Salah satu tuntutan yang
harus dimiliki oleh kekuatan pertahanan adalah Interoperability antara
matra militer. Interoperability harus dibangun dalam
setiap pelaksanaan operasi dan latihan. Setiap unsur matra yang Alutsistanya
berbeda, diharapkan harus mampu interoperable dengan unsur-unsur
matra lainnya.
Demikian amanat Panglima Kohanudnas
Marsda TNI Hadiyan Sumintaatmadja pada acara Serah Terima jabatan
Asisten
Khusus Matra Laut (Assus Matral) dari Kolonel Laut (P) Deddy Suparli
kepada Kolonel Laut (P) Chrisanto Budi Maesa Paath di aula Leo
Wattimena Makohanudnas Halim Perdanakusuma Jakarta, Selasa (10/3).
Lebih lanjut
Pangkohanudnas mengatakan, bahwa keberhasilan pelaksanaan operasi dan
latihan tidak hanya mengandalkan dukungan Alutsista dari matra lain,
namun kemauan dan ketulusan untuk berbagi demi tercapainya tujuan.
Hal ini yang harus ditanamkan di benak kita semua, sehingga apa
yang menjadi cita-cita kita sebagai alat pertahanan negara yang kuat, dan
disegani negara lain dapat tercapai.
Assus
Matral
sebagai Staf Khusus Pangkohanudnas di bidang
teknis Matra Laut memiliki tugas merumuskan kegiatan
khusus atau teknis pelibatan unsur Hanud TNI Angkatan Laut serta mengadakan koordinasi fungsional dalam
rangka penyelenggaraan operasi dan latihan pertahanan udara . Oleh karena itu, Assus Matral harus mampu memberikan
pertimbangan dan saran kepada Pangkohanudnas mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan bidang
tugasnya, sehingga Kohanudnas mampu melaksanakan tugasnya dengan optimal, tegasnya.
Pelantikan tersebut dihadiri: Kas kohanudnas Marsma TNI Barhim, para Pejabat Kohanudnas, perwakilan Perwira,
Bintara, dan Tamtama serta PNS Kohanudnas.
|
Selasa, 10 Maret 2015
Tuntutan Yang Harus Dimiliki Oleh Kekuatan Pertahanan Adalah Interoperability Antara Matra Militer
Indonesia Ranking 8 Importir Senjata Terbesar Sedunia
Indonesia masuk urutan ke
delapan sebagai negara importir senjata terbesar sedunia pada 2014.
Importir terbesar pertama diduduki Arab Saudi.
Data itu dirilis HIS Jane yang berbasis di London, kemarin. Pada
2013, importir senjata terbesar di dunia adalah India. Indonesia pada
tahun 2013 masuk urutan ke-6 sebagai importir senjata terbesar di dunia.
Penelitian IHS Jane itu dilakukan terhadap 65 negara di dunia.
Data HIS Jane yang dirilis Global Defense Trade Report, menunjukkan
bahwa Arab Saudi menghabiskan lebih dari 6,4 miliar dolar Amerika
Serikat (AS) untuk belanja senjata pada tahun 2014. India tergeser di
urutan kedua dengan biaya belanja senjata sebesar 5,5 miliar dolar AS.
Cina menjadi pegimpor senjata terbesar ketiga. ”China terus
membutuhkan bantuan kedirgantaraan militer dari Rusia dan anggaran
pengadaan pertahanan total akan terus meningkat dengan sangat cepat,”
kata Paul Burton, Direktur Industri Pertahanan dan Anggaran di HIS Jane.
Yang sulit diprediksi, menurut IHS Jane adalah Arab Saudi. Sebab,
impor senjata besar-besaran belum pernah dilakukan negara itu.
”Pertumbuhan di Arab Saudi telah dramatis dan, berdasarkan pesanan
sebelumnya, angka-angka ini tidak akan melambat,” ujar ahli HIS Jane,
Ben Moores.
Masih menurut IHS Jane, ketegangan regional di Timur Tengah dan Asia Pasifik yang memicu lonjakan impor senjata besar-besaran.
