Senapan Lontak Musket buatan
Italia jenis Springfield kaliber 15 mm sisa peninggalan eks Timor Timur
disita Satgas Pengamanan Perbatasan dari seorang warga Nusa Tenggara
Timur (NTT).
Senjata api laras panjang itu diperoleh warga usai jajak pendapat Timor Timur tahun 1999 silam.
Komandan Satgas Pengamanan Perbatasan RI-RDTL, Sektor Barat, Letkol
Inf Yudi Gumilar, mengatakan, lantaran kepemilikan senjata itu dirasa
sangat mengganggu, warga yang tak ingin identitasnya diketahui akhirnya
rela menyerahkan kepada TNI.
“Senjata buatan Italia itu diserahkan oleh warga kepada anggota TNI
di Pos Haslot, Motamasin saat usai kegiatan anjangsana, karya bhakti,
dan kegiatan keagamaan serta sosialisasi kepemilikan senjata ilegal,”
ungkap Yudi Gumilar, Jumat (24/4/2015).
Menurut Gumilar, sebelumnya warga takut untuk menyerahkan senpi ilegal tersebut lantaran takut bisa berhadapan dengan hukum.
Namun saat usai melakukan sosialisasi, warga dengan sukarela menyerahkan kembali senjata ilegal tersebut.
“Senjata itu sudah diserahkan awal pekan ini. Alasan warga
sembunyikan karena bila diserahkan bisa diproses hukum. Setelah warga
rela serahkan, selanjutnya barang bukti itu kita bawa ke Makosatgas
sektor Barat di Kefamemanu, Timor Tengah Utara,” timpal Gumilar.
Dia mengimbau warga yang masih menyimpan senjata api ilegal agar
secepatnya menyerahkan kepada TNI sebab dikuatirkan warga salah
menggunakan senjata api tersebut dan bisa menimbulkan korban jiwa bagi
orang lain. (Sindonews)
Ibarat jelang Pilpres (Pemilihan Presiden) 2014 lalu, maka kontestan
Sukhoi Su-35 Super Flanker bisa disebut sebagai calon paling kuat untuk
memenangkan kompetisi. Tak ada yang menyangkal bahwa Su-35 adalah
pesawat tempur tercanggih Rusia dengan label keunggulan multirole air superiority fighter dari generasi 4++. Lepas dari seabreg kecanggihannya, sejak awal Super Flanker ini mampu mencuri ‘hati’ publik di Indonesia.
Harus diakui, pandangan masyarakat begitu dominan menginginkan jet tempur ini sebagai pengganti F-5 E/F Tiger II TNI
AU yang segera pensiun. Keinginan menggebu publik di Tanah Air setara
dengan kerinduan datangnya kapal selam Kilo Class yang urung dibeli
Indonesia. Dukungan pada Su-35 di ‘akar rumput’ justru mengemuka ke soal
non teknis, seperti kerinduan akan kejayaan militer Indonesia saat
mesra di era Uni Soviet, hingga ke soal embargo. Rusia disebut-sebut
paling rendah kerawanan dalam hal embargo, bukan lantaran Rusia anti
embargo, namun lebih pada kepentingan politik/ekonomi Rusia yang tak
terlampau besar di Indonesia, terutama jika dibandingkan dengan
kepentingan AS dan Eropa Barat di Indonesia.
Sementara TNI AU sebagai user, juga menyiratkan keinginannya
untuk bisa mendapatkan pesawat tempur ini, sebagai pertimbangan mulai
dari urusan daya deteren, sampai transformasi teknologi, tentu tak
begitu sulit karena pilot dan teknis TNI AU sudah punya pengalaman dalam
mengoperasikan Su-27SK/Su-30MK yang ada di Skadron Udara 11.
Senjata yang telah dibeli untuk melengkapi Su-27/Su-30 pun dapat
langsung dipasang di Su-35. Beberapa rudal canggih yang telah dimiliki
TNI AU seperti rudal udara ke udara R-73, R-77 dan R-27. Sementara rudal udara ke permukaan, TNI AU sudah punya Kh-29TE dan Kh-31P.
Lepas dari soal non teknis diatas, Su-35 yang oleh NATO diberi label
Flanker E memang fenomenal. Su-35 yang terbang perdana pada 19 Februari
2008, sejatinya adalah derivatif heavy upgrade dari Su-27 Flanker, single seat fighter
yang juga telah dimiliki TNI AU. Meski bukan identitas resmi, versi
yang ditawarkan ke Indonesia ada yang menyebut sebagai Su-35BM.
