Sabtu, 18 April 2015

Sosok Din Minimi, Mantan GAM yang Masih Angkat Senjata

Sosok Din Minimi, Mantan GAM yang Masih Angkat Senjata
Mantan anggota GAM, Din Minimi atau Nurdin bin Ismail. (VIVA.co.id/ Zulkarnaini)

Din Minimi atau Nurdin bin Ismail Amat, itulah nama asli pria yang sangat diburu oleh aparat kepolisian serta TNI. Kenapa tidak, diduga mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini diduga telah melakukan sejumlah tindak kriminal bersenjata di Aceh, termasuk menculik dan menembak mati dua personel Intel Kodim 0103 Aceh Utara hingga tewas.

Pengalaman Din Minimi mengangkat senjata bukan baru-baru ini. Sejak Aceh memberontak melawan pemerintah pusat, tahun 1997 Din Minimi memutuskan bergabung dengan GAM bergerilya di hutan wilayah Aceh Timur.

Din Minimi bisa dibilang dibesarkan dalam keluarga yang melawan Pemerintah Indonesia. Orang tuanya, Ismail, dikenal di kalangan GAM sosok yang sangat berani dalam bertempur dengan pasukan TNI dan Polri saat Aceh ditetapkan sebagai wilayah darurat militer, hingga saat ini hilang tidak diketahui di mana kuburannya.

Nurdin merupakan anak sulung empat bersaudara. Mereka berempat memutuskan ikut bergabung menjadi anggota GAM, masa konflik lalu. Adik kandungnya bernama Hamdani alias Sitong sama nasib dengan ayahnya hilang jejak tak diketahui di mana jasad diculik oleh aparat tahun 2004 lalu. 

Perjuangan Din Minimi bergilya kandas pada tahun 2003, dia berhasil ditangkap oleh Kosrad 433 saat sedang belanja logistik di Pasar Blang Bideng, Kecamatan Juluk, Aceh Timur, untuk dibawa ke hutan.

Setelah perdamaian antara GAM dengan Pemerintah Indonesia, Nurdin lepas tanpa syarat. Dia hidup bergaul dengan warga seperti biasa.

Sehari-hari mantan kombatan ini menghabiskan waktu bekerja sebagai operator beko di salah satu perusahaan HTI milik pengusaha lokal. Pernah juga mengadu nasibnya hingga ke Pekan Baru.

"Setelah perdamaian, Nurdin bekerja seperti orang lain, tidak ada lagi berhubungan dengan angkat senjata," kata mantan kombatan GAM yang teman dekat ayah Din Minimi, Fahkruddin alias Robot, kepada VIVA.co.id, Kamis 16 April 2015.

Di Aceh Timur, Din Minimi mendapat banyak simpati, karena sikapnya yang ramah dan mudah bergaul dengan kalangan muda-tua, sehingga mudah bermain-main di tengah-tengah masyarakat.

Gerakan Din Minimi hanya melawan Pemerintah Aceh yang dipimpin oleh Gubernur Aceh, Zaini Abdullah dan wakil Muzakkir Manaf, mendapat dukungan dari masyarakat dan mantan kombatan GAM yang kecewa. Menurutnya, Pemerintah Aceh gagal untuk memenuhi janji kesepakatan perdamaian untuk menjamin kesejahteraan sosial masyarakat Aceh.

"Dia (Din Minimi) melawan Gubernur Aceh dan wakilnya. Ini bentuk protes sebagai mantan GAM yang memperjuangkan keadilan untuk masyarakat Aceh dan mantan GAM," ujar Fahkruddin yang juga mantan Wakil Panglima Sagoe wilayah Kecamatan Juluk, Aceh Timur.

Pria yang hanya duduk di bangku sekolah sampai kelas 3 SD ini, berjuang menuntut keadilan dari Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf mulai tahun 2013, setahun setelah tampuk kepemimpinan Aceh direbut oleh dua mantan petinggi GAM ini dalam Pilkada 2012 lalu, belum juga terealisasi butir-butir perjanjian untuk meningkatkan kesejahteraan.

"Mereka hanya melawan Pemerintah Aceh, bukan melawan TNI dan Polri di Aceh, menuntut keadilan untuk para kombatan dan rakyat Aceh, tidak ada urusan dengan TNI dan polisi," kata Safaruddin, pengacara Nurdin saat dijumpai VIVA.co.id, di Banda Aceh.