Untuk negara pengekspor senjata terbesar sejagat masih ditempati
Amerika Serikat dengan nilai ekspor sebesar 23,7 miliar dolar AS dan
tercatat nilai ekspor senjata tumbuh 19 persen.
Di urutan kedua negara eksportir senjata ditempati Rusia dengan nilai
ekspor 10 miliar dolar AS dan nilai ekspornya tumbuh 9 persen. Namun,
Rusia juga sulit diprediksi karena negara itu sedang dihantam sanksi
oleh negara-negara Barat.
”Sebuah penurunan ekspor senjata (Rusia) diperkirakan terjadi tahun
2015 ini, karena sebuah tren (kondisi ekonomi) yang bisa dipercepat oleh
sanksi,” katanya. ”Selain itu, harga minyak yang anjlok ikut
mempengaruhi,” lanjut dia seperti dilansir Russia Today.
Teknologi Telekomunikasi Indonesia Rentan Disadap
Kasus penyadapan kembali
memanas setelah mantan pegawai badan intelijen Amerika Serikat, Edward
Snowden membeberkan rencana Australian dan Selandia Baru menyadap
jaringan telekomunikasi Telkomsel.
Kasus ini bukanlah pertama kali dialami oleh Indonesia terlebih
operator. Lantas, apakah yang membuat hal ini sering terjadi? Okezone
menghubungi Pratama Persadha, Ketua Lembaga Riset CISSReC yang merupakan
Pakar Keamanan Cyber dan Komunikasi, Selasa (10/3/2015) untuk
mendapatkan informasi.
Q: Apa penyebab Telkomsel disadap?
A: Ini bukan dibobol ya, mungkin Telkomselnya sendiri gak sadar kalau
dia sudah disadap. Masalahnya teknologi-teknologi ini merupakan
teknologi tingkat tinggi. Jika transfer knowladge orang Telkomsel masih
menggunakan orang luar, ya bisa saja disusupi.
Q: Berbicara masalah teknologi, teknologi seperti apa yang menjadi masalah?
A: Masalahnya bukan teknologinya, tapi teknologi GSM-nya. Teknologi
GSM itu menggunakan algoritma pengamanan A51 itu teknologi 3G atau A52
untuk 2G (teknologi standar). Nah, negara di seluruh dunia menggunakan
teknologi yang sama, jadi bukan karena providernya tapi teknologi itu
punya kelemahan. Kelemahannya ialah dapat dilakukan interset atau
disadap dengan peralatan GSM Interset atau GSM Monitoring, sehingga
dapat disadap dari udara. Karena ini bisa disadap, jadi harus diamankan.
Q: Jika menyadap dapat dilakukan secara udara, kemudian kenapa harus lewat operator?
A: Iya, kalau kita punya teknologi tidak perlu langsung ke operator,
gak perlu kerena risikonya dapat ketahuan dan meninggalkan jejak. Tapi
memang paling gampang melakukan penyadapan nyolok ke sistem operator,
sehingga dapat menentukan target dan di monitor jaringan komunikasi yang
dilakukan oleh target, seperti telefon, pesan singkat, dan email sudah
langsung terdeteksi. (Okezone)
Kendaraan Penyerbu Ringan Buatan Indonesia
Jakarta - Dua perusahaan lokal, PT Jala Berikat
Nusantara Perkasa (PT Jala) dan PT Dirgantara Indonesia (PT DI)
meyakini, kendaraan penyerbu ringan Indonesia (Indonesian Light Strike
Vehicle/ILSV) yang mereka produksi mampu memperkuat armada militer
nasional, sehingga menambah keunggulan pertahanan negara.
“Ada empat parameter jika suatu negara ingin menjadi negara yang
kuat, diantaranya adalah memiliki pertahanan yang unggul. Salah satu
syarat pertahanan suatu negara dikatakan unggul antara lain harus
memiliki SDM profesional, fasilitas produksi, peralatan mutakhir, sistem
dan metode yang mengikuti perkembangan tekhnologi serta dapat mengayomi
keutuhan wilayah, keselamatan bangsa dan kedaulatan negara,” ujar
Direktur Utama PT Jala Berikat Nusantara Perkasa Johny Tanoto dalam
diskusi “Membangkitkan Produk Pertahanan Dalam Negeri” di Jakarta, Senin
(2/3). Hadir pada kesempatan itu, tim pelaksana Teknik Manufaktur PT DI
Udjang Hasan Subekti.
