Sabtu, 13 Juni 2015

Bell 47G-3B-1 Soloy: Generasi Awal Helikopter Latih TNI AU

Indonesia_Air_Force_Bell_47
Skadron Udara 7 (Pegasus) sebagai home base helikopter latih TNI AU, kini memang telah diperkuat EC120B Colibri buatan Airbus Helicopters. Bahkan, TNI AD dan TNI AL pun mempercayakan wahana helikopter latih pada EC120B Colibri. Namun, jauh sebelum hadirnya Colibri, ada nama besar yang telah berhasil mencetak penerbang helikopter di lingkup TNI, heli itu tak lain Bell 47G-3B-1 Soloy yang telah dioperasikan TNI AU sejak dekade 70-an.
Bell 47G-3B-1 Soloy dirunut dari spesifikasinya, masuk kategori helikopter serbaguna ringan. Berdasarkan catatan, TNI AU telah mengoperasikan Bell 47G sejak tahun 1978, ketika 12 unit heli dihibahkan dari Australia. Saat di Australia, armada Bell 47G dipakai oleh Royal Australian Army (AD Australia) sejak tahun 1960 hingga 1975. Sempat disimpan dua tahun di hangar penyimpanan, Bell 47G kemudian diserahkan ke Indonesia, penerimanya saat itu justru Puspenerbad TNI AD, baru kemudian pada tahun 1978 dipindahkan di bawah komando TNI AU.
Bell47-Suri-0505-Pegasus-2014

Dilengkapi ponton untuk pendaratan di air.
Dilengkapi ponton untuk pendaratan di air.
Foto pada tahun 1971, saat masih digunakan AD Australia.
Foto pada tahun 1971, saat masih digunakan AD Australia.

Di bawah operasi Skadron Udara 7, ke-12 unit Bell 47 ditempatkan di Pangkalan Udara (Lanud) Suryadarma, Kalijati, Jawa Barat. Karena saat itu matra lain punya keterbatasan dalam penyediaan halikopter latih, maka Bell 47G TNI AU juga mengadakan pelatihan bagi pilot helikopter untuk TNI AL dan Polri.
Karena aslinya ‘barang’ yang berusia lanjut, pada tahun 1984 armada Bell 47G di upgrade menjadi Bell 47G-3B-1 Soloy. Proses upgrade ini ditandai dengan penggantian mesin piston menjadi mesin turbin, yakni pemasangan mesin turbin Allison 250 C20B (420 tenaga kuda) dengan kompresor sentrifugal dan beberapa modifikasi kecil pada badan heli. Pembaharuan tersebut meningkatkan efisiensi bahan bakar, menambah jarak tempuh dan umur mesin.
574px-Bell_47_Drawing.svg

Pernah digunakan sebagai "Batcopter" dalam film Batman klasik.
Pernah digunakan sebagai “Batcopter” dalam film Batman klasik.
Dengan kokpit dan arah pandang yang luas, menjadikan heli ini ideal untuk observasi dan latihan.
Dengan kokpit dan arah pandang yang luas, menjadikan heli ini ideal untuk observasi dan latihan.

