Selasa, 28 April 2015

Perkembangan Tank Medium Pindad Turki

 
Desain tank Pindad yang beredar di Sosial Media
Desain tank Pindad yang beredar di Sosial Media

Sejumlah anggota Komisi I DPR melakukan kunjungan kerja ke PT Pindad, dipimpin oleh Ketua Komisi I DPR RI Mayor Jenderal (Purn) Supiadin Aries Saputra. Mereka diterima oleh Direktur Utama PT Pindad Silmy Karim di Auditorium Gedung Direktorat PT Pindad, Bandung yang juga dihadiri jajaran Direksi dan pimpinan PT Pindad, 16/3/2015.
Adapun kunjungan kerja ini dilakukan untuk meminta data dan informasi dari PT Pindad mengenai perkembangan kerjasama proyek medium tank dengan Turki. “Kunjungan ini dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi mengenai perkembangan kerjasama pertahanan antara Pindad dengan Turki, termasuk bagaimana respon dari Kementerian Pertahanan dan TNI dalam mendukung implementasi kerjasama tersebut,” ujar Mayjen TNI (Purn) Supiadin Aries Saputra mewakili para anggotanya.
Silmy Karim, menanggapi hal tersebut, mengatakan bahwa proyek bersama Indonesia – Turki mengenai medium tank sudah diinisiasi sejak lama, namun analisis kemampuan Pindad terus dilakukan. “Kerjasama ini sebenarnya sudah dinisiasi sejak lama oleh Pemerintah, bahkan penandatanganannya sudah terjadi sejak tahun 2013. Secara manufaktur dan testing Pindad sudah siap. Namun ada beberapa teknologi yang masih memerlukan bantuan dari para mitra seperti turret dan firing control system, navigation system, serta self defence system. Kami ingin membuat medium tank yang sempurna baik dari mobility, fire power, dan survivability” ujar Silmy.
Jadwal pengerjaan proyek sudah dibuat. Jika semuanya berjalan lancar, pada tahun 2015 ini akan dibuat satu unit purwarupa produk di Indonesia dan satu unit di Turki. Komunikasi yang lebih intens juga sedang dilakukan oleh Kementerian Pertahanan Indonesia dengan Savunma Sanayii M (SSM), Kementerian Pertahanan Turki. “Untuk progress B2B, sudah dikirimkan beberapa karyawan Pindad untuk mempelajari lebih jauh teknik pengelasan aluminium armored yang dipakai sebagai bahan baku medium tank,” ujar Silmy. Ia juga menyatakan rasa optimisnya bahwa proyek ini akan berjalan dengan baik di masa depan. “Kami optimis program medium tank ini akan berjalan dengan baik karena latar belakang teknologi industri pertahanan Indonesia dan Turki yang sudah cukup baik,” tutup Silmy.
Setelah diskusi panjang di auditorium selesai, rombongan Komisi I DPR RI mengunjungi beberapa fasilitas produksi PT Pindad di Divisi Kendaraan Khusus dan Divisi Senjata untuk mencoba performa produk pertahanan dan keamanan Pindad secara langsung. (Pindad).

