Panglima Jenderal TNI
Moeldoko tak takut dengan ancaman pasukan Negara Islam Irak dan Suriah
yang akan menyerang Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Cilacap, Jawa
Tengah. Moeldoko mengatakan, prajurit TNI akan memukul mundur pasukan
tersebut.
“Ya nggak apa-apa, kita tunggu saja mereka. Mereka datang kita habisi
semua, kita sikat habis semua,” kata Moeldoko usai olahraga bersama di
Markas Marinir, Cilandak, Jakarta, Selasa (14/4).
Dia menegaskan pihaknya tak takut ancaman penyerangan ISIS dalam
bentuk udara, laut maupun darat. Dia mengharapkan seluruh masyarakat tak
usah panik dengan adanya ancaman tersebut.
“Bentuk penyelesaian ISIS lebih baik dilaksanakan preventif baik TNI
dan Polri bahkan seluruh unsur manapun selalu berkoordinasi. ISIS tak
boleh berkembang di Indonesia,” ujarnya.
Selain itu, kata dia, kerjasama pembangunan pos penjagaan lapas dan
rutan TNI di daerah rawan konflik bisa juga mencegah keluar masuknya
para penyusup, termasuk ISIS.
“ISIS seperti virus, saya selalu berpesan memberi atensi dan anak-anak generasi kita jangan sampai terpengaruh ISIS,” tukasnya.
Seperti diketahui, sebuah video ancaman serangan pulau Nusakambangan
beredar di Youtube. Dalam video berdurasi 3 menit 2 detik terlihat pria
bercadar dan berpakaian loreng ala militer membawa senjata api.
Pria tersebut mendukung gerakan teroris kelompok Santoso di Poso,
Sulawesi Tengah. Mereka juga berjanji akan membebaskan narapidana kasus
tindak pidana terorisme Abu Bakar Ba’asyir dan Oman Abdurrahman.
(Merdeka)
Rapat kerja antara Menteri
hukum dan HAM Yasonna Laoly dan Komisi III DPR membahas soal perekrutan
prajurit TNI untuk diperbantukan menjadi sipir lapas dan rutan. Tetapi
kerjasama itu ditolak oleh Komisi III DPR pada Selasa (7/4) kemarin.
Anggota Komisi III DPR, Misbakhun mengatakan prajurit TNI tidak boleh
menjaga lapas dan rutan. Kerjasama TNI dan Kementerian Hukum dan HAM
itu perlu ditinjau ulang.
“Ide mengembalikan TNI ke tugas sipil itu perlu dipertimbangkan. Kita
seharusnya kembalikan TNI ke profesionalismenya menjaga pertahanan.
Kalau bisa ini jangan dipertimbangkan tapi dibatalkan,” kata Misbhakun.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Mayjen TNI
Fuad Basya mengatakan pihaknya akan menjelaskan kepada anggota DPR,
apabila kerjasama tersebut dikritik.
“Yang dikritik orang lain bukan kita (TNI). Kalau TNI yang dikritik
akan kita jelaskan,” kata Fuad di Markas Cilandak, Jakarta, Selasa
(14/4).
Seperti diketahui, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly dan Panglima
TNI Jenderal Moeldoko menandatangani nota kesepahaman kerjasama
penyelenggaraan tugas dan fungsi pemasyarakatan. Nota kesepahaman
tersebut untuk pengamanan, pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP)
dan peningkatan kapasitas petugas pemasyarakatan. (merdeka)
Dok:
Presiden Joko Widodo bersama dengan Presiden ketiga RI BJ Habibie usai
bertemu di Istana (29/1/2015). (SABRINA ASRIL/Kompas).
Presiden ketiga RI BJ
Habibie memperkenalkan rancangan pesawat baru yang akan digarap oleh
Regio Aviasi Industri. Pesawat itu dinamakan R80. Untuk membuat pesawat
ini, Habibie meminta bantuan kepada Presiden Joko Widodo.
“Yang kami butuhkan adalah dukungan pemerintah untuk financing bagian
Indonesia. Bagian swasta dan luar negeri, mereka akan ikut kalau dari
pemerintah ikut menyumbang dalam arti mengatakan ‘silakan’ karena
industri pesawat terbang seperti Boeing dan Airbus dapat bantuan yang
sama,” ujar Habibie kepada Jokowi saat menunjukkan miniatur R80.
Habibie memaparkan kehebatan dari R80. Menurut dia, pesawat yang
digerakkan oleh baling-baling memiliki kelebihan seperti mampu
mengangkut penumpang dalam jumlah banyak, yakni antara 80-90 orang,
waktu berputar yang singkat, hemat bahan bakar, dan perawatan yang
mudah.
