Senin, 16 Februari 2015

Panglima TNI Tugaskan Personel yang akan Pensiun Jaga Bandara dan Pelabuhan

Panglima TNI Tugaskan Personel yang akan Pensiun Jaga Bandara dan Pelabuhan
Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mendatangi Panglima TNI Jenderal Moeldoko untuk meminta bantuan keamanan Obyek Vital Nasional (Obvitnas). Kemenhub meminta TNI untuk membantu mengamankan Bandara-bandara, Pelabuhan-pelabuhan, serta obyek-obyek transportasi Kemenhub lainnya.

Berdasarkan informasi dari Puspen TNI, Jonan bersama stafnya mendatangi Panglima TNI di kantornya, Mabes TNI Cilangkap, Jaktim, Senin (16/2/2015). Dalam kesempatan tersebut, Moeldoko didampingi oleh Aspers Panglima TNI Laksda Sugeng Darmawan, Aster Panglima TNI Mayjen Ngakan Gede Sugiartha Garjitha, dan Kapuspen TNI Mayjen Fuad Basya.

Panglima TNI sendiri mengatakan pada tahap pertama akan memberikan bantuan sebanyak 1.000 personel ke Kemenhub, kemudian akan mencapai 2.000 personel pada tahap berikutnya. Pada pertemuan hari ini, Jonan dan Moeldoko juga membahas MoU terkait kerjasama tersebut.

"Personel TNI yang akan diperbantukan adalah personel yang akan memasuki masa pensiun sekaligus untuk magang dalam masa MPP (Masa Persiapan Pensiun)," kata Moeldoko seperti tertulis dalam keterangan Puspen TNI.

Mantan Pangdam Siliwangi itu mengaku senang bisa memberikan kontribusi kepada Kemenhub. Apalagi bantuan yang diberikan diperuntukkan bagi rakyat Indonesia. Tak hanya kedatangan Menhub, hari ini Moeldoko juga menerima Panitia pusat Muktamar ke-47 Muhammadiyah.

"Pertemuan tersebut dalam rangka membahas Muktamar Muhammadiyah tanggal 3-7 Agustus 2015 di Makassar dan mengharap Panglima TNI bisa hadir dan memberikan sambutan," jelas Kadispenum Puspen TNI Kolonel Inf Bernardus Robert.

Jadwal Moeldoko tak hanya sampai situ saja, Jenderal Bintang 4 itu juga menerima kunjungan dari Duta Besar Spanyol untuk Indonesia, Francisco Jose Viquera Neil. Dubes Spanyol dan Panglima TNI mengadakan pertemuan untuk meningkatkan kerja sama kedua negara, khususnya industri pertahanan yang selama ini telah terjalin dengan baik.
 

SS-1 R5: Born to Raiders, Senapan Serbu Kompak dari Pindad

Resmi dibentuk pada 22 Desember 2003, Batalyon Raider langsung di dapuk sebagai satuan elit tempur TNI AD. Dengan bekal tempaan pendidikan di Pusdik Kopassus, Batujajar, Jawa Barat, pasukan Raider dilatih keras untuk mampu berlaga di medan perang modern, perang anti gerilya, pertempuran jarak dekat, hingga perang berlanjut.
Mengingat peran dan tugas yang tergolong taktis, satuan dengan background infanteri ini pun dibekali seabreg persenjataan perorangan yang canggih. Sebut saja ada H&K MP5A3, SS-1 SPG1A, AK-47, SS-1 R5, Daewoo K-7, dan senapan penembak runduk Accuracy International Arctic Warfare kaliber 7,62 mm. Diantara senjata-senjata tersebut, SS-1 R5 menjadi yang paling mendapat sorotan, pasalnya senjata serbu ini dirancang khusus untuk kebutuhan Raider.
Dirunut dari spesifikasinya, SS-1 R5 adalah varian paling kompak dari keluarga SS-1, diproyeksikan sebagai senapan serbu komando paling representatif. Pindad melansir varian ini untuk memenuhi kebutuhan pasukan elit Raider yang membutuhkan senapan ringan, kompak, namun punya akurasi mumpuni.
20081015062016ENLUS0152050512240516
Personel Raider tengah membidi dengan optik FN Scope di SS-1 R5.
ss1r5780339_20130531074908
Dengan popor telipat.
Dengan popor telipat.
Dengan popor terentang.
Dengan popor terentang.

