Minggu, 22 November 2015

Turntable Landing Ship Tank: Meja Putar Ranpur Berkapasitas Puluhan Ton

kapal-pengangkut-tank-tni

Dari segi daya guna, LST (Landing Ship Tank) bisa disejajarkan pentingnya dengan pesawat angkut berat C-130 Hercules TNI AU. Mengemban fungsi utama sebagai penghantar tank amfibi dari tengah lautan, kapal perang dengan kualifikasi LST jelas punya karakteristik, selain adanya tank deck dan pintu rampa, LST juga dicirikan dengan adanya fasilitas meja putar (turntable).

Uji turntable dengan tank PT-76 di KRI Teluk Bintuni 520.
Uji turntable dengan tank PT-76 di KRI Teluk Bintuni 520.

Turntable yang dimaksud tentu bukan alat pemutar piringan hitam, turntable di kapal LST adalah meja/plat yang digunakan untuk memutar arah kendaraan lapis baja di dalam tank deck. Seperti diketahui, umumnya LST dirancang dengan satu pintu ramp (ramp door) pada bagian haluan, dimana ramp door digunakan untuk masuk dan keluar kendaraan ke dalam tank deck.

Turntable di LPD KRI Teluk Makassar 590.
Turntable di LPD KRI Teluk Makassar 590.

Nah, karena hanya ada satu ramp door, maka kendaraan yang masuk ke dalam LST perlu memutar arah di dalam tank deck, tujuannya agar didapat posisi yang ideal untuk proses debarkasi basah, yakni proses pendaratan ranpur amfibi dari tengah laut. Debarkasi basah sendiri menjadi menu wajib dalam tiap latihan pendaratan amfibi berskala besar. Salah satu debarkasi basah yang paling monumental yakni saat operasi pendaratan amfibi Marinir TNI AL di lepas pantai kota Dili, Timor Timur saat mengawali operasi Seroja tahun 1975.

Pansam BTR-50 melaksanakan embarkasi ke tank deck LST.
Pansam BTR-50 melaksanakan embarkasi ke tank deck LST.

Armada tank PT-76 setelah melaksanakan debarkasi basah dari LST.
Armada tank PT-76 setelah melaksanakan debarkasi basah dari LST.

Prinsip turntable di LST serupa dengan turbtable untuk kereta api.
Prinsip turntable di LST serupa dengan turbtable untuk kereta api.

Prinsip turntable di LST sejatinya sama dengan pemutar arah lokomotif atau gerbong kereta api. Karena fungsinya cukup menting untuk memudahkan manuver kendaraan di ruang deck yang relatif terbatas, turntable kini juga digunakan pada LPD (Landing Platform Dock). Spesifikasi seperti dimensi dan bobot (payload) turntable tentu berlainan di setiap LST, pastinya disesuaikan dengan karakteristik dan jenis ranpur yang dibawanya. Untuk LST TNI AL yang kerap membawa ranpur tank PT-76 dan pansam BTR-50, diperkirakan bobot putarnya mencapai 20 ton.

_MG_8703-turntable

KRI Teluk Bintuni 520.
KRI Teluk Bintuni 520.

Beda lagi dengan KRI Teluk Bintuni 520, sebagai LST terbesar yang dimiliki TNI AL, kapal perang produksi dalam negeri ini justru punya turntable dengan kapasitas hingga 90 ton. Besarnya kapasitas turntable di KRI Teluk Bintuni 520 lantaran kapal ini digadang untuk membawa MBT (Main Battle Tank) Leopard 2A4 TNI AD yang bobot per tank mencapai 60-tonan. Dan hebatnya, turntable yang terpasang di KRI Teluk Bintuni 520 adalah buatan BUMN PT Pindad. (Haryo Adjie)
 
 

Tahun 2016, TNI AU Punya Pangkalan Udara ‘Pearl Harbor’

 

Pangkalan TNI AU Ranai, Natuna
Pangkalan TNI AU Ranai, Natuna

Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Agus Supriatna mengatakan pangkalan udara TNI AU Natuna dirancang untuk menjadi pangkalan militer terpadu.