Habibie menyebut bahwa pesawat ini nantinya tidak kalah hebatnya
dibandingkan Boeing 777. Pesawat R80, lanjut dia, sangat tepat digunakan
untuk tipe bandara sedang yang banyak ada di Indonesia.
Saat ini, pengerjaan R80 baru dalam tahap desain awal. Regio Aviasi
di mana Habibie menjadi pendiri sekaligus pemiliknya sudah melakukan
studi di Amerika Serikat.
“Diharapkan pada tahun 2019 sudah mulai mengudara apabila ada bantuan pemerintah,” kata Habibie.
Meski secara fisik pesawat ini belum dibuat, tetapi Regio Aviasi
sudah mulai mendapat pesanan terutama maskapai penerbangan komersial
dalam negeri.
Manager Marketing Regio Aviasi Industri Wuri Rejeki menyebutkan, saat
ini sudah tiga perusahaan yang menandatangani letter of intent (LoI),
yakni Nam Air untuk pemesanan 100 unit, Kalstar (25 unit), dan Trigana
Air (20 unit).
Menurut Wuri, pesawat ini menarik minat maskapai penerbangan dalam
negeri karena kecepatan yang dimiliki lebih baik dibandingkan propeller
yang ada saat ini. Diharapkan dengan kecepatan lebih baik, maka pesawat
bisa menambah frekuensi perjalanan yang dilakukan.
Wuri berharap pemerintah bisa membantu industri penerbangan saat ini, termasuk dalam membuat pesawat asli buatan Indonesia.
“Pabrik pesawat di tempat lain diberikan dukungan oleh pemerintahnya
bukan dalam bentuk uang, tapi jaminan karena ini adalah industri
strategis,” ucap Wuri.
Menanggapi permintaan Habibie ini, Jokowi menyatakan siap membantu.
“Ya, ini seharusnya mendapat perhatian menjadi proyek nasional,” ucap
dia. (Kompas.com).
Kementerian Pertahanan akan membuka tender pengadaan pengganti F-5
Tiger milik TNI Angkatan Udara. Pesawat tempur F-5 Tiger sudah uzur
untuk melaksanakan tugas pengawasan wilayah udara Indonesia.
“Tendernya sedang dikerjakan, sebab tender besar tidak bisa satu atau
dua hari selesai,” kata kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian
Pertahanan, Brigadir Jenderal Jundan Eko Bintoro, ketika dihubungi
Tempo, Ahad, 12 April 2015.
Sesuai rencana, Jundan melanjutkan, Kementerian Pertahanan akan
membuka tender tersebut tahun ini. Sayangnya Jundan belum bisa
memastikan waktu pembukaan tender pembelian pesawat tempur baru. “Jika
dibuka, nanti kami akan berbicara ke media,” kata dia.
Soal anggaran, Jundan memilih bungkam. Dia hanya mengatakan bahwa
anggaran pembelian pesawat tempur baru TNI AU sudah masuk dalam Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara tahun ini. “Anggarannya sudah ada, tunggu
saja nanti hasilnya,” kata dia. (Tempo.co)
Bagi TNI AU dan TNI AL, kebesaran nama Ilyushin adalah masa lalu,
dimana saat masa keemasan militer Indonesia di dekade 60-an, kedua matra
pernah mengoperasikan pembom Ilyushin Il-28 Beagle. TNI AU (d/h AURI)
menggunakan versi Il-28s yang kemampuannya standar. Sementara TNI AL
(d/h ALRI) mengoperasikan Il-28T yang punya kemampuan melepaskan torpedo.
Tapi tahukah Anda, bahwa sejatinya masih ada produk besutan Ilyushin
lainnya yang aktif digunakan TNI AU. Jauh dari kesan sangar, Ilyushin
yang satu ini merupakan pesawat angkut sedang.
Yang dimaksud tak lain adalah Ilyushin Il-14 Avia. Pesawat ini nyaris
terlupakan dalam ‘inventaris’ sejarah perjuangan TNI AU, pasalnya dari
22 unit yang pernah beroperasi, tak satu pun melengkapi koleksi di
Museum Pusat TNI Dirgantara Mandala, Yogyakarta. Meski sedikit kurang
diperhatikan, satu-satunya sisa Il-14 Avia masih ada sebagai monumen di
Lanud Abdurachman Saleh Malang, Jawa Timur. Walau eksistensinya
terlulapan, namun Il-14 punya peran yang cukup banyak dalam menunjang
operasi militer di Tanah Air.
