Senin, 13 April 2015

4 Pesawat Tempur Membawa Rudal Pintar Milik TNI AU Tiba Di Sumbar

 
Danlanud  Padang Ltk Pnb Muhammad Apon, ST, MPA menyambut kedatangan Ltk Pnb Jajang Setiwan Danskadron Udara 12 Lanud Rusmin Nuryadin Pakan Baru dalam rangka latihan Movrick di Bandara BIM Padang Pariaman Sumatera Barat, Sabtu
Hari ini Empat pesawat tempur jenis Hawk 100/200 dari Skadron Udara 12 Lanud Rusmin Nuryadin Pekan Baru lengkap dengan persenjataan rudal pintar jenis Maverick milik TNI AU tepat pukul 09.00 wib tiba  mendarat di Bandara Minangkabau Padang Pariaman Sumatera Barat untuk melaksakan simulasi latihan operasi udara diatas wilayah Sumatera Barat, Sabtu (11/4). Selama hampir sepekan ke depan para pilot tempur TNI Angkatan Udara ini berlatih penembakan dari udara ke sasaran di  darat dan laut  atau disebut juga air to groud dengan rudal maverick.
Danlanud Padang Ltk Pnb Muhammad Apon, ST, MPA menyambut kedatangan Ltk Pnb Jajang Setiwan Danskadron Udara 12 Lanud Rusmin Nuryadin Pakan Baru dalam rangka latihan Movrick di Bandara BIM Padang Pariaman Sumatera Barat, Sabtu, (11/4).
Danlanud Padang Ltk Pnb Muhammad Apon, ST, MPA menyambut kedatangan Ltk Pnb Jajang Setiwan Danskadron Udara 12 Lanud Rusmin Nuryadin Pakan Baru dalam rangka latihan Movrick di Bandara BIM Padang Pariaman Sumatera Barat, Sabtu, (11/4).

Menurut Danlanud Padang Letnan Kolonel Penerbang Muhammad Apon, ST, MPA menjelaskan, Kedatangan pesawat tempur TNI Angkatan Udara hari ini untuk dalam rangka memperkuat sistem pertahanan udara untuk menjaga kedaulatan NKRI khususnya di wilayah udara Indonesia. Sesuai Intruksi Pimpinan salah satunya adalah kehadiran kekuatan udara hingga di perairan Samudra Hindia. Lanud Padang yang memiliki posisi berhadapan langsung dengan Samudra ini memerlukan konsep dan persiapan yang jelas dalam penggelaran operasi udara untuk mendukung program Poros Maritim dunia. Dikatan lebih lanjut Pesawat tempur tersebut berada di Sumbar terhitung hari ini, Sabtu 12 April 2015 sampai 17 April 2015 mendatang, untuk memperagakan simulasi perang udara menggunakan smart Rudal jenis AGM-65 Maverick yang digelar di Pangkalan Udara Padang. Latihan itu juga dalam rangka persiapan menghadapi Indian Ocean Rim Association (IORA), yang akan diadakan di Sumbar yang sekaligus menjadi tuan rumah. Dengan melihat dinamika di lapangan dan pertimbangan strategis maka dalam latihan ini ada beberapa obyek vital di Sumbar akan menjadi area target central of grafity (sasaran utama) jelasnya.
Sementara itu Dan Skadron udara 12 Letkol Pnb Jajang Setiawan menambahkan, 4 pesawat tempur Hawk 100/200 yang tergabung dalam “Panther Flight, selama hampir sepekan ke depan akan melakukan penembakan Rudal dari udara ke sasaran yang ada di darat atau perairan menggunakan Rudal Maverick. Selain bertujuan untuk meningkatkan kemampuan para penerbang, latihan yang menggunakan Smart Bombing ini juga bertujuan untuk mencapai Currancy dalam melaksanakan penembakan menggunakan Rudal Maverick atau Air Guided Misille (AGM/TGM) 65. Dakatan lebih lanjut, Pada saat merilis Rudal tersebut para penerbang menggunakan parameter yang ada di radar pesawat dan Multi Purpose Display (MPD). Latihan ini merupakan latihan rutin Skadron Udara 12 yang dilaksanakan secara periodik. Menurutnya ini pengalaman yang istimewa untuk pertama kali Pesawat tempur Hawk 100/200 landing di Padang. Kita disambut sejuknya udara pantai dan indahnya pegunungan yang membentang sepanjang kota Padang ini menambah semangat untuk berlatih pungkasnya.
Latihan Maverick yang berbasis di Lanud Padang itu diikuti 10 penerbang dan 62 ground crew. Selain itu untuk mengakut para pesonil dan logistic juga didukung 1 pesawat angkut jenis C-130 hercules dari skadron udara 31 Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Sedangkan untuk kegiatan SAR telah di siaganka 1 unit Helikopter EC-120 Colibri dan 1 unit Brigade anjing serta I tim sarpur Paskhasau dari Yonko 462 Pakan Baru.
Rudal AGM 65 Maverick memiliki pemandu elektro-optik . Setelah kubah pelindung dicabut dan sirkuit videonya diaktifkan, tampilan yang dilihat oleh sistem pemandu akan muncul di layar kokpit. Pilot kemudian memilih target, mengunci target kemudian rudal ditembakkan. Sedangkan spesifikasi teknis Rudal AGM 65 Maverick dengan mesin : Thiokol TX-481 dengan motor roket berbahan bakar padat berpendorong ganda. Berat : 207,9 kg (AGM 65A/B), Panjang : 2,55 meter, Diameter : 30,48 cm, Bentan sayap : 71,12 cm,Kecepatan : 1.150 km/jam, Jangkauan : 27 km ( ketinggian tinggi ) dan 13 km ( ketinggian rendah )
Selain itu rudal ini memiliki Hulu ledak : 56,25 kg (AGM 65A/B), Sistem pemandu :elektro-optik, inframerah dan laser, Platform : Pesawat.
Sumber : tni-au.mil.id

