Kamis, 19 Februari 2015

Pengerahan Pasukan TNI Tak Perlu Izin DPR

  Pasukan TNI dikirim bertugas ke Perbatasan (photo: Tribunnews.com)
Pasukan TNI dikirim bertugas ke Perbatasan (photo: Tribunnews.com)

Draft revisi undang-undang TNI yang diajukan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mendapat kritik. Kritik datang dari Panglima TNI Jenderal Moeldoko. Menurutnya, pengerahan pasukan tak perlu izin Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Draft revisi UU tersebut tengah dimasukkan ke dalam Prolegnas 2015. “Itu teknis ya. Saya sudah koreksi beberapa hal yang perlu dibenahi. Contohnya apakah diperlukan pengerahan militer dalam operasi selain perang, konteks menangani bencana harus izin dulu dari DPR. Masa perlu, kan enggak perlu,” ujar Moeldoko usai melepas 8 ratus prajurit perdamaian di Mabes TNI, Cilangkap, Rabu (18/2/2015).
Jenderal Moeldoko menambahkan, dalam draft revisi UU TNI tersebut, pihaknya juga telah mengajukan pengadaan Komando gabungan wilayah pertahanan (Kogabwilhan) kepada Presiden Joko Widodo. Adanya Kogabwilhan ini untuk memudahkan koordinasi TNI dengan membagi komando di tiga wilayah timur, tengah, dan barat.
“Kami sudah laporkan kepada Presiden dan sudah diterima oleh sekretaris negara. Sekarang sedang dipelajari dan dipertimbangkan. Kita tinggal menunggu dari pemerintah,” sambungnya. Dengan begitu, TNI akan memusatkan pertahanan di wilayah barat untuk sementara waktu, yakni Sumatera dan Kalimantan. Alasannya, TNI memproyeksikan pengamanan di wilayah perbatasan Laut Cina Selatan.
“Ke depan, kita proyeksikan sebagai first poin di kawasan Laut Cina Selatan sehingga bentuk Kogabwilhan itu sangat diperlukan,” jelasnya. Melalui Kogabwilhan, Moeldoko berharap dapat mensejajarkan unsur Angkatan Udara (AU), Angkatan Darat (AD), dan Angkatan Laut (AL). Sementara garis komando Kogabwilhan tetap di bawah koordinasi Panglima TNI.
“Itu unsur komandonya yang disiapkan. Jadi nanti akan selaras ke depannya,” katanya. Mengenai adanya gugatan Undang-Undang TNI-Polri di Mahkamah Konstitusi (MK) terkait pemilihan pemimpin. Moeldoko tak mempersoalkannya dan justru mendukung gugatan tersebut. “Pemilihan Panglima dan Kapolri disebut tidak usah melalui DPR, sepertinya lebih enak begitu,” imbuhnya. (okezone.com). JKGR.

