Jumat, 17 April 2015

Eurofighter Typhoon, Transfer Teknologi dan Bayang-bayang Embargo

 
image
Eurofighter Typhoon adalah pesawat tempur multirole dengan sayap delta, memakai mesin ganda yang dibangun oleh gabungan perusahaan senjata terkemuka di Eropa. BAE systems Inggris, CASA spanyol, Alenia Aeronautika Italia dan EADS Deutschland Jerman.

Spesifikasi Teknis :
Harga.            : Rp 1.26 Triliun
Panjang.         : 15.96 m
Lebar sayap  : 10.95 m
Tinggi.            : 5.28 m
Berat kosong : 11.150 kg
Mesin.             : 2 × Eurojet EJ200 afterburning turbofan
Daya Jelajah. : 2.900 km
Kecepatan maksimum : Mach 2
Dalam banyak latihan tempur udara bersama, Typhoon mempunyai prestasi yang cukup baik, kelincahan Typhoon diharapkan mampu dipakai untuk menghadapi semua pesawat tempur lawan. Dalam simulasi tempur udara dengan Singapura, Typhoon mampu mengalahkan F-16 dan F-15 Singapura.
Pada latihan Indra-Dhanush tahun 2007, disebutkan bahwa Angkatan udara India memakai Sukhoi 30MKI untuk menghadapi Angkatan udara Inggris yang memakai Typhoon. Hasilnya adalah pilot SU-30MKI mengakui bahwa pesawat tempur Typhoon adalah pesawat tempur yang lincah. Walaupun terkesan dengan kelincahan Jet Typhoon, India tidak memilih Typhoon sebagai pesawat tempur Medium Multi-Role Combat Aircraft (MMRCA). India memilih Dasault Rafale sebagai penyedia 126 jet MMRCA.
Konsorsium Eropa berharap Typhoon mampu menjadi kekuatan inti pertahanan udara Eropa, oleh karena itu, selain lincah, Typhoon juga dibuat dari material semi stealth, memiliki kemampuan STOL dan BVR.
Dalam pengembangan Typhoon, diberitakan banyak sekali pertentangan di antara anggota konsorsium, yang meliputi pemilihan radar, pembagian pekerjaan, spesifikasi pesawat, dan partisipasi tiap negara dalam produksi.
image
Walaupun didominasi oleh negara-negara pembuatnya, penjualan Typhoon bisa dibilang cukup sukses, ini bisa dilihat populasi Typhoon yang cukup banyak dimiliki oleh beberapa negara, misalnya : Inggris 232 unit, Jerman 180 unit, Italia 121 unit, Spanyol 87 unit, Austria 18 unit. Operator di luar eropa, di beritakan bahwa Arab Saudi membeli 72 unit Typhoon dengan nilai pembelian US$ 8 Miliar atau Rp 104 triliun selain itu disebutkan bahwa Oman juga telah memesan 12 unit.

Riwayat Tempur
Eurofighter Typhoon terlibat dalam operasi militer NATO di Libya dan dipakai oleh Arab Saudi untuk menyerang pemberontak Houti Yaman. Di Libya, Typhoon menghadapi negara yang terletak di benua Afrika yang kondisinya terpecah dan di keroyok oleh 5 negara besar sedangkan di Yaman, Typhoon menghadapi sekelompok pemberontak bersenjatakan AK-47 dan RPG. Dalam dua operasi militer tersebut, walaupun sukses, Typhoon belum menemukan lawan yang seimbang.
Eurofighter Typhoon dan Tender Pengganti F-5 Tiger
image
Pemerintah Indonesia mengumumkan tender pengantian F-5 Tiger yang di ikuti oleh beberapa produsen pesawat tempur, salah satunya adalah Eurofighter Typhoon. Untuk memenangkan tender tersebut, Eurofighter melalui CASA & Airbus Industrie menjanjikan bahwa jika Indonesia memilih Typhoon, Indonesia akan menjadi salah satu basis perakitan Typhoon di luar Eropa, akan ada transfer teknologi, kerjasama dengan PT. DI untuk memperoduksi tanki bahan bakar tambahan (conformal tank) dan sayap canard yang berbahan titanium.
Tawaran dari CASA & Airbus Industrie sunguh sangat menarik karena tawaran semacam itu sangat jarang diberikan, entah dengan alasan apa, tiba-tiba saja banyak produsen senjata eropa berjanji bersedia berbagi teknologi jika Indonesia membeli produk mereka. Perlu diketahui bahwa Typhoon adalah produksi bersama konsorsium beberapa perusahaan Eropa dan CASA & Airbus Industrie hanya memegang 14 %, bandingkan dengan BAE systems Inggris 37 %, Alenia Aeronautika Italia 20 % dan EADS Deutschland Jerman 29 %.
Apa yang akan terjadi jika CASA bersedia berbagi sedangkan yang lainnya tidak bersedia ?
Jerman pernah membatalkan pesanan Typhoon dikarenakan ada masalah teknis yang menyebabkan lambung pesawat menjadi tidak stabil, memperpendek jam terbang pesawat dan mungkin membahayakan pilot. Untuk mengurangi dampak masalah tersebut, Angkatan udara Jerman dan Inggris menurunkan jam terbang Typhoon dari 3.000 jam menjadi 1.500 jam per tahun.