Kontingen Garuda Juara Satu Lomba Menembak Unifil di Lebanon

 
image
image
image
image
image
image
image
Para petembak Prajurit TNI yang tergabung dalam Kontingen Garuda dalam misi PBB di Lebanon, menunjukkan kemampuan terbaiknya pada pertandingan lomba menembak Intercontingen Shooting Championship yang diselenggarakan oleh Sektor Timur Unifil (United Nations Interim Force In Lebanon), bertempat di lapangan tembak Sektor Ebel El Saqi, Lebanon Selatan, Minggu (26/4/2015).
Lomba menembak Unifil diikuti oleh seluruh kontingen yang berada di Unifil, antara lain dari Spain Batt (Spanyol), Indobatt (Indonesia), Indo FPC (Indonesia), Indbatt (India), Nepalbatt (Nepal), dan Brigade-8 LAF (Lebanon), mempertandingkan dua kelas yaitu menembak Pistol Beregu dan Senapan Beregu.
Kontingen Garuda yang dimotori oleh petembak-petembak dari Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-I/Unifil atau Indobatt (Indonesian Battalion) dibawah pimpinan Letkol Inf Andreas Nanang Dwi P., S.IP, selaku Komandan Satgas dan Satgas Indo FPC (Force Protection Company) Kontingen Garuda XXVI-G2/Unifil dibawah pimpinan Letkol Inf Muhammad Sjahroni selaku Komandan Satgas, mendominasi seluruh materi dalam pertandingan lomba menembak tersebut.
Pada lomba menembak Pistol Beregu, tim petembak Satgas Indobatt terdiri dari Kapten Mar Surya Afandi, Sertu (K) Dewa Ayu Alice Denita dan Pratu Febiarso, sedangkan Satgas Indo FPC diwakili oleh Pelda Setiyono, Sertu Dimas Baskoro dan Sertu Wara Wenny.
Juara Satu lomba menembak Pistol Beregu diraih oleh Satgas Indobatt, sedangkan Satgas Indo FPC menempati peringkat ketiga. Untuk The Best Shoot Pistol diraih oleh Kontingen Indbatt (India).
Pada lomba menembak Senapan Beregu, tim petembak Satgas Indo FPC dimotori oleh Sertu Edi Purnomo, Praka Syahrul Kurniawan dan Pratu Davit Putranto, sedangkan Satgas Indobatt diwakili oleh Serka Suwandi, Praka Mar Yunus Susanto dan Pratu Yoga Prasetiyono.
Juara Satu lomba menembak Senapan Beregu diraih oleh Satgas Indo FPC, sedangkan Satgas Indobatt menempati Juara Kedua. Untuk The Best Shoot Pistol diraih oleh Kontingen Indbatt (India). Dalam lomba menembak Senapan Beregu ini, salah satu petembak Kontingen Garuda yakni Serka Suwandi dari Satgas Indobatt terpilih sebagai The Best Shoot Riffle.
Sementara itu, hasil maksimal Kontingen Garuda pada pertandingan lomba menembak Unifil dilengkapi dengan terpilihnya tim penembak Satgas Indobatt sebagai tim terbaik dalam kategori Intercontingen Shooting Championship. Penyerahan piala kepada para pemenang diserahkan langsung oleh Wakil Komandan Sektor Timur Unifil, Kolonel Kav Yotanabey.
Wakil Komandan Sektor Timur mengatakan bahwa, hasil yang dicapai ini menunjukkan kemampuan menembak prajurit Kontingen Garuda tidak kalah dengan prajurit kontingen negara lain, walaupun kondisi cuaca yang kurang mendukung tetapi para petembak Kontingen Garuda mampu menyesuaikan dengan keadaan cuaca dan alam. “Semoga prestasi Kontingen Garuda Unifil 2015 semakin mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional”, ujar Kolonel Kav Yotanabey. (Pupen TNI).
Authentikasi :
Perwira Penerangan Konga XXIII-I/Unifil, Kapten Laut (KH) Ahmad Suberlian, S.H.

Thrust Vectoring: Teknologi Dibalik Kelincahan Manuver Sukhoi Su-35 Super Flanker

REU-AIRSHOW-5
Dalam kompetisi, tiap manufaktur sah saja berdalih bahwa produk yang diusungnya lebih canggih dan handal. Seperti dalam tender pengadaan jet tempur pengganti F-5 E/F Tiger II TNI AU. Pihak Sukhoi, Eurofighter, Saab dan Dassault punya argumen dan perspektif tersendiri atas produk yang diusungnya, karena pada dasarnya baik Sukhoi Su-35 Super Flanker, Eurofighter Typhoon, JAS 39 Gripen NG dan Dassault Rafale punya sisi plus minus, alias tidak ada yang benar-benar ideal.
Namun, ada satu teknologi yang membuat sang jawara jet tempur idola Su-35 berbeda dari ketiga kompetitornya, yakni thrust vectoring. Merujuk dari definisinya, thrust vectoring adalah kemampuan yang memungkinkan sebuah pesawat mengatur arah semburan dari mesin jetnya untuk memberikan dorongan vertikal ke atas. Thrust (dorongan) yang dihasilkan oleh pesawat, baik jet maupun propeller (baling-baling) umumnya mengarah ke belakang pesawat. Sedangkan gerakan pesawat diatur oleh control surface. Dengan sokongan thrust vectoring, maka pesawat dapat lebih dinamis dalam melakukan manuver.
Nozzle Su-35 yang dilengkapi thrust vectoring.
Nozzle Su-35 yang dilengkapi thrust vectoring.
Selain Su-35, MiG-35 pun mengusung teknologi yang sama.
Selain Su-35, MiG-35 pun mengusung teknologi yang sama.