TNI AD Terima Kapal LCU dan Tug Boat

  image
Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menerima penyerahan alutsista baru berupa dua buah Kapal pendarat serbaguna 1000 Dead Weight Tonnage (DWT) yaitu KM ADRI XLVIII dan ADRI XLIX, dan dua buah Tug Boat yaitu AD1 dan AD2, serta suku cadang dari PT. Putrindo Adiyasa Perkasa di Galangan II PT. Dok Kodja Bahari Tanjung Priok, Rabu (18/2).
Usai penyerahan dan penandatangan naskah serah terima kapal, maka kapal-kapal serta suku cadang yang merupakan pengadaan dari Kementerian Pertahanan RI ini, resmi diserahkan kepada TNI AD untuk memperkuat Direktorat Perbekalan dan Angkutan Angkatan Darat (Ditbekangad) sebagai kekuatan alat angkut air di jajaran TNI AD.
Dalam sambutannya, Kasad menyatakan bahwa kapal-kapal ini merupakan hasil karya dan kerjasama anak negeri yaitu personel Ditbekangad dengan para tenaga ahli dan pelaksana pembangunan dari PT. Putrindo Adiyasa Perkasa, PT. Tesco Indomaritim, PT. Dok Kodja Bahari dan PT Pindad. Penyerahan kapal ini juga menjadi bukti dukungan dan komitmen TNI AD dalam mendukung industri nasional dalam pengadaan berbagai peralatan pertahanan dan alutsista.
image
Dikatakan Kasad bahwa kebutuhan kapal sebagai alat angkut air sangatlah krusial dalam pelaksanaan tugas TNI AD, baik untuk sarana transportasi/mobilisasi (pergeseran pasukan) maupun sebagai sarana untuk mengangkut logistik ke seluruh pelosok tanah air. Hal ini mengingat kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang dikelilingi oleh perairan. Itulah mengapa penambahan dua unit kapal ini sangat berarti bagi TNI AD, khususnya Ditbekangad, dalam meningkatkan kinerjanya untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok TNI AD.
Kasad juga berharap ke depannya, pengadaan alat angkut air seperti ini harus ditingkatkan jumlahnya sesuai kebutuhan, namun dengan tetap memperhatikan kualitasnya, sesuai dengan tuntutan modernisasi yang tengah digalakkan di lingkungan TNI AD.
Sebelum mengakhiri sambutannya, Kasad menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Menteri Pertahanan RI yang telah mendukung program pengadaan dua unit kapal pendarat serbaguna 1.000 DWT, Tug Boat dan suku cadang ini. Selain itu Kasad juga mengucapkan terima kasih kepada Dirbekangad dan segenap Direksi PT pendukung yaitu PT. Putrindo Adiyasa Perkasa, PT. Tesco Indomaritim, PT. Dok Kodja Bahari dan PT Pindad, seraya berharap kerjasama yang telah terjalin baik ini dapat terus dilanjutkan, bahkan lebih ditingkatkan lagi di masa yang akan datang.
Khusus kepada Dirbekangad dan jajarannya, Kasad berpesan agar memelihara dan mengoperasionalkan armada kapal ADRI XLVIII dan ADRI XLIX ini dengan sebaik-baiknya dan sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku, sehingga dapat memperpanjang usia pakai kapal dan terutama guna memastikan tidak terjadi permasalahan selama dalam pelayaran.
image
Sementara itu, Dirbekangad Brigadir Jenderal TNI Pasenga Talilah menyampaikan bahwa kedua kapal ini akan menjadi armada andalan Yonbekang-4/Air, dimana pengoperasionalan kapal ini akan berada di bawah satuan tersebut. Dirbekangad juga berharap dengan tambahan kapal ini, satuan Bekang akan semakin profesional dan dapat meningkatkan kinerja satuannya.
Adapun spesifikasi kapal KM ADRI XLVIII dan ADRI XLIX yaitu memiliki panjang 68 meter, lebar 13,50 meter, tinggi geladak 5,70 meter, sarat air 2,75 meter. Kapal ini dilengkapi dengan mesin penggerak dengan ukuran 2 x 720 HP, kecepatan maksimal yang bisa dicapai yaitu 20 Knot, dengan tanki bahan bakar berkapasitas 250 ton, dan tanki air tawar berkapasitas hingga 432 ton, serta ruang palkah bervolume 1.450 m3.
Untuk muatan yang bisa diangkut oleh kapal pendarat serbaguna ini yaitu 300 orang pasukan dan perlengkapannya, 22 unit kendaraan truk seberat masing-masing 5 ton, 12 unit kendaraan tempur roda ban/rantai, atau bekal/materiil seberat 500 ton. Sementara jarak jelajah kapal ini bisa mencapai 3.000 mil laut.
Spesifikasi untuk Tug Boat AD1 dan AD2 yaitu, memiliki panjang seluruhnya (LOA) 15,20 meter, panjang antar garis (LPP) 13.80 meter, lebar luar (Mld) 5,15 meter, sara air atau design sepanjang 1,50 meter, dan kecepatan mencapai 6 knot. (Dispenad) jkgr.

Tawarkan Kerja Sama Industri Pertahanan dengan Sistem Ofset, Rusia Beri Indonesia “Lampu Hijau”

Rusia kembali menegaskan tawarannya ke Indonesia untuk memperluas kerja sama di bidang pertahanan. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk memperkuat posisi Rusia di pasar industri pertahanan dunia.
Kementerian Pertahanan Indonesia mengatakan, rencana yang ditawarkan berpusat pada rancangan pengembangan pertahanan dengan sistem ofset yang mencakup transfer teknologi (transfer of technology/TOT), produksi komponen dan infrastruktur bersama, dan pembentukan pusat layanan pemeliharaan dan perbaikan di Indonesia.

