Rabu, 25 Maret 2015

Rafale Ikut Jajal Keberuntungan di Indonesia

1310M6249C510-59460
Dari beberapa pemberitaan disebut-sebut TNI AU dan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI telah memilih Sukhoi Su-35 Super Flanker sebagai penempur pengganti jet F-5 E/F Tiger II Skadron Udara 14. Namun, setelah kabar itu muncul bukan berarti peluang bagi Eurofighter Typhoon dan JAS 39 Gripen lantas kandas. Sebelum penandatanganan kontrak pembelian terjadi, masih ada peluang bagi kompetitor Su-35 untuk memenangkan persaingan.
Jika dibandingkan dengan upaya promosi Eurofighter Typhoon dan Gripen, jet tempur lainnya terasa adem ayem saja dalam melakukan promo, dan tidak berupaya menciptakan product awareness ke publik di Tanah Air. Namun justru ada yang mengejutkan pada hari Senin, 23 Maret lalu. Sepasang jet tempur Dassault Aviation Rafale mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma sekitar pukul 11.00 WIB. Seperti dikutip dari Angkasa.co.id ( 23/3), kedua Rafale datang untuk melaksanakan misi promosi. Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsma TNI Sri Pulung Dwatmatsu mengakatakan, Rafale akan melaksanakan pertunjukan statik maupun dinamik di Halim mulai tanggal 24 Maret hingga tanggal 27 Maret.
Meluncurnya dua Rafale ke Indonesia terkait dengan rampungnya pameran dirgantara LIMA (Langkawi International Maritime & Aerospace) 2015 Exhibition di Malaysia 17-21 Maret lalu. Menyertai kedatangan dua Rafale, AU Perancis juga menghadirkan pesawat angkut berat Airbus A-400 yang membawa logistik dan kru teknisi. Karena punya kemampuan isi bahan bakar di udara (air refuelling), rombongan kedatangan Rafale juga menyertakan satu unit pesawat tanker. Metode isi bahan bakar di udara menganut probe dengan drogue, serupa dengan modus yang digunakan pada Sukhoi Su-30 dan Hawk 209 TNI AU.
Rafale B di Lanud Halim Perdanakusuma.
Rafale B di Lanud Halim Perdanakusuma.
Rafale C
Rafale C
yes2016292
Kedua Rafale yang unjuk gigi di Lanud Halim terdiri dari varian B (kursi ganda) dan C (kursi tunggal). Rafale, yang dalam bahasa Perancis berarti tiupan angin badai, adalah wujud ambisi Perancis menunjukkan kemandirian militer mereka. Saat negara-negara Eropa lain bergabung untuk mengembangkan bersama pesawat Eurofighter Typhoon pada pertengahan 1980-an, Perancis memilih mundur. Mereka mengembangkan sendiri proyek pesawat ACX, yang kemudian menghasilkan Rafale.
Rafale dibuat memenuhi tuntutan AU dan AL Perancis, yang menginginkan sebuah pesawat yang bisa menjalankan fungsi tujuh pesawat berbeda. Pesawat itu dituntut harus bisa menjalankan berbagai misi, mulai dari keunggulan udara, pengintaian, dukungan udara bagi serangan darat, serangan presisi udara ke permukaan (sasaran di tanah maupun di laut), hingga mampu menjalankan serangan nuklir.
photos-rafale-en-exercice_aRafale_3-vuesdassault-rafale-b-2gbu-scalp-rafale-1
Dari segi generasi, Rafale merupakan pesawat tempur generasi 4,5. Debut Raffale dimulai pada 4 juli 1986 dan mulai terdengar keampuhan teknologinya baru-baru ini saat perang antara tentara koalisi dengan Rezim Khadafi. Rafale disinyalir telah melumpuhkan beberapa obyek pertahanan udara vital dan pesawat tempur. Namun sebuah pertanyaan muncul apakah kesaktian Rafale yang disebut oleh produsen Dassault Aviation sebagai Omnirole (Maha bisa) bukan Multirole seperti yang banyak disebut. Ditilik dari momen keterlibatannya dalam pertempuran, baik Rafale dan Eurofigter Typhoon sama-sama menggunakan medan perang di Libya sebagai ajang ‘promo’ untuk mendapat gelar battle proven.
Dengan kemampuan Rafale yang half stealth dan bekal radar AESA yaitu Radar Susunan Terpindai Elektronis Aktif yang dapat mengenali dan menembak musuh lebih dari satu target, membuat Rafale pantas menyandang sebutan Omnirole, namun perlu dilihat pula bahwa harga 1 unit Rafale masih sangat mahal bagi negara dengan budget militer pas-pasan, per unitnya untuk varian C dibanderol US$94 juta, sedangkan varian B lebih mahal lagi, yakni US$101 juta, itu semua belum termasuk persenjataan dan maintenance. Hingga kini, di luar Perancis, baru AU Mesir yang menggunakan Rafale.
Meski berpeluang tipis masuk ke jajaran arsenal tempur TNI AU, hadirnya Rafale harus dihargai sebagai laga persahabatan antara Indonesia – Perancis. 
 