SS-1 R5 mengambil dasar dari varian SS-1 V5 yang sudah lebih dulu dirilis, Pindad menambahkan sentuhan modernisasi. Diantaranya dari M16 A2 pistol grip, foregrip baru yang membungkus total bagian depan, sampai penambahan RIS add on pada upper receiver untuk pemasangan optik secara cepat. Model RIS yang diadopsi mirip yang dirilis pabrikan custom Brugger & Thomet yang kondang di Swiss dan Belgia. Cara pemasangannya terhitung mudah, tinggal mengendorkan sekrup rail, memasangnya pada slot kemudian megencangkannya. Tidak lebih dari 30 detik, seorang prajurit Raider dapat memasang optik pada SS-1 R5. Flash hider tradisional milik FN juga ditinggalkan demi menyandingkan SS-1 R5 dengan flash hider model M16 A2.
Karena digunakan untuk pasukan elit, SS-1 R5 dibuat dengan sebntuhan material ekstra, seperti halnya SS-1 M series yang dibuat khusus untuk Korps Marinir TNI AL, sebagian material SS-1 R5 juga dibalut pelapis anti karat dengan phosphate.


Sebagai senjata berkategori carbine dengan laras pendek, SS-1 R5 tetap disiapkan untuk situasi duel satu lawan satu, dalam hal ini SS-1 R5 punya mounting bayonet, sehingga masih bisa dipasangi sangkur, sementara hal itu tidak ada di SS-1 V5

RIS (Rail Interface System)
RIS menjadi keunikan tersendiri dari SS-1 R5, RIS rail yang ada dirancang dengan fitur free float sehingga akurasi senjata dapat dimaksimalkan walaupun larasnya pendek. RIS ini disiapkan untuk penempatan perangkat optik secara cepat. Meski miskin asesoris, keluarga SS-1 biasa mengadopsi jenis optik FN Scope dan Meprolight M211
Rail interface di SS-1
Rail interface di SS-1
Flash hider SS-1.
Flash hider SS-1.

FN Scope
Perangkat optik ini dibuat oleh pabrikan Hendsoldt yang terkenal sebagai manufaktur optic berkualitas di Eropa. Kemampuan optik ini dapat melakukan pembesaran hingga 4x.
FN Scope
Meprolight M211.
Meprolight M211.

Meprolight M211
Perangkat optik buatan Israel ini menggunakan sumber tenaga tritium, M211 mampu memberikan akuisisi tembakan secara cepat dan parallax free. Prajurit yang beroperasi di lapangan tak perku khawatir kehabisan baterai di tengah pertempuran. (Bayu Pamungkas)
  • Spesifikasi SS-1 R5 Raider
  • Panjang : 770 mm (popor terentang)/ 550 mm (popor
  • terlipat)
  • Kaliber : 5,56 x 45 mm
  • Laras : 252 mm (10.5 inchi)
  • Jarak tembak efektif : 300 meter
  • Bobot tanpa magasin : 3,37 kg
  • Bobot dengan magasin : 3,73 kg
  • Kecepatan tembak : 650 – 700 proyektil per menit
  • Pembidik : Combat scope

Indomil.