Tak Mau Sekadar Membeli Senjata, Negara Berkembang Ingin Miliki Teknologi Militer Rusia
Saat ini, semakin banyak negara yang hanya mau menandatangani kontrak pembelian senjata dengan sistem transaksi ofset. Ofset adalah sistem pembelian barang yang mewajibkan pabrik penghasil sebagai penjual untuk memberikan lisensi pembuatan sebagian komponennya pada industri di negara pembeli.
Dengan sistem transaksi ofset, negara-negara berkembang, seperti di Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Afrika, yang mengimpor senjata dari Rusia tak hanya menerima ‘perangkat’ senjata, tapi juga mendapat hak untuk merakit, merancang, memodifikasi, serta memiliki lisensi untuk mengekspor kembali senjata hasil pengembangan mereka.
Kementerian Pertahanan mengatakan, Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin telah menyampaikan tawaran ini kepada Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu pada 15 Januari 2015 lalu, demikian yang ditulis situs IHS Jane’s. Tawaran ini sekaligus menindaklanjuti usulan serupa yang diajukan Presiden Rusia Vladimir Putin kepada Presiden RI Joko Widodo dalam pertemuan antara kedua pemimpin negara tersebut di KTT APEC di Beijing, Tiongkok, pada November 2014 lalu.


Kremlin telah menyadari tren jual-beli senjata yang tengah berkembang. Dalam pertemuan Komisi Kerja Sama Militer Teknis yang diselenggarakan pada April 2014 lalu, Presiden Putin pun membahas pentingnya mempelajari penggunaan metode keuangan dan pemasaran modern, termasuk penggunaan sistem transaksi ofset.
Dalam 20 tahun terakhir, Indonesia telah membeli beberapa pesawat tempur multifungsi dari Rusia, yakni Su-27 dan Su-30, sepuluh helikopter Mi-35, 14 helikopter Mi-17, 17 kendaraan tempur infanteri BMP-3F, 48 kendaraan lapis baja BTR-80A, dan sembilan ribu senapan Kalashnikov AK-102. Pada Desember 2011, Rusia dan Indonesia telah menandatangani kontrak pengiriman enam pesawat tempur ke Indonesia seharga 500 juta dolar AS. Dapat dikatakan, kompleks industri pertahanan Rusia memiliki tempat yang kuat dalam perbendaharaan senjata Indonesia.

Sukhoi di Ambalat Kejar Pesawat Tanpa Awak

  Pesawat TNI AU Sukhoi yang diawaki Komandan Skuadron 11 Lanud Sultan Hasanuddin Makassar Letkol Pnb David Tamboto terbang rendah di Bandara Juwata Tarakan usai mengejar pesawat tanpa awak yang akan masuk perbatasan Ambalat. (Tribunnes Katim/Junisah).
Sukhoi TNI AUyang diawaki Komandan Skuadron 11 Lanud Sultan Hasanuddin Makassar Letkol Pnb David Tamboto terbang rendah di Bandara Juwata Tarakan usai mengejar pesawat tanpa awak yang akan masuk perbatasan Ambalat. (Tribunnes Katim/Junisah).

