Kamis, 25 Februari 2016

Perkuat Surveillance di Perbatasan, Menhan Pesan Drone Rajawali 330

P_20160216_143512

Koleksi drone alias UAV (Unmanned Aerial Vehicle) pesanan untuk TNI dari Kementerian Pertahanan bakal tambah beragam lagi, setelah ada Wulung dan Aerostar, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengungkapkan bahwa pihaknya akan menambah empat unit drone Rajawali 330 produksi PT Bhinneka Dwi Persada (BDP). Sama halnya dengan Wulung dan Aerostar, Rajawali juga mengusung mesin tunggal propeller dengan dimensi yang lebih kecil.

P_20160216_143054

“Kami akan menambah jumlah armada drone untuk memantau wilayah perbatasan, salah satunya dengan tipe ini. Adanya drone jelas akan mempermudah operasi surveillance bagi prajurit di lapangan,” ujar Ryamizard kepada  di ajang Singapore Air Show 2016 (16/2/2016). Lebih lanjut Menteri Ryamizard menyebut yang dibeli ada tiga unit Rajawali 330, dan satu unit sisanya merupakan bonus. “Maunya saya beli dua dapat bonus dua drone,” kata Ryamizard berkelakar.

Rajawali 330 nantinya bakal digunakan untuk kebutuhan intai TNI AD. Basis yang dipakai dalam produksinya mengacu pada platform UMS Skeldar dari Saab. Peran PT BDP kemudian ‘menjahit’ beberapa komponen dan fitur agar punya kemampuan serta spesifikasi yang dibutuhkan militer Indonesia.

P_20160216_153250P_20160216_153239

Lebih dalam tentang Rajawali 330, drone fixed wing ini mampu membawa payload seberat 10 kg. Untuk pesanan TNI AD, payload nantinya akan dipasang pilihan perangkat electro optical/infra red camera, FLIR (forward looking infra red), hyperspectral camera, atau mapping camera dengan Light Detection and Ranging (LIDAR). Selain mengandalkan conventional take off and landing, drone ini punya kemampuan semi prepared strip, pneumatic catapult, car top launcher, dan parachute recovery system. Untuk mendarat secara konvensional, Rajawali 330 hanya membutuhkan jalur 60 meter.

Sistem kendali dan navigasi Rajawali 330 tak beda dengan drone lainnya, dapat dikendalikan lewat remote dan dapat beroperasi otonom (autonomous) setelah mendapat setting waypoint GPS (Global Positioning System).

Meski sebagian komponen penting Rajawali 330 masih diinpor, beberapa material pendukung telah dibuat di dalam negeri. Terkait dengan pembelian ini, pihak PT BDP akan memberikan ToT (Transfer of Technology) pada user. Menurut rencana, pesanan pertama Rajawali 330 akan dikirim pada bulan Maret 2016, dan seterusnya hingga akhir tahun. (Haryo Adjie – Singapura)

Spesifikasi Rajawali 330
– Length: 2,27 meter
– Wingspan: 3,3 meter
– Height: 0,9 meter
– Payload: 10 kg
– MTOW: 21,5 kg
– Endurance: lebih dari 8 jam
– Cruise speed: 22 meter per detik
– Max speed: 36 meter per detik
– Take off run: 30 meter
 

TNI AU Lakukan Upgrade Radar Warning Receiver Untuk Armada Hawk 109/209

HawkTNI06

Self protection menjadi hal krusial pada pesawat tempur, salah satu teknologi yang kerap jadi acuan untuk urusan itu adalah RWR (radar warning receiver). Dan kabar terbaru, jet tempur taktis TNI AU jenis BAE Hawk 109 dan Hawk 209 bakal mendapat upgrade sistem RWR terbaru Selex ES SEER Self Protection RWR dari Finmeccanica, perusahaan elektronik pertahanan yang berbasis di Inggris.