Keunggulan thrust vectoring yang memungkinkan manuver cobra pughachev dapat dilakukan dengan mudah, dan memberi keunggulan tersendiri saat dog fight.
Thrust vectoring nozzle Su-35.
Kemunculan Su-35 Super Flanker pertama di muka publik internasional
yakni pada Paris Air Show di Le Bourget tahun 2013. Di Paris Air Show,
Su-35 unjuk kemampuan dengan melakukan manuver yang mencengangkan dan
menurut banyak pengamat sulit ditandingi jet tempur keluaran Eropa
Barat, konon yang mampu menandingi hanya F-22 Raptor yang sama-sama
ditenagai mesin dengan nosel pengarah daya dorong mesin (thrust vectoring engine).
Meski secara desain bak pinak dibelah dua dengan Su-27, namun secara
struktur Su-35 berbeda dengan Su-27, terlebih untuk jeroan elektronik
yang dibenamkan. Bicara tentang airframe, struktur Su-35 diperkuat agar
memiliki usia pakai lebih lama ketimbang Su-27, serta perkuatan airframe
dimaksudkan agar pesawat mampu menahan gaya akibat manuver ekstrim.
Meski avionik dan sensornya baru, tapi radarnya masih mengadopsi Irbis-E
PESA (passive electronically scanned array), tapi jangkauannya
terbilang jauh dan secara teknologi masih lebih baik dari mechanically
scanned radar, atau radar konvensional. Radar Irbis-E di Su-35 dapat
mendeteksi 30 sasaran di udara secara simultan, dan mampu melakukan
serangan ke delapan target secara bersamaan. Jangkauan radar ini
disebut-sebut mampu mengendus sasaran hingga jarak 400 Km.
Radar Irbis-E
Dan sebagai produk teknologi, Su-35 pun tak lepas dari plus minus,
dan berikut plus minus Sukhoi Su-35 dari perspektif Indonesia.
Plus
– Su-35 sampai saat ini baru dimiliki Rusia, itu pun masih terbatas
karena tergolong pesawat baru. Faktor ini ditambah masih misteriusnya
kapabilitas Super Flanker yang masih dirahasiakan.
– Karena masih banyak yang berbau rahasia, sontak Su-35 punya daya deteren paling tinggi dibanding Eurofighter Typhoon, Dassault Rafale, dan JAS 39 Gripen NG.
– Daya angkut senjata (tonase dan jumlah) tergolong tinggi dengan 12 hard point.
– Mesin punya usia pakai yang lebih panjang ketimbang Flanker sebelumnya.
– Paling rendah kerawanan terhadap adanya embargo.
– Bisa memanfaatkan/membawa bekal senjata Flanker generasi sebelumnya.
– Mampu beroperasi dari landasan pendek berkat mesin yang dilengkapi TVC (thrust vectoring control), bahkan konfigurasi rodanya menjadikan Su-35 dapat dioperasikan dari landasan yang agak kasar.
– Pihak user (TNI AU) sudah menyatakan pilihannya pada Su-35.
Minus
– Hanya tersedia dalam varian kursi tunggal, alhasil proses latih
tempura atau konversi hanya bisa dilakukan di simulator. Atau bisa juga
mengandalkan Su-30MK2 Flanker yang juga telah dimiliki TNI AU.
– Biaya operasional per jam terbilang paling tinggi, ada yang menyebut
Sukhoi sebagai ‘ATM terbang.’ Mengutip informasi dari defence.pk, biaya
operasional per jam (cost of flying per hours) Su-27/Su-30
mencapai US$7.000, sementara untuk Su-35 biaya operasi per jam bisa
mencapai US$14.000. Sebagai perbandingan biaya operasional per jam F-16
hanya US$3.600.
– Belum ada kejelasan untuk detail skema ToT (Transfer of Technology) yang ditawarkan kepada pihak PT Dirgantara Indonesia. (Ram)
Matahari bersinar terik di tengah birunya langit saat team ARCin menginjakkan kaki di Batalyon Kavaleri-8 (Yonkav 8) TANK/MBT "Narasinga Wiratama", Pasuruan. Namun panas terik tersebut tidak menyurutkan semangat ratusan peserta gladi dalam rangka Serah Terima Jabatan Danyonkav 8, Kaajen, Danki Kavtai 2 Divif 2 Kostrad TNI AD, yang akan dilaksanakan di lapangan Yonkav 8, dimana mereka akan melaksanakan berbagai acara menarik, seperti demonstrasi beladiri Yong Moo Do, pertunjukan sendratari Rama dan Sinta, termasuk tali kecak, dan juga tembakan kanon kehormatan.
