Selasa, 10 Maret 2015

K9 Thunder: Kandidat Self Tracked Propelled Howitzer 155mm Untuk Armed TNI AD

Korean-K9-Thunder
Dari beragam varian senjata di lini artileri medan, keberadaan self propelled (swa gerak) howitzer tidak dapat dipandang sebelah mata, bersamaan dengan towed (tarik) howitzer, self propelled howitzer punya andil yang cukup strategis dalam jalannya pertempuran, terlebih pada penekanan keunggulan daya gerak dan proteksi bagi awak. TNI AD pun termasuk senior dalam mengoperasikan self propelled howitzer.
Lewat AMX MK61, untuk pertama kalinya Indonesia mengenal self propelled howitzer, alutsista ini mulai memperkuat Armed TNI AD pada pertengahan tahun 70-an hingga 1982. Dan, lewat pengabdian yang sangat panjang, AMX MK61 hingga kini belum tergantikan di lingkup TNI AD. Upaya pembaharuan self propelled howitzer sudah ada, tapi belum menyentuh ke self tracked propelled howitzer yang mengandalan roda rantai, maklum self tracked propelled howitzer memang mengadaptasi basis tank, seperti halnya AMX MK61 yang mencomot sasis tank ringan AMX-13.
Meski bergerak lambat, TNI AD sudah melakukan upgrade self propelled howitzer, wujudnya seperti hibah FH-2000 dari Singapura dan yang paling baru TRF-1 CAESAR yang dibeli dari Perancis, keduanya mengusung kaliber 155 mm. Namun, celah kebutuhan untuk self tracked propelled howitzer belum terjawab. Dan, setelah lama menanti, akhirnya ada titik terang pengganti AMX MK61. Yang dimaksud adalah K9 Thunder buatan Samsung Techwin, Korea Selatan.
Kabarnya, Armed TNI AD akan mengakuisisi dua batalyon self propelled howitzer roda rantai, yang tiap batalyon dibekali 18 pucuk senjata. Kandidat terkuat mengarah ke K9 Thunder, lantaran ada sejarah mesra antara Armed TNI AD dan Korea Selatan, dimana sebagian besar howitzer TNI AD dibeli dari Korsel. Dua tipe howitzer yang di datangkan dari Korsel adalah KH-178 105 mm dan KH-179 155 mm. Ditambah pihak Korsel tidak pelit untuk urusan alih teknologi, maka pengadaan K9 Thunder tentu tak begitu sulit. Menurut situs Wikipedia.com, harga per unit K9 Thunder mencapai US$3,1 juta.
korea_wojsko_ap_600
K9 Thunder menawarkan sistem self propelled howitzer terbaru dengan kaganasan meriam kaliber 155 mm dalam sasis yang sepenuhnya dibuat oleh Samsung Techwin. Dirunut dari sejarah pengembangannya, K9 mengambil rancangan M109 Paladin, self tracked propelled howitzer buatan AS. Sebagai sekutu AS, sejak lama sudah menjadi pengguna setia M109 Paladin. Namanya juga Korsel, ia tidak mau membeli mentah-mentah, melainkan juga meminta skema ToT (transfer of technology), yang waktu diwjudkan dengan melisensi M109A2 sebagai K55 dan K55A1. Namun, semakin berkembangnya teknologi, mengharuskan Korsel untuk move on, pasalnya rivalnya Korea Utara (Korut) sudah memiliki self propelled howitzer berbasis tank Type-59 berkode M-1978 Koksan dengan meriam kaliber 170 mm.
Untuk memperempit selisih, Korsel lantas menugaskan Samsung Techwin (d/h Samsung Defense Aerospace) untuk mengembangkan sistem self propelled artileri sebagai komplemen. Prototipe pertama K9 Thunder tampil pada 1989, dan dilanjutkan dengan serangkaian uji coba, hingga akhirnya resmi digunakan AD Korsel pada 1998. Unit perdananya sendiri masuk kedinasan pada tahun 2000.
K9_Thunder_self-propelled_howitzer_155_MM_South_Korea_South_Korean_Army_line_drawing_blueprint_001p1p2
Dengan body yang bongsor (berat 47 ton), K9 diawaki oleh lima kru, yakni komandan, pengemudi, penembak, dan dua awak pengisi amunisi. Tugas awak pengisi dimudahkan dengan keberadaan sistem pengisi otomatis (autoreloader) yang cukup kompleks. Di luar, pengemudi memiliki palka tersendiri, sementara keempat kru lainnya dapat keluar dari palka di atas kubah. Masih ada lagi pintu (ramp) di bagian belakang, yang dapat dibuka kea rah kanan dengan engsel.
Dari segi daya muat, K9 dirancang dapat membawa 48 butir peluru howitzer 155 mm dan propelannya. Apabila kendaraan kehabisan peluru, sudah ada wahana K10 ARV untuk mengisi amunisi. K10 tidak dilengkapi meriam, sebagai gantinya ada bekal ‘belalai’ yang bertugas mengantarkan peluru yang akan diisi ke K9. Untuk self defence, komandan K9 dilengkapi dengan SMB (senapan mesin berat) M2HB 12,7 mm di atas kubah.
K10_ARV
K10_ARV
M2HB 12,7 mm untuk self defence.
M2HB 12,7 mm untuk self defence.