Mantan Agen CIA: ISIS Dibentuk Israel, Amerika dan Inggris

 
(foto:nbcnews)
(foto:nbcnews)

Mantan pegawai Badan Keamanan Nasional (NSA) dan agen Central Intelligence Agency (CIA), Edward Snowden mengungkapkan bahwa Islamic State of Irak and Syria (ISIS) bukan murni organisasi militan Islam. Organisasi ini merupakan bentukan Amerika, Israel dan Inggris.
Menurut media-media di Iran, sepeti dikutip Moroccantimes, pemimpin ISIS, Abu Bakr Al Baghadadi dilatih secara khusus oleh badan intelijen Israel, Mossad. Badan intelijen tiga negara tersebut sengaja membentuk kelompok teroris untuk menarik kelompok-kelompok garis keras di seluruh dunia dalam satu tempat. Mereka menyebut strategi ini “sarang lebah”.
Dengan strategi ini, kelompok-kelompok yang merupakan musuh Israel dan sekutunya itu jadi lebih mudah terdeteksi. Tujuan lainnya, untuk merawat instabilitas di negara-negara Arab.
Abu Bakr Al Baghdadi.(foto:mirror)
Abu Bakr Al Baghdadi.(foto:mirror)

“Satu-satunya solusi untuk melindungi negara Yahudi adalah untuk menciptakan musuh di sekitar perbatasan,” ujar Snowden.
Menurut Snowden, Abu Bakr Al Baghadadi tak hanya mendapat pelatihan militer, namun juga keterampilan komunikasi dan public speaking agar bisa tampil meyakinkan untuk menarik para pengikut garis keras lain di seluruh dunia. (moroccoantimes/ MetroTV).

