Selasa, 27 Januari 2015

ROV, Si Robot Penyelam Laut Dalam

287917_kapal-survei-kn-baruna-jaya-1-milik-bppt_663_382
Kapal riset Baruna Jaya I (BJ1) milik Badan Penerangan dan Penerapan Teknologi (BPPT) mendapat sorotan saat ikut serta dalam evakuasi kecelakaan pesawat Airasia. Kapal canggih ini dilengkapi berbagai peralatan seperti multibeam echo sounder yang dapat mendeteksi benda di bawah laut. Selain itu, terdapat sonar, dan magnetometer untuk membedakan antara logam atau gundukan biasa.
Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam, Ridwan Djamaluddin mengakui; berkat peralatan mutakhir, sebenarnya pada hari pertama Baruna Jaya I telah menemukan objek dengan tinggi 3 meter di bawah laut tersebut, hanya karena tim menemukan jasad, maka hal itu menjadi prioritas mereka. Untuk memperlancar misi pencarian dan evakuasi, kapal menurunkan Remotely Operated Vehicle (ROV). Dengan ROV tersebut, Baruna Jaya akan mencari dan membantu evakuasi pesawat AirAsia QZ 8501.
ROV1
Apakah ROV itu? ROV adalah semacam kendaraan bawah air yang dikendalikan dari jarak jauh dengan remote control, biasanya digunakan untuk pekerjaan dalam laut. Antara lain untuk tujuan dokumentasi, eksplorasi dasar laut, penanggulangan, penyelidikan, pencarian dan pertolongan (SAR), pengeboran tambang, penggalian/penguburan bentangan kabel dan lain sebagainya. Alat ini juga dilengkapi dengan lampu dan kamera video, sehingga nantinya mampu untuk melihat dengan jelas dan merekam video di bawah air.
Sistem ROV terdiri atas vehicle (atau sering disebut ROV itu sendiri), yang terhubung oleh kabel umbilical ke ruangan kontrol dan operator di atas permukaan air (bisa di kapal, rig atau barge). ROV dilengkapi dengan peralatan atau sensor tertentu seperti kamera video, transponder, kompas, odometer, bathy (data kedalaman) dan lain-lain tergantung dari keperluan dan tujuan surveinya.
little_herc_rov_600
ROV memiliki satu set pengapung besar di atas sasis baja atau aluminium. Pengapung itu biasanya terbuat dari busa sintetis. Di bagian bawah konstruksi terpasang alat-alat sensor yang berat.Kabel tambat berfungsi mengirimkan energi listrik serta data video dan sinyal. Saat bertugas memasang kabel-kabel listrik tegangan tinggi, ROV biasanya ditambahkan tenaga hidrolik. setiap sisinya akan mengeluarkan sonar untuk mendeteksi keberadaan benda di bawah laut. Ketika sonar mendeteksi adanya benda padat, maka alat tersebut akan mengeluarkan bunyi. Jangkauan sonar ROV hingga radius 60 meter.
Berdasarkan ukuran, berat dan kekuatannya ROV dapat dibagi menjadi lima yaitu Micro-ROV, Mini-ROV, light Workclass, Heavy Workclass, dan Trenching/burial.
Saat perang, ROV seringkali diturunkan sebagai pemusnah ranjau yang mampu mendeteksi objek di dasar laut.Angkatan Laut Amerika Serikat adalah yang pertama mengutilisasi ROV dalam bidang militer. Mereka mengembangkan ROV khusus untuk mengangkat ranjau-ranjau di dasar laut dan menggunakannya pada peristiwa hilangnya bom atom di Spanyol pada kecelakaan pesawat di tahun 1966.
Sebelum tragedi AirAsia QZ 8501, ROV juga digunakan untuk mengangkat black box Adam Air di perairan Majene Sulbar dari kedalaman laut 2.000 meter. Selain kapal Baruna Jaya milik BPPT, kapal perang TNI AL juga ada yang dilengkapi ROV, seperti pada duo kapal pemburu ranjau, KRI Pulau Rengat 711 dan KRI Pulau Rupat 712. Bahkan, kabarnya dua kapal hidro oseanografi terbaru TNI AL buatan Perancis, OCEA OSV190 SC WB juga akan dibekali ROV. (Deni Adi)

