Senin, 01 Juni 2015

FN HMP250: Senjata Pamungkas Heli Serbu NBO-105 Penerbad

FN HMP250
FN HMP250

Sebelum datangnya helikopter Mi-35P di tahun 2003, praktis TNI dan khususnya TNI AD belum pernah memiliki heli serbu yang dedicated. Peran heli serbu, sebelum hadirnya Mi-35P dipasrahkan pada sosok helikopter ringan atau helikopter sedang yang dipersenjatai. Dimana aslinya adalah heli angkut sipil yang kemudian dimunculkan kembali dalam versi militer. Diantara tipe-tipe yang populer seperti Bell 205 A-1, NBell-412, dan NBO-105 yang telah memperkuat kavaleri udara TNI AD selama tiga dekade belakangan.
Melihat potensi tantangan yang dihadapi berskala ringan dan sedang, terutama dalam operasi penumpasan GPK (gerakan pengacu keamanan) di Dalam Negeri, membuat adopsi persenjataan di lini heli serbu terbilang ‘sederhana,’ semisal sebelum hadirnya Mi-35P, heli serbu Penerbad belum mengenal keberadaan rudal anti tank. Penerbad baru mengadopsi rudal lewat jenis AT-9 Spiral-2 dalam paket pengadaan heli Mi-35P. Berkat adopsi rudal, otomatis daya deteren satuan heli serbu Penerbad memang meningkat, dan membawa pesan penting di kawasan.
Sejenak mari kita beralih ke era sebelum hadirnya Mi-35P, bagaimana ramuan sista di heli serbu Penerbad kala itu? Maka jawabannya akan mengacu pada kombinasi maut antara kegarangan SMS (senapan mesin sedang) dan roket. SMS khususnya jenis FN MAG GPMG (general purpose machine gun) kaliber 7,62mm yang diadopsi sebagai door gun. Sudah bukan rahasia lagi bila FN MAG GPMG menjadi kelengkapan door gun di heli Bell 205-A1 dan NBell-412. Kemudian untuk membabat target yang lebih masif, dipercayakan pada roket FFAR 2,75 inchi. Dalam gelar operasi, meski Bell 205-A1 dan NBell-412 punya kemampuan serbu, tapi peran kedua heli ini lebih ditekankan pada wahan transport untuk deploy pasukan secara cepat.
FN M3P, platform sista FN HMP250
FN M3P, platform sista FN HMP250
050_pod1g1139p0081425
Sementara untuk peran heli serbu, Penerbad lebih ‘mempercayakan’ pada jenis heli serba guna NBO-105 yang memperkuat skadron 21 yang bermarkas di Pondok Cabe. Dengan bobot yang ringan, menjadikan NBO-105 terbilang paling lihai dalam bermanuver. Kombinasi senjata yang dibawa pun lebih lengkap ketimbang Bell 205 A-1 dan NBell-412, sebut saja ada empat senapan mesin FN Herstal MO.32 kaliber 7,62mm yang ditempatkan dalam dua TMP (Twin Machine Gun Pods) atau dua senapan mesin berat kaliber 12,7mm NATO dalam dua FN HMP (Heavy Machine Gun Pods). Konfigurasi lain dari sista di NBO-105 adalah roket FFAR (Folding Fins Air Rockets) jenis T.905 kaliber 2,75 inc NATO dalam dua MLRS (Multi-Launch Rocket System).