Setelah sembilan hari melakukan patroli udara di wilayah Provinsi Kalimantan Utara, pilot Sukhoi 27 dan 30 dari Skudron 11 Lanud Sultan Hasanuddin Makassar, Selasa (17/2/2015) pukul 10.00 Wita menangkap adanya sinyal wahana asing seperti UV atau pesawat tanpa awak akan masuk wilayah Indonesia, tepatnya di wilayah perbatasan Ambalat.
Siang itu, dua pesawat buatan Rusia yang diawaki pilot Komandan Skuadron 11 Lanud Sultan Hasanuddin Makassar, Letkol Penerbang David Tamboto dan dua pilot Sukhoi take off dari Bandara Juwata Tarakan melakukan operasi patroli udara “Sandi Perisai Sakti 2015″.
Beberapa menit berpatroli di udara dengan melakukan beberapa manuver, pilot David mendapatkan informasi dari Satuan Radar (Satrada) Tarakan, bahwa dari layar Satradar tertangkap adanya sinyal wahana asing yang masuk di perbatasan Ambalat.
Mendapatkan informasi, dua pesawat Sukhoi langsung meluncur selama 5 menit ke wilayah perbatasan Ambalat. Sampai di lokasi yang dituju, pilot Sukhoi tidak menemukan wahana asing yang berasal dari negara tetangga sekitar.
“Sampai di sana, kami tidak menemukan wahana asing tersebut. Ternyata wahana asing seperti UV atau pesawat tanpa awak ini langsung menghilang,” ucap David ketika tiba di Bandara Juwata Tarakan usai melakukan patroli di udara Kaltara.
David mengaku, sejak (9/2/2015) kemarin mendapatkan tugas melakukan patroli di wilayah Kaltara, pihaknya beberapa kali mendapatkan sinyal ada wahana asing yang berasal dari negara tetangga sekitar yang ingin mendekati atau memasuki wilayah perbatasan Ambalat.
“Namun setiap kami melakukan patroli di udara, wahana asing dari negara-negara tetangga hanya mendekat ke wilayah perbatasan, belum masuk wilayah Indonesia,” ujarnya, namun enggan memberitahukan wahana asing berupa UV tersebut dari negara mana.
David mengaku tidak mengetahui secara pasti sampai kapan patroli di wilayah Kaltara. Pihaknya hanya menunggu perintah dari atasan saja. “Kami tidak tahu sampai kapan patroli ini terus dilakukan. Dari awal kami di sini sesuai perintah atasan melakukan patroli di wilayah Kaltara. Jadi kami hanya tunggu perintah atasan,” tuturnya.
Beda halnya yang dikatakan Danlanud Tarakan Letkol Penerbang Tiopan Hutapea. Menurut Tiopan, sejak dari Januari lalu banyak pelanggaran wilayah udara di Kaltara yang dilakukan oleh negara-negara tetangga.
“Sudah ada beberapa kali terjadi pelanggaran udara yang dilakukan negara-negara tetangga sekitar. Mereka ini masuk di wilayah Kaltara, tepatnya di perbatasan Ambalat tanpa izin. Ini dapat dilihat dari monitor Satradar Tarakan, apalagi kami memiliki file dan bukti rekamannya,” ungkapnya.
Saat ditanya berapa jumlah pastinya pelanggaran udara termasuk negara yang melakukan pelanggaran udara tersebut, Tiopan enggan memberitahukan. “Adalah beberapa kali dari beberapa negara tetangga sekitar,” katanya sambil tersenyum.
Tiopan mengaku, selama Sukhoi berpatroli di wilayah Kaltara, jumlah pelanggaran udara, khususnya di perbatasan Ambalat menurun drastis atau terjun bebas sampai angka O atau zero.
“Sesuai prosedur tentunya kami melakukan tahap pertama untuk memperingatkan pesawat asing meninggalkan daerah perbatasan Indonesia. Kalau sudah kami peringatkan mereka tidak mau pergi kami melakukan tahap dua memaksa pesawat itu turun. Kalau tahap 1 dan 2 pesawat asing ini tidak mau juga kami mau tidak mau langsung tembak,” tegasnya.(kaltim.tribunnews.com).

Accuracy International Arctic Warfare: Senapan Runduk TNI Yang Tahan Suhu Ekstrim