Latihan Bersama Marinir Indonesia–Amerika Berakhir

 Latihan Bersama Marinir Indonesia–Amerika Berakhir
Wakil Asisten Operasi Kasal Laksma TNI Didik Wahyudi, SE mewakili Asisten Operasi Kasal Laksda TNI Arie H. Sembiring secara resmi menutup Latihan Bersama Marinir Indonesia - Amerika yang bersandikan Lantern Iron 15-5524 di Pusat Latihan Tempur Korps Marinir Lampon, Pesanggaran, Banyuwangi, Jumat (10/4).
Dalam amanat tertulis yang dibacakan Waasops Kasal, Asops Kasal mengatakan, kegiatan Lantern Iron 15-5524 merupakan latihan bersama antara Marinir Indonesia dengan Marinir Amerika yang telah dilaksanakan selama 27 hari di Puslatpur Marinir Karangtekok dan Puslatpur Lampon dengan aman dan lancar.
Dengan selesainya latihan ini, lanjutnya, diharapkan prajurit Taifib Korps Marinir dan US MARSOC banyak mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru, sehingga pengalaman dan pengetahuan tersebut dapat dijadikan sebagai modal dalam menunjang pelaksanakan tugas pokok satuan  masing - masing.
Menurut Asops Kasal, latihan bersama tersebut disamping bertujuan untuk meningkatkan ketrampilan dan profesionalisme prajurit, juga dalam rangka menciptakan hubungan persaudaraan yang erat antara pasukan dari kedua negara, sehingga kerjasama militer di bidang pertahanan dapat diwujudkan.
Hubungan kerjasama khususnya dalam bidang latihan sudah lama terjalin, namun diharapkan agar ke depan hubungan baik tersebut akan terus ditingkatkan dengan menyelenggarakan latihan demi latihan, sehingga doktrin dan persepsi tentang pelaksanaan operasi amfibi dapat disinergikan.
Dalam kesempatan tersebut Asops Kasal mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya bagi pihak-pihak yang terlibat mendukung dan mensukseskan latihan bersama tersebut, sehingga dapat berjalan sesuai yang direncanakan. Selain itu, ucapan selamat juga disampaikan kepada peserta latihan yang telah selesai melaksanakan latihan, khusus bagi prajurit US MARSOC, Asops Kasal mengucapkan selamat jalan dengan harapan bisa bertemu kembali dimasa yang akan datang.
Sebelum pelaksanaan upacara penutupan, dilaksanakan evaluasi latihan, tukar menukar cindera mata, peresmian prasasti latihan, penanaman pohon kelapa, usai upacara dilanjutkan dengan pelepasan anak penyu atau Tukik ke laut.

TNI. 

Indonesia Tawarkan Pesawat dan Panser ke Afrika

Ilustrasi PT Pindad (ist)
Pemerintah bakal memanfaatkan momen Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika yang dilangsungkan pada 19-24 April 2015 untuk meningkatkan perdagangan internasional. Di hadapan ratusan perwakilan pejabat negara, Kementerian Perdagangan akan mempromosikan berbagai produk unggulan dalam negeri.
“Kami juga akan meningkatkan kerja sama bisnis, perdagangan, dan investasi,” kata Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional Bachrul Chairi melalui rilis yang diterima Tempo pada Ahad, 12 April 2015. Topik ini akan dibicarakan dalam salah satu acara KAA 2015, Asia-Africa Business Summit yang berlangsung di Jakarta.
Empat agenda penting yang dibicarakan adalah infrastruktur, perdagangan, agribisnis, serta kemaritiman dan kelautan. Menteri Perdagangan Rachmat Gobel akan memaparkan target peningkatan ekspor 300 persen.
Bachrul meyakini momentum ini tidak hanya bermanfaat untuk mengembangkan jaringan dan memperluas mitra usaha. Tapi juga untuk memperkenalkan potensi Indonesia dengan mempromosikan berbagai produk industri strategis.
Sejumlah produk badan usaha milik negara yang akan diperkenalkan adalah pesawat buatan PT Dirgantara, panser PT Pindad, dok kapal PT Kodja Bahari, perangkat pembangkit tenaga surya buatan PT LEN Industry, dan mobil pemadam kebakaran dari PT New Sentosa.
Data statistik 2014 menunjukkan volume perdagangan ekspor dan impor Indonesia dengan negara Asia dan Afrika hanya mencapai US$ 11 miliar per tahun. Sementara itu, perdagangan ekspor Asia ke Afrika mencapai 26 persen dari total ekspor Asia ke dunia, lebih besar dari ekspor Afrika ke Asia yang hanya 3 persen dari total ekspor mereka.
Melalui Asia Africa Business Summit, diharapkan nilai perdagangan antara kedua kawasan tersebut dapat lebih ditingkatkan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Direktur Kerja Sama APEC dan Organisasi Internasional Lainnya Deny Wachyudi Kurnia menegaskan perdagangan dengan kawasan Afrika saat ini masih rendah. “Padahal Afrika merupakan pasar alternatif yang sangat potensial bagi Indonesia dan Asia,” katanya.(tempo)