“Kami memang bercita-cita membangun Pangkalan Udara TNI AU Natuna menjadi pangkalan militer terpadu, menjadi Pearl Harbor-nya Indonesia,” kata Agus di Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat, 20 November 2015.

Menurut Agus, Pearl Harbor merupakan pangkalan militer Amerika Serikat terbesar di Kepulauan Hawaii. Sedangkan, Pangkalan Udara TNI AU Natuna kini tipenya masih C dan akan ditingkatkan menjadi tipe B, yang dikomandani seorang kolonel.


Untuk saat ini, kata Agus, Kementerian Pertahanan menurunkan lebih dari Rp 200 miliar sebagai dana penguatan Pangkalan Udara TNI AU Natuna dan diharapkan sudah selesai pada 2016.

Pangkalan Udara TNI AU Natuna diperkuat karena perairan di sana jalur pelayaran strategis dan juga untuk memantau keamanan di perbatasan Indonesia dengan negara-negara lain. “Jika ada negara lain yang saling mengklaim, tapi Indonesia berdiri di wilayah itu sebagai pihak ketiga, akan ikut menjaga keamanan,” katanya.

Pearl Harbour di Pulau Oahu, Kepulauan Hawaii, Amerika Serikat, berada sangat jauh dari tanah induk Amerika Serikat. Pulau Natuna juga berada di tepi Laut Cina Selatan, yang dalam beberapa tahun terakhir makin menghangat sejalan klaim sepihak Cina atas hampir seluruh perairan itu.
Jadilah Pulau Natuna dan Kepulauan Natuna menjadi pagar penting bangsa ini menghadapi berbagai dampak dinamika di Laut Cina Selatan
 

Pertahanan Militer di Pulau Morotai Ditingkatkan

  Pesawat Sukhoi TNI AU terbang rendah melintasi dermaga kota Daruba, Pulau Morotai, Kamis (12/11/15) (Antara)
Pesawat Sukhoi TNI AU terbang rendah melintasi dermaga kota Daruba, Pulau Morotai, Kamis (12/11/15) (Antara)

Pulau Morotai atau Moroda’i dalam dialek bahasa setempat, sangat strategis dari sisi pertahanan dan militer. Bahkan Jenderal Douglas MacArthur, Panglima Sekutu di Pasifik, menjadikan Pulau Morotai sebagai pijakan penting dalam Perang Pasifik menghadapi Jepang.

Untuk itulah maka status Pulau Morotai dari sisi pertahanan dan militer Indonesia akan ditingkatkan. Wacana ini telah lama sebetulnya digaungkan.

Cuma di Pulau Morotai saja –sebagai misal– terdapat Pangkalan TNI AU Morotai dengan tujuh landas pacu paralel yang sebetulnya masih bisa dipakai.

Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, menyatakan hal itu. Akan ditingkatkan, baik pangkalan TNI AU-nya ataupun pangkalan TNI AL-nya.

Dengan memakai infrastruktur fisik sama juga, Bandar Udara TNI AU Leo Wattimena juga dioperasikan otoritas penerbangan sipil.


Di Pulau Morotai juga kini tengah digelar latihan gabungan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat TNI.

Latihan PPRC di Morotai
Latihan PPRC di Morotai

Pulau Morotai merupakan salah satu pulau terbesar di Maluku Utara. Di pulau yang secara administratif kabupaten pecahan dari Kabupaten Halmahera Utara tersebut banyak terdapat tempat-tempat bersejarah peninggalan Perang Dunia (PD) II.

Pulau Morotai menjadi lapangan terbang bagi Jepang selama PD II. Pulau ini kemudian diambil alih Amerika Serikat (AS) pada September 1944 dan digunakan landasan serangan pasukan Sekutu ke Filipina dan Borneo timur pada Mei dan Juni tahun pada awal 1945.