IMG_4013
Peran penting sniper, atau penembak runduk, dalam pertempuran sudah tidak dapat dipungkiri lagi. Dalam medan perang sniper dapat menghabisi sasaran penting seperti perwira dengan pangkat tinggi dari jauh, menjadi pengawas juga pengamat medan pertempuran, melindungi pergerakan infanteri, bahkan sampai menghancurkan peralatan vital.
Mengingat pentingnya unit penembak runduk dalam angkatan bersenjata sebuah negara, semua unit elit di lingkungan TNI dan Polri dipersenjatai dengan senapan sniper terkini. Karena tebaran satuan elit yang beragam, Indonesia pun kaya dengan ragam jenis senjata tembak jitu ini. Sebut saja ada SPR-1 Pindad, SIG SHR 970, Hecate II, SIG Sauer SSG 3000, Brno CZ 550, Armalite AR-10, Steyr SSG-69, SIG SG 550, hingga senapan anti material SPR-2 Pindad dan NTW-20. Selain nama-nama diatas, ada satu lagi nama senapan sniper yang cukup kondang di dunia dan jadi andalan Kopassus dan Yonif Raider TNI AD. Namanya tergolong panjang, yakni Accuracy International Arctic Warfare (AW), senapan bolt action buatan perusahaan Inggris, Accuracy International.
Karena buatan Inggris, maka pengguna pertama dan utamanya adalah Inggris, khususnya pada Royal Army sejak tahun 1982, saat itu masih dinamakan Precision Marksman. Pada tahun 1991, Swedia meminta pihak Accuracy International untuk melakukan perubahan desain agar sesuai dengan kebutuhan militer mereka. Desian ini akhirnya diberi nama Arctic Warfare yang akhirnya lebih populer ketimbang nama aslinya.
Kopassus dengan Accuracy International Arctic Warfare.
Kopassus dengan Accuracy International Arctic Warfare.
Long-Range-Rural-shoot
Saat latihan bersama AD Australia.
8ab
Kopassus dengan Accuracy International Arctic Warfare laras berperedam.

Dengan peredam, digunakan satuan Raider TNI AD.

Senjata Dengan Nama Unik
Penamaan Arctic Warfare bukanlah tanpa sebab, senapan ini mampu beroperasi dengan sempurna walau di iklim -40 derajat celsius. Fitur anti pembekuan ini tentu membuatnya cocok untuk daerah skandinavia yang dingin. Accuracy International juga memperbesar ukuran popor, bolt dan magasin pada AW.
Senapan ini menggunakan bidikan optik buatan Jerman, Schmidt & Bender PM II/MILITARY MK I sebagai standar penjualannya. Namun beberapa negara seperti Jerman dan Rusia menggantinya dengan buatan Carl Zeiss. Senapan juga memiliki opsi bidikan night optics untuk operasi malam. Sebagai tambahan, biasanya dilengkapi dengan bipod pada bagian bawah laras dan monopod pada bagian bawah popornya.
800px-Accuracy_International_Arctic_Warfare_-_Psg_90ai-aw762e20-4IMG_2048arctic-warfare-magnum-awm-a
Berat senapan mencapai 6,5 kg dengan panjang laras 660 mm dan panjang keseluruhan 1.180 mm. Bodi AW terbuat dari aluminium sampai ke popor senjata yang biasanya menggunakan kayu atau polimer. Sistem chassis ini dipatenkan sebagai Accuracy International Chassis System (AICS) dan dapat digunakan untuk semua senapan produksi mereka. Sistem ini membuat AW lebih kokoh namun tidak menambah bobot tambahan pada senapan.
Amunisi yang digunakan biasanya menggunakan tipe NATO 7,62×51 mm atau varian .234 Winchester. Begitu ditembakkan, peluru bisa melesat sampai jarak tembak efektif 800 meter. Magasin tipe box dipasang pada bagian bawah receiver senapan AW mampu menampung 10 peluru. Magasin, menggunakan tipe kolom ganda berbahan baja.



Tampil sebagai senjata andalan sniper di film Behind Enemy Lines.
Tampil sebagai senjata andalan sniper di film Behind Enemy Lines.
Perlengkapan full set sniper Accuracy International Arctic Warfare.
Perlengkapan full set sniper Accuracy International Arctic Warfare.
Dilibatkan dalam banyak misi tempur di Irak dan Afghanistan.
Dilibatkan SAS dalam banyak misi tempur di Irak dan Afghanistan.