SMG Sa Vz 61 Skorpion: Pernah Jadi Andalan Paskhas Dalam Misi CQB

1
Heckler & Koch MP5 kini lazim digunakan di setiap pasukan elit TNI, meski begitu, tak bisa dipungkiri SMG (Sub Machine Gun) besutan Jerman ini dipopulerkan oleh Kopassus (Komando Pasukan Khusus) yang mengawali adopsi MP5 pada awal tahun 80-an. Selain MP5, ada SMG lain yang awalnya populer oleh satuan khusus tertentu, tapi kemudian juga dipakai satuan lain. Salah satunya adalah Sa Vz 61 Skorpion, SMG buatan Cekoslovakia.
Bagi pemerhati alutsista, Sa Vz 61 Skorpion mungkin sudah tak asing, senjata yang sekilas mirip UZI ini kerap ditampilkan oleh satuan Paskhas TNI AU. Umumnya, Skorpion dibawa bagi pasukan khusus (Den Bravo) yang sedang melaksanakan misi penerjunan, misi pertempuran jarak dekat, dan anti teror. Saat ini, Skorpion bukan lagi sebagai SMG utama di lingkup Korps Baret Jingga, pasalnya eksistensinya kini telah diambil alih H&K MP5. Dikutip dari Commando – Sub Machine Gun, War Machine Series, perwira intelijen Kopassus yang bertuagas di Timor Timur saat jejak pendapat tahun 1999 juga membawa Skorpion, lantaran senjata ini mudah disembunyikan, dan juga untuk penyangkalan, lantaran Skorpion bukan senjata organik TNI.
Personel Den Bravo 90 Paskhas TNI AU dengan Skorpion ( pada pengendara motor)
Personel Den Bravo 90 Paskhas TNI AU dengan Skorpion ( pada pengendara motor). Foto: Tribunnews.com
Personel Paspampres Wanita menyandang Skorpion.
Personel Paspampres Wanita menyandang Skorpion.

Tak hanya Paskhas dan Kopassus, Korps Brimob Polri justru pernah menjadikannya sebagai senjata standar, tak hanya untuk misi pertempuran jarak dekat/close quarter battle (CQB), tapi juga untuk misi mengawal kiriman uang, seperti pada Brimob di Yogyakarta. Satuan Intai Amfibi Marinir (Taifib) TNI AL pernah terlihat menggunakannya pada Latgab Yudha Siaga di tahun 2008. Wikipedia malah menyebut Kopaska (Komando Pasukan Katak) TNI AL juga turut menggunakan Skorpion. Karena desain yang simpel dan ergonomis laksana pistol, Paspampres juga kepincut mengadopsi Skorpion.
Sa (Samoval) Vz (Vzor) (pistol mitraliur) 61 Skorpion boleh dibilang perpanduan unik antara SMG dengan pistol otomatis. Pihak pabrikan CZ merancang Skorpion sebagai pengganti pistol, dengan kemampuannya membawa magasin , plus layout SMG, menjadikan posisinya istimewa karena dipakai pula oleh satuan lintas udara dan pasukan khusus Ceko. Dengan keberadaan popor lipat model tabung kawat , semakin menegaskan citranya sebagai SMG.
2
Skorpion dibangun dengan model yang berbeda dari senjata kebanyakan. Posisi pengokang ditaruh ditempatkan di sisi kiri-kanan receiver, sementara lubang tempat keluarnya peluru berada di sisi atas. Dengan bodi kecil dan mekanisme delayed blowback, jelas hanya butuh waktu singkat bagi bolt untuk kembali ke depan, menciptakan masalah tingginya kecepatan tembak Skorpion yang dihadapkan pada keterbatasan kemampuan laras Skorpion yang pendek dan tipis untuk mampu menanganinya. Kecepatan tembak senjata ini mencapai 850 peluru per menit, dengan kemampuan laras yang pendek dan tipis, maka laras akan lebih cepat panas.
Guna mengatasi problem di seputar laras, CZ merancang sear dan delayed lever/plunger. Begitu bolt sampai ke belakang, sear akan ‘mematuk’ bolt, menghentikannya sementara sampai kuncian sear diungkit oleh tuas plunger. Dengan begitu, terhambatnya bolt kembali ke depan secara otomatis mengurangi kecepatan tembak Skorpion.
Skorpion dapat ditembakkan dengan gaya ala pistol.
Skorpion dapat ditembakkan dengan gaya ala pistol.
Gaya menembak dengan popor.
Gaya menembak dengan popor.
Juga dapat dipasangi peredam dan optical sight.
Juga dapat dipasangi peredam dan optical sight.