Senin, 26 Januari 2015

Tim Penyelam TNI Tidak Pernah Mengenal Menyerah

Tim Penyelam TNI Tidak Pernah Mengenal Menyerah

Tim Penyelam TNI AL yang tergabung dalam operasi pencarian dan evakuasi korban pesawat AirAsia QZ-8501 tidak pernah mengenal kata menyerah, dan dihari ke-29 ini berhasil mengevakuasi lagi 1 jenazah perempuan dari badan pesawat AirAsia QZ-8501 di perairan Selat Karimata, dekat Pangkalan Bun, Kotawaringin Kalimantan Tengah, Minggu (25/1/2015). 
Tim Penyelam TNI AL mulai melanjutkan misi mengevakuasi jenazah korban dan main bodypesawat AirAsia dengan diturunkanya perahu karet dan Sea Raider serta peralatan Dishidros. Beberapa penyelam dari KRI Banda Aceh telah berada di kapal Crest Onyx sejak Sabtu malam kemarin. Mereka melakukan penguatan belting dan tali pengikat. Sementara lifting bag yang digunakan masih tetap 1 buah berukuran 10 ton. Kapal Crest Onyx inilah yang akan menarik badan pesawat‎. 
Proses pengikatan dan belting pagi ini sudah kembali dimulai sejak pukul 04.55 WIB, dan pada pukul 09.30 WIB floating bag mengapung  badan pesawat sempat terangkat dan muncul kepermukaan di buritan Kapal Crest Onyx namun keberuntungan belum berpihak karena tali penarik terputus sehingga body pesawat kembali masuk ke air tetapi tali tross masih terpasang sehingga body pesawat tidak terempas lagi ke dasar laut. 
Saat badan pesawat terangkat, satu jenazah ikut mengapung, kemudian jenazah langsung dievakuasi oleh Tim dengan perahu karet ke KN Pacitan. Selain jenazah, puing-puing pesawat ikut mengapung.  Kemudian satu jenazah yang telah berhasil dievakuasi oleh KN Pacitan selanjutnya dibawa dengan pesawat Hely Bell TNI AL  ke Lanud Iskandar Pangkalan Bun. Seperti pada penemuan jenazah korban AirAsia sebelumnya, dari Pangkalan Bun jenazah dibawa ke RS  Sultan Imanuddin guna dirawat dan dimasukkan peti jenazah.  
Sejauh ini sudah 70 jenazah telah berhasil dievakuasi dan pada sore hari ini 1 jenazah hasil evakuasi hari ini masih berada di RS Sultan Imanuddin. 
Evakuasi dihentikan siang hari ini, selain untuk evaluasi dan merencanakan langkah berikutnya juga dikarenakan arus sudah mulai deras dan hujan, ketinggian ombak 2-4 m, kecepatan arus 1,7 knot sehingga evakuasi diputuskan untuk dilanjutkan esok hari dan berharap cuaca baik dan mendukung untuk penyelaman.  

TNI. 

TNI AL siapkan enam pangkalan penyanggah di perbatasan

... kalau ada pencurian ikan di timur, misalnya, tidak harus ditangani jajaran TNI AL dari Surabaya...
Surabaya (ANTARA News) - Kepala Staf TNI AL, Laksamana Madya Ade Sopandi, menyatakan enam pangkalan penyanggah di kawasan perbatasan guna mendukung kebijakan poros maritim tengah disiapkan.

"Selain pangkalan utama TNI AL, kita juga membangun pangkalan penyanggah di wilayah perbatasan," katanya, di Surabaya, Senin.

Dia ada di Surabaya utnuk membuka Apel Komandan Satuan 2015, Olah Yudha Renstra TNI AL 2016, dan Lokakarya Penegakan Hukum di Laut. 