Sebelum berniat mengangkat senjata melawan bekas petinggi kombatan GAM itu, Din Minimi sudah pernah menyampaikan aspirasinya kepada Pemerintah Aceh, namun itu tidak mendapat respons yang memuaskan.

"Sudah pernah disampaikan kepada gubernur dan wakil gubernur, tapi tidak ada respons, sehingga dia harus melawan dengan mengangkat senjata," sambung Safaruddin.

Masih banyak mantan kombatan yang yang nasibnya seperi Din Minimi dan mendukung gerakan yang dilakukan oleh Nurdin itu.

"Mereka ini seperti rumput kering, satu terbakar yang lain juga terbakar, artinya akan banyak yang mendukung gerakan Din Minimi memperjuangkan nasib mereka dan korban konflik yang belum tersentuh bantuan," ujar Safaruddin.

Din Minimi salah satu kader Partai Aceh yang ikut berkampanye untuk memenangkan Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf saat Pemilihan Kepala Daerah 2012 lalu, termasuk tim sukses Bupati Aceh Timur Hasballah Bin M Thaib dan Wakil Bupati Syahrul Bin Syama’un yang diusung oleh Partai Aceh.

"Saya bekerja keras untuk memenangkan mereka, supaya mereka memperhatikan mantan kombatan dan korban konflik di Aceh dan rakyat Aceh, tapi setelah itu mereka tidak peduli sama sekali, hanya memperkaya diri," kata Din Minimi.

Din Minimi menaruh harapan yang sangat besar kepada pemimpin Aceh yang dibesarkan oleh Partai Aceh, "Banyak janji mereka dalam kampanye tidak dipenuhi, ini yang perjuangkan," tambah Din Minimi.

Kini Din Minimi menjadi borun aparat keamanan, karena diduga telah melakukan sejumlah kriminal di Provinsi Aceh, termasuk menembak dua anggota TNI di Aceh Utara. Dia membantah keterlibatan dirinya dalam kasus penembekan itu.

"Musuh saya bukan TNI dan Polisi, tapi Gubernur Zaini Abdullah dan Wakilnya Muzakkir Manaf, mereka harus bertanggung jawab kepada rakyat Aceh, janji harus dipenuhi seperti yang disebutkan dalam perjanjian damai dengan Pemerintah Indonesia," katanya.

Din Minimi juga membantah klaim Kapolda Aceh yang menyebutkan 13 orang telah ditangkap sebagai anak buahnya.

"Saya tidak ada anak buah yang bersenjata. Mereka bukan anak buah saya. Semua masyarakat yang mendukung saya itulah anak buah saya," tambahnya lagi.

Dia mengakui, kelompoknya pernah terlibat dalam aksi kriminal bersenjata api di Aceh Timur seperti penculikan warga negara Skotlandia pada Juni 2013, perampokan mobil PT CPM pelaksana pemasangan pipa gas di Aceh Timur.

"Ini saya lakukan karena warga sekitar tidak dipekerjakan pada perusahaan itu. Harapan masyarakat Aceh kehadiran perusahaan-perusahaan itu membuka kesempatan kerja," katanya.

Din Minimi mengaku, dia berjuang sendiri untuk menuntut keadilan dari Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Gubernur Zaini Abdullah dan wakilnya Muzakir Manaf. 
 