Bendera Putih Jenderal Goliath

Bendera Putih Jenderal Goliath
Pasukan OPM Paniai (Banjir Ambarita| Papua)

Pelarian dan persembunyian bertahun-tahun dari hutan ke hutan sang pemberontak kini usai sudah. Lewat perwakilannya pada Senin 23 Maret 2015, secara mengejutkan, Jenderal Goliath Tabuni, panglima tertinggi Organisasi Papua Merdeka (OPM), mengaku menyerah.
Mereka mengaku ingin turun gunung dan berbaur layaknya kehidupan tenteram masyarakat Papua di tengah kota. Sepertinya keletihan diburu dan dikucilkan serta dicap jelek sebagai kelompok pemberontak membuat mereka berubah sikap.

Dalam permintaannya, Goliath mengaku hanya ingin dibuatkan Honai, rumah kayu beratap kerucut yang terbuat dari jerami dan ilalang serta satu pos Komando Daerah Militer di daerah mereka di Tingginambut. 
"Kami akan berusaha memenuhi permintaan untuk membangun rumah adat, tapi untuk markas Koramil akan dipertimbangkan lebih dulu," kata Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal Gatot Nurmantyo, Selasa, 24 Maret 2015.

Sinyal damai Goliath ini memang patut diapresiasi. Apalagi, sejarah telah mencatat sudah berapa nyawa dan konflik yang lahir dari kelompok separatis ini dengan pihak keamanan di negeri Cendrawasih.

Keputusan sang jenderal jelas akan membuat pengaruh besar bagi situasi keamanan di Papua. Apalagi, Goliath mundur dengan membawa serta 23 pasukan dan keluarganya.

Tentu, manuver ini sedikit membuat pergerakan gerombolan separatis cukup terhenyak. Sebab, sang jenderal harus diakui sudah menjadi figur panutan para pengikut yang selama sekian tahun ini sudah ikut bersembunyi di hutan-hutan.

Secara historis, sebagai organisasi yang lahir sejak tahun 1965, OPM selalu mendoktrin kepada pengikutnya bahwa mereka tidak memiliki hubungan sejarah dengan Indonesia ataupun negara lainnya di Asia.

Apalagi, negeri Papua pada tahun 1969 resmi dimasukkan ke Indonesia karena ada perjanjian antara Belanda dengan Indonesia. Sebab itu, mereka beranggapan bahwa memasukkan Papua ke dalam NKRI tak lebih hanya sebagai penyerahan dari satu penjajah ke penjajah lainnya.

Tak Lagi Perang?
Sejauh ini, pemerintah Indonesia mengaku sinyal damai yang digulirkan Goliath akan ditindaklanjuti. Permintaan Honai dari kelompok separatis ini dan mendudukkan mereka layaknya warga biasa akan dipenuhi.

Namun apakah ini akan meredam aksi pemberontakan dan kekerasan di Papua? Hal ini patut diwaspadai.

Sebab, pasca munculnya pernyataan Jenderal tertinggi OPM atas penyerahan dirinya, justru mengkristalisasi semangat para separatis lain untuk berusaha lebih keras memperjuangkan kemerdekaan mereka di Papua.

Isyarat ini dilontarkan oleh Panglima Revolusioner Papua Merdeka Puron Wenda. Dalam pernyataannya melalui sambungan telepon seluler, Puron menyebut bahwa keputusan Goliath adalah keputusan pribadi bukan secara kelembagaan.

Dengan kata lain, semangat dan perjuangan pengikutnya tak akan pernah pudar hanya karena mundurnya Goliath dari garis perjuangan OPM di Papua. "Kalau Goliat menyerah itu oknum masing-masing. Kami tidak akan menyerah dan akan terus berjuang untuk kemerdekaan Papua," ujar Puron.

