Jumat, 13 Februari 2015

Panglima TNI Bicara Soal Cabai Sampai Petani Ibarat Museum

Panglima TNI Moeldoko. (ist)
Diskusi ketahanan pangan dalam acara Jakarta Food Security Summit (JFCC) ke-3 mengangkat pembahasan berbagai persoalan seperti pengadaan lahan bagi produktivitas pertanian di Indonesia.
Panglima TNI Moeldoko tak ingin melewatkan kesempatan untuk berbagi cerita dihadapan para pengusaha mulai dari harga pangan hingga nasib petani di Tanah Air.
Kisah pertama, dipaparkan Moeldoko mengenai harga komoditas cabai yang sempat melonjak beberapa bulan lalu sampai Rp 125 ribu per kilogram (kg). Padahal, negara ini mampu memproduksi cabai berkualitas karena didukung lahan yang subur.
“Orang-orang di sini kesulitan beli lombok atau cabai yang harganya mencapai Rp 125 ribu per kg, tapi di daerah perbatasan warga setempat bisa menanam cabai berukuran besar. Itu artinya lahan kita subur sekali, tapi masalahnya mau dibawa kemana setelah ditanam,” paparnya di JFSS ke-3 JCC, Jumat (13/2/2015).
Lebih jauh  kata dia, seluruh orang teriak swasembada pangan seperti gula, beras, jagung, kedelai, daging dan lainnya. Sayangnya, target ini kurang mendapat dukungan bagi para petani, diantaranya ketersediaan lahan, pupuk dan air. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka pemerintah sulit mencapai swasembada dan hanya bertumpu pada impor pangan.
Dari sisi ketersediaan lahan, Moeldoko berkisah, betapa luasnya area lahan di Indonesia yang dapat diamati dari udara. Sebagai contoh di Sumatera, Kalimantan dan Papua.
“Tapi begitu sampai di darat, mau cari lahan 100 hektare saja susahnya minta ampun. Karena lahan-lahan itu sudah ada pemiliknya, ini lahan orang Depok, orang Jakarta, sampai nggak ada yang kosong,” tutur dia.
Moeldoko menyebut, petani bak museum karena kekurangan fasilitas yang memadai. “Petani sekarang seperti musem, cangkulnya sudah tua dan yang bekerja sudah tua. Kalau begini, masih adakah anak muda mau jadi petani?,” katanya.
Tak ingin regenerasi petani mati suri, dia mengaku, telah melakukan upaya semacam diskusi antara mahasiswa dengan praktisi yang berhasil meningkatkan produktivitas pertanian.
“Jadi ini semacam jembatan antara para petani dengan mahasiswa yang punya idealisme. Sehingga terjadi interaksi dan pemahaman sama mengenai pertanian, pangan dan swasembada,” pungkas Moeldoko. (Liputan6)

Ekspedisi NKRI Ajang Silaturahmi Nasional


Bupati Ende Ir.Marcelinus Y.W.Petu selaku Inspektur Upacara pada pembukaan Ekspedisi NKRI Koridor Kepulauan Nusa Tenggara  2015 subkorwil Ende,Senin ( 9/2/2015) bertempat di lapangan upacara Brimob Sub Den 3 Detasemen Pelopor  Ende.
“ Ekspedisi NKRI 2015 ini merupakan penjabaran misi pemerintah dan agenda prioritas pemerintahan Jokowi-JK atau yang disebut dengan NAWACITA yakni tiga misi pemerintahan dalam Ekspedisi NKRI adalah memujudkan keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah , memujudkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju dan sejahtera serta misi mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju, kuat dan berbasiskan kepentingan nasional,”Kata Bupati Ende 
Ir.Marcelinus menambahkan 4 agenda prioritas NAWACITA dalam Ekspedisi NKRI ini adalah menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara, membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan, melakukan revolusi karakter bangsa serta memperteguh ke-bhineka-an dan memperkuat restorasi sosial Indonesia. 
 Melalui ekspedisi NKRI  semakin mengenal luas kekayaan negeri  serta memahami berbagai macam potensi, ancaman yang akan merongrong bangsa ini ke depan.
 “Yang paling berharga dari ekspedisi NKRI ini  adalah terjalinnya komunikasi secara langsung dan terjalinnya ikatan batin antara komponen bangsa sehingga tanpa sadar  kita tebarkan benih-benih persaudaraan, memupuk nasionalisme untuk memperkokoh kesatuan dan persatuan bangsa,” tutup Marcelinus dalam sambutannya. 
Komandan Kodim 1602/Ende  Letkol Kav Tri Handoko selaku Komandan Subkorwil Ende mengatakan Peserta Ekspedisi NKRI 2015 di subkorwil Ende mengerahkan tim  dari pusat, dengan melibatkan  kementerian, lembaga Negara,TNI ,Polri , elemen masyarakat, Akademisi dan Pemerintah Pusat maupun pemerintah Daerah.
Para peserta ekspedisi NKRI akan melaksanakan penjelajahan, penelitian dan pengabdian msyarakat di wilayah Ende selama empat bulan, sedangkan hasil dari ekspedisi ini akan diserahkan kepada pemerintah pusat dan daerah

