Rabu, 10 Juni 2015

Komando Operasi Khusus Gabungan TNI

 image
Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko bertindak selaku Inspektur Upacara pada peresmian pembentukan Komando Operasi Khusus Gabungan Tentara Nasional Indonesia (Koopssusgab TNI), di Silang Monas Jakarta Pusat, Senin (9/6/2015).
Panglima TNI dalam sambutannya mengatakan bahwa, fungsi pokok sebuah negara adalah menjaga kedaulatan negara dan melindungi seluruh rakyatnya dari ancaman, serta memelihara keteraturan dan stabilitas nasional, sebagai bagian dari kepentingan nasional. “Negara dipastikan akan berusaha untuk mengoptimalkan sumber daya dan militernya dalam mencapai tujuan dan kepentingan nasional”, tegasnya.
“Hal tersebut akan terwujud dalam sistem pertahanan negara yang berorientasi pada capability based defence. Karena itu, negara perlu mengoptimalkan seluruh komponen sistem pertahanan negara, baik komponen utama maupun komponen cadangan”, kata Panglima TNI.
image
image
image
Lebih lanjut Panglima TNI menyampaikan bahwa dalam kaitan tersebut dan merujuk orientasi capability based defence, TNI senantiasa akan terus mengembangkan kapasitas dan kapabilitasnya, yang saat ini akan dilakukan dengan mengoptimalkan operasionalisasi pasukan-pasukan khusus di jajaran TNI, dalam rangka menghadapi kecenderungan perkembangan tantangan dan ancaman di era global saat ini.
Jenderal TNI Moeldoko juga mengatakan bahwa, Satuan Komando Operasi Khusus Gabungan TNI, akan mengintegrasikan operasionalisasi Kopassus, Kopaska, Denjaka dan Denbravo, menjadi kekuatan handal dalam format Koopssusgab TNI, sebagai pasukan standby force. “Kekuatan handal yang harus dibangun adalah keunggulan kemampuan individual dan satuan, dihadapkan kwalitas ancaman dan situasi di Darat, Laut dan Udara yang berkembang di seluruh wilayah Indonesia”, ujarnya.
“Pembentukan Koopssusgab TNI adalah realisasi dari tanggung jawab TNI kepada negara dan pemerintah atas kesiapsiagaan TNI, dengan tingkat kecepatan tinggi terhadap tugas-tugas berderajat cepat dan segera”, tegas Jenderal TNI Moeldoko.
image
image
image
Dalam kesempatan tersebut, Panglima TNI memerintahkan kepada para Komandan Satuan Pasukan Khusus di jajaran TNI, agar menyusun doktrin penguatan soft power dan hard power Koopssusgab TNI. Penguatan soft power dimulai dengan membangun hubungan emosional, dalam menyamakan persepsi, membangun soliditas, solidaritas dan mengeliminasi ego sektoral, karena soft power ini sangat fundamental dalam membangun keunggulan kemampuan. Sedangkan, penguatan hard power dilakukan dengan melakukan analisis terhadap perkembangan kecenderungan tantangan dan perkembangan teknologi, sehingga akan diperoleh substansi penguatan kapasitas, keterampilan personel dan latihan yang realistik, serta logistik dan peralatan khusus yang dibutuhkan.
“Guna penguatan kemampuan analisis, laksanakan pembinaan dan latihan Sandhi Yudha, dengan membangun koordinasi, serta sinergitas praktis bersama Bais TNI dan satuan intelijen di jajaran TNI”, tutup Panglima TNI.
Sebelum meresmikan pembentukan Koopssusgab TNI, Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko menyaksikan Latihan Penanggulangan Anti Teror (Latgultor) yang dilaksanakan oleh Satuan Pasukan Khusus TNI, di Hotel Borobudur dan Gedung Dirjen Kekayaan Negara Jakarta Pusat.
image
image
Latihan tersebut mengambil tema: “Satuan Penanggulangan aksi Terorisme untuk melumpuhkan dan menghancurkan kelompok Teroris guna memelihara stabilitas keamanan di wilayah dalam rangka Operasi Militer Selain Perang (OMSP)”, dengan melibatkan 478 personel terdiri dari: 180 personel Satpassus TNI dan 238 personel pendukung. Adapun personel Satpassus TNI terdiri dari: 47 personel Sat 81 Kopassus TNI AD, 35 personel Denjaka Marinir TNI AL, 32 personel Sat Bravo 90 Paskhas TNI AU, dan 66 personel Air Crew dari ketiga Angkatan. Sedangkan personel Pendukung latihan sejumlah 238 personel terdiri dari: 44 personel Staf Latihan, 57 personel Denmalat, 29 personel Komlek, 18 personel Protokol, 7 personel Bais TNI, 5 personel BNPT, 30 personel Pom TNI, 14 personel Polri, 52 personel Pemda DKI, 2 personel Pengendali Udara, dan 40 personel Security.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut diantaranya, Menkopolhukam Laksamana TNI (Purn) Tedjo Edy Purdijatno, Kapolri Jenderal Pol Drs. Badrodin Haiti, Kasum TNI Marsdya TNI Dede Rusamsi, Wakasal Laksdya TNI Widodo, S.E., M.Sc, Wakasau Marsdya TNI Bagus Puruhito, Irjen TNI Letjen Syafril Mahyudin, para Asisten Panglima TNI, Kapuspen TNI Mayjen TNI M. Fuad Basya, Anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (Purn) Supiadin AS., serta Atase Pertahanan Australia, Malaysia, Tiongkok, India dan Brunei Darussalam. (Puspen TNI).