Enam pangkalan penyangga itu terdiri dari tiga di wilayah barat dan tiga di wilayah timur. 

"Di Jakarta, Sumatera, dan Tanjungpinang untuk wilayah barat, lalu di Sulawesi Utara, Palu, dan NTT untuk wilayah timur, sehingga kalau ada pencurian ikan di timur, misalnya, tidak harus ditangani jajaran TNI AL dari Surabaya," katanya.

Selain itu, juga menambah arsenalnya, di antaranya kapal patroli cepat PC-60 yang sudah bisa dirancang di galangan dalam negeri.

"Sudah ada delapan kapal patroli cepat, tapi kami proyeksikan 44 kapal patroli cepat, karena idealnya kita memang harus memiliki 40-60 kapal patroli cepat untuk menekan pencurian ikan," katanya.

Namun, kapal patroli cepat itu bukan kapal patroli untuk pangkalan, melainkan kapal patroli yang siap di lapangan, sehingga membutuhkan anggaran bahan bakar, karena itu pengadaannya harus bertahap.

Selain kapal patroli, TNI AL juga tengah menunggu kapal SAR canggih dari Prancis, yang kontrak pembeliannya telah ditandatangani dan direncanakan tiba di Indonesia pada Februari 2015.

"Sayang sekali, kapal SAR dari Perancis itu tidak datang saat kita menangani jatuhnya pesawat AirAsia, padahal kapal itu memiliki peralatan SAR canggih," katanya.
 
 

National Ship Design and Engineering Center (NasDEC)

