Sabtu, 11 April 2015

Yang Ditawarkan Rafale ke Indonesia

Sebagai peserta yang tampil paling akhir, Dassault Rafale tampak berupaya keras menyalip di tikungan akhir menjelang garis finish. Dan tidak main-main upaya yang dilakukan Dassault. Meski paling buncit, pabrikan Perancis ini langsung memboyong 2 unit jet tempur Rafale, untuk diujicobakan TNI-AU maupun Kementrian Pertahanan. Dan aksi yang dilakukan Rafale ini, sejujurnya mengundang decak kagum.


Namun, sebagaimana amanat Undang-Undang Industri Pertahanan, dan sekaligus pemanis kontrak, setiap pabrikan menawarkan sejumlah paket teknologi transfer. Dan untuk mencari tahu hal ini, ARCinc pun berkesempatan bertanya langsung kepada Executive Vice President America-Africa-Asia Military Sales dari Dassault Aviation, J.P.H.P Chabriol. Dan pertanyaan pertama tentunya paket transfer teknologi apa yang Dassault tawarkan ke pihak Indonesia.
Jawaban Chabriol cukup lugas. Ia menyatakan Dassault siap memberikan apapun yang Indonesia minta sebagai imbal pembelian Rafale. Mulai dari perawatan, produksi sub sistem hingga perakitan penuh (full assembly) jet tempur Rafale di Indonesia. Chabriol mencontohkan, pada penawaran dengan India, lebih dari 100 unit Rafale akan dibangun di dalam negeri India. "Meski jumlah pembelian Indonesia nantinya tidak sebanyak India, paket full assembly pun bisa saja dilakukan," papar Chabriol.

Selain itu, janji Dassault memberikan transfer teknologi bisa dilakukan lebih mudah lantaran Rafale merupakan jet tempur yang 100% murni buatan Perancis. Artinya tidak diperlukan persetujuan negara ketiga yang memasok subsistem dari Rafale. Bahkan Chabriol juga menyatakan kesiapannya bekerja sama dengan Industri Pertahanan lain seperti LEN, Pindad dan lain sebagainya.
Permasalahan lain yang kerap mengantui pembelian senjata oleh Indonesia adalah embargo. Untuk hal ini, Chabriol kembali mempertegas bahwa Rafale adalah 100% buatan Perancis. Jadi tidak perlu ada kekhawatiran mengenai embargo dari negara ketiga sebagai pemasok subsistem. Alutsista buatan Perancis sendiri sudah banyak digunakan militer Indonesia, mulai dari Helikopter, Panser, Meriam, Radar, dan sebagainya tanpa adanya bayang-bayang embargo.
Bagaimana dengan harga Rafale yang dianggap cukup mahal. Sembari tersenyum, Chabriol menyatakan keberatannya membandingkan Rafale dengan jet tempur yang lebih murah. Namun, ia kembali mencontohkan saat tender di India, dimana Rafale dibandingkan dengan Typhoon. "Setelah melalui beragam kalkulasi meliputi biaya operasional, life cycle, perawatan, Rafale justru lebih murah dibanding Typhoon", klaim Chabriol.

Sementara itu, dari sisi Indonesia, ARCinc bertanya langsung kepada PT.DI , yang juga ternyata salah satu pemrakarsa kedatangan Rafale ini. Dirut PT.DI, Budi Santoso, menyatakan yang ia cari adalah kemampuan mengupdate dan mengupgrade pesawat tempur. Menurutnya, pesawat tempur berbeda dengan pesawat angkut, dimana dalam masa operasionalnya selama 20-30 tahun, harus selalu diupdate sehingga bisa memenangkan pertempuran. Namun demikian, pihaknya tetap menyerahkan kepada pemerintah dan pihak terkait mengenai transfer teknologi yang disepakati.
Lalu bagaimana dengan Typhoon? Bukankah PT.DI sebelumnya tampak bekerja sama dengan Konsorsium Eurofighter? "Oh.. itu hanya pancingan, buktinya Rafale mau datang kan", kata Budi Santoso sambil tersenyum.

ARC. 