Untuk urusan varian, Skorpion versi awal keluar dengan kaliber 32. ACP, satu-satunya kaliber yang ada dio arsenal Barat dan Timur. Tahun 1982, Skorpion mengalami perubahan lagi dengan diperkenalkannya Sa Vz. 82 dalam kaliber 9 x 18 mm Makarov, kaliber pistol standar Pakta Warsawa. Versi ekspornya disebut Sa Vz 83, diisi dengan peluru .380 ACP. Kedua varian ini sudah menggunakan popor hitam sintetik menggantikan popor kayu. Untuk yang lebih menyukai Skorpion dengan aroma SMG yang kental, disediakan magasin lurus berkapasitas 20/30 peluru dan juga peredam untuk aplikasi pasukan khusus.
_vyrp11_694CZ-Skorpion-61S-20008518_czech-small-arms-csa-sa-vz-61-scorpion-carbine-semi-auto-rifle-765mm-browning-32-acp-45-blued-foldin
Karena ukurannya kompak dan ergonomis, Skorpion mendapat tempat tersendiri baik di kalangan militer dan teroris. Pembajak PLO yang meledakan pesawat komersial di Dawson Field, Yordania di tahun 1970-an nampak mengacung-acungkan Skorpion di kokpit pesawat. Di Indonesia Skorpion juga pernah digunakan dalam aksi perampokan sadis yang menimpa toko emas di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pelakunya Liem Wei Sing (53) berhasil digulung pada Oktober 2008. Lewat aksi baku tembak degan Polisi, Wein tewas dengan meninggalkan sepucuk Skorpion dan 60 butir peluru tergeletak di samping tubuhnya yang tak bernyawa.
Skorpion mulai dirancang pada tahun 1959 oleh Miroslav Rybář, dan mulai resmi digunakan pada tahun 1961. Dalam rentang 1961 – 1979, Skrorpion telah diproduksi sebanyak 200.000 unit dalam berbagai varian, dan cukup aktif dalam kancah perang Vietnam dan perang Bosnia.
Tampil sebagai senjata utama dalam film "Smokin Aces 2."
Tampil sebagai senjata utama dalam film “Smokin Aces 2.”
SkorpionVz61firing

Spesifikasi Sa Vz 61 Skorpion
– Kaliber : .32 ACP/9 x 18 mm dan Makarov /9 x 19 mm
– Sistem operasi : delayed blowback
– Panjang total : 517 (popor terentang) dan 270 mm (popor terlipat)
– Panjang laras : 115 mm
– Bobot kosong : 1,28 Kg
– Kecepatan proyektil : 310 meter per detik
– Jarak tembak efektif : 150 meter
– Kecepatan tembak : 850 peluru per menit
– Kapasitas magasin : 10/20/24 dan 30 peluru

Minggu, 12 April 2015

Analisa Di Balik Pengepungan Daeng Koro

  Latihan pasukan TNI di Poso sekaligus mengepung pasukan Daeng Koro
Latihan pasukan TNI di Poso sekaligus mengepung pasukan Daeng Koro

Dengan informasi yang terbatas, ijinkan saya sharing analisa pribadi mengenai Daeng Koro, yang mungkin berlawanan dengan informasi mainstream.
Di berbagai media di infokan bahwa Daeng Koro:
1. Dipecat dari TNI karena zina
2. Tidak lulus test jasmani Kopassus (waktu itu namanya Kopassandha)
3. Setelah dari Kopassus beralih ke Yonif Linud Makassar.
4. Baik di Kopassus dan Linud ditugasi mengurusi voli, bukan di main role sebagai pasukan khusus.

