![]()
Pagi tadi ketika seluruh warga masyarakat Malang tengah terlelap dalam
tidurnya, sejumlah 615 orang pasukan gabungan Brigif Linud Kostrad yang
tergabung dalam Latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) telah mandi
keringat untuk mempersiapkan diri melaksanakan Latihan tersebut. Pada
waktu yang sama insan-insan dirgantara TNI AU juga tidak kalah sibuknya untuk
menyiapkan pesawat C-130 Hercules dan CN-295 Casa yang bertugas menggeser
ke-615 pasukan tersebut menuju daerah Latihan Poso. Setelah semua
persiapan selesai masing-masing pasukan segera memasuki 10 pesawat Hercules (5
herky dari Skadron 31 dan 5 lainnya dari Skadron 32 ) serta 2 pesawat CN-295
dari Skadron 2 Halim Perdanakusuma. Ketika waktu menunjukkan pukul 01.51
WIB, satu per satu burung besi tersebut lepas landas meninggalkan Lanud Abd
Saleh menuju daerah latihan yang telah ditetapkan. Dua jam kemudian ke-12
pesawat tersebut telah sampai di koordinat yang dituju, satu per satu mereka
menapakkan rodanya untuk menurunkan pasukan yang berada diperutnya.
Selamat berlatih wahai pejuang dan pemersatu NKRI. Di pundakmu kami
percayakan kejayaan Bumi Pertiwi.
Sementara
untuk mendukung kesuksesan Latihan tersebut, Lanud Abd Saleh tadi malam (30/3)
menggelar Pengajian dan doa serta zikir bersama di Masjid Baiturrachman Lanud
Abd Saleh yang dihadiri seluruh pejabat dan anggota Lanud Abd Saleh beserta
Insub dan dipimpin langsung oleh Komandan Lanud Abd Saleh Marsma TNI
Sungkono, S.E., M.Si.
Sebelum pengajian dimulai Danlanud Abd Saleh, terlebih dahulu menjelaskan bahwa Latihan PPRC yang dilaksanakan di Poso melibatkan kurang lebih 3.222 personil TNI, dan ini merupakan jumlah yang besar serta melibatkan alutsista TNI AU yang banyak. Latihan ini bertujuan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan Operasi Militer untuk Perang (OMP) dengan skenario melaksanakan penindakan awal untuk menghancurkan agresor guna merebut kembali Poso Sulteng dalam rangka mempertahankan keutuhan dan kedaulatan NKRI. Oleh karena sebagai bagian unsur latihan, Lanud Abd Saleh memandang sangat perlu melaksanakan doa bersama, agar latihan PPRC tahun 2015 dapat berjalan dengan aman dan lancar.
"Mari
kita jadikan acara dzikir dan doa bersama ini sebagai sarana untuk memohon
kepada Allah SWT, agar semua yang bersilaturahim di Masjid ini, senantiasa
mendapatkan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan lahir dan batin,
serta latihan PPRC Tahun 2015 dapat berjalan sesuai dengan apa yang kita
harapkan bersama," kata Danlanud Abd Saleh mengakhiri sambutannya.
|
Selasa, 31 Maret 2015
Duabelas Pesawat TNI AU Dukung Latihan PPRC
Proyek KFX Semakin Terang
Korea Selatan memilih Korea Aerospace
Industries (KAI) dan mitranya Lockheed Martin untuk kontrak multi-miliar
dolar bagi pembangunan 120 jet tempur dalam negeri, menggantikan armada
pesawat tempur Korea Selatan yang sudah menua, 30/3/2015.
Tawaran dari KAI dan Perusahaan raksasa aerospace AS ini, akan masuk
proses penyaringan sebelum resmi disetujui. Namun perusahaan ini
dipandang sebagai favorit untuk memenangkan tender 8,6 triliun won ($
7,8 miliar) atas tawaran pesaingnya Korean Air (KAL) yang bekerja sama
dengan Airbus.
Kementerian Pertahanan secara terpisah juga menyetujui kesepakatan
pembelian $1,28 miliar untuk rudal Patriot PAC-3 dan meng-upgrade sistem
pertahanan udara yang bertujuan mencegat rudal balistik Korea Utara.
Proyek KF-X dirancang untuk mengembangkan dan memproduksi 120 jet
tempur baru buatan dalam negeri, menggantikan armada F-4 dan F-5 Korea
Selatan.