Meski secara teknologi telah ketinggalan jaman, keberadaan Bell 47G amat diandalkan Skadron 7, meski heli Colibri telah tiba. Ftur paling unggul dari helikopter Soloy adalah kesederhanaannya. Sistem dan kinerja yang sederhana membuat Soloy begitu layak untuk pelatihan tahap awal. Sebagai heli latih, karakteristik keselamatan Bell 47G cukup tinggi, dan menekanka lebih mudah dikendalikan daripada helikopter lain apabila dalam masalah ‘auto rotation’ dimana sang instruktur dapat dengan mudah mengambil kendali dari siswa jika dalam situasi tersebut.
Ibarat pepatah, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, pada 11 Maret 2011, Bell-47G Soloy dengan nomor penerbangan H-4712 jatuh di ladang tebu Desa Wanasari, Subang. Kecelakaan tersebut menewaskan Lettu Engky Saputra Jaya dan mekanik Prada Ridi W. Lokasi jatuhnya pesawat kurang lebih sekitar 12 km dari Lanud Suryadarma. Buntut dari kecelakaan ini cukup signifikan, sisa sebelas unit heli tersebut di grounded sementara untuk dilakukan penyelidikan teknis.
Meski telah di dorong untuk pensiun, para penerbang di Skadron 7 nyatanya punya anggapan berbeda. Justru Bell 47G tengah diupayakan peninjauan kembali dari pimpinan TNI AU untuk mempertahankan Soloy sebagai heli latih. “Kami mengusulkan, kalau bisa Soloy dipakai sebagai heli latih dasar dan Colibri untuk latih lanjut,” jelas seorang penerbang seperti dikutip angkasa-online.com(27/8/2002). Kalau ide ini diterima, berarti di Skadron 7 akan ada dua tingkat pelatihan, sebagaimana halnya diterapkan Sekolah Penerbang (Sekbang), Yogyakarta. Kekhawatiran penerbang skadron ini sepertinya tidak lepas dari lompatan teknologi Colibri yang sangat tinggi, yang nantinya akan berujung kepada faktor keselamatan terbang.
Bersama dengan Hiller 360, Bell 47 adalah helikopter pertama yang digunakan untuk keperluan sipil, pada 8 Maret 1946. Heli ini dirancang oleh Arthur M. Young, yang bergabung dengan Bell Helicopter tahun 1941. Lebih dari 5.600 diproduksi hingga 1974. Bell 47 masuk dinas militer AS akhir 1946,dalam berbagai versi. Dalam perang Korea (1950-1953) heli ini juga memperkuat pasukan AS. (Dikutip dari berbagai sumber)

Spesifikasi Bell 47G-3B-1 Soloy
– Awak: 1 atau 2
– Kapasitas: 1 penumpang
– Panjang: 9,63 m
– Diameter rotor: 11,32 m
– Tinggi: 2,83 m
– Berat kosong: 858 kg
– Berat take off maksimum 1.335 kg
– Mesin: 1× Allison 250 C20B
– Kecepatan maksimum: 169 km/jam
– Kecepatan jelajah: 135 km/jam
– Jangkauan: 410 km
– Kemampuan menanjak: 4,37 meter/detik

Kamis, 11 Juni 2015

Tiga Jet F-16 Disiagakan di Kawasan Sengketa RI-Malaysia

Tiga Jet F-16 Disiagakan di Kawasan Sengketa RI-Malaysia
Jet tempur TNI jenis F16 Fighting Falcon dari Pangkalan Udara (Lanud) Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur, disiagakan di Lanud Tarakan, Kalimantan Utara, pada Kamis, 11 Juni 2015.

Tiga pesawat tempur F-16 milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) disiagakan di Pangkalan Udara (Lanud) Tarakan, Kalimantan Utara, pada Kamis, 11 Juni 2015. Pesawat-pesawat itu didatangkan langsung dari Lanud Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur.

TNI menyiagakan jet-jet tempur itu menyusul laporan bahwa ada peningkatan pelanggaran wilayah kedaulatan Indonesia, terutama di perairan Ambalat, kawasan sengketa. Radar TNI mendeteksi sedikitnya sembilan pesawat sipil dan militer asing tanpa izin memasuki wilayah Indonesia sejak Januari sampai Mei 2015.

Menurut Komandan Lanud Tarakan, Letnan Kolonel Penerbang Tiopan Hutapea, ragam modus pelanggaran batas oleh pesawat sipil atau militer asing itu. Ada yang sengaja melintas dengan alasan patroli, melenceng dari jalur seharusnya dan dibelokan ke Ambalat, dan lain-lain.

Tiopan menjelaskan, setelah mengetahui pesawat asing tak dikenal itu, dia langsung berkoordinasi dengan Mabes TNI Angkatan Udara. Sehari kemudian, pesawat tempur Sukhoi dan F16 langsung berpatroli di kawasan sengketa itu.