Jumat, 17 April 2015

TNI AD: Kelompok Santoso Sudah Keluar dari Hutan Poso

Bambang Haryanto
Panglima Divisi II Kostrad, Mayor Jenderal TNI Bambang Haryanto, memastikan bahwa para teroris kelompok Santoso sudah tidak berada lagi di hutan-hutan Poso, tempat mereka melakukan latihan militer selama ini.
“Kami menemukan semua tempat latihan dan persembunyian mereka selama kami melaksanakan latihan tempur Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di kawasan Poso pesisir selama tiga pekan terakhir ini,” katanya, di Poso, Jumat.
Menurut Haryanto, ribuan personel TNI AD, TNI AL, dan TNI AU telah melakukan latihan sampai ke puncak-puncak pegunungan yang diyakini menjadi tempat persembunyian dan latihan teroris itu, namun tidak menemukan orang-orangnya.
“Saya yakin, para perusuh itu sudah meninggalkan lokasi latihan mereka sebelum TNI memulai latihan tempur PPRC pada 31 Maret 2015,” ujarnya.
Meski latihan tempur PPRC ini tidak bertujuan memburu teroris, namun Bambang mengaku telah menegaskan kepada seluruh anak buahnya untuk bertindak tegas bila menemukan para perusuh tersebut.
Dengan latihan ini, katanya, pihak TNI kini mengetahui secara detail seluruh tempat latihan dan persembunyian para teroris itu sehingga akan lebih mudah untuk melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan bila kemudian hari, para perusuh itu kembali ke lokasi tersebut.
Ia berharap kepada masyarakat untuk tidak takut melaporkan keberadaan para teroris itu kepada TNI dan Polri bila mengetahui kehadiran mereka.
Dan kepada masyarakat yang memberikan bantuan logistik kepada para teroris tersebut selama ini, diminta untuk menghentikannya.
“Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menumpas para teroris itu, kalau masyarakat mau dan berani melaporkan keberadaan mereka dan tidak memberikan dukungan apa-apa, seperti logistik,” ujarnya.
Kepada oknum-oknum teroris tersebut, Haryanto mengajak mereka keluar dari tempat persembunyian dan menyerahkan dirilalu kembali ke kehidupan normal dan damai bersama masyarakat.
Sementara itu pihak kepolisian kini semakin gencar memburu para teroris yang diyakini telah keluar dari hutan-hutan Poso dan diperkirakan bersembunyi di hutan-hutan sekitar kabupaten Parigi Moutong.
Selama latihan tempur PPRC TNI berlangsung, kepolisian berhasil menembak mati salah seorang pemimpin teroris tersebut bernama Daeng Koro dan seorang anak buahnya saat mereka menyingkir dari hutan Poso dan bersembunyi di hutan Parigi Moutong.(kompas)

Eurofighter Typhoon, Transfer Teknologi dan Bayang-bayang Embargo

 
image
Eurofighter Typhoon adalah pesawat tempur multirole dengan sayap delta, memakai mesin ganda yang dibangun oleh gabungan perusahaan senjata terkemuka di Eropa. BAE systems Inggris, CASA spanyol, Alenia Aeronautika Italia dan EADS Deutschland Jerman.

Spesifikasi Teknis :
Harga.            : Rp 1.26 Triliun
Panjang.         : 15.96 m
Lebar sayap  : 10.95 m
Tinggi.            : 5.28 m
Berat kosong : 11.150 kg
Mesin.             : 2 × Eurojet EJ200 afterburning turbofan
Daya Jelajah. : 2.900 km
Kecepatan maksimum : Mach 2
Dalam banyak latihan tempur udara bersama, Typhoon mempunyai prestasi yang cukup baik, kelincahan Typhoon diharapkan mampu dipakai untuk menghadapi semua pesawat tempur lawan. Dalam simulasi tempur udara dengan Singapura, Typhoon mampu mengalahkan F-16 dan F-15 Singapura.
Pada latihan Indra-Dhanush tahun 2007, disebutkan bahwa Angkatan udara India memakai Sukhoi 30MKI untuk menghadapi Angkatan udara Inggris yang memakai Typhoon. Hasilnya adalah pilot SU-30MKI mengakui bahwa pesawat tempur Typhoon adalah pesawat tempur yang lincah. Walaupun terkesan dengan kelincahan Jet Typhoon, India tidak memilih Typhoon sebagai pesawat tempur Medium Multi-Role Combat Aircraft (MMRCA). India memilih Dasault Rafale sebagai penyedia 126 jet MMRCA.
Konsorsium Eropa berharap Typhoon mampu menjadi kekuatan inti pertahanan udara Eropa, oleh karena itu, selain lincah, Typhoon juga dibuat dari material semi stealth, memiliki kemampuan STOL dan BVR.
Dalam pengembangan Typhoon, diberitakan banyak sekali pertentangan di antara anggota konsorsium, yang meliputi pemilihan radar, pembagian pekerjaan, spesifikasi pesawat, dan partisipasi tiap negara dalam produksi.
image
Walaupun didominasi oleh negara-negara pembuatnya, penjualan Typhoon bisa dibilang cukup sukses, ini bisa dilihat populasi Typhoon yang cukup banyak dimiliki oleh beberapa negara, misalnya : Inggris 232 unit, Jerman 180 unit, Italia 121 unit, Spanyol 87 unit, Austria 18 unit. Operator di luar eropa, di beritakan bahwa Arab Saudi membeli 72 unit Typhoon dengan nilai pembelian US$ 8 Miliar atau Rp 104 triliun selain itu disebutkan bahwa Oman juga telah memesan 12 unit.