Minggu, 15 Februari 2015

TNI AU Berharap Pemerintah Setujui Sukhoi Su-35

 
Sukhoi Su-35. Foto: Wikipedia
Sukhoi Su-35. Foto: Wikipedia

TNI Angkatan Udara (AU) Indonesia menilai pesawat Sukhoi Su-35 buatan Rusia memenuhi spesifikasi untuk melengkapi kekuatan TNI AU. Hal tersebut disampaikan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Madya TNI Agus Supriatna kepada kantor berita Antara, Rabu (4/2).
“Semoga pengadaan pesawat Sukhoi Su-35 disetujui pemerintah. Semua boleh menawarkan (pesawat), tapi keinginan kami sebagai orang-orang operasional ingin kalau bisa pesawat generasi IV ke atas,” ujar Supriatna usai membuka Rapim TNI AU di Mabesau Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu.
Menurut Supriatna, selain memenuhi spesifikasi, pesawat Sukhoi Su-35 dipilih TNI AU karena perawatan pesawat tersebut lebih mudah dilakukan.
TNI AU menginginkan pesawat tempur yang lebih canggih untuk menggantikan pesawat F-5 Tiger II yang telah memasuki masa pensiun.
Infografis Perbandingan Spesifikasi Teknis Su-35S dan F-22 
su35 vs f-35
Opsi pembelian 16 pesawat tempur Su-35 dari Rusia tengah dipertimbangkan Kementerian Pertahanan Indonesia. Opsi pembelian pesawat tersebut telah lama dibicarakan dalam pertemuan perwakilan Kementerian Pertahanan Indonesia Purnomo Yusgiantoro dengan Kepala Staf dan Komando Angkatan Udara Rusia pada pertengahan Januari 2014 lalu.
Saat ini Indonesia memiliki 16 pesawat tempur Su-27SK/SKM dan Su-30 MK/MK2. Hingga 2024, akan ada delapan skuadron yang berisi 16 unit pesawat tipe “Su” per skuadronnya. Kemungkinan skuadron tersebut akan diisi oleh pesawat unggulan saat ini, yakni Su-35.

Debut Pesawat Tempur Su-35 di HUT Angkatan Udara Rusia

Jet tempur super manuver multiguna generasi 4++ terbaru Su-35 untuk pertama kalinya ikut serta dalam atraksi peragaan manuver di udara dalam perayaan hari jadi Angkatan Udara Rusia di Lipetsk, Selasa (12/8). Hal tersebut diberitakan RIA Novosti berdasarkan pengumuman Perwakilan Kementerian Pertahanan Rusia divisi Angkatan Udara Igor Klimov.
Untuk merayakan hari jadi Angkatan Udara Rusia yang ke-102, Pusat Aviasi Lipetsk menyelenggarakan airshow yang menghadirkan grup penerbang ternama Rusia seperti Sokoly Rossiy, Russkiy Vityazi, dan Strizhi.
Pesawat tempur Su-35 memiliki spesifikasi yang mendekati karakteristik pesawat tempur generasi kelima. Menjelang 2015, 48 unit Su-35 akan didatangkan untuk memperkuat Angkatan Udara Rusia. (Sumber: RIA Novosti).

Sanksi Barat Tak Pengaruhi Minat Ekspor dari Rusia, Termasuk ke Indonesia

Rusia terus bertahan di peringkat kedua dunia dalam jumlah pendapatan yang diperoleh dari hasil penjualan ekspor senjata dan teknologi militer. Pada awal 2014 lalu diumumkan hasil akhir pendapatan ekspor senjata selama 2013 telah melewati angka 15 miliar dolar AS. Dalam 20 tahun terakhir, Indonesia telah membeli beberapa pesawat tempur multifungsi dari Rusia, yakni Su-27 dan Su-30, sepuluh helikopter Mi-35, 14 helikopter Mi-17, 17 kendaraan tempur infanteri BMP-3F, 48 kendaraan lapis baja BTR-80A, dan sembilan ribu senapan Kalashnikov AK-102. Pada Desember 2011, Rusia dan Indonesia telah menandatangani kontrak pengiriman enam pesawat tempur ke Indonesia seharga 500 juta dolar AS. (indonesia.rbth.com) JKGR.

TNI-AU Dalam Bingkai

Dunia kedirgantaraan memang sangat menarik untuk diselami. Terlebih bila memiliki hobi fotografi. Pasalnya, pesawat, baik itu pesawat angkut, tempur maupun helikopter bisa menjadi objek yang tak kalah menarik dan pastinya penuh tantangan. Perpaduan antara seni dan pesawat itulah yang menghasilkan karya luar biasa. Seperti yang ditampilkan dalam pameran dan peluncuran photo book Indonesian Air Forces-the present generation, di Plaza FX Sudirman Jakarta.


