Minggu, 22 Maret 2015

Infrastruktur kapal selam dibangun 2016

Infrastruktur kapal selam dibangun 2016
Dokumentasi anggota TNI AL melakukan fast rope di atas kapal selam KRI Nanggala-402 saat peringatan HUT ke-69 TNI yang digelar di Dermaga Ujung, Koarmatim, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (7/10). Peringatan Hari TNI ini diharapkan dapat menjadi momentum dalam upaya meningkatkan profesionalisme, disiplin, dan semangat juang prajurit TNI. ANTARA FOTO/Suryanto)
... bangun dulu infrastrukturnya, sebab kita belum punya dan hanya punya landasannya kapal selam...
Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero), M Firmansyah Arifin, mengatakan, pembangunan infrastruktur kapal selam di Indonesia direncanakan pada 2016, untuk menindaklanjuti penunjukkan perusahaan plat merah itu dalam memproduksi kapal selam dari Kementerian Pertahanan.

TNI AL memproyeksikan memiliki enam kapal selam baru, melengkapi dua kapal selam saat ini, KRI Cakra-401 dan KRI Nanggala-402, yang merupakan Tipe-209 dari Jerman. Korea Selatan menjadi salah satu alternatif penting sumber pengadaan keenam kapal selam baru itu selain kelas Kilo dari Rusia.

"Kita bangun dulu infrastrukturnya, sebab kita belum punya dan hanya punya landasannya kapal selam. Sehingga dengan ada infrastruktur, ke depan bisa lebih banyak produksi kapal selam," ucap Arifin, di Malang, Sabtu.

Ia mengatakan, keperluan Indonesia terhadap kapal selam sangat tinggi karena wilayahnya mayoritas adalah laut, sehingga kekuatan alutsista berupa kapal selam sangat dibutuhkan.

"Kalau kita melihat akan kebutuhan kapal selam sebenarnya Indonesia membutuhkan sebanyak 12 kapal selam. Sementara saat ini kita hanya mempunyai sedikit, itu pun produksi lama," katanya.

Terkait dengan rencana pembuatan kapal selam, Arifin menjelaskan saat ini sedang dalam proses produksi tiga unit, di antaranya satu unit akan dibangun di Indonesia, dua lainnya sedang dalam proses pembuatan di Korea Selatan.

"Sebanyak dua unit kapal selam dalam proses dibuat di Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME), Korea Selatan. Lalu, satu unit dibangun di PT PAL Indonesia," katanya.

Untuk itu, sebelum memulai produksi satu unit kapal selam pihaknya akan membangun sejumlah infrastrukturnya terlebih dahulu, sehingga ke depan bisa dilanjutkan dengan produksi secara mandiri.

Sebelumnya, untuk merealisasi kapal selam PT PAL Indonesia mendapatkan kucuran penyertaan modal negara sebesar Rp1,5 triliun untuk membangun tiga unit kapal selam dengan nilai Rp500 miliar perunit.

Pembangunan itu, telah mendapat dukungan dari Komisi VI dan Komisi I DPR, dan alokasi biayanya juga menyangkut pengiriman tenaga ahli ke Korea Selatan untuk belajar pembuatan kapal selam.

Arifin berharap, ketika PT PAL Indonesia sudah memulai produksi kapal selam, akan memperkuat persenjataan Indonesia, khususnya di wilayah laut.
 
 