Saat ini belasan negara di Dunia masih menggunakan Arctic Warfare. Meski dirancang untuk iklim dingin, tapi faktanya senapan ini dapat dioperasikan dengan optimal di lingkungan bersuhu panas. Dalam perang di Afghanistan dan Irak pun, unsur pasukan elit Inggris dan AS masih percaya akan kemampuan senapan satu ini. Bahkan saking populernya, Arctic Warfare dimasukan dalam video game first person shooter Counter Strike. Senapan ini juga tampil cukup masif dalam film Behind Enemy Lines (2001). (Deni Adi)

Spesifikasi
Berat : 6,5 kg
Panjang laras : 660 mm
Panjang : 1.180 mm
Amunisi : 7,62 x 51mm NATO (.308 Winchester)
Pola operasi : Bolt-action
Kecepatan proyektil : 850 meter per detik
Jarak tembak efektif : 800 meter
Magasin : 10 peluru

Rabu, 18 Februari 2015

Pangdam XVII/Cenderawasih Tutup Diklatsarmil Bela Negara LMR-RI

Pangdam XVII/Cenderawasih Tutup Diklatsarmil Bela Negara  LMR-RI
Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Fransen G. Siahaan, S.E., memimpin Upacara Penutupan Pendidikan Latihan Dasar Militer (Diklatsarmil) Bela Negara Lembaga Missi Reclasseering Rebuplik Indonesia (LMR-RI) pada Rabu 18 Pebruari 2015, bertempat di Pantai Holtekamp Koya Timur. Latihan yang diikuti 146 peserta dari anggota LMR-RI selama 4 (empat) minggu ini bertujuan untuk membekali dan menyiapkan generasi muda agar memiliki kesiapan mental maupun fisik, kemampuan akademik serta mempunyai wawasan kebangsaan dan rasa nasionalisme yang tinggi sebagai bekal untuk melaksanakan tugas dan fungsi LMR-RI dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pangdam XVII/Cenderawasih dalam amanatnya menyampaikan agar apa yang didapat dari hasil latihan dapat dihayati dan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga generasi muda LMR-RI dapat memahami dan menyikapi segala bentuk ancaman dan tantangan yang menghadang dihadapan kita yang dapat mengganggu kepentingan bangsa dan negara. Jadikan pengalaman yang telah diperoleh selama latihan dasar militer ini sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Janganlah cepat puas terhadap ilmu yang telah didapat selama mengikuti pendidikan dan latihan, karena ini hanya sebagian dari ilmu dasar yang ada, untuk selanjutnya dikembangkan oleh masing-masing perorangan. Miliki militansi yang tinggi, sifat pantang menyerah dalam melaksanakan berbagai kegiatan dan tantangan, tegakkan disiplin, tata tertip dan hukum yang berlaku serta tingkatkan kualitas diri masing-masing dengan selalu belajar dan berlatih.
Pada kesempatan tersebut Ketua LMR-RI Bapak Imam Safei juga menyampaikan anggota LMR-RI yang telah selesai mengikuti pendidikan dan latihan harus dapat menghayati dan mengimplementasikan integritas kepribadian yang baik dan dapat mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan dasar kemiliteran yang telah dilatihkan, sehingga mereka memiliki kesetiaan untuk berbakti kepada negara, ketaatan dan kepatuhan kepada atasan, keteguhan, ketabahan dan keberanian dalam melaksanakan tugas berdasarkan hukum serta perundang-undangan yang berlaku. Disamping itu mereka juga dituntut memiliki loyalitas dengan mendahulukan tugas diatas kepentingan pribadi, memiliki pengetahuan hukum dan peraturan perundang-undangan serta terwujudnya kondisi jasmani yang samapta sehingga dapat menampilkan wibawa lahiriah sebagai personel LMR-RI. Dari perwakilan keluarga peserta pelatihan LMR-RI yang hadir dalam upacara penutupan tersebut menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh pelatih khususnya Kodam XVII/Cenderawasih yang telah membekali pengetahuan dan keterampilan, serta mendapatkan ilmu yang sebelumnya tidak pernah didapat sehingga sekarang mereka lebih matang dalam berfikir, bersikap dan bertindak.
Turut hadir pada kegiatan tersebut Ketua MRP, Danlanud Jayapura, Ketua DPRD Kabupaten Keerom, Kepala Basarnas Provinsi Papua, Danrindam XVII/Cenderawasih, para Asisten Kasdam XVII/Cenderawasih, para Kabalak Kodam XVII/Cenderawasih, Kasat Brimob, Kapolres Kota  Jayapura, Dandim 1701/Jayapura.

