Rabu, 10 Juni 2015

Panglima TNI : Yang Usik Kedaulatan Negara, Kita Sikat

Panglima tni pasus
Panglima TNI Jenderal Moeldoko meresmikan Satuan Komando Operasi Pasukan Khusus Gabungan di Lapangan Tembak, Jakarta Pusat, Selasa (9/6/2015). Kepada wartawan, Moeldoko menjelaskan pentingnya pembentukan pasukan khusus gabungan tersebut.
“Status mereka betul-betul siaga penuh setiap detik. Dalam hitungan detik bisa digerakkan. Kita mengenal terorisme dari berbagai sumbernya, Al Qaeda, dan yang terbaru, ISIS. Apa pun, sepanjang itu menyinggung kedaulatan negara, kita sikat! Enggak ada cerita,” kata Moeldoko.
Pasukan gabungan khusus tersebut akan ditempatkan di Sentul, Jawa Barat. Di sana, waktu-waktu mereka akan diisi oleh latihan dan penguatan indoktrinasi ketahanan nasional.
“Misalnya di Bali ada ancaman, dia langsung bisa bergerak. Kita proyeksikan di titik-titik rawan,” kata Moeldoko.
Ia menambahkan, kemampuan setiap personel di pasukan gabungan khusus itu di atas rata-rata kemampuan personel TNI biasa, bahkan anggota satuan khusus sekalipun. Hadirnya pasukan gabungan khusus ini diharapkan mampu memberikan keamanan dan kenyamanan masyarakat di Indonesia.
“Rakyat enggak usah takut lagi. TNI siap, Polri siap, kita akan korbankan segalanya bagi rakyat,” ujar Moeldoko.
Peresmian pembentukan pasukan gabungan khusus itu diawali dengan latihan penanggulangan teror di Hotel Borobudur dan Gedung Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa pagi. Latihan tersebut mengambil tema “Satuan Penanggulangan Aksi Terorisme untuk Melumpuhkan dan Menghancurkan Kelompok Teroris Guna Memelihara Stabilitas Keamanan di Wilayah dalam Rangka Operasi Militer Selain Perang”.
Latihan melibatkan Satuan 81 Penanggulangan Teror Kopassus TNI AD, Denjaka TNI AL, dan Satuan Bravo 90 Korphaskas TNI AU dengan jumlah personel 478 orang. Satuan ini terdiri dari tiga matra di TNI, Polri, Badan Intelijen Strategis (Bais), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), hingga petugas sekuriti.
Adapun alat utama sistem persenjataan yang digunakan meliputi 12 helikopter, 9 unit kendaraan taktis, 3 unit bomb trailer, 3 unit RAN explosive ordnance disposal, 9 unit ambulans, hingga 9 unit kendaraan pemadam kebakaran.
Materi latihan mencakup teknik dan taktik infiltrasi darat, laut dan udara, teknik menembak reaksi, teknik dan taktik pertempuran jarak dekat, teknik dan taktik perebutan cepat, teknik pembebasan tawanan atau sandera, teknik penjinakan bahan peledak, hingga prosedur evakuasi. Latihan ditujukan untuk mengantisipasi serta merespons teror di dalam negeri.

Kompas.com

Koopssusgab, Satuan Gabungan Elite TNI

  pasukan elit tniTNI memiliki Satuan Komando Operasi Pasukan Khusus Gabungan (Koopssusgab) sebagai pasukan khusus anti teror. 90 Orang dipilih dengan spesifikasi khusus dipilih untuk menjadi anggota tim ini.
“Intinya 60 orang. Tapi bagian-bagiannya sehingga semua kekuatannya 90 orang. Posisinya standby di Sentul dengan status operasi,” kata Panglima TNI Moeldoko di Lapangan Banteng, Jl Lapangan Banteng, jakpus, Selasa (9/6/2015).
90 Orang tersebut dari orang-orang terbaik dari Kopassus, Denjaka AL dan Paskas AU. Pagi ini mereka menunjukkan aksi mereka menyelamatkan sandera teroris di Hotel Borobudur dan gedung Dirjen Kekayaan Negara Jakarta.
Mereka akan siaga di wilayah Sentul dengan berlatih dan belajar. Meski begitu, mereka berstatus operasi sehingga bisa setiap saat diterjunkan dalam proses penanggulangan anti teror.
“Mereka posisinya status operasi dalam hitungn detik bisa digerakkan,” ucapnya.
Peresmian satuan khusus ini dilakukan di lapangan silang Monas, Jakarta Pusat.