Pindad Jajaki Pembuatan Meriam Kapal dengan Italia

  Meriam 76 mm buatan Oto Melara pada korvet Kelas SIGMA (photo : Saberwyn)
Meriam 76 mm buatan Oto Melara pada korvet Kelas SIGMA (photo : Saberwyn)

PT Pindad (Persero) menjajaki pengembangan senjata kapal laut atau meriam dengan sebuah perusahaan di Italia. “Kami sudah bertemu dengan perusahaan senjata untuk kapal laut di Italia, rencananya kami akan bekerjasama mengembangkan meriam kapal laut,” kata Direktur Utama PT Pindad Silmy Karim di Bandung, Kamis (9/4).
Ia menyebutkan, Italia merupakan salah satu negara yang memiliki pengembangan senjata kapal laut yang baik di dunia, oleh karena itu Pindad menggandeng perusahaan itu.
Lebih lanjut ia menyebutkan, rencana kerja sama itu akan segera ditindak lanjuti oleh kedua belah pihak, namun yang jelas baik Pindad maupun pihak produsen senjata dari Italia itu sudah menemukan kecocokan untuk kerja sama lebih lanjut.
“Pokoknya dari kunjungan kami ke sana cukup strategis, dan itu selaras dengan progam Pindad untuk mengembangkan teknologi juga peningkatan kemampuan SDM,” katanya.
Ia menyebutkan, Pindad juga telah memproduksi beberapa munisi untuk kapal perang yang terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. “Selain mengembangkan senjata, kendaraan tempur dan munisi, kita juga kembangkan untuk munisi kapal laut serta engine,” kata Silmy.
Dia menyebutkan, selain mengunjungi Italia, Silmy juga menyatakan telah melakukan pertemuan dengan beberapa pihak di Prancis dan Jerman dalam rangka kerja sama pengembangan munisi dan kendaraan tempur. “Jerman memiliki perusahaan mesin untuk kendaraan tempur, kita jajaki ke sana untuk mesin-mesin itu.
Sedangkan dengan Prancis untuk pengembangan munisi kaliber sedang maupun kaliber besar,” katanya.
Lebih lanjut ia menyebutkan, pihaknya saat ini tengah mengembangkan munisi kaliber 105 milimeter untuk memenuhi kebutuhan munisi tank AMX-13 Retrofit TNI AD.
“Selain itu kami juga menjajagi pengembangan munisi kaliber 155 milimeter. Pasar munisi kaliber besar cukup potensial baik di dalam maupun luar negeri, meski target kita untuk memenuhi kebutuhan TNI,” kata Silmy. (Republika).

Lanud RSN Segera Terima Tambahan F-16

 
F-16CJ TNI AU (TS-1641), 21 Des 2014 di Lanud Soewondo Medan (Foto: Andang Tri Prabowo / http://jetphotos.net)
F-16CJ TNI AU (TS-1641), 21 Des 2014 di Lanud Soewondo Medan (Foto: Andang Tri Prabowo / Jetphotos.net)

Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin di Pekanbaru, Riau, menerima 16 unit pesawat jet tempur Fighting Falcon F-16 buatan AS pada tahun ini, untuk memperkuat pertahanan militer di barat Indonesia, khususnya Pulau Sumatera.
Komandan Pangkalan Udara Kolonel Muhammad Khairil Lubis mengatakan di Pekanbaru, Kamis 9/04/2015, bahwa pangkalan udara Roesmin Nurjadin akan mendapatkan lima unit jet tempur F-16 dari Kementerian Pertahanan pada bulan depan.
“Kami akan menerima lima jet tempur di bulan Mei,” ujar Kolonel Muhammad Khairil Lubis, seperti dikutip kantor berita Antara.
Dia menambahkan bahwa pangkalan udara itu saat ini rumah bagi lima unit jet tempur F-16 dan 16 unit pesawat Hawk 100 dan 200 berkemampuan serang darat, buatan Inggris.
Kolonel Lubis mengatakan pangkalan udara tersebut akan menerima lagi tambahan enam unit pesawat Pembom F-16, dari kementerian Pertahanan pada akhir tahun ini.
Penguatan pangkalan udara dengan mengoperasian dua skuadron pesawat pembom, sejalan dengan rencana pemerintah untuk meng-upgrade status pangkalan udara Roesmin Nurjadin dari Tipe B ke Tipe A, saat ini.
Dia menambahkan, dengan penguatan pangkalan udara yang dibutuhkan tidak hanya pesawat tempur baru dan persenjataan canggih, tetapi juga tentara profesional yang terampil dalam mengoperasikan dan memelihara teknologi militer modern. (thejakartapost.com).

