Kedatangan para Pemimpin Negara
peserta Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 Tahun 2015 dan peringatan ke-10 New
Asian-African Strategic Partnership (NAASP) di Assembly Hall 2, Jakarta
Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Selatan mendapatkan pengawalan ketat
dari iringan kendaraan TNI, Rabu (22/4/2015).
Ke-21 pemimpin
pemerintahan beserta 116 delegasi
negara tersebut menghadiri pembukaan secara resmi KAA ke-60
oleh Presiden RI Ir. Joko Widodo. Turut hadir dalam acara tersebut, Panglima TNI
Jenderal TNI Dr. Moeldoko.
Setiap rute yang dilintasi iring-iringan
kendaraan tamu negara ditempatkan petugas Pengamanan VVIP, baik dari personel
TNI dan Polri hingga tiba di pintu masuk gedung JCC, Senayan. Ratusan
siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Jakarta yang memadati jalan menuju
pintu masuk Balai Sidang Jakarta (JCC) untuk menyambut Pemimpin Negara juga
diatur penempatannya dengan rapi dan tertib oleh petugas pengamanan VVIP.
Mengenakan seragam putih biru dan pramuka
para pelajar berbaris dan mengibarkan bendera di sepanjang Gerbang 7 GBK hingga
ke Jakarta Convention Center tempat KTT Asia Afrika diselenggarakan.
Kedatangan
rombongan Pemimpin Negara disambut dengan lantunan lagu-lagu wajib nasional,
sehingga suasana kompleks Gelora Bung Karno, Senayan menjadi meriah.
Dua bendera digenggam para siswa-siswi itu, yakni Merah-Putih dan
bendera negara-negara peserta konferensi akbar ini dan mengibarkannya setiap
mobil delegasi yang melintas.
"Sebanyak 10 SMP khususnya di Jakarta
Selatan, berdatangan untuk menyambut para kepala negara. Setiap sekolah
mengirimkan 200 siswa dan berbaris sesuai dengan titik yang ditentukan.
Anak-anak sangat antusias dan senang sekali ", tutur Wisnu salah seorang
Guru Komputer SMP 257.
|
Rabu, 22 April 2015
TNI Kawal Pemimpin Negara Peserta KAA
Selasa, 21 April 2015
Pindad Kembangkan Roket R-Han
Produsen amunisi dan senjata PT Pindad,
berhasil mengembangkan roket balistik bernama Rudal Pertahanan atau
R-Han 122. Roket pertama buatan Indonesia diproduksi untuk memenuhi
kebutuhan TNI, pasalnya selama ini masih diimpor dari sejumlah negara.
Direktur Utama Pindad Silmy Karim mengungkapkan, R-Han 122 memiliki
kemampuan tembak mencapai 15 kilometer. Proyek pembuatan roket ini
menjadi awal dari rencana panjang perseroan untuk membuat peluru kendali
(rudal) jarak jauh.
“Yang paling ultimate kita akan buat peluru kendali dan diawali
dengan pembuatan roket ini,” kata Silmy saat berbincang dengan
Liputan6.com, Jumat (17/4/2015).
Peluru kendali ini dijelaskan Silmy dapat menempuh jarak tembak
mencapai ratusan kilometer dengan pergerakannya dapat dikendalikan dari
pangkalan tembak. Ini akan menjadi satu hal yang membanggakan mengingat
saat ini Indonesia belum mampu memproduksi peluru kendali.
Dengan komitmen Presiden Jokowi untuk mendukung industri pertahanan
tersebut diharapkan Silmy proyek peluru kendali tersebut dapat segera
dipercepat pembuatannya.
Seperti diketahui, di penghujung Maret 2012 lalu, Kementerian
Pertahanan melakukan uji coba penembakan Roket Pertahanan (R-Han) 122 di
Pusat Latihan Tempur TNI AD, Baturaja, Sumatera Selatan.