Detik.com

Sejak ’65, AURI Selalu Menjadi Anak Tiri

Rudal Krypton Kh-31 diusung Fighter Sukhoi Indonesia (photo: FB Jiwa Merah Putih)
Rudal Krypton Kh-31 diusung Fighter Sukhoi Indonesia (photo: FB Jiwa Merah Putih)

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau), Marsekal (Purn) Chappy Hakim memprotes usulan sejumlah pihak yang mengesampingkan keberadaan kacer AU sebagai calon Panglima TNI. Kekesalan dan kekecewaan itu diungkapkan Chappy lewat akun Twitter miliknya.
Protes yang dilayangkan Chappy itu bukan tanpa alasan, sejak Indonesia merdeka, AU hampir tak pernah mendapat jatah Panglima. Kecuali di era SBY, di mana Marsekal (Purn) Djoko Suyanto menjadi satu-satunya mantan pilot yang ditunjuk presiden sebagai Panglima. Sedangkan kelasi dari TNI AL sudah dua kali.
Di tengah gonjang-ganjing siapa yang berhak menempati posisi Panglima TNI, Angkatan Udara pernah mengalami masa-masa yang sangat kelam. Kondisi ini berlangsung di era tahun 1960-an, justru di korps ini berada di puncak kejayaannya.
Pada tahun 1962, hubungan mesra dengan Blok Timur ditambah kebijakan konfrontasi yang dilancarkan Soekarno terhadap Belanda di Irian Barat dan Kalimantan membuat kekuatan Indonesia cukup diperhitungkan. Hampir seluruh peralatan perang tercanggih di masa itu dimiliki TNI, tak terkecuali Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), nama TNI AU saat itu.
AURI memiliki banyak pesawat canggih yang didatangkan dari China dan Rusia. Dari negeri Tirai Bambu, AURI menerima empat pesawat MiG-17 hasil lisensi Uni Soviet sebanyak 12 buah. Sedang dari negeri Beruang Merah mendapat segerombolan pesawat tempur MiG-15 UTI, MiG-17, MiG-19, dan MiG 21 serta pesawat pembom legendaris Tu-16 sebanyak 26 unit. Itu belum termasuk pesawat angkut militer serta helikopter dari negara-negara kiri lainnya.
Ketangguhan dan kejayaan itu berubah ketika Gerakan 30 September 1965 berlangsung. Kudeta yang dilakukan Letnan Kolonel Untung Syamsuri dengan menculik petinggi Angkatan Darat. Soeharto yang marah atas peristiwa itu mengebiri seluruh komponen yang dianggap pendukung Bung Karno dan komunis, tak terkecuali AURI yang saat itu dipimpin oleh Men/Pangau Marsekal Madya Omar Dhani.
Dalam ‘Fakta dan Rekayasa G 30S’ (Pambudi, 2011), Omar dituduh terlibat G30S karena ia berada di berada di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma pada 1 Oktober 1965. Saat itu, sebagian kompleks Halim berada di bawah wewenang Omar, dipinjamkan sebagai tempat pelatihan Pemuda Rakjat, organisasi Partai Komunis Indonesia (PKI).
Mantan KASAU Marsekal Purn. Chappy Hakim
Mantan KASAU Marsekal Purn. Chappy Hakim

