Rabu, 17 Juni 2015

Barret M82A1: Kenyang Pengalaman Tempur, Dipercaya Kopassus Sebagai Senapan Anti Material

US_M82A1_Barrett
Hampir semua senapan anti material TNI telah di kupas di Indomiliter.com, tapi dari sekian ragam senjata heavy barrel tersebut, hanya beberapa yang benar-benar masuk kategori battle proven, dan salah satunya yang tak bisa dilewatkan adalah Barret M82A1 buatan Barret Firearms Manufacturing.
Karena menjadi senapan anti material standar pasukan AS dan banyak negara sahabat AS, wajar bila kiprah M82A1 cukup luas, medan perang di Timur Tengah dan Afghanistan menjadi ajang pembuktian senjata hasil rancangan Ronnie Barret ini. Indonesia pun yang punya kemitraan dan hubungan kerjasama militer dengan AS turut memiliki senjata penghantar maut ini. Seperti dikutip dari satuharapan.com (21/2/2015), satuan elit TNI AD Kopassus (Komando Pasukan Khusus) disebut telah memiliki 20 pucuk M82A1. Sebagai senjata perorangan, M82A1 masuk kategori SPR (senapan penembak runduk) untuk sniper.
Brigjen TNI Sabrar Fadhilah menjelaskan tentang senapan sniper tipe SPR Barrett M82A1 dalam Pameran Alutsista TNI pada Sabtu (21/2) di Jogja City Mall (JCM). (foto: satuharapan.com)
Brigjen TNI Sabrar Fadhilah menjelaskan tentang senapan sniper tipe SPR Barrett M82A1 dalam Pameran Alutsista TNI pada Sabtu (21/2) di Jogja City Mall (JCM). (foto: satuharapan.com)

Dibanding senapan anti material seperti Pindad SPR-2, Denel NTW-20, dan Zastava M-93 Black Arrow, maka M82A1 punya keunikan dari sistem operasi. M82A1 adalah senapan anti material kelas berat berkaliber 12,7 mm dengan sistem operasi semi otomatis pertama di dunia. Biarpun lahir dari proyek garasi, M82A1 pada akhirnya berevolusi menjadi menjadi senjata yang diadopsi banyak negara. Dari sisi desain, M82A1 masih menganut model konvensional dengan dua set receiver terbuat dari baja pres dan terhubung dengan cross pin yang bisa dibuka dengan mudah. Untuk ukuran kapasitas magasin, M82A1 dengan magasin berisi 10 peluru menjadi yang paling banyak diantara senapan anti material milik TNI.
M82a1M82A1_barrettm107_sniper_rifle_800
Untuk mempercepat disipasi panas, penerapan rancangan fluted barrel yang dipenuhi cekungan akan membantu mempercepat penguapan, sehingga laras tidak cepat memuai dan akurasi bisa tetap terjaga. Bila M82A1 tidak dilengkapi teleskop, masih ada BUIS (Back Up Iron Sight) yang memiliki setelan elevasi sampai jarak 1.500 meter ditambah setelan windage untuk menyesuaikan simpangan arah angin. Guna meningatkan akurasi, M82A1 dilengkapi kaki-kaki (bipod) yang bisa disesuaikan ketinggiannya. Bila dirasa belum cukup, M82A1 bisa pula dipasang di atas kaki tiga (tripod) M3/M122 milik SMB (Senapan Mesin Berat) M2HB.
Pasukan Inggris dengan M82A1.
Pasukan Inggris dengan M82A1.
maxresdefaultbarrett_M82A1_416_9880webunnamed