Latihan Penerjunan PPRC di Morotai
Latihan Penerjunan PPRC di Morotai

Pulau Morotai merupakan basis serangan ke Jawa pada Oktober 1945 yang ditunda setelah menyerahan Jepang pada bulan Agustus.

“Menurut penduduk setempat, Morotai berasal dari kata Morotia yang artinya tempat tinggal orang-orang moro. Orang moro adalah manusia misterius atau orang hilang (moksa) yang sulit dilihat dengan mata biasa, namun memiliki kebudayaan sebagai kelompok manusia biasa,” demikian dilansir situs web resmi Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai.

Merahputih.com

Kamis, 19 November 2015

China Borong Jet Tempur Rusia, Indonesia Menyusul

China Borong Jet Tempur Rusia, Indonesia Menyusul
Pesawat jet tempur Sukhoi Su-35 buatan Rusia yang tengah pamer kemampuan di pameran dirgantara Paris Air Show. (REUTERS/Pascal Rossignol)
China sepakat memborong 24 jet tempur terbaru yang diproduksi Rusia.
Sebuah perusahaan industri Rusia mengabarkan pada Reuters, Kamis, 19 November 2015, kesepakatan pembelian pesawat tempur ini membuat China menjadi negara asing pertama yang membeli Su-35.
Tapi rupanya, Indonesia juga menyatakan ketertarikan memborong jet tempur terbaru buatan Rusia.


Dikutip dari Sputniknews.com, perusahaan negara Rusia dalam urusan teknologi, Rostec, membenarkan kesepakatan tersebut.
"Sebuah negosiasi yang panjang dalam proses pengiriman Su-35 kepada China akhirnya selesai. Kami telah menandatangani kontrak," kata Kepala Rostec, Sergey Chemezov, seperti dikutip oleh harian Russian Kommersant, pada Kamis, 19 November 2015. Jet tempur Su-35 (NATO melaporkannya dengan nama Flanker-E) adalah jenis terbaru dan pengembangan dari jet tempur Su-27. Jet ini baru diperkenalkan pada publik saat Paris Air Show tahun 2013.

Menurut Sputnik, Indonesia, Brasil dan Emirat Arab adalah negara-negara yang juga tertarik untuk membeli jet tempur tersebut.

Pada Rabu, 18 November 2015, duta besar Indonesia untuk Rusia, Djauhari Oratmangun, mengatakan Join Komisi Rusia Indonesia dalam urusan kerja sama teknik militer akan segera memproses rencana pembelian Su-35 akhir November ini di Jakarta.

Viva. 

DSME dan DCNS Berkompetisi Menangkan Proyek Overhaul KRI Cakra 401

11610976fb4

Saat kapal selam Changbogo Class pertama tiba di Indonesia pada awal tahun 2017, maka kapal selam Type 209/1300 TNI AL telah memasuki usia 36 tahun pengabdian, maklum duo KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala resmi diserahterimakan ke Indonesia pada tahun 1981. Dengan usia Cakra Class yang kian menua, tak lantas kedua kapal selam ini akan dipensiunkan. Secara platform, Type 209/1300 masih serviceable, ditambah kedua kapal sudah pernah dilakukan repowering dan upgrade sistem elektronik.

KRI Cakra dalam sebuah defile
KRI Cakra dalam sebuah defile

KRI Cakra di Dermaga Ujung, Surabaya
KRI Cakra di Dermaga Ujung, Surabaya

Dibalik itu, Korps Hiu Kencana juga masih mengharapkan jumlah ideal 12 unit armada kapal selam. Bila pesanan Changbogo Class komplit pun, jumlah total kasel TNI AL baru mencapai jumlah lima unit. Yang dari segi kuantitas masih tertinggal dari Singapura dan Australia. Selain Cakra Class, TNI AL juga masih akan terus mempertahankan alutsista yang didatangkan pada awal 80-an. Diantara yang seumuran kasel Cakra Class ada frigat Fatahillah Class dan KCR (Kapal Cepat Rudal) Mandau Class.