Sejak itu, AURI menjadi bulan-bulanan oleh personel TNI AD. Mereka menganggap rekannya di AURI adalah pengkhianat karena memilih mendukung G30S. Namun, tuduhan ini tak sepenuhnya benar. Maklumat yang dikeluarkan Omar ketika itu adalah untuk mendukung pemerintahan Soekarno, bukan G30S yang dilancarkan Letkol Untung dan anak buahnya.
Alasan lain Omar dituduh terlibat G 30S adalah karena ia mengeluarkan Perintah Harian pada 1 Oktober 1965, yang isinya bernada mendukung gerakan itu. Sebab lainnya adalah karena Omar juga menganjurkan Presiden Soekarno terbang ke Madiun saat Jakarta bergolak akibat G 30S. Madiun saat itu selalu diidentikkan dengan daerah ‘kiri’, mengingat revolusi yang gagal pada 1948.
“Mobil Laksda Aburachmat, mobil Letnan Udara Satu Wara Chusnul Chotimah dan lain-lain ditabrak oleh jip-jip RPKAD. Ibu-ibu, istri anggota AURI yang berbelanja di pasar di luar Halim diejek, juga pasukan karbol yang berdiri pinggir jalan dengan sikap sempurna dan memberi hormat pada iring-iringan jenazah para jenderal G30S, diludahi mukanya oleh pasukan AD yang berada di atas panser,” tulis Asvi Warman Adam dalam bukunya ‘Menguak misteri sejarah.
Karena tuduhan itu, Omar diadili dalam Sidang Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) dan divonis hukuman mati pada bulan Desember 1966. Namun setelah itu, bersama dengan Soebandrio, ia mendapat grasi yang dikeluarkan pada 2 Juni 1995.
Akhirnya, suami dari Sri Wuryanti ini dapat menghirup udara bebas pada 15 Agustus 1995. Omar Dhani bukanlah komunis, dia hanya pengagum Soekarno. Tapi saat itu, siapa pun yang mendukung Soekarno selalu diidentifikasi sebagai PKI.
Omar Dhani kini telah tiada. Namun, tindakannya pada masa-masa gelap 1965 ikut merembet ke AURI. Sudah menjadi rahasia umum, setelah tahun itu TNI AU selalu menjadi ‘anak tiri’ dari tiga matra TNI. Hal ini bisa dilihat oleh pengadaan alutsista TNI AU yang jauh tertinggal dari matra AD.
Namun masa-masa sulit TNI AU itu akhirnya berubah seiring bergulirnya reformasi. Sejak era Presiden KH Abdurrahman Wahid, Panglima TNI tidak lagi harus dari matra AD. Adalah Marsekal Djoko Suyanto yang pertama kali menjadi Panglima TNI dari AU pada 2006.
Merdeka.com