Dari berita, Daeng Koro awalnya masuk TNI di Kodam IV Diponegoro Jateng. Kemudian dari Kodam IV melamar masuk Kopassus. Namun tidak semua prajurit se-Indonesia bisa ikut test masuk Kopassus. Prajurit yang mendapat rekomendasi ikut test Kopassus tentunya harus yang benar-benar unggulan dari setiap kesatuan/Kodam, karena dituntut bisa menjaga nama baik tempat asal.
Di sini timbul pertanyaan. Kalau si Daeng gagal masuk Kopassus, mengapa tidak dikembalikan saja ke kesatuan asalnya yg tentunya masih sangat membutuhkannya, daripada hanya ditugaskan sebagai pengurus voli.
Tidak hanya itu, dipindah ke kesatuan elit berikutnya pun di Yonif Linud Makassar masih juga sebagai pengurus voli. Saya baru sadar, di dalam kesatuan elit kita ternyata voli menjadi kegiatan cukup penting (?).
Setelah tidak di TNI sejak 1992, kabar Daeng baru muncul di media sekitar 2005/6 dalam konflik Poso. Sejak itu sampai sepuluh tahun dikabarkan sudah melakukan banyak teror bahkan melawan Polri, walaupun diburu terus oleh ratusan Brimob dan Densus 88. Beberapa teknik teror yang dilakukan, dalam menangkap 2 anggota polisi ternyata di suatu tempat berupa killing ground. Untuk menemukan kedua jenazah ini dilakukan TNI dgn kualifikasi pelacak jejak.
Bentuk teror lain berupa sebuah ledakan jebakan agar polisi mendatangi TKP secara lengah. Sadar kemungkinan dijebak, 15 polisi datang dengan kendaraan lapis baja, yg ternyata benar disambut berondongan senjata.
Daeng Koro pada akhirnya berhasil ditembak Densus 88 minggu lalu. Inipun karena kelaparan, setelah puluhan kurir logistiknya ditangkap, setelah long march 150 km Poso – Parigi Moutong, sekitar 15 hari kalau melewati hutan. Dan pula setelah ada unsur deterrent jepitan TNI sebanyak 3,000+ pasukan khusus dari darat, laut, dan udara dengan dukungan ratusan roket yang diluncurkan dari darat, kapal perang, dan F-16.
Bisa kita timbang-timbang, seorang pemain voli pada akhirnya menantang langsung pasukan khusus Polri dan TNI. Bandingkan dengan Dr. Azhari, bomber dari tetangga sebelah, paling banter beraninya melawan turis dan pengunjung hotel.
Pertanyaan yang muncul, betulkah desertir ini hanya seorang pengurus voli nan flamboyan dan tidak lulus test jasmani Kopassus? Dia yg pada akhirnya, telah long march 150 km di usia 52 tahun setelah 10 tahun lebih menteror, baru bisa dikalahkan oleh serangan proxy berkekuatan 1 brigade pasukan khusus gabungan (Joint Special Forces) include marinir, with heavily armed.
Fiksi Hollywood pun tidak terpikir untuk menaikkan pamor Rambo dengan level perbandingan sebesar ini!
Kini saya baru tercenung, ternyata inilah makna 1 prajurit Kopassus dirancang utk mampu setara 10 tentara, dan 1 Kostrad/Raider utk setara 3 tentara (tolong koreksi kalau saya salah) dan lebih dari itu mereka dirancang untuk meladeni perang berlarut.
Secara demikian, implikasi “seorang pemain voli” vs 1 Brigade JSF ini menjadi point2 faktual sbb:
1. Bahwa Kopassus termasuk pasukan elit terbaik dunia bukan isapan jempol.
2. Banyak pasukan elit dunia ingin berlatih dgn pasukan khusus Indonesia.
3. Pasukan khusus Amerika ingin belajar perang gerilya dgn TNI … Tapi setelah latihan bareng, prajurit Ranger Amerika tidak mau lagi .. makan ular.
4. Pemekaran Kopassus menjadi 5 Group (5,000 prajurit) diprotes banyak negara Barat, karena bakal setara 50,000 prajurit (5 Divisi).
5. Di JKGR pernah diberitakan keenam Yonif di Papua akan ditingkatkan menjadi Raider. Kalau tiap Yonif Raider berkekuatan 700+ prajurit, maka ada 4,000+ prajurit setara 40,000+ prajurit (4 Divisi).
Pada akhirnya, tidak perlu orang pintar dan jenius untuk menyimpulkan. Message untuk tetangga sebelah sudah jelas: hati-hati! Kalian sebaiknya melakukan study comprehensive terhadap pemain voli di sini, seperti apa kemampuannya, dan resiko apa kalau ceroboh melakukan perang darat di tanah NKRI. Gitu aja kok bingung!
Wallahu’alam. Salam.
WH