Letnan Kolonel (Kav) Valian Wicaksono Magdi, S.Sos, akan menyerahkan jabatan Komandan Batalyon Kavaleri 8 kepada Mayor (Kav) Depri Rio Saransi, S.Sos, M.M. Letkol Valian telah mengemban amanat selaku Danyonkav 8 semenjak tahun 2014.
Di dalam masa kepemimpinan beliau, Yonkav 8 menerima dan mengoperasionalkan Main Battle Tank (MBT) Leopard 2A4 asal Jerman dalam inventorinya. Yonkav 8 adalah satuan pertama di jajaran TNI AD yang mengoperasikan MBT tersebut, dan menjadi satuan kavaleri pertama TNI AD yang mengoperasionalkan sebuah Main Battle Tank.
Selanjutnya Letkol Valian akan melaksakan penugasan sebagai Kepala Departemen Pengetahuan Militer Umum (Kadep Pengmilum) Pusat Pendidikan Kavaleri (Pusdikkav) Pusat Kesenjataan Kavaleri (Pussenkav) Komando Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) TNI AD.
Dalam keberjalanannya semenjak dibentuk pada tahun 1962 di Bandung sebagai batalyon kavaleri tank pertama, Yonkav 8 telah mengoperasikan berbagai jenis alutsista ranpur. Dimulai dari PT-76 asal Uni Soviet (Rusia), yang lalu diserahterimakan kepada Korps Kavaleri Marinir TNI AL, ketika Yonkav 8 mendapat peremajaan ranpurnya sebagai efek dari Proyek “Beta I” oleh TNI. “Beta I” yang dilaksanakan di akhir 1970an merupakan proyek pengadaan alutsista ranpur melalui hibah dari stok NATO. Dari “Beta I”, Yonkav 8 mendapatkan tank AMX-13 kanon 75mm dan AMX-13/APC, dimana keduanya merupakan buatan Perancis. Pada tahun 1987, peremajaan lebih jauh dialami oleh Yonkav 8 sebagai imbas dari Proyek “Beta II”, dimana Yonkav 8 menerima tank AMX-13 kanon 105mm. Pada akhir 1990an, Yonkav 8 juga mendapatkan peremajaan lebih jauh berupa Scorpion dan keluarga Stormer buatan Inggris, yang masih dipakai hingga saat ini.
Posisi Yonkav 8 di Bandung mengalami redislokasi/pergeseran posisi pada 1995 ke tempatnya sekarang di Beji, Pasuruan, Jawa Timur, sebagai imbas rencana pembangunan Yonkav Model di lingkungan TNI AD.
Yonkav 8 terdiri atas unsur-unsur Kompi, yaitu Kompi Markas, Kompi Tank 81/”Cobra”, Kompi Tank 82/”Laba-Laba”, serta Kompi Tank 83/”Rajawali”. Secara umum, Kompi Tank 81, 82 dan 83 memiliki tugas pokok yg sama sebagai Kompi manuver ato Kompi tempur dr Yonkav 8. Spesifikasi Ranpur yg dimiliki dlm organisasi Yonkav Tank saat ini berjumlah 13 unit Ranpur :
1. 9 unit Tank Scorpion Kanon kal. 90 mm (masing-masing Ton memiliki 3 Tank Scorpion)
2. 3 unit Tank Stormer APC (masing-masing Ton memiliki 1 Tank Stormer APC)
3. 1 unit Tank Stormer Komando (Ranpur Ko Danki)
Maka secara umum setiap Peleton Tank terdiri atas 3 Tank Scorpion dan 1 Tank Stormer APC.