Truvelo .50: Long Range Sniper Rifle Intai Amfibi Marinir TNI AL

201003231915261
Selain Denel NTW-20, ada satu lagi senapan anti material asal Afrika Selatan yang digunakan oleh TNI, yakni Truvelo yang digunakan satuan elit Intai Amfibi (Taifib) Korps Marinir TNI AL. Senapan heavy barrel besutan Truvelo Armory ini datang dengan tawaran beragam varian, selain yang kondang kaliber .50 BMG (12,7 x 99 mm NATO), Truvelo juga menawarkan kaliber lain yang lebih sangar, yakni 14,5 x 144 mm, 20 x 82 mm, dan 20 x 110 mm. Semakin besar kaliber yang diusung, daya hancur dan jangkauan tembaknya dipastikan kian menggetarkan.
Nah, yang digunakan Marinir TNI AL adalah Truvelo 12,7 x 99 mm yang memang dipersiapkan untuk misi counter measure sniper, alias melibas keberadaan dan eksistensi sniper lawan. Atau dalam tugas-tugas infanteri pantai khas Marinir, senapan anti material yang punya jarak tembak efektif hingga 1.800 meter ini mampu melubangi lambung kapal musuh.
530467d509a19_338_Lapua_2e729ae418c8451c6891db30d26dmaxresdefault
Truvelo mengusung sistem operasi bolt action dengan pasokan magasin berisi lima peluru. Untuk peluru yang dapat dimuntahkan tersedia pilihan FMJ (full metal jacket), ball, AP (armor piercing), tracer, dan API (armor piercing incendiary). Pada Truvelo, receiver dicetak utuh dari bagian depan sampai ke popor belakang, termasuk dengan rear grip/monopod yang dibangun menyatu ke receiver sehingga tidak bisa disetel. Untungnya, masih ada bantalan popor dan pipi yang masih bisa diatur ketinggiannya melalui kenop putar yang ada di sisi kanan receiver.
Sistem bolt action Truvelo sepertinya menganut model Mauser bolt dengan dua lug di depan dan satu lug di belakang. Bolt juga dirancang dengan flute spiral untuk mengurangi beban dan panas. Seperti halnya Hecate II yang dipakai Den Bravo Paskhas TNI AU, Truvelo juga dilengkapi muzzle brake standar untuk meredam efek tembakan hingga 50 persen.
Keunikan Truvelo yakni popor dapat dilipat.
Keunikan Truvelo yakni popor dapat dilipat.
Prajurit Taifib Marinir TNI AL berparede dengan membawa Truvelo dan SMG K-7 Daewoo.
Prajurit Taifib Marinir TNI AL berparede dengan membawa Truvelo dan SMG Daewoo K-7.
Marinir065998614_20131024115439
Sebagai senapan anti material yang digunakan pasukan dengan kualifikasi amfibi, wajar bila Truvelo harus tahan dalam kondisi ekstrim, contohnya pihak pabrikan melansir informasi bahwa Truvelo sanggup beroperasi pada suhu -40 hingga 70 derajat Celcius. Soal bobot, seperti halnya senapan anti material lainnya, Truvelo juga terbilang spektakuler, yakni punya berat antara 13 sampai 16 kg, tergantunbg pada panjang laras. Dengan bobotnya yang aduhai, maka idealnya gelar senjata ini lebih tepat untuk menghajar sasaran yang sudah pasti.
Panjang laras Truvelo dapat disesuaikan, mulai dari 686 mm dan 1.000 mm. Yang membedakan Truvelo dengan senapan anti material lain, terletak pada popor yang bisa dilipat. Lalu bagaimana dengan akurasi bidikan? Truvelo rupanya ada kemiripan dengan Zastava M-93 Black Arrow yang dipakai Kopassus TNI AD, yaitu punya akurasi 1 MoA pada jarak tembak 500 meter, tentu saja ini bergantung pada jenis amunisi yang digunakan. MoA (minute of angle) adalah satuan ukuran yang digunakan sniper untuk mengukur akurasi. MOA mengukur akurasi tembakan dengan menjadikan jarak sebagai pertimbangan. (Gilang Perdana)

Spesikasi
– Negara asal: Afrika Selatan
– Kaliber: 12,7 x 99 mm
– Amunisi: FMJ, Ball, AP, Tracer, API
– Panjang: 1.405 mm (popor dilipat)/ 1.720 mm (tergantung pada ukuran laras)
– Panjang laras: 686 mm/ 1.000 mm
– Berat kosong: 13 kg/ 16 kg (tergantung penggunaan laras)
– Jarak tembak efektif: 1.800 meter
– Magasin: 5 peluru

Hecate II: Senapan Runduk Heavy Barrel Andalan Den Bravo Paskhas TNI AU

tumblr_m68t23ppVW1r9khx4o1_
Setiap pasukan khusus TNI punya penekanan misi dan keahlian tertentu yang disesuaikan dari asal matranya. Meski ada spesialisasi dalam penanganan aspek tempur, namun semua unit elit TNI sangat memperhatikan keunggulan penembak jitu (sniper). Dan, sesuai tuntutan perkembangan, termasuk pada penguasaan jenis senapan runduk berkaliber besar, atau yang populer disebut senapan anti material. Seperti halnya Kopassus TNI AD, Taifib Korps Marinir, dan Kopaska TNI AL, Detasemen (Den) Bravo 90 Paskhas TNI AU juga punya senapan heavy barrel andalan.
Sebagai pasukan khusus TNI yang berusia paling muda (dibentuk pada Februari 1990), Den Bravo punya keahlian untuk mengatasi aksi teror aspek udara, termasuk juga penanganan pembajakan udara, perang kota, pertempiuran jarak dekat, sniper, lempar pisau, dan lain-lain. Nah, terkait tugas tempur perang kota dan sniper, Den Bravo mengandalkan Hecate II untuk melumpuhkan sniper lawan (counter sniper) yang kerap mengganjal jalannya pergerakan pasukan.
th_592778308_P1000550_122_9PGM_Hecate
hecate_ii