Riwayat Tempur
Eurofighter Typhoon terlibat dalam operasi militer NATO di Libya dan dipakai oleh Arab Saudi untuk menyerang pemberontak Houti Yaman. Di Libya, Typhoon menghadapi negara yang terletak di benua Afrika yang kondisinya terpecah dan di keroyok oleh 5 negara besar sedangkan di Yaman, Typhoon menghadapi sekelompok pemberontak bersenjatakan AK-47 dan RPG. Dalam dua operasi militer tersebut, walaupun sukses, Typhoon belum menemukan lawan yang seimbang.
Eurofighter Typhoon dan Tender Pengganti F-5 Tiger
image
Pemerintah Indonesia mengumumkan tender pengantian F-5 Tiger yang di ikuti oleh beberapa produsen pesawat tempur, salah satunya adalah Eurofighter Typhoon. Untuk memenangkan tender tersebut, Eurofighter melalui CASA & Airbus Industrie menjanjikan bahwa jika Indonesia memilih Typhoon, Indonesia akan menjadi salah satu basis perakitan Typhoon di luar Eropa, akan ada transfer teknologi, kerjasama dengan PT. DI untuk memperoduksi tanki bahan bakar tambahan (conformal tank) dan sayap canard yang berbahan titanium.
Tawaran dari CASA & Airbus Industrie sunguh sangat menarik karena tawaran semacam itu sangat jarang diberikan, entah dengan alasan apa, tiba-tiba saja banyak produsen senjata eropa berjanji bersedia berbagi teknologi jika Indonesia membeli produk mereka. Perlu diketahui bahwa Typhoon adalah produksi bersama konsorsium beberapa perusahaan Eropa dan CASA & Airbus Industrie hanya memegang 14 %, bandingkan dengan BAE systems Inggris 37 %, Alenia Aeronautika Italia 20 % dan EADS Deutschland Jerman 29 %.
Apa yang akan terjadi jika CASA bersedia berbagi sedangkan yang lainnya tidak bersedia ?
Jerman pernah membatalkan pesanan Typhoon dikarenakan ada masalah teknis yang menyebabkan lambung pesawat menjadi tidak stabil, memperpendek jam terbang pesawat dan mungkin membahayakan pilot. Untuk mengurangi dampak masalah tersebut, Angkatan udara Jerman dan Inggris menurunkan jam terbang Typhoon dari 3.000 jam menjadi 1.500 jam per tahun.