Autentikasi :
Kadispenum Puspen TNI, Kolonel Czi Berlin G. S.Sos., M.M.

Manuver Sukhoi dalam Operasi Pengamanan Teror

  image
Langit Lapangan Banteng, Jakarta Pusat dipenuhi suara menderu-deru. Ratusan pasang mata tertuju ke arah atas sisi timur.
Suara itu berasal dari pesawat Sukhoi yang melintas rendah di kawasan tersebut, Selasa (9/6/2015). Tiga unit Sukhoi milik Satbravo ’90 Korphaskhas TNI AU ini melintas rendah dari arah utara. Saat tiba di sisi barat Hotel Borobudur, pesawat-pesawat ini berputar 360 derajat alas jungkir balik.
Pesawat itu tampak lihai meliuk-liuk di langit dalam formasi yang sama. Setelah berputar 2 kali, pesawat tersebut meninggalkan kawasan Lapangan Banteng.
Tepuk tangan membahana menyambut kesuksesan tim dalam bermanuver. Aksi tersebut merupakan pembukaan dari Latihan Penanggulangan Anti Teror (Latgultor) yang dilaksanakan oleh Satuan Komando Operasi Pasukan Khusus Gabungan (Koopssusgab) TNI.
image
Satuan tersebut terdiri dari Sat-81 Gultor Kopassus TNI AD, Denjaka TNI AL dan Satbravo ’90 Korphaskhas TNI AU. 478 Pasukan diterjunkan dalam latihan ini.
Berbagai alutsista dikerahkan dalam operasi teror yang diskenariokan terjadi di Hotel Borobudur. Seperti 12 helikopter yang terdiri dari 2 Heli MI-35 dan 6 Heli Bell TNI AD, 2 Heli Bell 412 TNI AL dan 2 Heli TNI AU SA-330 Puma dan NAS Superpuma.
Sedangkan material yang digunakan adalah 9 unit kendaraan taktis, 15 unit kendaraan administrasi, 8 unit motor, 3 unit bomb trailer, 3 unit Ran Explosive Ordnance Disposal (EOD), 1 unit kendaraan nuklir biologi kimia, ambulans, kendaraan polisi, damkar dan bus sasaran.
image
Materi latihan berupa teknik dan teknik alfitrasi darat, laut dan udara. Teknik menembak reaksi, teknik dan taktik pertempuran jarak dekat, teknik dan taktik perebutan cepat, teknik dan taktik pembebasan tawanan/sandera, teknik dan taktik ship boarding, teknik penjinakan bahan peledak, teknik eksfiltrasi, rubber duck operation dan masih banyak lainnya.
“Latihan ini dilakukan untuk mengantisipasi dan merespon kemungkinan terjadinya kontijensi anti teror yang mengancam kepentingan bangsa dan NKRI,” ujar narator di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.
Latihan ini dihadiri oleh Panglima TNI Jenderal Moeldoko, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti dan Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdjiatno.