Thrust vectoring bukan cerita baru dalam dunia aviasi, contoh yang sangat mengena adalah jet Harrier yang bisa mengarahkan thrust-nya ke bawah , sehingga jet yang kondang di Perang Malvinas ini dapat terbang secara vertikal. Dalam segmen pesawat baling-baling, V-22 Osprey menjadi pembuktian yang cukup berhasil.
Kembali ke Sukhoi Su-35, solusi thrust vectoring yang digunakan pada dua mesin Saturn 117S (AL-41F1S turbofan adalah Vectoring in Forward Flight (VIFF). Dengan VIFF, pesawat dengan mesin jet konvensional dapat melakukan manuver yang tidak biasa, diantaranya seperti manuver Cobra Pugachev dan berkat TVC (thrust vectoring control) pesawat mampu beroperasi dari landasan pendek. Thrust vectoring yang diadopsi Su-35 mengusung teknologi tiga dimensi. Putaran ke semua arah ini dilakukan dengan bantuan tiga aktuator hidrolik yang dipasang pada interval 120 derajat di sekitar nacelle mesin, yang membelokkan nozzle mesin. Sistem Klimov ini punya nozzle yang bergerak 18 derajat ke segala arah.
Su-30MKM AU Malaysia dengan thrust vectoring.
Su-30MKM AU Malaysia dengan thrust vectoring.
Manuver Su-35 yang memukau dalam Paris Air Show 2013.
Manuver Su-35 yang memukau dalam Paris Air Show 2013.
F-22 Raptor
F-22 Raptor
F-35 Lightning II, bisa lepas landas vertikal seperti Harrier.
F-35 Lightning II, bisa lepas landas vertikal seperti Harrier.
Penampakan mesin F-35.
Penampakan mesin F-35.

Dengan trust vectoring tiga dimensi, maka arah semburan dari nozzle dapat diputar ke semua arah. Dengan begitu, Su-35 digadang mampu meladeni dogfight dengan ‘gaya’ yang tak lazim, seperti tiba-tiba dapat berputar salto 360 derajat dalam waktu singkat. Di arsenal NATO, vectoring thrust ala Su-35 hanya dapat ditandingi oleh F-22 Raptor dan F-35 Lightning II. Bekal thrust vectoring inilah yang menjadi salah satu daya deteren Su-35. Adanya thrust vectoring plus kanon GSh-30 kaliber 30 mm plus penjejak target berbasis optik sudah menjadi bekal penghantar maut yang jadi andalan dalam laga dogfight.

Eurofighter Typhoon Ikutan Pakai Thrust Vectoring
Melihat kompetitornya dari Eropa Timur unggul dalam urusan thrust, membuat pihak Eurofighter tidak tinggal diam. Pada tahun 2011 lalu, Eurofighter dan pihak Eurojet selaku pembuat mesin EJ200 menawarkan paket upgrade mesin Typhoon dengan kelengkapan thrust vectoring. Proyek ini secara khusus disampaikan Eurofighter dalam penawarannya ke AU India. Tawaran ini di integrasikan dalam paket mid life upgrade.
Mesin EJ200 dengan thrust vectoring.
Mesin EJ200 dengan thrust vectoring.
Pihak Eurofighter menyebutkan instlasi thrust vectoring nozzles dapat dilakukan tanpa perubahan struktur mesin dan airframe. Adopsi thrust vectoring di Typhoon dapat menghemat pembakaran mesin hingga 5% dan menambah kecepatan supersonic cruise (super cruise) hingga 7%. Super cruise adalah kemampuan pesawat untuk melesat dalam kecepatan supersonic tanpa melakukan afterburner. (Bayu Pamungkas)

