Selasa, 02 Juni 2015

Tantang Perang Terbuka, Ini Kekuatan OPM di Papua

Tantang Perang Terbuka, Ini Kekuatan OPM di Papua
Kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka pimpinan Puron Wenda dan Enden Wanimbo yang bermarkas di Lany Jaya, Papua. (VIVA.co.id/Banjir Ambarita)

Organisasi Papua Merdeka (OPM) telah menyatakan akan melakukan perang terbuka dengan pemerintah Indonesia. Kelompok yang telah ada sejak tahun 1965 ini berkomitmen "membebaskan" Papua sebagai negara yang berdaulat di Indonesia Timur.

Pekan lalu, secara beruntun aksi permulaan pembuktian pernyataan perang itu sudah ditunjukkan oleh OPM. Pada Selasa 26 Mei 2015, OPM pun memulai berani unjuk gigi dengan menembaki enam warga sipil di Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya dan menyandera anggota TNI di Kabupaten Painai.

Satu korban penembakan dilaporkan tewas, karena peluru menembus kepalanya. Sementara dua anggota TNI yang dilaporkan disandera, berhasil melarikan diri.

Kedua insiden ini jelas bukan sekadar gertak sambal dari OPM. Pernyataan mereka untuk mengusir pendatang dan menebar ancaman bagi polisi dan tentara, sudah dibuktikan oleh organisasi yang memiliki Bendera Bintang Kejora ini.

"Mulai sekarang kami nyatakan perang revolusi total dari Sorong hingga Merauke, yakni perang secara terbuka terhadap semua orang Indonesia yang ada di tanah Papua," ujar Pimpinan OPM di Kabupaten Lanny Jaya, Puron Wenda, Jumat 22 Mei 2015. (Baca: 'Sinyal Perang' dari Tanah Papua Muncul Lagi)

Sejauh ini, Puron tetap memastikan bahwa OPM memang sudah siap untuk menggelar perang terbuka dengan militer Indonesia. Konsolidasi antar pimpinan OPM pun diklaimnya sudah dilakukan.

"Saya sudah persatukan OPM, baik itu pimpinan Leka Telenggen di Yambi, Militer Murib di Ilaga dan Goliat Tabuni di Tingginambut, untuk bersama-sama lawan Indonesia," ujar Puron saat dihubungi kembali pada Senin 1 Juni 2015.

Meski enggan membeberkan secara rinci berapa kekuatan personel mereka di empat pimpinan OPM tersebut. Namun Puron menyebut bahwa setidaknya untuk di kelompok Yambi, dibawah pimpinan Tenga Mati Telenggen dan Leka Telenggen, memiliki anggota sekurangnya 50 orang.

Kelompok itu juga memiliki senjata sedikitnya 16 pucuk laras panjang jenis SSI, AK Moting, Moser, AK 47 dan M16 serta dua laras pendek jenis FN.

"Kami rampas itu (senjata) dari TNI/Polri, senjata yang baru dari Pos Polisi Kulirik, Puncak Jaya beberapa waktu lalu," ujar Puron.

Negosiasi Lemah?
Dalam pernyataannya, Puron memang mengaku sangat menyesalkan sejumlah kebijakan pemerintah Indonesia. Aksi represif dan pendekatan ala keamanan yang diberlakukan di Papua sejak beberapa dekade oleh negara, mengakumulasi di masyarakat Papua.

Representasi negara yang diwakili TNI dan polisi, ternyata bukan menengahi keadaan. Namun justru menjadikan OPM sebagai buruan. Sebab itu, ketika ada pernyataan Presiden Joko Widodo perihal kondisi Papua yang aman, OPM pun langsung bereaksi.

Menurutnya, sikap presiden tersebut jelas tak merepresentasikan sesungguhnya kondisi di tanah kelahirannya. Sebab, beberapa kejadian justru menunjukkan bahwa warga Papua kerap ditindas, ditangkap dan diamankan atas aspirasinya.

"Karena Presiden klaim Papua aman, jadi kita hajar sipil, pengusaha kios kah, tukang ojek kah, buruh bangunan kah, PNS kah yang penting pendatang," ujar Puron.

Seperti diketahui, awal Mei 2015, Presiden Joko Widodo memang telah menyempatkan diri ke Papua. Dalam  kunjungan kerjanya juga Jokowi menyisipkan upaya 'negosiasi' dengan OPM perihal menjaga keamanan di Papua.