“Kami telah memilih KAI sebagai pemenang lelang berdasarkan review
kami … biaya, rencana pembangunan dan pengembangan kemampuan dari dua
peserta tender,” kata Administrasi Program Akuisisi Pertahanan (DAPA)
dalam sebuah pernyataan.
“Kami berencana menandatangani kontrak (final) pada semester pertama
tahun ini setelah negosiasi teknologi dan harga dengan pemenang lelang
…”, katanya.
Pemerintah Korea Selatan akan menyediakan 60 persen biaya
pengembangan, dengan sisanya ditanggung bersama oleh konsorsium pemenang
tender dan Indonesia, yang terlibat dalam perjanjian pertahanan
bilateral.
Aliansi KAI-Lockheed berada di atas angin, karena kemitraan yang sama
dalam mengembangkan jet latih T-50, yang merupakan pesawat supersonik
homegrown pertama Korea Selatan.
Lockheed, yang memenangkan kontrak pada 2013 untuk penjualan 40 jet
tempur F-35A ke Korea Selatan, berjanji mentransfer teknologi kunci
untuk proyek KF-X ke Seoul.
Terkait pembuatan jet tempur KFX, Korean Air (KAL) mengajukan
penawarannya dengan dukungan teknis dari Airbus, yang merupakan bagian
konsorsium Eropa dalam mengembangkan jet tempur Eurofighter.
Sebelumnya, Airbus telah membuat sejumlah kontrak untuk militer Korea
Selatan, termasuk kesepakatan $ 1,38 miliar dalam pengadaan pesawat
tanker pengisian bahan bakar udara.
Kementerian Pertahanan Korea Selatan meminta desain baru untuk proyek
KF-X, meskipun para ahli mengatakan versi modifikasi besar-besaran dari
model pesawat tempur yang ada, juga akan diterima.
Pejabat DAPA Korea Selatan juga akan membeli rudal “hit and kill”
PAC-3 dari Lockheed Martin dengan jumlah tidak disebutkan, pada tahun
2020 untuk meningkatkan kemampuan rudal anti-balistik.
Kontraktor pertahanan AS Raytheon telah terpilih untuk meng-upgrade
fire control system PAC-2 Korea Selatan agar dapat meluncurkan, baik
rudal PAC-2 maupun PAC-3, ujar juru bicara Dapa Kim Si-Cheol kepada
wartawan. (AFP).
Oerlikon Millenium 35 mm: Perisai Reaksi Cepat Andalan PKR SIGMA Class 10514 TNI AL
Jika tak ada halangan, di tahun 2016 TNI AL akan kedatangan kapal
perang tercanggihnya, Perusak Kawal Rudal (PKR) SIGMA Class 10514. Kini
kapal sedang dalam tahap pembangunan dan perakitan di galangan Damen
Schelde Naval Shipbuilding, Belanda dan PT PAL, Surabaya, dan kita
berharap semua proses dapat berjalan lancar sesuai rencana, dan kemudian
berlanjut ke pembangunan kapal kedua. Sebagai kapal perang tercanggih,
SIGMA Class 10514 yang masuk golongan light fregate disokong aneka
persenjataan terbaru di kelasnya.
Sejauh ini belum ada rilis resmi mengenai jenis dan jumlah
persenjataan PKR 10514. Hanya saja disebutkan kapal ini nantinya bakal
punya kemampuan peperangan tiga dimensi, yaitu permukaan, udara, dan
bawah permukaan. Menilik desain atau gambar yang dikeluarkan PT PAL bisa
ditebak meriam utama akan menggunakan kaliber 76 mm. Untuk peluru kendali anti kapal, besar kemungkinan masih mengadopsi keluarga Exocet.
Dari gambaran juga, bisa di lihat pada bagian depan anjungan terdapat
semacam roket anti kapal selam. Namum, yang menarik di belakang meriam
utama, terdapat sejumlah peluncur rudal anti serangan udara dengan
sistem vertical launch system (VLS) seperti yang ada di korvet Bung Tomo
Class. Selain itu, PKR 10514 dipastikan membawa sejumlah senjata lain
seperti kanon jarak dekat model CIWS dan tentunya peluncur torpedo. Nah,
bicara tentang kanon CIWS, berdasarkan ilustrasi yang dibuat pihak
Damen, nampak kapal pesanan TNI AL menggunakan kanon Oerlikion Millenium
kaliber 35 mm, ini merupakan versi lain dari Oerlikon Skyshield yang
digunakan Paskhas TNI AU.
