 kg ini dilengkapi picatinny rail
dari atas, bawah, dan kiri serta kanan, menjadikan Scorpion Evo 3
sangat adaptif untuk dipasangi berbagai akesesoris alat bidik dan alat
bantu penembakkan lainnya. Diantara aksesoris yang mendukung pada
senjata ini mencakup opsi pemasangan grip (pegangan tangan), teropong bidik (sight), senter, dan laser pembidik. Kesemua aksesoris senjata ini mengacu pada standar Mil-1913
Foto: Facebook Lembaga Keris.Skema pengopersian CZ Scorpion Evo 3 tak berbeda jauh dengan jawara SMG kondang macam H&K MP5, yakni mengadopsi roller delayed blowback. Pada varian CZ Scorpion Evo 3 A1 ditawarkan penggunaan pemilihan fire switch, memberikan opsi bagi gunner untuk menggunakan moda safe, semi automatic, tembakkan tiga putaran, dan tembakkan penuh (full automatic fire).
Lain dari itu, manufaktur juga merilis varian CZ Scorpion Evo 3 S1,
pada varian ini hanya ditawarkan opsi safe dan semi automatic fire.
Varian S1 umumnya ditawarkan untuk pihak Kepolisian.
CZ Scorpio Evo 3 lengkap dengan grip, persis yang digunakan oleh Kostrad TNI AD.Laras dengan mudah dipasangi peredam.Pada umumnya CZ Scorpion Evo 3 dihadirkan dengan opsi popor lipat,
ciri khas dari senjata ini adalah mudah untuk dibongkar pasang. Dibangun
dalam konfigurasi yang ergonomis, saat popor direntangkan senjata punya
bentang 670 mm, sementara dengan popor dilipat panjangnya menjadi 410
mm. Panjang larasnya sendiri hanya 196 mm. Membuktikan sebagai senjata
yang ringkas, CZ Scorpion Evo 3 punya lebar 60 mm dan tinggi 262 mm.
Dari segi kinerja, CZ Scorpion Evo 3 punya kecepatan tembak 1.150 peluru
per menit, sedangkan kecepatan luncur proyektil-nya 370 meter per
detik.
Pasukan anti teror Kostad bersama personel Marinir yang menyandang SMG Daewoo K7.CZ Scorpion Evo 3 memiliki jangkauan hingga 250 meter bila
ditembakkan dari bahu, sementara jarak jangkau efektifnya 50 meter
ketika ditembakkan dalam posisi handheld dengan popor dilipat.
SMG ini ditawarkan dalam dua pilihan magasin, masing-masing dengan
kapasitas 20 peluru dan 30 peluru. Mengikuti jejak senapan serbu AUG
Steyr, CZ Scorpion Evo 3 mengadopsi magasin model transparan dari bahan
polimer, dengan model ini menjadikan gunner dapat memantau langsung sisa amunisi yang tersedia di magasin.
Dengan popor dilipat.Sebelum CZ Scorpion Evo 3, TNI juga telah menggunakan produk CZ,
tepatnya senapan serbu CZ085 Bren kaliber 5,56 x 45 mm yang dioperasikan
Kopassus (Komando Pasukan Khusus) TNI AD dan Kopaska (Komando Pasukan
Katak) TNI AL. Bila dirunut ke sejarahnya, disebutkan basis SMG Skorpion
Vz 61, jenis Submachine Gun yang sempat dioperasikan Detasemen Bravo
Paskhas TNI AU. (Bayu Pamungkas)
Radar AN/APG-66 pada jet tempur F-16 A/B Fighting Falcon TNI AU
secara teori mampu mengendus sasaran dari jarak 150 km. Seperti pada
insiden di atas Bawean tahun 2003, setelah dipandu dari radar GCI (Ground Controlled Intercept), dua unit F-16 dari Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi yang ditugaskan melakukan pengejaran pada black flight
akhirnya dapat mengenali identitas sang penyusup, yakni F/A-18 Hornet
dari USS Carl Vinson yang tengah berlayar di Laut Jawa. Namun pengenalan
identitas F/A-18 Hornet dilalukan lewat pengamatan langsung sang pilot,
alias memanfaatkan darto (radar moto – bahasa Jawa berarti mata).