Sebagai pesawat angkut sedang, kodrat Il-14 tak jauh beda dengan
C-47/DC-3 Dakota yang legendaris, bisa digerakan sebagai pesawat angkut
taktis militer, bisa juga diperankan sebagai angkutan sipil. Karena
masuk kelas angkut sedang, maka Il-14 dan Dakota ditempatkan dalam
skadron yang sama, yakni Skadron Udara 2 yang ber-home base di Lanud
Halim Perdanakusuma. Pengadaan Il-14 berlangsung mulai periode 1958
hingga 1962-an. Satu diantara pesawat tersebut digunakan sebagai pesawat
kepresidenan, yang diberi nama Dolok Martimbang. Indonesian Air Force
One ini termasuk yang pertama datang, pada 10 Mei 1957, Presiden
Soekarno meninjau pesawat itu di Jakarta.
Sisa 21 pesawat Il-14 lainnya tiba di Indonesia dari Cekoslovakia
pada Juni 1958. Sebanyak 19 unit memperkuat Skadron Udara 2, dan sisanya
dua unit ditempatkan di Skadron Udara 17 Angkut VIP/VVIP. Di awal
kedatangan Il-14, TNI AU mendidik 18 awak ke luar negeri, mereka terdiri
dari penerbang, navigator, operator radio, teknisi udara, dan ground crew.
Pelajarannya meliputi teori dan praktek yang makan waktu sekitar 80
jam. Pendidikan awak ini dimulai pada 19 Januari 1957 dan rampung pada
14 Februari 1957.
Bagian dalam kokpit. Foto: Airliners.net
Di bandara Zurich.
Dalam kurun waktu 1957 – 1965, di berbagai daerah di Tanah Air
terjadi sejumlah pemberontakan. Il-14 Avia digunakan TNI AU sebagai
pesawat angkut personel dan logistik. Il-14 Avia resmi masuk masa
pensiun pada 12 Juli 1975. Hal tersebut berdasarkan Pengarahan KSAU
nomer 182/Pes-15/1975.
Merujuk dari sejarahnya, Il-14 mulai dirancang pasca Perang Dunia
Kedua. Penerbangan perdana Il-14 dilakukan pada 1 Oktober 1950. Di masa
jayanya, Il-14 terbilang laris digunakan AU dan maskapai penerbangan
dari negara-negara yang dekat dengan Uni Soviet. Bukti laris manisnya
Il-14 bisa dilihat dari populasinya yang mencapai 1.348 unit. Sebagai
pesawat populer, Il-14 juga diproduksi secara lisensi oleh
sekutu-sekutunya. Seperti Jerman Timur yang membuat 80 unit oleh VEB
Flugzeugwerke Dresden pada periode 1956 – 1959. Lalu 203 unit dibuat
oleh Avia di Cekoslovakia pada periode 1956 – 1960. Seperti sudah jadi
langganan, Cina pun membuat varian Il-14 yang diberi label Y-6. Dan
Indonesia membeli Il-14 Avia dari Cekoslovakia. Sebagai produk Perang
Dingin, pihak NATO memberi identitas Il-14 dengan code name Crate.
Il-14 di Lanud Abdurachman Saleh Malang. Foto: Arya Wirawan.
Pada tahun 2012, monumen Il-14 di cat dengan model Mario Bross.
Dilihat dari spesifikasinya, Il-14 mengusung twin engine Shvetsov
ASh-82T 14 cylinder air-cooled radial. Il-14 di produksi hingga belasan
varian, termasuk ada varian angkut VIP (Avia 14 Salon) dan Aerial survey
aircraft (Avia 14FG). Uni Soviet dahulu masih menggunakan Il-14 sampai
tahun 1980. Sedangkan Kuba dan Vietnam masih aktif mengoperasikan Il-14
sampai awal tahun 90-an. (Gilang Perdana)
Spesifikasi Ilyushin Il-14 Avia
• Crew: Four
• Capacity: 24-32 passengers
• Length: 22,3 meter
• Wingspan: 31,7 meter
• Height: 7,9 meter
• Empty weight: 12.600 kg
• Max. takeoff weight: 18.000 kg
• Powerplant: 2 × Shvetsov ASh-82T 14 cylinder air-cooled radial engines, 1,417 kW (1,900 hp) each
• Maximum speed: 417 km/h
• Range: 1.305 km
• Service ceiling: 7,400 meter
• Rate of climb: 5 meter/detik
Penembak runduk.
Istilah itu bisa ditelusuri sejak tahun 1770-an, di kalangan prajurit
kolonial Inggris di India. Barang siapa mahir memburu burung snipe yang
konon sulit ditembak, maka ia berhak mendapat julukan ‘sniper’.
Seiring berlalunya waktu, sniper mengalami pergeseran arti. Yakni,
prajurit infanteri yang secara khusus terlatih untuk mempunyai kemampuan
membunuh musuh secara tersembunyi dari jarak jauh dengan menggunakan
senapan.
Indonesia baru kehilangan sniper legendaris yang diakui dunia, Tatang
Koswara, yang meninggal dunia pada 3 Maret 2015. Namun, Bumi Pertiwi
menghasilkan kebanggaan yang lain, senapan penembak runduk (SPR) yang
diproduksi PT Pindad: SPR 2.