R-Han 122 berfungsi sebagai senjata berdaya ledak optimal dengan sasaran darat dan jarak tembak sampai 15 kilometer.
Dengan semakin banyaknya produk dalam negeri yang semakin canggih
tersebut diharapkan akan menjadi bagian dari kemandirian sistem
pertahanan Indonesia, bahkan dapat di ekspor ke beberapa negara.
Saat ini, PT Pindad telah mengekspor sejumlah senjata ke beberapa
negara di dunia seperti di Asia dan Afrika. Tak hanya itu, produk
kendaraan tempur produksi Pindad seperti Panser Anoa juga laris manis
dimintai negara-negara di Asean dan Timur Tengah. (Liputan6.com)
Usai Datangkan Bonanza G36, TNI AL akan Beli 6 Twin Engine
TNI AL
bertekad meningkatkan kemampuan udaranya. Usai mendatangkan 4 unit
pesawat latih dasar Bonanza G36, TNI AL akan kembali membeli pesawat
latih jenis twin engine.
Menurut KSAL Laksamana TNI Ade Supandi, pembelian pesawat latih twin
engine, dalam program pengadaan alutsista pesawat latih sebagai bentuk
upaya meningkatkan kemampuan prajurit agar berkelanjutan.
“4 unit pesawat latih Bonanza G36 kan single engine dan tahun ini
akan ada pengadaan pesawat latih twin engine agar kemampuannya
berkelanjutan,” kata KSAL usai penyerahan 4 pesawat latih Bonanza G36 ke
Puspenerbal di Base Ops Lanudal Juanda, Senin (20/4/2015).
Dengan adanya pesawat latih dasar Bonanza G36, Ade mengaku sudah
mempunyai 8 pesawat single engine dan berencana menambah 4 unit lagi.
“Kita berharap kuota 12 unit pesawat latih single engine bisa terpenuhi
dan twin engine 6 unit bisa terpenuhi sehingga mampu meningkatkan
kemampuan pilot Angkatan Laut sebagai kepanjangan tangan dan deteksi
kapal permukaan laut,” ungkap dia.
Ia juga berpesan kepada Komandan Puspenerbal, Laksamana Pertama Sigit
Setiyanta agar menjaga dan merawat 4 unit pesawat latih dasar buatan
Amerika Serikat yang dibeli seharga Rp 59 miliar.
Perlu diketahui dalam periode 2015-2019, TNI AL berkomitmen membangun
kekuatan khususnya untuk pesawat udara yakni helikopter anti kapal
selam 11 buah, helikopter anti kapal permukaan air sebanyak 8 unit,
helikopter angkut taktis 4 unit.
Selain alutsista udara, TNI AL juga akan mengembangkan beberapa
pangkalan udara Angkatan Laut (Lanudal) Kelas A sebagai antisipasi
pengembangan Kogabwilhan Armada Timur, Tengah dan Barat. (detikNews)
AS565 MBe Panther TNI AL Akan Dibekali Teknologi HELRAS DS-100 dan Peluncur Torpedo
PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dalam beberapa bulan kedepan bakal
menerima order pekerjaan yang lumayan banyak, salah satunya adalah
merakit sebelas unit helikopter AKS (Anti Kapal Selam) AS565 MBe Panther
dari Airbus Helicopters (d/h Eurocopter). Menurut informasi, PT DI akan
mengirimkan kesebelas unit helikopter tersebut dalam kurun waktu tiga
tahun. Dan, seperti kabar yang dinanti-nanti, akhirnya terkuak sistem
senjata dan sensor AKS yang bakal melengkapi sang Panther Puspenerbal
TNI AL.
