Sabtu, 04 April 2015

Dapat info makam Hitler di dekat pusara Bung Tomo, Risma bingung

Adolf Hitler (ist)

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini mengaku bingung menerima informasi kalau pendiri Partai NAZI, Adolf Hitler dimakamkan di Surabaya, Jawa Timur. Tepatnya, di Kompleks Pemakaman Umum (TPU) Nagel.
Makam tokoh diktator asal Jerman di masa Perang Dunia II itu disebut-sebut berada di sebelah barat pusara Soetomo, atau Bung Tomo, tokoh Perang 10 November 1945 di Surabaya.
Kata Risma, di pusara, yang diduga tempat persemayaman Hitler itu, tertulis nama dokter Pooh asal Jerman, yang setelah ditelusuri adalah dokter yang pernah bertugas di RSUD dr Sutomo Surabaya.
Wali kota perempuan pertama di Kota Pahlawan ini mengaku, menerima informasi keberadaan yang disinyalir milik Hitler itu, dari seseorang yang dipanggilnya dengan Cak Nun.
“Ada yang ngasih tahu saya, tepatnya orang itu adalah Cak Nun. Cak Nun itu yang ngasih tahu apa ada dokter asal Jerman yang meninggal dan dimakamkan di Ngagel?,” kata Risma di sela menghadiri acara HUT ke 9 salah satu media online di Surabaya, Rabu (1/4).
Ya kalau betul itu memang makamnya Hitler, lanjut Risma, ya berarti dia hanya mengganti namanya saja (dr Pooh). “Setalah dapat informasi itu, kita langsung cari tahu dengan mendatangi langsung lokasi dan mencari makamnya. Ternyata memang ada. Dia itu dokter di rumah sakit dokter Sutomo. Di situ ditulis dengan nama dr Pooh,” sambungnya.
Terkait kebenaran makam Hitler di Ngagel itu, Risma tidak berani memastikannya. “Kalau soal data atau catatan kematian makam itu, kita sudah ada, tapi belum kita teliti, apa benar itu makam Hitler atau memang makam dokter Pooh asal Jerman,” tandasnya.
<!–nextpage–>
Kematian tokoh bergelar Fuhrer und Reichskanzler itu, memang sampai saat ini masih misteri. Ada yang menyebut Hitler tewas bunuh diri dalam bangker di Berlin, Jerman pada 30 April 1945, ada juga yang mengatakan dia meninggal di Argentina, ada pula yang menyebut Brasil, dan di Amerika Selatan.
Hitler sendiri, pada masa Perang Dunia II dikenal sebagai politisi Jerman dan Ketua Partai NAZI atau Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei (NSDAP dalam Bahasa Jerman), Partai Pekerja Jerman Sosialis Nasional.
Politisi kelahiran Austria ini, pernah menjabat Kanselir Jerman pada 1933 sampai 1945 dan menjadi diktator Jerman dengan bergelar Fuhrer und Reichskanzler sejak Tahun 1934 sampai 1945. Hitler menjadi tokoh utama NAZI, Perang Dunia II di Eropa, dan Holocaust.
Hitler adalah veteran Perang Dunia I dengan banyak gelar. Ia bergabung dengan Partai Pekerja Jerman (pendahulu NSDAP) pada tahun 1919, dan menjadi ketua NSDAP tahun 1921. Tahun 1923, ia melancarkan kudeta di Munich yang dikenal dengan peristiwa Beer Hall Putsch. Kudeta yang gagal tersebut berujung dengan ditahannya Hitler.
Di penjara, Hitler menulis memoarnya, Mein Kampf (perjuanganku). Setelah bebas Tahun 1924, Hitler mendapat dukungan rakyat dengan mengecam Perjanjian Versailles dan menjunjung Pan-Jermanisme, antisemitisme, dan anti-komunisme melalui pidatonya yang karismatik dan propaganda Nazi.
Setelah ditunjuk sebagai kanselir pada tahun 1933, ia mengubah Republik Weimar menjadi Reich Ketiga, sebuah kediktatoran satu partai yang didasarkan pada ideologi Nazisme yang totalitarian dan otokratik. (Merdeka)

Lanud Atang Sendjaja Siap Dijadikan Lokasi Wisata Edukasi Dirgantara

Ilustrasi (ist)