SPR ini bukan sembarang senjata. Pelurunya bisa menembus tank baja.
Dan bahkan, ada peledak di balik munisi tersebut yang bisa menghancurkan
kendaraan tempur dalam sekejap. Lebih hebat lagi, SPR 2 juga memiliki
jangkauan tembak hingga 2 kilometer (km). Kemunculannya menggemparkan
dunia sniper.
“Senjata yang mendunia, kalau kita fokus
ke senjata, kita punya SS-1, SS-1 dan beberapa varian. Kita juga punya
SPR-2 yang baru kita launching dan langsung dibeli oleh Kopassus,” kata
Direktur PT Pindad Silmy Karim kepada Liputan6.com.
Mantan Staf Ahli Komite Kebijakan
Industri Pertahanan (KKIP) itu menambahkan, senjata-senjata yang
merupakan produk unggulan Pindad, kualitasnya sudah teruji. Siap
digunakan di medan tempur. “Dan ternyata memang bisa diterima dan malah
lebih unggul dari pada produk impor,” ujar dia.
Secara rinci, SPR 2 berkaliber 12,7 mm x 99 mm, panjang senapan
1.755 mm, berat keseluruhan 19,5 kg, panjang barel 1.055 mm, kapasitas
peluru antara 5-10 butir. Rifling atau alur spiral berulir pada bagian
dalam laras senjata api ini yakni 8 grooves, RH 381 mm (15”) twist.
Kecepatan rata-rata lesatan peluru 900 meter per detik dan jangkauan 2
km.
Menurut Silmy, keistimewaan SPR 2 ini dibanding senapan dari negara adalah terletak pada jangkauan, ketepatan, dan silencer atau peredam suara hentakan dari tembakan.
Silencer yang dipasang bisa
menurunkan hentakan suara tembakan sekitar 20-30 desibel. Senjata ini
juga dilengkapi perangkat night vision dan teleskop dengan pembesaran
ukuran 5-25 kali.
“Senjata kita ini ada peredam dari recoil-nya (hentakan), yang ini
cukup membuat kesulitan bagi produsen lain dalam mendesain produk yang
digunakan oleh sniper. Di samping itu, senjata sniper ini relatif sangat
khusus. Dalam arti tidak massal di mana tingkat ketelitiannya harus
maksimal,” ungkap dia.
Direktur Pindad ini mengakui manfaat ekonomis dari pembuatan SPR 2
ini sebenarnya tidak terlalu besar. Tapi ia menekankan, keberhasilan
pembuatan senapan runduk tersebut membuktikan bahwa Indonesia mampu
menciptakan alutsista yang inovatif dan mutakhir.
“Untuk membuat sniper ini, effort-nya (usahanya) banyak,
tetapi secara ekonomis, manfaatnya tidak terlalu banyak. Tetapi kita
dalam hal ini melakukan dalam konteks kemandirian. Dalam konteks kita
mampu membuat senjata yang dapat digunakan oleh sniper,” kata Silmy.
Kepada Liputan6.com, teknisi Pindad Diding Sumardi
menunjukkan wujud senapan SPR 2, aksesoris, dan berbagai pelurunya. Ada
tiga jenis peluru yang bisa digunakan, yakni MU3 M yang dipakai untuk
latihan menembak, MU 3 SAM yang bisa menembus kendaraan, dan MU 3 BLAM
yang tidak hanya menembus kendaraan tapi juga bisa meledakkan target.
Atas kemampuannya yang luar biasa,
Sniper SPR 2 mendapat pengakuan dari dunia internasional. Terbukti,
senapan jitu ini masuk rekomendasi di situs alat utama sistem senjata
(alutsista) Weaponsystems.net, bersanding dengan senjata canggih lainnya dari penjuru dunia, seperti senapan runduk Zastava M93 Black Arrow buatan Serbia.
Bahkan, tentara Singapura pernah melontarkan pujian untuk SPR 2. “Good!“,
ujar seorang penembak kontingen Angkatan Darat Singapura, sambil terus
memandangi dan melihat detail fitur senapan runduk anti material versi
SPR-2, yang dipajang di stand PT Pindad di sela-sela kejuaraan tembak
ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) ke-21, di Depok, Jawa Barat, beberapa
waktu lalu.
Tak hanya itu, dengan adanya SPR 2 ini, Indonesia bersanding dengan
tiga negara lainnya yang mampu membuat senapan runduk serupa, yakni
Amerika Serikat (AS) dan dua negara di Eropa.