FN HMP250
Setelah di artikel sebelumnya diulas mengenai FFAR, kini coba kita sedikit dalami sista andalan Penerbad di BO-105, yakni FN HMP (Heavy Machine Gun Pods). Pabrik FN Herstal-Belgia mengunggulkan HMP. 50 dengan kaliber 50. (12,7mm) Browning, yang intinya adalah senapan mesin M3P. Senjata ini dapat dipasang di bawah konstruksi sayap pesawat udara atau dibawah kerangka badan pesawat, atau dapat pula dipasang pada sisi samping helikopter dengan tempat kedudukan senjata model ‘belly.’
BO-105 Penerbad dengan etalase FN HMP dalam pameran ABRI tahun 1995
BO-105 Penerbad dengan etalase FN HMP dalam pameran ABRI tahun 1995
th_72139_PENERBAD04_122_444lo
BO-105 AL Mexico, dibekali FN RMP, yakni FN HMP yang diintegrasikan dengan 3 roket FFAR pada pod-nya
BO-105 AL Mexico, dibekali FN RMP, yakni FN HMP yang diintegrasikan dengan 3 roket FFAR pada pod-nya
Beginilah aksi FN HMP saat sedang mengumbar proyektil, sayang NBO-105 tidak dilengkapi sista ini
Beginilah aksi FN HMP saat sedang mengumbar proyektil, sayang NBO-105 tidak dilengkapi sista ini

Senjata ini memiliki ketepatan tembak pada jarak 1.500 meter dan masih mampu melakukan penembakan efektif untuk sasaran sejauh 3.000 meter. Senjata ini dapat dibuat dalam dua versi, pertama versi HMP (Heavy Machine Gun) pod dengan laras tunggal, kemudian ada versi TMP (Twin Mag Pod) dengan dua laras. Masukan amunisi dapat dilakukan dari sisi kiri atau pun kanan senjata. Dalam unit kemasan (pod) senjata dapat menampung sebanyak 250 amunisi.
Desain senjata ini sejatinya memang untuk melibas target di permukaan. Karena peran itu, sista ini cocoknya dipasang pada platform pesawat tempur sub sonic, alias pesawat yang mengudara dengan kecepatan rendah. Pihak FN menyebutkan, maksimum kecepatan pesawat untuk melepaskan tembakan adalah 0,75 Mach. Alhasil FN HMP memang ideal untuk tugas-tugas anti gerilya, baik dipasang pada pesawat sekelas Super Tucano atau helikopter. Jenis-jenis amunisi yang dapat ditembakkan dengan senjata ini antara lain tipe ball M33 tracer M17, armour piercing AP M8, API M8,  dan APIT M20. (Gilang Perdana)

Spesifikasi FN HMP250:
  • Kaliber : 12,7×99 mm
  • Panjang keseluruhan : 1,810 meter
  • Diameter : 420 mm
  • Berat total sistem senjata (termasuk 250 butir peluru) : 116 kg
  • Kecepatan pesawat maksimum untuk melakukan tembakan akurat : 0,75 mach
  • Voltase yang dibutuhkan : 26+4V DC
  • Kebutuhan tenaga untuk pengokangan kembali : 4 ampere
  • Kebutuhan tenaga untuk penembakan : 5,5 ampere
Indomil.

KRI Kupang 582: 31 Tahun Mengabdi, Berakhir Jadi Sasaran Tembak Exocet MM40 Block II

kri_kupang
Mengambil lokasi di perairan antara Pulau Raas, Sumenep dan Bawean, Gresik, pada hari Kamis lalu (28/5/2015), KRI Bung Tomo 357 (korvet Bung Tomo Class) dari Komando Armada Timur (Koarmatim) TNI AL, untuk pertama kalinya menjajal kesaktian rudal anti kapal Exocet MM40 Block II. Dan yang menjadi ‘kehormatan’ sebagai sasaran tembak adalah KRI Kupang 582, jenis kapal LCU (Landing Craft Utility) yang sebelumnya juga menjadi aset kekuatan Koarmatim.
Publikasi seputar keunggulan sistem senjata korvet Bung Tomo Class bisa dibilang cukup masif, maklum Bung Tomo Class yang terdiri dari KRI Bung Tomo 357, KRI John Lie 358, dan KRI Usman Harun 359, adalah kapal perang eksorta terbaru yang memperkuat armada tempur TNI AL. Tapi bagi kami, ada sisi lain yang menarik dari uji penembakan rudal Exocet MM40 tersebut, yakni profil sang kapal sasaran tembak. Dengan bobot tonase 370 ton, dimensi panjang 36,7 meter dan lebar 9,7 meter, KRI Kupang 582 adalah LCU yang berukuran sedang. Yang jadi menarik adalah KRI Kupang 582 adalah buatan galangan nasional PT PAL. Merujuk ke sejarahnya, KRI Kupang 582 selesai dirampungkan PT PAL pada tahun 1978, dan resmi masuk jajaran TNI AL pada 7 Desember 1984.
Upcara pelepasan KRI Kupang 582.
Upcara pelepasan KRI Kupang 582.