PGM_Hecate
Hecate lahir dari keluarga senapan runduk Ultima Ratio yang sudah kondang di tataran benua Eropa. Senjata ini dirancang Gilles Payen dan di produksi oleh PGM Precision, Perancis. Material Hecate dibuat dari high grade alumunium dengan metode machining sangat presisi. Cukup langka untuk senapan sniper kelas berat pada jamannya. Seperti senapan runduk kelas berat lainnya, Hecate beroperasi dengan sistem bolt action, dengan bolt dilengkapi tiga lug pada bagian depan, sama halnya dengan Zastava M-93 Black Arrow yang digunakan Kopassus TNI AD.
Fitur unggulan Hecate lainnya adalah monopod di bagian popor untuk meningkatkan kestabilan. Selain itu, fitur keamanan yang terpenting pada Hecate adalah dengan adanya tingkat tekanan (overpressure vents) yang bekerja membuang tekanan gas bila terjadi keadaan darurat dengan peluru pecah dan meledak di dalam kamar peluru.
Muzzle brake Hecate II terbilang cukup besar untuk menehan efek tembakan.
Muzzle brake Hecate II terbilang cukup besar untuk menehan efek tembakan.
hecate-2hecate-2-(1)f8e349de23f8edfb05e03ac163e
Sistem peredaman tolak balik dipercayakan pada muzzle brake satu tingkat dengan bentuk lubang bulat, yang sekilas menyerupai muzzle brake milik tank M48A3 AS. Pasalnya muzzle brake dilengkapi dual lubang besar pada sisi-sinya sebagai penyalur efek ledakan energi. Energi ledakan terbuang ke sisi kanan dan kiri. Meskipun berdaya tembak besar, operator tak akan terpengaruh oleh getaran.
Bukti keandalan Hecate terbukti ketika senapan ini dipilih menjadi satu dari dua finalis lomba pemilihan senapan jarak jauh dalam kompetisi Long Range Large Caliber yang diselenggarakan AD Inggris. Di tangan Perancis, Hecate menjadi senapan runduk kelas berat yang paling banyak menjalani tour of duty di seluruh dunia. Mulai dari Horn of Africa, Perang Teluk 1991, Rwanda 2003 dalam Operation Licorne, dan Afghanistan.

Spesifikasi PGM Hecate II
– Negara asal: Perancis
– Tahun pembuatan: 1993
– Kaliber: .50MG (12,7 x 99 mm NATO)
– Sistem operasi: bolt action
– Panjang total: 1.380 mm
– Panjang laras: 700 mm
– Bobot kosong: 13,8 kg
– Kecepatan proyektil: 830 meter per detik
– Jarak tembak efektif: 1.500 – 1.800 meter
– Jarak tembak maksimum: 2.000 meter
– Kapasitas magasin: 7 peluru

Zastava M-93 Black Arrow: Senapan Anti Material Kopassus dengan Stabilitas Tinggi