Minggu, 26 April 2015

Fahrschulpanzer, Tank Latih Pusdikkav

 
Tank  Latih Pusdikkav (all photos: ARC.web.id)
Tank Latih Pusdikkav (all photos: ARC.web.id)
Para siswa Kavaleri TNI AD yang akan ditugaskan mengemudi Main Battle Tank (MBT) terbaru Leopard 2, saat ini sudah mendapatkan tank terbaik yang didesain untuk melatih kemampuan mengemudi mereka.
Kendaraan latih ini berbentuk sebuah Fahrschulpanzer (secara harafiah: “Tank Sekolah Mengemudi”), atau lebih dikenal sebagai “Drive Training Vehicle” (DTV). DTV adalah alat instruksi pendidikan/latihan mengemudi bagi siswa kecabangan Kavaleri di Pusat Pendidikan Kavaleri TNI AD (Pusdikkav).
Tank  Latih Pusdikkav (all photos: ARC.web.id)
Tank Latih Pusdikkav (all photos: ARC.web.id)
image
DTV adalah Leopard 2 versi non-kombatan. Turret yang biasa ada di MBT Leopard 2 digantikan oleh kabin observasi permanen, dilengkapi dengan jendela yang menghadap depan dan samping. Sementara kanon yang digunakan adalah versi dummy (imitasi). Siswa latih duduk di posisi pengemudi Leopard 2 seperti biasanya, namun instruktur duduk di kabin tersebut, yang sudah dilengkapi dengan sistem kendali override (ambil alih) untuk sistem-sistem kritis. Sistem ini mencakup kelengkapan setir, pedal gas dan rem.
Di dalam kabin juga terdapat dua buah kursi untuk siswa latihan lain (cadangan siswa) mengobservasi. Posisi kursi cadangan siswa ini terletak di kiri-kanan kursi instruktur dan diposisikan lebih ke belakang.
Tank  Latih Pusdikkav (all photos: ARC.web.id)
Tank Latih Pusdikkav (all photos: ARC.web.id)
image
image
Tiga kursi di kabin atas sudah dilengkapi dengan dgn helm yang terintegrasi dengan secure intercomm-set, sehingga arahan instruktur kepada pengemudi bisa dilakukan secara langsung, dan arahan tersebut juga diketahui oleh cadangan pengemudi, termasuk koreksi yang diberikan pelatih kepada siswa yang sedang mengemudi. Hal ini meningkatkan efektivitas pelatihan, sehingga saat saat tiba giliran cadangan pengemudi melaksanakan latihan, hasil latihan akan lebih optimal.
Kabin tersebut dilengkapi dengan vibration damper, untuk mengurangi kebisingan serta getaran, sehingga beban stress kru tank berkurang. (ARC.web.id).