Detik.com

Panglima TNI : Yang Usik Kedaulatan Negara, Kita Sikat

Panglima tni pasus
Panglima TNI Jenderal Moeldoko meresmikan Satuan Komando Operasi Pasukan Khusus Gabungan di Lapangan Tembak, Jakarta Pusat, Selasa (9/6/2015). Kepada wartawan, Moeldoko menjelaskan pentingnya pembentukan pasukan khusus gabungan tersebut.
“Status mereka betul-betul siaga penuh setiap detik. Dalam hitungan detik bisa digerakkan. Kita mengenal terorisme dari berbagai sumbernya, Al Qaeda, dan yang terbaru, ISIS. Apa pun, sepanjang itu menyinggung kedaulatan negara, kita sikat! Enggak ada cerita,” kata Moeldoko.
Pasukan gabungan khusus tersebut akan ditempatkan di Sentul, Jawa Barat. Di sana, waktu-waktu mereka akan diisi oleh latihan dan penguatan indoktrinasi ketahanan nasional.
“Misalnya di Bali ada ancaman, dia langsung bisa bergerak. Kita proyeksikan di titik-titik rawan,” kata Moeldoko.
Ia menambahkan, kemampuan setiap personel di pasukan gabungan khusus itu di atas rata-rata kemampuan personel TNI biasa, bahkan anggota satuan khusus sekalipun. Hadirnya pasukan gabungan khusus ini diharapkan mampu memberikan keamanan dan kenyamanan masyarakat di Indonesia.
“Rakyat enggak usah takut lagi. TNI siap, Polri siap, kita akan korbankan segalanya bagi rakyat,” ujar Moeldoko.
Peresmian pembentukan pasukan gabungan khusus itu diawali dengan latihan penanggulangan teror di Hotel Borobudur dan Gedung Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa pagi. Latihan tersebut mengambil tema “Satuan Penanggulangan Aksi Terorisme untuk Melumpuhkan dan Menghancurkan Kelompok Teroris Guna Memelihara Stabilitas Keamanan di Wilayah dalam Rangka Operasi Militer Selain Perang”.
Latihan melibatkan Satuan 81 Penanggulangan Teror Kopassus TNI AD, Denjaka TNI AL, dan Satuan Bravo 90 Korphaskas TNI AU dengan jumlah personel 478 orang. Satuan ini terdiri dari tiga matra di TNI, Polri, Badan Intelijen Strategis (Bais), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), hingga petugas sekuriti.
Adapun alat utama sistem persenjataan yang digunakan meliputi 12 helikopter, 9 unit kendaraan taktis, 3 unit bomb trailer, 3 unit RAN explosive ordnance disposal, 9 unit ambulans, hingga 9 unit kendaraan pemadam kebakaran.
Materi latihan mencakup teknik dan taktik infiltrasi darat, laut dan udara, teknik menembak reaksi, teknik dan taktik pertempuran jarak dekat, teknik dan taktik perebutan cepat, teknik pembebasan tawanan atau sandera, teknik penjinakan bahan peledak, hingga prosedur evakuasi. Latihan ditujukan untuk mengantisipasi serta merespons teror di dalam negeri.