Potensi Embargo
Pada Tahun 1999, pasca referendum Timor Timur, Inggris mengirim 2 kapal perang canggihnya untuk membantu Australia guna menghadapi kemungkinan pecah perang melawan militer Indonesia. Selain itu, Inggris juga membantu Australia dengan mengirim pasukan SAS, Gurkha, SBS di luar struktur INTERFET.
Pada Tahun 2004, Inggris melarang Indonesia memakai produk militer buatan Inggris dalam OPERASI TERPADU di Aceh. Inggris melarang pesawat tempur Hawk dan Tank Scorpion dipakai oleh TNI dalam operasi tersebut. Padahal Hawk dan Scorpion itu sudah lama dibeli dan dimiliki oleh Indonesia. Senjata milik Indonesia, sudah lama dibeli tapi dilarang dipakai oleh negara pembuatnya. Aneh ???
interfet
Jika melihat potensi konflik dimasa depan, Indonesia masih sangat berpeluang diembargo oleh negara lain. Persoalan perbatasan dengan Malaysia dan Timor Leste yang masih belum selesai, Persoalan Papua, perebutan kekayaan alam Indonesia oleh perusahaan internasional, pembatasan pasar bebas, ilegal fishing dan hukuman mati bagi pengedar Narkotika.
Potensi Indonesia terlibat konflik perbatasan dengan Malaysia dan Australia sangat besar, sebagai sesama negara commonwealth, sudah pasti Inggris akan membantu Malaysia dan Australia. Embargo di depan mata.
Inggris memegang peran dominan dalam kepemilikan teknologi Eurofighter Typhoon, bahkan semua pesanan Arab Saudi dan Oman, semua dirakit di Inggris.
TNI AU saat ini mempunyai F-16 dan SU-27/30. Pesawat tempur F-16 Indonesia, kemampuannya jauh dibawah F-16 yang dimiliki negara tetangga. secara tidak langsung, saat ini hanya SU-27/30 lah yang menjadi Inti kekuatan udara TNI AU digaris depan.
Untuk pengganti F-5 Tiger, Jika TNI AU ingin kualitas jawabanya adalah SU-35 dan jika TNI AU ingin kuantitas, tentunya F-16 adalah pilihan paling rasional. SU-27/30 dan F-16 sudah lama dipakai oleh TNI AU, logistik yang efisien dan kecekatan operasional bisa tetap dijaga bila pilihannya di persempit diantara 2 pesawat itu.
Hanya saja perlu diketahui bahwa setelah SU-27/30 diikutsertakan di pitch black 2012, kawasan udara Indonesia terjadi semacam pergeseran superioritas udara. SU-27/30 Indonesia benar-benar membuat banyak negara tetangga mengevalusi kembali kekuatan udara mereka. Bahkan untuk tetap menjaga superioritas udara di kawasan bumi selatan, Australia dan Singapura akhirnya membeli F-35. Australia memutuskan untuk membeli 72 – 100 unit F-35A dan Singapura sedikitnya 16 Unit F-35B. (Opini Mbah Moel)