Sistem Skyshield menggunakan basis kanon kaliber 35 mm, lebih besar
dibanding peluru yang digunakan kanon CIWS Phalanx ataupun Goalkeeper.
Sistem hanud Skyshield sudah digelar AD Jerman untuk melindungi pos
pasukan mereka di Afghanistan, sebagai sistem anti mortir dan artileri
yang terpentek mati di sekitar markas.
Melihat kesuksesan sistem berbasis darat tersebut, memacu Rheinmetall
Defence untuk mencoba mengadopsinya di platform kapal perang. Ditambah
kebanyakan galangan membangu kapal dengan sistem modular, semakin
memudahkan bagi Rheinmetall untuk mencari celah memasukkan produk
andalannya ke dalam integrasi SEWACO (Systems, Weapon, and Command) dari masing-masing kapal perang.
Dan, wujudnya kemudian hadir dalam label Millenium ILDS (Inner Layer
Defense Systems). Seperti halnya Skyshield, Millenium juga mengandalkan
jenis kanon Oerlikon Contraves 35/1000 kaliber 35 mm L79 GDF-007 dengan
mekanisme gas serta pendingin berupa air. Kanon ini digadang mampu
melibas sasaran berupa helikopter, jet tempur yang terbang rendah,
sampai rudal jelajah. Karena dipasang di wahana kapal perang, maka
Millenium di setting untuk tiga peran utama. Pertama, short target
warfare guna mendukung pasuka pendarat amfibi kawan dan menekan ancaman
pasukan pertahahan pantai. Lalu surface warfare, yakni mengatasi ancaman
asimetris di sekitar perairan litoral dan penegakan hokum di lautan.
Dan yang ketiga anti air warfare, yakni untuk menetralisir ancaman dari
pesawat tempur, drone, dan dari sistem artileri musuh saat kapal sandar
di dermaga.
Rheinmetall memberi jaminan, amunisi 35 mm yang dilontarkan dari
larasnya mampu menghantam sasaran kecil yang bergerak cepat seperti
jetski. Bahkan kalau perlu periskop kapal selam yang sedang timbul pun
dapat dilibas. Semua itu bukan tanpa alasan, pasalnya Millenium dibekali
sistem stabililasi mutakhir pada dudukan kanon, serta komputer balistik
yang mampu mengompensasi kemiringan, guncangan, arah kapal, kecepatan
angin, dan lain-lain.
Guna menyesuaikan pada rancangan kapal perang modern yang streamline
dan modular, Rheinmetall sudah menyiapkan pemasangan dudukan kanon agar
sesimpel mungkin. Millenium disiapkan untuk dapat dioperasikan tanpa
awak, namun memiliki backup manual apabila dibutuhkan, peran awak lebih
ditekankan untuk proses reload cartridge amunisi. Sementara untuk
kendali tembakan, dilakukan terpadu dari PIT (Pusat Informasi Tempur).
Pada istilah Syshield dikenal CP (Commmand Post) berupa kontainer yang
menjadi pusat kendali tembakan. Pada CP terdiri dari dua LCD besar yang
menampilkan sasaran di layar kiri berikut berbagai macam data terkait
seperti vector, kecepatan, dan perkiraan tipe sasaran. Sementara disisi
kanan yang merupakan konsol komandan menampilkan layar radar. Juru
tembak/operator di kursi kiri mengendalikan joystick yang terkoneksi ke
dua kanon Skyshield.
Menyadari bahwa di kapal perang sarat aneka sensor dan perangkat
elektronik dari beragam vendor, menjadikan Rheinmetall harus merancang
sistem Millenium agar fleksibel, diwujudkan dengan kemampuan kanon ini
untuk kompatibel dengan sistem sensor, radar pencari, dan rajak penjejak
buatan negara-negara NATO.