Namun, Tiopan menambahkan, sehari tak dipatroli dengan pesawat tempur, pesawat asing milik negara tetangga kembali mengudara di Ambalat. Kurangnya pesawat intai di Tarakan menjadi salah satu hal yang membuat TNI Angkatan Udara tidak bisa bertindak cepat saat pesawat militer negara tetangga memasuki kawasan terlarang.

"Sekarang, pesawat tempur hanya ada di Madiun dan Makassar, dan itu jauh dari Ambalat. Butuh 20-30 menit hingga sampai di lokasi tempat pesawat asing itu berada. Kami tetap berkoordinasi dengan pimpinan untuk selanjutnya disiagakan pesawat intai di Tarakan agar lebih mudah menyergap musuh," kata Tiopan.

Tiopan menjelaskan, ada dua tindakan yang dilakukan jika pesawat asing masuk ke Indonesia. Pertama, mengirim surat melalui diplomatik dan kedua menghancurkan.

"Selama ini dengan cara diplomatik dinilai tidak ampuh, sebab akan diulang terus. Buktinya masih ada yang melintas dengan sengaja meski sudah tahu itu kawasan sengketa. Kan, sama saja provokasi," ujarnya.

Cara kedua adalah penghancuran pesawat asing dengan pesawat intai bisa saja dilakukan dengan Sukhoi. Tetapi cara kedua ini belum bisa dilakukan mengingat tidak ada pesawat di Tarakan yang bisa dengan cepat mengeksekusi target.

Ambalat adalah blok laut luas mencakup 15.235 kilometer persegi yang terletak di Laut Sulawesi atau Selat Makassar dan berada di dekat perpanjangan perbatasan darat antara Sabah, Malaysia, dan Kalimantan Timur, Indonesia.

Penamaan blok laut ini didasarkan atas kepentingan eksplorasi kekayaan laut dan bawah laut, khususnya dalam bidang pertambangan minyak.
 

Spotter: Ini Dia! Teman Sejati Para Sniper

sniper-spotter
Hadirnya seorang spotter (observer) dalam gelar aksi penembak runduk (sniper) menjadi elemen yang menentukan. Tanpa spotter, sniper hanya beraksi sebagai eksekutor rapuh yang sulit mempertahankan diri saat misinya usai. Memang tak sedikit sniper yang mampu beroperasi secara mandiri, tapi melihat kompleksitas misi dan sasaran, maka dukungan spotter dalam konteks saat ini menjadi mutlak.
Meski seorang sniper punya kualifikasi tempur yang serba mumpuni, tapi toh sebagai manusia biasa, sniper punya banyak keterbatasan. Untuk mengamati keadaan, mencari sasaran, menghitung jarak, mengoreksi hasil tembakan, dan melindungi keberadaan sang sniper, itulah semua tugas dari spotter.
Dalam prakteknya, seorang spotter juga memiliki kualifikasi sebagai sniper yang sama terlatihnya dengan sang eksekutor, dan dalam operasi tempur, posisi spotter dan sniper bisa dilakukan saling bergantian secara fleksibel, tergantung perencanaan dan kesepakatan di awal misi atau siapa yang punya kesiapan mental dan kondisi fisik yang lebih baik untuk menarik pelatuk senapan.
Bradley Cooper dalam film "American Sniper," nampak beraksi dengan spotter.
Bradley Cooper dalam film “American Sniper,” nampak beraksi dengan spotter.
Spotter dari US Marine menggunakan teropong lensa obyektif tunggal di Afghanistan.
Spotter dari US Marine menggunakan teropong lensa obyektif tunggal di Afghanistan.