Rapat Tertutup KSAU Bahas F-16 Terbakar

 
Kecelakaan F-16 Indonesia di Halim, Jakarta
Kecelakaan F-16 Indonesia di Halim, Jakarta

Pimpinan DPR menerima kunjungan Kepala Staf Angkatan Udara ?(KSAU) Marsekal Agus Supriatna. Pertemuan ini membahas masalah F-16 yang disorot lantaran gagal take off dan terbakar kemarin (16/4).
“Ngobrol saja, makan siang. Termasuk kita ingin tahu? latar belakangnya (soal peristiwa F-16 yang kecelakaan),” kata Wakil Ketua DPR Fadli Zon di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (17/4/2015).
Fadli lantas beringsut naik ke Ruang Rapat Pimpinan, Lantai 3, Gedung Nusantara III DPR?, tempat pertemuan tertutup sudah berlangsung. Dalam ruangan itu sudah ada pula Ketua DPR Setya Novanto.
Pesawat F-16 gagal take off dan terbakar di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (16/4). Pilot pesawat tersebut bisa selamat dari maut.
Pengadaan pesawat dari Amerika Serikat itu lantas menjadi sorotan karena masih ada 19 pesawat F-16 yang akan segera tiba di Indonesia selain lima pesawat yang sudah datang. Salah satunya adalah pesawat yang gagal take off tersebut.

Evaluasi pengadaan F-16
KSAU Marsekal Agus Supriatna telah menjelaskan ke Pimpinan DPR perihal insiden celaka pesawat F-16 yang terjadi kemarin (16/4). ?DPR mendorong agar pengadaan pesawat F-16 bekas dari Amerika Serikat itu dievaluasi.
“Intinya kita ingin alutsista (alat utama sistem persenjataan) udara kita ini betul-betul yang terbaik dan mutakhir. Kalau ada pengadaan seperti ini kita mesti evaluasi. Pada intinya seperti itu,” kata Wakil Ketua DPR Fadli Zon usai pertemuan dengan Agus di Ruang Pimpinan Gedung DPR, ?Senayan, Jakarta, Jumat (17/4/2015).
Pertemuan ini dilangsungkan kurang lebih selama satu jam, dipimpin Ketua DPR Setya Novanto. Agus sendiri menjelaskan bahwa keterangan yang dia sampaikan ke DPR pada kesempatan ini masih sama saja seperti yang kemarin disampaikannya kepada publik.
Untuk investigasi kecelakaan kemarin itu, Agus menyatakan penyelidikan masih berjalan. Yang jelas, perihal masalah dalam pesawat itu sudah disampaikannya ke pihak Amerika Serikat. Pesawat-pesawat itu tidak dilengkapi dengan drag chute, suatu parasut perlengkapan pesawat. Maka pada bulan Juni, pesawat-pesawat F-16 itu akan dipasangi drag chute oleh Amerika Serikat.
“Akhirnya saya bicara langsung menyampaikan berita ini kepada pihak AS sendiri. Bulan Juni, Alhamdulillah pesawat kita akan dipasang drag chute,” tutur Agus.
Pengadaan pesawat F-16, salah satu pesawatnya adalah yang mengalami kecelakaan di Bandara Halim Perdanakusumah kemarin, berjumlah 24 pesawat. Untuk sementara, lima pesawat yang sudah tiba itu tidak digunakan terlebih dahulu karena sedang diperiksa.
Untuk kondisi pilot F-16 yang berhasil selamat kemari, yakni Letkol Pnb Dwi Cahyono, saat ini sudah kembali sehat. “Alhamdulillah sudah sehat walafiat,” kata Agus. (Detik.com).