Kunker ke Lebanon, Panglima TNI singgahi KRI Sultan Iskandar

  Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko saat singgah di KRI Sultan Iskandar di Beirut
Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko saat singgah di KRI Sultan Iskandar di Beirut

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko menyinggahi KRI Sultan Iskandar Muda-367 di Dermaga 3 Port of Beirut, Kamis (9/4/2015) waktu setempat. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kunjungan kerja Panglima TNI ke seluruh satgas Indonesia di Lebanon yang tergabung dalam misi perdamaian dunia dibawah UNIFIL.
Turut serta dalam kunjungan beberapa perwira staf, diantaranya, Asops Panglima TNI Mayjen TNI Indra Hidayat, Asintel Panglima TNI Laksda TNI Amri Husaini, Asops Kasad Mayjen TNI Jhoni L. Tobing, Kapuspen TNI Mayjen TNI Fuad Basya , Penmil PTRI New York Laksma TNI Yos Toto S, Atase Pertahanan RI untuk Kairo Kolonel Marinir Ipung Purwadi dan Kapokbungkol Spri Panglima TNI Kolonel Inf Rui Duarte.
Kedatangan Jenderal TNI Dr. Moeldoko beserta rombongan disambut oleh Komandan KRI Sultan Iskandar Muda-367 Letkol Laut (P) IGP Alit Jaya beserta para perwira kapal di geladak heli. Turut hadir dalam penyambutan, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Indonesia untuk Lebanon, Achmad Chozin Chumaidy, DMTF-COS Kolonel Laut (P) Arsyad Abdullah dan Komandan FHQSU Kolonel Inf Danni Koswara.
Panglima juga memberikan arahan serta menyampaikan ucapan terima kasih dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh prajurit TNI yang sedang melaksanakan tugas sebagai peace keeper di Lebanon.
Khusus kepada satgas MTF, Jenderal Moeldoko menyampaikan, bahwa satgas Kontingen Garuda MTF TNI XXVIII-G/UNIFIL akan mengemban misi operasi yang lebih lama dari satgas-satgas sebelumnya. Hal ini diputuskan melalui berbagai pertimbangan dan kajian oleh para pemimpin di tingkat Mabes TNI.
Dalam masa tugas yang cukup panjang tersebut, Muldoko meminta agar hal tersebut disikapi dengan arif dan bijaksana serta dipandang sebagai bentuk kepercayaan negara kepada seluruh prajurit Kontingen Garuda MTF TNI XXVIII-G/UNIFIL sekaligus salah satu usaha pimpinan untuk mensejahterakan para prajurit dan keluarganya.
Lebih lanjut, Panglima TNI juga menekankan agar seiring bertambahnya waktu, satgas yang ada saat ini dapat menunjukkan kinerja, semangat dan dedikasi yang semakin meningkat dibandingkan satgas-satgas terdahulu.
Selesai memberikan pengarahan, Panglima TNI beserta rombongan menuju ke Lounge Room Perwira untuk melaksanakan acara ramah tamah sembari menikmati refreshment. Pada kesempatan tersebut, Panglima TNI berkesempatan untuk menulis kesan dan pesan pada buku tamu yang telah disediakan.
Acara kunjungan kerja Panglima TNI beserta rombongan diakhiri dengan jamuan makan malam sebelum akhirnya meninggalkan KRI SIM-367 pada pukul 18.00 LT dengan diikuti iringan Mars Garuda yang dinyanyikan seluruh prajurit dari atas geladak helikopter. (lensaindonesia.com)