Potensi Embargo
Pada Tahun 1999, pasca referendum Timor Timur, Inggris mengirim 2 kapal perang canggihnya untuk membantu Australia guna menghadapi kemungkinan pecah perang melawan militer Indonesia. Selain itu, Inggris juga membantu Australia dengan mengirim pasukan SAS, Gurkha, SBS di luar struktur INTERFET.
Pada Tahun 2004, Inggris melarang Indonesia memakai produk militer buatan Inggris dalam OPERASI TERPADU di Aceh. Inggris melarang pesawat tempur Hawk dan Tank Scorpion dipakai oleh TNI dalam operasi tersebut. Padahal Hawk dan Scorpion itu sudah lama dibeli dan dimiliki oleh Indonesia. Senjata milik Indonesia, sudah lama dibeli tapi dilarang dipakai oleh negara pembuatnya. Aneh ???
interfet
Jika melihat potensi konflik dimasa depan, Indonesia masih sangat berpeluang diembargo oleh negara lain. Persoalan perbatasan dengan Malaysia dan Timor Leste yang masih belum selesai, Persoalan Papua, perebutan kekayaan alam Indonesia oleh perusahaan internasional, pembatasan pasar bebas, ilegal fishing dan hukuman mati bagi pengedar Narkotika.
Potensi Indonesia terlibat konflik perbatasan dengan Malaysia dan Australia sangat besar, sebagai sesama negara commonwealth, sudah pasti Inggris akan membantu Malaysia dan Australia. Embargo di depan mata.
Inggris memegang peran dominan dalam kepemilikan teknologi Eurofighter Typhoon, bahkan semua pesanan Arab Saudi dan Oman, semua dirakit di Inggris.
TNI AU saat ini mempunyai F-16 dan SU-27/30. Pesawat tempur F-16 Indonesia, kemampuannya jauh dibawah F-16 yang dimiliki negara tetangga. secara tidak langsung, saat ini hanya SU-27/30 lah yang menjadi Inti kekuatan udara TNI AU digaris depan.
Untuk pengganti F-5 Tiger, Jika TNI AU ingin kualitas jawabanya adalah SU-35 dan jika TNI AU ingin kuantitas, tentunya F-16 adalah pilihan paling rasional. SU-27/30 dan F-16 sudah lama dipakai oleh TNI AU, logistik yang efisien dan kecekatan operasional bisa tetap dijaga bila pilihannya di persempit diantara 2 pesawat itu.
Hanya saja perlu diketahui bahwa setelah SU-27/30 diikutsertakan di pitch black 2012, kawasan udara Indonesia terjadi semacam pergeseran superioritas udara. SU-27/30 Indonesia benar-benar membuat banyak negara tetangga mengevalusi kembali kekuatan udara mereka. Bahkan untuk tetap menjaga superioritas udara di kawasan bumi selatan, Australia dan Singapura akhirnya membeli F-35. Australia memutuskan untuk membeli 72 – 100 unit F-35A dan Singapura sedikitnya 16 Unit F-35B. (Opini Mbah Moel)

Rapat Tertutup KSAU Bahas F-16 Terbakar

 
Kecelakaan F-16 Indonesia di Halim, Jakarta
Kecelakaan F-16 Indonesia di Halim, Jakarta

Pimpinan DPR menerima kunjungan Kepala Staf Angkatan Udara ?(KSAU) Marsekal Agus Supriatna. Pertemuan ini membahas masalah F-16 yang disorot lantaran gagal take off dan terbakar kemarin (16/4).
“Ngobrol saja, makan siang. Termasuk kita ingin tahu? latar belakangnya (soal peristiwa F-16 yang kecelakaan),” kata Wakil Ketua DPR Fadli Zon di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (17/4/2015).
Fadli lantas beringsut naik ke Ruang Rapat Pimpinan, Lantai 3, Gedung Nusantara III DPR?, tempat pertemuan tertutup sudah berlangsung. Dalam ruangan itu sudah ada pula Ketua DPR Setya Novanto.
Pesawat F-16 gagal take off dan terbakar di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (16/4). Pilot pesawat tersebut bisa selamat dari maut.
Pengadaan pesawat dari Amerika Serikat itu lantas menjadi sorotan karena masih ada 19 pesawat F-16 yang akan segera tiba di Indonesia selain lima pesawat yang sudah datang. Salah satunya adalah pesawat yang gagal take off tersebut.

Evaluasi pengadaan F-16
KSAU Marsekal Agus Supriatna telah menjelaskan ke Pimpinan DPR perihal insiden celaka pesawat F-16 yang terjadi kemarin (16/4). ?DPR mendorong agar pengadaan pesawat F-16 bekas dari Amerika Serikat itu dievaluasi.
“Intinya kita ingin alutsista (alat utama sistem persenjataan) udara kita ini betul-betul yang terbaik dan mutakhir. Kalau ada pengadaan seperti ini kita mesti evaluasi. Pada intinya seperti itu,” kata Wakil Ketua DPR Fadli Zon usai pertemuan dengan Agus di Ruang Pimpinan Gedung DPR, ?Senayan, Jakarta, Jumat (17/4/2015).
Pertemuan ini dilangsungkan kurang lebih selama satu jam, dipimpin Ketua DPR Setya Novanto. Agus sendiri menjelaskan bahwa keterangan yang dia sampaikan ke DPR pada kesempatan ini masih sama saja seperti yang kemarin disampaikannya kepada publik.
Untuk investigasi kecelakaan kemarin itu, Agus menyatakan penyelidikan masih berjalan. Yang jelas, perihal masalah dalam pesawat itu sudah disampaikannya ke pihak Amerika Serikat. Pesawat-pesawat itu tidak dilengkapi dengan drag chute, suatu parasut perlengkapan pesawat. Maka pada bulan Juni, pesawat-pesawat F-16 itu akan dipasangi drag chute oleh Amerika Serikat.
“Akhirnya saya bicara langsung menyampaikan berita ini kepada pihak AS sendiri. Bulan Juni, Alhamdulillah pesawat kita akan dipasang drag chute,” tutur Agus.
Pengadaan pesawat F-16, salah satu pesawatnya adalah yang mengalami kecelakaan di Bandara Halim Perdanakusumah kemarin, berjumlah 24 pesawat. Untuk sementara, lima pesawat yang sudah tiba itu tidak digunakan terlebih dahulu karena sedang diperiksa.
Untuk kondisi pilot F-16 yang berhasil selamat kemari, yakni Letkol Pnb Dwi Cahyono, saat ini sudah kembali sehat. “Alhamdulillah sudah sehat walafiat,” kata Agus. (Detik.com).