Salah satu bentuk negosiasi ini diwujudkan Jokowi dalam bentuk 'barter' dengan membebaskan lima narapidana politik di Papua.

"Ini upaya pemerintah dalam menghapus stigma konflik yang ada di Papua. Kita ingin ciptakan Papua sebagai tanah yang damai," ujar Jokowi di Lapas Abepura sembari menjanjikan bahwa  grasi juga akan diberikan kepada sembilan tahanan lainnya secara bertahap.

Bentuk 'negosiasi' lainnya yang dilakukan negara adalah dengan kebijakan Jokowi untuk memberikan akses masuk jurnalis asing ke Papua.
Namun demikian, sayangnya upaya ini tak sepenuhnya menunjukkan hasil. OPM pun tetap bersikukuh untuk berdaulat di tanah kelahiran mereka. "Kami akan terus berperang untuk kemerdekaan Papua," ujar Puron.
 

Ini profil jenderal calon panglima TNI pengganti Moeldoko

 
Moeldoko. ©2013 merdeka.com/muhammad luthfi rahman
Moeldoko. ©2013 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Panglima TNI Jenderal Moeldoko akan memasuki masa pensiun pada 8 Juli 2015 mendatang. Dengan demikian tongkat kepemimpinan tertinggi pada lingkungan TNI akan segera berganti dalam waktu dekat ini. Awal Juni ini, Presiden Joko Widodo sudah harus mengajukan calon pengganti Panglima TNI Jenderal Moeldoko.
Sejumlah perwira tinggi mulai dari jenderal bintang tiga hingga bintang empat, disebut-sebut sebagai kandidat pucuk pimpinan TNI itu. Jika merunut kelaziman pengangkatan panglima TNI secara bergilir antarangkatan, maka kini kandidat terkuat berasal dari TNI Angkatan Udara. Jenderal Moeldoko berasal dari TNI AD dan periode sebelumnya, KSAL Laksamana Agus Suhartono, menjadi orang nomor satu di militer. Dengan demikian yang paling berpeluang adalah KASAU Marsekal Agus Supriatna.
Namun, bisa saja Presiden Jokowi mengubah cara memilih Panglima TNI. Berdasarkan Pasal 13 ayat 4 Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, jabatan panglima dapat dijabat secara bergantian oleh perwira tinggi aktif dari tiap angkatan yang sedang atau pernah menjabat sebagai kepala staf angkatan.
Wakil Presiden Jusuf Kalla mengaku belum berdiskusi dengan Presiden Joko Widodo untuk membahas nama calon pengganti Panglima TNI Jenderal Moeldoko. Menurut dia, masa pensiun Moeldoko masih lama.
“Belum, kan masih beberapa bulan lagi,” kata Kalla, di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Kamis (28/5).
Berikut profil para jenderal kandidat panglima TNI pengganti Moeldoko.

1. Marsekal TNI Agus Supriatna
Agus Supriatna.
Agus Supriatna.

Agus Supriatna merupakan lulusan Akademi Angkatan Udara tahun 1983. Selepas mengikuti Sekolah Penerbang TNI AU jurusan tempur ia mulai meniti karier sebagai penerbang pesawat tempur A-4 Skyhawk Skadron 11 yang berpangkalan di Lanud Iswahjudi, Madiun.
Sebagai penerbang tempur, dia berpengalaman mengikuti berbagai macam operasi tempur dan latihan di seluruh Indonesia dan negara-negara tetangga. Agus pernah menduduki jabatan strategis, yakni sebagai Kepala Staf Komando Operasi Angkatan Udara I dan Panglima Komando Operasi Angkatan Udara II.
Sebelum menjadi KSAU, ia adalah perwira tinggi bintang dua TNI AU atau Marsekal Muda yang menjabat Wakil Inspektorat Jenderal TNI. Ia naik pangkat menjadi Marsekal Madya pada 31 Desember 2014 dengan jabatan Kepala Staf Umum TNI untuk memenuhi syarat calon KSAU, yaitu perwira tinggi bintang tiga.
Setelah menjabat Kepala Staf Umum TNI selama 2 hari, pada tanggal 2 Januari 2014 ia dilantik menjadi KASAU ke-20 oleh Presiden RI, Joko Widodo di Istana Negara. Pengangkatan KSAU baru ini berdasarkan Keputusan Presiden No. 01/TNI/2015, yang ditetapkan tanggal 2 Januari 2015, dan dibacakan oleh Sekretaris Militer Kepresidenan.
Panglima TNI Jenderal Moeldoko membantah penaikan pangkat Agus Supriatna tergesa-gesa. Menurut dia, kenaikan pangkat Agus sudah melalui proses dan pertimbangan yang lama.
“Hal ini disebabkan karena kesibukan Presiden RI, sehingga untuk pelaksanaan serah terima jabatan Kasum TNI baru dilaksanakan,” kata Moeldoko.