Tekait MEF III
Pengadaan kapal perang, khususnya kapal selam jelas membutuhkan waktu deal kontrak yang tak sebentar. Belum lagi adanya kewajiban ToT (Transfer of Technology) bila si kapal dibeli dalam kondisi baru. Setelah kontrak pembelian disetujui, proses pembangunan kasel juga tak sebentar, rata-rata lewat dari 12 bulan, apalagi komponen kasel banyak dipasok dari negara lain sebagai pihak ketiga.

Tahap pemasangan torpedo SUT
Tahap pemasangan torpedo SUT

Hingga kini Indonesia telah memasuki fase Minimum Essential Force (MEF) II untuk periode tahun 2015 – 2019. Kemudian berlanjut ke MEF III di periode tahun 2020 – 2024. Pemenuhan kuantitas kasel 12 unit boleh jadi baru akan terealisasi pada MEF III, dan itu pun rasanya berat jika harus melepas postur dua unit kasel Cakra Class saat ini.

Dan melihat peluang operasional Cakra Class yang masih panjang, mendorong galangan kapal asing yang berkompeten dalam penguasaan teknologi kasel untuk menawarkan proposal paket maintenance, repair dan overhaul (MRO). Dikutip dari Janes.com (15/11/2015), mengutip sumber dari TNI AL, ada proposal yang masuk secara terpisah, yakni dari Daewoo Shipbuilding dan Marine Engineering (DSME), Korea Selatan dan DCNS, galangan kapal asal Perancis. DSME jelas bukan nama asing lagi, inilah galangan yang membangun produksi Changbogo Class. Ditambah DSME adalah galangan yang mengerjakan proyek repowering KRI Nanggala 402 pada tahun 2012 silam. Sebaliknya DCNS, belum lama ini baru saja menawarkan proyek kasel Scorpene Class 1000 ke Indonesia.

sumb4_big

Lebih lanjut isi proposal dalam proyek MRO mencakup pengaturan dan pembagian tugas yang dilakukan bersama mitra lokal, yakni PT PAL untuk skema ToT. Disebutkan proposal MRO ini bernilai US$40 juta untuk modernisasi KRI Cakra 401 agar dapat terus beroperasi maksimal hingga tahun 2024. Pada Januari 2014, pihak PT PAL memang pernah menyebut jika KRI Cakra 401 sudah dijadwalkan untuk menjalani MRO.

Menanggapi berita ini, baik pihak DSME dan DCNS menolak untuk memberi komentar lebih jauh. “Memang ada sebuah kompetisi dalam proyek ini, namun untuk alasan komersial dan klausul kerahasiaan, kami tidak bisa memberi komentar,” ujar juru bicara DCNS. Proyek MRO cukup strategis, nantinya mencakup perbaikan mesin, instalasi perangkat elektronik baru, penggantian tiang periskop, dan upgrade CMS (Combat Management System) baru.

KRI Cakra 401 sebagai flagship kasel TNI AL, di tahun 2004 sudah pernah dilakukan proses repowering di galangan DSME. Setelah perbaikan, kondisi kapal dapat mencapai 80-90%. Ini dapat dibuktikan dengan telah diujinya atau istilahnya NDD (Normal Diving Deapth) untuk mengetahui batas kedalamnya. Kemudiaan di tahun 2006, kRI Cakra 401 berangkat lagi ke Korea Selatan, saat itu untuk proses instalasi radar baru, sonar, dan sistem tempur. Nilai proyek pada tahun 2006 tersebut disebut mencapai US$60 juta.

KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402 mulai dibangun sejak tahun 1977 oleh galangan Howaldtswerke di kota Kiel, Jerman. Dan kedua kapal dengan bobot 1.395 ton ini resmi masuk arsenal TNI AL pada tahun 1981. (Haryo Adjie)
 

Pesawat Tempur KFX/IFX Nantinya Tidak Sepenuhnya Siluman

  033b5-kfx_heraldcorp

Pejabat Lockheed Martin akan mengunjungi Korea pekan ini untuk membahas transfer teknologi yang diperlukan proyek KF-X di negara itu.