Martin Baker: Sang Penyambung Nyawa Pilot Pesawat Tempur

3
Ibarat pepatah, “Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak,” pada Minggu, 15 Maret 2015, untuk kesekian kali, TNI AU mengalami total lost pada dua unit pesawat latih. Musibah ini terjadi saat latihan akrobat tim aerobatik Jupiter dalam rangka persiapan acara LIMA (Langkawi International Maritime & Aerospace) Exhibition. Kedua pesawat kehilangan kendali setelah saling menyerempet saat latihan pada pukul 14.00 waktu setempat.
Meski TNI AU mengalami kerugian material, tapi harus disyukuri insiden maut tersebut tidak merenggut nyawa pilot di kedua pesawat. Dari pantauan di beberapa media, empat pilot dari kedua pesawat dikatakan hanya luka ringan, dan berhasil mendarat dengan parasut sebelum pesawat menghujam ke Bumi. Pasca pilot kehilangan kendali atas pesawat, memang hanya tersedia waktu hitungan detik untuk membuat keputusan penting, mendaratkan pesawat secara darurat, atau keluar dengan kursi lontar (ejection seat). Salah perhitungan, maka nyawa bisa melayang.
Terkait keberadaan kursi lontar, tak serta merta menjawab persoalan saat pesawat hilang kendali. Semisal pesawat tak tekendali hingga berpilin di ketinggian rendah, bisa jadi kursi memang terlontar, tapi posisi luncurnya tidak pas. Ini pernah terjadi pada kecelakaan yang menimpa pesawat anti gerilya OV-10F Bronco TNI AU Skadron 21 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang – Jawa Timur. OV-10F Bronco TT-1014 yang diawaki Mayor Pnb. Danang Setyabudi dan Letda Pnb. Eliseus Quintarumiarsa, mengalami gagal take off, sebelum jatuh pesawat sempat berputar dan berpilih, lalu menghujam ke area perkebunan tebu di ujung landasan. Mayor Pnb. Danang Setyabudi selamat dalam kecelakaan tesebut, namun Letda Pnb. Eliseus tidak tertolong, kursi yang diduduki Eliseus rupanya tercabut saat pesawat berpilin dengan kokpit menghadap ke Bumi.
KT-1B Wong Bee TNI AU.
KT-1B Wong Bee TNI AU.
Sesaat setelah pilot Wong Bee Jupiter TNI AU berhasil lepas dari kursi pelontar dalam insiden di Langkawi.
Sesaat setelah pilot Wong Bee Jupiter TNI AU berhasil lepas dari kursi pelontar dalam insiden di Langkawi.

Begitu pun, dengan beberapa musibah yang menimpa penerbang latih dan tempur TNI AU, ada saat dimana momen aksi kursi lontar sudah tepat digunakan, tapi ada juga peristiwa pilot sudah kehilangan kesadaran akibat spin di udara. Nah, kembali ke tema kursi lontar, nama besar Martin Baker tak bisa dilepaskan di pasar ejection seat, terutama bagi pesawat-pesawat latih/tempur yang berafiliasi ke standar NATO. Dalam insiden di Langkawi, pesawat yang digunakan adalah KT-1B Wong Bee buatan Korea Aerospace Industries (KAI). Pesawat ini masuk segmen Latih Dasar yang dipersiapkan bagi pilot untuk terampil menerbangkan jet tempur supersonik.
KT-1B Wong Bee yang dapat dilengkapi senjata ringan ini nyatanya terkait dengan produk keluaran Martin Baker. Setelah ditelusuri, Wong Bee mengadopsi kursi lontar Martin Baker MK.16. Kursi lontar ini dapat melemparkan kursi pilot hingga ketinggian 70 meter. Di generasi kursi lontar ini mengandalkan microprocessor controlled dengan tenaga dari baterai thermal. Sebagai perbandingan, OV-10F Bronco yang berteknologi tahun 70-an, untuk kursi lontarnya mengalkan tenaga roket yang dikemas dalam cartridge pelontar.
457
Seperti halnya pesawat, penggunaan kursi lontar pun ada beberapa syarat yang wajib diperhatikan, ambil contoh di jet Hawk 100/200 TNI AU yang menggunakan Martin Baker MK.10. Batas tertinggi saat kursi lontar digunakan adalah 15.200 meter, karena pilot juga dilengkapi oksigen cadangan. Bobot pilot pun harus terpantau, Martin Baker MK.10 mensyaratkan bobot penerbang antara 70 kg sampai 112,2 kg. Untuk mekanisme lontaran menggunakan ejection gun and multi-tube rocket pack. Kehandalan Martin Baker MK.10 jelas sudah banyak teruji, pada 16 Oktober 2012, Hawk 200 TNI jatuh di Pekanbaru, sebagai pilot pesawat adalah Letda Reza Yori Prasetyo yang berhasil menyelamatkan diri dengan menggunakan kursi lontar.
Di lingkup TNI AU, ternyata tak hanya KT-1B Wong Bee dan Hawk 100/200 yang mengadopsi produk Martin Baker. Dari pantaua di situs martin-baker.com, pesawat tempur F-5 E/F Tiger II dan Embraer EMB-314 Super Tucano juga menggunakan Martin Baker MK.10.
Aksi lontar zero-zero altitude pilot Harrier RAF (AU Inggirs) di Kandahar, Afghanistan.
Aksi lontar zero-zero altitude pilot Harrier RAF (AU Inggirs) di Kandahar, Afghanistan.
Pilot tim aerobatik Thunderbirds dengan F-16-nya setelah kehilangan kendali atas pesawatnya.
Pilot tim aerobatik Thunderbirds dengan F-16-nya setelah kehilangan kendali atas pesawatnya.