Tidak dijelaskan berapa unit Hawk 109/Hawk 209 TNI AU yang akan di-upgrade RWR-nya. Pengumuman program upgrade RWR untuk Hawk TNI AU baru saja dirilis pada ajang Singapore Air Show 2016 (16/2/2016). Sebagai kontraktor pelaksana program upgrade adalah perusahaan Singapura yang merupakan rekanan Finmeccanica, Aptronics PTE Ltd. Sebagai tahap awal, Aptronics akan memasang batch pertama dari sistem upgrade tersebut. Nantinya, SEER Self Protection RWR akan menggantikan RWR lama yang terpasang saat ini dari jenis Sky Guardian 200 yang sudah usang.

img8932copy

SEER RWR dikembangkan oleh Finmeccanica Airborne and Space Systems Division, rancangannya mengambil platform SG200-D RWR yang digunakan pada helikopter angkut berat Chinook HC4/5/6 dan helikopter angkut sedang Puma H2C milik AU Inggris.

Sebelum dipilih oleh Indonesia, SEER Self Protection RWR telah digunakan pada jet latih tempur L-159 Advanced Light Combat Aircraft (ALCA) milik AU Ceko. Menurut pihak Finmeccanica, uji coba pada L-159 berhasil mengintegrasikan pesawat dalam moda peringatan serta identifikasi ancaman dari darat, udara, dan laut. Selama tiga jam, sistem RWR ini dapat beroperasi dengan akurasi tinggi dengan keandalan 100% selama latihan.

Hawk 209 dan Hawk 109.
Hawk 209 dan Hawk 109.

145422_620

Prinsip kerja RWR berlawanan dengan radar, jika radar pesawat memancarkan gelombang radar ke arah depan, maka RWR berfungsi sebagai penangkap gelombang radar dari arah manapun yang mengarah ke pesawat. RWR dapat mendeteksi pancaran radar yang datang dari segala arah karena antenanya dipasang di 4 posisi, yaitu 2 di kiri-kanan moncong pesawat dan 2 di kiri-kanan bagian ekor.

RWR dikenal sebagai penangkal rudal yang handal, Ini tak lepas dari penggunaan radar pesawat, kapal atau baterai rudal, sebagai perangkat utama untuk memandu rudal udara. Kinerja sistem rudal udara yang meluncur ke sasaran udara – baik rudal permukaan ke udara (SAM) maupun udara ke udara (AAM) – pada dasarnya relatif sama, yaitu radar pesawat, kapal, atau baterai SAM akan mencari target (searching), mengambil data jarak, ketinggian dan posisi sudut dari target terpilih (acquire/track), mengunci (lock on) lalu rudal ditembakkan (launch).

F-5E-Tiger-595x279

RWR harus diisi data radar pesawat, kapal, baterai SAM atau rudal yang digunakan di seluruh dunia, agar saat menangkap pancaran radar, monitor langsung menampilkan nama sumber radar sesuai bank data. Library akan mengkomparasi jenis radar, sehingga penerbang dapat menyimpulkan “friend, enemy or unknown”. Bila RWR tidak memiliki data radar yang lengkap maka monitor hanya menampilkan target yang tidak diketahui (unknown target). Permasalahan paling serius bagi pemakai jasa RWR adalah mahalnya harga yang dipatok produsen RWR untuk mengisi dan meng-update bank data radar.

TNI AU menerima paket armada 32 unit Hawk 109/209 pada tahun 1996, hingga kini setengahnya dipercaya masih beroperasi penuh. Armada Hawk TNI AU dibagi kedalam Skadron Udara 1 dan Skadron Udara 12. (Haryo Adjie – Singapura)
 

GlobalEye: Sistem Radar AEW&C Multimode dengan Extended Range dari Saab

GlobalEye

Pasar pesawat intai maritim di Indonesia masih terbuka lebar, khususnya sebagai calon pengganti Boeing 737 Surveillance Patmar (Patroli Maritim) Skadron Udara 5 TNI AU yang kondang dengan radar SLAMMR (Side Looking Airborne Multi Mission Radar). Mengingat tiga unit Boeing 737 Patmar TNI AU sudah digunakan sejak tahun 1982, maka dirasa perlu untuk mengganti sistem radar airborne yang mumpuni berbekal teknologi AEW&C (Airborne Early Warning & Control) terbaru.