Mantan Panglima TNI Mengaku Tahu "Dalang" di Balik Teror ke KPK

Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto/kompas
Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto menduga ada sejumlah oknum yang berada di balik teror terhadap pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi. Kendati memprediksi sejumlah “dalang” dalam persoalan tersebut, Endriartono enggan mengungkapnya.
“Ya, ada, tapi tentu tidak bisa saya buka di sini,” ujar Endriartono di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (12/2/2015).
Endriartono tidak ingin menyebut dari mana saja orang yang diduganya terlibat dalam aksi teror itu. Saat ini, ia masih memantau perkembangan teror kepada KPK. Menurut Endriartono, teror tersebut dijadikan alat untuk melemahkan KPK.
“Teror itu memang salah satu alat. Kita lihat apakah ini hanya teror menakut-nakuti atau bisa saja kemudian dilakukan,” kata Endriartono.
Presiden Joko Widodo mengaku sudah berkoordinasi dengan KPK dan Polri terkait ancaman yang diterima pegawai KPK. Jokowi menginstruksikan agar kepolisian bisa menangkap pelaku teror itu.
“Polri sudah saya undang. Ya, kalau memang betul ada yang meneror, ya tangkap,” kata Jokowi.
Jokowi mengaku sudah bertemu pimpinan KPK dua hari lalu. Selain itu, Jokowi juga sudah berkoordinasi dengan pucuk pimpinan Polri. Dalam pertemuan dengan kepolisian, kata Jokowi, pihak kepolisian ternyata juga menerima ancaman serupa.
“Saya tanyakan yang meneror siapa. Ini yang sulit dilacak. Kalau meneror jelas, ya tangkap saja,” ucap dia.
Kekisruhan yang terjadi setelah KPK menetapkan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai tersangka kasus korupsi makin berkembang ke arah yang mengkhawatirkan.
Jika sebelumnya pegawai KPK dan keluarganya mendapat teror berupa telepon atau pesan gelap, kini mereka mendapat ancaman pembunuhan. (kompas)

Lima oknum TNI AD penjual amunisi dipecat

Ilustrasi Amunisi (ist)
 
... tidak butuh prajurit-prajurit saya sebagai duri dalam tubuh kami...
Panglima Kodam XII/Cenderawasih, Mayor Jenderal TNI Fransen G Siahaan, mengatakan lima oknum anggotanya terancam dipecat setelah terbukti menjual amunisi kepada Kelompok Sipil Bersenjata.

"Saya masih terus selidiki. Tindakan yang saya lakukan, tadi saya sudah tanya, lima itu sudah benar-benar sudah terbukti, dan sudah di polisi militer dan lanjut ke pengadilan militer," katanya, di Kota Jayapura, Kamis.

"Tapi saya juga secara administrasi jalan yaitu PTDH, pemberhentian tidak dengan hormat itu. Nanti di jalan terus apa hukumannya, saya menyarankan hukuman paling berat. Atau mungkin karena pertimbangan anak dan istri mungkin hukuman seumur hidup, tapi dipecat," lanjutnya.

Menurut dia, kelima oknum anggotanya itu duri dalam tubuh TNI AD sehingga apa yang dilakukan harus dipertanggungjawabkan secara hukum. "Saya tidak butuh prajurit-prajurit saya sebagai duri dalam tubuh kami," katanya.