Meski tidak terkait langsung dengan babak akhir dari suatu duel
pertempuran di udara, kemampuan mengenali identitas lawan menjadi poin
penting bagi pilot. Dengan mengetahui lebih dini siapa potensi lawan
yang akan dihadapi, situational awareness pilot akan lebih maksimal, obyek tak dikenal pada layar radar atau HUD (Head Up Display)
bisa memberi informasi lebih presisi terkait lawan. Dengan begitu,
pilot bisa lebih mempersiapkan strategi dalam meladeni pertarungan bila
kondisi memaksa, dan yang lebih penting pilot dapat melaportkan pada
komando di atas tentang situasi lebih detail.
Dan perangkat identifikasi pada sasaran, apakah itu kawan atau lawan, akrab disebut sebagai IFF (Identification Friend or Foe).
Dan sayangnya perangkat IFF ini belum hadir di elemen jet tempur TNI
AU, termasuk pada F-16 A/B dan C/D Block 52ID. Padahal jika di compare
dengan F-16 milik Thailand dan Singapura, F-16 milik kedua negara
tetangga sudah dilengkapi antena IFF yang terintegrasi.
Keluarga F-16 melengkapi antena IFF dalam wujud empat sirip kecil
yang disematkan di bagian depan kokpit. Karena desain yang unik, IFF
yang masuk ke dalam Advanced IFF (AIFF) ini juga dikenal dengan sebutan
“bird slicer.” Tidak ada keharusan F-16 keluaran baru yang bisa
dipasangi AIFF, pasalnya F-16 versi ADF (Air Defence Fighter) dari Block
10/15 yang telah di upgade banyak yang sudah dipasangi bird slicer.
F-16 ADF adalah versi yang digunakan oleh US Air National Guard. Biasaya
instalasi bird slicer dilakukan bersamaan pada program MLU (Mid Life Update).
Sementara untuk F-16 lansiran terbaru, seperti di Block 60 , AIFF sudah
melekat sebagai standar fitur yang ditawarkan dan diintegrasikan pada
radar.
F-16C Block 52 AU Singapura.F-16A Block 15 MLU AU Thailand.Bird
slicer pada dasarnya serupa dengan transponder pesawat sipil untuk
mengenali dan memberi tahu suatu posisi pesawat. Namun karena digunakan
untuk kebutuhan militer, transponder IFF dilengkapi enkripsi pada
sinyal, tujuannya agar proses identifikasi pada sasaran dapat
berlangsung senyap, apakah sasaran di depan lawan atau kawan?
Jenis antena AIFF yang digunakan di F-16 umumnya merujuk ke
AN/APX-109 produksi Northrop Grumman. Transponder AN/APX-109
mengintegrasikan fungsi interrogator, receiver-transmitter reply
evaluator, synchronizer, transponder, COMSEC units, dan control
functions ke dalam single package untuk menghemat bobot dan ruang. Tanpa adanya kemampuan IFF, dalam suatu pertempuran udara, baik dalam skenario dog fight
(duel jarak dekat) dan beyond visual range (tempur jarak jauh), sangat
rentan terjadi salah tembak pada pesawat tempur kawan atau bahkan
pesawat penumpang sipil. Bila F-16 Thailand dan Singapura sudah
dipasangi bird slicer, idealnya F-16 TNI AU juga harus dipasangi
perangkat IFF ini. (Gilang Perdana)
Setelah berhasil menyerahkan produksi kapal patroli cepat (PC-40) KRI
Cakalang 852 kepada TNI AL pada bulan Juli 2016, kini galangan kapal
swasta nasional, PT Caputra Mitra Sejati (CMS) kembali meluncurkan PC-40
terbaru pesanan TNI AL, KRI Kurau 856. Peluncuran dilakukan Selasa
(7/3/2017) di fasilitas galagan PT CMS di Perairan Salira, Banten.
Upacara peluncuran dan shipnaming yang dilakukan Wakil Kepala
Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksda TNI A.Taufiq, menandakan rampungnya
tahapan pembangunan fisik konstruksi kapal patroli ini.