Dunia militer Indonesia naik tingkat dari sebelumnya. Meski begitu,
PT Pindah belum menjualnya kepada negara lain. Sejauh ini, baru Komando
Pasukan Khusus (Koppasus) TNI AD yang sudah mengoperasikannya. Mengenai
harga per unitnya, SPR 2 ini dibanderol sekitar Rp 200 juta per
pucuknya.
Berawal dari Tank ‘Si Jablay’
Produk PT Pindad yang menghentakkan
dunia internasional tidak hanya senapan SPR 2, tapi juga panser Anoa.
Kendaraan taktis (rantis) ini telah diproduksi sebanyak ratusan unit dan
tersebar di Indonesia maupun negara lain. Kepuasaan pelanggan membuat
rantis, yang terdiri 5 varian yakni Armored Personnel Carrier,
Ambulance, Logistic, Recovery dan Remote Control Weapon System, ini pun
tidak pernah luput dari permintaan. Harganya berkisar Rp 25-30 miliar.
Armoured Personnel Carrier atau lebih dikenal dengan Anoa 6 x 6 APC
yang khusus mengangkut tentara ini dilengkapi sejumlah peralatan seperti
alat deret Winch dengan daya deret 6 ton, Pioneer Set atau tombol
pengendali, alat pemadam kebakaran, alat penyejuk Udara, toolkit
pengemudi, lampu dan peta, jaring kamuflase, hydraulic rear rampdoor
system atau sistem pintu hidrolik, smoke grenade dischargers atau alat
peluncur granat berkaliber 66 mm yang jumlahnya 3 di kanan dan 3 di kiri
kendaraan.
Panser ini juga bisa dilengkapi beberapa fitur opsional seperti
sistem komunikasi dan pergerakan AM, FM Radio dan Intercom Set, GPS,
NVG, Add -on. Kemudian ada keramik lapis baja Armament; sistem remote
control RCWS-Cal 7,62/12,7 mm (remote control weapon system),
dan senjata di bagian belakang senapan mesin ringan 7,62 mm. Anot 6 x 6
APC ini berjalan naik hingga 45 derajat dan turun 10 derajat, serta
memutar 360 derajat.
Anoa lain yang tak kalah canggih adalah
Recovery dan Remote Control Weapon System (RCWS). Spesifikasinya serupa
dengan Anoa APC. Hanya fungsinya berbeda. RCWS memiliki keunggulan
dengan sistem remote control, sehingga tentara tidak perlu naik ke atap
untuk menembakkan senjata.
Untuk Anoa Ambulance memiliki fungsi khusus mengangkut korban yang
muatannya lebih banyak dan dilengkapi anti-peluru. Sedangkan Anoa
Logistic untuk mengangkut berbagai macam barang, seperti peluru, makanan
dan tenda. Anoa Recovery untuk memperbaiki persenjataan yang rusak,
termasuk sebagai mobil derek.
Direktur Utama Pindad Silmy Karim mengatakan kendaraan tersebut kini masih dalam tahap sertifikasi.
Awal dibuatnya Anoa tidak lepas dari operasi militer yang dilakukan di
Aceh pada tahun 2003. Saat itu, TNI Angkatan Darat (AD) meminta
kendaraan lapis baja untuk transportasi pasukannya. Pindad pun merespons
dan mengembangkan kendaraan angkut personal ringan atau APRV-1V yang
berbasis chasis truk komersial pada tahun 2004. Sayangnya proyek 40 unit
yang dipesan TNI AD ini terpaksa dibatalkan karena bencana tsunami pada
akhir Desember 2014.
Tidak berputus asa, dengan dibantu Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi, PT Pindad terus menyempurnakan APR-1V varian 4X4 tersebut.
Akhirnya mereka berhasil mengembangkan panser sesuai tantangan Jenderal
(Purn) Endriartono Sutarto, Panglima TNI saat itu, bernama APS1-V1 atau
yang dijuluki “Si Jablay” oleh PT Pindad.
Pengembangan berbagai varian pun terus dilakukan, hingga akhirnya di
penghujung tahun 2007 terjadi momen kebangkitan PT Pindad, seperti yang
dilontarkan Jusuf Kalla, Wakil Presiden saat itu. Pemerintah Indonesia
memesan 150 panser ke PT Pindad dengan nilai kontrak Rp 1,1 triliun.
Ratusan panser itu kemudian digunakan oleh TNI AD. Kejadian ini menjadi
momen bersejarah karena menjadi order terbesar sejak Pindad berdiri pada
tanggal 29 April 1983. Seperti yang disampaikan Direktur Teknologi dan
Pengembangan, Ade Bagdja seperti tertulis di buku “Pijakan untuk Kemandirian Alutsista” 30 Tahun PT Pindad.