Latgab TNI Berakhir, 600 Prajurit Kostrad Tetap Tinggal di Poso

TNI Latihan Gabungan
Latihan tempur Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI yang berlangsung di Poso, Sulawesi Tengah, sejak 31 Maret 2015 berakhir, Jumat (17/4/2015). Namun, 600 personel Komando Cadangan Strategis TNI AD masih dipertahankan untuk mengawal kepentingan masyarakat.
“Latihan tempurnya sudah selesai hari ini, Jumat (17/4), namun 600 anggota saya masih tinggal untuk mendukung operasi pembinaan teritorial di bawah kendali panglima Kodam VII/Wirabuana,” kata Panglima Divisi II Kostrad, Mayor Jenderal TNI Bambang Haryanto di Poso, Jumat.
Dalam jumpa pers bersama menandai akhir latihan tempur PPRC TNI bersama Panglima Kodam VII/Wirabuana, Mayor Jenderal TNI Bachtiar, dia mengemukakan, perpanjangan masa tugas 600 personel Kostrad itu semata-mata karena permintaan masyarakat.
“Dari hasil pertemuan kami dengan pemerintah daerah, tokoh masyarakat dan agama, mahasiswa dan masyarakat desa, mereka semua meminta supaya Latihan PPRC ini diperpanjang karena manfaatnya bagi masyarakat sangat besar,” ujarnya.
Manfaat yang paling utama dirasakan masyarakat, kata Bambang, adalah kembalinya rasa aman masyarakat yang selama ini sangat terusik dengan aktivitas para teroris pimpinan Santoso yang bersembunyi di hutan-hutan Poso bahkan menculik dan membunuh rakyat.
“Masyarakat masih khawatir bahwa setelah latihan PPRC TNI selama tiga pekan ini, para teroris itu akan kembali lagi ke hutan-hutan Poso,” ujarnya.
Bambang menegaskan bahwa latihan tempur TNI ini telah mengetahui dan menemukan semua titik-titik persembunyian dan tempat latihan para teroris tersebut dan memastikan mereka sudah tidak berada di situ lagi,” ujarnya.
Atas desakan warga itulah, Kostrad memutuskan untuk memperpanjang masa tugas 600 personel untuk melaksanakan tugas-tugas penguatan teritorial di bawah kendali Pangdam.
Meski secara umum Mayjen Bambang mengaku belum puas dengan hasil latihan tempur itu, namun ia mengaku bahagia sebab latihan ini ikut mendorong peningkatan ekonomi warga desa di sekitar tempat latihan.
“Para pedagang di pasar dan toko-toko dan Warung makan mengaku mengalami peningkatan omzet sampai 200 persen. Ini sangat menggembirakan,” ujarnya.
Dari aspek profesionalisme, Mayjen Bambang mengatakan bahwa latihan tempur ini telah mampu meningkatkan keterampilan dan profesionalisme TNI dalam melaksanakan tugas-tugas tempur untuk mempertahankan kedaulatan NKRI.
Sementara itu Pangdam VII Wirabuana Mayjen TNI Bachtiar mengatakan akan melanjutkan latihan tempur PPRC ini dengan aktivitas penguatan teritorial berupa kegiatan sosial bedah rumah warga miskin, pemasangan pipa air bersih, pencetakan sawah baru dan berbaga pelatihan bagi warga dalam teknik bertani dan berkebun secara intensif.
Kegiatan yang akan melibatkan personel Kostrad dan anggota Batalyon Infanteri di Poso itu akan berlangsung selama enam bulan ke depan.
“Tidak ada lagi latihan tempur, yang ada hanya kegiatan sosial meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta aktivitas pengamanan swakarsa antara personel TNI dan warga Poso.(kompas)