Meski telah diluncurkan, KRI Kurau 856 belum langsung diserahkan ke
TNI AL, kapal patroli yang masih ‘kosongan’ tanpa senjata dan sistem
elektronik ini masih akan melalui tahapan sea trial dan commodore inspection,
baru kemudian dapat diserahkan ke pihak pengguna, yaitu Satuan Kapal
Patroli (Satrol) TNI AL. KRI Kurau 856 memiliki panjang (Loa) 44,40
meter, lebar 7,40 meter dan tinggi tengah kapal 3,40 meter.
KRI Kurau 856 memiliki mesin utama 3 x 1800 Hp dengan putaran mesin
2300 rpm, dan kecepatan maksimum mencapai 24 knot. Kapal ini juga
memiliki kecepatan jelajah sampai 17 knot dengan daya jangkau 1632
nautical mile (setara 3.022 km). Kapal berbobot 230 ton ini mampu memuat
kapasitas bahan bakar hingga 56.000 liter.
Dirunut dari ‘kodratnya’ sebagai kapal patrol, KRI Kurau 856 tidak
akan dilengkapi senjata sekelas rudal anti kapal, meski begitu sebagai
generasi kapal patroli modern, TNI AL nantinya akan melengkapi KRI Kurau
856 dan PC-40 lainnya dengan kanon reaksi cepat. Berdasarkan
spesifikasi teknis (spektek), PC-40 akan dilengkapi kanon Oto Melara
laras tunggal kaliber 30 mm buatan Italia.
Oto Melara 30 mm adalah varian terbaru yang ditawarkan Finmeccanica menganut teknologi MARLIN WS (Modular Advanced Remotely controlled Lightweight Naval Weapon Station).
Dari segi instalasi, Oto Melara 30 mm dirancang mudah untuk dipasang di
semua jenis tipe kapal perang, tidak diperlukan rekayasa pada desain
internal lambung kapal, alias tinggal plug in pada dudukan. Untuk kapal
patroli cepat, Oto Melara 30 mm dirancang sebagai senjata utama, namun
bila dipasang di frigat/korvet, maka akan menjadi senjata lapis kedua.
Dengan desain modular, kubah Oto Melara ini dapat diganti pasang
jenis larasnya, bila menggunakan kaliber 30 mm, larasnya Mauser MK30-A2
atau ATK-MK44. Sementara bila menggunakan kaliber 25 mm, larasnya
menggunakan ATK-M242 atau Oerlikon KBA. Dengan dukungan CMS (Combat
Management System), Oto Melara 30 mm sanggup meladeni multi target.
Dukungan perangkat pada kubahnya mencakup optical sensor suite untuk
mendukung pencitraan siang dan malam. Bisa lagi ditambahkan laser range finder yang dipasang coaxial pada kubah.
KRI Lepu 861 dengan kanon Oto Melara 30 mm pada haluan.Oto Melara 30 mm dapat dioperasikan stand alone
dengan remote control consol yang terdapat di PIT (Pusat Informasi
Tempur). Namun Oto Melara 30 mm dapat pula diintegrasikan dengan CMS,
menjadikan sistem senjata ini terkonfigurasi utuh dalam FCS (Fire Control System)
yang melibatkan peran radar penjejak dan video tracking. Jalur yang
digunakan dari terminal senjata ke CMS/FCS memakai teknologi LAN (local area netwotk).
Sejauh ini, diketahui kanon Oto Melara 30 mm sudah mulai terpasang di
PC-40, seperti di KRI Lepu 861 dan KRI Torani 860. Meski keduanya masuk
di kelas PC-40, namun KRI Lepu 861 dan KRI Torani 860 diproduksi oleh
PT Karimun Anugrah Sejati. (Gilang Perdana)
Kabar rencana TNI AD untuk mengakuisisi helikopter angkut sedang UH (Utility Helicopter)-60
Black Hawk telah berhembus sejak tahun 2012 silam, namun baru di akhir
Februari lalu, jenis Black Hawk yang akan dipinang mulai jelas
variannya, maklum keluarga Black Hawk lansiran Sikorsky Aircraft
(Lockheed Martin Company) terdiri dari beragam varian. Dan merujuk ke
pernyataan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono dan
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di beberapa media nasional, maka
yang bakal didatangkan adalah UH-60M Black Hawk.
