Senin, 22 Juni 2015

Prajurit Yonif 521/DY amankan perbatasan Indonesia-Malaysia

Prajurit Yonif 521/DY amankan perbatasan Indonesia-Malaysia
Dokumen foto prajurit Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan di Pos Jaga Perbatasan Republik Indonesia-Malaysia di Sei Kaca Kecamatan Seimenggaris Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. (ANTARA/M. Rusman)
Misi kami yang pertama adalah melanjutkan apa yang telah dilakukan batalion sebelumnya ..."
Prajurit TNI AD dari Batalyon Infantri 521/Dadaha Yudha (Yonif 521/DY) Komando Daerah Militer (Kodam) V Brawijaya, Jawa Timur, mengamankan wilayah perbatasan menempati 19 pos yang berada di antara Republik Indonesia dan Malaysia di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Sebanyak 19 pos perbatasan tersebut berada sepanjang perbatasan dari Pulau Sebatik hingga Kecamatan Sebuku, yang berbatasan dengan Negeri Sabah, Malaysia, kemudian dari Kecamatan Lumbis Ogong hingga Kecamatan Krayan Selatan yang berbatasan dengan Negeri Sarawak, Malaysia.

Komandan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Yonif 521/DY Letkol Inf Slamet Winarto saat tiba di Kabupaten Nunukan, Sabtu (20/6) sekitar pukul 14.00 Wita, menyatakan bahwa tugas dan tanggungjawab yang akan diemban sama dengan Batalion Infantri Lintas Udara Koamdo Cadangan Strategis TN AD (Yonif Linud Kostrad) 433/Julu Siri yang akan digantikannya.

Hanya saja, lanjut dia, wilayah penugasannya lebih luas dan panjang karena pengamanan perbatasan sebelumnya hanya dari Pulau Sebatik hingga Kecamatan Sebuku dengan menempati 15 pos perbatasan.

Ia mengungkapkan, misi utama yang akan dilakukan pertama adalah melanjutkan apa yang telah dilaksanakan prajurit Yonif Linud Kostrad 433/Julu Siri sekaligus menata internal prajuritnya selama bulan suci Ramadhan 1436 Hijriyah.

"Misi kami yang pertama adalah melanjutkan apa yang telah dilakukan batalion sebelumnya sambil menata kondisi prajurit selama bulan puasa ini," sebut Slamet Winarto.

Slamet Winarto juga menambahkan, bertambahnya pos perbatasan yang akan dijaga membuat jangkauan wilayahnya lebih luas, karena ada 4.000 patok perbatasan RI-Malaysia harus diamankan, sedangkan sebelumnya hanya menjaga 1.971 patok perbatasan.
 

Sabtu, 20 Juni 2015

TNI Berikan Detail Informasi Jet Malaysia Penerobos ke Kemlu

Ilustrasi (ist)
Ilustrasi (ist)

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi telah berbicara langsung dengan Panglima TNI Jenderal Moeldoko soal pelanggaran pesawat tempur Malaysia di Ambalat, Selat Makassar, yang terjadi berturut-turut sepanjang Januari-Mei tahun ini.
Menlu Retno dan Panglima TNI sepakat untuk mengambil langkah penting pertama, yakni mengecek koordinat pesawat-pesawat Malaysia itu saat terdeteksi oleh TNI Angkatan Udara melanggar wilayah RI.
“Koordinat akan dicek untuk memastikan (pesawat Malaysia) itu ada di wilayah teritorial kita atau di mana,” kata Retno di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (19/6).
Hari ini, ujar Retno, Kementerian Luar Negeri akan menerima rincian koordinat itu dari TNI untuk memastikan pesawat-pesawat Malaysia itu betul melewati batas-batas teritorial Indonesia di sekitar Blok Ambalat.
Selain itu, Panglima TNI juga akan memberikan detail informasi mengenai pesawat tempur Malaysia penerobos itu.
Setelah memastikan detail pesawat, Kemlu akan mengecek apakah benar pesawat itu memasuki wilayah teritorial Indonesia. Jika ya, “Kami ajukan protes (ke Malaysia),” ujar Retno.
Juru Bicara Kemlu Arrmanatha Nasir, Kamis (18/6), mengatakan isu pelanggaran teritorial Indonesia oleh Malaysia belum dapat terselesaikan karena memang belum ada kesepakatan terbaru dari kedua negara mengenai batas wilayah masing-masing, termasuk di Ambalat.
“Di satu pihak, kita (Indonesia) punya posisi ini sebagai batas wilayah kita. Tapi di sisi lain, ini juga batas wilayah mereka,” ujar Tata, panggilan Arrmanatha.
Saat ini pemerintah RI terus mengejar target penyelesaian pembahasan batas wilayah negara, sehingga ke depannya diharapkan tak ada lagi pelanggaran dan saling klaim batas wilayah dari Indonesia maupun Malaysia.
“Kami harapkan pembahasan secepatnya selesai. Ini prioritas politik luar negeri kita,” ujar Tata.
Jumat pekan lalu (12/6), Presiden Jokowi telah menunjuk Duta Besar Eddy Pratomo sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Penetapan Batas Maritim antara Indonesia dan Malaysia. Penunjukan ini menindaklanjuti pertemuan Presiden Jokowi dengan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak pada Kunjungan Kenegaraan Presiden ke Malaysia pada 5-7 Februari.
Sebelumnya, pertemuan tingkat menteri juga telah dilakukan oleh Indonesia dan Malaysia pada 25-28 Januari. Dari pertemuan tersebut dihasilkan kesepakatan untuk membahas penetapan batas wilayah kedua negara di lima titik, yakni Laut Sulawesi, Laut China Selatan, Selat Singapura bagian timur, Selat Malaka bagian selatan, dan Selat Malaka.
Dubes Eddy dalam waktu dekat akan bertemu Utusan Khusus Perdana Menteri Malaysia, Tan Sri Mohd Radzi Abdul Rahman, untuk membahas kesepakatan penetapan itu.