Sebelum nasibnya dijadikan sasaran tembak Exocet dari KRI Bung Tomo 357, KRI Kupang 582 resmi berhenti dari dinas aktif TNI AL pada 20 Juli 2015. Pelepasan KRI Kupang 582 dari dinas ditandai dengan pelepasan ular-ular perang, lencana perang serta penurunan Bendera Merah Putih dengan upacara militer yang dilaksanakan di Dermaga Koarmatim Ujung, Surabaya. Dalam operasionalnya, KRI Kupang 582 menjadi etalase kekuatan Satuan Kapal Amfibi (Satfib) Armatim.
Menurut siaran pers dari Dispenal, KRI Kupang-582 dengan 26 awak ini diberhentikan dari dinas aktif TNI AL berdasarkan pertimbangan strategis, teknis dan ekonomis, sudah tidak layak lagi untuk berperan lebih lama. Secara strategis kondisi KRI Kupang-582 tidak mampu lagi untuk menjawab tantangan yang berkembang saat ini, sedangkan secara teknis dan ekonomis, kondisi alutsista yang semakin tua maka biaya pemeliharaan dan perbaikan akan menjadi semakin berat dan sangat tidak sebanding dengan hasil operasi yang diharapkan, sehingga efisiensi pengoperasiannya dirasakan tidak memadai lagi.
Pada masa jayanya, KRI Kupang 582 banyak berperan dalam mendukung pergeseran pasukan, dan angkutan logistik antar Pulau. Sejak masuk kedinasan TNI AL, KRI Kupang 582 telah melaksanakan berbagai tugas operasi, diantaranya pada tahun 1992 telah mendukung Indusa Salvex-II dan Minex & Eodex, Gladi Parsial Armada Jaya-XV, Gladi Parsial Latgab ABRI, Mendukung Renang Laut Satkopaska, Bencana alam di NTT dan perkuatan Kodam IX/Udayana, pada tahun 1993 melaksanakan melaksanakan Latihan TIM Latih Pasrat Kima dan Latihan Salvex PSP-VII, tahun 1994 melaksanakan Indusa Eodex, Operasi Timor-Timur BKO DAM-IX/UDayana dan Kodal Kolinlamil tahun 1995, Latihan Pratugas Satuan Unit Ferry Ki Zeni Operasi Pemulihan Perdaiman PBB tahun 2002 serta Operasi Pantura tahun 2002 sampai 2009.
Dalam konteks saat ini, LCU telah diadaptasi TNI AL sebagai bagian integral dari kapal jenis LPD (Landing Plarform Dock). Seperti empat unit LPD TNI AL, yakni KRI Makassar 590, KRI Surabaya 591, KRI Banjarmasin 592, dan KRI Banda Aceh 593, masing-masing dapat membawa dua unit LCU. Meski LCU pada LPD TNI AL punya ukuran dan bobot lebih kecil, yakni bobot maksimum 62 ton dan panjang 24 meter.
Dari karakteristik, KRI Kupang 582 lebih kecil dari LCT (Landing Craft Tank) milik Dinas Pembekalan Angkutan Angkatan Darat (Ditbekangad) TNI AD, yakni KM ADRI XL VIII dan KM ADRI XLIX. LCT yang diproduksi galangan PT Dok Kodja Bahari ini punya panjang 68 meter dan lebar 13,5 meter.