Dirunut dari sejarahnya, Kursi lontar pertama diterapkan pada pesawat Heinkel He-119. Kursi lontar ini ditekan oleh udara. Pesawat ini memang populer pada penerbangan uji coba, namun karena jumlahnya sedikit, prestasi kursi lontarnya tidak diketahui. James Martin dari Inggris merancang sistem pengaman yang lain. Dalam konsepnya, pilot dilontarkan keluar kokpit oleh lengan panjang yang digerakkan oleh pegas yang dipasangkan pada harnas parasutnya.
Peluncuran kursi lontar pertama, tercatat pada tanggal 24 Juli 1946, oleh Bernard Linch, salah seorang karyawan Martin-Baker. Linch dilontarkan secara sukarela dengan kursi lontarnya pada ketinggian 2600 meter dengan kecepatan 253 km/jam dari pesawat tempur Gloster Meteor. Sejak itu, kursi lontar Martin-Baker menjadi populer di seluruh dunia.
8
Kursi lontar didesain untuk bisa digunakan melontarkan pilot pada ketinggian dan kecepatan nol, artinya kursi lontar bisa diaktifkan saat pesawat dalam keadaan diam di darat sampai kecepatan 600 knot dengan ketinggian sampai 50.000 kaki. Kursi lontar pesawat tempur ini bisa di operasikan dengan tiga tipe kecepatan dan ketinggian saat pesawat mengudara.
Metode pertama untuk kecepatan dan ketinggian rendah. Pada metode ini kursi lontar bisa melontarkan pilot pada kecepatan pesawat kurang dari 250 knot dan ketinggian kurang 15.000 kaki. Metode kedua untuk kecepatan dan ketinggian sedang. Pada metode ini kecepatan pesawat lebih 250 knot dan ketinggian kurang 15.000 kaki. Sedangkan metode ketiga untuk kecepatan pesawat lebih 250 knot dan ketinggian lebih dari 15.000 kaki. (diolah dari berbagai sumber)

Sabtu, 21 Maret 2015

Pasukan Elite Cina yang Disegani Dunia Rutin Berlatih dengan TNI

TNI (ist)
Republik Rakyat Cina (RRC) terlibat ketegangan dengan negara tetangganya, Myanmar. Cina geram atas bombardir yang dilakukan Angkatan Udara Myanmar terhadap sebuah desa di Provinsi Yunan dekat perbatasan kedua negara.
Agar peristiwa tidak terulang, Cina menyiagakan seluruh armada tempurnya ke perbatasan Myanmar. Bahkan, negeri Tirai Bambu ini menyatakan tak akan segan menyerang negara tetangganya itu jika kejadian serupa kembali terulang.
Di tengah ketegangan tersebut, militer Cina memiliki hubungan sangat dekat dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Informasi dari berbagai sumber yang dihimpun merdeka.com, Senin (16/3), sejak era reformasi, Cina sudah beberapa kali terlibat latihan bersama dengan tim elite TNI seperti Kopassus dan Paskhas.
Latihan kedua negara dimulai sejak 2011 lalu. Latihan bersandi ‘Sharp Knife 2011′ ini diikuti sejumlah pasukan People’s Liberation Army atau Pasukan Kebebasan Rakyat (PLA). Personel dua negara ini tak segan untuk membaur satu sama lainnya.
Dalam latihan pertama, personel PLA berlatih bersama-sama dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Meski bahasa yang digunakan berbeda, namun keduanya berhasil menyelesaikan setiap misi dengan baik. Latihan ini digelar di Bandung, Jawa Barat.
Pada latihan itu, Kepala Staf Komando Militer Jinan Cina, Letjen Zhao Zongqi sempat memuji Kopassus dan menyebutnya sebagai salah satu tim elite terbaik dunia. Selain misi perang, baret merah juga pernah terlibat dalam misi-misi perdamaian PBB.
Latihan kemudian berlanjut setahun berikutnya di Jinan, Shandong. Latihan bersandi ‘Sharp Knife 2012′ ini kembali melibatkan Kopassus.
Latihan yang dijalani berupa menembak, blokade, pengembangan taktik dan skill lainnya. Kemudian diikuti pelatihan berupa simulasi penyelamatan sandera termasuk penggunaan teknologi modern.
Pada 2013, Cina kembali menggelar latihan bersama Pasukan Khas (Paskhas) dengan sandi ‘Sharp Knife Airborne 2013′. Latihan tersebut mencangkup terjun payung, pertarungan dengan tangan kosong, menembak, kontraterorisme, dam SAR. Latihan ini digelar di Bandung, Jawa Barat.
Setahun berikutnya, latihan bersandi ‘Sharp Knife Airborne 2014′ digelar pada awal November 2014. Dalam latihan itu, Angkatan Udara PLA menggandeng Paskhas pada latihan kontra terorisme di Zhengzou, Henan, Cina.(Merdeka)