Oleh pabrikannya, varian UH-60M diberi label sebagai “Multi Mission
Performer” dan dipastikan ini adalah salah satu varian terbaru dan
termutakhir dari keluarga Black Hawk. Sikorsky Aircraft mulai
memproduksi varian UH-60M pada tahun 2006, AD AS (US Army) menggadang
UH-60M untuk menggantkan varian lawas UH-60A yang sudah mengudara sejak
dekade 80-an. Apa yang baru di UH-60M? Pihak Sikorsky menyebut
helikopter twin engine ini sudah dilengkapi dengan airframe baru, advanced digital avionics
dan sistem propulsi yang lebih powerful. Dengan beragam peningkatan
yang ditawarkan, UH-60M ditawarkan lebih garang untuk mendukung misi
angkut taktis, combat SAR, penyerbuan udara, command and control, medical evacuation, aerial sustainment, hingga peran sebagai fire fighting.
Sebagai helikopter untuk misi tempur di garis depan, UH-60M dibekali proteksi balistik pada tail rotor blades-nya. Mengusung desain monolithic,
UH-60M menawarkan kemampuan handling dan kendali lebih baik dari
varian-varian sebelumnya, termasuk disini adanya fitur active vibration
control. Sebagai helikopter angkut, UH-60M punya kabin dengan ukuran
panjanh 3,8 meter, lebar 2,3 meter, dan tinggi 1,3 meter. Secara
keseluruhan kabin dan bagasi di heli ini punya volume masing-masing
11.2m³ and 0.5m³.
Untuk fasilitas pada kokpit mengandalkan teknologi glass cockpit
dengan basis fly by wire Common Avionics Architecture System (CAAS).
Dalam dashboard kokpit terdapat empat unit mission display dari Rockwell
Collins yang menyajikan situational awareness. Masih seputar avionik,
sistem GPS dipasok oleh Honeywell dengan dual GPS inertial (EGI)
navigation system. Kemudian electronic flight management systems dipasok
Marconi.
Soal dapur pacu, UH-60M disokong dua mesin General Electric
T700-GE-701D, dibanding varian lama, di UH-60M plat cover mesin dibekali
proteksi balistik untuk menahan terjangan proyektil. Setiap mesin mampu
menghasilkan tenaga 2.974 kW, dan dengan dalam kondisi darurat, mesin
tunggal dapat menghasilkan tenaga 1.447 kW. Dari segi performa, UH-60M
mampu melaju dengan kecepatan maksimum 511 km per jam, dan kecepatan
jelajah 280 km per jam.
Dengan konfigurasi standar, Black Hawk bisa membawa hingga 11
pasukan. Namun dengan konfigurasi khusus, UH-60M bisa disulap menjadi
helikopter serbu dengan racikan senjata jenis rudal anti tank AGM-114R
Hellfire dan roket Hydra 70. Senjata paling populer di UH-60 bisa
disebut berupa dua pucuk Gatling M134 Minigun kaliber 7,62 yang
ditempatkan pada jendela dibelakang kokpit.
UH-60M sudah masuk kelas helikopter battle proven, pasalnya
sudah malang melintang digunakan AS dalam Perang di Irak dan
Afghanistan. Sampai saat ini UH-60M masih dalam proses produksi,
mengingat AD AS total mengorder 956 unit dan diperkirakan pesanan baru
dituntaskan pada tahun 2026.
Pengiriman UH-60M pesanan militer Taiwan.Bagaimana
dengan UH-60M yang ingin diakuisisi TNI AD? Mengingat belum ada kontrak
pengadaan, maka belum diketahui berapa unit yang akan didatangkan untuk
melengkapi arsenal Puspenerbad. Bila memang nantinya UH-60M ‘berjodoh’
untuk TNI AD, maka Indonesia bakal menjadi negara kedua setelah Thailand
sebagai pengguna UH-60M di kawasan Asia Tenggara. Berapa harga satu
unit UH-60M Black Hawk? Situs fi-aeroweb.com menyebut pada
tahun 2015 harga total untuk satu unitnya mencapai US$16,96 juta, harga
ini belum termasuk kelengkapan paket senjata. (Bayu Pamungkas)
Spesifikasi UH-60M Black Hawk:
– Power Plant: 2x General Electric T700-GE-701D
– Length: 19,8 meter
– Height: 5,1 meter
– Rotor Diameter: 16,4 meter
– Weight (Empty): 4.819 kg
– Maximum Takeoff Weight (MTOW): 9.979 kg
– Capacity: Internal: 11 combat-equipped troops or 6 stretchers;
– Speed:280 km/h
– Rate of Climb: 3,6 m/s
– Service Ceiling: 4.627 meter
– Range: Ferry: 2.224 km
– Combat Radius: 593 km
– Crew: Four (two pilots and two crew chiefs)
Posisinya berjarak sekitar 200 meteran dari lokasi diparkirnya pesawat angkut berat RAF (Royal Air Force) Airbus A400M Atlas di Lanud Halim Perdanakusuma, Senin (6/3/2017). Ditengah fokus perhatian orang pada sosok tambun A400M, ada pesawat jenis light business jet
yang menarik perhatian, dibalut cat warna putih hijau, dan bertuliskan
“TNI AD Indonesian Army” plus logo Puspenerbad dengan nomer A9208,
pesawat ini memang mengundang keingintahuan, terlebih tak disangka bahwa
Puspenerbad ternyata punya pesawat jet bisnis yang tergolong mewah.