Ketika disinggung apakah dalam penjualan amunisi itu ada keterlibatan perwira, dia katakan hal itu sedang diselidiki.

"Saya lagi membongkar semua. Jadi tidak ada istilahnya toleransi, siapapun akan saya hantam karena bagaimanapun ini, dia khan menyuruh orang lain menembak saya nich, menembak kita semua?." katanya.

"Coba prajurit saya menjual amunisi, menembak panglima, bukan main? Berarti dia itu khan musuh saya, saya hantam juga dia lho," tambahnya.

Siahaan mengaku tidak segan-segan menindak para bawahannya yang terbukti melawan hukum, apa lagi menjual amunisi. "Saya hantam dia juga, saya senang ini terbongkar. Saya tidak malu, khan saya sudah katakan itu," katanya.

Mengenai motif dari menjual amunisi, Siahaan mengemukakan, alasan para oknum prajurit itu sebenarnya karena faktor ekonomi. "Ini sebenarnya hanya kepentingan bisnis murni, faktor ekonomi," katanya.

Ketika ditanya, apakah gaji yang diterima para oknum prajurit itu tidak mencukupi, Siahaan menjawab,"Cukup sebenarnya. Tetapi karena apa itu? Gaya hidupnya, istrinya ada di Jawa sana, khan begitu. Berarti ada dua dapur, dia hidup di sini mahal tapi ada anaknya sekolah di Jawa, ada isrinya di sana," katanya.

Siahaan menegaskan, proses PTDH sedang berjalan termasuk tiga oknum TNI AD yang beberapa waktu lalu terlibat menjual amunisi di Wamena, Kabupaten Jayapura.

"PTDH sudah berjalan, semua di-PTDH termasuk yang tiga terdahulu, di Wamena, ada yang sudah MPP, pensiun dan masih aktif. Yang aktif di-PTDH juga, jadi itu yah, saya tindak tegas," katanya.

Sebelumnya, pada akhir Januari 2015 lima prajurit yang bertugas di Ajudan Jenderal Kodam XVII/Cenderawasih ditangkap petugas gabungan TNI dan Kepolisian Indonesia karena menjual amunisi kepada kelompok KSB pimpinan Porum Wenda.

Kelima oknum prajurit itu berinisial, Sertu MM (46), Sertu NHS (24) Pratu S (27), Pratu RA (29), dan Serma S (39).


Antara.

UAV Heron, Apa Kabarmu Saat Ini?

iaf-uav
Perkembangan teknologi industri militer akhirnya menghantarkan kita pada alutista tak berawak yang dikendalikan dari jauh. Namun, unmanned aerial vehicle (UAV) atau lebih populer dengan istilah drone sendiri bukan barang baru di catatan sejarah. Menurut wikipedia, Konsep drone dapat ditelusuri sampai pertengahan abad ke-19, ketika Austria mengirim balon bom tanpa awak untuk menyerang Venesia.
Pada tahun 2012, tercatat Angkatan Udara Amerika Serikat mendayagunakan 7.494 UAV dan UCAV (unmanned combat aerial vehicle), berarti hampir 1 dari 3 pesawat Angkatan Udara AS adalah UAV. Memasuki abad ke 21 peran UAV di militer sudah lebih dari IRS (inteligence, reconnaissance, and surveillance) dengan merambah sebagai unit serang udara ke darat. Pada era Perang Dingin, untuk mengurangi resiko jatuhnya pilot di teritori lawan Amerika Serikat secara intensif mengembangkan teknologi drone.
Bagaimana dengan Indonesia? UAV sendiri bakal dikerahkan untuk menjaga perbatasan Indonesia dan Malaysia di Kalimantan, termasuk patroli hingga ke Kepulauan Natuna. Hal ini sejalan dengan konsep penggunaan drone yang dicanangkan Presiden Jokowi saat kampanye. UAV digunakan untuk memantau perbatasan karena menggunakan tenaga manusia untuk mengawasi perbatasan dibutuhkan ribuan orang, bahkan jika menggunakan pesawat biasa memiliki keterbatasan dari sisi bahan bakar, sehingga pengawasan di wilayah perbatasan tidak dapat maksimal. Drone dianggap lebih efisien dan hemat.
Sejak 2012 lalu, tersiar kabar bahwa Indonesia akan membeli 4 unit Heron UAV buatan Israel untuk menjadi ‘teman’ bagi pesawat tanpa awak jenis wulung. Namun sampai saat ini belum jelas juntrungannya soal penggunaan Heron oleh Indonesia. Wulung sendiri sudah diserahterimakan, namun sampai detik ini belum operasional secara penuh.