Latihan PPRC di Poso libatkan 3.222 prajurit TNI

Latihan PPRC di Poso libatkan 3.222 prajurit TNI
Latihan PPRC TNI Poso Sejumlah prajurit Kostrad membawa perlengkapan tempur mereka saat gelar pasukan dalam rangka latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI di Taxi Way, Skadron 32 Lanud Abdul Rahman Saleh, Malang, Jawa Timur, Kamis (19/3). Latihan gabungan yang diikuti tiga angkatan itu sebagai upaya untuk mengatasi teror yang akan digelar di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

Latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI yang akan diselenggarakan di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah pada 22 - 31 Maret 2015 dengan melibatkan 3.222 personel TNI.

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko menyaksikan secara langsung paparan rencana latihan PPRC TNI yang dipimpin oleh Panglima PPRC TNI Mayjen TNI Bambang Haryanto yang kesehariaannya menjabat Panglima Divisi-2/Kostrad, bertempat di Gedung PPRC Markas Divisi-2/Kostrad, Malang, Jawa Timur, Jumat.

Latihan PPRC di Poso mengambil tema PPRC TNI melaksanakan Operasi Militer untuk Perang (OMP) dengan melaksanakan penindakan awal untuk menghancurkan agresor guna merebut kembali Poso Sulteng dalam rangka mempertahankan keutuhan dan kedaulatan NKRI.

Paparan dengan menggunakan TFG (Tactical Floor Game) tersebut dipaparkan secara bergiliran oleh Asisten dan para Komandan Satgas yang terlibat dalam latihan tersebut.

Adapun tujuan Latihan PPRC TNI, antara lain, melatih keterampilan unsur pimpinan dan pembantu pimpinan dalam menyusun konsep operasi melalui prosedur hubungan komandan dan staf; menguji konsep operasi sebagai hasil dari proses pengambilan keputusan Komandan PPRC TNI dan staf dalam rangka mengantisipasi dan merespon kemungkinan kontijensi di wilayah tertentu.

Selain itu, menguji kemampuan dan keterampilan satuan PPRC TNI dalam melaksanakan tindakan awal terhadap kontijensi yang timbul di wilayah sesuai Rencana Operasi yang disusun.

Panglima TNI dalam pengarahannya menegaskan, harus dipahami bahwa latihan ini bersifat gabungan dan dengan jumlah personel yang besar, sehingga harus dilaksanakan sebaik-baiknya untuk meningkatkan profesionalisme prajurit TNI dalam menguji konsep operasi dan menguji kemampuan serta keterampilan satuan PPRC TNI.

"Kepada para penyelenggara dan pelaku latihan agar latihan ini dilaksanakan dengan cermat dalam pelaksanaan operasi taktis, agar benar-benar sesuai prosedur yang berlaku dalam latihan," kata Jenderal TNI Moeldoko.

Turut mendampingi Panglima TNI dalam acara tersebut, Wakasad Letjen TNI M. Munir, Pangkostrad Letjen TNI Mulyono, Dansesko TNI Letjen TNI Sonny Wijaya dan para Asisten Panglima TNI serta Kapuspen TNI Mayjen TNI M Fuad Basya.