Untuk mengakomodir kebutuhan galangan kapal, Rheinmetall menyediakan
dua opsi dudukan. Hebatnya kedua dudukan tidak membutuhkan penanaman
sistem di bawah dek yang masif, hampir seluruh sistem dapat diakomodir
dalam rumah kanon, dimana hanya dibutuhkan lubang akses untuk kabel daya
dan sinyal. Opsi dudukan pertama adalah standard gun mounting, sistem
Millenium dipasang pada dek dengan cincin dudukan standar.Kemudian opsi
dudukan kedua adalah ISO-Mount, dimana Millenium tidak langsung
ditempelkan di dek, tetapi ke sistem dudukan ISO berbentuk kontainer
kotak. ISO Mount mudah dilepasa pasang, sehingga memudahkan dalam
perawatan. Kontainer ISO Mount juga dapat menyimpan amunisi tambahan,
kotak peralatan, crane untuk perawatan serta baterai cadangan.
Sebagai sumber tenaga,Millenium mendapat pasokan sistem baterai isi
ulang yang terkoneksi dengan listrik kapal. Dalam kondisi kapal rusak
dan kehilangan tenaga, Millenium masih bisa beroperasi secara mandiri
berkat cadangan tenaga dari baterai tersebut.
Meski kanon Skyshield menggunakan jenis laras tunggal, kanon ini
nyatanya dapat melontarkan 1.000 proyektil dalam satu menit. Hal
tersebut dapat berlangsung berkat adopsi sistem revolver empat kamar.
Peluru yang dipasok sabuk memasuki salah satu lubang peluru dari
revolver untuk kemudian ditembakkan dari revolver yang terus berputar,
menghasilkan kecepatan tembak cukup tinggi tanpa perlu
menghambur-hamburkan peluru dibanding kanon multilatras dengan konsep
Gatling pada Phalanx. Dalam hal kecepatan tembak, proyektil Skyshield
dapat melesat hingga 1.440 meter per detik dengan jangakaun tembak
efektif hingga 4 kilometer.
Amunisi Skyshield
Untuk urusan amunisi 35 mm, pihak pabrikan meracik AHEAD (Advanced Hit Energy & Destruction). AHEAD merupakan peluru dari tipe airbursting atau pecah di udara. Peluru ini punya dua varian, yaitu ADV (air defence variant) dan IFV untuk menghadapi kendaraan tempur. Khusus untuk peluru ADV, tiap ujung proyktil tersimpan 152 pellet (sub proyektil) berbahan tungsten yang setiap pellet memiliki bobot 3,3 gram. Bila yang dihadapi sasaran seperti rudal, digunakan AHEAD konvensional dengan 31 sub proyektil yang masing-masing terdiri dari susunan 11 pellet dengan bobot 1,5 gram.
Untuk urusan amunisi 35 mm, pihak pabrikan meracik AHEAD (Advanced Hit Energy & Destruction). AHEAD merupakan peluru dari tipe airbursting atau pecah di udara. Peluru ini punya dua varian, yaitu ADV (air defence variant) dan IFV untuk menghadapi kendaraan tempur. Khusus untuk peluru ADV, tiap ujung proyktil tersimpan 152 pellet (sub proyektil) berbahan tungsten yang setiap pellet memiliki bobot 3,3 gram. Bila yang dihadapi sasaran seperti rudal, digunakan AHEAD konvensional dengan 31 sub proyektil yang masing-masing terdiri dari susunan 11 pellet dengan bobot 1,5 gram.
Ketika tungsten dipanaskan oleh ledakan, maka dengan mudah menembus
bodi alumunium pesawat tempur, helikopter, dan pastinya rudal. Saat
proyektil AHEAD pecah di udara, pellet pecah tersebar bak peluru senapan
tabur raksasa. Sebarannya membentuk pola radial/kerucut yang akan
menangkap rudal dalam jangkauan sebarannya. Dengan proyektil yang pecah
pada jarak berdekatan, pellet-pellet membentuk awan metal raksasa yang
mampu ‘menjaring’ setiap sasaran. Secara teori, Skyshield mampu mencegat
rudal lawan pada jarak satu sampai tiga kilometer. Dengan saru magasin
yang terdiri dari 252 peluru, kanon ini dirancang mampu menghalau 10
rudal atau pesawat yang melintas dengan kecepatan tinggi.
Unit sensor Millenium menyediakan kemampuan pencarian, akusisi,
penjejakan dan penindakan sasaran, kemudian mengirimkannya ke sistem
kendali penembakan untuk memberikan solusi penembakan berdasarkan
sejumlah parameter data yang dihasilkan unit sensor. Sistem yang
dipasang terdiri dari radar pencari, radar penjejak, dan sensor elektro
optik untuk menjejak sasaran. Radar pencari berbentuk kotak dan
beroperasi pada i-band di frekuensi 8,6 – 9,5 Ghz, berputar dengan
kecepatan 40 kali per menit dan memiliki moda gelombang penjejak 2D atau
3D sesuai kebutuhan.