F-16 terbakar sebelum take off, TNI AU makin minati Su-35

 
Su-35S-KnAAPO
Su-35S-KnAAPO.jpg

Insiden terbakarnya F-16 di Landasan Udara Halim Perdanakusuma membuat Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) mengkaji ulang kebijakannya mengenai pembelian pesawat bekas. Satuan dengan semboyan Swa Bhuwana Paksa ini tak mau kejadian serupa terulang kembali.
Kita ada rencana penggantian, dengan kejadian ini sudah jelas menjadi pengalaman dan introspeksi, jangan sampai kita membeli lagi pesawat F-16 bekas,” kata Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Agus Supriatna saat konferensi pers di Mabes TNI AU, Jakarta, Kamis (16/4).
Atas alasan itu, TNI AU menginginkan dua pesawat baru untuk menggantikan F-5F/E Tiger yang sudah saatnya dipensiunkan. Sedangkan, opsi membeli pesawat bekas tak akan masuk dalam program jangka panjang maupun pendek.
“Dua hasil kajian kita, antara Sukhoi Su-35 dan F-16 tipe 70 Viper,” katanya.
Agus mengharapkan tidak ada lagi pemberian hibah pesawat bekas untuk TNI AU, agar insiden kecelakaan pesawat tak terulang kembali. Namun, dia memastikan program ini tetap berlanjut mengingat TNI AU sudah mengeluarkan sejumlah uang untuk mendapatkannya.
Hibah pesawat F-16 tetap berlanjut Karena ini adalah program, sudah berjalan, sudah kontrak dan sudah kita bayar. Hanya kita akan lebih mengevaluasi dengan ada pengalaman ini,” tukasnya. (Merdeka.com)

Hikmah dibalik Insiden “engine fire” pada F-16 CD TNI AU TS-1643

 
@SonoraFM92
@SonoraFM92
Insiden terbakarnya pesawat F-16 di Halim Perdanakusuma  menurut Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna kepada wartawan di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (16/4/2015), Marsekal Agus Supriatna mengatakan pesawat tersebut merupakan hibah dari Amerika. Insiden engine fire, kata Agus, sangat jarang terjadi.
Pesawat itu baru datang, hibah dari Amerika, blok 25, pada saat take off, pada saat rolling, terjadi engine fire. Penerbangnya langsung melaksanakan abort pesawat. Karena engine-nya kebakaran,” kata Agus
Demikian berita “F-16 Tahun 80-an Terbakar, KSAU: Kalau Beli Pesawat Lebih Baik yang Baru”, yang dikutip di detikNews.
Mari kita menengok ke belakang Release resmi dari DSCA , dengan judul ” Indonesia – Regeneration and Upgrade of F-16C/D Block 25 Aircraft”,  (http://www.dsca.mil)