IMAG1450
Pasukan khusus seperti Kopassus (Komando Pasukan Khusus) TNI AD pasti punya cara-cara khusus untuk menggasak sasaran berupa rantis, ranpur ringan dan personel lawan yang berlindung dibalik dinding. Tanpa harus membopong rudal/roket anti tank atau bazooka, dengan kemampuan senyap yang terlatih, beberapa unit elit di TNI dapat memanfaatkan keunggulan dari senapan anti material.
Untuk misi senyap khas sniper, dengan target daya hancur sasaran tinggi, sejak lama TNI sudah mengadopsi beberapa senapan anti material. Sebut saja ada Denel NTW-20/Truvelo yang dipakai Taifib (Intai Amfibi) Korps Marinir dan Kopaska TNI AL, lalu ada Hecate II yang digunakan DenBravo 90 Paskhas TNI AU. Malah belakangan, PT Pindad ikut merilis SPR (Senapan Penembak Runduk)-2, yang mengusung kaliber 12,7 x 99 mm NATO.
IMAG1451800px-Sniper_Zastava_M93
black-arrow1
Nah, ada satu lagi yang terlewat kami kupas, yakni M-93 Black Arrow. Senapan anti material ini beberapa waktu lalu ditampilkan ke publik oleh Kopassus pada ajang Pameran Alutsista TNI AD di Lapangan Monas, Jakarta. Dari sosok namanya, si ‘panah hitam’ ini memang terdengar sangar. Dirunut dari penamaannya, M-93 Black Arrow atau dalam bahasa Yugoslavia M-93 Crna Strela adalah salah satu dari sedikit rancangan senapan runduk kelas berat (senapan anti material) yang berasal dari negara-negara eks Balkan. Dibuat pada tahun 19080-an oleh pabrikan senjata Zastava Arms dari Yugoslavia. Black Arrow ditawarkan dalam dua varian, yaitu .50MG (kaliber 12,7 x 99 mm NATO) untuk kepentingan ekspor, dan varian 12,7 x 108 mm Rusia untuk pasar negara-negara eks Pakta Warsawa yang masih setia menggunakan amunisi rilisan Rusia.
Dapat dipasang pula pada monopod.
Dapat dipasang pula pada monopod.
Packing box Black Arrow.
Packing box Black Arrow.
Seperti halnya senapan penembak jitu lainnya, pola operasi senjata ini mengusung bolt action, alias tembak satu-satu. Sekedar informasi, bolt action adalah (sistem operasi) kokang senjata api yang mana bagian bolt dioperasikan secara manual dengan cara menggesernya ke belakang (menggunakan tuas kecil/handle) agar bagian belakang (breech) laras terbuka, casing peluru kosong yang sudah dipakai terlempar keluar dan peluru baru masuk kedalam breech kemudian bolt ditutup kembali (digeser ke depan secara manual).
mitchellsales07mitchellsales05
Black Arrow dirancang menganut model Mauser, dengan tiga lug pada bolt, dua di depan, dan satu di belakang. Penggunaan tiga lug memampukan penggunaan peluru bertekanan sangat tinggi, sehingga Black Arrow aman bila terpaksa menggunakan amunisi ‘jelek’ milik senapan mesin berat non matche grade untuk waktu lama.
Fitur unggulan lainnya, Black Arrow punya popor yang bisa disetel panjangnya serta pistol grip yang ergonomis. Sayangnya, teleskop standar pabrikan berkekuatan 8 x 32 tidak dapat disetel pembesarannya, sehingga kurang memadai untuk aplikasi di lapangan. Akan tetapi, Black Arrow terkenal dengan keseimbangannya yang sangat baik. Black Arrow dapat diposisikan berdiri sama tinggi antara ujung laras dan popor hanya dengan menggunakan kaki-kakinya.
Dan yang tak kalah menarik, Black Arrow menjadi dasar bagi PT Pindad dalam menciptakan senapan anti material, yakni SPR-2 kaliber 12,7 mm. Bahkan, hebatnya SPR-2 disebut-sebut mampu mengungguli kinerja Black Arrow. Menurut penuturan staf Pindad, SPR-2 dalam uji coba dapat mencapai performa yang memuaskan, diantaranya mampu menembus lapisan baja 10 mm dari jarak tembak 2 Km. Kabarnya, saat uji coba pesaingnya seperti Truvelo dan Black Arrow gagal menembus baja 10 mm dari jarak tembak yang sama. (Sam)

Spesifikasi Zastava M-93 Black Arrow
– Negara asal: Serbia, Yugoslavia
– Tahun pembuatan: 1980-an
– Kaliber: .50MG (12,7 x 99 mm NATO) atau 12,7 x 108 mm Rusia
– Sistem operasi: bolt action
– Panjang total: 1.510 mm/1.670 mm
– Panjang laras: 840 mm/1.000 mm
– Bobot kosong: 14,5 kg/16 kg
– Kecepatan proyektil: hingga 1000 meter per detik
– Jarak tembak efektif: 1.650 – 1.850 meter
– Kapasitas magasin: 5 peluru
– Akurasi: 1 MOA (minute of angle)