Salah satu pabrikan yang cukup menonjol dalam solusi sistem radar AEW&C adalah Saab dari Swedia. Setelah sukses meluncurkan radar airborne Erieye pada platform pesawat Saab 340, Saab 2000, dan Embraer E145, kini Erieye yang telah diadopsi oleh Thailand, Brazil, Yunani, Mexico, Pakistan, dan Uni Emirat Arab, dikembangkan lebih maju lagi dengan sistem terbaru yang diberi label GlobalEye. Dibawah sistem GlobalEye, Saab menawarkan konfigurasi platform pesawat jenis Global 6000 buatan Bombardier, Kanada, dengan keunggulan EW&C dari basis radar Erieye yang ditingkatkan kemampuan kapasitas dan kapabilitasnya.

20160216-en-1105251-486658

“Dengan GlobalEye, kami menawarkan kemampuan intai yang mencakup air surveillance, maritime surveillance, dan ground surveillance secara simultan, sehingga lewat satu platform pengguna dapat mengadopsi konsep AEW&C secara efektif,” ujar Micael Johansson, head of Saab’s business area Electronic Defence Systems dalam jumpa pers di Singapore Air Show 2016 (16/2/2016).

yourfile-(1)

Dalam kapabilitas kemampuan radar, GlobalEye bisa disebut sebagai Erieye ER (Extended Range) yang menawarkan keunggulan jangkauan deteksi lebih jauh dan waktu reaksi lebih cepat terhadap ancaman. GlobalEye punya low level coverage 10 kali lebih besar dari Erieye, dan early warning time yang meningkat hingga 20 menit. Dalam simulasi, GlobalEye dapat mengendus sasaran dalam jarak 200 – 400 km. Fitur baru yang ditawarkan di GlobalEye juga mencakup wide-area ground moving target indication (GMTI) radar modes. Dengan fitur GMTI, GlobalEye sanggup men-track laju kapal (boat) kecil yang melaju kencang, jetski, rudal jelajah, pesawat berkemampuan steatlh, dan periskop kapal selam yang muncul sedikit di permukaan saja dapat diketahui.

Menanggapi potensi electronic warfare berupa aksi saling jamming dan beragam kekacuan elektronik di udara, GlobalEye sudah dirancang untuk bisa mengatasi hal tersebut. Seperti halnya sistem Erieye, GlobalEye yang berbasis sistem radar canggih AESA (active electronically scanned array) juga dirancang untuk bisa diadaptasi untuk platform pesawat jenis lain. Hal ini tak menutup kemungkinan kerjasama dengan manufaktur pesawat lain, sepanjang telah lulus dalam pengujian untuk kelayakan.

Global 6000
GlobalEye dipasang pada platform jet Global 6000 yang punya kemampuan terbang jarak jauh. Dari spesifikasinya, Global 6000 sanggup terbang sejauh 6.000 nautical mile (setara 11.112 km) pada kecepatan jelajah Mach 0,85. Dalam implementasinya sebagai pesawat intai GlobalEye, pesawat ini sanggup mengudara selama lebih dari 11 jam non stop. Pesawat ini juga sanggup lepas landas dan mendarat di bandara kecil, hanya dibutuhkan landas pacu kurang dari 2 km.

globaleye-system-overview_2

Berbeda dengan Global 6000 versi sipil, ditangan Saab pesawat jet twin engine ini dilengkapi peralatan long distance EO (electronic optic)/IR (infra red) sensor, maritime surveillance radar pada bawah bodi, AIS transponder system, ESM (electronic support measures)/ELINT (electronic intelligent), self protection system, datalinks, IFF (identification friend or foe), voice communication, satcom, dan tentunya radar Erieye ER yang disematkan pada bagian atas pesawat.

GlobalEye diawaki oleh dua orang (pilot dan copilot), serta empat orang awak operator pemantau radar. GlobalEye juga telah mendukung command and control system generasi terbaru. Operator duduk menatap layar monitor secara berjejer (sideway seated). Mengingat operasi intai yang kadang membutuhkan waktu cukup lama, maka kursi awak dirancang ergonomis, plus tersedia 6 seat rest area untuk awak kabin. Berangkat dari platform pesawat yang dipakai sebagai jet pribadi, kabin sudah dilengkapi low noise level dan pressure altitude.