“Yang harus diketahui oleh generasi mendatang adalah perjuangan kita
untuk membayar itu. Demi bangsa dan negara, kita mesti bekerja 24 jam
sehari, 7 hari seminggu. Pada tahun itu (2008), kami hanya mendapat
libur 1,5 hari. Sehari Idul Fitri, setengah hari Idul Adha. Bahkan, saya
dan ada beberapa yang lain sempat dibekali koper oleh istri karena
hanya pulang ke rumah untuk mandi dan makan saja,” ungkap pria berkaca
mata itu.
Kerja keras dan perjuangan pengembangan Panser Anoa pun berbuah
hasil. Saat ini. ada ratusan unit yang diproduksi PT Pindad.
Pengembangan kendaraan ini pun dikembangkan salah satu perusahaan yang
tergabung dalam BUMN Industri strategis ini.
Direktur Operasi Produk Hankam PT Pindad, Tri Hardjono mengungkapkan,
pihaknya sudah menyiapkan beberapa varian terbaru. Seperti panser Anoa
menggunakan senjata kanon 20 mm, versi amphibious hingga menggunakan
meriam canon 90 mm. Dalam pengembangan ini, PT Pindad tidak sendiri.
Selain menggandeng mitra dari luar negeri, sejumlah perusahaan Tanah Air
baik negeri maupun swasta turut membantu mengembangkannya.
“Ini sudah menggunakan system automatic, yang mahal di sistem senjata
adalah sistem penembakannya. Nah ini yang harus kita kuasai dan Pindad
untuk sementara belum masuk di elektronik dan optiknya. Ini akan
didukung oleh instansi lain seperti BPPT, PT Inti, PT Len, dan
lain-lain,” imbuh Tri.
TNI menerima 24 unit Panser Anoa 6×6 buatan PT Pindad yang dipesan sejak tahun 2013 lalu (Liputan6.com/Johan Tallo)
Kini Panser Anoa buatan PT Pindad telah mendapat pengakuan dunia
internasional. Sewaktu di Lebanon pada Oktober 2014 lalu, Panser Anoa
yang dibawa TNI dinyatakan layak bertugas oleh (United Nations Interim
Force in Lebanon/UNIFIL) dalam misi perdamaian. Lapisan baja dan rangka
Anoa dinyatakan memiliki tingkat Stanag 3, yang bisa menahan peluru
kinetis hingga 7,62×51 mm Armor Piercing standar NATO dari jarak 30
meter dengan kecepatan 930 m/s. Anoa juga bisa menahan ledakan ranjau
hingga massa 8 kg di bagian roda gardan dan di tengah-tengah badan.
Mimpi Pindad Jadi Produsen Senjata Besar 2023
Sepak terjang PT Pindad tak hanya berhenti di sini. Direktur PT
Pindad Silmy Karim menargetkan perusahaannya akan menjadi produsen
senjata besar dunia pada tahun 2023 mendatang. Ia berharap target itu
bisa tercapai lebih cepat.
“Kalau bisa tidak sampai 2023, saya menargetkan untuk tahun depan sudah kelihatan full range (berbagai jenis senjata) produk pindad. Dan ini boleh dibilang kalau kita mandiri, kita memang sudah mandiri kok,” ujar Silmy.
Dijelaskan dia, PT Pindad baru bisa dikatakan sebagai produsen
senjata besar dunia jika telah memproduksi berbagai senjata dan amunisi.
Misalnya, ada peluru kaliber besar dan kecil serta peluru kendali
(rudal) dan jet tempur mutakhir. Namun persero tersebut tentu butuh
dukungan dana dari pemerintah yang lebih besar.
“Anggaran pertahanan Amerika Serikat adalah 30 persen dari US$ 700
ribu per tahun. (Anggaran di) Indonesia baru untuk total industri dalam
negerinya paling 5 persen. Sudah kecil, besarannya kecil pula
persentasinya,” papar Silmy. “Tapi kita nggak apa-apa dalam arti kan
kita punya cita-cita didorong ataupun tidak didorong, kita harus maju.
Kalau kita mau cepat maju ya harus didorong, harus cepat dibantu.”
Sejauh ini, langkah PT Pindad untuk ‘go internasional’ sudah
dekat dengan banjir pesanan dari luar negeri, termasuk dari Thailand,
Filipina, Timor-Timur, Singapura, dan Malaysia. Menurut Silmy, penjualan
terbesar di PT Pindad adalah amunisi atau peluru. PT Pindah hingga kini
telah menghasilkan hampir seluruh range ukuran kaliber.
“Sekarang kita mendalami amunisi berkaliber besar 105, 90, 76, 155,
30, 40. Untuk medium sedang, tahun ini kita rencananya untuk amunisi
medium sedang dan medium besar,” kata Silmy.