Dalam tim sniper standar, yakni dengan senjata kaliber 5,56 mm atau 7,62 mm, satu tim biasanya hanya terdiri dari dua orang, sehingga spotter biasanya membawa senapan otomatis berkaliber lebih kecil untuk melindungi penembaknya. Sementara dalam tim sniper kelas berat dengan senapan anti material (heavy barrel), satu tim biasanya digelar dalam jumlah lebih besar (tiga orang), peran spotter akan diisi oleh penembak runduk kedua.
Saat sniper dan spotter beroperasi bersama, spotter harus menempatkan dirinya sedemikian rupa sehingga berada di sisi kanan penembak pada jarak yang berdekatan (dengan asumsi penembak tidak kidal), tujuannya agar dapat melakukan percakapan dengan suara sepelan mungkin. Selain bekal senapan otomatis, modal utama seorang spotter adalah teropong medan. Berikut beberapa aksi sniper dan spotter TNI yang terangkum dalam beberapa foto.
Spotter Kopassus beraksi dengan teropong binokular.
Spotter Kopassus beraksi dengan teropong binokular.
10731756_272017002922017_95

Sniper dan Spotter dari Taifib Marinir TNI AL
Sniper dan Spotter dari Taifib Marinir TNI AL dengan teropong binokular.
Spotter Taifib Marinir TNI AL beraksi dengan teropong observasi lensa obyektif tunggal.
Spotter Taifib Marinir TNI AL beraksi dengan teropong observasi lensa obyektif tunggal.
sniper
Bicara tentang teropong medan, ada dua jenis yang biasa digunakan, yakni teropong observasi menggunakan lensa obyektif tunggal, dan teropong binokular. Untuk teropong lensa obyektif tunggal biasanya didirikan di atas tripod dan punya magnifikasi besar. Namun, bila sifat misi mengharuskan tim bergerak secara dinamis, maka teropong lensa tunggal ini terasa tidak fleksibel, karena memang butuh waktu untuk membuka dan menggelar sistem. Kalau urusannya harus serba cepat dan reaktif, maka jawabannya harus menggunakan teropong binokular.
Di pasaran tersedia puluhan model binokular lapangan yang canggih, dengan fitur-fitur tambahan seperti pengukur jarak (laser rangefinder), pengindara malam (night vision) dan kompas digital. Untuk binokular militer, fitur yang wajib hadir adalah retikula mil-scale pada tabung sebelah kiri. Retikula membantu spotter mengalkulasi jarak antara sasaran dengan keberadaan tim. Penggunaannya relatif mudah, sama seperti teleskop pada senapan sniper. (Beng)

Setiap Hari Pesawat Malaysia Mata-matai Indonesia

Setiap Hari Pesawat Malaysia Mata-matai Indonesia
Markas pertahanan udara TNI di Ambalat (Siti Ruqoyah)

Berbagai cara dilakukan negara tetangga untuk "mengintip"  Indonesia melalui perbatasan. Kondisi ini yang terjadi di wilayah tapal batas di kawasan sengketa, Ambalat.

Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) Tarakan, Letkol PNB, Tiopan Hutapea, mengatakan, dari Januari hingga Mei 2015, sudah ada sembilan pesawat sipil dan militer yang sengaja melintasi Ambalat melalui udara.

"Totalnya sudah ada sembilan pesawat yang masuk ke Indonesia tanpa izin, modusnya beragam. Ada yang sengaja melintas dengan alasan patroli dan ada juga yang melenceng dari jalur seharusnya dan dibelokan ke Ambalat," ujar Tiopan di Lanud Tarakan, Kalimantan Utara, Kamis, 11 Juni 2015.

Tiopan menjelaskan, setelah melihat adanya pesawat asing tak dikenal itu, Dia langsung berkoordinasi dengan Mabes AU untuk tindakan selanjutnya. Satu hari kemudian, pesawat tempur milik Indonesia jenis Sukhoi dan F16 langsung berpatroli di kawasan sengketa itu.

Namun, lanjut Tio sapaan Tiopan, sehari tak dipatroli dengan pesawat tempur, pesawat asing milik negara tetangga kembali mengudara di Ambalat. Kurangnya pesawat intai di Tarakan menjadi salah satu hal yang membuat pihaknya tidak bisa bertindak cepat saat negara tetangga sudah mulai memasuki kawasan terlarang.