Mekanisme M82A1 menerapkan prinsip laras yang bergerak ke belakang untuk mengkompensasi gaya tolak balik yang dihasilkan. Ketika peluru ditembakkan, laras bergerak ke belakang sejauh +/- 25 mm, menyentuh tonjolan pada bolt yang kemudian melepaskan bolt dari posisi kuncinya. Setelah memukul bolt, laras langsung kembali ke depan berkat bantuan sepasang pegas recoil yang terpasang di kiri kanan laras. Begitu bolt dalam posisi bebas, lengan akselerator yang membawa sebagian energi dari gaya tolak balik langsung menghantamnya, sehingga bolt akhirnya berotasi dan bergerak ke belakang. Gerakan bolt ke belakang ini sekaligus menarik keluar selongsong hasil penembakan, dan memasukan peluru baru ketika mulai bergerak ke depan. Ketika bolt kembali ke posisinya semula akibat dorongan pegas,, akan terkunci secara otomatis dengan laras dan peluru baru siap ditembakkan.
Pada awalnya, M82A1 hanya digunakan pasukan khusus AS untuk misi-misi rahasia yang membutuhkan aplikasi senapan runduk dari jarak ekstra jauh. Baru pada Perang Teluk 1991, pasukan reguler mulai memperoleh M82A1. Biarpun lahir di AS, angkatan bersenjatanya bukanlah pengguna pertama M82A1. Sejatinya adalah Swedia yang pertama kali memesan 100 pucuk M82A1 pada tahun 1989, ditambah CIA yang membeli 25 pucuk pada tahun yang sama untuk dikirim ke pejuang Mujahidin di Afghanistan. Jika awalnya diniatkan untuk menjatuhkan Mi-24 Hind Soviet, sekarang pasukan koalisi ISAF (International Security Assistance Force) di Afghanistan yang harus berhati-hati karena diperkirakan senjata ini sudah jatuh ke tangan milisi Taliban.
Untuk bisa mendapatkan Barret M82A1 memang diperlukan kocek yang lumayan, pasalnya per pucuknya di banderol US$6.600 (1992), US$7.000 (2003), bahkan situs Wikipedia.com melansir harga M82A1 mencapai US$8.900 per pucuk, tentu saja perbedaan harga terkait varian yang dibeli. Sampai saat ini Barret Firearms Manufacturing telah merilis M82A1, M82A2, M107, dan XM500. Meski beda varian ada tentu beda kinerja, tapi kaliber yang diusung semuanya adalah .50 BMG.
Dari beragam varian, yang digunakan oleh Kopassus TNI AD adalah varian dasar M82A1. Model ini dilengkapi muzzle brake berbentuk bulat, sementara varian akhir menggunakan muzzle brake berbentuk kotak dua tingkat. Selain itu M82A1 versi awal cenderung berwarna hitam karena menggunakan lapisan parkerized finish, sementara M82A1 yang sekarang beredar rata-rata berwarna metal natural.

Spesifikasi Barret M82A1 “The Light Fifty”
– Negara asal: Amerika Serikat
– Tahun pembuatan: 1982
– Kaliber: .50 BMG (12,7 x 99 mm)
– Sistem operasi: semi otomatis, short recoil
– Panjang total: 1.448 mm
– Panjang laras: 737 mm
– Bobot kosong: 12,9 kg
– Kecepatan proyektil: 854 meter per detik
– Jarak tembak efektif: 1.800 meter
– Akurasi tembakan: 1,5 – 2,0 MoA
– Kapasitas magasin: 10 peluru

TNI Klaim Pasukan Perdamaian RI Paling Unggul di ASEAN

TNI. (foto : Okezone)
TNI. (foto : Okezone)
Tentara Nasional Indonesia (TNI) terus mengirimkan pasukan perdamaian ke luar negeri setiap tahun. Bicara soal kualitas dan keunggulan pasukan, personel perdamaian RI diklaim paling unggul di ASEAN.
Hal itu dikatakan Irjen TNI Letjen TNI Syafril Mahyudin saat kuliah umum di Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok mewakili Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko. Menurutnya dalam lima tahun terakhir, Indonesia terus menjaga hubungan baik dengan negara-negara ASEAN.
“Menjaga netralitas peran ASEAN dalam menghadapi persaingan global. Indonesia sumbang peran utama dalam misi perdamaian PBB dan ASEAN,” tegasnya dalam pidatonya di FISIP UI, Depok, Selasa (16/6/2015).
Dia menuturkan, tak hanya dari sisi jumlah tapi dari segi personel menjadikan Indonesia sebagai 10 terbesar negara terbesar yang mengirimkan pasukan misi perdamaian PBB. Salah satunya dengan cara diplomasi dan meningkatkan pertahanan dalam negeri.
“Di ASEAN kita paling banyak, setiap penugasan ke luar negeri, Indonesia selalu nomor satu. Dalam hal kinerja dan kualitas. Pengakuan dari negara yang kita amankan, mengakui kita. Seperti saat di Kamboja, dari 22 ribu pasukan perdamaian saat itu, Indonesia teratas,” jelas Syafril.
Keunggulan tersebut ditunjang dari konsep keunggulan teritorial yang dimiliki TNI. “Itu membuat kita lebih dari negara lain, konsep teritorial unggul kita kembangkan di sana. Menyatu dengan masyarakat sana,” paparnya.
Namun, dia mengakui kualitas alutsista yang dimiliki sejak tahun 2000 terus menurun. Sehingga, lanjutnya, kualitas alutsista harus terus ditingkatkan.
“Sejak tahun 2000 alutsista kita semakin tua, gentar menurun jauh. Ke depan harus ditingkatkan jaga kedaulatan mencegah ancaman keamanan nontradisional seperti bencana alam, terorisme, serangan cyber, dan transnasional,” tegasnya.(sindonews)