Kini GlobalEye sedang dalam status produksi, setelah pada bulan November 2015 lalu, Uni Emirat Arab telah menandatangani kontrak pembelian dua unit GlobalEye SRSR (Swing Role Surveillance System) dengan nilai total US$1,27 miliar. (Haryo Adjie – Singapura)
 

LH-10 Guardian Surveillance: Pesawat Intai Ringan dengan Bobot 300 Kg!

capture_decran_2015-06-18_a_22.25.25

Bagi negara dengan kocek serba ngepas yang mengidamkan pesawat intai berkemampuan multirole, termasuk bisa melakukan close air support, maka salah satu pilihannya adalah mengadopsi pesawat ringan yang irit biaya operasional dan mudah perawatan. Diantara yang menonjol dipasaran saat ini ada LH-10 Guardian Surveillance, pesawat ringan berdesain ‘mini’ yang sekilas mengingatkan pada BD-15, pesawat jet mikro James Bond di film “Octopussy.”

Meski tak langsung ada kaitannya dengan kebutuhan TNI, dalam beberapa pemberitaan disebut saat Pameran Alutsista di Rapim TNI 2016 di Cilangkap, bulan Desember 2015 lalu, LH-10 Guardian Surveillance Mission ikut ‘ditampilkan’ oleh pihak peserta PT Sentra Surya Ekajaya, perusahaan swasta nasional yang namanya tak asing dalam memproduksi beberapa rantis untuk TNI. Selain dimensinya yang imut, LH-10 buatan LH Aviation, Perancis, menawarkan teknologi plug and play untuk beragam fitur dan kelengkapan taktis, alhasil LH-10 pas untuk misi intai maritim, intai kondisi lingkungan, intai infrastruktur obyek vital, dan intai wilayah perbatasan.

LH-10

2-aviation332

Dengan mesin tunggal Rotax 912 ULS flat 4-cylinder piston, LH-10 dapat meronda di udara selama 6 jam tanpa dukungan bahan bakar tambahan. Konsumsi bahan bakarnya pun terbilang super irit, yakni 6 liter per 100 km. Kecepatan pesawat memang tidak terlalu jadi poin utama, namun LH-10 sanggup terbang hingga kecepatan 370 km per jam, sementara kecepatan jelajahnya 269 km per jam. Secara teori, LH-10 dapat terbang hingga radius 1.500 km, sangat ideal sebagai pesawat intai ringan. Dalam brosurnya, malah disebut dengan setting endurance 7,5 jam, konsumsi bahan bakarnya bisa kurang dari 9 liter per jam. Total kapasitas bahan bakar internal yang dibawa adalah 70 liter.

Tampilan kokpit LH-10, kemudi pesawat sudah menggunakan HOTAS ((Hands on Thorttle and Stick).
Tampilan kokpit LH-10, kemudi pesawat sudah menggunakan HOTAS ((Hands on Thorttle and Stick).

Konfigurasi plug and play pada LH-10.
Konfigurasi plug and play pada LH-10.

Konfigurasi senjata pada versi militer.
Konfigurasi senjata pada versi militer.

Dengan konfigurasi dua kursi, LH-10 juga dapat menjalankan peran sebagai pesawat latih (trainer). Lain dari itu, LH-10 juga dapat berubah jadi wahana maut dengan perannya sebagai CAS (close air support). Dengan payload 250 kg, LH-10 ELF dapat dikonfigurasi untuk membawa machine gun pod, guided missile laser, dan guided bomb laser. Untuk menjalankan perannya, LH-10 dapat ditambahkan perangkat day and night camera, serta laser designator.

Kabarnya material LH-10 100% terdiri dari bahan carbon composite, menjadikan gerak aerodinamis pesawat cukup tinggi, dan bobot kosong pesawat hanya 300 kg. Bicara tentang akses komunikasi, karena kecepatannya tak terlalu tinggi dan ketinggian terbang low level, LH-10 dapat mendukung koneksi jaringan seluler GSM (Global System for Mobile Communication) yang di enkripsi, selain tentu ada link satelit, dan koneksi frekuensi radio VHF/UHF/HF.

LH-10 dalam versi drone (LH-D).
LH-10 dalam versi drone (LH-D).