2. Jenderal Gatot Nurmantyo
Kasad Gatot Nurmantyo
Kasad Gatot Nurmantyo

Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal Gatot Nurmantyo mengaku siap jika Presiden Joko Widodo mempercayakan posisi tertinggi itu kepadanya. Namun demikian, ia tak mau berandai-andai karena hal itu merupakan hak prerogatif presiden. “Saya ini hanya prajurit hanya jalan perintah. Secara UU kan diambil dari mantan Kepala Staf Angkatan, tapi hak prerogatif Presiden,” kata Gatot di Mabes AD, Jakarta Pusat, Jumat (29/5).
Panglima TNI sebelumnya berasal dari satuan yang berbeda. Jenderal Moeldoko berasal dari TNI AD. Periode sebelumnya, KSAL Laksamana Agus Suhartono menjadi orang nomor satu di militer. Artinya jika digilir, panglima TNI setelah Moeldoko dari Angkata Udara.
Gatot mengatakan, semua keputusan merupakan hak prerogatif Presiden. Dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, disebutkan bahwa menunjuk panglima TNI hak prerogatif Presiden.
“Tidak harus giliran, bisa saja (dari Angkatan Darat). Tapi jangan berandai-andai. Jangan pengaruhi presiden,” pungkasnya.
Jenderal TNI Gatot Nurmantyo lahir di Tegal, Jawa Tengah, 13 Maret 1960, adalah Kepala Staf TNI Angkatan Darat ke-30 yang mulai menjabat sejak tanggal 25 Juli 2014 setelah ditunjuk oleh Presiden SBY untuk menggantikan Jenderal TNI Budiman. Ia sebelumnya mengemban amanat sebagai Pangkostrad menggantikan Letjen TNI Muhammad Munir.
Gatot Nurmantyo merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1982 yang berpengalaman di kesatuan infanteri baret hijau Kostrad. Gatot pernah menjadi Komandan Kodiklat TNI-AD, Pangdam V/Brawijaya dan Gubernur Akmil.
3. Laksamana TNI Ade Supandi
Ade Supandi.
Ade Supandi.

Tampuk pimpinan tertinggi di jajaran TNI Angkatan Laut, yaitu Jabatan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) resmi dijabat oleh Laksamana Madya TNI Ade Supandi yang dilantik oleh Presiden Joko Widodo. Ade Supandi menggantikan Laksamana TNI Marsetio yang sudah memasuki masa pensiun, pada tanggal 31 Desember 2014 lalu.
Ade Supandi, adalah Perwira kelahiran Batujajar, Bandung, 26 Mei 1960 yang merupakan lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-28 tahun 1983. Berbagai jabatan strategis pernah diembannya, yakni Komandan Gugus Keamanan Laut (Danguskamla) Komando Armada RI Wilayah Barat tahun 2009, dan Gubernur Akademi Angkatan Laut (AAL) tahun 2010. Kemudian sebelum menjabat sebagai Asrena Kasal (2012), Ade Supandi menjabat sebagai Panglima Armada RI Wilayah Timur (Pangarmatim) pada tahun 2011 dan terakhir menjabat sebagai Kepala Staf Umum (Kasum) TNI pada 2014.
Sebagai jenderal bintang empat, Ade Supandi termasuk yang sudah menyatakan siap untuk menjabat sebagai Panglima TNI menggantikan Moeldoko.
“Itu nanti tergantung Presiden. Kami ini kan prajurit, jadi harus siap untuk diperintahkan (jadi Panglima TNI),” tutur Ade, di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (5/5) lalu.
Menurut Ade, Panglima TNI tidak selalu digilir berdasarkan angkatan, meski kebijakan penggiliran itu muncul di masa Presiden RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Ade menjelaskan, jika merujuk pada Undang-Undang (UU) Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, disebutkan bahwa penunjukan itu merupakan hak prerogatif Presiden.
“Tidak harus giliran. Itu kan diatur dalam UU Nomor 34,” imbuhnya.