Johny menjelaskan, memiliki peralatan mutakhir turut ditentukan oleh
kemampuan industri pertahanan dalam memenuhi kebutuhan pengadaan dan
pemeliharaan alat utama sistem senjata (alutsista) secara mandiri. Salah
satunya, memiliki kendaraan taktis yang unggul di segala medan buatan
dalam negeri.
Hal itulah yang memacu PT Jala dan PT DI bekerja sama dalam
menciptakan kendaraan multifungsi, ILSV. Johny Tanoto memang dikenal
sebagai pengusaha yang lama bergelut dalam dunia industri pertahanan.
Perusahaannya memproduksi berbagai produk peralatan militer seperti helm
tempur dan rompi anti peluru. Kini, PT Jala merambah pada kendaraan
militer.
“ILSV merupakan sebuah kendaraan multiguna jenis Jeep yang bisa
digunakan sebagai kendaraan taktis serta kendaraan khusus,” kata dia.
Selain itu, tambah Johny, ILSV bisa dilengkapi sistem persenjataan
roket dari darat ke udara, darat ke darat, dan jenis senjata lainnya.
Kendaraan itu juga sempat dipamerkan PT Jala di Indo Defence 2014
lalu. Ketika itu, ruang pamer mereka menjadi ruang pamer terbaik selama
pameran. Sebab, mendapat perhatian tinggi dari masyarakat.
Johny berharap di hari-hari besar TNI, Indonesia sudah bisa
mempersembahkan parade alutsista buatan dalam negeri. “Pintar tidak
menggurui, cepat tidak mendahului. Kehadiran kita untuk saling
melengkapi, jayalah Indonesia,” ujar dia. (beritasatu.com).
K9 Thunder: Kandidat Self Tracked Propelled Howitzer 155mm Untuk Armed TNI AD
Dari beragam varian senjata di lini artileri medan, keberadaan self
propelled (swa gerak) howitzer tidak dapat dipandang sebelah mata,
bersamaan dengan towed (tarik) howitzer, self propelled howitzer punya
andil yang cukup strategis dalam jalannya pertempuran, terlebih pada
penekanan keunggulan daya gerak dan proteksi bagi awak. TNI AD pun
termasuk senior dalam mengoperasikan self propelled howitzer.
Lewat AMX MK61, untuk pertama kalinya Indonesia mengenal self
propelled howitzer, alutsista ini mulai memperkuat Armed TNI AD pada
pertengahan tahun 70-an hingga 1982. Dan, lewat pengabdian yang sangat
panjang, AMX MK61 hingga kini belum tergantikan di lingkup TNI AD. Upaya
pembaharuan self propelled howitzer sudah ada, tapi belum menyentuh ke
self tracked propelled howitzer yang mengandalan roda rantai, maklum
self tracked propelled howitzer memang mengadaptasi basis tank, seperti
halnya AMX MK61 yang mencomot sasis tank ringan AMX-13.
Meski bergerak lambat, TNI AD sudah melakukan upgrade self propelled
howitzer, wujudnya seperti hibah FH-2000 dari Singapura dan yang paling
baru TRF-1 CAESAR yang dibeli dari Perancis, keduanya mengusung kaliber
155 mm. Namun, celah kebutuhan untuk self tracked propelled howitzer
belum terjawab. Dan, setelah lama menanti, akhirnya ada titik terang
pengganti AMX MK61. Yang dimaksud adalah K9 Thunder buatan Samsung
Techwin, Korea Selatan.
Kabarnya, Armed TNI AD akan mengakuisisi dua batalyon self propelled
howitzer roda rantai, yang tiap batalyon dibekali 18 pucuk senjata.