(CNN Indonesia)

TNI AL Siapkan Pangkalan di Pangandaran

image
Komandan Pangkalan Armada Barat Angkatan Laut (Danlanal) Kolonel (P) Johanes Djanarko Wibowo, menyatakan, Pangkalan Militer Angkatan Laut Type D, akan segera dibangun di wilayah Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Hal itu terungkap ketika Danlanal Kolonel (P) Johanes Djanarko Wibowo, menggelar kegiatan pembinaan terhadap desa pesisir di Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Pangandaran, minggu lalu.
“Luas lahan yang akan dijadikan pangkalan tersebut mencapai 3 hektar. Pangakalan itu nantinya menghadap ke arah laut. Komanda pangakalan akan dijabat oleh setingkat mayor,” katanya.
Menurut Johanes, pembangunan pangkalan tersebut dilakukan di lahan milik TNI AL. Pada tahap awal, pembangunan yang dilakukan adalah kawasan perkantoran. Tentunya, kata dia, pembangunan tersebut disesuaikan dengan ketersediaan anggaran pertahanan yang dari pemerintah pusat.
“Ini sebagai dukungan informasi Intelijen Pangandaran yang berbatasan dengan Australia. Ya sangat strategis, posisinya dipesisir Selatan yang berjarak 300 notikel mil dekat pulau Christmas-Australia,”kata Johanes.
Lebih lanjut, Johanes menyebutkan, sebagai Daerah Otonomu Baru (DOB), Pangandaran mempunyai pantai sepanjang 90 kilometer. Rencana penyediaan pangkalan tersebut sudah masuk dalam renstra TNI AL tahun 2016.
“Nantinya, AL akan mengamankan daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, yang jaraknya sekitar 250 notikel mil atau 500 kilometer, mulai dari pantai Sukabumi sampai Pangandaran,” ucapnya.
Johanes juga mengungkapkan potensi yang terdapat di kawasan laut Pangandaran. Diantaranya, mulai dari perikanan, bahan tambang, mineral, juga pariwisata eksotik yang kini menanti sentuhan pengembangan.
“Mengenai operasi laut, ada armada kapal yang setiap waktu siaga di pesisir selatan. Area patrolinya kurang lebih berjarak 20-40 notikel mil, mulai dari Banten sampai Cirebon. Dan mengenai ancaman dari luar, informasi kita langsung dari pusat. Kita hanya mengantisipasi kalau ada ilegal-ilegal saja,” imbuhnya.
Menanggapi hal itu, Penjabat Bupati Pangandaran, Drs. Daud Achmad, mengaku sudah menjalin komunikasi dengan Danlanal mengenai pertahanan di wilayah Pantai Pangandaran yang berbatasan langsung dengan Negara Australia.
“Kita apresiasi kepada Danlanal karena Pangandaran sebagai daerah terluar yang berbatasan dengan negara lain, diperlukan pangkalan sebagai fungsi dukungan baik personil, informasi intelijen, logistik maupun lainnya. Dan kami berharap rencana pembangunan pangkalan AL di Pangandaran ini segera terealisasi,” jelas Daud.