Seiring kedatangan tank MBT Leopard 2, organisasi Yonkav MBT akan memiliki komponen yang berbeda, yang rencananya akan mulai diberlakukan pada tahun ini. Perbedaan tersebut adalah perubahan setiap Kompi Tempur memiliki 14 unit Ranpur, terdiri atas:
1. 1 unit Tank Marder Komando (Ranpur Komando Kompi)
2. 13 unit Tank MBT Leopard 2 (1 unit Tank Danki, dan masing-masing 4 unit Tank utk tiap Peletonnya)
Dalam perjalanannya, Yonkav 8, baik sebagai satuan maupun elemennya, terlibat dalam pelbagai penugasan operasi, mulai dari operasi penumpasan DI/TII di Majalaya, operasi Seroja di Timor Timur, operasi Daerah Rawan di Aceh, operasi Waspada di Bali, sampai Operasi Leuser 03. Tidak hanya di dalam negeri, personil Yonkav 8 ikut bertugas sebagai bagian dari Kontingen Garuda (KONGA) TNI di Lebanon secara rutin, mulai dari Konga XXIII – A / UNIFIL tahun 2006, sampai Konga XXVI – F2 / UNIFIL hingga tahun 2014 lalu.
Yonkav 8 Dalam Video
Dalam perencanaan ke depannya, Yonkav 8 akan menerima alutsista ranpur yang akan meningkatkan kemampuan tempur Yonkav 8 lebih jauh lagi, dimana ranpur tersebut memiliki peningkatan perlindungan dan daya gempur, dan dilengkapi sistem panoramik 360° yang mengoptimalkan kesadaran situasional (situational awareness).
Apakah ranpur yang akan hadir tersebut?
Mari kita tunggu tanggal mainnya di kuartal ketiga 2015 ini…
Meski tak satupun kandidat jet tempur pengganti F-5 E/F Tiger II TNI AU menyandang gelar stealth fighter, tapi elemen Radar Cross Section (RSC) nyatanya ikut menjadi pertimbangan penting dalam pemilihan jet tempur baru untuk Skadron Udara 14. Semakin kecil nilai RCS, maka akan semakin baik bagi jet tempur tersebut, dengan kian kecilnya nilai RCS, maka suatu pesawat akan mendekati kemampuan stealth, meski sejatinya tidak ada pesawat yang 100% tidak terdeteksi radar.
Dengan RCS yang kecil, maka petugas monitor radar di ground atau bahkan pilot yang memantau layar monitor di udara, hanya akan melihat identitas pesawat lawan laksana gerombolan burung dengan ukuran pixel yang amat kecil di layar. Dari definisinya, secara umum RCS adalah ukuran kemampuan target untuk mencerminkan sinyal radar ke arah penerima radar. Untuk proses kerjanya, dapat digambarkan gelombang elektromagnetik dalam berbagai jenis polarisasi secara normal akan terdifraksi atau menghambur ke segala arah jika mengenai sesuatu objek yang memiliki koefisien pantul tertentu.
Mengutip dari ensiklopedia, gelombang yang menghambur ke segala tersebut terbagi menjadi dua bagian, yang pertama gelombang hamburan tidak berubah polarisasinya atau dengan kata lain polarisasinya tetap sesuai dengan polarisasi dari antena penerima. Dan yang kedua gelombang hamburan tersebut berubah polarisasinya sehingga tidak sesuai dengan polarisasi antena penerima. Intensitas dari energi gelombang hamburan yang mempunyai polarisasi yang sama dengan polarisasi antena penerima radar inilah yang disebut dengan target RCS. Dengan demikian ada yang menyebut RCS merupakan perbandingan daya sinyal datang dengan daya sinyal yang terhamburkan, dan berfungsi sebagai pendeteksi kepadatan.
Selain itu RCS sangat tergantung dari panjang gelombang yang digunakan, polarisasi sinyal yang digunakan, sudut datang dari gelombang terhadap target, material dari target, dan bentuk dan ukuran dari target.
Karena pentingnya kebutuhan untuk memperkecil nilai RCS, manufaktur jet tempur berusaha keras untuk mempertebal kadar ‘stealth’ di produk-produk terbarunya. Yang lumrah dilakukan saat ini adalah rekayasa bentuk (shape) dan rekayasa material dengan RAM (Radar Absorbant Material), atau material penyerap gelombang radar. Untuk rekayasa bentuk bisa dilihat dari revolusi yang dilakukan pada F-117 dan pembom B-2.
Pembom B-2 Stealth dengan nilai RCS 0,0001
F-35 yang punya kemampuan stealth dengan RCS 0,005
F-22A Raptor dengan RCS setara pembom B-2.