Kualitas SS2, Diuji Bocah SD

 
SS2 merupakan senapan serbu unggulan Pindad. Selain sudah disesuaikan dengan ergonomi orang Indonesia sebagai pemakainya, SS2 memiliki tingkat akurasi yang sangat baik. Keberhasilan tim menembak Indonesia menjadi kampiun di sejumlah kejuaraan menembak Internasional mejadi buktinya.
Tapi, tahukah teman-teman watjag, sebelum diproduksi secara massal, pengujian kualitas SS2 dilakukan oleh bocah yang masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar?
Jadi ceritanya begini, waktu itu hari Sabtu di tahun 2003. Direktur Utama PT Pindad saat itu, Budi Santoso, jalan-jalan ke instalasi persenjataan. Tidak seperti biasanya, kali ini ia datang bersama seorang anaknya, Dito yang masih SD tersebut. Saat itu, Budi tengah resah dan bingung menentukan desain akhir SS2 yang di dikembangkan PT Pindad. Karena, pendapat tentara sebagai user selalu berbeda-beda antara satu dengan yang lain.
Budi Santoso bersama SS2
Lalu Budi mendekati anaknya dan mengatakan begini :
“Kamu pernah pegang bedil?” tanya Budi
“Belum pak” jawab Dito.
“Kalau di video game?” tanya Budi Lagi
“Sudah” dijawab Dito
Budi pun tersenyum, kemudian mengambilkan kursi dan menempatkannya di lorong tembak. Diletakannya SS2 di meja tembak.
“Sekarang kamu tembak. Jangan mikir kena yang mana. Prinsipnya tengahnya,” Kata Budi memandu Dito yang telah bersiap menembak.
Dito pun mulai beraksi. Dalam beberapa kali tembakan yang dilakukan sembarangan, Dito mampu menembak sasaran.
“Memang, enggak tepat. Tapi itu karena pisir dan pejera berbeda. Yang terpenting saya bisa tahu ternyata anak sekecil itu bisa menembakkan SS2 dengan nyaman dan kena sasaran. Saya pikir, anak kecil saja bisa menembak seakurat itu, apalagi tentara yng sudah terlatih. Kalau tentara enggak bisa pakai SS2, ya malu-maluin,” ungkap Budi sambil tersenyum.
Keberhasilan anak Pak Budi menembak dengan cukup baik memberikan confidance bahwa kita mampu membuat senjata bagus. Setelah itu, barulah kita sempurnakan desain SS2,” tambah Ade Bagdja, yang saat itu menjabat Kepala Divisi Senjata.
DSC_0030
Iseng mejeng dengan SS2 V5 Commando
Pada ajang Danjen Kopassus Cup 2015 beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan Wadansat 81 Gultor Kopassus, saya pun menanyakan gimana perkembangan senjata Pindad? Ia pun mengaku bangga dengan produk PT Pindad. Menurutnya, akurasi dan daya tahan sudah banyak kemajuan dibanding seri sebelumnya.
“Untuk akurasi lebih baik dan lebih bagus dibanding M-16. Saya bangga dengan perkembangan senjata Pindad. Untuk akurasi hingga 200 meter cukup bagus,” ucap Pria murah senyum ini.
Saya juga bertemu dengan sejumlah petembak yang mengikuti AARM (ASEAN Armies Rifle Meet) sejak 2005-2015. Mereka juga mengatakan hal yang sama. Hanya, menurut mereka perlu dilihat lagi masalah standarisasi senjata buatan Pindad. Karena menurut mereka, kasus yang sering terjadi adalah kualitas senjata satu berbeda dengan senjata lainnya.
“Kita sangat berharap kualitas senjata Pindad kualitasnya sama dengan yang lain. Standarisasi harus diketatkan lagi. Saat kompetisi, karena nilai kita tim negera lain nanya-nanya masalah senjata kita. Kita akan bantu Pindad agar bisa go Internasional,” harap Pria berpangkat Mayor ini.
(Jalo dan Buku Pijakan Untuk Kemandirian Alutsista)

Rheinmetall melewati tes penerimaan untuk Simulator Leopard 2 Indonesia

 
Leopard 2 main battle  tanks
Leopard 2 main battle tanks

Rheinmetall hari ini mengumumkan bahwa mereka telah berhasil lulus tes penerimaan untuk Leopard 2 simulator untuk Angkatan Darat Indonesia.
Rheinmetall telah menghasilkan simulator mengemudi dan gunnery simulator systems untuk melatih  Leopard 2 untuk personil Indonesia. Proyek ini bernilai beberapa juta euro.
The Leopard Gunnery Skills Trainer (LGST) dan  Driver Training Simulator (DTS) secara khusus dirancang untuk pelatihan awak tank Leopard 2A4 , dan terutama akan digunakan untuk keahlian penggunaan  meriam dan melatih  keterampilan para komandan, penembak dan pengemudi.
MBT_Leo_simulation ( rheinmetall-defence.com )
MBT Leo simulation ( rheinmetall-defence.com )
Produk simulasi Rheinmetall menggabungkan mesin permainan dalam hal visualisasi dengan pelatihan hasil-hasil simulator.
Selama Maret 2015 delegasi dari Indonesia melakuan tes penerimaan pabrik (FAT) di Rheinmetall dan kedua simulator telah berhasil mereka lewati. Pengiriman dan pemasangan simulator akan segera dimulai dalam waktu dekat.
Kontrak ini dan kemajuan yang cepat memberikan kepercayaan global pada Rheinmetall’s simulation technology dan keahlian tank tempur utama. (defenseworld.net)

PTDI antara Mimpi dan Kenyataan !