Pejabat Lockheed Martin akan mengunjungi Defense Acquisition Program Administration (Dapa) pekan ini, “kata juru bicara Kolonel Kim Si-cheol, Selasa.” Pejabat perusahaan dan Dapa akan melihat kemajuan transfer 21 teknologi ke Korea. ”

Kim , menunjukkan bahwa transfer 21 teknologi, memang diatur dalam kesepakatan transfer, termasuk sistem kontrol penerbangan.

Kim menyatakan kewajiban kontrak untuk Lockheed Martin adalah mentransfer teknologi senilai $ 1.4 milyar, meskipun Lockheed Martin mengubah jenis transfer yang seharusnya diserahkan ke Korea (dari 25 hanya 21 yang diserahkan). Nilai kontrak yang dibayarkan Korea sesuai jumlah yang telah disepakati.


Proyek KF-X, merupakan pengembangan jet tempur generasi 4.5 pada tahun 2025 untuk menggantikan armada jet tempur F-4 dan F-5 Korea yang sudah tua, menghadapi kemunduran besar pada bulan April setelah pemerintah AS menolak untuk mengizinkan Lockheed untuk mentransfer empat teknologi inti yang terkait dengan F-35, termasuk radar AESA, ke Korea dengan alasan keamanan.

Di tengah meningkatnya kritik pada saat itu, Menteri Dapa Chang Myoung-jin mengatakan bahwa pemerintah AS berjanji untuk menyetujui ekspor sisa 21 teknologi.

Transfer 25 teknologi, termasuk empat yang dilarang, adalah kesepakatan yang diimbangi dengan pembelian 40 pesawat siluman F-35 oleh Korea Selatan.

Kim menambahkan bahwa KF-X tidak akan memiliki fungsi sepenuhnya sebagai pesawat siluman, tetapi hanya berteknologi mengurangi jejak radar cross section (RCS).

koreatimes

(News Update) Akhir November, Rusia-Indonesia Bahas Pembelian Su-35

  SU-35 (© Sputnik/ Grigoriy Sisoev)

Komisi gabungan kerjasama militer-teknis Rusia-Indonesia akan membahas pembelian Sukhoi Su-35 di Jakarta pada akhir November mendatang. Hal itu disampaikan oleh Duta Besar Indonesia untuk Rusia Djauhari Oratmangun.

Pernyataan Djauhari ini muncul setelah adanya pernyataan dari Menteri Pertahanan Indonesia, Ryamizard Ryacudu. Ryamizard mengatakan, pemerintah Indonesia akan membeli Su-35 untuk menggantikan F-5 Tiger. Pernyataan Djauhari juga datang beberapa hari setelah kepala Kerjasama Departemen Internasional Rusia Rostec, Viktor Kladov menuturkan bahwa Indonesia telah memutuskan untuk membeli Su-35 dan dalam waktu dekat Indonesia dan Rusia akan membahas mengenai pembangunan pusat layanan di Indonesia.


“Ini adalah pertanda baik, setelah perjanjian nyata akan muncul. Pada akhir November, pertemuan teknis dari komisi bersama kerjasama militer-teknis akan diselenggarakan, dan masalah ini akan menjadi salah satu topik utama,” ucap Djauhari, seperti dilansir Sputnik pada Rabu (18/11).

Namun, di kesempatan yang sama, Djauhari juga mengatakan, sejauh ini tender untuk pembelian salah satu pesawat tercanggih di dunia ini belum diumumkan oleh pemerintah Indonesia. SU-35 atau yang disebut oleh NATO sebagai Flanker-E adalah generasi terbaru Sukhoi, dan merupakan pengembangan dari Su-27. Jet tempur ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 2013 lalu, tepatnya pada pagelaran Paris Air Show.

Sindonews