"Sekarang, pesawat tempur hanya ada di Madiun dan Makassar dan itu jauh dari Ambalat. Butuh 20-30 menit hingga sampai di lokasi tempat pesawat asing itu berada.

Kami tetap berkoordinasi dengan pimpinan untuk selanjutnya di stand by - kan pesawat intai di Tarakan agar lebih mudah menyergap musuh," kata Tiopan.

Tiopan menjelaskan, ada dua tindakan yang dilakukan jika pesawat asing masuk ke Indonesia. Pertama dengan mengirim surat melalui diplomatik dan kedua menghancurkan.

"Selama ini dengan cara diplomatik dinilai tidak ampuh, sebab akan diulang terus. Buktinya masih ada yang melintas dengan sengaja meski sudah tahu itu kawasan sengketa. Kan sama saja provokasi," jelas dia.

Cara kedua yakni penghancuran pesawat asing dengan pesawat intai bisa saja dilakukan dengan Sukhoi, tetapi lagi-lagi cara kedua ini belum bisa dilakukan mengingat tidak adanya pesawat di Tarakan yang bisa dengan cepat menghantam cara tersebut.

Penghancuran ini juga dilakukan melalui tahapan yang mulanya dengan pemberitahuan secara langsung ke pilot dan proses-proses lainnya. "Istilahnya ini cara terakhir," jelas dia.


Pesawat Malaysia Terobos Perbatasan
Markas TNI di Ambalat
Radar di markas pertahanan udara TNI di perbatasan Malaysia.

Komandan Satuan Radar 225 Tarakan, Mayor Elektronik Suwarna Hasal, menjelaskan dalam pantauan radar milik TNI khusus wilayah perbatasan ini, dia yang memberitahu Danlanud jika ada pesawat asing masuk ke Indonesia.

"Dari data yang kami peroleh, kebanyakan memang pesawat Malaysia yang sering melanggar," ujar Suwarna.

Dia menambahkan, radar yang dimiliki Tarakan ini termasuk dalam golongan Kelas II, artinya kategori siaga sebab masih dalam pengawasan Ambalat.

 "Semua pesawat yang melintas itu masuk semua datany, termasuk Kode dan tujuannya.

Sembilan pesawat yang melanggar itu tujuannya tidak jelas, maka simbol dimonitor langsung berwarna merah artinya asing," jelas dia.

Dengan adanya simbol merah itu, langsung sampaikan secara real time ke markas pertahanan Makassar dan Mabes AU.

Radar buatan Inggris tahun 1990 ini masih dalam kondisi baik dan bisa menangkap sinyal sejauh 450 kilometer, VIVA.co.id berkesempatan melihat langsung radar Tarakan yang berada di sebuah bukit di kawasan Mamburungan, Kecamatan Tarakan Timur.

Radar ini beroperasi selama 24 jam. Penjagaan ketat disiapkan untuk memantau aktivitas radar.

viva. 

Rabu, 10 Juni 2015

Uji Coba Alat Komunikasi Tank Leopard

image
image
image
image
Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengamati radio transmitter pada Tank Leopard yang dioperasikan teknisi asing bersama Prajurit TNI dalam uji coba di Pusat Pendidikan Kavaleri (PUSDIKKAV), Padalarang, Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (9/6/15).
Radio transmitter pada tank buatan Jerman tersebut juga digunakan pada sejumlah kesatuan TNI sebagai sistem radio modern yang dilengkapi pengirim gambar dan suara sebagai Main Battle System dan Tactical System untuk mengetahui posisi dan arah lawan serta merupakan alat komunikasi anti sadap.