Selain menawarkan versi sipil (LH-10 Ellipse), versi intai (LH-10 Guardian), dan versi CAS (LH-10 ELF). Pihak LH Aviation juga tengah mengembangkan versi drone (LH-D). LH-10 pertama kali terbang pada tahun 2007. Negara pengguna utama saat ini adalah Benin dan Maroko. Nah, berapakah harga LH-10? Dikutip dari situs Wikipedia, per unitnya dibandrol US$1,3 juta, itu adalah harga LH-10 versi militer yang sudah dilengkapi perangkat optronics (optical electronics). (Gilang Perdana)

Spesifikasi LH-10
– Crew: 2
– Wingspan: 8 meter
– Height: 2,4 meter
– Wing area: 4,5 m2
– Empty weight: 300 kg
– Max takeoff weight: 540 kg
– Payload: 250 kg
– Fuel capacity: 70 liter
– Powerplant: 1 × Rotax 912 ULS flat 4-cylinder piston, air- and water-cooled, 73.5 kW (98.6 hp)
– Propellers: 4-bladed ground adjustable pusher
– Maximum speed: 370 km/h
– Cruising speed: 269 km/h
– Stall speed: 106 km/h
– Range: 1.500 km
– Endurance: 6 – 7,5 hr
– g limits: +4.4/-2.2
 

Sotong AUV: Prototipe Drone Bawah Laut Rancangan Dalam Negeri

12

Ketika kapal hidro oseanografi terbaru TNI AL jenis OCEA OSV190 SC WB, yakni KRI Rigel 933 dan KRI Spica 934 tiba di Tanah Air, salah satu wahana andalan yang dibawanya adalah drone bawah laut, atau disebut AUV (Autonomous Underwater Vehicle) yang sanggup menyelam hingga kedalaman 3.000 meter. Namun jauh sebelum itu, para injiner di Indonesia juga sudah mampu meluncurkan prototipe AUV.

Dikembangkan oleh BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dan ITB (Institut Teknologi Bandung), sejak tahun 2004 telah dirintis pembuatan AUV yang diberinama “Sotong.” Diambil dari nama hewan laut, Sotong AUV telah diuji coba beberapa kali, seperti di kawasan waduk Jatiluhur, Jawa Barat. Sotong AUV dirancang untuk misi surveillance di bawah permukaan laut.

Sotong melaju di waduk Jatiluhur.
Sotong melaju di waduk Jatiluhur.

Dengan Sotong, operator di permukaan laut bisa melihat keadaan di dalam air secara realtime dengan menggunakan video yang dikirim dari kamera yang terdapat didalam wahana, dan Sotong mampu bergerak dengan panduan perangkat GPS (Global Positiong System). Secara teori, Sotong sanggup menyelam di kedalaman 100 – 200 meter (20 Bar), meski dalam uji coba baru bisa dilakukan maksimum sampai kedalaman 50 meter.

Konfigurasi bagian internal Sotong.
Konfigurasi bagian internal Sotong.

Sotong315

Sebagai penggerak digunakan baterai 150 Volt DC.15AH, baling-baling yang digunakan menggunakan tiga impeler dengan daya dorong cukup kuat. Sebagai elemen kendali, Sotong dilengkapi tiga sayap pengarah yang memungkinkan sotong bergerak dengan lurus. Seperti halnya AUV Hugin 1000 yang ada di KRI Rigel 933, semua tenaga AUV dihasilkan oleh baterai.

Kendali komunikasi Sotong AUV dapat dilakukan lewat manual (remote) dari ruang kendali di kapal permukaan, atau bisa juga dioperasikan secara otonom (autonomous). Beberapa peragkat yang dibenamkan pada Sotong mencakup depth sensor, leak sensor, acoustic modem, obstabcle avoidance sonar, kamera bawah air, sensor proximity, dan lampu.

dsc00077sotong2_1

Sotong digerakkan oleh tiga propeller.
Sotong digerakkan oleh tiga propeller.

Dalam pengembangan AUV, problem kualitas material menjadi perhatian penting, mengingat pada kedalaman 200 meter wahana rawan mengalami kebocoran akibat tekanan bawah air. Selain banyak berperan untuk misi penelitian sipil di bawah laut, AUV punya peranan strategis dalam peranan misi intai dan buru ranjau. Sebagai implementasinya, BPPT sebagai media penerapannya sudah berkerjasama dengan pihak Kementerian Pertahanan untuk mengembangkannya.