Sumber   :  Merdeka.com

Senin, 01 Juni 2015

OPM: Presiden Klaim Papua Aman, Kami Hajar Warga Sipil

OPM: Presiden Klaim Papua Aman, Kami Hajar Warga Sipil
Kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka pimpinan Puron Wenda dan Enden Wanimbo yang bermarkas di Lany Jaya, Papua. (VIVA.co.id/Banjir Ambarita)

Kelompok Bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) mengaku bertanggungjawab atas tewasnya satu warga sipil di Distrik Mulia, Puncak Jaya, dan melukai lima lainnya, pada Selasa malam 26 Mei 2015.

Bahkan, aksi brutal itu juga dipastikan sebagai bagian dari perang terbuka OPM dengan Pemerintah Indonesia.
"Karena Presiden klaim Papua aman, jadi kami hajar sipil. Itu bagian dari perang terbuka yang sudah kami nyatakan," ujar pimpinan OPM Lany Jaya Puron Wenda dalam sambungan telepon kepada VIVA.co.id, Senin 1 Juni 2015.

Menurut Puron, kelompoknya memang sudah bersungguh-sungguh untuk berperang dengan pemerintah Indonesia. Salah satu upaya yang sudah dilakukannya saat ini adalah dengan mengkonsolidasikan seluruh kelompok OPM untuk bersatu.

"Saya sudah persatukan OPM, baik itu pimpinan Leka Telenggen di Yambi, Militer Murib di Ilaga dan Goliat Tabuni di Tingginambut, untuk bersama-sama lawan Indonesia," katanya.

Meski enggan menyebut waktu, Puron memastikan jika pertemuan konsolidasi itu sudah dilakukan beberapa waktu lalu.
"Kami adakan pertemuan beberapa waktu lalu di Ilaga Puncak. Saya (juga) sudah janji dengan Dandim Wamena akan baku tembak," kata Puron. 
 

Kisah Jenderal M Jusuf, Panglima TNI yang Bikin Soeharto Cemburu

Jenderal M Jusuf. istimewa
Jenderal M Jusuf. istimewa

Jenderal Moeldoko akan memasuki masa pensiun pada Bulan Juli mendatang. Pihak Istana pun tengah menggodok siapa jenderal berbintang empat yang bakal menjadi orang nomor satu di tubuh TNI.
Ada kisah menarik saat Presiden Soeharto memilih Jenderal M Jusuf sebagai Panglima TNI (saat itu masih bernama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau ABRI). Dia dilantik tahun 1978 sebagai Menhankam/Pangab.
M Jusuf sudah hampir 14 tahun tidak berkarir di ABRI. Sejak tahun 1965, dia sudah menjadi menteri perindustrian. Karena itu agak aneh, bagaimana dia bisa ditunjuk. Namun saat itu Soeharto punya kuasa. Maka jadilah M Jusuf Panglima ABRI.
M Jusuf dikenal sebagai salah satu pendukung Soeharto. Dia adalah satu dari tiga jenderal yang menemui Presiden Soekarno untuk meminta Surat Perintah 11 Maret atau Supersemar. Mereka adalah Basuki Rachmat, Amir Machmud dan M Jusuf.
Saat menjadi Panglima ABRI, M Jusuf sangat dekat dengan prajurit. Dia berkeliling Indonesia untuk menemui para prajurit di barak-barak. Dengan hangat dia menyapa keluarga prajurit.
Dia membangun asrama, memperbaiki fasilitas yang rusak, memberikan bantuan dan dengan sikap kebapakan mendengarkan curhat para prajurit.
M Jusuf menghabiskan waktu di antara para prajuritnya. Nyaris tidak pernah duduk di meja kerja. Karena itu dia menjadi sangat populer. Tak hanya di kalangan prajurit, namun juga di mata rakyat. Saat itu TVRI yang menjadi satu-satunya stasiun TV selalu menayangkan kunjungan kerja Jenderal Jusuf.
Perlahan, Soeharto mulai khawatir dengan kepopuleran Jenderal Jusuf. Di kamus Orde Baru tak boleh ada matahari kembar. Apalagi rakyat lebih antusias melihat Jusuf daripada Soeharto. Bisik-bisik mulai terdengar M Jusuf cocok jadi wakil presiden, atau jadi presiden menggantikan Soeharto. Penguasa Orba ini pun mulai cemburu.
“Setiap malam berita Jusuf mengunjungi prajurit di seluruh Indonesia dan berbicara spontan kepada mereka dengan aksen bugisnya yang kental-suatu tontonan yang jelas lebih menarik dibanding penampilan Soeharto yang monoton- tentu saja Bapak Presiden merasa terganggu,” tulis wartawan senior Salim Said dalam memoarnya Dari Gestapu ke Reformasi terbitan Mizan.
Hubungan Soeharto dan Jusuf juga akhirnya dingin. M Jusuf pernah menggebrak meja di depan Soeharto dan para pejabat negara saat ditanya apakah dia memiliki ambisi pribadi seiring kepopulerannya. Sejak saat itu Panglima ABRI selalu mengutus wakilnya jika ada rapat di Binagraha yang dihadiri Soeharto.
M Jusuf tak pernah jadi Wapres, apalagi presiden. Dia digeser Soeharto menjadi Kepala Badan Pemeriksa Keuangan. Setelah itu sang jenderal memilih pulang kampung ke Makassar dan mengurusi masalah agama. Dia meninggal 8 September 2004. (Merdeka)