TNI akan Ingatkan Pesawat Malaysia untuk Tak Masuk Ambalat

Ilustrasi (ist)
Ilustrasi (ist)
Pesawat militer Malaysia beberapa kali kedapatan melanggar dan masuk ke wilayah Indonesia. Dari hasil evaluasi TNI, diduga terdapat unsur kesengajaan bagi pesawat asal Negeri Jiran itu ketika memasuki dan melihat wilayah Nusantara, khususnya di wilayah sengketa Ambalat.
Panglima TNI Jenderal Moeldoko menyatakan bahwa pihaknya akan mengambil tindakan dengan mengingatkan pimpinan tertinggi tentara Malaysia agar tak melakukan hal itu.
“Pasti nanti akan diingatkan ya,” ujar Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (15/6).
Moeldoko menyampaikan pihaknya sebenarnya telah bersepakat dengan panglima tentara Malaysia untuk tidak membuat hubungan antara kedua negara kembali memanas akibat isu perselisihan di sekitar Ambalat.
“Sebenarnya kami sudah bersepakat dengan panglima mereka (Malaysia) untuk masalah Ambalat jangan lagi. Kita ada di sana, kita saling menjaga saja. Kalian menjaga, saya juga menjaga. Kami sudah sepakat,” kata dia.
Moeldoko mengaku belum tahu apakah akan memberikan teguran atau tidak. Pasalnya, menurut dia, dalam melakukan diplomasi harus diawali dengan peringatan halus.
“Dalam dunia diplomasi ada yang diawali dari soft dulu. Kenapa kalian mesti begitu? Kan begitu,” ujar dia.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu meyakini hubungan Indonesia dan Malaysia tidak akan memanas akibat isu perselisihan di sekitar Ambalat yang luasnya mencapai 15 ribu kilometer itu.
Mantan Kepala Staf Angkatan Darat ini menegaskan TNI tidak menggelar kekuatan di sekitar Blok Ambalat. “Tidak ada gelar kekuatan. Saya barusan dari sana. Tidak ada masalah,” ujar Ryamizard di Garut, Jawa Barat, Jumat (12/6).
Pemerintah, menurut Ryamizard, mengedepankan dialog dalam menyelesaikan isu pertahanan dan keamanan. Apalagi, hal ini diamanatkan dalam perjanjian di antara negara ASEAN.
“Kita harus jaga persahabatan, kan sudah sepakat, 48 tahun lalu (saat pendirian ASEAN). Kalau ada perselisihan, selesaikan dengan dialog untuk mencari solusi. Tidak main tembak-tembak begitu,” kata Ryamizard.
Saat ini TNI Angkatan Laut dan Angkatan Udara sedang menggelar Operasi Sakti di sekitar Blok Ambalat. Keduanya menurunkan alutsista mereka, seperti tiga KRI, dua pesawat Sukhoi 27/30, dan tiga F16 Fighting Falcon.
Sementara itu, petugas Landasan Udara Tarakan, Kalimantan Timur, sejak Januari hingga Mei tahun ini mencatat, terdapat sembilan pesawat berbendera Malaysia yang telah memasuki wilayah udara Indonesia, tepatnya di atas Blok Ambalat.
Sejak dekade 1960-an, Indonesia dan Malaysia memang kerap bersitegang terkait Blok Ambalat. Puncak perseteruan terjadi pada tahun 2002, ketika Mahkamah Internasional memenangkan Malaysia pada sengketa kepemilikan Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan yang berada di Blok Ambalat.
(CNN Indonesia)