Panglima TNI kunjungi Prajurit TNI Satgas Indobatt di Lebanon Selatan

Panglima TNI kunjungi Prajurit TNI Satgas Indobatt di Lebanon Selatan
Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko mengunjungi Prajurit TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas Indonesian Battalion (Satgas Indobatt) Kontingen Garuda XXIII-I/Unifil (United Nations Interim Force in Lebanon) di bawah pimpinan Letkol Inf Andreas Nanang Dwi P., S.IP selaku Komandan Satgas (Dansatgas)bertempat di UN Posn 7-1 Adchid Al Qusayr, Lebanon Selatan, Jumat (10/4/2015).
 
Kunjungan Panglima TNI ke SatgasIndobatt merupakan rangkaian kegiatan kunjungannya di Lebanon, dengan maksudingin melihat dan mengetahui secara dekat pelaksanaan tugas Prajurit TNI yang tengah melaksanakan tugas sebagai Peacekeepersdalam misi PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) di Lebanon.
 
Kedatangan Panglima TNI yang didampingi oleh Asops Panglima TNI Mayjen TNI Indra Hidayat R., Asintel Panglima TNI Laksda TNI Amri Husaini, Kapuspen TNI Mayjen TNI M. Fuad Basya, Asops Kasad Mayjen TNI Johny L. Tobing, Komandan Kontingen Garuda Kolonel Inf Danni Koswara, beserta rombongan lainnya disambut oleh Dansatgas Indobatt Konga XXIII-I/Unifil Letkol Inf Andreas Nanang Dwi P, S.IP, didampingi Wadansatgas Mayor Inf Eko Handono beserta para Prajurit TNI Satgas Indobatt.
 
Turut serta dalam penyambutan Panglima TNI di Markas Indobatt, UN Posn 7-1 Adchid Al Qusayr, Lebanon Selatan,yaitu Komandan Sektor Timur Brigjen Olmos Ruiz dan Wakil Komandan Sektor Timur Kolonel Kav Yatanabey. Selain itu, kibaran bendera Merah Putih dan bendera Lebanon dari penduduk setempat dan anak-anak yang berada di sekitar Area Operasi Indobatt turut pula menyambut kedatangan Panglima TNI beserta rombongan.
 
Dalam sambutannya pada acara tatap muka dengan Prajurit TNI Satgas Indobatt,Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldokomenyampaikan terima kasih atas sambutan yang telah diberikan, dan merasa terkesan dengan kehadiran para tokoh masyarakat Lebanon Selatan yang turut menyambut kedatangannya.
 
“Saya terkesan dengan kedatangan para tokoh masyarakat maupun agama yang turut menyambut kedatangan saya beserta rombongan, saya harapkan hubungan baikdan kerja sama dengan masyarakat Lebanon Selatan yang telah terjalin agar terus di pelihara dengan baik, saya ucapkan terimakasih kepada seluruh prajurit,” ujar Jenderal TNI Moeldoko.
 
Panglima TNI juga berpesan, agar Prajurit TNI selalu menjaga nama baik Bangsa Indonesia dan soliditas para Prajurit TNI khususnya Kontingen Garuda yang ditugaskan sebagai pasukan perdamaian dimanapun senantiasa dipelihara. “Dengan soliditas personel dan satuan yang baik, tugas-tugas mulia yang diemban para Prajurit TNI selama di daerah operasi niscaya akan dapat dilaksanakan dengan baik pula”, ungkapnya.
 
Sebelum meninggalkan Markas Indonesian Battalion Kontingen Garuda XXIII-I/Unifil,  Panglima TNI berkesempatan meninjau gelar perlengkapan militer dan berfoto bersama seluruh para Prajurit TNI yang sedang melaksanakan tugas sebagai pasukan perdamaian di Lebanon.
 
TNI. 