Seorang pengunjung melihat senjata laras panjang
buatan Pindad di Indo Defence 2014, JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu
(5/11/2014)(Liputan6.com/Herman Zakharia)
Dalam mengembangkan amunisi ini, PT Pindad akan bekerja sama dengan
perusahaan pembuat senjata dari negara lain dengan proses alih-teknologi
dan juga menjaring market internasional. Setelah mendapat ilmu dari
pihak luar, PT Pindad kemudian akan mengembangkannya menjadi lebih
canggih.
Selain amunisi, PT Pindad juga tengah mengembangkan panser amfibi yang
bisa bermanuver di air dan danau. Namun kendaraan taktis tersebut baru
bisa tahan di laut dengan ombak pada level tertentu.
“Nanti pengembangannya kita bisa sendiri seperti halnya pada waktu
kita berkerjasama dengan pihak luar. Itu kan dengan (pembuatan senapan)
SS 1 awalnya, tetapi pada akhirnya kita bisa membuat SS2. Nah pola ini
kan sudah proven, nah ini kita pakai. Tidak ada salahnya kan
untuk kendaraan kita bisa kerjasama dengan luar negeri untuk yang roda
rantai,” papar Silmy.
Untuk mewujudkan semua ini, selaku orang nomor 1 di Pindad saat ini,
Silmy mengajak dan mengimbau jajarannya untuk lebih bersemangat untuk
membuktikan kepada dunia bahwa produk lebih unggul dibanding negara
lain. Selain itu, ia juga selalu memberikan kewenangan kepada bawahan
yang muda dan enerjik yang bisa terus memperbaharui teknologi dan
mengejar pasar penjualan senjata.
“Saya bilang sama teman-teman di sini kita jangan jago kandang gitu.
Kita harus bisa menang di luar. Saya dorong itu dan saya pilih
penanggungjawabnya yang memang enerjik dan masih muda. Bahkan saya
bilang ke mereka, kenapa kamu nggak ke luar negeri gitu untuk mencari
pasar. Dan itu adalah salah satu cara untuk memperkenalkan (produk
Pindad),” jelas Silmy.
“Menurut saya, kita masih belum memperkenalkan produk-produk unggul
kita keluar. Tapi kalau masalah harga, kualitas kita tidak kalah. Yang
masih belum kita lakukan pembenahan adalah di layanan purnajual ini yang
lagi saya tata.”
Silmy menjelaskan, karakteristik di industri senjata sangat berbeda dengan industri biasa. “Karena industri defence
(pertahanan itu tidak seperti industri pada umumnya. Kedekatan network
itu adalah salah satu kunci untuk melakukan ekspor,” imbuh dia.
Meski demikian, upaya keras PT Pindad untuk menjadi produsen senjata
internasional dirintangi hambatan. Menurut Silmy, PT Pindad yang berada
di bawah naungan Kementerian BUMN sulit untuk berkembang lantaran
keputusan dan kebijakan harus diputuskan melalui sejumlah proses yang
disepakati bersama. “Saya daripada harus menunggu atau kendali di kita
lebih baik saya bikin (kebijakan) sendiri. Kalau sudah jadi saya baru
melapor, tolong di-support (dukung) produk ini untuk dibeli.”
Kendala lainnya adalah ketika yang melakukan riset adalah pihak lain,
bukan Pindad. Silmy lebih memilih untuk melakukan riset secara mandiri
dan bekerja sama dengan mitra asing. “Bukannya saya inginnya
cepat-cepat, tapi karena kita sudah tidak ada waktu lagi untuk kita
tidak berlari. Itu yang saya bilang ke teman-teman agar melakukan
aktivitas yang lebih baik,” tandas Silmy.
Indonesia Makin Disegani
Wakil Komandan Satuan (Wadansat) 81 Penanggulangan Teror Kopassus Letkol Infanteri Murbianto yang ditemui Liputan6.com
pada ajang Danjen Kopassus Cup 2015 mengungkapkan, perkembangan
persenjataan di PT Pindad cukup membanggakan. Menurut dia, PT Pindad
berhasil menunjukkan senjata produksi dalam negeri memiliki kualitas
Internasional.
“Untuk saat ini akurasi dan daya tahan
itu cukup bagus, kalau berat relatif ada juga memang yang beratkan tapi
mungkin tapi kalau dibanding M-16 lebih berat SS-1. Tapi kalau akurasi
terutama di jarak 100 -200 itu cukup bagus,” ungkap Murbianto di
markasnya, Cijantung, Jakarta Timur.
Hal senada disampaikan Mayor Infanteri
Faizal Izudin, Ketua tim kontingen TNI dalam ajang kompetisi nembak
Internasional, ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) ke-24 yang digelar di
Vietnam pada tahun 2014 silam. Kata dia, menggunakan senjata produk
dalam negeri dari PT Pindad membuat TNI disegani negara lain.