Sempat Karam
Pada hari Sabtu malam (7/2/2009), KRI Kupang 582 dengan komandan Kapten Laut (P) Suyadi mengalami bocor pada pintu rampa (ramp door) setelah dihantam ombak besar dan arus deras di alur perairan barat Surabaya. Kapal saat itu dalam misi akan melaksanakan tugas menjemput Choirul Huda, seorang nelayan yang mengalami musibah tenggelam dan diselamatkan sebuah kapal Australia. Ketika itu Pemda Kabupaten Gresik meminta bantuan kapal perang Koarmatim menjemput Choirul sehubungan tidak adanya kapal yang berani berlayar karena cuaca buruk dan gelombang laut yang tidak bersahabat.
KRI-KUPANG
Meskipun 23 ABK KRI Kupang-582 berhasil diselamatkan, namun kapal kandas di kedalaman 4 meter di sekitar Boui 5 jalur APBS (Alur Pelayaran Barat Surabaya). Untuk upaya menyelamatkan kapal, pada saat itu juga Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda TNI Lili Supramono memerintahkan Kepala Dislambair Koarmatim Kolonel Laut (S) Darmansyah Nasution untuk mengadakan penyelamatan kapal agar dapat ditarik ke Markas Koarmatim.
Proses pengangkatan yang memakan watu 45 hari itu semuanya dilakukan secara manual. Dengan menerjunkan 30 personel penyelam. Dislambair mulai melaksanakan tugasnya dengan menjadikan beberapa tangki KRI Kupang 582 sebagai ruangan kedap berisi udara berkemampuan angkat 360 ton, selain itu juga menempatkan sejumlah drum hampa udara ke badan kapal. Setelah haluan kapal berhasil menyembul ke permukaan, selanjutnya 5 buah balon udara yang memeliki tekanan 50 ton Psi membantu menuntaskan pengangkatn kapal perang berbobot 378 ton tersebut. (Gilang Perdana)

Sabtu, 30 Mei 2015

Laut China Selatan Bisa Jadi Konflik Paling Mematikan

Laut China Selatan Bisa Jadi Konflik Paling Mematikan
Pesawat mata-mata P8-A Poseidon milik AS. (US Navy)

Menteri Pertahanan Malaysia Hishammuddin Hussein, Sabtu, 30 Mei 2015, mengatakan sengketa Laut China Selatan bisa menjadi salah satu konflik paling mematikan, yang pernah terjadi dunia.

Berbicara pada para delegasi pada forum pertahanan Shangri-La Dialogue di Singapura, Hishammuddin mengatakan tantangan global baru muncul dari konflik lama, menyerukan dipatuhinya hukum di wilayah yang diperebutkan.

"Jika kita tidak hati-hati, itu akan meningkat menjadi konflik paling mematikan di masa kita, jika bukan sepanjang sejarah," kata Hishammuddin yang dikutip oleh laman Channel News Asia.

Dia memperingatkan, hanya karena terlihat damai di kawasan, tidak berarti menghalangi munculnya prospek konflik. Amerika Serikat (AS) dan China, telah menyuarakan pandangan mereka yang bertentangan secara terbuka.

AS menuding reklamasi China di Laut China Selatan, sebagai aktivitas yang mengkhawatirkan, sementara China bersikeras apa yang mereka lakukan, adalah bagian dari kedaulatan negaranya.

Beijing mengatakan telah menahan diri, menyebut AS berkontribusi atas meningkatnya ketegangan di kawasan. Hishammuddin mengatakan semua pihak harus bertanggungjawab, untuk menjaga perdamaian dan stabilitas.

"Retorika berapi-api tidak akan memberi kebaikan bagi negara mana pun. Itu mungkin terlalu optimis untuk meyakini, bahwa kita bisa mencegah konflik dan eskalasinya dari waktu ke waktu," ucapnya.

Dia menambahkan bahwa negara-negara dapat bertindak, sesuai dengan apa yang mereka anggap pantas di wilayah kedaulatannya, namun harus mewaspadai konsekuensi dari keputusan mereka.

"Dunia ini tidak dapat menanggung konflik global lainnya. Dunia ini tidak dapat menanggung lebih banyak ketidakjelasan, ketidakstabilan, kematian dan kerusakan," ujarnya.
 