Komandan Pangkalan Udara Atang Sendjaja, Marsma TNI Dedy Permadi mengatakan, masyarakat yang ingin berwisata edukasi kedirgantaraan bisa datang ke Lanud Atang Sendjaja di Bogor, Jawa Barat.
“Di sini masyarakat bisa berwisata sambil belajar mengenal pesawat terbang milik TNI AU dan mendapatkan pembinaan potensi dirgantara,” kata Komandan Lanud ATS Marsma TNI Dedy Permadi di Kemang, Bogor, Jawa Barat, Jumat (3/4/2015).
Ia mengatakan, selain mendapatkan wisata edukasi tentang kedirgantaraan, masyarakat juga bisa menyalurkan hobi di lapangan olah raga. Serta bagi masyarakat yang mempunyai hobi burung berkicau, Lanud ATS Bogor telah menyiapkan lapangan untuk pameran burung berkicau.
“Masyarakat bukan hanya bisa mengenal jenis burung tetapi pertandingan burung berkicau bisa menciptakan ekonomi kreatif,” kata dia.
Ia mengatakan, selama fasilitas yang dimiliki Lanud ATS Bogor digunakan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, Lanud ATS akan terus memberikan dukungan.
“Jadi jangan takut ke Lanud ATS. Karena Lanud ATS bukan milik TNI AU tetapi milik rakyat,” ujarnya.
Ia mengatakan, inilah ciri utama TNI AU sebagai bagian dari perwujudan TNI manunggal rakyat. Lanud ATS akan bekerjasama denga Pemerintah Kabupaten Bogor menciptakan desa wisata dan UKM yang menjadi program pemerintah pusat dalam meningkatkan perekonomian rakyat.
“Kalau sudah kenal seperti ini, silahturami antara TNI dan masyarakat akan terjalin dengan baik,” katanya.
Semua fasilitas milik Lanud ATS Bogor bisa dimanfaatkan oleh masyarakat yang penting untuk kesejahteran masyarakat serta memberi rasa aman dan nyaman.
Sementara itu, Wahyu Country, panitia pameran burung berkicau mengaku sangat berterima kasih kepada Lanud ATS Bogor yang telah menfasilitasi pameran dan lomba burung berkicau. Lanud ATS manunggal rakyat itu terbukti ternyata fasilitas milik negara bisa dinikmati oleh rakyat. “Jadi untuk wisata tidak usah pergi jauh cukup datang ke Lanud ATS karena ada,” kata dia.
Heru, pemilik obat pembasmi kutu burung berlogo A55 AGOGO berhasil mengambil kesempatan untuk mengembangkan usaha kecil menengah. Terbukti, obat kutu berkualitas baik sangat diminati penghoby burung berkicau.
“Terima kasih ATS telah memberikan ruang gerak kepadasaya untuk meningkatkan perekonomian keluarga,” ucap Heru.(kompas)

Kelompok bersenjata Poso sempat memaksa warga memasak

Kelompok bersenjata Poso sempat memaksa warga memasak
Pencarian Teroris Dua Regu Pasukan Brimob bersenjata lengkap melakukan pengejaran terhadap terduga kelompok sipil bersenjata di sekitar gunung Patingkea desa Tamadue, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Senin (29/12). (ANTARA FOTO/Zainuddin MN) ()
 
Kelompok sipil bersenjata Poso yang terlibat kontak tembak dengan polisi di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Jumat (3/4), sempat menyandera seorang wanita dan memaksanya untuk memasak.

Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah AKBP Hari Suprapto di Palu, Sabtu, mengatakan kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 10.00 WITA, sesuai penuturan saksi yang melaporkan hal itu ke aparat terdekat.

Kelompok bersenjata yang berjumlah 12 orang tersebut diduga melarikan diri dari kejaran aparat gabungan di wilayah hutan di Kabupaten Poso.

Setelah beberapa hari dalam pelarian, kelompok bersenjata yang diduga kehabisan perbekalan makanan itu mencari makanan di rumah warga yang berada di sekitar hutan yang dilalui.

Keberadaan mereka tercium aparat, setelah warga melaporkan adanya orang tak dikenal sambil menenteng beberapa pucuk senjata api.

Akhirnya, pada sekitar pukul 14.30 Wita, aparat Polres Parigi Moutong dan tim Densus 88 Antiteror tiba di lokasi.

Polisi awalnya meminta segerombolan orang asing tersebut untuk menyerahkan diri namun dibalas dengan tembakan dan lemparan bom rakitan.

Kontak tembak akhirnya terjadi dalam waktu sekitar 45 menit, dan menewaskan satu orang dari kelompok bersenjata.

Kelompok bersenjata tersebut akhirnya melarikan diri ke tengah hutan. Diduga ada beberapa orang dari kelompok bersenjata yang terluka akibat baku tembak itu.