  Pembagian pembangunan modul PKG Sigma, antara Damen Schelde dan PT PAL (photo: arc.web.id)
Pembagian pembangunan modul PKG Sigma, antara Damen Schelde dan PT PAL (photo: arc.web.id)
Kementerian Pertahanan akan mendukung penuh proyek National Ship Design and Engineering Center (NasDEC) atau Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Nasional. Proyek tersebut merupakan hasil kerjasama Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) dengan Kementerian Perindustrian.
Selain kapal-kapal sipil, rencananya proyek ini juga mengembangkan desain kapal perang. Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengungkapkan sangat mendukung proyek tersebut saat ditemui JMOL di kantornya, Jumat 16/1/15 lalu.
“Pengembangan industri pertahanan dalam negeri merupakan bagian dalam memperkuat pertahanan kita, kita memang mengharapkan kepada BUMN maupun BUMS untuk mengembangkan apa yang mereka mampu buat untuk pertahanan kita,” ujar Ryamizard.
“Kita apresiasi ITS yang sudah mampu membangun proyek tersebut, tentunya kita akan dukung penuh proyek itu, dan saya sangat bangga jika ada anak bangsa ini yang mampu mengembangkan teknologi pertahanan,” ungkap Menhan.
Mantan Kasad di era Presiden Megawati tersebut juga mengharapkan pembangunan-pembangunan teknologi yang berkaitan dengan pertahanan terus meningkat guna menciptakan kemandirian bangsa.
Pihak ITS saat dikonfirmasi mengaku akan terus menunggu arahan berikutnya dari Kemhan mengenai pembangunan proyek NasDEC ini.
“Kita akan menunggu arahan dari pihak Kemhan dalam realisasi program ini, kita berharap semua dapat berjalan lancar untuk kemajuan bangsa dan negara,” ujar Dekan Fakultas Teknologi Kelautan ITS, Eko Budijatmiko.
“Sejauh ini sudah ada Prancis, Kroasia, dan Swedia yang akan bekerjasama dengan kita dalam program ini, dari situ akan ada yang namanya transfer teknologi, ke depan kita berharap akan ada banyak negara lagi yang akan menawarkan kerjasama kepada kita,” katanya.
Mengenai jenis kapal perang yang akan didesain dalam proyek ini, Eko menjelaskan semuanya akan bertahap sesuai dengan waktu dan kemampuan.
“Tentunya akan bertahap, mulai dari kapal patroli hingga kapal besar seperti Frigat dan Korvet bahkan kapal selam, semuanya tergantung pada transfer teknologi yang terjadi, cuma kita optimis ke depannya, di tempat ini akan bermunculan SDM yang ahli dalam mendesain kapal perang,” ucapnya.
Sementara Menko Kemaritiman Indroyono Soesilo mengharapkan “National Ship Design and Engineering Center” (NasDEC/Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Nasional) di ITS tidak hanya mengurusi program kemaritiman dalam bidang desain dan rekayasa kapal. ITS juga diharapkan bisa menjadi pusat integrasi radar, karena pencarian AirAsia dengan cepat berkat peran ITS dalam mengintegrasikan radar milik TNI AL, Perhubungan Laut, dan sebagainya.
Ia menegaskan iptek dan inovasi merupakan kunci untuk mandiri, maju, dan kuat yang berbasis maritim. “Karena itu, Presiden menetapkan tekad Indonesia untuk menjadi Poros Maritim Dunia agar tingkat pendapatannya meloncat kepada 10 ribu dolar perkapita, karena itu kita menyusun empat agenda besar kemaritiman,” katanya.
Menteri Indroyono menjelaskan empat agenda besar yakni kedaulatan maritim, sumberdaya alam dan jasa, infrastruktur maritim, serta sumberdaya manusia dan budaya maritim.
“Saya minta para ahli desain dan rekayasa kapal serta ahli integrasi radar dari ITS untuk memajukan program kemaritiman dengan empat agenda besar itu”.
Pemerintah juga berencana membangun sembilan bandara baru di perbatasan, seperti Seibati, Rote, Nunukan, Miangas, Saumlaki, dan sebagainya. Dalam kaitan bandara, pelabuhan baru juga akan dibangun, karena itu ITS bisa berperan dalam desain dan rekayasa kapal melalui NasDEC-ITS.
“Saya sudah melapor Presiden bahwa ITS mampu merancang radar yang terintegrasi, misalnya radar perhubungan laut, radar TNI AL, radar TNI AU, radar pelabuhan, radar bea cukai, dan sebagainya akan terkoneksi,” katanya.
Dengan koneksi lewat radar itulah, katanya, akan memudahkan kinerja pengawasan “Negara Kepulauan”. “Kalau sekarang masih sifatnya laporan dari pangkalan di pulau tertentu, ke Armatim, ke Mabes TNI AL, ke Menko, lalu ke Presiden. Itu terlalu lama, karena itu perlu radar,”.
Keppres tentang Badan Keamanan Laut sudah terbit. “Dengan teknologi radar yang terintegrasi, maka Bakamla akan bekerja lebih efektif, karena jika ada gangguan, maka tinggal kirim kapal AL, kirim pesawat AU, atau lainnya untuk mengusir pengganggu”.
Untuk sumberdaya manusia, sedang siapkan beasiswa untuk riset kemaritiman, termasuk riset yang bekerja sama dengan negara lain, seperti ITS yang sudah bekerja sama dengan sejumlah universitas di Jerman. ( sumber: Jurnal Maritim dan JurnalSumatra).

Alasan Moeldoko Mengirim TNI Menjaga KPK

Panglima TNI Jenderal Moeldoko
Panglima Tentara Nasional Indonesia, Jenderal Moeldoko, mengungkapkan alasannya mengirim personel TNI ke Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi. Menurutnya, tindakan itu merupakan amanat undang-undang.
“Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 Tentang TNI Pasal 7 Ayat 1,” kata Moeldoko dalam akun facebooknya, Moeldoko, Minggu 25 Januari 2015.
Pasal itu, tutur Moeldoko, berbunyi tugas pokok TNI adalah menegakkan kedaulatan negara termasuk konflik komunal yang terjadi antara kelompok masyarakat yang dapat membahayakan keselamatan bangsa.
“Ini jawaban dari pertanyaan para politisi dan wartawan kenapa TNI ikut mengamankan gedung KPK,” kata Moeldoko menjawab pertanyaan di dinding facebooknya.
Sebelumnya, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto atau BW ditetapkan sebagai tersangka, tersiar kabar bahwa Badan Reserse Kriminal Polri akan melakukan penggeledahan‎ ke Gedung KPK. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Samad sudah mengontak Panglima TNI membantu pengamanan di Gedung KPK.
Pasukan TNI yang diterjunkan berasal dari tiga matra Darat, Laut, dan Udara. Mereka dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat, Detasemen Jalamangkara (Denjaka) TNI Angkatan Laut, dan Komando Pasukan Khas (Kopaskhas) TNI Angkatan Udara. Namun tidak diketahui berapa jumlah personel yang diturunkan.(Tempo)