Sistem radar pencari dihubungkan dengan modul IFF (identification
friend or foe) untuk dapat mengenali target di udara. Kemampuan menjejak
sasaran dibagi dalam dua radius: 12 kilometer untuk elevasi -5 sampai
70 derajat, atau 20 kilometer untuk elevasi -5 sampai 42 derajat.
Pemancaran gelombang radar dilengkapi moda burst untuk mencegah jamming,
plus modul ECCM (electronic counter measure) untuk menghadapi situasi
perang elektronik. (dari berbagai sumber)
Spesifikasi Oerlikon Millenium 35 mm
Manufaktur : Rheinmetall Defence
Sistem Kendali : Remote/DC Servo
Kecepatan Tembak : 1000 proyektil per menit
Kecepatan proyektil : 1.440 meter per detik
Jangkauan Efektif : 4.000 meter
Bobot : 400 kg
Panjang : 4.110 mm
Sudut elevasi laras : -15 sampai 85 derajat
Kapasitas amunisi : 252 peluru per magasin
Sistem Daya : 120 VDC/40 Ah
ISO Mount : 1.630 Kg
Manufaktur : Rheinmetall Defence
Sistem Kendali : Remote/DC Servo
Kecepatan Tembak : 1000 proyektil per menit
Kecepatan proyektil : 1.440 meter per detik
Jangkauan Efektif : 4.000 meter
Bobot : 400 kg
Panjang : 4.110 mm
Sudut elevasi laras : -15 sampai 85 derajat
Kapasitas amunisi : 252 peluru per magasin
Sistem Daya : 120 VDC/40 Ah
ISO Mount : 1.630 Kg
Panglima TNI Imbau Santoso Menyerahkan Diri jika Tidak Ingin Mati
Panglima TNI Jenderal
Moeldoko, mengimbau Santoso, gembong teroris di Kabupaten Poso, Sulawesi
Tengah, untuk menyerah kepada aparat keamanan. TNI tengah menggelar
latihan gabungan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) dengan kekuatan
3.200 personel di sana.
“Nanti kalau ketemu TNI ada dua risikonya, mati atau dia (Santoso)
menyerahkan diri,” kata Moeldoko, di Kota Palu, Senin (30/3/2015),
sesaat sebelum terbang ke Poso untuk membuka latihan perang gabungan
TNI.
Santoso adalah pimpinan kelompok teroris yang diduga kuat melakukan
serangkaian kasus kekerasan di Kabupaten Poso dan beberapa daerah di
Provinsi Sulawesi Tengah.
Saat ini terdapat latihan PPRC di Poso dari Divisi II Komando
Strategis TNI AD yang diperkuat beberapa unsur dari TNI AL, TNI AU, dan
TNI AD.
Moeldoko mengatakan saat ini di Kabupaten Poso terdapat sekelompok
sipil kecil dan bersenjata dan tidak boleh dibiarkan. Kelompok dimaksud
adalah 20-an orang yang saat ini bersembunyi di hutan dan kerap menebar
teror kepada aparat dan masyarakat.
“Kelompok itu jangan sampai dibiarkan. Kalau dibiarkan, kelompok
radikal lain bisa merasa nyaman di Poso dan tumbuh besar,” ujarnya.
Dia mengatakan jika kelompok pimpinan Santoso itu dibiarkan maka
kelompok radikal Negara Islam di Suriah dan Irak (NIIS/ISIS) suatu saat
bisa bergabung dengan mereka.
“Saya tegaskan, tidak ada tempat untuk ISIS di Indonesia, termasuk di Poso,” kata Jenderal bintang empat ini.
Dia juga kembali menegaskan latihan perang seperti di Poso itu
latihan rutin tahunan yang lokasinya bisa di mana saja. “Tapi kalau
ketemu Santoso dan tidak mau menyerah, ya saya tembak,” katanya,
menegaskan. (Kompas)
Buka Latihan TNI, Moeldoko Minta Jaringan Santoso Menyerah
Panglima TNI Jenderal
Moeldoko menegaskan bahwa tak ada tempat untuk berkembangnya kelompok
Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Indonesia, termasuk di Poso.