“Memang pada saat pelaksanaan AARM
kemarin khususnya pada cabang Senapan maupun Carabine kita menggunakan
produk dari Pindad. Ada SS1 maupun SS2 V2. Senjata ini kualitasnya tidak
kalah dengan senjata-senjata lain seperti M-16 karena terbukti hasil
penembakannya, kami masih bisa merebut juara umum,” ucap Pria yang
bertugas di Komando Pasukan Khusus atau Kopassus ini.
Faizal menilai kemampuan individu dan skill
TNI yang baik harus juga harus selalu bersinergi dengan persenjataan
yang mendukung. Terbukti, apa yang telah diperjuangkan TNI dan PT Pindad
mendapat apresiasi yang luar biasa. “Dengan nilai-nilai yang kita
dapatkan selama latihan maupun pertandingan khususnya, otomatis secara
tidak langsung membuat penembak negara lain melihat senjata kita,”
tuturnya.
Dia berharap PT Pindad terus berinovasi,
berkreasi dan tidak menutup komunikasi dengan para petembak di lapangan
demi memperbaiki dan mengembangkan kualitas senjata. Terlebih,
menurutnya, perkembangan persenjataan negara lain semakin di-upgrade
kualitasnya.
“Sudah otomatis, sebagai anak bangsa
kita cukup bangga senjata yang dibuat sendiri kualitasnya tidak kalah
produk-produk yang kelas dunia. Kita makin bangga bukan hanya mampu
menyaingi bahkan mampu mengungguli karena nilai-nilai kita dapatkan juga
bisa bersaing, namun kita tidak harus berpuas diri dan selalu
mengevaluasi agar ke depan makin baik lagi,” harap Faizal.
Selain Faizal, Murbianto juga berharap sejumlah kekurangan kualitas
senjata yang ditemukan di lapangan diharapkan bisa menjadi pelajaran
untuk teknisi PT Pindad dalam membuat lebih baik untuk ke depan.
Pihaknya pun siap membantu PT Pindad menyempurnakan senjata-senjata
tersebut.
“Mungkin masalah standarisasinya perlu
diperhatikan lagi, jadi setiap senjata yang dibuat kalau bisa sama
semua. Kadang-kadang kami temukan senjata ini bagus namun dengan tipe
yang sama tapi berbeda kualitasnya. Kita harapkan standarisasi Pindad
lebih diketatkan lagi dan betul-betul memiliki kualitas sama dan bagus,”
tandas Murbianto. ( Liputan6.com )
Pengunjung
melihat maket pesawat N-219 yang dikembangkan PT Dirgantara Indonesia
dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) saat Pameran Hari
Ulang Tahun BPPT di Jakarta, Rabu (12/09/12). (FOTO ANTARA/Dhoni
Setiawan)
PT Dirgantara Indonesia (PTDI)
mendapatkan pesanan 75 pesawat jenis N219 dari PT Nusantara Buana Air
(NBA), PT Aviastar Mandiri, dan PT Trigana Air Service.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyaksikan penandatanganan nota
kesepahaman pembelian 75 unit pesawat N219 itu di Puspiptek Tangerang
Selatan, Banten, Senin.
“Dengan ditandatanganinya nota kesepahaman antara PTDI dengan tiga
perusahaan penerbangan Tanah Air menunjukkan tingkat kepercayaan calon
pelanggan pada pesawat N219,” kata Direktur Utama PTDI Budi Santoso.
Penandatanganan nota kesepahaman pembelian N219, menurut dia, juga
menunjukkan kecintaan pada karya anak bangsa yang bisa meningkatkan
motivasi karyawan PTDI untuk menghasilkan produk-produk lainnya bagi
masyarakat Indonesia dan dunia.
N219 merupakan pesawat kelas kecil serba guna berkapasitas 19 penumpang yang akan menjadi salah satu andalan PTDI.
Pesawat itu dilengkapi aplikasi teknologi mutakhir khususnya di
bidang elektronik dan avionik, yang membuatnya bisa lepas landas dalam
jarak pendek yakni sekitar 500-600 meter, yang dibutuhkan maskapai
penerbangan rute perintis dengan kondisi lapangan terbang berperalatan
minimal.
Budi berharap pesawat itu bisa menjadi sarana yang bisa menghubungkan semua titik di wilayah Indonesia.
Nota kesepahaman antara PTDI dan ketiga maskapai penerbangan
Indonesia intinya menyatakan bahwa ketiga perusahaan berminat membeli
pesawat N219 yang dirancang dan diproduksi oleh PTDI.
PT NBA menyatakan akan membeli 20 unit serta opsi 10 unit. PT
Aviastar Mandiri menyatakan akan membeli 20 unit dengan opsi 10 unit.
Sementara PT Trigana Air Service menyatakan akan membeli 10 unit dengan
opsi 5 unit. (ANTARA News)