Mengenal Batalyon Banteng Raider

 
image
Indonesia memiliki 18 Pos perbatasan dengan Papua New Guinea yang harus diamankan termasuk oleh Yonif 400/Raider (Banteng Raider), yaitu Pos Komando Taktis (Arso Kota) Perwakilan/Kalan (Abepura), Pos Komando Utama (Arso Tami). Didalam wilayah pos tersebut terdapat 3 (tiga) Kompi yaitu Kompi A terletak di Kp. Wembi dan membawahi 4 pos yaitu Pos Udara Bewan Baru, Pos Kaliasin, Pos Kaliup, Pos Km76. Kompi B terletak di Kp. Kalipay dan membawahi 3 pos yaitu Pos Ampas, Pos Waris, Pos Kalibom. Kompi C terletak di Kp. Yabanda dan membawahi 3 pos yaitu Pos Yabanda Lama, Pos Kalipao, Pos Kalilapar.
Selain menjaga perbatasan, tugas mereka juga untuk membangun wilayah tersebut, tentu dengan kapasitas yang mereka miliki.
“Sesulit apapun kondisi di wilayah penugasan, itu bukanlah suatu halangan bagi prajurit 400/Raider, hal tersebut seperti layaknya semboyan Raider yaitu Banteng Raider Pantang Mundur”, ujar Komandan Satgas (Dansatgas) Yonif 400/Raider Letkol Inf Heri Bambang Wahyudi, dalam kunjungannya ke perbatasan RI-PNG, pertengahan Mei 2015.
Dalam setiap peninjauannya, Dansatgas Yonif 400/Raider selalu melakukan pengecekan kebersihan pos, mulai dari dapur, kamar tidur, kamar mandi, lingkungan pos, penampilan anggota mulai dari cukuran rambut sampai kerapihan pakaian, termasuk kebersihan senjata perorangan. Selain itu, Dansatgas juga mengapresiasi kepada prajurit yang aktif dan kreatif melaksanakan kegiatan pembuatan rak tanaman untuk sayuran, pembuatan lahan tidur menjadi kebun sayur, melaksanakan kegiatan karya bhakti, membantu mengajar di sekolah, melaksanakan pengobatan ke rumah-rumah saat patroli, dan melatih masyarakat bermain bola voly.
image
image
Komandan Satgas mempunyai peranan yang sangat penting karena harus bisa mengatur semua kegiatan pos-pos Satgas yang sudah dibuat dengan berpedoman pada tugas pokok Satgas Pamtas, ini tidak mudah sehingga setiap awal dan akhir bulan Komandan Satgas selalu melaksanakan pengecekan ke pos-pos satgas yang ada di bawah komandonya.
“Setiap hari komandan selalu memonitor kegiatan dan kondisi kesehatan melalui komunikasi radio, ini sebagai bentuk perhatian komandan terhadap anak buah karena yang terpenting adalah kegiatan terlaksana dengan mempertimbangkan faktor taktis dan keamanan, namun yang terpenting adalah kondisi anggota di pos harus selalu sehat dan aman”, kata Letkol Inf Heri.
Batalyon Yonif 400/Raider atau lebih dikenal dengan sebutan BR (Banteng Raider) merupakan salah satu Batalyon Pemukul dari Kodam IV/Diponegoro yang mendapatkan kepercayaan untuk melaksanakan tugas pengamanan perbatasan wilayah RI-PNG, bersama 450 prajurit lainnya, diterjunkan untuk bertugas di wilayah Arso Kota sampai dengan Yabanda.
image
image
Satgas Yonif 400/Raider merupakan satuan dibawah Brigif 13/1 Kostrad, dimana Brigif 13/Kostrad merupakan Komando Sektor Utara Satgas Pamtas RI-PNG yang bertugas melaksanakan operasi pengamanan perbatasan di sepanjang perbatasan darat RI-PNG, mulai dari Patok Batas Negara MM-1 s.d MM-7.2 untuk melaksanakan patroli keamanan, mencegah kegiatan illegal dan melaksanakan kegiatan teritorial.
Brigif 13/1 Kostrad membawahi 3 Batalyon tempur yang digelar sepanjang perbatasan RI-PNG di wilayah sektor utara, Yonif 323 di sepanjang sektor pengamanan perbatasan Batalyon mulai dari Skouw sampai dengan Bewan Lama,Yonif 400/ Raider di wilayah Arso Kota sampai dengan Yabanda, dan Yonif 133 mulai dari Kalimao sampai dengan Iwur.