Kompas.com

Koopssusgab, Satuan Gabungan Elite TNI

  pasukan elit tniTNI memiliki Satuan Komando Operasi Pasukan Khusus Gabungan (Koopssusgab) sebagai pasukan khusus anti teror. 90 Orang dipilih dengan spesifikasi khusus dipilih untuk menjadi anggota tim ini.
“Intinya 60 orang. Tapi bagian-bagiannya sehingga semua kekuatannya 90 orang. Posisinya standby di Sentul dengan status operasi,” kata Panglima TNI Moeldoko di Lapangan Banteng, Jl Lapangan Banteng, jakpus, Selasa (9/6/2015).
90 Orang tersebut dari orang-orang terbaik dari Kopassus, Denjaka AL dan Paskas AU. Pagi ini mereka menunjukkan aksi mereka menyelamatkan sandera teroris di Hotel Borobudur dan gedung Dirjen Kekayaan Negara Jakarta.
Mereka akan siaga di wilayah Sentul dengan berlatih dan belajar. Meski begitu, mereka berstatus operasi sehingga bisa setiap saat diterjunkan dalam proses penanggulangan anti teror.
“Mereka posisinya status operasi dalam hitungn detik bisa digerakkan,” ucapnya.
Peresmian satuan khusus ini dilakukan di lapangan silang Monas, Jakarta Pusat.

Detik.com

Sejak ’65, AURI Selalu Menjadi Anak Tiri

Rudal Krypton Kh-31 diusung Fighter Sukhoi Indonesia (photo: FB Jiwa Merah Putih)
Rudal Krypton Kh-31 diusung Fighter Sukhoi Indonesia (photo: FB Jiwa Merah Putih)

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau), Marsekal (Purn) Chappy Hakim memprotes usulan sejumlah pihak yang mengesampingkan keberadaan kacer AU sebagai calon Panglima TNI. Kekesalan dan kekecewaan itu diungkapkan Chappy lewat akun Twitter miliknya.
Protes yang dilayangkan Chappy itu bukan tanpa alasan, sejak Indonesia merdeka, AU hampir tak pernah mendapat jatah Panglima. Kecuali di era SBY, di mana Marsekal (Purn) Djoko Suyanto menjadi satu-satunya mantan pilot yang ditunjuk presiden sebagai Panglima. Sedangkan kelasi dari TNI AL sudah dua kali.
Di tengah gonjang-ganjing siapa yang berhak menempati posisi Panglima TNI, Angkatan Udara pernah mengalami masa-masa yang sangat kelam. Kondisi ini berlangsung di era tahun 1960-an, justru di korps ini berada di puncak kejayaannya.
Pada tahun 1962, hubungan mesra dengan Blok Timur ditambah kebijakan konfrontasi yang dilancarkan Soekarno terhadap Belanda di Irian Barat dan Kalimantan membuat kekuatan Indonesia cukup diperhitungkan. Hampir seluruh peralatan perang tercanggih di masa itu dimiliki TNI, tak terkecuali Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), nama TNI AU saat itu.
AURI memiliki banyak pesawat canggih yang didatangkan dari China dan Rusia. Dari negeri Tirai Bambu, AURI menerima empat pesawat MiG-17 hasil lisensi Uni Soviet sebanyak 12 buah. Sedang dari negeri Beruang Merah mendapat segerombolan pesawat tempur MiG-15 UTI, MiG-17, MiG-19, dan MiG 21 serta pesawat pembom legendaris Tu-16 sebanyak 26 unit. Itu belum termasuk pesawat angkut militer serta helikopter dari negara-negara kiri lainnya.
Ketangguhan dan kejayaan itu berubah ketika Gerakan 30 September 1965 berlangsung. Kudeta yang dilakukan Letnan Kolonel Untung Syamsuri dengan menculik petinggi Angkatan Darat. Soeharto yang marah atas peristiwa itu mengebiri seluruh komponen yang dianggap pendukung Bung Karno dan komunis, tak terkecuali AURI yang saat itu dipimpin oleh Men/Pangau Marsekal Madya Omar Dhani.
Dalam ‘Fakta dan Rekayasa G 30S’ (Pambudi, 2011), Omar dituduh terlibat G30S karena ia berada di berada di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma pada 1 Oktober 1965. Saat itu, sebagian kompleks Halim berada di bawah wewenang Omar, dipinjamkan sebagai tempat pelatihan Pemuda Rakjat, organisasi Partai Komunis Indonesia (PKI).
Mantan KASAU Marsekal Purn. Chappy Hakim
Mantan KASAU Marsekal Purn. Chappy Hakim