UAV Heron dikembangkan oleh divisi Malat (UAV) Israel Aerospace Industries. Dalam medan pertempuran, Heron dapat digunakan sebagai missile guidance selain tentunya mata-mata. Sensor dalam tubuh pesawat berkomunikasi dengan stasiun pengendali darat secara real time, via direct line of data link atau melalui relay satelit.
UAV Heron mampu terbang selama 50 jam dengan ketinggian 10.000 meter kemudian menangkap dan menghasilkan gambar full colour, cocok untuk misi pengintaian juga surveilance. Secara teori, UAV yang berkecepatan maksimal 200 km per jam ini bisa diprogram untuk terbang secara otomatis dari take off hingga landing atau manual, atau kombinasi dari keduanya dalam kondisi cuaca apapun. Dari kemampuannya yang spektakuler, UAV jenis ini dikategorikan sebagai MALE (medium altitude long endurance) Secara teori UAV memiliki jarak tempuh sekitar 400 km. Pada kenyataannya, jarak operasionalnya kurang dari angka tersebut, tergantung dari payload yang dibawa saat mengudara.

Varian Heron, Super Heron.
Varian Heron, Super Heron.
Heron milik AU Turki.
Heron milik AU Turki.
FLIR menjadi salah satu payload wajib Heron.
FLIR menjadi salah satu payload wajib Heron.
normal_IAI_HERON_UAV
Hermes 900
Hermes 900
Heron milik AU Australia.
Heron milik AU Australia.

Pembelian Heron sendiri ramai dibicarakan. Bukan karena masyarakat berkeberatan secara ekonomis, ataupun pertimbangan strategis namun lebih ke arah politik. Sebagai negara dengan mayoritas populasi muslim, seringkali kita bersebrangan dengan politik Israel dalam menyikapi Palestina. Bahkan pembelian Heron ini sempat menimbulkan aksi demonstrasi.
Meski pengadaan UAV buatan Israel banyak menuai kecaman di dalam negeri, tapi satu yang harus diketahui, bahwa Israel saat ini menguasai pasar UAV (drone). Nama-nama UAV yang kondang, seperti Searcher dan Hermes juga buatan Israel. Bahkan dari AS, Perancis, Rusia, dan India turut membeli UAV dari Israel. Secara legal, pengadaan UAV dari luar negeri sudah tertuang dalam Surat Keputusan Dephan Nomor SKEP/723/M/IX/2006. Surat tersebut dikeluarkan 21 September 2006 dan ditandatangani Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono. Menhan Juwono Sudarsono saat itu mengungkapkan, pengadaan UAV oleh Indonesia dari Israel adalah langkah realistik mengingat alat serupa yang dibuat di dalam negeri belum memiliki teknologi yang dibutuhkan oleh TNI.
Teknisi AU Israel sedang memeriksa mesin Heron.
Teknisi AU Israel sedang memeriksa mesin Heron.
Heron TP
Heron TP

Hingga kini keberadaan UAV buatan Israel yang ‘seharusnya’ sudah tiba di Indonesia, belum bisa terkonfirmasi. Secara resmi belum ada statement kehadiran UAV ini, begitu pun belum terlihat jejak penampakannya di Lanud Supadio, Pontianak, yang disebut-sebut bakal jadi home base-nya. Lepas dari itu, malah ada pihal yang meragukan jika Indonesia akan membeli UAV sekelas Heron, alasannya dimensi pesawat  dirasa terlalu besar. Benar atau tidaknya, mari kita tunggu saja update berita selanjutnya. (Deni Adi)