Dalam acara Master Class bersama Eurofighter Typhoon di Jakarta (14/4/2015), Paul Smith, pilot demo Typhoon menyebutkan, bahwa beberapa upaya telah dilakukan untuk mengurangi RCS pada pesawatnya, terutama pada bagian depan, seperti desain lubang air intake yang agak tersembunyi. Adanya canard juga dapat memantulkan energi radar dari sektor depan. Beberapa senjata (rudal) dipasang semi tersembunyi, maklum banyaknya cantelan senjata juga kurang kondusif untuk RCS. Selain itu, Typhoon juga mengusung RAM buatan EADS dan sudah dilapisi cat reflector radar.
Itu baru penjelasan dari pihak Typhoon, bagaimana dengan kompetitor lainnya seperti Sukhoi Su-35BM, JAS 39 Gripen, dan Dassault Rafale? Sayangnya dari mereka belum ada yang menggelar jumpa media di Indonesia sedalam pihak Eurofighter. Namun berikut ada gambaran menarik tentang perbandingan RCS antar jet tempur yang disajikan globalsecurity.org.
Dan bila ingin mengetahui analogi tentang RCS, sajian infografis di video ini lumayan dapat membantu. (Bayu Pamungkas)
Amerika Serikat dikenal punya beberapa pasukan khusus antiteror yang
cukup dikenal dunia. Diantaranya Navy Seals dan Delta Force. Namun
pasukan Kopassus TNI AD tak mau meniru gaya pasukan khusus AS.
Di akhir tahun 70an, pembajakan pesawat dan aksi terorisme marak di
berbagai belahan dunia. TNI merasa perlu ada satuan khusus yang memiliki
kemampuan antiteror dan pembebasan sandera. Satuan yang dipilih adalah
Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopasandha). Alasannya, pasukan baret merah
ini sudah memiliki kemampuan khusus dan kenyang dengan pengalaman
operasi tempur.
Saat itu Letjen Benny Moerdani menjabat Asisten Intelijen Hankam
sekaligus Kepala Pusat Intelijen Strategis. Dia memerintahkan Letkol
Sintong Panjaitan mencari formula paling tepat untuk membangun pasukan
antiteror Indonesia.
Namun Benny berpesan satu hal, jangan berlatih di Amerika Serikat.
Alasannya, AS terlalu mengandalkan kecanggihan alat dan keunggulan
teknologi.
“Hal ini dapat menyebabkan personelnya menjadi manja,” kata Sintong.
Maka Sintong melakukan pengamatan ke sejumlah negara yang sudah
memiliki pasukan antiteror. Dia mengikuti pasukan Special Air Service
(SAS) di Inggris. Pasukan ini memang sudah jadi legenda pasukan elite.
Sintong mempelajari cara-cara penanggulangan pembajakan pesawat udara.
Selain itu dia juga belajar pada Korps Commando Troepen kerajaan Belanda. Lalu pasukan khusus angkatan laut Prancis.
Tak ketinggalan dia juga belajar pada GSG-9 atau Grenzchutzsgruppe 9.
Pasukan antiteror Jerman Barat itu namanya harum berkat keberhasilan
membebaskan sandera di Mogadishu, Somalia.
Sementara di Asia, Sintong memilih pasukan khusus Korea Selatan.
Kelebihannya, pasukan ini selalu melakukan latihan bela diri selama
empat jam setiap hari jika tak sedang melakukan operasi.
Namun Sintong mengaku tak begitu terkesan dengan apa yang ditampilkan
oleh pasukan elite setiap negara. Menurutnya, setiap misi pembebasan
sandera rata-rata berada di tempat yang sudah dikuasai penuh. Misi
berakhir setelah sandera diselamatkan.
Hal ini berbeda dengan latihan Sandi Yudha yang dilakukan Kopasandha.
Pasukan yang kelak bernama Kopassus ini dilatih untuk membebaskan
tawanan di tempat yang dikuasai musuh. Jadi setelah membebaskan tawanan,
mereka juga harus memikirkan bagaimana cara meloloskan diri.
Maka Sintong meramu bagaimana latihan pasukan antiteror yang cocok
untuk Indonesia. Belum rampung segala persiapan, tantangan sudah lebih
dulu datang. 28 Maret 1981 pesawat DC-9 Woyla milik Garuda Indonesia
dibajak dan diterbangkan ke Bandara Don Muang, Bangkok.
Operasi pembebasan sandera digelar tiga hari kemudian. Semua sandera
berhasil diselamatkan hidup-hidup sementara lima pembajak ditembak mati.
Operasi Woyla jadi sorotan dan membuktikan pasukan antiteror Indonesia
yang baru seumur jagung sama hebatnya dengan para senior mereka di
dunia. (Merdeka.com).