Latgab TNI Berakhir, 600 Prajurit Kostrad Tetap Tinggal di Poso

TNI Latihan Gabungan
Latihan tempur Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI yang berlangsung di Poso, Sulawesi Tengah, sejak 31 Maret 2015 berakhir, Jumat (17/4/2015). Namun, 600 personel Komando Cadangan Strategis TNI AD masih dipertahankan untuk mengawal kepentingan masyarakat.
“Latihan tempurnya sudah selesai hari ini, Jumat (17/4), namun 600 anggota saya masih tinggal untuk mendukung operasi pembinaan teritorial di bawah kendali panglima Kodam VII/Wirabuana,” kata Panglima Divisi II Kostrad, Mayor Jenderal TNI Bambang Haryanto di Poso, Jumat.
Dalam jumpa pers bersama menandai akhir latihan tempur PPRC TNI bersama Panglima Kodam VII/Wirabuana, Mayor Jenderal TNI Bachtiar, dia mengemukakan, perpanjangan masa tugas 600 personel Kostrad itu semata-mata karena permintaan masyarakat.
“Dari hasil pertemuan kami dengan pemerintah daerah, tokoh masyarakat dan agama, mahasiswa dan masyarakat desa, mereka semua meminta supaya Latihan PPRC ini diperpanjang karena manfaatnya bagi masyarakat sangat besar,” ujarnya.
Manfaat yang paling utama dirasakan masyarakat, kata Bambang, adalah kembalinya rasa aman masyarakat yang selama ini sangat terusik dengan aktivitas para teroris pimpinan Santoso yang bersembunyi di hutan-hutan Poso bahkan menculik dan membunuh rakyat.
“Masyarakat masih khawatir bahwa setelah latihan PPRC TNI selama tiga pekan ini, para teroris itu akan kembali lagi ke hutan-hutan Poso,” ujarnya.
Bambang menegaskan bahwa latihan tempur TNI ini telah mengetahui dan menemukan semua titik-titik persembunyian dan tempat latihan para teroris tersebut dan memastikan mereka sudah tidak berada di situ lagi,” ujarnya.
Atas desakan warga itulah, Kostrad memutuskan untuk memperpanjang masa tugas 600 personel untuk melaksanakan tugas-tugas penguatan teritorial di bawah kendali Pangdam.
Meski secara umum Mayjen Bambang mengaku belum puas dengan hasil latihan tempur itu, namun ia mengaku bahagia sebab latihan ini ikut mendorong peningkatan ekonomi warga desa di sekitar tempat latihan.
“Para pedagang di pasar dan toko-toko dan Warung makan mengaku mengalami peningkatan omzet sampai 200 persen. Ini sangat menggembirakan,” ujarnya.
Dari aspek profesionalisme, Mayjen Bambang mengatakan bahwa latihan tempur ini telah mampu meningkatkan keterampilan dan profesionalisme TNI dalam melaksanakan tugas-tugas tempur untuk mempertahankan kedaulatan NKRI.
Sementara itu Pangdam VII Wirabuana Mayjen TNI Bachtiar mengatakan akan melanjutkan latihan tempur PPRC ini dengan aktivitas penguatan teritorial berupa kegiatan sosial bedah rumah warga miskin, pemasangan pipa air bersih, pencetakan sawah baru dan berbaga pelatihan bagi warga dalam teknik bertani dan berkebun secara intensif.
Kegiatan yang akan melibatkan personel Kostrad dan anggota Batalyon Infanteri di Poso itu akan berlangsung selama enam bulan ke depan.
“Tidak ada lagi latihan tempur, yang ada hanya kegiatan sosial meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta aktivitas pengamanan swakarsa antara personel TNI dan warga Poso.(kompas)

F-16 terbakar sebelum take off, TNI AU makin minati Su-35

 
Su-35S-KnAAPO
Su-35S-KnAAPO.jpg

Insiden terbakarnya F-16 di Landasan Udara Halim Perdanakusuma membuat Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) mengkaji ulang kebijakannya mengenai pembelian pesawat bekas. Satuan dengan semboyan Swa Bhuwana Paksa ini tak mau kejadian serupa terulang kembali.
Kita ada rencana penggantian, dengan kejadian ini sudah jelas menjadi pengalaman dan introspeksi, jangan sampai kita membeli lagi pesawat F-16 bekas,” kata Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Agus Supriatna saat konferensi pers di Mabes TNI AU, Jakarta, Kamis (16/4).
Atas alasan itu, TNI AU menginginkan dua pesawat baru untuk menggantikan F-5F/E Tiger yang sudah saatnya dipensiunkan. Sedangkan, opsi membeli pesawat bekas tak akan masuk dalam program jangka panjang maupun pendek.
“Dua hasil kajian kita, antara Sukhoi Su-35 dan F-16 tipe 70 Viper,” katanya.
Agus mengharapkan tidak ada lagi pemberian hibah pesawat bekas untuk TNI AU, agar insiden kecelakaan pesawat tak terulang kembali. Namun, dia memastikan program ini tetap berlanjut mengingat TNI AU sudah mengeluarkan sejumlah uang untuk mendapatkannya.
Hibah pesawat F-16 tetap berlanjut Karena ini adalah program, sudah berjalan, sudah kontrak dan sudah kita bayar. Hanya kita akan lebih mengevaluasi dengan ada pengalaman ini,” tukasnya. (Merdeka.com)