Tentu bukan hal mudah menghasilkan karya foto seperti ini. Sang Fotografer, Jeff Prananda mengaku butuh waktu 2,5 bulan untuk pengambilan gambar, serta kurang lebih 1 bulan untuk memilih dan memproses hasil foto. Selain lokasi yang saling berjauhan, cuaca, teknik fotografi, karakter pesawat menjadi tantangan tersendiri yang harus diatasi.
Namun, hasilnya memang sungguh luar biasa. Puluhan foto pesawat TNI-AU terekam apik dalam bingkai foto. Bahkan banyak foto diantaranya boleh dibilang langka. Bagi TNI-AU, hal ini juga mendatangkan keuntungan, yaitu makin memudahkan sosialisasi. Nah, bagi anda yang ingin melihat hasil karya Jeff Prananda, silahkan datang ke FX Plaza di Jalan Sudirman Jakarta.




ARC.

TNI dalam Arus Konflik

 
Prajurit TNI sedang latihan menembak. [Istimewa]
Prajurit TNI sedang latihan menembak. [Istimewa]
 
Belakangan ini, mulai tampak upaya untuk menyeret Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke dalam pusaran konflik di tengah masyarakat. Ada gejala untuk menjadikan TNI sebagai institusi utama dalam menyelesaikan setiap konflik, baik sosial maupun politik.
Upaya itu mulai terlihat dalam konflik yang terjadi antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian RI (Polri). Ketua KPK Abraham Samad yang didukung sejumlah kalangan pernah meminta agar TNI ikut menjaga gedung KPK. Permintaan itu dikemukakan karena muncul kekhawatiran aparat kepolisian menggeledah gedung KPK.
Keinginan untuk kembali melibatkan TNI muncul ketika ada kabar tentang teror yang dilakukan terhadap staf dan pegawai KPK. Teror yang diungkap oleh Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto itu memang tidak menyebutkan secara spesifik identitas pelaku teror. Namun, ketika pernyataan itu muncul, mata publik langsung mengarah ke polisi. Soalnya, beberapa petinggi KPK dan Polri saat ini tengah bersitegang.
Wacana tentang pelibatan TNI dalam konflik yang terjadi saat ini, terutama dalam kasus KPK dan Polri, menimbulkan kekhawatiran bahwa TNI bakal kembali menjadi aktor utama dalam penyelesaian konflik sosial. Kehadiran TNI ditakutkan akan berlanjut kepada masuknya institusi militer itu ke dalam arus politik Tanah Air.
Kekhawatiran itu kembali muncul setelah pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 2 Tahun 2015 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial. PP yang diteken Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 2 Februari 2015 itu mengatur tentang pelibatan TNI dalam penanganan konflik sosial.