Sejak itu, AURI menjadi bulan-bulanan oleh personel TNI AD. Mereka menganggap rekannya di AURI adalah pengkhianat karena memilih mendukung G30S. Namun, tuduhan ini tak sepenuhnya benar. Maklumat yang dikeluarkan Omar ketika itu adalah untuk mendukung pemerintahan Soekarno, bukan G30S yang dilancarkan Letkol Untung dan anak buahnya.
Alasan lain Omar dituduh terlibat G 30S adalah karena ia mengeluarkan Perintah Harian pada 1 Oktober 1965, yang isinya bernada mendukung gerakan itu. Sebab lainnya adalah karena Omar juga menganjurkan Presiden Soekarno terbang ke Madiun saat Jakarta bergolak akibat G 30S. Madiun saat itu selalu diidentikkan dengan daerah ‘kiri’, mengingat revolusi yang gagal pada 1948.
“Mobil Laksda Aburachmat, mobil Letnan Udara Satu Wara Chusnul Chotimah dan lain-lain ditabrak oleh jip-jip RPKAD. Ibu-ibu, istri anggota AURI yang berbelanja di pasar di luar Halim diejek, juga pasukan karbol yang berdiri pinggir jalan dengan sikap sempurna dan memberi hormat pada iring-iringan jenazah para jenderal G30S, diludahi mukanya oleh pasukan AD yang berada di atas panser,” tulis Asvi Warman Adam dalam bukunya ‘Menguak misteri sejarah.
Karena tuduhan itu, Omar diadili dalam Sidang Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) dan divonis hukuman mati pada bulan Desember 1966. Namun setelah itu, bersama dengan Soebandrio, ia mendapat grasi yang dikeluarkan pada 2 Juni 1995.
Akhirnya, suami dari Sri Wuryanti ini dapat menghirup udara bebas pada 15 Agustus 1995. Omar Dhani bukanlah komunis, dia hanya pengagum Soekarno. Tapi saat itu, siapa pun yang mendukung Soekarno selalu diidentifikasi sebagai PKI.
Omar Dhani kini telah tiada. Namun, tindakannya pada masa-masa gelap 1965 ikut merembet ke AURI. Sudah menjadi rahasia umum, setelah tahun itu TNI AU selalu menjadi ‘anak tiri’ dari tiga matra TNI. Hal ini bisa dilihat oleh pengadaan alutsista TNI AU yang jauh tertinggal dari matra AD.
Namun masa-masa sulit TNI AU itu akhirnya berubah seiring bergulirnya reformasi. Sejak era Presiden KH Abdurrahman Wahid, Panglima TNI tidak lagi harus dari matra AD. Adalah Marsekal Djoko Suyanto yang pertama kali menjadi Panglima TNI dari AU pada 2006.
Merdeka.com