TNI. 

Panglima TNI Berangkatkan 800 Prajurit TNI Ke Darfur

Panglima TNI Berangkatkan 800 Prajurit TNI Ke Darfur
Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko didampingi Kepala Staf Angkatan memberangkatkan 800 Prajurit TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas Batalyon Komposit (Satgas Yon Komposit) TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXV-A/Unamid (United Nations Mission In Darfur) sebagai pasukan pemelihara perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di wilayah Darfur, bertempat di Plaza Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur, Rabu (18/2/2015).
Sebanyak 800 Prajurit TNI tersebut, terdiri dari : 650 dari TNI AD, 100 dari TNI AL dan 50 dari TNI AU, dipimpin oleh Letkol Inf M. Herry Subagyo sebagai Komandan Satgas, yang sehari-hari menjabat sebagai Danyonif 721/Makkasau, Kodam VII/Wirabuana, Sulawesi. Batalyon Komposit Konga XXXV-A/Unamid merupakan misi Satgas TNI pertama yang memang dipersiapkan untuk menjadi Pasukan Perdamaian PBB di Darfur, dan akan melaksanakan tugas selama satu tahun. Sementara itu, kendaraan taktis yang dilibatkan dalam mendukung Satgas tersebut yaitu: 24 Panser ANOA, 30 Truk dan 34 Jeep.
Satgas Yon Komposit TNI Konga XXXV-A/Unamid akan melaksanakan mandat pemeliharaan perdamaian berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1769 tahun 2007. Dalam pelaksanaan tugasnya, Satgas Yon Komposit akan ditempatkan pada dua UN Camp, yaitu Markas Batalyon beserta Kompi Bantuan dan 3 Kompi Senapan yang berada di Supercamp Secwest UNAMID di El Geneina dan 1 Kompi Senapan Berdiri Sendiri berada di Masteri Camp dengan jarak lebih kurang 70 km dari Supercamp El Geneina.
Dalam amanatnya Panglima TNI menyatakan bahwa tugas apapun yang akan diemban, kata kunci sukses dalam melaksanakan tugas tersebut adalah pemahaman terhadap mandat dan penguasaan terhadap misi yang akan diemban dengan pemahaman segala ketentuan atau prosedur dalam mengeksekusi misi tersebut. Untuk itu, pahami mandat dan misi Unamid, yang menjadi kebijakan dewan keamanan PBB.
Resolusi PBB 1769 tahun 2007 diputuskan bahwa Unamid memiliki mandat dan kewenangan untuk mengambil tindakan yang diperlukan dalam pengerahan pasukan sesuai kemampuannya, untuk melindungi personel, fasilitas, instalasi dan peralatan, dan untuk menjamin keamanan, serta kebebasan bergerak personel sendiri dan lembaga-lembaga kemanusiaan. Pada sisi lain, Unamid memiliki kewenangan mencegah gangguan dan ancaman bersenjata, disamping delapan tugas lain terkait dengan pengerahan kekuatan, termasuk pengamanan perbatasan Sudan dengan Chad dan Republik Afrika Tengah.
"Hal ini penting untuk dikuasai oleh personel Satgas, guna memberikan pemahaman terhadap standing operation procedure dan rule of engagement, yang berlaku pada misi Unamid", ujar Panglima TNI.
"Jaga soliditas dan kembangkan Early Warning System di lingkungan satuan, serta laksanakan analisis terhadap kecenderungan perkembangan situasi", tegas Panglima TNI.
Mengakhiri amanatnya Panglima TNI meminta kepada seluruh anggota Satgas untuk menyiapkan, kemampuan diri dengan sebaik-baiknya dan membekali keluarga dengan pemahaman yang baik, sehingga para prajurit dapat melaksanakan tugas tanpa harus memikirkan persoalan-persoalan yang terjadi di rumah. Para prajurit harus berangkat dengan kesiapan fisik dan mental yang paripurna, dan dengan kebanggaan yang besar, guna mengemban misi bagi kebesaran TNI, bangsa dan negara. 

TNI.