Setelah berhasil meluncurkan prototipe Sotong, selanjutnya akan dibangun “Bajul,” AUV ini digadang dapat menyelam hingga kedalaman 2.000 meter, kabarnya AUV yang lebih baru akan lebih handal kinerjanya dalam misi intai dan dilengkapi teknologi anti sonar, sehingga bisa bergerak layaknya pesawat stealth.(Danar)

Spesifikasi Sotong AUV
– Dimensi : 4,454 x 0,952 meter
– Diameter : 737 mm
– Berat di permukaan : 370 kg
– Berat di dalam air : 378 kg
– Payload : Side scan sonar
– Kedalaman Operasi : 100 – 200 meter
– Kecepatan Jelajah : 4 knots
– Navigasi : USBL tracking system,Obstacle Avoidance sonar, dan Inertial Measurement Unit
– Propulsi: 3 Vector Thruster (@ 1 Hp, 300N )
– Sumber Daya : Baterai 150 Volt DC.15AH
 

Mulai 2017, TNI AL Bertahap Pensiunkan Frigat Van Speijk Class

060715-N-4104L-015

Setelah 30 tahun bertugas di Satuan Kapal Eskorta (Satkor) TNI AL, dan setengah abad berlayar sejak dioperasikan AL Belanda, akhirnya enam unit frigat Van Speijk Class (Ahmad Yani Class) direncanakan untuk mulai dipensiunkan pada tahun 2017. Satu per satu Van Speijk Class TNI AL akan dipensiunkan bertahap, hingga akhirnya di tahun 2022 semuanya akan decommission.

Lebih dari tiga dekade, frigat Van Speijk Class menjadi kapal perang terkuat dan tercanggih Koarmatim, bahkan setelah datangnya korvet SIGMA Class 9113 (Diponegoro Class), debut Van Speijk Class masih sangat diperhitungkan, sebut saja untuk urusan penugasan dan operasional tempur, justru Van Speijk Class dipercaya jadi maskot kekuatan TNI AL. Eksistensi Van Speijk Class saat operasi pembebasan MV Sinar Kudus dari tangan perompak Somalia pada Maret 2011, serta kemampuannya sebagai platform peluncuran rudal Yakhont, menjadikan nama Van Speijk masih amat diperhitungkan.

Ujicoba penembakan rudal Yakhot dari KRI Oswald Siahaan 354
Ujicoba penembakan rudal Yakhot dari KRI Oswald Siahaan 354

Karena masuk kategori alutsista strategis, beragam program peremajaan dikebut TNI AL untuk memaksimalkan kemampuan tempur Van Speijk, selain upgrade sistem persenjataan rudal hanud (pertahanan udara) dan rudal anti kapal (anti ship missile), TNI AL juga merogoh kocek yang tak kecil untuk merenovasi sistem elektronik, seperti Combat Management System yang baru dipasok oleh PT Len.

Dari sisi permesinan, sejak dekade silam Van Speijk TNI AL sudah dilakukan program repowering. Aslinya Van Speijk class dan Leander class ditenagai sepasang mesin turbin uap (steamed turbin) yang mampu menyemburkan daya sebesar 30.000 shp. Daya sebesar itu mampu menggeber kapal hingga 28 knots (52 km per jam).

98191301fb5

Harus diakui jika mesin turbin uap tergolong berat, relatif boros bahan bakar, dan keseluruhan sistemnya makan tempat serta cenderung sulit dalam perawatan. Menyikap hal tersebut, TNI yang punya budget serba ngepas, secara bertahap mulai tahun 2003, mulai melakukan penggantian sistem propulsi sebagai bagian dari upaya peningatan performa Van Speijk class. Proyek pertama dimulai pada KRI Karel Satsuit Tubun 356 yang diganti mesinnya dengan jenis diesel Caterpillar CAT DITA, disusul kapal lainnya dalam kurun 2007 – 2008.

Pengecualian ada pada KRI Oswald Siahaan 354 yang mesinnya diganti dengan diesel SEMT Pielstick, mirip (meski dari sub tipe berbeda) dengan yang mentenagai korvet SIGMA class TNI AL. Dengan repowering, kini Van Speijk class mampu ngebut 24 knots (45 km per jam).