Jumat, 10 April 2015

5 Pesawat Tempur Terbaik Dunia, Pernah Dimiliki TNI AU

  image
Mig 17 AURI (Merdeka.com)

Setelah Perang Dunia II berakhir ditandai dengan menyerahnya Jepang membuat Indonesia bergerak cepat membangun pertahanan untuk menghadang kembalinya Belanda ke bumi pertiwi. Usai proklamasi, Indonesia segera menyita sejumlah pesawat tempur milik Jepang yang ditinggalkan.
Sejak itu, Indonesia menjadi negara kedua di Asia Tenggara yang memiliki kekuatan pertahanan udara. Saat itu, Indonesia memiliki sejumlah pesawat tempur, yakni Mitsubishi A6M Zero-Sen, Mitsubishi J2M Raiden, Nakajima Ki-43 Hayabusa, Nakajima Ki-44 Shoki dan Nakajima Ki-84 Hayate. Indonesia juga menyita pesawat Curtiss P-36 Mohawk, Curtiss P-40E Warhawk, Supermarine Spitfire, Vought F-4U Corsair milik AU Belanda.
Penarikan mundur tentara KNIL dari Nusantara membuat Indonesia memiliki penambahan kekuatan.TNI AU mengambil alih P-51 Mustang, B-25 Mitchell, T-6 Texan, Douglas A-26 Invader, Douglas C-47 Dakota. Indonesia juga menerima De Havilland DH-115 Vampire dari Inggris dan sempat dipakai selama beberapa dekade berikutnya.
Kedekatan Indonesia dengan blok timur di bawah Uni Soviet membuat negeri ini menerima sejumlah pesawat baru dan paling modern. Pesawat sejenis Mikoyan-Gurevich MiG-15, hingga MiG 21 dimiliki TNI AU hingga disebut sebagai Macan Asia.
Berikut pesawat tempur terbaik dunia yang pernah dimiliki TNI AU:
Mig 17
Mig 17

MiG-17 Fresco
Mikoyan-Gurevich MiG-17 merupakan salah satu pesawat tempur modern yang dimiliki TNI AU. Kedekatan hubungan membuat Uni Soviet tak keberatan ketika Indonesia berniat membeli 66 unit pesawat ini.
Pesawat ini pertama kali terlibat dalam pertempuran udara di Selat Taiwan dan Perang Vietnam. Dalam kedua pertempuran itu, pesawat ini membuat pesawat-pesawat tempur yang diterbangkan pilot AS waspada.
MiG-17 Fresco semula dibuat sebagai pesawat tempur serbaguna dengan pengoperasian siang hari. Pesawat ini juga dapat digunakan sebagai pesawat tempur-bomber, tetapi daya angkut bom-nya relatif kecil jika dibandingkan dengan pesawat lain saat itu, dan biasanya membawa tangki bahan bakar tambahan selain bom.
MiG-17 memiliki panjang 11,26 meter dan lebar sayap 9,63 meter. Pesawat berbobot kosong 3.919 kg dan bobot maksimal 5.350 kg ini dilengkapi mesin Klimov VK-1F. Kecepatan pesawat mencapai 1.145 km per jam pada ketinggian 10.000 kaki dan melesat sampai 2.060 km.
Pesawat varian ini dipersenjatai dua senapan 23mm NR-23 dan satu senapan 37mm N-37, yang terpasang di bawah intake-udara. TNI AU sendiri memiliki dua varian pesawat jenis ini, yakni MiG-17F, MiG-17PF. Semua varian dapat membawa 100 kg bom hingga 250 kg bom. MiG-17PF TNI AU dilengkapi radar Izumrud-5 (RP-5).
Mig 21
Mig 21

MiG-21 Fishbed
Tak kalah dengan pendahulunya, MiG-21 memiliki panjang 14,5 meter dan lebar sayap 7.154 meter ini memiliki bobot bersih 8.825 kg. Pesawat ini dilengkapi sebuah mesin Tumansky R25-300 yang membuatnya melesat hingga 2.175 km per jam dengan jarak tempuh 1.210 km.
Pesawat ini menjadi pesawat yang paling sukses dibuat Mikoyan, jet supersonik ini paling banyak populasinya dan banyak digunakan sejumlah negara dunia. Salah satu fitur yang menonjol adalah biaya produksinya yang rendah.
NATO, memberikan julukan khusus untuk MiG-21 yakni ‘fishbed’, yang berarti fosil ikan. Sedangkan pilot Soviet menyebut pesawat ini ‘balalaika’ karena sayapnya yang berbentuk segitiga.
Seperti MiG-17, MiG-21 juga sukses dalam perang Vietnam. Bodinya yang ramping membuat jet ini mampu bergerak dengan gesit dan lincah. Kondisi ini membuat armada AS membuat taktik khusus guna menghadapinya, namun tindakan itu tak membuat MiG-21 kalah dalam pertempuran udara.
TU-16 Badger
TU-16 Badger