Kamis, 12 Februari 2015

SS-1 M Series: Berlapis Phosphate Diciptakan Untuk Marinir TNI AL

pindad25
Senapan Serbu (SS)-1 buatan Pindad boleh jadi masih jauh dari sempurna. Tapi harus diakui, Pindad cukup gigih untuk menyokong kebutuhan operasional senjata perorangan bagi TNI dan Polri, bahkan Pindad pun membuat varian SS-1 khusus untuk Bea Cukai. Dari beragam varian dan sub varian SS-1, ada satu jenis SS-1 yang dipersiapkan dengan kekuatan ‘lebih.’ Kekuatan ini bukan pada kemampuan tembak dan performa lainnya. Lewat varian SS-1 M, Pindad menjawab tantangan untuk mewujudkan senjata standar dengan kemampuan yang ‘bandel.’
SS-1 M (Marinized) merupakan varian SS-1 yang sudah di marinirisasi, artinya senjata ini dirancang untuk kebutuhan Korps Marinir TNI AL. Ke khasan dari varian M adalah adanya lapisan phosphating yang menjamin karat tidak berani mendekat. Karena proses pelapisan ini, SS-1 M tampil beda dengan varian SS-1 lainnya, senjata SS-1 Marinir ini punya warna abu-abu yang menyiratkan kesan lebih garang.
Phosphating adalah proses perlakuan terhadap logam (besi, galvanized atau aluminium) menggunakan asam phosphate dan senyawa lainnya dimana permukaan logam bereaksi secara kimia dengan media asam phosphate tersebut membentuk lapisan kristal phosphate yang tidak larut yang melindungi permukaan logam secara keseluruhan. Ini artinya, SS-1 M dapat dioperasikan penuh pada lingkungan perairan berkadar garam tinggi, seperti laut dan rawa. Bahkan, senjata tetap berfungsi setelah terendam lumpur atau pasir. Selain digunakan oleh pasukan Marinir, SS-1 M juga dipakai oleh Komando Pasukan Katak (Kopaska).
tembak11USMC-100530-M-4896B-292ss1 m1
Menyadari bahwa Korps Marinir terdiri dari beberapa elemen tempur, maka SS-1 M dirancang dengan tiga varian dasar yang sama dengan varian SS-1 reguler kaliber 5,56 mm, yaitu SS-1 M1 (laras 16 inchi), SS-1 M2 (laras 14,5 inchi), dan SS-1 M5 (laras 10,5 inchi). Penggunaan SS-1 M2 yang berlaras pendek, ideal untuk digunakan pada pasukan kavaleri Marinir, begitu pun dengan SS-1 M5, jadi ideal untuk kebutuhan close quarter battle bagi satuan elit Denjaka dan Taifib (Intai Amfibi) Marinir.
Lepas dari pelapis phosphat, pada dasarnya SS-1 sudah dirancang untuk lebih bandel dari senapan M-16 A1. Selain menganut mekanisme piston ala AK-47, rahasia kebandelan SS-1 terletak pada sistem pengaturan gas yang dimilikinya. Jika laras dan mekanisme telah dipenuhi kotoran, pengguna tinggal menggeser tuas pengatur aliran gas yang terletak di upper receiver ke sisi kanan. Hasilnya, aliran gas akan dialirkan maksimal untuk mendorong piston, alhasil SS-1 akan mampu beroperasi tanpa hambatan. Pengguna tinggal mengembalikan tuas ke posisi kiri jika kotoran di dalam mekanisme sudah berkurang.
Nampak perbedaan warna senjata yang dilapisi Phosphate, SS-1 M ada di bagian atas.
Nampak perbedaan warna senjata yang dilapisi Phosphate, SS-1 M1 ada di bagian atas.
SS-1 M2
SS-1 M2
SS1-M2-alt
SS-1 M2
SS-1 M1
SS-1 M1
Dust cover pada SS-1
Dust cover pada SS-1

Tambahan perlindungan juga datang dari dust cover yang berbentuk lonjong tepat di belalang tuas pengokang. Dust cover ini akan membuka dan menutup seiring pergerakan mekanisme penembakan, melindungi mekanisme internal terhadap gangguan debu yang berusaha masuk.
Untuk urusan laras, SS-1 pun sudah dirancang Pindad dengan tuntutan standar NATO yang mengharuskan laras twist 1:7. Standar ini diterapkan agar dapat melontarkan peluru SS-109 maupun peluru seri MU-5 yang dibuat Pindad dengan sama baiknya. Dengan panjang laras 16 inchi, SS-1 dapat melesatkan proyektil MU-5TJ (peluru tajam) dengan kecepatan awal 883 meter per detik. Lesatan proyektil ini amat ideal untuk menciptakan efek perlukaan balistik maksimal yang mematikan pada jarak 300-400 meter. (Bayu Pamungkas)

Spesifikasi SS-1 M 

Spek

Indomil.