Pesawat yang kemudian diketahui berjenis Beechcraft 390 Premier I ini
bukan digunakan untuk misi intai, tidak terlihat perangkat elektronik
yang berkaitan pada fungsi ECM (Electronic Counter Measure).
Namun pesawat denga twin engine ini terbilang sangat khusus, pasalnya
memang difungsikan Pimpinan TNI AD untuk menjalankan tugas inspeksi ke
beberapa daerah. Sebagai pesawat yang biasa dianaki penumpang VIP,
Beechcraft 390 Premier I dengan kabin yang kecil hanya bisa membawa 6 – 7
penumpang. Sementara kru pesawat bisa satu atau dua orang.
Beechcraft 390 Premier I diproduksi Hawker Beechcraft Corporation.
Pesawat ini terbilang ringan, bobot kosongnya 3.719 kg dan bobot
maksimum saat take off disebut hanya 5.670 kg. Untuk membawa
efek ringan, komponen pada fuselage pesawat dibangun dari bahan
high-strength composite, carbon fiber/epoxy honeycomb. Dapur pacu
Beechcraft 390 Premier 1 dipasok mesin 2 × Williams FJ44-2A turbofan,
yang tiap mesinnya mampu menghasilkan tenaga 10.23 kN. Didapuk untuk
mengantarkan perwira tinggi TNI AD, Beechcraft 390 Premier I dapat
melesat dengan kecepatan maksimum 854 km per jam pada ketinggian 10.060
meter. Kecepatan jelajahnya sendiri ada di level 683 km per jam.
Dengan komposisi satu pilot dan empat penumpang, jet eksekutif ini
dapat terbang sejauh 2.648 km. Sementara ketinggian mengudara maksimum
12.500 meter.
Merujuk ke awal kehadirannya, Beechcraft 390 mulai dirancang pada tahun 1994 dengan kode proyek PD-374 (PD – Preliminary Design). Kemudian wujud mockup-nya
pertama kali diperlihatkan ke publik pada acara tahunan National
Business Aviation Association Convention pada September 1995. Sejak saat
itu pembangunan prototipe dimulai pada akhir 1996. Jenis Premier I
prototipe-nya diluncurkan pada
19 Agustus 1998 dan penerbangan pertama pada 22 Desember 1998. Setelah
empat prototipe dibuat, FAA akhirnya mengeluarkan sertifikat untuk
Beechcraft 390 Premier pada Maret 2001.
Selain digunakan oleh petinggi TNI AD, pesawat sejenis juga terbilang
laris manis dioperasikan beberapa perusahaan charter jet di Indonesia. (Gilang Perdana)
Spesifikasi Beechcraft 390 Premier I
– Crew: 1-2
– Capacity: 6-7 passengers
– Length: 14,02 meter
– Wingspan: 13,56 meter
– Height: 4,67 meter
– Wing area: 22,95 meter
– Empty weight: 3.627 kg
– Max. takeoff weight: 5.670 kg
– Powerplant: 2 × Williams FJ44-2A turbofan (10.23 kN) each
– Maximum speed: 854 km/h
– Range: 2,648 km
– Service ceiling: 12.500 meter
Biarpun TNI AD terus mendatangkan beragam jenis panser baru
untuk mencapai kekuatan esensial minimum, panser beroda ban V-150 yang
menjadi tulang punggung Batalyon Kavaleri 7 Sersus (Panser Khusus) masih
belum terdengar akan diganti.