Co Secwest Unamid: Indobatt Very Awesome

Co Secwest Unamid: Indobatt Very Awesome
"Indobatt performance very awesome" kata itu berkali kali diutarakan oleh Komandan Sektor Barat UNAMID Brigadir Jenderal Blaise Nikiema saat menyaksikan berbagai  demonstrasi yang ditampilkan oleh para prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Indobatt Konga XXXV-A/UNAMID, saat peringatan  International Day Un Peacekeepers di Garuda camp, Supercamp UNAMID, Sektor Barat Darfur Afrika, Kamis (28/05).
Diawali dengan penampilan Tari Saman, tarian asal Aceh  dimana gerakannya menuntut kerja sama serta kekompakan dari 20 prajurit Indobatt, yang dipimpin oleh Kapten Inf Reza Sahputra, membuka rangkaian demonstrasi yang dipertunjukan Satgas Konga XXXV-A/UNAMID.
 Tidak lama berselang, terdengar derap langkah 1 pleton prajurit Indobatt dengan Komandan peleton Kapten Marinir Yusman Efendi, yang mempertontonkan kemahiran memainkan senjata laras panjang, dengan kibasan putaran pedang dari komandan peleton, menjadikan sebuah gerakan atraksi yang kompak, berhasil memancing tepuk tangan para tamu undangan yang hadir di lapangan Hasanudin Garuda cam markas dari Pasukan Garuda di Darfur.
"Dia memutar-mutar senjata, bagaimana mungkin bisa melakukan hal itu, ini pertunjukan yang luar biasa" kata Letkol Imran, Komandan Kontingen Bangladesh yang ikut hadir dan menyaksikan demonstrasi dari para prajurit Indobatt dalam acara tersebut.
 Tidak terhenti disitu, suara tepuk tangan penonton semakin meriah ketika 50 prajurit menunjukan kemampuan beladiri Yong Moo Do dengan diwarnai pertarungan gaya bebas, penuh dengan bantingan, kuncian, dan berbagai gerakan atraktive lain dibawah pimpinan Letda Inf Jimson Siahaan.
Pada bagian terakhir demonstrasi, sekejap para tamu undangan terdiam saat tim Merpati Putih dibawah pimpinan Lettu Inf Rusdianto mempertunjukan demo yang mendebarkan, yaitu mencoba mematahkan tongkat besi dengan tangan kosong. Suasana menjadi tegang seolah tidak percaya dengan apa yang akan terjadi saat seorang prajurit bermeditasi mencoba menyalurkan tenaga dalamnya. Dan saat besi tersebut berhasil patah, tepuk tangan para hadirin bergemuruh menutup rangkaian demonstrasi yang di tunjukan oleh para prajurit Indobatt.

TNI. 