HarapanRakyat.com

Electronic Warfare System CN 235 TNI AU

  selex-es-ew-solutions-seminar-at-paris-air-show
Untuk pertama kalinya SAGE ESM dipilih memenuhi kebutuhan pesawat patroli maritim yang akan digunakan oleh Angkatan Udara Indonesia untuk misi patroli maritim mereka.
Selex ES telah menandatangani kontrak dengan Integrated Surveillance and Defense Inc. (ISD) yang berbasis di Amerika Serikat, untuk menyediakan SAGE 600 digital Electronic Support Measure (ESM) system, untuk Angkatan Udara Indonesia.
Sistem ini akan dikirim pada bulan September untuk diintegrasikan ke pesawat patroli maritim CN-235 TNI AU. SAGE telah dikembangkan untuk diintegrasikan dengan mudah pada setiap jenis platform, termasuk helikopter dan UAV.
squared_medium_SAGE2_S
SAGE adalah sistem peperangan elektronik untuk misi intelijen, pengawasan dan pengintaian. Sistem ini mengumpulkan data emitter dari sumber frekuensi radio pada jangkauan taktis yang signifikan, dan membandingkan hasilnya dengan perpustakaan emitor yang ada dan kemudian mengidentifikasi dan menentukan lokasi ancaman.
Ini adalah pemilihan pertama dari SAGE untuk kebutuhan patroli maritim pesawat sayap tetap. Sistem ini dirancang dengan fleksibilitas sehingga mudah diintegrasikan ke berbagai kendaraan udara – dari pesawat mapun helikopter, sampai dengan sistem udara tak berawak, termasuk UAV Schiebel CAMCOPTER® S-100 remotely-piloted air system.
UAV Schiebel CAMCOPTER® S-100
UAV Schiebel CAMCOPTER® S-100

SAGE digunakan oleh Kementrian Pertahanan Inggris dan telah diberikan kepada Republik Korea sebagai bagian dari paket peralatan perang elektronik untuk Maritime Operational Helicopter (MOH) programme.
SAGE adalah piranti kemampuan perang elektronik canggih yang berasal dari sensor individu untuk sepenuhnya diintegrasikan dengan peralatan defensif, sebagai pendukung Electronic Warfare Operational Support (EWOS).

Selex

Misi latihan terbang TNI AU tetap prioritas



Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama TNI Dwi Badarwanto, menegaskan, misi latihan terbang dan misi lain TNI AU di Pangkalan Udara Utama TNI AU Adi Sutjipto, Yogyakarta, tetap menjadi prioritas.

“Waktu itu sempat salah paham saja. Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI Agus Suprihatna, telah bertemu dengan Pak Menteri Perhubungan, Ignatius Jonan, tentang ini. Tetap prioritas,” katanya, di Jakarta, Jumat. 

Pangkalan Udara Utama TNI AU Adi Sutjipto telah ada sejak masa penjajahan Belanda dengan nama Maguwo, sesuai nama kawasan di mana landas pacu itu berada. Bandar Udara Adi Sutjipto (namanya kebetulan sama) baru dioperasikan kemudian untuk kepentingan penerbangan sipil dan komersial. 

“Nasib” pangkalan udara utama pendidikan TNI AU itu serupa dengan banyak pangkalan udara TNI AU, yang lebih dulu berdiri namun landas pacu dan beberapa fasilitas lainnya harus dioperasikan juga bersama dengan penerbangan sipil. 

Contohnya Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma (dahulu Pangkalan Oedara Tjililitan), yang lebih diaktifkan kembali menjadi penerbangan sipil-komersial berjadualnya melalui Bandar Udara Halim Perdanakusuma sejak akhir 2014 lalu. 

Sejak TNI AU berdiri pada 1946, semua penerbang TNI AU dan sebagian besar penerbang matra lain TNI lahir dari Skuadron Pendidikan 102 dan Skuadron Pendidikan 104 yang tergabung dalam Wing 1 Pendidikan Penerbang TNI AU. Semuanya bermarkas di Pangkala Udara Utama TNI AU Adi Sutjipto. 

Pada Rabu lalu (10/6), di Gedung DPR, Jakarta, Jonan menyatakan kepada pers, "Bandara Adisucipto itu sudah amat sangat padat. Jadi, saya harap pihak Perhubungan Dirjen Udara mengirim surat kepada kepala staf Angkatan Udara untuk menghentikan sementara latihan militer selama operasi Lebaran.”

Bahkan, dia mengusulkan kepada pemerintah agar latihan terbang dan misi militer TNI AU dialihkan ke Bandara Gading, di Gunungkidul, DIY. 

Menanggapi ini, Badarwanto berkata, “Tidak begitulah… tidak sampai seperti itu karena semuanya sudah dibicarakan. Tidak ada masalah lagi. Cuma, harap maklum kalau menjelang, selama, dan pasca Lebaran ini lalu-lintas udaranya lebih padat.”
 