Panser yang kenyang akan asam garam pertempuran ini sudah mencicipi perang di Timor-timur, Aceh, dan Papua. Seluruh trouble spot di dalam negeri sudah mendapat ‘sentuhan’ garangnya panser yang sering disebut ‘mobil setan’ oleh awaknya ini.
V-150 sendiri merupakan hasil pengembangan dan kawin silang dari panser V-100 dan V-200 buatan perusahaan Cadillac Gage.
V-100 dibeli oleh Polisi Militer AD AS untuk kendaraan pengaman
konvoi di Vietnam. Sedangkan V-200 adalah model ekspor yang ditawarkan
sebagai produk militer komersial.
V-150 menjadi model tengah yang memanfaatkan desain V-100 dengan mesin dan transmisi yang lebih bertenaga.
Desain lambungnya sudah mengadopsi V-hull yang antiranjau
membuatnya tahan dari ledakan ranjau yang sudah dibuktikan tidak hanya
sekali-dua kali oleh prajurit Kavaleri TNI AD.
Uniknya, kisah pembelian V-150 sendiri justru berasal dari inisiatif
Kolonel (Polisi) Jusuf Chuseinsaputra saat berkunjung ke Amerika Serikat
(AS) pada tahun 1970-an.
Saat itu ia sedang mencari panser pengganti M8 Greyhound
milik Brimob. Dalam kunjungannya ia meminta dicarikan informasi terkait
panser V150 buatan Cadillac Gage. Informasi tersebut kemudian dibawa
kembali ke Indonesia.
Panglima ABRI saat itu, Jenderal M. Panggabean, tertarik pada V-150
karena harganya yang terjangkau. TNI AD saat itu juga mempertimbangkan
panser roda rantai M113 yang berjaya di Vietnam, tetapi harganya waktu
itu terlalu mahal.
Pemerintah Indonesia pun melakukan pendekatan intensif ke AS agar
diijinkan untuk dapat membeli V-150. Presiden Soeharto pun melakukan
pendekatan khusus kepada Menlu AS Henry Kissinger. Jenderal M.
Panggabean juga terus bernegosiasi dengan Dubes AS untuk Indonesia David
Newsom.
Hasilnya, AS setuju untuk mendanai melalui program pembiayaan FMS (Foreign Military Sales) di tahun anggaran 1974 yang berbunga lunak.
Cadillac Gage kemudian menunjuk PT. Sunda Karya sebagai agen di
Indonesia untuk mengurus administrasi dan menjadi penghubung dengan TNI
AD.
Biaya yang dibutuhkan untuk membeli V-150 seluruhnya bernilai USD 7,9
juta. Pemerintah AS setuju jumlah total V-150 yang dibeli oleh TNI AD
adalah 58 unit.
Jumlah ini cukup untuk menjadi modal membentuk satu Batalyon, dalam
hal ini Yonkav 7 Sersus yang berlokasi di Cijantung, Jakarta Timur.
Dari total 58 unit, 46 unit di antaranya adalah varian dengan kubah
sederhana yang bersenjatakan dua pucuk senapan mesin M60. Sementara 12
unit sisanya tampil dengan kubah yang mengusung kanon 90mm L28 Mecar gun yang merupakan kanon dengan alur (rifled).
Kanon 90 mm ini merupakan kanon bertekanan rendah. Performanya mirip
dengan kanon Cockerill MkIII yang kemudian mempersenjatai tank ringan
Scorpion 90.
Uniknya, pemerintah AS bertindak selaku end user yang mewakili pemerintah Indonesia dalam proses sertifikasi kubah dan kanon Mecar yang dibeli dari Belgia.
Dari total 58 unit itu, empat unit dialokasikan untuk satuan Paspampres sebagai kendaraan escape Presiden Soeharto dan keluarga dalam kondisi darurat.
Pemindahan ke istana ini dilakukan secara diam-diam. Pasalnya, AS
secara eksplisit tidak setuju apabila V-150 digunakan menjaga istana.
Mereka khawatir panser itu akan digunakan untuk menembaki massa apabila
terjadi demonstrasi terhadap pemerintah.