Penyataan ini disampaikan Moeldoko di Bandara Mutiara Sis Aljufri, Palu,
Sulawesi Tengah, Senin (30/3/2015).
Moeldoko mengatakan jangan sampai ada kelompok radikal ISIS yang kembali dari Suriah dan berkembang di Indonesia.
Moeldoko sendiri datang ke Sulawesi Tengah untuk melepas
pemberangkatan pasukan TNI menuju kawasan latihan tempur di Poso yang
akan digelar 31 Maret-15 April 2015. Menurut dia, latihan tempur
dipusatkan di Pegunungan Biru, Tamanjeka, Poso, lantaran Poso dianggap
sebuah wilayah yang perlu mendapat perhatian.
“Di Poso ini ada sekelompok kecil bersenjata dan tidak boleh
dibiarkan. Karena jika dibiarkan lama-lama kelompok ini merasa nyaman di
Poso dan nantinya bisa berkembang dan menjadi besar,” kata Moeldoko.
Terkait pertanyaan bahwa latihan tempur yang dilakukan TNI di
Pegunungan Biru Poso juga bertujuan mengejar kelompok teroris pimpinan
Santoso yang diduga bersembunyi di kawasan tersebut, Moeldoko tidak
menampiknya.
“Tugas pokok kita kan untuk mengenal daerah operasi dulu. Nanti kita
lihatlah situasinya. Kalau ketemu kelompok Santoso dan dia tak mau
menyerah dan dia juga bersenjata serta melakukan perlawanan, ya kita
tembak. Tapi kalau dia mau menyerah ya lebih bagus lagi,” ujarnya.
Moeldoko juga mengimbau agar kelompok Santoso segera menyerahkan diri.
“Kalau tidak menyerah dan nantinya tabrakan dengan TNI, ada dua
risiko. Risikonya mati. Tapi kalau menyerah belum tentu mati,” tegas
Moeldoko.(kompas)
Senin, 30 Maret 2015
Airbus A400M Atlas: Next Generation, Pesawat Angkut Berat Strategis TNI AU
PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) menjadi ujung tombak TNI dalam
gelaran unsur pemukul infanteri secara massif yang dapat dihadirkan
dalam tempo singkat lewat platform lintas udara (linud) atau kondang
dengan istilah airborne. Karena sifatnya yang reaksi cepat, elemen
Batalyon Infanteri Linud diharuskan mampu diterjunkan di setiap titik
wilayah Tanah Air sejak 24 jam perintah operasi dikeluarkan oleh
Panglima TNI.
Guna mewujudkan perintah operasi linud, PPRC jelas butuh wahana yang
tak lain adalah pesawat angkut berat, dalam hal ini merujuk ke jenis
C-130 Hercules yang dinaungi Skadron Udara 31 dan Skadron Udara 32. Bisa
disebut, identitas pasukan linud TNI memang identik dengan sosok C-130
Hercules. Sejarahnya lekatnya pasukan linud TNI dan C-130 Hercules sudah
cukup lama mengakar. Meski di tahun 70-an belum ada istilah PPRC, namun
penyerjunan pasukan payung besar-besaran telah dilakukan TNI AD dan
Paskhas TNI AU dalam babak pembukaan operasi Seroja tahun 1975, sebagai
target kala itu untuk menguasai obyek-obyek vital di kota Dili, Timor
Timur.
Dalam konteks saat ini, PPRC dalam satu sortir dapat menerjunkan sekitar 560 paratroopers dari sepuluh unit C-130 Hercules.
Tentu saja jumlah pasukan yang diterjunkan bisa berkurang bila ada
pesawat yang mengalami kendala teknis. Memang masih ada unsur bantuan,
semisal dari armada CN-235 dan C-295
yang berasal dari Skadron Udara 2, namun dalam skenario operasi PPRC
dukungan dari kedua pesawat tersebut jarang dilibatkan secara maksimal.
Pelibatan pesawat angkut dalam jumlah cukup banyak juga mengundang
kerawanan, belum lagi gelaran pesawat dalam jumlah banyak dipandang
kurang efisien dari segi biaya operasional.