Puspen TNI

Australia Ingin Bongkar Senjata Pindad

 
SS2 V4 Pindad
SS2 V4 Pindad

Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan ada kejadian tidak mengenakkan ketika perwakilan TNI AD mengikuti perlombaan menembak di Australia pekan lalu. Dalam perlombaan Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) itu, tim TNI AD menang telak mengalahkan Australia, Amerika, dan sejumlah negara Eropa. TNI AD mengantongi 30 medali emas dari 50 medali yang diperebutkan.
“Karena perbedaan perolehan medali yang begitu mencolok, panitia Australia hendak membongkar senjata kami,” kata Gatot kepada wartawan di Markas Besar TNI AD, Jakarta, Jumat, 29 Mei 2015.
Namun Gatot menolak memberikan izin kepada panitia lomba membongkar senjata-senjata yang dipakai perwakilan TNI AD. Jika panitia lomba hendak membongkar senjata TNI, Gatot pun meminta senjata semua peserta juga dibongkar.
Jenderal Gatot pun membantah isu yang menyatakan bahwa peserta lain dalam lomba tersebut mengalah untuk Indonesia. Menurut Gatot, kehormatan negara dan kesatuan militer para peserta dipertaruhkan dalam lomba tersebut. Dengan demikian, mustahil jika ada perwakilan negara tertentu yang pura-pura kalah. “Apakah Marinir Amerika Serikat mau mengalah dalam lomba menembak? Tentu tidak,” ujarnya.
Salah satu anggota kontingen TNI AD, Sersan Dua Misran, juga mengatakan bahwa Australia dan negara peserta lainnya kaget melihat perwakilan Indonesia memborong medali. Menurut Misran, panitia lomba mencurigai ada kecurangan dalam spesifikasi pistol G2 dan senapan serbu SS2 V4 buatan PT Pindad Persero yang dipakai personel TNI AD. “Padahal spesifikasi kami sama dengan senapan M-16 buatan Amerika Serikat yang dipakai juga di lomba itu,” tutur Misran.
Sebelumnya, dalam lomba bertajuk Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM), perwakilan Indonesia mampu mengalahkan tim tuan rumah, Amerika Serikat, dan Inggris dengan nilai telak.
Pada klasemen akhir, kontingen Indonesia berhasil mendapat 30 medali emas, 16 perak, dan 10 perunggu. Sedangkan Angkatan Darat Australia, yang duduk pada posisi kedua, mengantongi 4 medali emas, 9 perak, dan 6 perunggu. Perwakilan Amerika Serikat yang bertengger pada posisi ketiga mendapat 4 medali emas, 1 perak, dan 2 perunggu.
Dalam lomba tersebut, TNI AD menurunkan 14 prajurit terbaiknya yang berasal dari kesatuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dan Komando Cadangan Strategis (Kostrad). Lima staf dan dua tenaga ahli dari PT Pindad juga ikut serta menemani 14 prajurit TNI AD.
Tempo.co

Jenderal Terkenal dari Laos Ini Dulu Dilatih Kopassus

Jenderal Kong Le (ist)
Jenderal Kong Le (ist)