Hikmah dibalik Insiden “engine fire” pada F-16 CD TNI AU TS-1643

 
@SonoraFM92
@SonoraFM92
Insiden terbakarnya pesawat F-16 di Halim Perdanakusuma  menurut Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna kepada wartawan di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (16/4/2015), Marsekal Agus Supriatna mengatakan pesawat tersebut merupakan hibah dari Amerika. Insiden engine fire, kata Agus, sangat jarang terjadi.
Pesawat itu baru datang, hibah dari Amerika, blok 25, pada saat take off, pada saat rolling, terjadi engine fire. Penerbangnya langsung melaksanakan abort pesawat. Karena engine-nya kebakaran,” kata Agus
Demikian berita “F-16 Tahun 80-an Terbakar, KSAU: Kalau Beli Pesawat Lebih Baik yang Baru”, yang dikutip di detikNews.
Mari kita menengok ke belakang Release resmi dari DSCA , dengan judul ” Indonesia – Regeneration and Upgrade of F-16C/D Block 25 Aircraft”,  (http://www.dsca.mil)

WASHINGTON, Nov. 17, 2011 – The Defense Security Cooperation Agency notified Congress Nov. 16 of a possible Foreign Military Sale to the Government of Indonesia for the regeneration and upgrade of 24 F-16C/D Block 25 aircraft and associated equipment, parts, training and logistical support for an estimated cost of $750 million.
The Government of Indonesia has requested a sale for the regeneration and upgrade of 24 F-16C/D Block 25 aircraft and 28 F100-PW-200 or F100-PW-220E engines being granted as Excess Defense Articles. The upgrade includes the following major systems and components: LAU-129A/A Launchers, ALR-69 Radar Warning Receivers, ARC-164/186 Radios, Expanded Enhanced Fire Control (EEFC) or Commercial Fire Control, or Modular Mission Computers, ALQ-213 Electronic Warfare Management Systems, ALE-47 Countermeasures Dispenser Systems, Cartridge Actuated Devices/Propellant Actuated Devices (CAD/PAD), Situational Awareness Data Link, Enhance Position Location Reporting Systems (EPLRS), LN-260 (SPS version, non-PPS), and AN/AAQ-33 SNIPER or AN/AAQ-28 LITENING Targeting Systems. Also included are tools, support and test equipment, spare and repair parts, publications and technical documentation, personnel training and training equipment, U.S. Government and contractor engineering, technical and logistics support services, and other related elements of logistical and program support. The estimated cost is $750 million.
The proposed sale will contribute to the foreign policy and national security of the United States by improving the security of a strategic partner that has been, and continues to be, an important force for economic progress in Southeast Asia.
Indonesia desires the F-16 aircraft to modernize the Indonesian Air Force (IAF) fleet with aircraft more capable of conducting operations in the outermost border regions of Indonesia. The IAF’s current fleet of F-16 Block 15 aircraft is not capable of fulfilling that role, and the aging F-5 aircraft are expensive to maintain and operate due to diminishing resources existing to support the aircraft. The avionics upgrade will provide the IAF an additional capability benefitting security by modernizing the force structure, and enhancing interoperability by greater use of U.S.-produced equipment. Indonesia, which already has F-16 Block 15 and F-5 aircraft in its inventory, will have no difficulty absorbing these upgraded systems.
The proposed sale of this equipment and support will not alter the basic military balance in the region.
Indonesia requested the regeneration be sole sourced to the 309th Maintenance Wing, Hill Air Force Base, in Ogden, Utah, and Pratt Whitney, in East Hartford, Connecticut for the engine overhaul. There are no known offset agreements proposed in connection with this potential sale.
Implementation of this proposed sale will not require the assignment of any additional U.S. Government or contractor representatives to Indonesia.
There will be no adverse impact on U.S. defense readiness as a result of this proposed sale.
This notice of a potential sale is required by law and does not mean the sale has been concluded.
Dari release resmi DSCA, ada pengadaan 28 F100-PW-200 or F100-PW-220E engines.
F100-PW-200 engine ( f-16.net)
F100-PW-200 engine ( f-16.net)