Sabtu, 11 April 2015

TNI AU Berharap Dapat F-16 Block 70 atau Su-35

Pesawat F-5E TNI AU (Foto: Roni Sontani)

ANGKASA.CO.ID - TNI Angkatan Udara berharap pesawat pengganti F-5E/F Tiger II Skadron Udara 14 yang sudah berusia 35 tahun, adalah dari tipe pesawat yang selama ini sudah dioperasikan oleh TNI AU namun dari generasi yang lebih tinggi lagi. “Ya, kita sudah pakai F-16 Block 15 dan Block 25. Sekarang kami berharap kalau bisa F-16 Block 70. Sementara kalau Sukhoi, kita sudah pakai Su-27/30, ya kami harapkan Su-35,” ujar KSAU Marsekal TNI Agus Supriatna di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (7/3).

Pertimbangan memilih kedua pesawat tersebut, kata KSAU kepada Angkasa, adalah karena para teknisi TNI AU sudah familiar dengan perawatan kedua pesawat yang masing-masing berasal dari Amerika Serikat dan Rusia tersebut. “Kasihan adik-adik, kalau harus mulai lagi dengan tipe pesawat yang baru,” jelasnya. Sebagaimana diketahui TNI AU telah mengoperasikan pesawat F-16 sejak 1989 dan Su-27/30 sejak tahun 2003.

Meski demikian, Agus Supriatna menegaskan, baik F-16 Block 70 maupun Su-35, belum diputuskan secara resmi sebagai pengganti F-5E/F Tiger II walaupun sudah santer disebut-sebut dalam banyak pemberitaan. “Oh tidak, TNI AU hanya mengajukan spesifikasi. Sedangkan yang mengkaji adalah dari Kementerian Pertahanan,” ujarnya. “Belum, belum diputuskan,” tambahnya lagi.

Mengenai masa operasi F-5 di TNI AU, walaupun sudah mengabdi 35 tahun, KSAU menyatakan bahwa F-5 masih bisa dimaksimalkan hingga tahun 2020. “Rencananya memang hingga tahun 2020. F-5 akan dimaksimalkan. Kondisinya masih bagus, walaupun hanya tinggal beberapa saja.”

Asisten Logistik KSAU Marsda TNI M. Nurullah, kepada Angkasa mengatakan, F-5 akan dipensiunkan bila pesawat penggantinya sudah datang. “Harapannya F-5 masih bisa digunakan sampai tahun 2020. Suku cadang F-5 masih bisa dibeli dari luar,” ujarnya. Meski demikian, kalau pesawat penggantinya bisa datang lebih cepat, F-5 pun akan segera dipensiunkan. Sebaliknya, kalau pesawat pengganti datangnya lama, F-5 bisa juga dipensiunkan di tengah jalan. “Bisa tahun 2020 atau sebelum itu,” ujarnya.