Sabtu, 06 Juni 2015

Marinir Thailand sambut baik rencana latihan bersama

Marinir Thailand sambut baik rencana latihan bersama
Defile Pasukan Marinir Sejumlah prajurit Korps Marinir TNI AL melakukan parade dalam upacara peringatan HUT Ke-69 Korps Marinir di lapangan tembak Bhumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Jatim, Senin (17/11). HUT Korps Marinir yang dipusatkan di Surabaya tersebut bertemakan "Bersama Rakyat Membangun Negeri" menampilkan seluruh alutsista yang dimiliki Korps Marinir, dengan inspektur upacara KSAL Laksamana TNI Marsetio. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat) ()
 
Delegasi dari "Royal Thai Marines Corps" (Korps Marinir Thailand) menyambut baik rencana latihan bersama dengan Korps Marinir TNI AL.

Dinas Penerangan Korps Marinir dalam keterangan resmi yang diterima Antara di Surabaya, Sabtu, melaporkan delegasi Korps Marinir TNI AL yang tergabung dalam Latihan Sea Garuda 18AB-15 langsung melaksanakan rapat tentang rencana latihan bersama.

Dalam rapat bersama di Ruang Rapat RTMC Division Base Sattahip, Thailand (5/6) itu, delegasi Korps Marinir TNI AL yang dipimpin Letkol Mar Raja Erjan Girsang mengawali dengan pemutaran video profil RTMC dan latihan bersama RTMC dengan beberapa Negara.

Selain itu, delegasi Korps Marinir TNI AL yang berjumlah lima orang tersebut juga mendapatkan penjelasan dari Deputy Comanding General Of Marine Division RTMC Capt Chawalil Charlil tentang organisasi dan sejarah berdirinya RTMC.

Setelah penjelasan dari Deputy Comanding General Of Marine Division RTMC itu usai, acara dilanjutkan dengan pemutaran video profil Korps Marinir TNI AL yang dirangkai dengan penjelasan tentang organisasi Korps Marinir oleh Ketua Delegasi Letkol Mar Raja Erjan Girsang.

Perwakilan dari RTMC yang terdiri dari perwira Staff Operasi dan perwira tiap-tiap satuan tempur RTMC yang hadir pada kegiatan tersebut menaruh respek setelah melihat video profil serta penjelasan tentang organisasi dan persenjataan Korps Marinir TNI AL.

Bahkan, mereka juga mengaku sudah banyak mendengar keberhasilan Marinir Indonesia dalam berbagai even penugasan, baik di level nasional maupun internasional.

Pada kesempatan lain, RTMC Division Commander Rear Admiral Kar-Harn Ped-me-Sit dengan senang hati menerima kunjungan delegasi Marinir Indonesia dan menyambut baik rencana latihan yang digagas oleh Marinir Indonesia itu.

Selanjutnya, pertemuan tersebut membahas rencana latihan yang akan dilaksanakan pada latihan Sea Garuda berikutnya yang kemungkinan akan dilaksanakan di Indonesia.

Dalam perencanaan latihan tersebut membahas beberapa bentuk latihan meliputi latihan Operasi Amfibi terbatas gabungan, dan CPX (Comand Post exercise) tentang operasi Amphibi setingkat Batalyon.

Selain itu, FTX (Field Training Exercise) yang meliputi Pendaratan Amfibi Terbatas, Militery Operation on Urban Terrain, Counter Insurgency, Beach Survey, Fire Support, Snipper, Jungle Survival, Humanitarian Assistance dan Medical Assistance.

Dalam beberapa hari dilaksanakan juga Way Ahead conference yang bertujuan untuk lebih mengembangkan kerja sama di masa yang akan datang.

Way Ahead Conference itu meliputi Expert exchange, Officer visit dan Officer Student Exchange.

Kedua pihak berharap latihan bersama tersebut dapat mempererat kerja sama militer, khususnya Korps Marinir kedua negara dalam rangka mewujudkan stabilitas dan keamanan kawasan/regional.