Tu-16 Badger
TNI AU menerima 25 unit pesawat bomber Tu-16 Badger dengan varian Tu-16KS-1 pada 1961. Pesawat-pesawat ini sedianya bakal digunakan untuk Operasi Trikora dalam merebut kembali Irian Barat dari Belanda.
Salah satu targetnya adalah Kapal Hr Ms Karel Doorman, sebuah kapal induk AL Belanda yang berlayar dekat Irian Barat. Kapal ini menggunakan rudal anti-kapal AS-1 Kennel,
14 Unit Tu-16 ditempatkan dalam Skadron 41 dan sisanya di Skadron 42. Kedua skadron ini bermarkas di Pangkalan Udara AURI Iswahyudi, di Madiun, Jawa Timur. Semua unit Tu-16 tidak diterbangkan lagi pada tahun 1969 dan keluar dari armada AURI pada tahun 1970.
Tu-16 ini memuat 7 orang kru mulai diperkenalkan pada 1954 dan berhenti diproduksi tahun 1993. Pesawat berbobot kosong 37.200 kg ini dilengkapi 2 mesin Mikulin AM-3 M-500 dan mampu melesat hingga 1.050 km per jam, serta mampu menjelajah sampai 7.200 km.
Pesawat ini dilengkapi 6-7 meriam Afanasev Makarov AM-23 23 mm, dan rudal jenis Raduga KS-1 Komet (AS-1 Kennel), Raduga K-10S (AS-2 Kipper) anti-kapal, atau Raduga KSR-5 ( AS-6 Kingfish ) anti-kapal. Dalam misi pengeboman, Tu-16 mampu membawa 9.000 kg bom menuju target. Pesawat inilah yang dulu sempat membuat Australia ketar-ketir.
North American B-25 Mitchell
North American B-25 Mitchell

North American B-25 Mitchell
Pesawat pembom bermesin kembar kelas menengah ini dibuat North American Aviation dan banyak digunakan sejumlah angkatan udara sekutu. Pesawat ini sering digunakan dalam berbagai misi pemboman udara selama berlangsungnya Perang Dunia II dan tetap digunakan selama dua dekade.
TNI AU mendapatkan pesawat ini secara gratis dari tangan Angkatan Udara Belanda (RNLAF). Bersama 26 Invader, keduanya menjadi kekuatan inti dari Skadron 1 AURI.
Di bawah Skadron 1, kedua pembom B-25 dan B-26 bertugas sebagai pembom taktis. Tugasnya adalah membantu operasi darat dan Taut. Karena semakin meningkatnya intensitas konflik horizontal di dalam negeri, permintaan dukungan dari Skadron 1pun semakin meningkat.
Tidak lama setelah diterima AURI, B-25 langsung ditugaskan untuk menjalani sejumlah operasi militer di seluruh Tanah Air. termasuk pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS), PRRI/Permesta hingga mendukung Operasi Seroja yang berlangsung pada 1975.
Secara spesifikasi, pesawat ini diawaki enam orang kru. Bermesin Wright R-2600-92 Twin Cyclone 14-silinder air-cooled radial engine, B-25 mampu melesan hingga 272 mph, atau 438 km per jam.
Pesawat ini dilengkapi senapan mesin kaliber 12.7 mm dan kanon T13E1 kaliber 74 mm, serta high velocity aircraft rockets (HVAR) kaliber 127 mm. Bom yang dapat dibawa mencapai 1.360 kg.
A-4 Skyhawks
A-4 Skyhawks