COMSUBGRU 7 AS dan Korps Hiu Kencana Indonesia, perkuat kerjasama (photo: US Navy)
Komandan Submarine Group 7 (COMSUBGRU 7) Amerika Serikat, Laksamana
Muda William R. Merz bertemu dengan perwakilan kekuatan kapal selam
Indonesia di Surabaya, 14 April 2015, untuk memperkuat hubungan kerja
yang dinamis antara kedua angkatan laut.
Fokus utama dari pertemuan ini, untuk mengintegrasikan keterlibatan
kekuatan kapal selam Indonesia sebagai mitra dan sekutu di Pasifik dalam
operasi rutin yang periodik di kawasan regional.
Keterlibatan ini akan mencakup kesempatan pelatihan antara kedua
angkatan laut yang fokus pada pengintegrasian kemampuan kekuatan kapal
selam Amerika Serikat dan Indonesia.
Pembicaraan ini ditindaklanjuti dengan simulasi kering Simulated
Submarine Casualty Exercise (SMASHEX), di mana anggota COMSUBGRU 7, U.S.
Navy Submarine Rescue Command, and International Submarine Escape and
Rescue bekerjasama dengan pasukan Angkatan Laut Indonsia dalam melakukan
latihan kapal selam penyelamat.
Angkatan Laut Indonesia adalah angkatan laut terbesar di Asia
Tenggara berdasarkan jumlah personel aktif dan kapal yang dimiliki (US Navy).
Prajurit
TNI yang tergabung dalam Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda
XXIII-I/Unifil (United Nations
Interim Force In Lebanon)/Indobatt (Indonesian Battalion), menggelar
Latihan Bersama tentara
pasukan FCR (Force Commander Reserve) dari Kontingen Perancis.
Latihan bersama antara Prajurit
TNI dan Tentara Perancis yang melibatkan 60 personel tersebut, dibuka oleh
Komandan Satgas (Dansatgas) Indobatt Letkol Inf Andreas Nanang Dwi P., S.IP, di
Lapangan SoekarnoMarkas Indobatt, UN
Posn 7-1, Adchit al Qusayr, Lebanon Selatan, kemarin.
Menurut Dansatgas Indobatt, latihan ini bertujuan untuk
mempererat persatuan antar kontingen pasukan perdamaian yang sedang
melaksanakan tugas sebagai Peacekeepers dalam misi PBB (Perserikatan Bangsa
Bangsa) di Lebanon. "Latihan ini juga untuk
dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan prajurit kedua negara", ujarnya.
"Latihan ini melibatkan satu pleton dari
masing-masing negara, dengan rincian 30 personel dari Kontingen Perancis di bawah pimpinan Komandan
Unit Lt. Pidolot dan 30 personel dari Kontingen Garuda di bawah pimpinan Kapten Inf Anhar
A.G.", kata Letkol Inf Andreas Nanang Dwi.
Pelaksanaan latihan bersama ini
diawali dengan Latihan Menembak di Lapangan
Tembak Sektor Timur Unifil, Ebel Al Saki, Lebanon
Selatan. Dalam sesi ini, Letda Inf Chonis selaku Danton Indobatt menjelaskan
tentang karakteristik senjata SS-2 V4 kepada Tentara
Perancis begitu juga Lt. Pidolot yang memberikan penjelasan tentang
karakteristik senjata mereka kepada Prajurit
TNI.
Selain itu dilaksanakan
pengenalan Alutsista yang
digunakan dalam latihan, meliputi persenjataan ringan satuan Infanteri,
Aloptik, Alkom dan Ranpur, dimana terdapat Ranpur VAB Renault
Perancis, dan disampaikan oleh
Perwira Seksi Logistik
Indobatt Kapten Inf Aries Munandar.
Kegiatan latihan dilanjutkan
dengan Patroli Bersama di Area Of Responsibility Markas Indobatt, olah raga bersama dan permainan militer yang menitikberatkan pada
kerja sama tim, sehingga terwujud nuansakebersamaan dan
keceriaan.
Pada akhir latihan, Dansatgas Indobatt
mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada
para personel Kontingen Garuda maupun personel Kontingen Perancis yang
sangat
antusias dan semangat dalam melaksanakan latihan bersama. Latihan
diakhiri dengan pelepasan
tanda latihan serta pemberian sertifikat latihan "Make Peace Nothing Else" oleh Letkol Inf Andreas Nanang Dwi.