Inilah Jenderal Kong Le, seorang prajurit tangguh yang memiliki jasa besar terhadap negerinya dari invasi Viet Minh, pasukan komunis Vietnam di bawah kepemimpinan Ho Chi Minh. Dia anggota Angkatan Darat Kerajaan Laos, dan bergabung bersama pasukan payung.
Ketangguhannya dalam menjalani pertempuran membuatnya diberi kepercayaan untuk memimpin Batalion Parasut ke-2. Pasukan yang dipimpinnya ini memiliki pengalaman tempur dengan pasukan Viet Minh dalam rentang tahun 1959 dan 1960.
Kong Le bergabung dengan Angkatan Darat Kerajaan Laos pada pertengahan 1951, tidak lama setelah menyelesaikan pendidikan formalnya. Kemampuan bela diri membuatnya didaftarkan ke dalam Sekolah Kandidat Perwira angkatan ketiga di Dong Hene, Kamboja.
Penugasan pertama diberikan setelah OCS menempatkannya bersama Kapten Ouane Rattikone di Luang Prabang. Kemudian, dia dikirimkan untuk mengikuti pelatihan Ranger Intai di Fort William McKinley, Filipina pada 1957. Sekembalinya dari sana, dia langsung bergabung bersama Batalion Parasut ke-2.
Selain berlatih perang di Filipina, ternyata Kapten Kong ini juga pernah dilatih oleh Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha, kini Kopassus). Hal ini diungkap Luhut Pandjaitan kepada Hendro Subroto dalam bukunya ‘Para Komando: Perjalanan Seorang Prajurit’ terbitan Kompas.
“Korps Baret Merah mendidik pasukan Republik Kamboja maupun pasukan Pemerintah Laos untuk memperoleh kualifikasi para dan komando. Salah satu siswa komando dari Laos adalah Kapten Kong Le, kemudian hari menjadi seorang jenderal karismatik dalam memimpin Laos.”
Setelah mendapatkan mandat untuk memimpin sebuah batalion, Kong Le memimpin sebuah pemberontakan terhadap Raja Laos. Dia dan pasukannya memimpin sebuah pemberontakan pada 10 Agustus 1960 untuk menjatuhkan pemerintahan Laos. Kepada rakyatnya, dia menyebut tindakannya ini untuk memberangus korupsi di tubuh pemerintah dan untuk mengejutkan para perwira AS. Tak hanya itu, dia juga menuding kebijakan AS jadi penyebab kekacauan di Laos.
Namun, aksinya ini dapat diberangus dengan cepat pada 14 Desember 1960, oleh Jenderal Phoumi Nosavan. Kong Le, yang kemudian mengangkat dirinya sebagai Mayor Jenderal, bersama pasukannya melarikan diri hingga ke lokasi strategis bernama Plain of Jars. Di sana dia melakukan perekrutan baru, serta mendirikan Pasukan Bersenjata Neutraliste, dan menyebabkan Laos terlibat dalam perang saudara.
Setelah menjalani pertempuran panjang, kemampuan pasukannya ternyata tak mampu menandingi pasukan Kerajaan Laos. Tak hanya itu, mereka juga menghadapi masuknya sejumlah pasukan Vietnam Utara yang melintasi markas utamanya. Berbagai kekalahan lantas membuatnya melarikan diri dari Laos pada 17 Oktober 1966.
Sepanjang pelariannya, dia pernah bersembunyi di Indonesia, Hong Kong, AS. Dia menghembuskan napas terakhirnya saat berada di Prancis, awal tahun lalu.(Merdeka)

TR2400: Tactical Radio Infanteri TNI AD dengan Kemampuan Hybrid Analog Digital

IMAG1389
Selain bekal strategi perang yang mumpuni, senjata yang handal, dan mental personel yang kuat, harus diakui faktor penting yang jadi penentu keberhasilan dalam pertempuran infanteri adalah sistem komunikasi. Dan bicara sistem komunikasi pada lingkup infanteri, khususnya pada level pleton dan regu maka tak bisa dipisahkan dari keberadaan tactical radio (radio taktis) yang biasa dibawa dengan ransel (manpack) oleh prajurit operator radio.
Menyadari komunikasi antar satuan tempur begitu vital, infanteri di lingkungan TNI AD, TNI AL (Marinir), dan TNI AU (Paskhas) akrab dengan keberadaan tactical radio. Salah satu jenis tactical radio yang legendaris adalah AN/PRC-77. Radio ini pertama kali digunakan pada tahun 1968, dan langsung dioperasikan oleh GI (tentara AS) di Perang Vietnam. PRC-77 merupakan pengembangan dari seri AN/PRC-25, dimana tambahan kemampuan PRC-77 mencakup pada kekuatan amplifier, dukungan enkripsi voice, dan penggunaan vacuum tubes.