Berdasarkan siaran pers dari Rotorcraft Service Group (2/3/2015),
disebutkan PT DI dan Rotorcraft Service Group Inc. (RSG) telah
mengadakan kontrak kesepakatan untuk adopsi pengembangan dan sistem
integrasi ASW (anti submarine warfare) pada armada AS565 MBe
Panther pesanan TNI AL. Dijelaskan lebih detail, nantinya heli AKS TNI
AL akan dilengkapi perangkat integrasi yang mencakup L-3 Ocean Systems
DS-100 Helicopter Long-Range Active Sonar (HELRAS). Sementara
untuk misi menghancurkan kapal selam, dalam kesepakatan Panther TNI AL
juga akan dipasang sistem peluncur torpedo, sistem peluncur ini
disiapkan untuk menghantarkan jenis torpedo Raytheon MK46 atau Whitehead
A244/S. Kedua torpedo tersebut kebetulan sudah sejak lama dimiliki TNI
AL.
Meski kodrat utama AS565 MBe Panther adalah untuk melibas kapal
selam, tapi basis heli ini adalah multirole. Oleh sebab itu, sistem yang
di integrasikan RSG bersifat modular, saat sang Panther dibutuhkan
untuk misi SAR (Search and Rescue), Medevac (Medical Evacuation), intai maritim, dan eksternal cargo, maka dengan cepat konfigurasi tempur heli dapat diubah ke non combat roles.
Selama ini teknologi HELRAS sudah banyak dipakai dalam platform AKS
di negara-negara NATO. Sonar ini dapat beroperasi optimal di area laut
dangkal dan laut dalam. HELRAS menggunakan frekuensi rendah dengan
resolusi tinggi pads sistem Doppler dan rentang gelombang panjang untuk
mendeteksi keberadaan kapal selam dari jarak jauh.Khususnya dengan
perangkat DS-100, dirancang ideal untuk melakukan redetection, melokalisir sasaran, dan melancarkan serangan torpedo di perairan dalam dan dangkal.
Cara operasi HELRAS DS-100 dengan diturunkan dari helikopter hingga
masuk ke permukaan air. HELRAS DS-100 terdiri dari tujuh elemen
proyektor dan delapan lengan hidrolik yang dapat dibentangkan hingga 2,6
meter saat digunakan. DS-100 mampu beroperasi di kedalaman 500 meter
dan memiliki Figure Of Merit (FOM) untuk mencapai konvergensi zona
deteksi. DS-100 berjalan dengan frekuensi rendah 1.38 Khz menggunakan
transduser eksklusif, mengurangi kontaminasi gema dari sinyal yang
diterima, dan interoperabilitas dengan sonars kapal dan sonobuoys dalam
pekerjaan bistatic atau multistatic.
RSG yang berbasis di FortWorth, Texas, AS, sudah mendapat pengakuan
dari beberapa manufaktur helikopter ternama untuk melakukan instalasi
sistem teknologi AKS. Diantara mitra RSG adalah Agusta Aerospace
Corporation, Eurocopter Group, Enstrom Helicopter Corporation, Hafei
Aviation Industry Co, Korea Aerospace Industries, MD Helicopters, PT
Dirgantara Indonesia, Safran USA, Inc., Sikorsky Aircraft Corporation
dan Sikorsky global Helicopters. (Gilang Perdana)
Senin, 20 April 2015
Panglima TNI : Intelijen TNI Harus Miliki Kapasitas dan Kapabilitas
Intelijen TNI harus memiliki kapasitas dan kapabilitas,
meskipun pertumbuhan ekonomi nasional masih belum bisa memenuhi
kebutuhan anggaran TNI secara utuh, untuk membangun arsitektur Intelijen
TNI yang perkasa. Demikian ditegaskan Panglima TNI Jenderal TNI Dr.
Moeldoko pada pembukaan Sekolah Manajemen dan Analisis Intelijen TNI
Angkatan II Tahun 2015, di Aula Gatot Subroto Mabes TNI Cilangkap
Jakarta Timur, Senin (20/4/2015).