Nah, dari keenam unit Van Speijk Class, yakni KRI Ahmad Yani 351, KRI Slamet Riyadi 352, KRI Yos Sudarso 353, KRI Oswald Siahaan 354, KRI Abdul Halim Perdanakusuma 355, dan KRI Karel Satsuit Tubun 356, manakah diantaranya yang bakal pensiun lebih dulu? Seperti dikutip dari Janes.com (11/2/2016), sumber TNI AL saat rapat tahunan untuk perencanaan teknis dan logistik 2016 di markas Koarmabar (Komando RI Kawasan Barat), tidak dsebutkan siapa dulu diantara keenam Van Speijk yang akan pensiun duluan di tahun 2017.

Namun dapat dipastikan, bukan KRI Oswald Siahaan 354 yang akan pensiun di tahun depan, pasalnya frigat ini satu-satunya yang telah dipasangi rudal anti kapal berkemampuan jelajah dengan letalitas tinggi, Yakhont dari Rusia. Peran pengabdian Van Speijk nantinya akan digantikan oleh masuknya armada PKR (Perusak Kawal Rudal) SIGMA Class 10514 (Martadinata Class). (Haryo Adjie)
 

TNI Berencana Bangun Pangkalan Udara Militer di Indonesia Timur

Pilot dan petugas pendukung salah satu pesawat tempur F-16 Fighting Falcon dari Skuadron 3 TNI Angkatan Udara yang berbasis di Pangkalan Udara Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur, tampak bersiap-siap melakukan penerbangan patroli, tahun lalu. (KOMPAS/KORANO NICOLASH LMS)
Pilot dan petugas pendukung salah satu pesawat tempur F-16 Fighting Falcon dari Skuadron 3 TNI Angkatan Udara yang berbasis di Pangkalan Udara Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur, tampak bersiap-siap melakukan penerbangan patroli, tahun lalu. (KOMPAS/KORANO NICOLASH LMS)
 
Pemerintah telah menyampaikan bahwa akan meningkatkan anggaran pertahanan Indonesia. Sekretaris Kabinet, Pramono Anung mengatakan bahwa dalam rapat terbatas yang diadakan pada hari Selasa kemarin, Presiden Joko Widodo menuntut adanya pengembangan kemampuan pertahanan di seluruh wilayah Indonesia, tidak hanya terkonsentrasi di Jawa. Pramono juga menjelaskan bahwa pemerintah berniat mengalokasikan anggaran untuk militer Indonesia menjadi Rp 250 triliun jika pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di atas enam persen.
Tentara Nasional Indonesia (TNI) pun berencana untuk mendirikan pangkalan militer baru di Indonesia timur. Pilihan lokasinya adalah Biak dan Merauke di Papua serta Morotai di Maluku.
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menjelaskan bahwa pasukan Indonesia saat ini, khususnya Angkatan Udara, lebih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Ia menambahkan bahwa pangkalan Angkatan Udara di Yogyakarta dijadikan lokasi pelatihan pilot, sedangkan Malang Air Force Base di Jawa Timur telah digunakan sebagai rumah skuadron Hercules, serta pangkalan Angkatan Udara Madiun sebagai rumah jet tempur.

Terpusatnya pangkalan udara di Pulau Jawa tak hanya berperangaruh terhadap keamanan dan pertahanan Indonesia saja, namun juga telah menyebabkan padatnya lalu lintas penerbangan di beberapa daerah. Kondisi ini disebabkan penerbangan komersial dilarang melintas ruang udara di tengah pulau sehingga memaksa mereka untuk terbang melalui bagian utara Jawa.
“Jika kita lihat ini, pasukan pertahanan kami terkonsentrasi di Jawa. Ini tidak benar. Kami akan mengembangkan pangkalan militer di wilayah timur Indonesia. Hal ini dapat meningkatkan perekonomian daerah tersebut sementara pada saat yang sama memungkinkan pilot untuk berlatih kapan saja. Ada Biak, Morotai, Merauke dan sebagainya, “kata Jenderal Gatot Nurmantyo di Istana Presiden, Jakarta.
Jenderal Gatot Nurmantyo juga menegaskan bahwa TNI akan memperkuat pertahanan Indonesia di pulau-pulau terluar, seperti Alor, Lirang dan Wetar di Nusa Tenggara Timur. Hal itu perlu dilakukan untuk mencegah adanya gangguan keamanan maupun gangguan bagi kedaulatan Indonesia.
 
Jakarta Post