 
Maaf ini tulisan lama Pak Chappy, banyak yang teriak-teriak soal PT DI. Mari kita kenali dulu sejarahnya :


Bila browsing di internet dengan mengklik PTDI, tampilan yang muncul adalah PTDI,Professional Truck Driver Institute. Padahal, yang ingin dibahas bersama di sini adalah tentang PT Dirgantara Indonesia.
Membingungkan? Sekarang mari kita berkunjung ke website-nya PT Dirgantara Indonesia yang ternyata tertera di sana,mungkin untuk konsumsi global, PTDI dipromosikan dengan nama Indonesian Aerospace Inc. Tercatat didirikan pada 26 April 1976 bernama IPTN dengan N untuk Nurtanio dan pada 11 Oktober 1985 diubah dengan IPTN yang N-nya sudah menjadi Nusantara,serta pada 24 Agustus 2000 berubah lagi menjadi PT Dirgantara Indonesia / Indonesian Aerospace Inc.
Inilah pabrik pesawat terbang termegah di belahan bumi selatan yang sangat sibuk dengan kegiatan utamanya, yaitu gonta- ganti nama dan tenar dengan tagline-nya Tetuko! (sing teko ora tuku-tuku dan sing tuku ora teko-teko) Sementara itu, dalam catatan sejarah yang agak sulit untuk dihapus begitu saja, pada 1940-an Wiweko Supono, Nurtanio Pringgoadisurjo,dan Yum Soemarsono bersama dengan Tossi, Ahmad,dan kawan-kawan sudah merintis upaya pembuatan pesawat terbang walau terbatas pada jenis pesawat tidak bermotor.
Berikutnya kemudian dikenal pula rintisan pesawat bermotor yang menggunakan mesin Harley Davidson dengan kode WEL-X/RI–X yang merupakan ujud dari pesawat bermesin pertama karya anak bangsa. Tahun 1954, Nurtanio membuat rancangan pesawat terbang ”Si-Kumbang”. Tidak berhenti di situ,pada 1957–1958 Nurtanio mengembangkan desain pesawat lainnya dengan nama “Belalang” dan “Si Kunang”.
Semua dikerjakan sendiri tanpa adanya kucuran dana dari pemerintah, proyek yang hanya berlandaskan idealisme dan jiwa patriot murni dari sang prajurit udara. Kerja yang jauh dari kegiatan seremonial apalagi dengan hal yang glamor serta luxurious sifatnya. Pada tahun 1976, seluruh kegiatan yang patriotik itu distop dan hanggar eksperimen serta kawasan di sekitarnya diambil alih untuk didirikan IPTN yang megah dan meriah.
Secara bertahap, para personel Angkatan Udara dieliminasi secara sistematis, dan puncaknya pada 1985 nama pahlawan kebanggaan Angkatan Udara yang sangat dihormati, Nurtanio, dicoret dan diganti dengan Nusantara. Berlanjut kemudian pada tahun 2000 menjadi PTDI.
Harapan?
Kini PTDI, di tengah kelesuan dari production line-nya, bertiup angin segar dari pemerintah. Dengan menyandang bendera industri strategis pertahanan, kelihatannya ada keinginan untuk menghidupkan ulang PTDI sebagai pabrik pesawat terbang. Proyek C-295 dan N-219 konon sudah nongkrong di depan pintu untuk digarap.
Kabar ini tiba-tiba saja muncul sebagai pembawa “angin surga”, pengembangan industri pertahanan dalam negeri yang akan segera tampil ke pentas global. Harus diingatkan selalu bahwa keinginan yang patut dihargai sebagai langkah berani untuk kembali ke jalan yang benar ini, janganlah sampai menjadi tidak lebih dari pepesan kosong belaka.
Sekat feodalistis telah menjadi barrier yang sangat ampuh dalam menghambat aliran informasi ke meja “Big Boss”. Ide-ide cemerlang hendaknya jangan dibiarkan melayang di atas awan. Ide-ide dengan proyek-proyek besar seyogianya dibawa untuk “down to earth” terlebih dahulu, diajak untuk melihat realita yang ada di PTDI. Realita yang selalu saja sulit untuk bisa sampai di meja kerja sang pemimpin.