Saat ini jenazah korban penembakan sudah dievakuasi di RS Bhayangkara Palu yang berjarak sekitar 120 km dari lokasi baku tembak.

Polisi memastikan hanya satu korban tewas dalam kejadian itu, dan kini petugas mengejar kelompok teroris yang dipimpin Santoso itu.

Dalam kejadian itu, polisi mengamankan senjata api organik jenis M16 dan sebuah senjata rakitan berikut amunisinya.
 

Santoso terus diburu, Polisi temukan M16

Santoso terus diburu, Polisi temukan M16
Pencarian Teroris Dua Regu Pasukan Brimob bersenjata lengkap melakukan pengejaran terhadap terduga kelompok sipil bersenjata di sekitar gunung Patingkea desa Tamadue, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Seniin (29/12). Mereka melakukan penyisiran guna mencari persembunyian kelompok Santoso cs yang sebelumnya telah menembak mati seorang warga sipil pencari Damar yakni, Garataudu (51) dan menyandera Harun Tobimbi (39) atas laporan saksi mata Viktor Polaba (32) yang berhasil melarikan diri saat kejadian tersebut. (ANTARA FOTO/Zainuddin MN) ()
 
Polisi menemukan dua senjata api laras panjang jenis M16 dan sebuah senapan rakitan di lokasi baku tembak antara polisi dan kelompok bersenjata di Pegunungan Sakina Jaya, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Jumat (3/4), yang menewaskan satu orang.

Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Brigjen Pol Idham Azis yang dihubungi dari Palu, Sabtu, mengatakan senjata tersebut diduga kuat milik komplotan sipil bersenjata yang dipimpin Santoso.

Pasukan polisi saat ini terus mengejar kelompok Santoso yang jumlah diperkirakan 12 orang.

Belasan orang itu terendus aparat berkat laporan masyarakat yang melihat sejumlah orang asing sedang berada di gubuk milik petani.

Warga tersebut kemudian lapor ke polisi, dan selanjutnya dilakukan pengejaran. Polisi awalnya meminta segerombolan orang asing tersebut untuk menyerahkan diri namun dibalas dengan tembakan dan lemparan bom rakitan.

Kontak tembak akhirnya terjadi dalam waktu sekitar 45 menit, dan menewaskan satu orang dari kelompok bersenjata.

Kelompok bersenjata tersebut akhirnya melarikan diri ke tengah hutan. Diduga ada beberapa orang dari kelompok bersenjata yang terluka akibat baku tembak itu.

Saat ini jenazah korban penembakan sudah dievakuasi di RS Bhayangkara Palu yang berjarak sekitar 120 km dari lokasi baku tembak.

Saat ini sekitar 700 personel Brimob Kelapa Dua Mabes Polri masih berada di wilayah Sulawesi Tengah untuk membantu menangkap Santoso dan anak buahnya.

Sementara ribuan pasukan TNI juga masih menggelar latihan perang di sekitar Gunung Biru, Kabupaten Poso, yang diduga kuat adalah lokasi persembunyian Santoso dan kawanannya.

Akibat latihan perang tersebut, kelompok sipil bersenjata itu melarikan diri masuk hutan di wilayah Parigi Moutong hingga terendus aparat.
 