65113742
Meski sudah usianya sudah sangat tua, hingga kini PRC-77 yang mengandalkan teknologi analog masih dioperasikan di beberapa satuan TNI AD. Namun, sesuai tuntutan jaman, tactical radio jenis yang lebih baru pun sudah digunakan di lingkungan TNI AD, khususnya di Divisi Infanteri Kostrad. Yakni tactical radio TR2400 buatan Saab Grintek Communication Systems, Afrika Selatan. Dibanding PRC-77, TR2400 yang lebih modern punya banyak keunggulan, dari tampilan interface-nya sudah dilengkapi panel digital untuk beragam fungsi yang memudahkan operator.
Dari golongannya, TR2400 masuk dalam segmen HF (high frequency) transceiver yang berjalan di frekuensi 1,6 – 30 Mhz. Tactical radio ini menawarkan teknologi digital signal processing (DSP) untuk frekuensi tinggi hopping. Frekuensi Hopping adalah teknik lama yang diperkenalkan pertama kali dalam sistem transmisi militer untuk menjamin kerahasiaan komunikasi dan jamming tempur. Frekuensi Hopping adalah mekanisme di mana sistem perubahan frekuensi (uplink dan downlink) selama transmisi secara berkala. Hal ini memungkinkan saluran RF yang digunakan untuk pensinyalan kanal (SDCCH) timeslot atau saluran lalu lintas (TCH) timeslots, untuk mengubah frekuensi setiap frame TDMA (4,615 ms). Beberapa unggulan fitur radio ini adalah:
• Komunikasi dual band (FM dan AM ground to air/OTA). Komunikasi antar darat dan laut pada modulasi VHF 30 – 55 Mhz. Dengan kemampuan komunikasi ground to air, operator TR2400 dapat menjalankan peran pemandu tembakan dari pesawat tempur. Istilah dalam militer disebut sebagai ground FAC (forward air control).
• Multi role dan full military spec, dapat digunakan dalam berbagai medan operasi, dapat di adopsi mulai dalam moda manpack (radio panggul), base station, kendaraan taktis, ambulance, dan kapal laut.
48963780
• Multi mode, baik analog dan digital voice. Dilengkapi fitur komunikasi konvensional dengan suara analog maupun digital. Saat menggunakan kanal analog, juga dilengkapi sistem pengacak analog (AVS)
• Dilengkapi sistem pengamanan, berupa frekuensi hopping dengan kecepatan 100 hope per detik. Selain itu, TR2400 dibekali sistem pengacakan (encryption).
• Untuk mengetahui lokasi dan pergerakan radio lawan, ada fitur GPS (Global Positioning System) Blue Force Tracking.
TR2400-1
• Kemampuan daya pancar minimum 1 watt dan maksimum 10 watt dengan ketahanan selama delapan jam untuk menerima/standby. Sementara kemampuan untuk memancar hingga dua jam.
• Saat digunakan dalam manpack, daya yang digunakan 25 watt, sementara bila digunakan pada kendaraan dengan daya 100 watt. Konfigurasi sebagai base station hingga 320 watt.
• Tahan digunakan dalam lingkungan ekstrim dengan rentang suhu -30 hingga 70 derajat Celcius.
• Tahan di dalam air hingga kedalaman 1 meter.
• Mudah dalam pemeliharaan berkat konstruksi modular.
• Dilengkapi 99 channel memori dari panel atau dari PC, TR2400 dapat mengirimkan sinyal morse, email dan transfer file.

Spesifikasi TR2400
– Rentang frekuensi: 1,6 – 30 Mhz
– Dimensi perangkat: 296 x 231 x 93 mm
– Berat: 4,5 Kg
– Baterai: Lithium ion
– Power supply: 20 volt – 32 volt
– Output daya: 2,5 – 25 Watt
– Data: Modem MIL-STD-188-110A (2400 bit), STANAG 4285 (2400 bit modem), dan STANAG 4415 (75bps)
– Data Link Protocol (DLP): STANAG 5066 dan Internal ARQ SMS