Calon Panglima TNI & Kepala BIN Harus Netral

Badan Intelijen Nasional (BIN). (ist)
Badan Intelijen Nasional (BIN). (ist)
Komisi I DPR RI mulai melakukan pertemuan untuk membahas teknis proses uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) bagi calon Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo dan calon Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Sutiyoso.
“KaBIN (Kepala BIN-red) dari sebelumnya melewati itu, Marciano melalui proses fit and proper test di DPR. Presiden ajukan sama seperti Panglima, ini memang ketentuan untuk itu,” kata dia di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (16/6/2015).
Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menyebutkan, salah satu kriteria yang harus dipenuhi dua calon tersebut adalah netralitas. Hal ini juga sudah disampaikan Mahfudz secara langsung ke Bang Yos yang masih menjabat sebagai Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).
“Kriteria itu prinsipnya penilaian. Bagi Komisi I untuk KaBIN dan Panglima TNI kembali meurujuk ke Undang-Undang, salah satu asas itu netralitas. Makanya proses diajukan dan masih sebagai ketum partai. Secara formal sudah bicara ke Bang Yos, amanat UU mengharuskan bekerja secara netral dan tidak partisan,” tegasnya.
Kata Mahfudz, pihaknya sudah mendengar niat baik Bang Yos untuk mengundurkan diri dari PKPI. “Saya sudah dengar bahwa (Bang Yos) sudah resmi mengundurkan diri dari ketum partai,” tandasnya.(okezone)

Senin, 15 Juni 2015

TNI Bertarung di Olimpiade Militer Dunia 2015

  HUT TNI. ©AFP PHOTO/juni kriswanto
HUT TNI. ©AFP PHOTO/juni kriswanto

Para atlet dari kesatuan TNI mendapatkan penghargaan dalam kejuaraan Multi Events Panglima TNI dalam rangka peningkatan prestasi pada 6th Cism Word Military Games 2015. Pada penutupan kejuaraan tersebut, atlet TNI mendapatkan mendali yang diserahkan kepada para juara.
“Kejuaraan ini ditujukan untuk penyiapan atlet-atlet kita yang akan bertarung dalam pertandingan olahraga militer dunia, rencananya akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2015 di Korea Selatan,” kata Irjen TNI, Letjen Syafril Mahyudin pada acara penutupan Kejuaraan Multi Events Piala Panglima TNI di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (15/6).
Menurutnya, pada kejuaraan tersebut akan diikuti oleh angkatan bersenjata diseluruh dunia. Mereka berpartisipasi saling unjuk kebolehan.
“Kejuaraan ini akan diikuti oleh kurang lebih 134 negara, dari angkatan senjata se-dunia,” jelasnya.
Lebih lanjut, Syafril Mahyudin mengatakan ini merupakan ajang prestasi yang bisa memberikan peluang bagi TNI untuk menunjukkan prestasi-prestasi, diplomasi dan kapasitas. Hal itu merupakan tujuan dari dilaksanakannya kejuaraan tersebut.
Dia juga berharap TNI bisa masuk dalam 10 besar, karena menurutnya persiapan telah dilakukan secara matang dan latihan yang teratur kepada para atlet TNI setiap hari.
“Harapan kita bisa masuk 10 besar mudah-mudahan dengan persiapan matang kita harapkan prajurit kita bisa berhasil,” paparnya.
Pada kesempatan yang sama Sekjen Komite Olah Raga Militer Indonesia (KOMI), Brigen TNI Adang Shodiq mengatakan sudah menyiapkan atlet-atlet TNI secara intensif. “Kesehariannya sudah kita siapkan melalui program kegiatan. Pada Sea Games 2015 di Sigapura lalu kita ikut, ada cabang olahraga Yudo, dan paralayang dapat emas,” ungkapnya.
Dengan latihan setiap hari menurut Shodiq para atlet TNI akan terasah mentalitas bertarungnya. Pada cabang atletik akan diprioritaskan pada kejuaraan menembak. “Kita akan prioritaskan menembak atletik,” bebernya.
Ada 5 cabang atletik yang menjadi prioritas TNI. Kendati demikian cabang-cabang lain pun bakal serius untuk diikuti.
“Atletik menembak, terjun payung orientering dan paralayang. Lima cabang ini yang kita harapkan menjadi unggulan,” papar Shodiq.
Shodiq menjelaskan orientering adalah lintas medan navigasi darat. Sebuah olahraga militer sambil berlari dengan navigasi, yang akan diikuti di Mongyong, Korea Selatan pada bulan Oktober 2015. Para atlet tersebut diambil dari kesatuan TNI terutama dari anggota Kopassus.
“Kita menggunakan SDM TNI. Latihan hampir 1 tahun. Sepanjang tahun atlet-atlet kita ini sudah kita siapkan,” katanya.
Menurutnya, jika para atlet tersebut masuk 10 besar saja sudah hebat karena persaingan kejuaraan itu di ikuti oleh seluruh negara. Dia menuturkan untuk memperkuat atlet TNI pihaknya sudah bekerjasama dengan KONI.
“KOMI sudah bersinergi dan berkolaborasi dengan KONI untuk memperkuat atlet-atlet kita,” tutupnya.