Kiprah C-130 Hercules tentu
masih sangat diunggulkan, dan tidak ada yang meragukannya. Namun, dalam
konteks gelar dan pergeseran pasukan, idealnya TNI AU minimal punya
lima skadron angkut berat. Maklum, peran pesawat angkut berat terbilang
strategis di Republik ini, tak hanya handal untuk misi milter, kiprahnya
juga sangat dominan dalam operasi militer bukan perang.
Melihat peluang kebutuhan TNI akan hadirnya pesawat angkut berat yang
punya volume lebih besar dari C-130 Hercules, mendorong Airbus Military
cukup serius menawarkan jagoannya yakni Airbus A400M Atlas ke
Indonesia. Hingga kini Airbus A400M masih dalam kajian Kemenhan untuk
opsi pembelian. Mengutip dari Tempo.co (18/4/2012), mantan Menteri
Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan Indonesia tidak akan membeli
pesawat Airbus Military A400M hingga 2015. “Kalaupun ada pembelian,
tidak dengan anggaran sampai 2015,” kata Purnomo. Pesawat Airbus A400M
akan diteliti kemampuan dan kapabilitasnya. Setelah 2015, barulah
Indonesia akan menentukan apakah akan membeli pesawat ini atau tidak.
Pihak Airbus Military memang lumayan gencar mengadakan pendekatan,
beberapa kali A400M hadir di Tanah Air. Pertama kalinya mendarat di
Lanud Halim Perdanakusuma pada 18 April 2012. Dan, belum lama juga hadir
menyertai rombongan pesawat demo Rafale pada 23 Maret 2015 lalu di Lanud Halim Perdanakusuma.
Pihak pabrikan yang dimotori militer Perancis terbilang gencar
melibatkan promo A400M dalam dukungan beberapa operasi militer Perancis,
seperti di kawasan Afrika.
Airbus A400M Atlas
Ditilik dari kemampuan angkut dan jangkauan, Airbus A400 berada di antara pesawat angkut strategis C-17 Globemaster III dan C-130J Hercules. Dari sisi teknologi, Atlas punya inovasi tinggi dengan adopsi sistem kemudi fly by wire yang memudahkan penerbangan, sistem forward facing crew cockpit yang membuat operasi penerbangan efisien, dan ruang kabin terbesar yang memungkinkan peberbangan jarak jauh menjadi lebih hemat. Karena sudah serba terkomputerisasi, A400M hanya membutuhkan tiga awak, yakni pilot, kopilot dan loadmaster.
Ditilik dari kemampuan angkut dan jangkauan, Airbus A400 berada di antara pesawat angkut strategis C-17 Globemaster III dan C-130J Hercules. Dari sisi teknologi, Atlas punya inovasi tinggi dengan adopsi sistem kemudi fly by wire yang memudahkan penerbangan, sistem forward facing crew cockpit yang membuat operasi penerbangan efisien, dan ruang kabin terbesar yang memungkinkan peberbangan jarak jauh menjadi lebih hemat. Karena sudah serba terkomputerisasi, A400M hanya membutuhkan tiga awak, yakni pilot, kopilot dan loadmaster.
Sebagai pesawat angkut berat, A400M punya ruang kargo dengan lebar 4
meter, tinggi 3,85 meter, dan panjang 17,71 meter, pesawat ini mampu
mengangkut kargo dalam berukuran besar seperti helikopter NH90 atau
CH-470 Chinook atau dua buah kendaraan pengangkut infanteri Stryker.
A400M juga bisa mengangkut truk semitrailer dengan peti kemas berukuran
6,906 meter. Kapasitas muatan keseluruhan mencapai 37 ton.
Nah, guna mendukung operasi linud PPRC, ruang kabin A400M bisa dimuati hingga 160 560 paratroopers.
Sementara bila digunakan untuk misi medical evacuation (Medevac), A400M
bisa memuat 66 usungan dengan membawa 25 tenaga medis. Keunggulan
lainnya, A400M dilengkapi perangkat air refuelling (isi bahan bakar di
udara), dan pesawat ini juga dapat disulap sebagai pesawat tanker.
Airbus A400M sejatinya adalah sebuah proyek Future International
Military Airlifter yang dicanangkan Aerospatiale, Britih Aerospace,
Lockheed, dan Messerschmitt Bolkow Blohm, untuk menggantikan C-130
Hercules dan C-160 Transall. Pesawat ini diyakini bisa menggaet customer
yang merasa berat jika harus membeli C-17 tapi merasa nanggung jika
harus memilih C-130.