Jumat, 03 April 2015

Ini Dia Momen Saat Peluru Pasukan Kopassus Habisi 5 Pembajak Pesawat

Kopassus
Operasi pembebasan sandera DC-9 Woyla mengangkat nama Kopassus TNI AD ke jajaran pasukan elite dunia. Saat itu sebenarnya TNI belum punya pasukan khusus yang benar-benar siap untuk misi antiteror. Namun terbukti mereka mampu menjalankan tugas dengan baik.
Tak ada satu pun sandera yang terluka dalam misi ini. Lima orang pembajak berhasil ditembak mati. Keseluruhan operasi tanggal 31 Maret 1981 ini hanya berlangsung tiga menit.
Keberhasilan ini membuat dunia terperangah. Mereka tak menyangka pasukan Indonesia bisa melakukan operasi khusus yang selama ini baru dilakukan militer negara maju.
Sebenarnya tak cuma pihak asing yang ragu. Kepala Operasi Pembebasan Sandera Letjen Benny Moerdani pun memperkirakan keberhasilan timnya 50:50.
Satu hal yang terungkap, Benny ternyata sudah menyiapkan 17 peti mati dalam operasi itu. Hal itu sesuai dengan perkiraan Benny bakal jatuh banyak korban dalam misi pembebasan sandera.
“Ternyata perkiraan ini meleset, karena seusai operasi penanggulangan teror, hanya diperlukan lima peti jenazah bagi pembajak,” kata Letkol Sintong Panjaitan yang memimpin operasi tersebut.
Sintong Panjaitan menceritakan peristiwa tersebut dalam buku biografinya, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando. Buku ini ditulis Hendro Subroto dan diterbitkan Penerbit Buku Kompas tahun 2009.
Lima pembajak yang ditembak adalah Abdullah Mulyono, Wendy Mohammad Zein, Zulfikar, Mahrizal dan Abu Sofyan.
Dalam operasi tersebut, Abdullah Mulyono sempat berusaha merebut senjata tim penyerbu. Namun dia ditendang keluar dan tergelicir lewat peluncur. Mulyono segera ditembak sub tim yang berjaga di bawah hidung pesawat.
Sementara itu Wendy Mohammad Zein ditembak di dekat pintu darurat. Pembajak lainnya, Zulfikar, berusaha melarikan diri lewat sayap pesawat. Namun dia dipergoki dan tewas dihantam peluru M-16 tim yang berjaga di luar pesawat.
Perlawanan paling seru diberikan Mahrizal, dia sempat menembak jatuh anggota tim antiteror Capa Ahmad Kirang. Tembakan itu melukai perut bawah Kirang. Mahrizal juga menembak seorang lainnya, namun mengenai rompi anti peluru. Pasukan Komando segera membalas dengan tembakan senapan MP5 hingga Mahrizal tewas di dekat Pramugari.
Satu yang terakhir, Abu Sofyan, berniat meloloskan diri. Dia ikut turun bersama para penumpang yang dievakuasi keluar pesawat. Namun seorang penumpang mengenali Abu Sofyan dan berteriak.
Abu Sofyan berlari menjauhi pesawat. Namun dengan sigap pasukan antiteror segera menembaknya. Dia tewas seketika.
Keberhasilan misi itu diwarnai duka. Capa Ahmad Kirang dan Kapten pilot Herman Rante yang tertembak tewas beberapa hari kemudian di rumah sakit. Keduanya dimakamkan di Taman Pahlawan Nasional. Kopassus mendirikan monumen Ahmad Kirang di Markas Sat-81 Gultor Cijantung.(merdeka)

Kepala Staf TNI AL jadi warga kehormatan Korps Marinir

| 2.753 Views
Kepala Staf TNI AL jadi warga kehormatan Korps Marinir
Dokumentasi Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Ade Supandi, saat diusung sejumlah anggota Korps Marinir TNI AL usai diangkat menjadi warga kehormatan Korps Marinir TNI AL di Kesatriaan Marinir Cilandak, Jakarta, Kamis (2/4/15). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
... sebagai apresiasi dan keteladanan jiwa, sikap, semangat dan komitmennya yang tinggi bagi Korps Marinir TNI AL...
Jakarta (ANTARA News) - Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Ade Supandi, diangkat menjadi warga kehormatan Korps Marinir TNI AL, yang ditandai pemasangan baret ungu dan penyematan Brevet Kehormatan Trimedia serta Brevet Anti Teror Aspek Laut.

Pemasangan baret dan penyematan brevet kehormatan itu dilakukan langsung oleh Komandan Korps Marinir TNI AL Mayor Jenderal TNI (Marinir) A Faridz Washington, di Lapangan Apel Kesatrian Marinir Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (2/4).

Kedatangan Supandi dan Ibu Endah Ade Supandi disambut dengan acara tradisi, dengan menaiki tank amfibi BMP-3F yang dikawal kereta Kencana Prabu Siliwangi, sembilan kuda yang ditunggangi para perwira Korps Marinir TNI AL dan satu macan putih bergerak dari Jalan Cilandak KKO menuju Lapangan Apel Marinir.

Sesampai di lapangan upacara, mereka disambut tarian tradisional Sunda, Wilujeng Sumping, dan penyerahan keris putih kepada Supandi dan selendang ungu kepada Endah Ade Supandi.

Tak berselang lama, material tempur memasuki lapangan dengan manuver cepat, sementara pasukan upacara memasuki lapangan dengan tabir asap dari kendaraan tempur. Sedangkan komandan upacara, Brigadir Jenderal TNI (Marinir) Kasirun Situmorang, memasuki arena upacara dari udara. 

Sehari-hari Situmorang adalah komandan Pasukan Marinir 1 Korps Marinir TNI AL. 

Berbagai kebolehan hasil latihan keras Korps Marinir TNI AL selama ini diperagakan, mulai dari olah keprajuritan dan bela diri militer, ketepatan mendarat terjun payung, hingga kegesitan mengemudikan tank amfibi BMP-3F.