WASHINGTON, Nov. 17, 2011 – The Defense Security Cooperation Agency notified Congress Nov. 16 of a possible Foreign Military Sale to the Government of Indonesia for the regeneration and upgrade of 24 F-16C/D Block 25 aircraft and associated equipment, parts, training and logistical support for an estimated cost of $750 million.
The Government of Indonesia has requested a sale for the regeneration and upgrade of 24 F-16C/D Block 25 aircraft and 28 F100-PW-200 or F100-PW-220E engines being granted as Excess Defense Articles. The upgrade includes the following major systems and components: LAU-129A/A Launchers, ALR-69 Radar Warning Receivers, ARC-164/186 Radios, Expanded Enhanced Fire Control (EEFC) or Commercial Fire Control, or Modular Mission Computers, ALQ-213 Electronic Warfare Management Systems, ALE-47 Countermeasures Dispenser Systems, Cartridge Actuated Devices/Propellant Actuated Devices (CAD/PAD), Situational Awareness Data Link, Enhance Position Location Reporting Systems (EPLRS), LN-260 (SPS version, non-PPS), and AN/AAQ-33 SNIPER or AN/AAQ-28 LITENING Targeting Systems. Also included are tools, support and test equipment, spare and repair parts, publications and technical documentation, personnel training and training equipment, U.S. Government and contractor engineering, technical and logistics support services, and other related elements of logistical and program support. The estimated cost is $750 million.
The proposed sale will contribute to the foreign policy and national security of the United States by improving the security of a strategic partner that has been, and continues to be, an important force for economic progress in Southeast Asia.
Indonesia desires the F-16 aircraft to modernize the Indonesian Air Force (IAF) fleet with aircraft more capable of conducting operations in the outermost border regions of Indonesia. The IAF’s current fleet of F-16 Block 15 aircraft is not capable of fulfilling that role, and the aging F-5 aircraft are expensive to maintain and operate due to diminishing resources existing to support the aircraft. The avionics upgrade will provide the IAF an additional capability benefitting security by modernizing the force structure, and enhancing interoperability by greater use of U.S.-produced equipment. Indonesia, which already has F-16 Block 15 and F-5 aircraft in its inventory, will have no difficulty absorbing these upgraded systems.
The proposed sale of this equipment and support will not alter the basic military balance in the region.
Indonesia requested the regeneration be sole sourced to the 309th Maintenance Wing, Hill Air Force Base, in Ogden, Utah, and Pratt Whitney, in East Hartford, Connecticut for the engine overhaul. There are no known offset agreements proposed in connection with this potential sale.
Implementation of this proposed sale will not require the assignment of any additional U.S. Government or contractor representatives to Indonesia.
There will be no adverse impact on U.S. defense readiness as a result of this proposed sale.
This notice of a potential sale is required by law and does not mean the sale has been concluded.
Dari release resmi DSCA, ada pengadaan 28 F100-PW-200 or F100-PW-220E engines.
F100-PW-200 engine ( f-16.net)
F100-PW-200 engine ( f-16.net)

28 F100-PW-200/ F100-PW-220E engines, (f16.net)
F100-PW-200/ F100-PW-220E engines, (f16.net)

Klo melihat realese resmi DSCA,  engine untuk proses Regeneration and Upgrade of F-16C/D Block 25 Aircraft adalah baru dan pengadaannya ada 28 unit. Berarti ada 4 engine untuk suku cadang.
Berita lainnya :
“Sementara seluruh mesin pesawat F-16 C/D TNI AU ini  yaitu F100-PW-220/E menjalani upgrade di pabrik Pratt & Whitney di Old Kelly AFB, sehingga memiliki umur komponen dua kali lebih lama dari mesin standar…………..
Selanjutnya pesawat menjalani upgrading dan refurbished rangka serta sistem avionik dan persenjataan di Ogden Air Logistics Center di Hill AFB, Odgen, Utah. Rangka pesawat diperkuat, jaringan kabel dan elektronik baru dipasang, semua sistem lama direkondisi menjadi baru dan sistem baru ditambahkan agar pesawat lahir kembali, siap menjadi pesawat baru dengan kemampuan jauh lebih hebat dari saat kelahirannya.” (angkasa.co.id)
Karena mesin tersebut baru , pasti ada garansi pabrikan. Dan klo terjadi engine fire pastinya proses “regenerasi dan meng-upgrade pesawat F-16C/D blok 25” di Ogden Air Logistics Center di Hill AFB, Odgen, Utah ini  bermasalah.
Kita tidak ingin mencari mana yang salah dan mana yang benar ,  dan Yang pastinya mabes TNI dan kemhan khususnya TNI AU akan membentuk team untuk menyelidiki insiden terbakarnya pesawat F-16 ini.  Dan alhamdulillah , pilot TNI AU yang mengawaki pesawat naas tsb bisa Selamat. Letkol Pnb Firman Dwi Cahyono menjabat sebagai Komandan Skadron Udara 16 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, yang memegang rekor 2.000 jam terbang dengan menggunakan pesawat tempur F-16 Fighting Falcon merupakan salat satu ASET yang sangat berharga bagi TNI AU khususnya dan Bangsa Indonesia umumnya.
Semoga kejadian ini bisa menjadi hikmah dan interopeksi semua pihak yang terlibat didalam . Dan pernyataan tsb sudah keluar dari pernyataan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna menyatakan ada ‘hikmah’ di balik insiden terbakarnya pesawat F-16 di Halim Perdanakusuma pagi ini. Menurut Agus, sebaiknya mendatangkan pesawat tempur baru.