28 F100-PW-200/ F100-PW-220E engines, (f16.net)
F100-PW-200/ F100-PW-220E engines, (f16.net)

Klo melihat realese resmi DSCA,  engine untuk proses Regeneration and Upgrade of F-16C/D Block 25 Aircraft adalah baru dan pengadaannya ada 28 unit. Berarti ada 4 engine untuk suku cadang.
Berita lainnya :
“Sementara seluruh mesin pesawat F-16 C/D TNI AU ini  yaitu F100-PW-220/E menjalani upgrade di pabrik Pratt & Whitney di Old Kelly AFB, sehingga memiliki umur komponen dua kali lebih lama dari mesin standar…………..
Selanjutnya pesawat menjalani upgrading dan refurbished rangka serta sistem avionik dan persenjataan di Ogden Air Logistics Center di Hill AFB, Odgen, Utah. Rangka pesawat diperkuat, jaringan kabel dan elektronik baru dipasang, semua sistem lama direkondisi menjadi baru dan sistem baru ditambahkan agar pesawat lahir kembali, siap menjadi pesawat baru dengan kemampuan jauh lebih hebat dari saat kelahirannya.” (angkasa.co.id)
Karena mesin tersebut baru , pasti ada garansi pabrikan. Dan klo terjadi engine fire pastinya proses “regenerasi dan meng-upgrade pesawat F-16C/D blok 25” di Ogden Air Logistics Center di Hill AFB, Odgen, Utah ini  bermasalah.
Kita tidak ingin mencari mana yang salah dan mana yang benar ,  dan Yang pastinya mabes TNI dan kemhan khususnya TNI AU akan membentuk team untuk menyelidiki insiden terbakarnya pesawat F-16 ini.  Dan alhamdulillah , pilot TNI AU yang mengawaki pesawat naas tsb bisa Selamat. Letkol Pnb Firman Dwi Cahyono menjabat sebagai Komandan Skadron Udara 16 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, yang memegang rekor 2.000 jam terbang dengan menggunakan pesawat tempur F-16 Fighting Falcon merupakan salat satu ASET yang sangat berharga bagi TNI AU khususnya dan Bangsa Indonesia umumnya.
Semoga kejadian ini bisa menjadi hikmah dan interopeksi semua pihak yang terlibat didalam . Dan pernyataan tsb sudah keluar dari pernyataan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna menyatakan ada ‘hikmah’ di balik insiden terbakarnya pesawat F-16 di Halim Perdanakusuma pagi ini. Menurut Agus, sebaiknya mendatangkan pesawat tempur baru.

Ini senjata legendaris Kopassus dari masa ke masa

Senjata Kopassus. (ist)
Seperti halnya pasukan reguler, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) juga mengandalkan senjata untuk melaksanakan berbagai operasi. Tentunya, senapan-senapan yang digunakan berbeda dari tentara pada umumnya, sehingga dipilih senjata yang mampu dibawa ke medan-medan berat sekaligus ringan dibawa.
Sejak pertama kali dibentuk, Kopassus diberikan berbagai senjata khusus. Salah satunya senapan AK-47 yang terkenal bandel dan disukai pasukan gerilyawan di dunia.
Tak hanya itu, senapan Uzi buatan Israel ini menjadi andalan saat Kopassus menjalankan operasi pembebasan sandera dalam sebuah pembajakan pesawat Garuda Indonesia di Woyla, Thailand. Meski ada yang menyebut saat itu sebagian besar justru menggunakan MP5.
Berikut senjata-senjata legendaris yang pernah dan masih dipakai Kopassus dari masa ke masa:

1. Uzi
IMI Uzi atau bernama internasional MP-2, merupakan jenis senjata mesin ringan yang menyerupai pistol. Senjata ini dikembangkan sejak 1949 dan mulai digunakan militer Israel sejak tahun 1954.
Titik berat senjata ini terletak di atas grip pistol, perubahan massa berat senjata saat ditembakkan relatif kecil. Alhasil, saat ditembakkan dengan salvo panjang pun kestabilannya tetap terjamin.
Menembak dengan senjata ini boleh dikatakan sama tenangnya dengan menembakkan pistol jenis otomatis seperti FN 9 mm, bahkan mungkin lebih tenang. Peluru yang dipergunakan adalah Parabellum 9×19 mm, dengan magasen mulai dari isi 25 peluru sampai 32 peluru.
Kecepatan menembaknya mencapai 60 butir peluru per menit, sedangkan ketika melakukan tembakan beruntun akan mencapai 100 sampai 120 peluru per menit. Jarak menembak otomatis mencapai 100 meter dan akan meningkat ketika melakukan tembakan salvo hingga 200 meter.
Karena keefektifannya dalam menembak, senjata ini pernah digunakan Kopassus dalam operasi pembebasan sandera di Woyla, Thailand. Dalam misi tersebut, korps baret merah ini berhasil menembak mati tiga dari lima orang teroris, dan melukai pemimpinnya. Sedangkan sisanya ditembak mati saat terdorong keluar pesawat.

2. Bren
Senapan Bren, merupakan jenis Senapan Mesin Ringan (SMR) buatan Inggris pada 1930-an, dan sempat dipakai hingga tahun 1991. Senapan ini mulai terkenal berkat daya gempurnya selama berlangsungnya Perang Dunia II dan sempat dipakai dalam Perang Korea maupun Perang Falkland.
Sebenarnya, Bren adalah versi modifikasi dari Senapan Mesin Ringan ZB vz. 26 buatan Cekoslowakia, yang diuji Angkatan Darat Inggris selama kompetisi senjata api pada tahun 1930-an. Bren tahap selanjutnya kemudian menggunakan magazen peluru box (kotak) melengkung yang khas, pelindung pijar kerucut dan laras rubah-cepat.
Senjata ini dibawa Inggris yang tergabung bersama pasukan sekutu ke Indonesia tak lama setelah kekalahan Jepang. Senapan ini digunakan tentara Allied Forces Netherlands East Indies atau AFNEI untuk menghadapi para pejuang kemerdekaan, termasuk peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.
Kopassus yang baru terbentuk pada 1953 membutuhkan sejumlah senjata untuk mendukung operasi-operasi mereka. Alhasil, Bren menjadi salah satu senjata andalan saat menghadapi pasukan pemberontak di seluruh Tanah Air.

Jelang Babak Akhir Kompetisi, Eurofighter Typhoon Hadirkan Full Mockup di PT Dirgantara Indonesia

6
Sampai tulisan ini dibuat, belum juga ada keputusan final dari pemerintah Indonesia terkait pemenang tender pengadaan jet tempur pengganti F-5 E/F Tiger II Skadron Udara 14. Di sisi lain, publik pemerhati alutsista, pengambil keputusan, dan pihak user (TNI AU) telah mulai mengkristal pada ‘pilihannya’ masing-masing. Nama-nama besar seperti Sukhoi Su-35BM, Rafale, JAS 39 Gripen NG, F-16 Block 60, dan Typhoon masih harap-harap cemas menunggu putusan final dari Kementerian Pertahanan.
Sejak event Indo Defence 2014 digelar, hingga kini aura kompetisi kian terasa kencang. Contoh seperti Rafale yang belum lama unjuk demo di langit Jakarta, kini giliran Eurofighter Typhoon yang tak ingin kehilangan momentum. Bertempat di hangar PT Dirgantara Indonesia (PT DI), Eurofighter menampilkan full mockup jet tempur multirole bermesin dua tersebut kepada kalangan media Tanah Air, termasuk Indomiliter.com yang mendapat undangan khusus dari PT DI. Sebagai full mockup, wujud jet tempur dihadirkan utuh dengan ukuran persis seperti aslinya.
Telah digunakan di 7 negara (Inngris, Spanyol, Italia, Jerman, Austria, Arab Saudi, dan Oman) jadi modal kuat untuk pemasaran Typhoon.
Telah digunakan di 7 negara (Inggris, Spanyol, Italia, Jerman, Austria, Arab Saudi, dan Oman) jadi modal kuat untuk pemasaran Typhoon.