Puron tak menampik, bila sinyal kemunduran Goliath dari perjuangan untuk Papua merdeka sudah mulai muncul selama beberapa tahun ke belakang. Dalam beberapa kali pertikaian yang muncul antara OPM dan pihak keamanan, Goliath terlihat tak begitu reaktif.

"Kami yang selama ini beraksi di lapangan, saya juga dulu yang baku tembak di Puncak Jaya. Baru kemudian saya pindah ke Lany Jaya, sedangkan Goliat tidak pernah," kata Puron.

Menurut Puron, gerakan separatis mereka murni untuk memperjuangkan nasib rakyat di Papua. Ketertindasan yang dialami rakyat Papua hingga berpuluh-puluh tahun telah membakar dendam mereka.

Sebab itu, sekalipun mereka ditawar dengan iming-iming sesuatu, baik itu uang ataupun jabatan, kelompok ini memastikan akan menolaknya. "Kamu orang Indonesia saja berjuang untuk merdeka. (Apakah) kami tidak bisa merdeka sendiri kah? Papua harus tentukan nasib sendiri, harus merdeka. Sekalipun ditawari dengan kedudukan, uang atau apapun kami tidak mau. Merdeka boleh," ujar Puron.

OPM Terbelah?
Terlepas dari itu, konsistensi gerakan ini pasca mundurnya Goliath dari perjuangan pemberontakan, memang cukup membuat terpukul OPM. Keretakan tersirat muncul dari pernyataan Puron.

Jika sebelumnya ia menyebut Goliath memang sudah banyak mengurangi pergerakannya, Puron kemudian juga memunculkan pernyataan yang mengisyaratkan perihal tak jelasnya struktur organisasi di OPM.

Menurut panglima revolusioner di wilayah Liny Jaya itu, status ke-Jenderal-an yang disematkan kepada Goliath, belum diakui oleh seluruh anggota separatis yang tersebar di Papua.

Apalagi, selama beberapa tahun ini Goliath tak terlihat begitu maksimal dalam memperjuangkan mimpi mereka untuk mendapatkan status Papua Merdeka.  "Goliat itu merasa sudah merdeka, sehingga gunakan pangkat jenderal. Kalau kami masih berjuang sehingga gunakan panglima revolusioner, nanti kalau sudah merdeka baru atur mengenai pangkat, itu yang benar," ujar Puron.

Lantas, sejauh mana pemerintah Indonesia memanfaatkan momentum mundrunya sang Jenderal Goliath, sebagai titik masuk pembersihan seluruh aktivitas kekerasan dan pemberontakan di ngeri Cendrawasih? Sejauh ini, belum ada sikap resmi dari TNI akan hal ini.

TNI hanya akan berjanji untuk memenuhi keinginan para pemberontak untuk menikmati hidup nyaman di tanah mereka sendiri. "Nanti akan dibicarakan lebih lanjut.  Yang jelas, kami sementara akan upayakn untuk memenuhi keinginan mereka untuk mendapatkan Honai. Kalau soal Koramil, harus dipertimbangkan lebih lanjut," ujar Jenderal Gatot. 
 

Selasa, 24 Maret 2015

Kronologi Tewasnya Dua Intel Kodim Aceh Utara

Kronologi Tewasnya Dua Intel Kodim Aceh Utara
Jenazah dua anggota Intel Kodim Aceh Utara yang hilang diculik ditemukan tewas (VIVA / Zulkarnaini)