Kandidat terkuat mengarah ke K9 Thunder, lantaran ada sejarah mesra
antara Armed TNI AD dan Korea Selatan, dimana sebagian besar howitzer
TNI AD dibeli dari Korsel. Dua tipe howitzer yang di datangkan dari
Korsel adalah KH-178 105 mm dan KH-179 155 mm. Ditambah pihak Korsel
tidak pelit untuk urusan alih teknologi, maka pengadaan K9 Thunder tentu
tak begitu sulit. Menurut situs Wikipedia.com, harga per unit K9
Thunder mencapai US$3,1 juta.
K9 Thunder menawarkan sistem self propelled howitzer terbaru dengan
kaganasan meriam kaliber 155 mm dalam sasis yang sepenuhnya dibuat oleh
Samsung Techwin. Dirunut dari sejarah pengembangannya, K9 mengambil
rancangan M109 Paladin, self tracked propelled howitzer buatan AS.
Sebagai sekutu AS, sejak lama sudah menjadi pengguna setia M109 Paladin.
Namanya juga Korsel, ia tidak mau membeli mentah-mentah, melainkan juga
meminta skema ToT (transfer of technology), yang waktu
diwjudkan dengan melisensi M109A2 sebagai K55 dan K55A1. Namun, semakin
berkembangnya teknologi, mengharuskan Korsel untuk move on, pasalnya
rivalnya Korea Utara (Korut) sudah memiliki self propelled howitzer
berbasis tank Type-59 berkode M-1978 Koksan dengan meriam kaliber 170
mm.
Untuk memperempit selisih, Korsel lantas menugaskan Samsung Techwin
(d/h Samsung Defense Aerospace) untuk mengembangkan sistem self
propelled artileri sebagai komplemen. Prototipe pertama K9 Thunder
tampil pada 1989, dan dilanjutkan dengan serangkaian uji coba, hingga
akhirnya resmi digunakan AD Korsel pada 1998. Unit perdananya sendiri
masuk kedinasan pada tahun 2000.
Dengan body yang bongsor (berat 47 ton), K9 diawaki oleh lima kru,
yakni komandan, pengemudi, penembak, dan dua awak pengisi amunisi. Tugas
awak pengisi dimudahkan dengan keberadaan sistem pengisi otomatis
(autoreloader) yang cukup kompleks. Di luar, pengemudi memiliki palka
tersendiri, sementara keempat kru lainnya dapat keluar dari palka di
atas kubah. Masih ada lagi pintu (ramp) di bagian belakang, yang dapat
dibuka kea rah kanan dengan engsel.
Dari segi daya muat, K9 dirancang dapat membawa 48 butir peluru
howitzer 155 mm dan propelannya. Apabila kendaraan kehabisan peluru,
sudah ada wahana K10 ARV untuk mengisi amunisi. K10 tidak dilengkapi
meriam, sebagai gantinya ada bekal ‘belalai’ yang bertugas mengantarkan
peluru yang akan diisi ke K9. Untuk self defence, komandan K9 dilengkapi
dengan SMB (senapan mesin berat) M2HB 12,7 mm di atas kubah.
Posisi mesin pada K9 disematkan pada kanan depan. Dapur pacu K9
disokong mesin MTU 881 buatan Jerman, yang dipadukan dengan sistem
transmisi otomatis Allison ATDX 1100-5A3 dengan empat gigi maju dan dua
gigi mundur. Paduan mesin dan transmisi mampu menyemburkan daya 1.000
hp, sementara kecepatan maksimum di jalan raya dapat digeber hingga 67
km per jam. Dengan kapasitas bahan bakar penuh, K9 Thunder dapat melaju
hingga 480 km.
Seperti halnya AMX-13 MK61, howitzer 155 mm pada K9 Thunder
ditempatkan pada struktur kubah tertutup, yang tentu saja merupakan
suatu keunggulan dalam pertempuran yang dinamis, dimana awak lebih
terlindung dengan kubah baja dari imbas pecahan artileri lawan dan
hantaman proyektil 12,7 mm. Sebagai perbandingan self propelled howitzer
CAESAR 155 mm yang juga dimiliki TNI AD, punya sisi kelemahan pada
elemen perlidungan awak.