Sabtu, 24 Januari 2015

LG-1 MK III: Howitzer 105mm ‘Incaran’ Yon Armed TNI AD

Meski TNI AD sudah mendapatkan meriam tarik (towed) Howitzer 105 mm generasi anyar, yakni tipe KH-178 buatan WIA Corporation (dulu Kia Machine Tool Company) dari Korea Selatan. Namun, sejatinya Artileri Medan (Armed) TNI AD lebih mengidamkan howitzer lain buatan Perancis, yang di maksud adalah LG-1 MK III, howitzer kaliber 105 mm besutan Nexter System.
Ada beberapa poin yang membuat Armed TNI AD kepincut LG-1 MK III, diantaranya dalam pengujian oleh Pussenarmed TNI AD, meriam ini dapat menampilkan performa yang memuaskan, bahkan mampu menandingi meriam M2A2 yang legendaris. Ditambah lagi, LG-1 dalam versi yang lebih senior, LG1 MK II telah di operasikan Resimen Artileri Korps Marinir TNI AL sejak tahun 1994. Kiprah howitzer ini terbilang moncer saat dipakai Marinir TNI AL, enam unit LG-1 MK II sempat berlaga dalam operasi tempur melawan separatis GAM (Gerakan Aceh Merdeka) pada tahun 2003 silam. Total hingga kini, Batalyon Armed Marinir TNI AL mempunyai 20 pucuk LG-1 MK II.
KH-178 di Pameran Alutsista TNI AD 2012.
KH-178 di Pameran Alutsista TNI AD 2012.
Sementara itu, dalam MEF (minimum essential force) I, TNI AD sudah mencanangkan untuk mendatangkan 54 pucuk KH-178 guna melengkapi kekuatan tiga batalyon Armed. KH-178 pun sudah kerap ditampilkan di hadapan publik, seperti pada ajang Pameran Alutsista TNI AD yang saban tahun berlangsung di Lapangan Monas. Tapi berdasarkan informasi yang dikutip dari Majalah Commando Edisi 6 Tahun 2012, disebutkan uji tembak KH-178 tidak memuaskan dalam hal akurasi yang diinginkan. Ditambah bobot meriam ini yang dinilai jauh lebih berat dari kompetitornya.
Ibarat merespon umpan, pihak Nexter rupanya makin percaya diri untuk menggolkan penjualan LG-1 MK III ke Indonesia. Ditambah, sebelumnya Nexter berhasil memasok self propelled howitzer 155 mm CAESAR ke Armed TNI AD. Wujudnya, seperti pada Indo Defence 2014 Expo, Nexter memboyong live unit LG-1 MK III ke pameran militer tahunan terbesar di Indonesia ini. Kabarnya , TNI AD akan memesan sebanyak 2 Batalyon (36 unit) LG-1 Mk III, disusul Marinir TNI AL yang ikut memesan 1 kompi LG-1 MK III.
LG-1 MK III AD Kolombia.
LG-1 MK III AD Kolombia.
Bekal display komputer, menjadi keunggulan pada LG-1 MK III.
Bekal display komputer, menjadi keunggulan pada LG-1 MK III.
Selain sudah punya rekam jejak memuaskan dalam Perang di Afghanistan, bobot LG-1 MK III hanya sekitar 1,5 ton, artinya 1 unit pesawat angkut berat C-130 Hercules dapat membawa 4 pucuk LG-1.
Dalam pengoperasiannya, LG-1 MK III membutuhkan 5 awak, lebih sedikit ketimbang LG-1 MK II yang membutuhkan 7 awak. Pihak pabrikan mengklaim laras L30 yang dimilikinya mampu menembak 12 peluru per menit, dengan daya tahan laras sampai 7.500 kali penembakan. Meriam LG-1 MK III juga bisa menggunakan munisi 105 mm lama yang biasa digunakan pendahulunya. Ini menjadi nilai tambah karena adanya commonality antara TNI AL dan TNI AD. Kalau menggunakan munisi standar M1, jarak tembaknya sekitar 11 Km. Akan tetapi jika menggunakan munisi “extended range” Nexter, maka jarak tembak sampai 17 km.
Baca juga: Radar Fire Finder – Pemburu posisi meriam lawan
Yang tak bisa di lupakan, LG-1 MK III sudah dibekali sistem komputer balistik (built in) untuk setting akurasi pembidikan dan kontrol tembak. Dengan demikian, waktu penyiapan meriam hingga peluru pertama terlontar menjadi lebih singkat. Awak meriam juga akan di mudahkan dalam memetakan sasaran yang telah dipandu oleh tim observer. (Deni Adi)