Merdeka.com

Pembangunan Lanud Perbatasan

patroli-udara-ambalat_20150611_153414
Kepala Staff TNI Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Agus Supriatna mengatakan, pembangunan lapangan udara di kawasan perbatasan menjadi prioritas sebagai salah satu langkah menjaga kedaulatan Republik Indonesia.
“Jadi sekarang prioritas jelas lanud di perbatasan akan kita bangun,” kata Agus disela pembukaan Bakti Sosial TNI AU di Kantor Bupati Lebak, Banten, Minggu.
Hal ini, katanya, juga menjadi sorotan Panglima TNI tentang pentingnya pembangunan lanud di sejumlah daerah seperti Natuna dan Tarakan.
“Panglima TNI sudah sangat concern tentang hal tersebut. Termasuk daerah perbatasan lain, seperti Merauke serta Kupang. Itu sangat prioritas,” ujar Agus.
Selain itu, pada kesempatan yang sama ia juga menjawab pertanyaan awak media tentang pesawat militer negara tetangga yang sempat melanggar kawasan perbatasan Indonesia.
“Kalau misalnya tanpa izin, pasti kita intersep, akan kita force down. Itu memang tugasnya kita. Tidak boleh namanya kedaulatan negara dimain-mainkan oleh siapapun. Beberapa kali sudah kita force down,” tegasnya.
Sebagai informasi, sudah sembilan kali pesawat asing tercatat memasuki wilayah Indonesia selama Januari sampai Mei 2015. Tak hanya pesawat penerbangan sipil tanpa identitas, tetapi juga pesawat-pesawat militer dan pesawat tanpa awak.

Antaranews.com

Indonesia Siap Latih Australia dan AS

  prajurit
Para personel TNI AD berhasil menjadi juara pertama, dalam kompetisi menembak di Australia. Keberhasilan ini menjadi perhatian para peserta dari negara lain, karena mereka tak percaya dengan kemampuan militer Indonesia.
Protes sempat diajukan oleh Australia dan Amerika Serikat (AS), yang meragukan dan mempertanyakan tentang senjata para anggota TNI AD, yang digunakan dalam kompetisi.
Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengatakan, protes negara lain atas senjata TNI AD tidak tepat. Karena, anggota TNI AD memang memiliki kemampuan yang melebihi peserta negara lain.
“Saya pikir itu salah. Dulu Brunei Darusalam tidak pernah bisa menembak dengan baik, jarang mendapat medali dalam kompetisi menembak, lalu Brunei minta tentara Indonesia melatih mereka,” kata Moeldoko, Minggu, 14 Juni 2015.
Setelah dilatih oleh Indonesia, kini keahlian Brunei dalam menembak jauh meningkat. Hal itu membuat tentara dari Brunei kerap memenangkan medali dalam berbagai kompetisi menembak.
“Brunei minta tentara Indonesia untuk melatih mereka, kemudian saya kirim sersan untuk melatih. Tidak sampai satu tahun dilatih, Brunei kini kerap mendapat medali,” katanya bangga.
Fakta itu menurut Moeldoko, mempertegas tentang kemampuan para prajurit Indonesia yang bagus.
“Kalau begitu salahnya apa. Apa senjatanya Brunei yang salah. Bukan, kan?” ujarnya.
Jenderal Moeldoko mengatakan, jika perlu anggota TNI siap untuk melatih Australia dan AS, jika dua negara itu ingin dapat menjadi ahli dalam menembak.

VIVA.co.id