V-150 mulai dikapalkan dari AS ke Indonesia pada tahun 1975.
Penampilan perdana V-150 di depan publik terjadi dalam parade hari ABRI 5
Oktober 1976.
Saat itu V-150 bergabung dengan sejumlah alutsista lain yang juga baru diperkenalkan ke publik, seperti OV-10 Bronco, Fokker F-27 Troopship, dan CASA-212.
Tak lama setelahhnya, V-150 pun dikapalkan ke Timor-timur untuk
melaksanakan misi tempur menumpas Fretilin. Palagan Timor-Timur inilah
yang menjadi pembuka lembaran awal sejarah panjang kiprah V-150 di
Indonesia.
Kopassus selama ini dikenal memiliki satu unit pasukan khusus
yang memiliki spesialisasi penanganan teror. Pasukan itu dikenal dengan
Sat-81 Penanggulangan Teror (Gultor).
Menelisik jauh ke belakang, Sat-81/Gultor berdiri pada dekade 1980-an
atas prakarsa dari L.B. Moerdani yang saat itu menjadi salah satu
dedengkot pasukan khusus dan TNI. Konon, pasukan ini dibentuk dengan
latar belakang kasus pembajakan pesawat Garuda Indonesia 206 di Woyla,
Thailand tahun 1981.
Luhut Binsar Pandjaitan dan Prabowo Soebianto didapuk menjadi
Komandan dan Wakil Komandan pertama Sat-81/Gultor. Mereka dikirim
ke Grenzschutzgruppe-9 (GSG-9) di Jerman untuk menjalani spesialisasi
teror. Sekembalinya ke Indonesia, mereka bertugas merekrut anggota yang
kelak menjadi penerus Sat-81/Gultor.
Namun, tahukah Anda jika saat ini Sat-81 tidak lagi menggunakan nama
Penanggulangan Teror atau Gultor di belakang namanya? Seorang perwira
menengah di Sat-81 menceritakan alasan penghapusan “brand” Gultor ini secara khusus kepada Angkasa dan Commando.
Tanpa menyebut tanggal pasti, ia menyebutkan bahwa nama Gultor di
Kopassus sudah dihilangkan sejak beberapa tahun yang lalu. Sehingga saat
ini nama resminya adalah Sat-81 Kopassus.
“Alasannya, sejak terjadinya serangan bom 2001 (teror gedung WTC di
Amerika Serikat), pola teror sudah berubah sama sekali. Perubahan ini
tentu merubah seluruh kemampuan kami,” ungkapnya.
Sejak saat itu, anggota Sat-81 dilatih ulang dan diberi kemampuan lebih banyak, tidak hanya sekadar penanggulangan teror.
“Saya tidak bisa sebut apa kemampuan lain yang kami latihkan. Tapi
yang jelas, kami sekarang tidak hanya spesialisasi di kasus
penanggulangan teror, tapi juga di beberapa hal lain,” tambahnya.
Jika dilihat bersama, kasus-kasus terorisme saat ini jelas jauh
berbeda dengan aksi teror di dekade 80 dan 90-an. Di masa itu, pola
teror lebih banyak menyandera masyarakat sipil, meminta adanya transaksi
untuk menebus para sandera.
Sebuah aksi teror di masa itu bisa memakan waktu berhari-hari, bahkan
berbulan-bulan. Pelaku teror pun cenderung lebih sabar dan membuka kran
perundingan.
Walau aksi-aksi yang konvensional itu masih ada, namun aksi teror
saat ini cenderung dikerjakan soliter dan dalam tempo yang sesingkatnya.
“Kebanyakan tidak ada lagi tawan-menawan sampai berhari-hari. Dalam
waktu sekian jam kalau tidak dituruti sandera langsung dibunuh. Atau
malah langsung membunuh saja tanpa ada permintaan apa-apa,” tambah
perwira tersebut.
Inilah yang mendasari TNI AD, dalam hal ini Kopassus, untuk mengubah
pelatihan penanganan teror dan menambah kemampuan lain pada anggota
Sat-81.
Meski tidak ingin membuka apa kemampuan lebih Sat-81 Kopassus saat ini, namun sang perwira memberikan satu bocoran.
“Cyber war (peperangan siber) sudah kami mulai walau masih sangat awal,” jelasnya.