Laras meriam dapat diarahkan secara vertikal hingga 70 derajat dan
diturunkan sampai -2,5 derajat. Laras dapat diputar 360 derajat bersama
kubahnya. Beda dengan kubah AMX-13 MK61 yang sudah dipantek, alias tidak
bisa diputar. Untuk kemampuan tembakan, dengan munisi HE (high
explosive) dapat dilontarkan proyektil hingga 30 km. Sementara dengan
P-ICM base bleed, jangkauan tembak mencapai 38 km. Bahkan dengan munisi
BB+RAP extended range, jarak lintasan bisa mencapai jarak 56 km. Melihat
kondisi yang berkonfrontasi dengan Korut, mengharuskan K9 untuk
mempunyai daya jangkauan tembak yang maksimal.
Meski usianya masih muda, K9 Thunder masuk kelas battle proven. Dalam
peristiwa bombardir artileri di Yeonpyeong (23 November 2010) antara
Korsel dan korut. Enam unitt K9 dapa bereaksi maksimal atas tembakan
artileri Korut, total 80 tembakan telah dimuntahkan K9 ke arah posisi
pasukan Korut.
Bila Indonesia baru berniat mengakuisisi, maka Australia, Polandia,
dan Turki sudah resmi mengoperasikan K9. Bahkan, Turki membeli lisensi
K9, hingga akhirnya di produksi dengan label T-155 Fırtına. (Gilang Perdana)
Spesifikasi K9 Thunder
- Weight : 47 tonnes
- Length : 12 m
- Width : 3,4 m
- Height : 2,73 m
- Crew : 5 (Commander, Driver, Gunner, 2 Loaders)
- Main armament : 52 cal (155mm howitzer)
- Secondary armament : 12,7 mm
- Engine : MTU MT 881 Ka-500 8-cylinder water-cooled diesel
- Power/weight : 21 hp/ton
- Transmission : S&T Dynamics X1100-5A3
- Suspension : hydropneumatic
- Operational range : 480 km
- Speed : 67 km/h
SAAB Swedia akan tawarkan Erieye AEW&C kepada Indonesia
SAAB AB, perusahaan industri
sistem pertahanan dan keamanan Swedia, telah memulai serangkaian
pembicaraan tentang penawaran sistem pengamatan udara Erieye AEW&C
kepada pemerintah Indonesia untuk mengawal wilayah udara, darat, dan
maritim Tanah Air.
"Kami akan senang jika sistem kami itu bisa diterima Indonesia dan kami telah melakukan pembicaraan soal ini dengan pemerintah Indonesia,” kata Wakil Presiden dan Kepala Sistem Pengamatan Udara dan Bisnis Sistem Pertahanan Elektronika SAAB AB Lars Tossman di Gotheborg, Swedia, Senin waktu setempat.
Penawarannya itu, kata Tossman, terkait juga dengan penawaran sistem pesawat tempur JAS-39 Gripen yang turut dalam proyeksi pengganti pesawat tempur F-5E/F Tiger II pada Skuadron Udara 14 TNI AU.
Menurut dia, sistem yang dikembangkan SAAB AB pada piranti Erieye AEW&C sangat pas dengan keperluan Indonesia yang memiliki wilayah udara sangat luas.
Dari ketinggian operasionalnya, sistem pengamatan dan intelijen Erieye AEW&C ini bisa menjangkau wilayah pada radius lebih dari 900 kilometer yang berarti sudah di balik kelengkungan Bumi, setara dengan “volume” ruang diawasi 500.000 kilometer persegi horisontal dan 20 kilometer vertikal.
Berbasis sistem Active Electronically Sensor Array, sistem ini bekerja pada frekuensi S-band, dengan sensitivitas ultratinggi, dan pencitraan objek diamati secara seketika. Data-link yang diterapkan berbasis NATO data-link L16 dan L11.
Jika ditempatkan di wilayah udara Indonesia, maka cuma diperlukan dua Erieye AEW&C di udara Jakarta dan Makassar agar bisa melingkupi 80 persen wilayah udara Tanah Air.