Sindonews.com

Komando Operasi Khusus Gabungan TNI

 image
Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko bertindak selaku Inspektur Upacara pada peresmian pembentukan Komando Operasi Khusus Gabungan Tentara Nasional Indonesia (Koopssusgab TNI), di Silang Monas Jakarta Pusat, Senin (9/6/2015).
Panglima TNI dalam sambutannya mengatakan bahwa, fungsi pokok sebuah negara adalah menjaga kedaulatan negara dan melindungi seluruh rakyatnya dari ancaman, serta memelihara keteraturan dan stabilitas nasional, sebagai bagian dari kepentingan nasional. “Negara dipastikan akan berusaha untuk mengoptimalkan sumber daya dan militernya dalam mencapai tujuan dan kepentingan nasional”, tegasnya.
“Hal tersebut akan terwujud dalam sistem pertahanan negara yang berorientasi pada capability based defence. Karena itu, negara perlu mengoptimalkan seluruh komponen sistem pertahanan negara, baik komponen utama maupun komponen cadangan”, kata Panglima TNI.
image
image
image
Lebih lanjut Panglima TNI menyampaikan bahwa dalam kaitan tersebut dan merujuk orientasi capability based defence, TNI senantiasa akan terus mengembangkan kapasitas dan kapabilitasnya, yang saat ini akan dilakukan dengan mengoptimalkan operasionalisasi pasukan-pasukan khusus di jajaran TNI, dalam rangka menghadapi kecenderungan perkembangan tantangan dan ancaman di era global saat ini.
Jenderal TNI Moeldoko juga mengatakan bahwa, Satuan Komando Operasi Khusus Gabungan TNI, akan mengintegrasikan operasionalisasi Kopassus, Kopaska, Denjaka dan Denbravo, menjadi kekuatan handal dalam format Koopssusgab TNI, sebagai pasukan standby force. “Kekuatan handal yang harus dibangun adalah keunggulan kemampuan individual dan satuan, dihadapkan kwalitas ancaman dan situasi di Darat, Laut dan Udara yang berkembang di seluruh wilayah Indonesia”, ujarnya.
“Pembentukan Koopssusgab TNI adalah realisasi dari tanggung jawab TNI kepada negara dan pemerintah atas kesiapsiagaan TNI, dengan tingkat kecepatan tinggi terhadap tugas-tugas berderajat cepat dan segera”, tegas Jenderal TNI Moeldoko.
image
image
image
Dalam kesempatan tersebut, Panglima TNI memerintahkan kepada para Komandan Satuan Pasukan Khusus di jajaran TNI, agar menyusun doktrin penguatan soft power dan hard power Koopssusgab TNI. Penguatan soft power dimulai dengan membangun hubungan emosional, dalam menyamakan persepsi, membangun soliditas, solidaritas dan mengeliminasi ego sektoral, karena soft power ini sangat fundamental dalam membangun keunggulan kemampuan. Sedangkan, penguatan hard power dilakukan dengan melakukan analisis terhadap perkembangan kecenderungan tantangan dan perkembangan teknologi, sehingga akan diperoleh substansi penguatan kapasitas, keterampilan personel dan latihan yang realistik, serta logistik dan peralatan khusus yang dibutuhkan.
“Guna penguatan kemampuan analisis, laksanakan pembinaan dan latihan Sandhi Yudha, dengan membangun koordinasi, serta sinergitas praktis bersama Bais TNI dan satuan intelijen di jajaran TNI”, tutup Panglima TNI.
Sebelum meresmikan pembentukan Koopssusgab TNI, Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko menyaksikan Latihan Penanggulangan Anti Teror (Latgultor) yang dilaksanakan oleh Satuan Pasukan Khusus TNI, di Hotel Borobudur dan Gedung Dirjen Kekayaan Negara Jakarta Pusat.
image
image
Latihan tersebut mengambil tema: “Satuan Penanggulangan aksi Terorisme untuk melumpuhkan dan menghancurkan kelompok Teroris guna memelihara stabilitas keamanan di wilayah dalam rangka Operasi Militer Selain Perang (OMSP)”, dengan melibatkan 478 personel terdiri dari: 180 personel Satpassus TNI dan 238 personel pendukung. Adapun personel Satpassus TNI terdiri dari: 47 personel Sat 81 Kopassus TNI AD, 35 personel Denjaka Marinir TNI AL, 32 personel Sat Bravo 90 Paskhas TNI AU, dan 66 personel Air Crew dari ketiga Angkatan. Sedangkan personel Pendukung latihan sejumlah 238 personel terdiri dari: 44 personel Staf Latihan, 57 personel Denmalat, 29 personel Komlek, 18 personel Protokol, 7 personel Bais TNI, 5 personel BNPT, 30 personel Pom TNI, 14 personel Polri, 52 personel Pemda DKI, 2 personel Pengendali Udara, dan 40 personel Security.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut diantaranya, Menkopolhukam Laksamana TNI (Purn) Tedjo Edy Purdijatno, Kapolri Jenderal Pol Drs. Badrodin Haiti, Kasum TNI Marsdya TNI Dede Rusamsi, Wakasal Laksdya TNI Widodo, S.E., M.Sc, Wakasau Marsdya TNI Bagus Puruhito, Irjen TNI Letjen Syafril Mahyudin, para Asisten Panglima TNI, Kapuspen TNI Mayjen TNI M. Fuad Basya, Anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (Purn) Supiadin AS., serta Atase Pertahanan Australia, Malaysia, Tiongkok, India dan Brunei Darussalam. (Puspen TNI).