Dua personel intel Komando Distrik Militer (Kodim) 0103 Aceh Utara, Provinsi Aceh ditemukan tewas di Desa Batee Pila, Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara, Senin kemarin. Dua jenazah tersebut kini sudah dibawa ke rumah sakit kesrem Lhokseumawe.
Kedua jenazah bernama Sertu Indra dan Serda Hendri ditemukan oleh Kepolisian dan pasukan Korem Aceh Utara tidak bernyawa lagi dengan posisi telungkup, tangan terikat dan hanya menggunakan celana dalam.
Menurut Komandan Resort Militer (Korem) 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Achmad Daniel Chardin, kedua korban ditembak jarak dekat dua belas kali tembakan menggunakan senjata AK 47 dan M 16.
"Korban ditembak di dada, dari bawah gerahang tebus kepala dan di bahu," kata Kolonel Inf Achmad Daniel Chardin, kepada VIVA.co.id saat dijumpai di rumah sakit Kesrem, Selasa 24 Maret di Lhokseumawe.
Peristiwa naas tersebut terjadi setelah kedua korban bertemu Kepala Mukim Daud di Desa Alue Mbang, Kecamatan Nisam Antara, Senin, 23 Maret 2015. Saat jalan pulang, mereka dihadang dihadang 15 orang kelompok bersenjata laras panjang.
Saat itu Serda Hendri dan Serda Indra sedang melakukan pengumpulan informasi tentang keberadaan kelompok bersenjata pimpinan Din Minimi. Kelompok bersenjata itu membawa paksa dua sersan itu entah kemana. Sejak saat itu mereka dinyatakan hilang.
Sehari berselang, kedua anggota TNI itu ditemukan tewas mengenaskan. Kata Kolonel Inf Achmad Daniel Chardin, jenazah korban ditemukan tak jauh dari rumah Daud.
Rencanya Sertu Indra dikebumikan di Desa Paloh Gadeng, desa asal istrinya, sedangkan Serda Hendri dikebumikan di Ujung Blang, Lhokseumawe.
 

Dua Intel Kodim Tewas Setelah Diculik, Pangdam IM Pun Bicara

K12-11 Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayjen TNI Agus Kriswanto, memberikan keterangan kepada wartawan, Selasa (24/3/2015) terkait insiden penembakan terhadap dua personil TNI Kodim 0103 Aceh utara. Keduanya ditemukan tewas setelah diculik oleh kelompok bersenjata pada Senin petang. ***** K12-11
Panglima Komando Daerah Militer Iskandar Muda Mayjen TNI Agus Kriswanto menegaskan, TNI menyerahkan sepenuhnya penyelidikan atas tewasnya dua personel intelijen TNI Kodim 0103 Aceh Utara kepada aparat kepolisian.

Diberitakan sebelumnya, dua prajurit masing-masing bernama Sertu Hendrianto (36) asal Jambi dan Serda Indra Irawan (41) asal Palembang, Sumatera Selatan, ditemukan tewas dengan luka tembak di bagian dada, Selasa pagi sekitar pukul 08.30 WIB. Mayat ditemukan di Desa Batee Pila, Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara.

Terkait kasus ini, Agus menyerukan personel TNI di wilayah kesatuan Aceh utara dan Lhokseumawe untuk tetap bertahan di markas masing-masing dan menunggu hasil penyelidikan polisi.

“Kita tidak akan mencampuri tugas-tugas yang dilakukan polisi, namun kita akan siap sedia jika polisi meminta bantuan TNI untuk mengungkap motif penembakan terhadap dua personel Kodim tersebut. Saya masih menghargai aturan hukum dan menghargai rakyat,” ujar Agus Kriswanto dalam temu persnya di Media Centre Kodam IM, siang ini.

Sejauh ini, kata Pangdam, pihaknya mengetahui bahwa kedua korban yang meninggal adalah personel satuan intel Kodim 0103 yang sedang berkunjung ke rumah warga bernama Daud. Daud adalah Kepala Mukim di Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara.

“Saya tidak ingin mereka-reka, kini kita biarkan polisi bekerja. Saya juga tidak mau menduga-duga pelaku dari kelompok mana. Yang jelas, mereka memang bagian dari masyarakat. Oleh karenanya, biar hukum yang bertindak, dan jika saatnya memang TNI butuh bertindak, maka akan bertindak,” ujar Pangdam.

TNI, kata Pangdam, juga menyesalkan masih adanya tindakan-tindakan yang menodai kehidupan masyarakat yang kini mulai membaik. “Saya menyesalkan adanya insiden ini, ini menodai masyarakat Aceh,” ujar dia.

Telah diberitakan, kedua prajurit itu diculik oleh sekelompok pria bersenjata seusai bertamu dari rumah Kepala Mukim Daud di Kecamatan Nisam Antara pada Senin petang dan kemudian menghilang.

Di lokasi penemuan jenazah juga ditemukan sejumlah selongsong peluru yang terdiri dari selongsong peluru 12 butir AK-47 dan 3 butir M-16. Direncanakan, kedua jenazah akan dimakamkan di kampung halaman masing-masing, yakni di Jambi dan Palembang, Sumatera Selatan.
 