Pasal 40 Ayat 1 PP itu menyebutkan, bantuan penggunaan dan pengerahan kekuatan TNI untuk penghentian konflik dilaksanakan setelah adanya penetapan status keadaan konflik oleh pemerintah daerah atau pemerintah. Lalu, Pasal 41 Ayat 1 menyebutkan, pelaksanaan bantuan penggunaan dan pengerahan kekuatan TNI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 Ayat 2 dikoordinasikan oleh Polri.
Pasal 51 Ayat 1 menegaskan tentang pelibatan TNI dalam konflik yang berskala nasional. Disebutkan, dalam status keadaan konflik skala nasional, Presiden berwenang mengerahkan kekuatan TNI setelah berkonsultasi dengan pimpinan DPR.
Pada Ayat 2 disebutkan, dalam pengerahan kekuatan TNI sebagaimana dimaksud pada Ayat 1, Menteri Pertahanan memberikan dukungan administrasi dan saran pertimbangan kepada Presiden.
PP tentang Penanganan Konflik Sosial itu telah secara tegas mengatur tentang pelibatan TNI dalam menanangi konflik sosial. PP itu dengan jelas menegaskan bahwa TNI tidak bisa serta merta dikerahkan dalam penanganan konflik. Kehadiran TNI harus dengan perintah Presiden setelah berkonsultasi dengan DPR.
Poin penting lain yang harus dilihat dalam PP ini adalah Polri tetap menjadi institusi terdepan dalam penanganan konflik. Prajurit TNI baru dikerahkan jika Polri tidak mampu lagi mengatasi konflik. Dalam hal ini, Polri meminta bantuan TNI, namun komando pengendalian konflik tetap berada di tangan institusi sipil itu.
Meski PP tersebut telah memberi garis batas yang jelas tentang peran TNI dan Polri dalam penanganan konflik, bukan tidak mungkin ada pihak-pihak yang menafsirkannya berbeda. Bisa jadi, penerbitan PP yang bersamaan dengan adanya konflik KPK-Polri dijadikan pintu masuk untuk kembali menyeret TNI dalam pusaran konflik sosial masyarakat, bahkan dalam konflik politi.
Bukan tidak mungkin pula kehadiran PP itu diartikan sebagai “surat perintah” bagi TNI untuk ikut menjaga ketertiban masyarakat tanpa ada koordinasi dengan Polri. Hal itu akan menimbulkan aksi-aksi razia (sweeping) sewenang-wenang oleh aparat TNI. Tentu saja kita tidak mau hal itu terjadi.
Kita tidak ingin sejarah buruk terulang ketika peran TNI dalam persoalan sosial dan politik Tanah Air begitu besar, seperti yang terjadi pada era Orde Baru. Jika itu yang terjadi, kita tidak hanya kembali ke masa lalu, tapi juga ibarat menggali lobang sendiri.
Kita mengimbau para elite politik dan seluruh lapisan masyarakat lain untuk tidak kembali menyeret TNI ke dalam pusaran konflik sosial dan politik. Kita harus menarik garis yang tegas tentang fungsi serta peran TNI dan Polri.
Tugas utama Polri selain menegakkan hukum juga menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Sedangkan, tugas pokok TNI adalah menjaga pertahanan negara demi keutuhan dan kedaulatan NKRI. Pemahaman ini yang harus dipegang oleh para aktor politik Tanah Air. (beritasatu.com) JKGR.