Frigate PKR SIGMA 10514 TNI AL

 
SIGMA 10514 Guided Missile Frigate (photo DSNS)
SIGMA 10514 Guided Missile Frigate (photo DSNS)

Frigate SIGMA 10514 rencananya akan bergabung dengan TNI AL pada tahun 2016, setelah Kementerian Pertahanan Indonesia menandatangani kontrak pembuatan dan pengirimannya dengan Galangan Kapal Belanda Damen Schelde Naval Shipbuilding pada Juni 2012.
Frigate Giided Missile ini menjadi bagian dari modernisasi Angkatan Laut Indonesia. Adapun tugas utama dari frigate ini adalah untuk perang laut yang juga bisa digunakan untuk misi patroli maritim ataupun bantuan kemanusiaan.
Frigate ini dibangun setelah suksesnya pembelian 4 korvet Sigma oleh Indonesia dari perusahaan yang sama. Namun sebagai perkembangannya, modul modul dari frigate Sigma nantinya, akan dibangun, baik di Eropa maupun di PT PAL, Surabaya, Indonesia. Perakitan dan ujicoba dari frigate Sigma PKR 10514 akan dilakukan di Surabaya.

Design
Construction: Modular
Hull material: Steel grade A / AH36
Standards: Naval / Commercial, naval intact / damaged stability, noise reduced, moderate shock

Missions
» Patrol in the EEZ
» Deterrence
» Search and Rescue
» ASW, AAW, ASUW, EW

Weapons
Guns:
» 1x Oto Melara 76/62 Compact 76mm Main Gun k
» 1x Rheinmetall Millenium 35mm CIWS
Missiles:
» 8x MBDA MM40 Blk III antiship missiles
» 12x MBDA MICA VL surface to air missiles (in VLS)
Torpedoes:
» 2x Triple torpedo launchers

Deck Equipment
» Helicopter deck: max. 10 tons helicopter, with lashing points
» Heli operations: day/night with refuelling system
» Helicopter hangar
» RAS on helicopter deck PS&SB, astern fuelling
» Boats: 2 x RHIB

Sensors, Electronics, Decoys
Thales Smart-S Mk2 3D-Surveillance & target indication radar & IFF
Radar / electro optical fire control
Hull Mounted Sonar
Thales TACTICOS Combat management system
ESM & ECM
Integrated internal & external communication system
Integrated bridge console
2 x Navigation radar
ECDIS
GMDSS-A3
Reference gyro
2 x Decoys / chaff launchers

Engines/Propulsion/Power
Propulsion type: CODOE
Diesel engines: 2 x 10000 kW MCR Propulsion type
Electric motors: 2 x 1300 kW
Gearbox: 2 x double input input/single output
Propellers: 2 x CPP diameter 3.55 m

Specification:
Multi Mission Patrol Frigate
Crew : Fully air-conditioned accommodation for 120 persons
Operators : Indonesian navy
Performance : Speeds: max 28 kts
Range: 5000 nm @ 14 kts
Endurance: 20 days at sea
Designer / Builder : Damen Schelde Naval Shipbuilding / PT Pal
Displacement : 2,365 tonnes