Jumat, 20 Maret 2015

Usai Latihan PPRC, TNI Bakal Gelar Operasi Teritorial di Poso

 
Kapuspen TNI Mayjen Fuad Basya.  (Republika/Yogi Ardhi)
Kapuspen TNI Mayjen Fuad Basya. (Republika/Yogi Ardhi)

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI, Mayjen TNI Fuad Basya, mengungkapkan, usai menggelar latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC), TNI bakal melanjutkan kegiatan dengan adanya Operasi Teritorial di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Operasi teritorial ini rencananya akan digelar selama satu bulan, atau paling lama sekitar dua bulan.
Operasi teritorial ini berupa adanya bantuan kepada masyarakat di sekitar Poso terutama dalam hal pembangunan infrastruktur dan kesehatan. Dalam operasi itu, para personil TNI akan melakukan rehabilitasi masjid, perbaikan jalan yang rusak, pembangunan kembali rumah-rumah warga yang tidak layak huni, hingga operasi bibir sumbing gratis untuk warga.
“Operasi teritorial itu bisa dibilang untuk mengobati latihan PPRC yang kami gelar disana,” katanya saat dihubungi Republika, Kamis (19/3).
Fuad menambahkan, pihaknya belum memutuskan apakah latihan PPRC itu akan langsung dilanjutkan dengan kegiatan penumpasan teroris yang diduga bersembunyi di hutan dan pegunungan di sekitar Poso, terutama untuk meringkus jaringan Santoso yang diduga kuat berafiliasi ke kelompok radikal, Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Latihan PPRC itu, ujar Fuad, memang telah menjadi agenda tahunan TNI.
Selain itu, jikapun akan melakukan operasi militer untuk menumpas teroris di Poso, TNI masih harus menunggu persetujuan dari pemerintah dan berkoordinasi dengan pihak Kepolisian. Fuad pun mengaku, hingga saat ini, belum ada ‘restu’ dari pemerintah. Pun dengan permintaan bantuan dari Polri kepada TNI untuk terjun langsung dalam upaya pemberantasan terorisme di Poso lewat operasi-operasi gabungan.
“Belum, mereka (Kepolisian), belum mengajukan permintaan bantuan,” ujar perwira tinggi bintang dua TNI AD itu. (REPUBLIKA.CO.ID)
—————————————————————————————————————————————

Poso Jadi Ajang Latihan Atasi Teror

Prajurit Kostrad menuju arena latihan gabungan PPRC, Kamis (19/3/2015). (JIBI/Solopos/Antara/Ari Bowo Sucipto)
Prajurit Kostrad menuju arena latihan gabungan PPRC, Kamis (19/3/2015). (JIBI/Solopos/Antara/Ari Bowo Sucipto)

Latihan gabungan TNI kuatkan kemampuan PPRC.
Sejumlah prajurit Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat atau biasa disingkat Kostrad membawa perlengkapan tempur mereka saat gelar pasukan dalam rangka latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI di Taxi Way, Skadron 32 Lanud Abdul Rahman Saleh, Malang, Jawa Timur, Kamis (19/3/2015). Latihan itu bukan hanya diikuti pasukan komando TNI AD itu saja, melainkan bersama-sama dua matra lain, yakni TNI AL dan TNI AU.
Poso Jadi Ajang Latihan Atasi Teror 2
Kostrad adalah bagian dari Komando Utama (Kotama) tempur TNI. Latihan Gabungan TNI yang diikuti tiga angkatan itu akan digelar di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah dan diharapkan bisa menguatkan kemampuan personel TNI AD, TNI AL dan TNI AU terkait PPRC tersebut dalam mengatasi teror. (solopos.com)
.

FOTO LATIHAN BERSAMA TNI
Marinir RI-AS Latihan Tempur Bareng

.
Prajurit Marinir TNI AL dan US Marine di Situbondo, Kamis (19/3/2015). (JIBI/Solopos/Antara/Sertu Mar Kuwadi)
Prajurit Marinir TNI AL dan US Marine di Situbondo, Kamis (19/3/2015). (JIBI/Solopos/Antara/Sertu Mar Kuwadi)