"Ini juga sebagai apresiasi dan keteladanan jiwa, sikap, semangat dan komitmennya yang tinggi bagi Korps Marinir TNI AL," kata Kepala Dinas Penerangan Korps Marinir TNI AL, Letnan Kolonel (Marinir) Suwandi.

Supandi menjadi orang ke-35 yang diangkat menjadi warga kehormatan Korps Marinir TNI AL. Yang pertama adalah Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution, juga Komandan Korps Marinir Amerika Serikat (saat itu) Jenderal CC Krulak, Sultan Hassanal Bolkiah dari Brunei Darussalam.

TNI akan Buat Komando Gabungan Khusus Antiteror dari 3 Matra

 
TNI akan Buat Komando Gabungan Khusus Antiteror dari 3 Matra

Perkembangan aksi teror belakangan ini membuat TNI semakin meningkatkan persiapan dalam fungsi menyelamatkan negara. KSAL Laksamana Ade Supandi mengungkapkan bahwa TNI kini sedang merencanakan membentuk Komando Gabungan Khusus Antiteror dari 3 matra.
“Yang lalu memang ada pembicaraan untuk yang namanya Komando Gabungan khusus antiteror. Ini sedang direncanakan di Mabes TNI sehingga dalam penggunaan kekuatan antiteror TNI, baik itu AD, AL, AU di atas perintah Panglima TNI,” ungkap Ade di Markas Marinir, Cilandak, Jaksel, Kamis (2/4/2015).
Komando Khusus ini, kata KSAL, dapat mempercepat operasi antiteror yang memerlukan bantuan TNI. Namun pergerakannya harus melihat perkembangan situasi teror itu sendiri, apakah masih dalam ranah kepolisian atau sudah masuk ranah TNI.
“Berdasarkan assesment situasi dan kebutuhan untuk mengintegrasikan dalam bentuk Komando gabungan ini adalah untuk mempercepat kalau terjadi kebutuhan mendesak. Jadi tidak terlalu lama manggil-manggil lagi tapi sudah dipersiapkan,” kata Ade.
“Kita punya Denjaka (Detasemen Jala Mangkara) sebagai pasukan khusus AL, kewajiban saya adalah menyiapkan mereka untuk memiliki kemampuan antiteror. Dalam pelaksanaan kekuatan mereka itu dari Panglima TNI,” sambungnya.
Mengenai kriteria aksi teror sejauh mana yang perlu melibatkan unsur TNI disebut Ade masih belum terlalu jelas. Pada tugas pokok TNI di UU No 34 tahun 2004 tentang TNI, salah satunya adalah tentang keselamatan negara. Inilah yang masih belum dirinci sehingga dalam melaksanakan tugas antiteror, Polri dan TNI belum mampu bersinergi dengan baik.
Intelijen kita bisa menilai, ini (aksi teror) masih di kepolisian, ini harus tindakan TNI karena di UU No 34 ada. Tugas TNI satu menjaga kedaulatan, integritas wilayah, tiga keselamatan bangsa. Ini yang belum kita elaborasi sebenarnya seperti apa sih tugas pokok TNI dalam rangka menyelamatkan bangsa ini,” Ade menjelaskan.
Meski begitu, disebut Ade bukan berarti TNI tidak siap dalam menghadapi aksi teror. Walaupun tidak bergerak secara fisik, intelijen TNI terus bekerja dalam kasus-kasus terorisme.
“Kegiatan TNI kan tidak berhenti kalau ada kejadian, intelijen kita kan juga jalan dalam hal ini di masa damai sampai dengan kalau terjadinya eskalasi meningkat, intelijen TNI akan tentukan. Melaporkan ke Panglima TNI informasi-informasi perkembangan situasi,” tutur Ade.
“Tapi diharapkan masyarakat sendiri sebagai filter ya, kedua menjaga keamanan yang kondusif di lingkungan masyarakat,” tutupnya.
Belum lama ini TNI menggelar latihan gabungan di Gunung Biru, Poso, Sulsel. Latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) itu disebut sebagai upaya menunjukkan kekuatan personel TNI kepada kelompok tertentu, sekaligus menangkal gerakan ISIS di Indonesia.
Seperti diketahui, Gunung Biru, Poso, kerap dijadikan lokasi pelatihan kelompok teroris Santoso. “Latihan membawa pesan Show of Forces terhadap kelompok tertentu, bahwa tidak ada tempat bagi ISIS di Indonesia serta akan berdampak baik secara nasional maupun internasional,” terang Panglima Jenderal Moeldoko seperti tertulis dalam rilisnya. (detik.com)