Navyrecognition.com

Prajurit TNI Gelar Demonstrasi Peringatan Peacekeepers Day di Darfur

Prajurit TNI Gelar Demonstrasi Peringatan Peacekeepers Day di Darfur
Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Batalyon Komposit TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXV-A/Unamid (United Nations Mission In Darfur) atau Indonesian Battalion (Indobatt), menggelar demonstrasi pada upacara peringatan United Nation Peacekeepers Day yang dilaksanakan di Lapangan Hasanudin, Garuda Camp, Markas Indobatt, Sektor Barat, Darfur-Afrika, Jumat (29/5/2015).
Pada tahun ini, Satgas Indobatt di percaya menjadi penyelenggara peringatan Peacekeepers Day/ Hari Pasukan Perdamaian, dan diikuti oleh seluruh TCC (Troops Contributing Contingent) yang tergabung pada misi United Nations Mission In Darfur di wilayah Sektor Barat Darfur, diantaranya Kontingen Senegal, Pakistan, Bangladesh, Burkina Faso, dan Nigeria. Turut hadir dalam upacara tersebut, Pejabat Unamid, Pejabat Negara Sudan, Komandan Sektor Barat Unamid Brigjen Blaise Nikiema, para Komandan Kontingen yang tergabung dalam Unamid, Tokoh Agama dan Masyarakat setempat, serta tamu undangan.
Sekjen PBB Ban Ki Moon dalam amanat tertulisnya yang dibacakan oleh Perwakilan Head of Office Sektor Barat Unamid, Mr. Abdul So, mengatakan antara lain bahwa United Nation telah menjalankan 71 Operasi Misi Perdamaian, dan lebih dari satu juta orang telah mendapatkan pertolongan. "We should all be proud of these accomplishments", tegas Sekjen PBB.
Selain melibatkan dua Pleton Pasukan sebagai peserta upacara, Satgas Batalyon Komposit TNI Konga XXXV-A/Unamid juga menampilkan berbagai demonstrasi yang melibatkan kurang lebih 150 Prajurit TNI, yaitu Tari Saman, Kolone Senapan, Beladiri Yong Moo Do dan Merpati Putih.
Diawali dengan penampilan Tari Saman asal Aceh  dimana gerakannya menuntut kerjasama serta kekompakan dari 20 Prajurit TNI, yang dipimpin oleh Kapten Inf Reza Sahputra, membuka rangkaian demonstrasi yang dipertunjukan Satgas Indobatt Konga XXXV-A/Unamid. Selanjutnya, terdengar derap langkah 1 Pleton Prajurit Indobatt dengan Komandan Peleton Kapten Marinir Yusman Efendi, yang mempertontonkan kemahiran memainkan senjata laras panjang, dengan kibasan putaran pedang dari Komandan Peleton, menjadikan sebuah gerakan atraksi yang kompak. Kedua demonstrasi tersebut, sangat memukau dan mendapat tepuk tangan yang meriah dari para penonton yang hadir.
Tidak terhenti disitu, suara tepuk tangan penonton semakin meriah ketika 50 Prajurit TNI menunjukan kemampuan beladiri Yong Moo Do dengan diwarnai pertarungan gaya bebas, penuh dengan bantingan, kuncian, dan berbagai gerakan atraktif lain dibawah pimpinan Letda Inf Jimson Siahaan.
Pada bagian terakhir demonstrasi, sekejap para tamu undangan terdiam saat tim Merpati Putih dibawah pimpinan Lettu Inf Rusdianto mempertunjukkan demo yang mendebarkan, yaitu mencoba mematahkan tongkat besi dengan tangan kosong.  Suasana menjadi tegang, seolah tidak percaya dengan apa yang akan terjadi saat seorang prajurit bermeditasi mencoba menyalurkan tenaga dalamnya. Dan saat besi tersebut berhasil patah, tepuk tangan para hadirin bergemuruh menutup rangkaian demonstrasi yang di tunjukan oleh para Prajurit TNI Satgas Indobatt.
Dalam kesempatan tersebut, usai menyaksikan berbagai demonstrasi yang ditampilkan oleh para Prajurit TNI Satgas Indobatt, Komandan Sektor Barat Unamid Brigjen Blaise Nikiema berkali-kali mengutarakan, "Indobatt performance very awesome". Lain halnya dengan Komandan Kontingen Bangladesh Letkol Imran, "Dia (Prajurit TNI) memutar-mutar senjata, bagaimana mungkin bisa melakukan hal itu, ini pertunjukan yang luar biasa" katanya.
Sementara itu, Komandan Indobatt Letkol Inf M. Herry Subagyo mengatakan bahwa Satgas Batalyon Komposit TNI Konga XXXV-A/Unamid merupakan Troops Contributing Contingent pertama TNI yang melaksanakan misi Pasukan Perdamaian di Unamid Darfur. "Pada misi pertamanya, Pasukan Indonesia  telah mendapat kepercayaan menjadi penyelenggara peringatan United Nation Peacekeepers Day di Sektor Barat Unamid", ujarnya.
"Kita telah diberi kepercayaan yang luar biasa oleh Unamid sebagai penyelenggara kegiatan ini, itu berarti keberadaan kita sangat diperhitungkan disini. Kita harus menjawab kepercayaan ini, dengan memberikan kontribusi sebaik mungkin", tegas Komandan Satgas Indobatt.
Komandan Satgas Indobatt juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para Prajurit TNI yang sangat antusias dan semangat dalam memeriahkan peringatan Peacekeepers Day dengan menggelar berbagai demonstrasi. "Melalui kegiatan ini diharapkan bangsa-bangsa lain yang tergabung dalam misi Unamid di Darfur-Sudan dapat mengenal kebudayaan Indonesia lebih dekat, sehingga harapannya kebudayaan Indonesia yang begitu banyak, lebih dikenal luas dikalangan dunia Internasional" tutup Letkol Inf M. Herry Subagyo.

TNI.