Truvelo .50: Long Range Sniper Rifle Intai Amfibi Marinir TNI AL

201003231915261
Selain Denel NTW-20, ada satu lagi senapan anti material asal Afrika Selatan yang digunakan oleh TNI, yakni Truvelo yang digunakan satuan elit Intai Amfibi (Taifib) Korps Marinir TNI AL. Senapan heavy barrel besutan Truvelo Armory ini datang dengan tawaran beragam varian, selain yang kondang kaliber .50 BMG (12,7 x 99 mm NATO), Truvelo juga menawarkan kaliber lain yang lebih sangar, yakni 14,5 x 144 mm, 20 x 82 mm, dan 20 x 110 mm. Semakin besar kaliber yang diusung, daya hancur dan jangkauan tembaknya dipastikan kian menggetarkan.
Nah, yang digunakan Marinir TNI AL adalah Truvelo 12,7 x 99 mm yang memang dipersiapkan untuk misi counter measure sniper, alias melibas keberadaan dan eksistensi sniper lawan. Atau dalam tugas-tugas infanteri pantai khas Marinir, senapan anti material yang punya jarak tembak efektif hingga 1.800 meter ini mampu melubangi lambung kapal musuh.
530467d509a19_338_Lapua_2e729ae418c8451c6891db30d26dmaxresdefault
Truvelo mengusung sistem operasi bolt action dengan pasokan magasin berisi lima peluru. Untuk peluru yang dapat dimuntahkan tersedia pilihan FMJ (full metal jacket), ball, AP (armor piercing), tracer, dan API (armor piercing incendiary). Pada Truvelo, receiver dicetak utuh dari bagian depan sampai ke popor belakang, termasuk dengan rear grip/monopod yang dibangun menyatu ke receiver sehingga tidak bisa disetel. Untungnya, masih ada bantalan popor dan pipi yang masih bisa diatur ketinggiannya melalui kenop putar yang ada di sisi kanan receiver.
Sistem bolt action Truvelo sepertinya menganut model Mauser bolt dengan dua lug di depan dan satu lug di belakang. Bolt juga dirancang dengan flute spiral untuk mengurangi beban dan panas. Seperti halnya Hecate II yang dipakai Den Bravo Paskhas TNI AU, Truvelo juga dilengkapi muzzle brake standar untuk meredam efek tembakan hingga 50 persen.
Keunikan Truvelo yakni popor dapat dilipat.
Keunikan Truvelo yakni popor dapat dilipat.
Prajurit Taifib Marinir TNI AL berparede dengan membawa Truvelo dan SMG K-7 Daewoo.
Prajurit Taifib Marinir TNI AL berparede dengan membawa Truvelo dan SMG Daewoo K-7.
Marinir065998614_20131024115439
Sebagai senapan anti material yang digunakan pasukan dengan kualifikasi amfibi, wajar bila Truvelo harus tahan dalam kondisi ekstrim, contohnya pihak pabrikan melansir informasi bahwa Truvelo sanggup beroperasi pada suhu -40 hingga 70 derajat Celcius. Soal bobot, seperti halnya senapan anti material lainnya, Truvelo juga terbilang spektakuler, yakni punya berat antara 13 sampai 16 kg, tergantunbg pada panjang laras. Dengan bobotnya yang aduhai, maka idealnya gelar senjata ini lebih tepat untuk menghajar sasaran yang sudah pasti.
Panjang laras Truvelo dapat disesuaikan, mulai dari 686 mm dan 1.000 mm. Yang membedakan Truvelo dengan senapan anti material lain, terletak pada popor yang bisa dilipat. Lalu bagaimana dengan akurasi bidikan? Truvelo rupanya ada kemiripan dengan Zastava M-93 Black Arrow yang dipakai Kopassus TNI AD, yaitu punya akurasi 1 MoA pada jarak tembak 500 meter, tentu saja ini bergantung pada jenis amunisi yang digunakan. MoA (minute of angle) adalah satuan ukuran yang digunakan sniper untuk mengukur akurasi. MOA mengukur akurasi tembakan dengan menjadikan jarak sebagai pertimbangan. (Gilang Perdana)

Spesikasi
– Negara asal: Afrika Selatan
– Kaliber: 12,7 x 99 mm
– Amunisi: FMJ, Ball, AP, Tracer, API
– Panjang: 1.405 mm (popor dilipat)/ 1.720 mm (tergantung pada ukuran laras)
– Panjang laras: 686 mm/ 1.000 mm
– Berat kosong: 13 kg/ 16 kg (tergantung penggunaan laras)
– Jarak tembak efektif: 1.800 meter
– Magasin: 5 peluru