Personel Batalyon Intai Amfibi (Taifib) Korps Marinir TNI AL dan United States Marine Corps Forces Special Operations Command (US Marsoc) mengikuti upacara pembukaan latihan dengan sandi Lantern Iron 15-5524 di Pusat Latihan Tempur Korps Marinir Baluran, Karangtekok, Situbondo, Jawa Timur, Kamis (19/3/2015). Latihan bersama TNI yang melibatkan Marinir RI dan Amerika Serikat (AS) itu diharapkan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan teknik dan taktik prajurit Taifib Korps Marinir TNI AL.
.
Asisten Operasi Komandan Pasukan Marinir I Kolonel Mar. I Made Sukada menyematkan tanda peserta latihan kepada prajurit Korps Marinir AS. (JIBI/Solopos/Antara/Sertu Mar Kuwadi)
Dengan berlatih bersama, kerja sama Marinir TNI AL dan US Marsoc dalam bidang militer diharapkan semakin erat. Latihan tempur bareng Marinir RI-AS yang dibuka Asisten Operasi Komandan Pasukan Marinir I Kolonel Mar. I Made Sukada itu dijadwalkan berlangsung hingga 10 April 2015.
.
Prajurit Marinir TNI AL dan US Marine di Situbondo, Kamis (19/3/2015). (JIBI/Solopos/Antara/Sertu Mar Kuwadi)
.

Rancangan Jet Tempur Gen 5 Lapan

  image
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Indonesia diam-diam pernah merancang pesawat jet tempur canggih generasi 5. Teknologi ini setara dengan teknologi pesawat tempur stealth atau ‘siluman’ F22 milik Amerika Serikat (AS).
Pengembangan konsep pesawat tempur ‘siluman’ diberi nama Lapan Fighter Experiment (LFX) sejak 2 tahun lalu.
“Lapan Fighter Experiment dirancang mulai tahun 2012. Kita lakukan riset. Dasarnya diminta oleh Kemhan (kementerian pertahanan),” kata Peneliti Utama LAPAN Sulistyo Atmadi saat diskusi penerbangan di Kantor Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN, Rumpin, Bogor, Kamis (19/3/2015).
LAPAN saat itu mengusulkan 2 jenis jet tempur LFX. Saat ini, tahap pengembangan baru masuk ke fase awal.
“Kalau pengembangan jet tempur harus ada beberapa design,” sebut Sulistyo sambil menunjukkan model LFX di Kantor Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN.
image
Namun program tersebut terpaksa dibekukan karena keterbatasan biaya. Apalagi LAPAN memiliki fokus mengembangkan pesawat terbang sipil, seperti N219, apalagi pengembangan N219 membutuhkan dana tidak sedikit. Saat ini N219 sudah tahap finalisasi pembuatan prototipe oleh PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di Bandung, Jawa Barat.
“Lama pengembangan seharusnya 10 tahun. Seharusnya dilanjutkan tahun berikutnya. Tahun kedua nggak ada dana,” sebutnya.
Meski demikian, pengembangan awal tersebut bisa menambah kompetensi LAPAN. Apalagi Kementerian Pertahanan (Kemenhan) bersama PT Dirgantara Indonesia dan Institut Teknologi Bandung (ITB) sedang mengembangkan jet tempur KFX/IFX bersama Korea Selatan. LAPAN siap membantu pengembangan program KFX/IFX.
“Tujuan kita bukan sampai bikin pesawat. Kita siapkan sumber daya manusia untuk mampu dukung KFX/IFX,” ujarnya. (Finance.Detik.com).