Autentikasi :
Kadispenum Puspen TNI, Kolonel Czi Berlin G. S.Sos., M.M.

Manuver Sukhoi dalam Operasi Pengamanan Teror

  image
Langit Lapangan Banteng, Jakarta Pusat dipenuhi suara menderu-deru. Ratusan pasang mata tertuju ke arah atas sisi timur.
Suara itu berasal dari pesawat Sukhoi yang melintas rendah di kawasan tersebut, Selasa (9/6/2015). Tiga unit Sukhoi milik Satbravo ’90 Korphaskhas TNI AU ini melintas rendah dari arah utara. Saat tiba di sisi barat Hotel Borobudur, pesawat-pesawat ini berputar 360 derajat alas jungkir balik.
Pesawat itu tampak lihai meliuk-liuk di langit dalam formasi yang sama. Setelah berputar 2 kali, pesawat tersebut meninggalkan kawasan Lapangan Banteng.
Tepuk tangan membahana menyambut kesuksesan tim dalam bermanuver. Aksi tersebut merupakan pembukaan dari Latihan Penanggulangan Anti Teror (Latgultor) yang dilaksanakan oleh Satuan Komando Operasi Pasukan Khusus Gabungan (Koopssusgab) TNI.
image
Satuan tersebut terdiri dari Sat-81 Gultor Kopassus TNI AD, Denjaka TNI AL dan Satbravo ’90 Korphaskhas TNI AU. 478 Pasukan diterjunkan dalam latihan ini.
Berbagai alutsista dikerahkan dalam operasi teror yang diskenariokan terjadi di Hotel Borobudur. Seperti 12 helikopter yang terdiri dari 2 Heli MI-35 dan 6 Heli Bell TNI AD, 2 Heli Bell 412 TNI AL dan 2 Heli TNI AU SA-330 Puma dan NAS Superpuma.
Sedangkan material yang digunakan adalah 9 unit kendaraan taktis, 15 unit kendaraan administrasi, 8 unit motor, 3 unit bomb trailer, 3 unit Ran Explosive Ordnance Disposal (EOD), 1 unit kendaraan nuklir biologi kimia, ambulans, kendaraan polisi, damkar dan bus sasaran.
image
Materi latihan berupa teknik dan teknik alfitrasi darat, laut dan udara. Teknik menembak reaksi, teknik dan taktik pertempuran jarak dekat, teknik dan taktik perebutan cepat, teknik dan taktik pembebasan tawanan/sandera, teknik dan taktik ship boarding, teknik penjinakan bahan peledak, teknik eksfiltrasi, rubber duck operation dan masih banyak lainnya.
“Latihan ini dilakukan untuk mengantisipasi dan merespon kemungkinan terjadinya kontijensi anti teror yang mengancam kepentingan bangsa dan NKRI,” ujar narator di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.
Latihan ini dihadiri oleh Panglima TNI Jenderal Moeldoko, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti dan Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdjiatno.

Detik.com