Secara teknis, jika ada pesawat terbang penyusup berkecepatan suara (sekitar 900 kilometer perjam), sistem ini bisa segera mengetahui kehadirannya sehingga pesawat tempur Indonesia memiliki cukup waktu untuk menangkalnya.
Sejauh ini, TNI AU hanya memiliki satu skuadron udara pengamatan (surveillance) itu, yaitu Skuadron Udara 5 yang terdiri dari tiga pesawat Boeing 737-200 Maritime Patrol. Pesawat ini dilengkapi sensor SLAMMR ( Side Looking Airborne Modular Multimission Radar), peralatan navigasi INS (Inertial Navigational System) dan Omega Navigation System. Semuanya berbasis teknologi dasawarsa 1980-an.
Lossman menyatakan, sistem Erieye AEW&C memiliki beberapa keunggulan, antara lain bisa disesuaikan dengan keperluan domestik pemakainya. "Bahkan, pijakan alias platform pesawat terbang pembawanya bisa disesuaikan. Yang sudah disertifikasi sejauh ini adalah SAAB 2000 dan Embraer 145," kata dia.
Tipe pesawat terbang "penggendong" yang pertama, SAAB 2000 adalah turboprop.
"Kami sangat memperhatikan aspek operasionalisasi dan biaya ikutannya. Itu sebabnya, pengoperasian pesawat terbang turboprop bisa menekan biaya operasional tanpa mengenyampingkan fungsi dan efektivitasnya," kata dia.
Direktur Pemasaran Sistem Udara SAAB AB Magnus Hagman menyatakan, dari Asia Tenggara, baru Thailand yang menandatangani pemesanan jadi Erieye AEW&C. Angkatan Udara Kerajaan Thailand juga menjadi operator perdana JAS-39 Gripen di ASEAN.
Pensiunan instruktur penerbang tempur pada Angkatan Udara Kerajaan Swedia itu juga berkata, "Salah satu prinsip penting dalam operasi udara militer tempur adalah menempatkan ataus menerbangkan pesawat tempur pada tempat dan waktu yang tepat. Antara sistem Gripen dan Erieye AEW&C saling melengkapi."
"Kami akan senang jika sistem kami itu bisa diterima Indonesia dan kami telah melakukan pembicaraan soal ini dengan pemerintah Indonesia,” kata Wakil Presiden dan Kepala Sistem Pengamatan Udara dan Bisnis Sistem Pertahanan Elektronika SAAB AB Lars Tossman di Gotheborg, Swedia, Senin waktu setempat.
Penawarannya itu, kata Tossman, terkait juga dengan penawaran sistem pesawat tempur JAS-39 Gripen yang turut dalam proyeksi pengganti pesawat tempur F-5E/F Tiger II pada Skuadron Udara 14 TNI AU.
Menurut dia, sistem yang dikembangkan SAAB AB pada piranti Erieye AEW&C sangat pas dengan keperluan Indonesia yang memiliki wilayah udara sangat luas.
Dari ketinggian operasionalnya, sistem pengamatan dan intelijen Erieye AEW&C ini bisa menjangkau wilayah pada radius lebih dari 900 kilometer yang berarti sudah di balik kelengkungan Bumi, setara dengan “volume” ruang diawasi 500.000 kilometer persegi horisontal dan 20 kilometer vertikal.
Berbasis sistem Active Electronically Sensor Array, sistem ini bekerja pada frekuensi S-band, dengan sensitivitas ultratinggi, dan pencitraan objek diamati secara seketika. Data-link yang diterapkan berbasis NATO data-link L16 dan L11.
Jika ditempatkan di wilayah udara Indonesia, maka cuma diperlukan dua Erieye AEW&C di udara Jakarta dan Makassar agar bisa melingkupi 80 persen wilayah udara Tanah Air.
Secara teknis, jika ada pesawat terbang penyusup berkecepatan suara (sekitar 900 kilometer perjam), sistem ini bisa segera mengetahui kehadirannya sehingga pesawat tempur Indonesia memiliki cukup waktu untuk menangkalnya.