Hecate II: Senapan Runduk Heavy Barrel Andalan Den Bravo Paskhas TNI AU

tumblr_m68t23ppVW1r9khx4o1_
Setiap pasukan khusus TNI punya penekanan misi dan keahlian tertentu yang disesuaikan dari asal matranya. Meski ada spesialisasi dalam penanganan aspek tempur, namun semua unit elit TNI sangat memperhatikan keunggulan penembak jitu (sniper). Dan, sesuai tuntutan perkembangan, termasuk pada penguasaan jenis senapan runduk berkaliber besar, atau yang populer disebut senapan anti material. Seperti halnya Kopassus TNI AD, Taifib Korps Marinir, dan Kopaska TNI AL, Detasemen (Den) Bravo 90 Paskhas TNI AU juga punya senapan heavy barrel andalan.
Sebagai pasukan khusus TNI yang berusia paling muda (dibentuk pada Februari 1990), Den Bravo punya keahlian untuk mengatasi aksi teror aspek udara, termasuk juga penanganan pembajakan udara, perang kota, pertempiuran jarak dekat, sniper, lempar pisau, dan lain-lain. Nah, terkait tugas tempur perang kota dan sniper, Den Bravo mengandalkan Hecate II untuk melumpuhkan sniper lawan (counter sniper) yang kerap mengganjal jalannya pergerakan pasukan.
th_592778308_P1000550_122_9PGM_Hecate
hecate_ii

PGM_Hecate
Hecate lahir dari keluarga senapan runduk Ultima Ratio yang sudah kondang di tataran benua Eropa. Senjata ini dirancang Gilles Payen dan di produksi oleh PGM Precision, Perancis. Material Hecate dibuat dari high grade alumunium dengan metode machining sangat presisi. Cukup langka untuk senapan sniper kelas berat pada jamannya. Seperti senapan runduk kelas berat lainnya, Hecate beroperasi dengan sistem bolt action, dengan bolt dilengkapi tiga lug pada bagian depan, sama halnya dengan Zastava M-93 Black Arrow yang digunakan Kopassus TNI AD.
Fitur unggulan Hecate lainnya adalah monopod di bagian popor untuk meningkatkan kestabilan. Selain itu, fitur keamanan yang terpenting pada Hecate adalah dengan adanya tingkat tekanan (overpressure vents) yang bekerja membuang tekanan gas bila terjadi keadaan darurat dengan peluru pecah dan meledak di dalam kamar peluru.
Muzzle brake Hecate II terbilang cukup besar untuk menehan efek tembakan.
Muzzle brake Hecate II terbilang cukup besar untuk menehan efek tembakan.
hecate-2hecate-2-(1)f8e349de23f8edfb05e03ac163e
Sistem peredaman tolak balik dipercayakan pada muzzle brake satu tingkat dengan bentuk lubang bulat, yang sekilas menyerupai muzzle brake milik tank M48A3 AS. Pasalnya muzzle brake dilengkapi dual lubang besar pada sisi-sinya sebagai penyalur efek ledakan energi. Energi ledakan terbuang ke sisi kanan dan kiri. Meskipun berdaya tembak besar, operator tak akan terpengaruh oleh getaran.
Bukti keandalan Hecate terbukti ketika senapan ini dipilih menjadi satu dari dua finalis lomba pemilihan senapan jarak jauh dalam kompetisi Long Range Large Caliber yang diselenggarakan AD Inggris. Di tangan Perancis, Hecate menjadi senapan runduk kelas berat yang paling banyak menjalani tour of duty di seluruh dunia. Mulai dari Horn of Africa, Perang Teluk 1991, Rwanda 2003 dalam Operation Licorne, dan Afghanistan.

Spesifikasi PGM Hecate II
– Negara asal: Perancis
– Tahun pembuatan: 1993
– Kaliber: .50MG (12,7 x 99 mm NATO)
– Sistem operasi: bolt action
– Panjang total: 1.380 mm
– Panjang laras: 700 mm
– Bobot kosong: 13,8 kg
– Kecepatan proyektil: 830 meter per detik
– Jarak tembak efektif: 1.500 – 1.800 meter
– Jarak tembak maksimum: 2.000 meter
– Kapasitas magasin: 7 peluru