Seperti diketahui, saat ini Kementerian Pertahanan tengah mencari dan mengkaji pesawat yang cocok untuk menggantikan peran pesawat interseptor F-5E/F Tiger II Skadron Udara 14 Lanud Iswhajudi, Madiun. Beberapa negara sudah menawarkan produk unggulan pesawat tempurnya. Amerika Serikat menawarkan F-16 generasi terbaru Block 60 (atau Block 70 seperti yang disampaikan KSAU --Red), Rusia dengan Su-35, Swedia dengan JAS-39 Gripen, Konsorsium Eropa dengan Eurofighter Typhoon, dan Perancis dengan Rafale.

Pabrik SAAB Swedia telah mengundang beberapa wartawan Indonesia ke Swedia untuk melakukan peliputan guna melihat dan mendapatkan paparan mengenai teknologi Gripen. Perancis telah menghadirkan dua Rafale B/C Angkatan Udara mereka dan mendemonstrasikan kapabilitasnya di langit Lanud Halim Perdanakusuma. Sementara pada April ini rencananya Eurofighter juga akan datang ke PT Dirgantara Indonesia dan mengundang wartawan untuk memaparkan keunggulan jet tempur Typhoon.

Dalam ajang Indo Defence 2014 di Jakarta, Eurofighter dan SAAB juga datang menghadirkan simulator jet tempur mereka untuk dicoba oleh para pengunjung. Tinggal Rusia yang hingga kini terkesan masih “tenang-tenang saja” dengan unggulan mereka Su-35. Diakui banyak kalangan, jet tempur Su-35 memiliki daya gentar yang sangat tinggi. “Jangankan Su-35, kita latihan bareng dengan beberapa negara di Australia pakai Su-27/30 saja, kehebatan pesawat ini sudah bisa terukur,” ujar seorang perwira tinggi TNI AU. “Banyak yang ingin tahu pesawat Sukhoi kita. Apalagi sekarang sudah lengkap dengan beragam senjatanya,” sambungnya.

Pertanyaannya kemudian, bila TNI AU sudah berharap terhadap F-16 terbaru dan/atau Su-35, lalu mengapa masih banyak negara maju lainnya ikut menawarkan jet tempur unggulannya kepada Indonesia? Pertama, pembelian pesawat tempur selain ditinjau dari matriks perbandingan teknis dan kemampuannya, juga ikut menentukan faktor-faktor lain seperti harga, kemudahan perawatan, transfer teknologi, imbal dagang, hingga hubungan baik dengan negara penjual. Pengalaman menggunakan pesawat dari negara tertentu ikut berperan juga dalam hal ini. Banyak kendala atau sebaliknya.

“Beli pesawat tempur atau alutsista lain yang belum bisa kita produksi sendiri, maka harus dibarengi dengan transfer teknologi, adanya jaminan tidak terkena embargo akibat penggunaannya, dan juga harus disertai imbal dagang minimal 85%. Itu bagian dari amanat Undang-undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan,” kata sumber yang tidak mau disebutkan namanya.

Pemicu lainnya, tambahnya, karena TNI AU masih ada alokasi tiga skadron tempur baru hingga tahun 2024. “Belum lagi ke depannya, kita juga harus menyiapkan calon pengganti pesawat Hawk 100/200 Skadron Udara 1 dan Skadron Udara 12. Jadi total tiga skadron ditambah Skadron F-5 dan dua Skadron Hawk. Total masih ada enam skadron,” urainya.

Proses penggantian suatu pesawat di banyak negara membutuhkan waktu yang cukup lama. Mulai dari pengajuan kebutuhan, tinjauan, tender, perbandingan performa, kajian, penentuan pemenang, pembiayaan, kontrak efektif, produksi hingga ke realisasi pengiriman.

Skadron Udara 14 TNI AU sepertinya memang masih harus bersabar menanti pesawat pengganti F-5. Program pengadaan pengganti F-5 terdapat pada Rencana Strategis pemenuhan Minimum Essential Forces (MEF) periode dua, 2015-2019. Belajar dari pengalaman, pembelian pesawat butuh waktu yang cukup lama. Bisa jadi, paling cepat pengganti F-5 ini baru tiba di akhir periode MEF II. (roni sontani)