Berencana Beli 2 Unit Penyapu Ranjau Baru, TNI AL Siap Pensiunkan Tripartite Class

dansatran-melambaikan-tangan
Biasanya TNI AL baru memensiunkan jenis kapal perang bekas yang dimilikinya, setelah kapal yang dimaksud sudah tak dioperasikan di negeri asal pembuatnya. Tapi ada yang tak biasa untuk Tripartite Class, jenis kapal penyapu ranjau tercanggih milik TNI AL saat ini. Di negeri asalnya, yakni Belanda, justru kapal penyapu ranjau ini masih aktif beroperasi.
Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi mengakui bahwa saat ini kapal penyapu ranjau dua kapal jenis Tripartite Class mereka, yaitu KRI Pulau Rengat 711 dan KRI Pulau Rupat 712 buatan galangan GNM (Van der Gessen de Noord Marinebouw BV) di Albasserdam, Belanda, sudah mendekati akhir masa kerja. Kapal dengan panjang 51,5 meter tersebut sudah dipakai oleh TNI AL sejak tahun 1988, maka sudah selayaknya mereka dipensiunkan. Dalam pernyataannya ia juga menjelaskan bahwa TNI-AL saat ini sedang memulai proses pengadaan untuk membeli dua kapal penyapu ranjau baru.
Baru-baru ini KRI Pulau Rengat 711 diturunkan TNI AL untuk membantu misi evakuasi AirAsia QZ8501, kapal ini bertugas menyisir puing-puing pesawat dan mendeteksi adanya logam di dasar laut. KRI Pulau Rengat 711, walau sudah setengah uzur, masih dapat mendeteksi logam dalam di kedalaman 25 sampai 50 meter. Untuk sistem deteksi ia dilengkapi sistem sensor dan processing 1 unit Sonar DUBM, 1 Thales underwater system TSM, side scan sonar, Sonar TSM 2022, 1 SAAB Bofors Double Eagle Mk III Self Propelled Variable Depth Sonar, dan 1 Consilium Selesmar Type T-250/10CM003 Radar.
Saudaranya, KRI Pulau Rupat 712 pada awal tahun 2013 dikerahkan untuk membersihkan ranjau-ranjau peninggalan perang dunia II di teluk Dalam Ambon. Pembersihan ranjau dilakukan untuk mengamankan proyek pembangunan Jembatan Merah Putih yang menghubungkan Galala Poka dan Ambon.
Ranjau yang bisa dipindai adalah jenis ranjau kontak, ranjau akustik, dan ranjau magnetik. Setelah melakukan pemburuan, ranjau dapat dihancurkan lewat bom laut atau ditembak langsung dengan kanon Rheinmetall kaliber 20mm. Setiap kapal Tripartite dibekali 2 unit kanon Rheinmetall, yakni pada sisi haluan dan buritan.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA12959447231466891739
Selain Indonesia dan Belanda, kapal ini juga digunakan oleh Belgia, Bulgaria, Latvia dan Pakistan. Bahkan armada NATO menurunkannya dalam memburu serta menghancurkan ranjau yang ditabur di selat Hormuz, Timur Tengah. Menyikapi rencana pensiun Tripartite Class TNI AL, menjadi pertanyaan, mengapa justu bukan penyapu ranjau Kondor Class yang dipensiunkan? Padahal secara usia dan teknologi, Kondor jauh lebih lawas dan tertinggal dari Tripartite.
Sampai berita ini diturunkan, pihak TNI-AL belum memutuskan jenis kapal penyapu ranjau yang akan dibeli. Namun, satu hal yang pasti, Kemhan dan TNI AL mengutamakan produksi galangan kapal dalam negeri. Anggaran pembelian kapal belum diungkapkan, Yang jelas (anggaran dua kapal penyapu ranjau) sudah dimasukkan dalam rencana strategis 2015-2019. (Deni Adi)