Sejauh ini, TNI AU hanya memiliki satu skuadron udara pengamatan (surveillance) itu, yaitu Skuadron Udara 5 yang terdiri dari tiga pesawat Boeing 737-200 Maritime Patrol. Pesawat ini dilengkapi sensor SLAMMR ( Side Looking Airborne Modular Multimission Radar), peralatan navigasi INS (Inertial Navigational System) dan Omega Navigation System. Semuanya berbasis teknologi dasawarsa 1980-an.
Lossman menyatakan, sistem Erieye AEW&C memiliki beberapa keunggulan, antara lain bisa disesuaikan dengan keperluan domestik pemakainya. "Bahkan, pijakan alias platform pesawat terbang pembawanya bisa disesuaikan. Yang sudah disertifikasi sejauh ini adalah SAAB 2000 dan Embraer 145," kata dia.
Tipe pesawat terbang "penggendong" yang pertama, SAAB 2000 adalah turboprop.
"Kami sangat memperhatikan aspek operasionalisasi dan biaya ikutannya. Itu sebabnya, pengoperasian pesawat terbang turboprop bisa menekan biaya operasional tanpa mengenyampingkan fungsi dan efektivitasnya," kata dia.
Direktur Pemasaran Sistem Udara SAAB AB Magnus Hagman menyatakan, dari Asia Tenggara, baru Thailand yang menandatangani pemesanan jadi Erieye AEW&C. Angkatan Udara Kerajaan Thailand juga menjadi operator perdana JAS-39 Gripen di ASEAN.
Pensiunan instruktur penerbang tempur pada Angkatan Udara Kerajaan Swedia itu juga berkata, "Salah satu prinsip penting dalam operasi udara militer tempur adalah menempatkan ataus menerbangkan pesawat tempur pada tempat dan waktu yang tepat. Antara sistem Gripen dan Erieye AEW&C saling melengkapi."
Senin, 09 Maret 2015
Ini Dia Cara Australia Sadap Telkomsel
Mantan Kontraktor Badan
Intelijen AS Edward Snowden membocorkan dokumen yang memaparkan
Indonesia sebagai target pengintaian Australia. Dalam dokumen itu
disebutkan bahwa mata-mata Australia menargetkan mengintai jaringan
telefon terbesar Indonesia serta sistem telekomunikasi.
Dilansir The Sidney Morning Herald (SMH), Senin (9/3/2015), dokumen
yang diterbitkan di Selandia Baru itu Australia Signals Directorate
(ASD) telah bekerja sama dengan Government Communications Security
Bureau (GCSB) Selandia Baru untuk mendapatkan akses komprehensif
jaringan telekomunikasi di seluruh Indonesia dan Pasifik Selatan.
Laporan lebih lanjut para mata-mata Australia dan Selandia Baru
menargetkan, jaringan telekomunikasi terbesar di Indonesia dengan
menyabotase komunikasi satelit dan kabel telekomunikasi bawah laut, dan
mengambil dari panggilan telefon, email, pesan media sosial, dan
metadata yang terkait satu dengan lainnya.
Laporan rahasia Selandia Baru yang bocor itu juga menegaskan
ketertarikan ASD pada jaringan terbesar di Indonesia, Telkomsel yang
melayani lebih dari 122 juta pelanggan. Pekerja Intelijen Selandia Baru
yang bekerja pada Bursa di Canberra pada 2009 dan ditempatkan di bagian
analisis infrastruktur jaringan ASD itu ditugaskan secara khusus untuk
mematai penyedia telekomunikasi Indonesia yakni Telkomsel.
Pengintaian tersebut meliputi penyelidikan catatan panggilan data
yang dikirim melalui File Transfer Protocol (FTP) dan mengamati gateway
kompresi suara Telkomsel yang digunakan untuk mendukung transmisi lalu
lintas telefon internasional dan domestik.
Sementara itu, saat Okezone ingin mengkonfimasi terkait penyadapan
tersebut, pihak Telkomsel belum dapat dihubungi. Telefon dan pesan
singkat yang dikirimkan belum mendapatkan respon dari
Telkomsel.(okezone)
Langganan:
Komentar (Atom)