Lebih lanjut Panglima TNI menyampaikan bahwa, dibentuknya
Sekolah Manajemen dan Analisis Intelijen TNI diharapkan dapat melakukan
konsolidasi dan sinergitas seluruh jajaran Intelijen TNI, menuju
transformasi Institusi Intelijen Militer yang modern dan memiliki
kesadaran, serta analisis yang kuat terhadap setiap pergerakan
lingkungan strategik.
“Manajemen dan Analisis Intelijen TNI dituntut untuk
menyediakan informasi, data, pengetahuan, yang sempurna untuk memenuhi
kebutuhan perencanaan, dan pengambilan keputusan, karena masukan
Intelijen TNI yang baik, akan menghasilkan perencanaan yang baik, dan
selanjutnya pengambilan keputusan yang tepat”, ujar Panglima TNI.
“Tanpa masukan intelijen yang baik, tidaklah mungkin membuat
suatu rencana, atau strategi raya, atau strategi keamanan nasional, yang
memenuhi kriteria Feasible, Acceptable, Suitable. Semua arsitek perencanaan strategik sangat paham apa arti Knowledge is Power”, kata Jenderal TNI Moeldoko.
Dalam kesempatan tersebut, Panglima TNI memerintahkan kepada
Komandan Satuan Induk Badan Intelijen Strategis (Dansatinduk Bais) TNI
untuk mengembangkan Manajemen dan Analisis Intelijen TNI, yang sejalan
dengan Short Cut dan Sapta Cipta Pokok-Pokok Kebijakan Panglima TNI, dalam upaya penguatan Intelijen TNI, Optimalisasi Interoperability TNI termasuk Interoperability Satuan Intelijen di jajaran TNI, dan mengeliminasi ego sektoral pada komunitas Intelijen TNI.
Panglima TNI juga menekankan kepada Sekolah Manajemen dan
Analisis Intelijen TNI dan seluruh perwira siswa, untuk mengarahkan
segenap pemikiran pada upaya membangun arsitektur Intelijen TNI yang
baru. Langkah awal pada aspek manajemen adalah hilangkan dikotomi
dengan adanya nama Intelijen Strategis, Intelijen Taktis dan Intelijen
Teritorial, karena dikotomi tersebut telah menjadikan Intelijen TNI
terkotak-kotak, yang berdampak pada tumbuhnya ego sektoral dan
melemahkan kemampuan intelijen TNI. “Manajemen harus mampu menata
potensi Intelijen TNI dari seluruh matra menjadi kekuatan utuh, dengan
menata kedudukannya sesuai arah kepentingan”, ujarnya.
Sementara pada aspek analisis, Intelijen TNI tidak boleh
membatasi hanya pada dimensi pengamanan dan sektoral, tetapi lebih luas
pada sektor ideologi, politik, sosial budaya ekonomi, perdagangan,
perbankan dan sektor lainnya yang bersifat nasional dan internasional.
Sekolah Manajemen dan Analisis Intelijen TNI Angkatan II Tahun
2015, diikuti oleh 33 peserta terdiri dari Angkatan Darat 28 personel,
Angkatan Laut 2 personel dan Angkatan Udara 3 personel.
Hadir dalam acara tersebut antara lain Kasum TNI Marsdya TNI
Dede Rusamsi, Wakasad Letjen TNI M. Munir, Wakasal Laksdya TNI Widodo,
S.E., M.Sc., Wakasau Marsdya TNI Bagus Puruhito, Irjen TNI Letjen TNI
Syafril Mahyudin, Dansesko TNI Letjen TNI Sony Wijaya, para Asisten
Panglima TNI, Kapuspen TNI Mayjen TNI M. Fuad Basya dan beberapa pejabat
teras Mabes TNI dan Angkatan.
.
Authentikasi : Kadispenum Puspen TNI, Kolonel Czi Berlin G. S.Sos., M.M.
.