Full mockup Typhoon juga memberi gambaran yang cukup jelas, pasalnya 13 hard point untuk cantelan senjata (rudal dan bom) semua dalam kondisi terpasang. Beberapa replika rudal yang dipasang pada mockup Typhoon seperti rudal udara ke udara IRIS-T (Infra Red Imaging system Tail/Thrust Vector Controlled), ASRAAM (Advanced Short Ranged Air to Air Missile) dan Meteor.
IRIS-T besutan Diehl BGT Defence, Jerman, digadang sebagai rudal udara ke udara jarak dekat, perannnya mirip dengan AIM-9 Sidewinder. Rudal ini memiliki pemandu infra red denga daya lacak tinggi, serta dapat menyajikan output gambar dengan resolusi tinggi. IRIS-T dapat melakukan manuver 360 derajat, dan dapat dikendalikan lewat radar maupun lewat bidikan dari helm sang pilot. Sementara ASRAAM buatan MBDA juga di dapuk untuk serangan jarak dekat, rudal ini mampu melesat lebih dari 3 Mach. Dengan kemampuan advanced, rudal ini bisa melesat hingga jarak 50 Km. Lalu untuk misi serang udara ke udara jarak menengah ditampilkan Meteor yang juga besutan MBDA. Rudal ini masuk kelas beyond-visual-range air-to-air missile (BVRAAM) dengan kecepatan luncur di awal hingga 2 Mach.
Replika rudal IRIS-T
Replika rudal IRIS-T
Rudal RBS-15 yang mampu digotong Typhoon.
Rudal RBS-15 yang mampu digotong Typhoon.

Varian jenis rudal dan bom yang bisa digotong Typhoon cukup banyak, tapi yang juga menarik perhatian adalah rudal anti kapal RBS-15 buatan Saab Bofors Dynamic, Swedia. Meski tak dipasangkan dalam hard point, rudal ini terbilang paling tambun, maklum bobot aslinya mendekat 800 Kg. Varian navy-nya, yakni RBS-15 MK3 rencananya akan dipasang melengkapi KCR (Kapal Cepat Rudal) Klewang Class TNI AL.
Semua panel senjata ditampilkan serupa dengan wujud aslinya, kecuali ujung laras kanon 1 × 27 mm Mauser BK-27 yang tak terlihat pada mockup. Selebihnya suguhan mockup Typhoon lumayan mampu membetot perhatian, seperti bagian kokpit yang memperlihatkan panel instrumen navigasi lengkap, dan kursi lontar Martin Baker MK16A.
Teknologi kendali pada kokpit mengandalkan fly by optics.
Teknologi kendali pada kokpit mengandalkan fly by optics.
5
Kursi Typhoon dirancang dengan ergonomis.

Masih terkait mockup, sebelumnya Eurofighter telah cockpit demonstrator di ajang Indo Defence 2014. Dengan menghadirkan mockup, pihak pabrikan dapat memperlihatkan secara lebih jelas tampilan penuh dari sebuat pesawat. Menghadirkan mockup juga dapat me-reduce biaya promosi, ketimbang mendatangkan pesawat demo ke negara tujuan yang jaraknya cukup jauh. Rencananya, mockup Typhoon di Bandung juga akan diperlihatkan ke kalangan mahasiswa.
Banyak hal menarik yang dapat dituangkan dari perjalanan selama dua hari bersama tim Eurofighter di Jakarta dan Bandung. Simak kelanjutan artikel terkait Typhoon dalam upayanya memenangkan kompetisi di Indonesia. Bagaimana setting misi Typhoon dalam menunjang kepentingan maritim Indonesia, dan tawaran pembuatan comformal fuel tank sebagai bagian dari offset dalam skema ToT (transfer of technology)? Nantikan ulasannya di artikel kami selanjutnya. Stay Tuned! (Haryo Adjie)