A-4 Skyhawks
Pembelian pesawat ini bermula dari memburuknya hubungan Indonesia dengan Uni Soviet di era Orde Baru, alhasil spareparts untuk memperbaiki Il-28 Beagles dan Tu-16 Badgers disetop. Untuk menggantikannya, TNI AU mengincar A-4 Skyhawks dari Amerika Serikat, namun ternyata negara ini hanya mampu memberikan sedikit, sedangkan kebutuhan armada sangat banyak.
Indonesia lantas memutuskan untuk membeli pesawat tersebut dari Israel meski tak memiliki hubungan diplomatik sekalipun. Alhasil, pesawat ini berdinas sejak 1982 hingga dipensiunkan pada 2003. Pada tahun itu, TNI AU menggantinya dengan dua unit Su-27SK dan dua unit Su-30MK dari Rusia.
Dengan mengandalkan mesin Pratt & Whitney J52-P8A turbojet, pesawat ini mampu melesat dengan kecepatan 1.077 km per jam dan menempuh jarak hingga 3.220 km. Tak heran jika TNI AU sempat menampilkan kecanggihan pesawat ini dalam serangkaian acara aerobatik udara.
Dalam pertempuran, A-4 Skyhawk dapat mengangkut 2 unit kanon Colt Mk 12 kaliber 20 mm yang mampu menembakkan 100 peluru, menembakkan roket Mk 32 Zuni. Pesawat ini juga dapat membawa AIM-9 Sidewinder, AGM-12 Bullpup, AGM-45 Shrike anti-radiation missile, AGM-62 Walleye TV-guided glide bomb, dan AGM-65 Maverick.
Sedangkan bom yang dapat diangkut jet tempur ini antara lain Rockeye-II Mark 20 Cluster Bomb Unit (CBU), Rockeye Mark 7/APAM-59 CBU, Mark 80 series of unguided bombs, B43 nuclear bomb, B57 nuclear bomb dan B61 nuclear bomb. (Merdeka.com).

Hawk MK.53: Perjalanan dari Jet Latih, Penempur Taktis Hingga Andalan Tim Aerobatik TNI AU

1
Pasca berakhirnya pengabdian singkat jet latih Aero L-29 Delfin pada masa revolusi 1965, praktis TNI AU kehilangan sosok jet latih lanjut untuk melatih kader penerbang tempurnya. Dan seiring berubahnya haluan politik di Indonesia, maka poros pengadaan alutsista pun bergeser dari Eropa Timur ke AS dan Eropa Barat (NATO).
Kekosongan di lini jet latih lanjut nyatanya mendapat perhatian serius di era Soeharto. Lewat kontrak yang ditandatangani oleh KSAU Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi dan wakil pabrik British Aerospace pada 1978, Indonesia resmi memesan 20 unit jet latih lanjut Hawk MK.53 dari Inggris.
Dua unit perdana Hawk MK.53 tiba dari Inggris tahun 1980, dan memperkuat Skadron Pendidikan (Skadik) 103 Lanud Adisutjipto, Yogyakarta. Dua pesawat ini bernomer ekor LL-5301 dan LL-5302. Kedua pesawat mendarat dengan mulus di Lanud Halim Perdanakusuma pada 29 September 1980. Kode LL di ekor pesawat menyiratkan “Latih Lanjut.” Kemudian seiring reorganisasi TNI AU pada Januari 1985, Hawk MK.53 mendapat ‘promosi’ dengan masuk di jajaran Wing Tempur 300 yang berkedudukan di Lanud Iswahjudi, Madiun. Rumah baru Hawk MK.53 pun berganti menjadi Skadron Udara 15. Selain tetap mengemban peran latih lanjut bagi calon penerbang tempur, Hawk MK.53 juga mengemban peran sebagai pesawat berlabel TT (Tempur Taktis).
81113
Meski menyandang label TT, sejatinya kemampuan tempur Hawk MK.53 amat terbatas, maklum kodrat aslinya memang sebagai pesawat latih. Meski begitu, Hawk MK.53 mampu dipasangi kanon eksternal ADEN 30 mm di bawah body, roket FFAR dan bom ringan pada sayapnya. Singkat kata, Hawk MK.53 lumayan untuk misi serang darat terbatas. Perlu dicatat, varian Hawk MK.53 tidak dipersiapkan untuk membawa rudal udara ke udara sekelas AIM-9 Sidewinder.
Sebagai pesawat latih, keluarga Hawk dikenal memberikan kenyamanan kepada para penerbang. Hawk amat cocok digunakan untuk pengenalan basic training di jet tempur. Desain sayapnya yang swept wing, menambah fleksibilitas dalam melakukan manuver di udara. Untuk menunjang keselamatan, pesawat dilengkapi zero zero rocket boosted ejection seat Martin Baker MK.10, dan dapat digunakan saat pesawat masih ada di landasan. Kanopinya dibekali Miniatur Detonating Cord (MDC) sebagai pemecah kanopi, menjadikan proses penyelamatan lebih sempurna. Sementara untuk urusan mesin, Hawk mengusung Rolls Royce Adour Turbofan dengan sistem modular, alhasil untuk pemeliharaan jadi lebih ringan.