Jenderal Goliat Menyerah, OPM Siap Perang

Jenderal Goliat Menyerah, OPM Siap Perang
Barisan pasukan OPM (Banjir Ambarita/Papua)

Penyerahan diri Panglima Tinggi Organisasi Papua Merdeka (OPM), Goliat Tabuni, memicu kemarahan Panglima Revolusioner OPM. Sepeninggal sang jenderal yang menyerah beserta pasukannya ke TNI, OPM menyatakan diri siap berperang.


Panglima Revolusioner OPM wilayah Lany Jaya, Puron Wenda mengatakan, saat ini persenjataan dan amunisi yang dimiliki pasukan OPM sudah semakin banyak.
"Kita punya senjata sudah banyak dan siap perang," kata Puron, Selasa 24 Maret 2015.

Puron yakin kekuatan OPM tak berkurang meski panglima tertinggi mereka sudah menyerahkan diri kepada Indonesia.

"Kalau Goliat menyerah itu oknum masing-masing dan saya tidak tahu itu, karena dia bermarkas di Tinggineri saya di Lany Jaya,"paparnya.

Setelah bertahun-tahun diburu, Goliat menyerahkan diri ke Tentara nasional Indonesia (TNI). Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal Gatot Nurmantyo, mengatakan Goliat menyerahkan diri bersama 23 orang prajuritnya.

Dalam penyerahan diri itu, Jenderal Goliat mengajukan beberapa permintaan kepada TNI. Mereka minta dibuatkan rumah adat Honai dan dibuatkan sebuah markas Koramil TNI.

"Kami akan berusaha memenuhi permintaan untuk membangun rumah adat, tapi untuk markas Koramil akan dipertimbangkan lebih dalu," kata Jenderal Gatot di Jakarta. 

Mengenang Bandung Lautan Api & heroiknya perjuangan rakyat Bandung

Bandung Lautan Api. (ist)
Bandung, 24 Maret 1946. Dua orang pemuda Republik merayap perlahan-lahan mendekati gudang mesiu Jepang. Misi mereka satu: Membumihanguskan kota Bandung, kota tercinta mereka sendiri.
Berbekal granat tangan, mereka bermaksud meledakkan 1.100 ton bubuk mesiu di gudang persenjataan yang dulu dimiliki Jepang di daerah Dayeuh Kolot, Bandung Selatan. Dua pemuda itulah yang kemudian diabadikan sejarah dengan nama Mohamad Toha dan Mohamad Ramdan.
Saat itu usia Mohamad Toha baru 19 tahun. Dia adalah Komandan Seksi I Bagian Penggempur Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI). Sementara Mohammad Ramdan adalah anggota barisan tersebut.
Pada hari itu Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) telah memutuskan Kota Bandung akan dibumihanguskan supaya tentara sekutu tidak bisa memanfaatkan fasilitas kota yang ditinggalkan warga dan tentara Republik.
Keputusan musyawarah diumumkan oleh Kolonel Abdul Haris Nasution selaku Panglima Divisi III/ Priangan. Beliau juga meminta sekitar 200 ribu warga Bandung ketika itu untuk meninggalkan kota.
Sebelumnya pada 21 November 1945, tentara sekutu menyampaikan ultimatum pertama agar Bandung utara dikosongkan oleh Indonesia selambat-lambatnya pada 29 November 1945.
Ancaman itu membuat pejuang Republik geram. Sejak itu sering terjadi insiden baku tembak antara pasukan sekutu dan pejuang Republik. Karena kalah persenjataan, tentara republik akhirnya tidak berhasil mempertahankan Bandung utara.
Hingga pada 23 Maret 1946, dua hari sebelum peristiwa Bandung Lautan Api, tentara sekutu menyampaikan ultimatum kedua dengan menuntut Tentara Republik Indonesia (TRI) mengosongkan Bandung selatan.
Pada saat itu Menteri Keamanan Rakyat Amir Sjarifuddin mendatangi Bandung dan memerintahkan TRI untuk mengosongkan kota. Meski dengan berat hati perintah itu dipatuhi. Namun sebelum meninggalkan Bandung, TRI melancarkan serangan ke pos-pos tentara sekutu.
Di tengah pertempuran hebat pejuang Republik melawan tentara sekutu itulah sosok pemuda 19 tahun, Mohammad Toha dan teman seperjuangannya Mohammad Ramdan berhasil menjalankan misi meledakkan gudang mesiu sehingga menjadikan kota Bandung diselimuti api berkobar.
Peristiwa itu disebut Bandung Lautan Api. Keduanya rela mengorbankan nyawa ikut gugur dalam ledakan dahsyat itu.
Langkah kedua pemuda itu diikuti oleh seluruh warga Bandung. Mereka membakar sendiri rumah-rumah mereka. Bandung benar-benar menjadi lautan api. Rakyat mengungsi ke daerah aman yang masih dikuasai Republik Indonesia.
Iin (75), mengenang peristiwa itu. Dia ingat ayahnya sendiri yang membakar rumah mereka di kawasan Kebon Kalapa.
“Supaya tidak jatuh ke tangan Belanda. Bapak bakar rumah, saya masih kecil waktu itu. Mengungsi ke Bale Endah,” kata Iin.
Ribuan warga Bandung lainnya melakukan hal sama. Lebih baik membakar rumah daripada membiarkannya jatuh ke tangan sekutu.
Saksi mata yang melihat dari ketinggian melihatnya seperti lautan api karena Bandung terbakar di mana-mana. Istilah itu yang kemudian menjadi populer hingga menjadi lagu perjuangan.
Halo-halo Bandung
Ibukota periangan
Halo-halo Bandung
Kota kenang-kenangan
Sudah lama beta
Tidak berjumpa dengan kau
Sekarang telah menjadi lautan api
Mari bung rebut kembali
Nama Mohamad Ramdan dan Mohamad Toha diabadikan menjadi nama jalan di Pusat Kota Bandung. Monumen Bandung Lautan Api dibangun di Tegalega. (Merdeka)