Jumat, 23 Januari 2015

Menuju Lokasi Pencarian AirAsia Z8501, KRI Frans Kaisiepo 368 Mengalami Kerusakan Sonar

KRI Frans Kaisiepo -368 jenis korvet tiba di Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (22/5).
KRI Frans Kaisiepo 368, satu dari empat korvet SIGMA Class andalan Satuan Kapal Eskorta
(Satkor) TNI AL, dikabarkan mengalami kerusakan saat dalam perjalanan menuju lokasi pencarian pesawat AirAsia QZ8501 di Selat Karimata. KRI Frans Kaisiepo 368 direncanakan akan mengambil peran sebagai pengganti KRI Sultan Hasanuddin 366 yang telah bertugas di wilayah pencarian sejak 4 Januari lalu.
Kerusakan yang mendera korvet buatan Damen Schelde Naval Shipbuilding, Belanda, ini terbilang serius, yakni pada perangat sonar pencari Thales UMS 4132 Kingklip medium frequency active/passive ASW. Sonar ini mengusung model hull mounted yang terletak di bawah lambung kapal dan dilindungi oleh dome (kubah). Nah, dalam pelayaran menuju lokasi pencarian pesawat AirAsia Z8501, lebih tepatnya saat bernavigasi di sekitaran APBS (Alur Pelayaran Barat Surabaya), KRI Frans Kaisiepo 368 yang berbobot 1.700 ton ini sempat kandas. Dan bagian yang mengalami kerusakan adalah bagian terluar dari lambung bawah kapal, yakni dome yang berisi perangkat sonar. APBS selama ini dikenal sebagai jalur pelayaran yang sangat padat.
Dikutip dari Janes.com (21/1/2015), meski akhirnya dapat ditarik ke dok kering milik PT PAL, menjadikan untuk sementara waktu KRI Frans Kaisiepo 368 harus dilakukan perbaikan. Peran sonar tentunya sangat vital dalam misi evakuasi AirAsia Z8501, mengingat sonar menjadi sensor andalan untuk mendeteksi keberadaan obyek di dasar laut. Belum diketahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk proses perbaikan. Dalam insiden ini, susunan silinder dan lambung utama tidak mengalami kerusakan.
Posisi hull mounted sonar di KRI Frans Kaisiepo 368 (SIGMA Class).
Posisi hull mounted sonar di KRI Frans Kaisiepo 368 (SIGMA Class).

Mengantisipasi agar tak terjadi insiden serupa, PT Pelabuhan Indonesia III selaku operator di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya akan melakukan proses pengerukan dan memperdalam alur yang kerap digunakan kapal-kapal bertonase besar. Sejak 2009, KRI Frans Kaisiepo 368 menjadi andalan Indonesia dalam rotasi misi Penjaga Perdamaian UNIFIL di perairan Lebanon. (HANS)