Jumat, 19 Juni 2015

Gerak cepat TNI setelah Malaysia berani terobos Ambalat

Panglima TNI Jenderal Moeldoko inspeksi seluruh kesatuan. ©2014 merdeka.com/imam buhori
Panglima TNI Jenderal Moeldoko inspeksi seluruh kesatuan. ©2014 merdeka.com/imam buhori

Kapal perang milik Malaysia tiba-tiba memasuki wilayah perairan Ambalat tanpa izin. Kejadian ini membuat hubungan kedua negara kembali memanas, terlebih hal seperti ini sudah berulang kali terjadi.
Selain itu, pelanggaran batas wilayah di Blok Ambalat, Kalimantan Utara, beberapa waktu lalu juga terjadi. Negeri Jiran sempat menerabas wilayah udara.
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) menyatakan, hingga saat ini sudah sembilan kali pesawat perang milik Malaysia tersebut masuk ke wilayah udara Indonesia tanpa izin.
Panglima TNI Jenderal Moeldoko menyatakan akan membentuk tim Divisi Siber yang bermarkas di Badan Intelijen Strategis atau BAIS. Tim ini nantinya akan dikomandani oleh jenderal bintang satu.
“Kita sedang membentuk Divisi Siber. organisasi yang kita susun ini nantinya diketuai oleh anggota TNI berpangkat bintang satu, dia mengepalai khusus di bidang siber yang bermarkas di BAIS,” kata Moeldoko di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (18/6).
Dia berpesan masyarakat harus membedakan mana kepentingan bangsa dan bukan, serta jangan mudah terprovokasi. “Nah, ini harus dibedakan jangan semaunya memikirkan itu, nanti bingung semua. Ini sekarang kita susun nanti ada kompartemenisasi (penyekatan wilayah),” tuturnya.
“Hanya yang saya pesankan jangan selalu mengatakan ini perang siber. Jangan semaunya bicara saiber, luas banget pengertiannya. Maksud saya harus dibatasi. Pada level mana ini mengutamakan kepentingan nasional, pada level mana kepentingan lingkungan strategi, dan pada level mana taktis,” tambahnya.
Moeldoko sebelumnya mengungkapkan sudah ada kesepakatan antara Panglima Angkatan Bersenjata Malaysia untuk tidak lagi mengerahkan prajurit di wilayah Ambalat, itu akan diselesaikan secara diplomatik.
“Saya sering berkomunikasi dengan Panglima Diraja Malaysia, untuk bersepakat soal Ambalat, tidak perlu lagi kita turunkan pasukan bersenjata,” kata dia. 

(Merdeka)

Jet Tempur SU-35 Ikut Tender TNI AU

Jet Tempur SU-35
Jet Tempur SU-35

Rusia mengumumkan rencananya untuk bersaing dalam kontrak Angkatan Udara Indonesia yang hendak membeli pesawat tempur; Rusia berharap bisa meng-ekspor jet Su-35.
Jet tempur Rusia Su-35 akan bersaing dalam tender yang akan datang; Angkatan Udara Indonesia sedang mempertimbangkan pembelian pesawat multi-peran ini, untuk menggantikan armada jet buatan AS yang menua, ujar juru bicara Rosoboronexport, Sergey Kornev.
Kornev menyatakan hal ini saat berada di Le Bourget Airshow 2015, yang sedang berlangsung di dekat Paris, Prancis.
“Kami sedang menunggu tender, dan kami akan berpartisipasi di dalamnya”, katanya, yang menekankan perlunya mengembangkan potensi ekspor jet tempur Su-35.
Perwakilan dari Indonesia telah berulang kali menyatakan minatnya untuk membeli Su-35. Pada bulan Februari, Kepala Staf Angkatan Udara Indonesia, Marsekal Agus Supriatna mengisyaratkan kesiapannya untuk menggantikan jet tempur F-5 AS yang usang, yang saat ini dalam pelayanan, untuk digantikan dengan pesawat canggih Su-35. Meski begitu, perjanjian pembelian belum ditandatangani.
Dikembangkan oleh Biro Desain Sukhoi (bagian dari United Aircraft Corporation), Su-35 Flanker-E adalah pesawat generasi “4 ++” – super-maneuverable multi-role fighter. Teknologi generasi kelima yang digunakan dalam pengembangan pesawat ini memberikannya keunggulan atas pesawat lain dari kelas ini.
Su-35 dilengkapi dengan peralatan avionik yang state-of-the-art (mahakarya) yang didasarkan pada kontrol sistem dan informasi yang digital, radar baru dengan phased antenna, dan mesin baru dengan peningkatan pengendalian vektor pendorong.
Tahun lalu, majalah Amerika Serikat, National Interest memuji avionik yang canggih dari pesawat SU-35, yang mengatakan “membuat SU-35 menjadi musuh yang sangat berbahaya untuk setiap pesawat tempur AS, dengan pengecualian pesawat siluman F-22 Raptor Lockheed Martin.”

Sputniknews.com