Pengirim : Puspen TNI
KSAD: Tahun ini 21 Fasilitas Kampus Dibakar Mahasiswa
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Gatot Nurmantyo,
menyindir mahasiswa di Indonesia yang kerap melakukan aksi demontrasi
lalu merusak dan membakar fasilitas kampus.
Dalam catatanya tiga tahun ini sudah ada 21 pembakaran fasilitas
kampus yang dilakukan oleh mahasiswanya. Menurutnya perilaku tersebut
sudah tidak lagi mencerminkan orang-orang terdidik.
“Mahasiswa tawuran atau berkelahi mungkin itu biasa, bisa karena
rebutan pacar. Tapi kalau sampai bakar kampus? Apa ini namanya?” katanya
saat menggelar dialog dengan aparat pemerintah daerah, DPRD, tokoh
agama dan tokoh pemuda di hotel Rich Yogyakarta, Senin (20/4).
Dia pun membandingkan perilaku mahasiswa tersebut dengan pasien rumah
sakit jiwa. Menurutnya belum pernah ada orang gila yang membakar rumah
sakit jiwa.
“Pasien gila saja tidak pernah membakar rumah sakitnya sendiri. Ini
mahasiswa gimana? Tapi bukan saya sebut mahasiswa gila lho,” ujarnya.
Dari analisisnya, perilaku tersebut disebabkan karena Proxy War yang
sudah berlangsung di Indonesia. Perilaku tersebut dipengaruhi dengan
perubahan kebudayaan yang direkayasa oleh negara asing untuk merusak
generasi muda di Indonesia.
“Salah satunya budaya kita disusupi dengan paham asing yang merusak,” ungkapnya.
Selain lewat kebudayaan, cara merusak generasi muda di Indonesia
dilakukan dengan narkoba. Menurutnya saat ini Indonesia menjadi sasaran
serta pasar empuk bagi gembong-gembong narkoba.
“Persebaran narkoba sasarannya adalah anak muda. Itu salah satu cara
untuk merusak Indonesia. Kalau sudah kena narkoba, mereka bisa
berkelahi, membunuh orang, merusak tanpa rasa bersalah,” tandasnya KSAD.
(Merdeka.com).
KAA di Bandung, Perdana Menteri Ini Diincar Pembunuh Bayaran
Perdana Menteri Cina Zhou
Enlai menjadi pusat perhatian selama pelaksanaan Konferensi Asia Afrika
di Bandung pada 1955. Setelah selamat dari ancaman peledakan pesawat
yang dia tumpangi, rupanya ancaman terhadap Zhou Enlai tak benar-benar
selesai.
Awalnya Panitia Konferensi Asia Afrika menyiapkan Hotel Savoy Homann
sebagai tempat dia menginap. Namun, Zhou Enlai memilih tinggal di sebuah
bungalow di Jalan Taman Sari, Bandung.
Dalam film Zhou Enlai’s Journey to Bandung yang rilis pada 2003 lalu,
disebutkan alasan Zhou tak tinggal di Savoy terjawab. Zhou Enlai
menghindar dari incaran pembunuh bayaran.
Panitia Konferensi Asia Afrika cemas mendengar berita pengeboman
pesawat Kashmir Princess yang kabarnya ditumpangi Zhou Enlai. Menurut
Roeslan Abdulgani, pengeboman ini bisa membatalkan pelaksanaan
konferensi. “Sampai jauh malam saya tak bisa tidur, menunggu berita
selanjutnya,” ucap Roeslan dalam bukunya, The Bandung Connection.
Pesawat Kashmir Princess meledak di atas perairan Natuna. Sebelumnya,
Zhou Enlai dikabarkan berada di dalam pesawat. Namun berkat informasi
intelejen, Zhou lolos dari ancaman pembunuhan dan pindah pesawat. Zhou
Enlai akhirnya berangkat dari Rangon setelah diundang oleh Perdana
Menteri Burma U Nu.(Tempo)
Langganan:
Komentar (Atom)