Boeing P-8 Poseidon: Sang Dewa Laut Incaran Patroli Maritim TNI AU

unnamed (11)
Dalam suatu perjumpaan dengan penerbang Boeing 737 Surveillance Skadron 5 di Jakarta, sang pilot menyebut harapannya agar pesawat intai maritim penerus Boeing 737 Surveillance adalah dari keluarga Boeing, yang bila ditelusur maksudnya adalah P-8 Poseidon, jet bermesin dua yang juga mengusung platform Boeing 737-800ER.
Pesawat ini memegang peran penting dalam armada AL AS, pasalnya Poseidon digadang sebagai generasi penerus P-3 Orion yang menggunakan mesin propeller. Debut Poseidon pun cukup masif, salah satunya diterjunkan AL AS dalam misi pencarian Malaysian Airlines MH370 yang raib di Samudera Hindia.
Seolah meneruskan keinginan sang penerbang, Boeing dalam siaran pers sempat menyatakan bahwa Indonesia tengah mengkaji kemungkinan pembelian Poseidon sebagai kekuatan armada Patmar (Patroli Maritim). Tentu tak ada yang keliru bila TNI AU akhirnya mengoperasikan P-8 Poseidon, pesawat ini bisa dibilang pesawat intai maritim tercanggih, tak hanya padat perangkat elektronik sensor dan radar, Poseidon juga dapat menjalankan peran tindakan pertempuran, salah satu keunggulannya yakni keberadaan ruang internal senjata (weapons bay). Beberapa etalase senjata yang dibawa memang tergolong maut, sebuat saja rudal udara ke permukaan AGM-84H/K SLAM-ER, rudal anti kapal AGM-84 Harpoon, torpedo MK54, ranjau laut MK52, dan bom laut (depth charge). Singkat kata, Poseidon memang punya tugas khusus membinasakan kapal selam. Tak hanya bekal weapons bay, hebatnya bagian sayap bisa pula ditempeli cantelan senjata.
Weapons Bay.
Weapons Bay.
unnamed (3)unnamed (10)
Kualitas alutsista tentu terkait dengan urusan harga, dan memang harga per unit Poseidon sangat mahal, yakni per unitnya US$201,4 juta. Karena harga yang mahal inilah, beberapa kalangan kurang yakin apakah Indonesia ‘sanggup’ membeli Poseidon. Tapi bila ada niat dan kehendak, jalan pasti ada, buktinya delapan unit helikopter tempur premium AH-64 Apache bisa dibeli Indonesia dengann fasilitas kredit ekspor dari AS. Sebagai informasi, AH-64 Apache juga buatan Boeing, yang secara langsung memberi kemudahan dalam negosiasi bila nantinya terjadi transaksi.
Poseidon yang diambil dari nama dewa penguasa lautan dalam mitologi Yunani, punya cirri khas yang amat dibutuhkan pesawat intai maritim, seperti bisa terbang rendah dan lincah di ketinggian hanya 60 meter di atas permukaan laut, suatu kemampuan yang dibutuhkan dalam misi SAR.
Radar surveillance AN/APY-10
Radar surveillance AN/APY-10
Suasana kokpit Poseidon.
Suasana kokpit Poseidon.
unnamed (6)
Sayap pun dapat dipasangi cantelan senjata.
Sayap pun dapat dipasangi cantelan senjata.

Untuk dukungan intai di atas lautan, Poseidon punya bekal radar surveillance AN/APY-10 besutan Raytheon. Radar ini dapat mendeteksi, mengklarifikasi dan memilah berbagai emisi elektronik lawan. Radar yang posisinya disematkan di hidung ini dapat mendeteksi perahu kecil dari ketinggian terbang maksimum (12.500 km). Selain itu, Poseidon dilengkapi sensor MX-20HD digital electro-optical/infrared (EO/IR) sebagai penuntun laser pada rudal. Yang tak kalah penting lainnya adalah sonobuoy (sonar buoy), ini merupakan perangkat vital untuk mendeteksi keberadan monster bawah laut, baik secara aktif maupun pasif.
Dalam melancarkan tugas AKS (anti kapal selam), Poseidon dilengkapi tiga peluncur putar berkapasitas 30 sonobuoy yang dapat diisi ulang. Satu lagi yang menakutkan, Poseidon punya sensor hidrokarbon yang bisa mendeteksi uap bahan bakar kapal selam.
Selain Indonesia yang kepincut pesona Poseidon, pesawat ini juga diminati oleh negara-negara di kawasa Amerika Selatan dan Afrika Selatan. Dalam operasi intai jarak jauh, umumnya Poseidon diawaki 9 orang. Poseidon dapat mengudara selama enam jam untuk rentang wilayah 1.100 km dan empat jam untuk rentang wilayah 2.220 km. Untuk urusan jangkauan jelajah memang menjadi minus bagi Poseidon, karena dirasa kurang luas untuk memburu kapal selam. Tapi harap dimaklumi, sebab rancang bangun Poseidon berasa dari pesawat penumpang berjarak sedang.
Sejak terbang perdana pada 25 April 2009, Poseidon hingga Juli 2013 telah diproduksi sebanyak 15 unit. Di luar AS, Poseidon telah dipesan oleh AL India dengan label P-8I Neptune. Sementara AU Austalia juga memesan 8 unit tipe P-8A. (Bayu Pamungkas)
unnamed (4)