Dari kenyataan yang ada,PTDI masih berhadapan dengan begitu banyak PR yang harus diselesaikan dulu sebelum dapat diajak untuk mengerjakan proyek-proyek sekelas C-295 dan atau N-219. PR yang pertama adalah bahwa PTDI masih menghadapi masalah serius tentang keuangan bernilai lebih dari satu triliun, berkait dengan manajemen dana pensiun dari para pegawainya.
Di samping itu, PTDI juga berhadapan dengan masalah kaderisasi SDM terutama menyangkut produktivitas dan kapabilitas perancangan yang membutuhkan waktu lama untuk dapat memenuhinya. Sebagian besar telah mencapai usia 50 tahun. Hal sangat penting lainnya adalah menyamakan persepsi tentang pabrik atau industri pesawat terbang yang tidak bisa dan atau tidak mungkin berdiri sendiri.
Almarhum Dr Said Jenie mengatakan tentang mutlaknya dibangun tiga pilar industri penerbangan nasional di bawah asuhan pemerintah, sebagai “konduktornya”. Ketiga pilar itu adalah Angkatan Udara, Pabrik Pesawat, dan Perguruan Tinggi. Bila tidak ada long term strategic planning yang mapan serta dukungan dana yang konsisten, akan sia-sialah apa pun yang dikerjakan.
Harus ada proyek-proyek pesawat militer jangka panjang yang dapat dikonversikan juga sebagai pesawat angkutan udara sipil yang menjadi program terpadu,lengkap dengan ditopang oleh kegiatan penelitian dan pengembangan. Karena pada hakikatnya, untuk bersaing di panggung global tanpa pijakan pasar di dalam negeri, pasti akan langsung menjadi pungguk yang merindukan sang bulan.
Pola Kerja Sama
Khusus untuk proyek C-295 (sebenarnya adalah merupakan pesaing dari N-250) telah mengembalikan posisi PTDI persis seperti pada waktu mengerjakan C-212. Bila tidak ada hero dari pihak ketiga, “local content” 50% tidak akan pernah bisa tercapai. Lebih-lebih (mungkin saja terjadi) data engineering-nya tidak diberikan.
Kalau saja hal ini dipaksakan juga, peran PTDI nantinya tidak akan optimal. Memang ada pilihan lain yang lebih realistis mungkin, yaitu PTDI beralih untuk lebih banyak berkonsentrasi pada industri komponen, seperti yang selama ini dilakukan dalam konteks survival.
Namun, harus digarisbawahi bahwa added value yang akan diperoleh sangat rendah, karena akan berperan sebagai yang sering diselorohkan sebagai “tukang obras”. Di sini hanya dibutuhkan tenaga STM dan politeknik saja. Tidak dibutuhkan para sarjana. Nah, itulah semua apa adanya di PTDI, sebuah pabrik pesawat yang tengah kehilangan nyawanya, kehilangan spiritnya sebagai akibat dari antara lain,melenyapkan nama besar
Nurtanio sebagai perintis industri penerbangan di Indonesia. Sebuah ironi dari balada industri pesawat terbang yang didirikan dengan pendekatan kekuasaan belaka. Menggunakan kawasan orang lain dengan sekaligus menghapus sejarah dan nama besar pemiliknya.
Masih besar harapan untuk bangkit kembali, dengan syarat menyelesaikan terlebih dahulu beberapa PR yang kini tengah dihadapi sebelum bergulir dengan proyek-proyek besar seperti C-295 dan atau N-219.
Mudah-mudahan, kebanggaan Indonesia tidak berhenti hanya kepada para SDM-nya yang kini berkiprah di hampir seluruh pabrik pesawat di muka bumi ini,Insya Allah.

Jakarta 18 Nopember 2011
CHAPPY HAKIM Komisaris Utama PTDI 2002–2005,
Chairman CSE Aviation