Berikut beberapa warna yang pernah digunakan pada Hawk MK.53 TNI AU
Warna khusus ini pernah digunakan pada pembuatan film IMAX (Indonesia Indah).
Warna khusus ini pernah digunakan pada pembuatan film IMAX (Indonesia Indah).
Warna Hawk MK.53 saat digunakan untuk peran Latih Lanjut.
Warna Hawk MK.53 saat digunakan untuk peran Latih Lanjut.
Hawk MK.53 dengan kamuflase fungsi Tempur Taktis (TT). Warna ini juga yang digunakan oleh JAT.
Hawk MK.53 dengan kamuflase fungsi Tempur Taktis (TT). Warna ini juga yang digunakan oleh JAT.
Teknisi sedang memasang drag chute.
Teknisi sedang memasang drag chute.

Andalan Tim Aerobatik TNI AU
Keberadaan Hawk MK.53 juga mewarnai kebangkitan tim aeroabatik TNI AU. Dimulai dengan “Spirit 85” yang tampil perdana pada HUT ABRI 1985 di Kemayoran. Kemudian formasi tim aerobatic melebur dan kembali hidup kembali pada dekade 90-an dengan nama JAT (Jupiter Aerobatic Team). Kini JAT tetap eksis melakukan atraksi aerobatk, namun tak lagi mengandalkan pesawat jet, melainkan dengan pesawat turbo propeller KT-1B Wong Bee buatan Korea Selatan.
4512
Hingga tahun 2011, dari 20 unit Hawk MK.53 yang dibeli Indonesia, hanya tinggal beberapa unit saja yang beroperasi. Dalam keseharian, hanya satu atau dua pesawat saja yang terbang akibat suku cadang yang sudah langka, dan masa pakai pesawat yang sudah mendekati purna tugas. Kemudian pada Kamis, 12 Maret 2015 menjadi momen bersejarah dan mengharukan. Dalam cuaca yang sejuk, 2 unit Hawk MK.53 yang tersisa akan melakukan penerbangan terakhir (last glight) dari Lanud Iswahjudi ke Lanud Adisutjipto. Dimana nantinya Hawk MK.53 akan menjadi penghuni baru bagi Museum Dirgantara Mandala, menambah semarak heterogen koleksi museum, Hawk MK.53 akan berdampingan bersama A4-Skyhawk dan pembom Tu-16 Badger. (Bayu Pamungkas)

Spesifikasi Hawk MK.53
– Pabrik : British Aerospace
– Awak : 2 orang
– Panjang : 11,85 meter
– Rentang sayap : 9,39 meter
– Tinggi : 4,10 meter
– Berat kosong : 3.628 Kg
– Berat maksimum : 7.750 Kg
– Mesin : Rolls Royce/Turbomeca Adour
– Kecepatan max : 1.2 Mach
– Ketinggian max : 13.565 meter
– Jarak jelajah : 2.520 Km
– Kecepatan menanjak : 47 meter per detik