Anak Buah Diculik dan Dibunuh, Ini Reaksi Pangdam

Anak Buah Diculik dan Dibunuh, Ini Reaksi Pangdam
Pangdam Iskandar Muda, Mayjen Agus Kriswanto (Kodam-Im.mil.id)

Pangdam Iskandar Muda, Mayor Jenderal, Agus Kriswanto menyesalkan aksi penculikan yang berujung tewasnya dua anggota Kodim 0103 Aceh Utara. Karena insiden ini hanya akan merusak kedamaian yang sudah terbina di Aceh. 

Menurut dia, aksi penculikan dan penembakan anggota TNI di Aceh merupakan akumulasi dari aksi bersenjata di Aceh yang terjadi sebelumnya, di mana korbannya adalah warga sipil.
"Sasarannya sudah TNI, kami tetap patuh hukum dan kita serahkan kepada kepolisian," kata Mayjen Agus di Media Centre Kodam IM, Selasa, 24 Maret 2015.

Agus menegaskan, TNI menyerahkan proses penyelidikan tewasnya dua anggota Kodim Aceh Utara kepada kepolisian. Dia mengaku tidak akan mencampuri tugas kepolisian dalam mengungkap kasus ini. Namun bila diperlukan, TNI siap membantu kepolisian.

"Kami akan siap sedia jika polisi meminta bantuan TNI untuk mengungkap motif penembakan terhadap dua personel kodim tersebut," ujarnya.

Sementara itu, terkait dengan pelaku yang merupakan kelompok bersenjata, mantan Panglima Divisi 2 Kostrad ini enggan menduga-duga dari kelompok mana pelaku berasal. Dia meminta semua pihak menunggu penyelidikan polisi untuk diproses secara hukum.

"Biar hukum yang bertindak dan jika saatnya memang TNI butuh bertindak, maka akan bertindak," tegasnya.

Agus mengimbau kepada para prajuritnya untuk menahan diri dan tetap menjaga hubungan baik dengan masyarakat. Dia meminta kepada warga sipil yang masih menyimpan senjata untuk diserahkan kepada pihak berwajib demi kedamaian dan ketentraman Aceh.

Dua anggota Intel Kodim 0103 Aceh Utara ditemukan tewas di Desa Alue Mbang, Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara, Selasa, 24 Maret 2015, sekitar pukul 08.30 WIB. Kedua anggota TNI yang tewas itu atas nama Serda Hendriyanto dan Serda Indra Irawan.

"Betul, positif sudah ditemukan hari ini pukul 08.30 WIB," kata Kepala Penerangan Kodam Iskandar Muda, Letkol Mahfud kepada VIVA.co.id.
Dua anggota Kodim Aceh Utara itu sebelumnya diculik kelompok bersenjata di Aceh Utara pada Senin, 23 Maret 2014. Saat itu Serda Hendri dan Serda Indra sedang melakukan pengumpulan informasi tentang keberadaan kelompok bersenjata di daerah Aceh Utara.