Boeing Jajaki Kerjasama Pengembangan CH-47 Chinook di Indonesia

ch-47-chinook-920-11
Selain telah mendapatkan kontrak pengadaan delapan unit helikopter tempur AH-64E Apache, Boeing disebut-sebut bakal segera memasok tiga unit helikopter angkut berat CH-47 Chinook untuk kebutuhan Puspenerbad TNI AD. Pengadaan Chinook sudah terendus sejak 2013 lalu, dan dalam beberapa kesempatan pihak TNI AD kerap menampilkan replika model helikopter dengan tandem rotor ini. Bersama dengan pengadaan 17 unit helikopter UH-60 Black Hawk, ketiga Chinook rencananya akan dibeli lewat skema kredit ekspor.
Melanjutkan kerjasama yang telah terjalin, pada hari Kamis lalu (12/2), Menhan Ryamizard Ryacudu mendapat kunjungan Senior Executive of Boeing Company Teong Tae Pak di Wisma Kemhan, Jakarta. Dikutip dari Janes.com (12/2), maksud kunjungan delegasi Boeing untuk menjajaki kemungkinan kerjasama dalam pengembangan dan adopsi helikopter Chinook untuk kebutuhan di darat dan laut.
Belum diketahui persis, detail dari kerjasama yang dimaksud, melihat gelar kemampuannya yang heavy lift multi purpose dengan ruang cargo yang besar, Chinook tak hanya handal untuk operasi militer, tapi juga ideal untuk mendukung misi kemanusiaan, SAR hingga pemadaman kebakaran hutan.
Selain Indonesia, di Asia Tenggara Chinook sudah lama dimiliki Singapura. Negeri Jiran ini merangkum armada CH-47 Chinook di dalam Skadron 127. AU Singapura tercatat punya enam unit CH-47D dan dua belas unit CH-47SD Chinook. Selain itu, AD Thailand juga ikut mengguakan CH-47 Chinook. Saat berkecamuknya Perang Vietnam, Chinook juga menjadi etalease kelengakapan udara di pihak Vietnam Selatan.
boeing-47-ch-chinook
Ikatan kerjasama antara Indonesia dan Boeing kian erat setelah MoU pengadaan delapan unit AH-64E Apache senilai US$600 juta, yang di dalamnya sudah termasuk program pelatihan, suku cadang, persenjataan, dan lain-lain. Dirunut dari sisi keuangan, ini merupakan kontrak pembelian senjata terbesar dari AS pasca diberlakukannya embargo alutsista untuk Indonesia pada periode 1990 – 2005 lalu.
Bagi Indonesia, Chinook bukanlah helikopter angkut berat pertama, sebelumnya di tahun 60-an TNI AU pernah mengoperasikan helikopter Mi-6, dan saat ini juga ada heli angkut berat Mil Mi-17 V5 yang dioperasikan Puspenerbad TNI AD.
CH-47 Chinook dalam sejarahnya mulai mengudara pada tahun 1962, telah hadir dalam beberapa varian dan dioperasikan oleh 22 negara dengan total produksi lebih dari 1.180 unit. Berikut adalah spesifikasi standarnya. (HANS)
  • Kru: 3 (pilot, kopilot, dan teknisi)
  • Kapasitas: 33-55 tentara atau kargo 12.700 kg
  • Panjang: 30,1 meter
  • Rotor diameter: 18,3 meter
  • Tinggi: 5,7 meter
  • Berat kosong : 10.185 kg
  • Max. berat lepas landas : 22.680 kg
  • Mesin : 2 × Lycoming T55-GA-714A turboshaft , 4.733 hp (3.631 kW) masing-masing
  • Kecepatan max : 315 km/jam
  • Kecepatan jelajah : 240 km/jam
  • Jangkauan terbang : 741 km
  • Jangkauan terbang ferry : 2.252 km
  • Ketinggian terbang : 5.640 meter
  • Kecepatan menanjak : 7,73 meter/detik

Indomil.

Pasukan Elit TNI AL Ditempa di Banyuwangi

 

latmarinird
Puluhan pasukan TNI Angkatan Laut (AL) mengikuti latihan tempur di Pusat Latihan Tempur Marinir Lampon, di Desa Pesanggaran, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Sabtu (14/2/2015).
Mereka adalah siswa sekolah khusus Infantri TNI AL, yang akan masuk dalam pasukan elit Marinir TNI AL.
Menurut Komandan Sekolah Khusus Pusat Pendidikan Infantri (Kodikmar) Surabaya, Letkol Marinir, Edy Jayanto. Ada 15 siswa yang menjalani latihan tempur selama 4 hari, mulai tanggal 12 – 15 Februari 2015.
“Ini sebagai syarat masuk menjadi pasukan elit Marinir. Kita tempa disini. Mereka harus menaklukkan medan menantang di kawasan pantai selatan yang berbahaya,” ujarnya kepada detikcom.
Sebelumnya, kata Edy, ada 22 siswa yang ditempa di Karang Tekok Situbondo. Namun lantaran tidak memenuhi syarat, 7 orang harus kembali lantaran dianggap tidak lulus.
“Kita sengaja pilih mereka secara selektif. Jika tidak memenuhi kriteria ya kita coret,” tandasnya.
Dalam latihan tersebut, peserta dilatih stategi perang di Lampon dan Pantai Grajagan. Mereka dilatih bertempur di laut, darat dan udara.
Mereka menggelar latihan Hellitone, Pasdropping dan Staibo. Mereka harus turun dari helikopter dengan menggunakan tali, sebagai latihan ketepatan sasaran dalam operasi tanpa adanya helipad. (detikNews)