Dengan seabreg kemampuannya, wajar bila Airbus A400M banyak membuat
calon operator kepincut. Tapi sayang banyak keinginan pembeli pupus
lantaran harga A400M yang sangat mahal. Sebagai perbandingan, C-130J
dibanderol US$62 juta, sementara A400M ada di kisaran US$175 juta per
unit. Tentu saja pihak Airbus berdalih, harga bergantung pada opsi yang
dipesan setiap customer. Hingga kini, 174 unit A400M telah di order dan
beberapa sudah mengudara. Yang cukup mengejutkan, Malaysia sudah memesan
4 unit A400M, dengan pengiriman unit perdananya dikirim pada Januari
2015. (Gilang Perdana)
Panglima TNI sinyalir pembunuh dua anggotanya adalah mantan GAM

Panglima
TNI Jenderal TNI Moeldoko memberikan pidato saat membuka secara resmi
pertemuan 100 ahli pangan di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Senin
(30/3). (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko
mensinyalir pelaku pembunuhan dua anggota TNI di Aceh adalah mantan
anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ingin merasa eksis.
"Ada sempalan lama yang ingin merasa eksis," kata Panglima TNI usai membuka pertemuan dengan 100 ahli pangan atau "100 Expert Meeting" dengan tema "Memastikan Terwujudnya Kedaulatan Pangan" di Aula Gatot Subroto, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin.
Saat ini, kata dia, TNI dan aparat kepolisian tengah mengidentifikasi pelaku pembunuhan dua anggota anggota intel Komando Distrik Militer (Kodim) 0103/ Aceh Utara, Serda Idra Irawan dan Sertu Hendrianto itu.
"Kami bekerja sama dengan kepolisian. Perintah saya jelas, cari sampai ketemu," tegas Panglima TNI.
Ia menilai peristiwa pembunuhan itu dilakukan secara sporadis dan tidak secara sistematis.
"Semuanya itu dalam konteks pidana. Karena prajurit saya ini tiga kali menemukan ladang ganja di tiga tempat, yakni 15 hektare, 8 hektare dan 1,5 hektare. Kemudian waktu sweeping juga menemukan sabu-sabu. Mungkin mereka sangat terganggu dengan itu," jelas Moeldoko.
Dari cara pelaku memperlakukan prajurit TNI sangat jelas pesannya, ditembak diberondong dan ditelanjangi. "Itu sebuah pesan yang jelas kepada kita. Untuk itu saya juga akan berikan pesan yang jelas pada mereka," tegasnya.
Dua anggota TNI AD dari satuan Kodim 0103 Aceh Utara meninggal dunia yaitu Sertu Hendrianto dan Serda Indra Irawan.
"Ada sempalan lama yang ingin merasa eksis," kata Panglima TNI usai membuka pertemuan dengan 100 ahli pangan atau "100 Expert Meeting" dengan tema "Memastikan Terwujudnya Kedaulatan Pangan" di Aula Gatot Subroto, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin.
Saat ini, kata dia, TNI dan aparat kepolisian tengah mengidentifikasi pelaku pembunuhan dua anggota anggota intel Komando Distrik Militer (Kodim) 0103/ Aceh Utara, Serda Idra Irawan dan Sertu Hendrianto itu.
"Kami bekerja sama dengan kepolisian. Perintah saya jelas, cari sampai ketemu," tegas Panglima TNI.
Ia menilai peristiwa pembunuhan itu dilakukan secara sporadis dan tidak secara sistematis.
"Semuanya itu dalam konteks pidana. Karena prajurit saya ini tiga kali menemukan ladang ganja di tiga tempat, yakni 15 hektare, 8 hektare dan 1,5 hektare. Kemudian waktu sweeping juga menemukan sabu-sabu. Mungkin mereka sangat terganggu dengan itu," jelas Moeldoko.
Dari cara pelaku memperlakukan prajurit TNI sangat jelas pesannya, ditembak diberondong dan ditelanjangi. "Itu sebuah pesan yang jelas kepada kita. Untuk itu saya juga akan berikan pesan yang jelas pada mereka," tegasnya.
Dua anggota TNI AD dari satuan Kodim 0103 Aceh Utara meninggal dunia yaitu Sertu Hendrianto dan Serda Indra Irawan.
Langganan:
Postingan (Atom)



