Posisi mesin pada K9 disematkan pada kanan depan. Dapur pacu K9 disokong mesin MTU 881 buatan Jerman, yang dipadukan dengan sistem transmisi otomatis Allison ATDX 1100-5A3 dengan empat gigi maju dan dua gigi mundur. Paduan mesin dan transmisi mampu menyemburkan daya 1.000 hp, sementara kecepatan maksimum di jalan raya dapat digeber hingga 67 km per jam. Dengan kapasitas bahan bakar penuh, K9 Thunder dapat melaju hingga 480 km.
Seperti halnya AMX-13 MK61, howitzer 155 mm pada K9 Thunder ditempatkan pada struktur kubah tertutup, yang tentu saja merupakan suatu keunggulan dalam pertempuran yang dinamis, dimana awak lebih terlindung dengan kubah baja dari imbas pecahan artileri lawan dan hantaman proyektil 12,7 mm. Sebagai perbandingan self propelled howitzer CAESAR 155 mm yang juga dimiliki TNI AD, punya sisi kelemahan pada elemen perlidungan awak.
m020100109000161290699069_4369554_14298727054661-aussie-thunder
Laras meriam dapat diarahkan secara vertikal hingga 70 derajat dan diturunkan sampai -2,5 derajat. Laras dapat diputar 360 derajat bersama kubahnya. Beda dengan kubah AMX-13 MK61 yang sudah dipantek, alias tidak bisa diputar. Untuk kemampuan tembakan, dengan munisi HE (high explosive) dapat dilontarkan proyektil hingga 30 km. Sementara dengan P-ICM base bleed, jangkauan tembak mencapai 38 km. Bahkan dengan munisi BB+RAP extended range, jarak lintasan bisa mencapai jarak 56 km. Melihat kondisi yang berkonfrontasi dengan Korut, mengharuskan K9 untuk mempunyai daya jangkauan tembak yang maksimal.
Meski usianya masih muda, K9 Thunder masuk kelas battle proven. Dalam peristiwa bombardir artileri di Yeonpyeong (23 November 2010) antara Korsel dan korut. Enam unitt K9 dapa bereaksi maksimal atas tembakan artileri Korut, total 80 tembakan telah dimuntahkan K9 ke arah posisi pasukan Korut.
Bila Indonesia baru berniat mengakuisisi, maka Australia, Polandia, dan Turki sudah resmi mengoperasikan K9. Bahkan, Turki membeli lisensi K9, hingga akhirnya di produksi dengan label T-155 Fırtına. (Gilang Perdana)

Spesifikasi K9 Thunder
  • Weight : 47 tonnes
  • Length : 12 m
  • Width : 3,4 m
  • Height : 2,73 m
  • Crew : 5 (Commander, Driver, Gunner, 2 Loaders)
  • Main armament : 52 cal (155mm howitzer)
  • Secondary armament : 12,7 mm
  • Engine : MTU MT 881 Ka-500 8-cylinder water-cooled diesel
  • Power/weight : 21 hp/ton
  • Transmission : S&T Dynamics X1100-5A3
  • Suspension : hydropneumatic
  • Operational range : 480 km
Indomil.
  • Speed : 67 km/h

SAAB Swedia akan tawarkan Erieye AEW&C kepada Indonesia

Click here to see a large version

SAAB AB, perusahaan industri sistem pertahanan dan keamanan Swedia, telah memulai serangkaian pembicaraan tentang penawaran sistem pengamatan udara Erieye AEW&C kepada pemerintah Indonesia untuk mengawal wilayah udara, darat, dan maritim Tanah Air.

"Kami akan senang jika sistem kami itu bisa diterima Indonesia dan kami telah melakukan pembicaraan soal ini dengan pemerintah Indonesia,” kata Wakil Presiden dan Kepala Sistem Pengamatan Udara dan Bisnis Sistem Pertahanan Elektronika SAAB AB Lars Tossman di Gotheborg, Swedia, Senin waktu setempat.

Penawarannya itu, kata Tossman, terkait juga dengan penawaran sistem pesawat tempur JAS-39 Gripen yang turut dalam proyeksi pengganti pesawat tempur F-5E/F Tiger II pada Skuadron Udara 14 TNI AU.

Menurut dia, sistem yang dikembangkan SAAB AB pada piranti Erieye AEW&C sangat pas dengan keperluan Indonesia yang memiliki wilayah udara sangat luas.

Dari ketinggian operasionalnya, sistem pengamatan dan intelijen Erieye AEW&C ini bisa menjangkau wilayah pada radius lebih dari 900 kilometer yang berarti sudah di balik kelengkungan Bumi, setara dengan “volume” ruang diawasi 500.000 kilometer persegi horisontal dan 20 kilometer vertikal.

Berbasis sistem Active Electronically Sensor Array, sistem ini bekerja pada frekuensi S-band, dengan sensitivitas ultratinggi, dan pencitraan objek diamati secara seketika. Data-link yang diterapkan berbasis NATO data-link L16 dan L11.

Jika ditempatkan di wilayah udara Indonesia, maka cuma diperlukan dua Erieye AEW&C di udara Jakarta dan Makassar agar bisa melingkupi 80 persen wilayah udara Tanah Air.

Secara teknis, jika ada pesawat terbang penyusup berkecepatan suara (sekitar 900 kilometer perjam), sistem ini bisa segera mengetahui kehadirannya sehingga pesawat tempur Indonesia memiliki cukup waktu untuk menangkalnya.

Sejauh ini, TNI AU hanya memiliki satu skuadron udara pengamatan (surveillance) itu, yaitu Skuadron Udara 5 yang terdiri dari tiga pesawat Boeing 737-200 Maritime Patrol. Pesawat ini dilengkapi sensor SLAMMR ( Side Looking Airborne Modular Multimission Radar), peralatan navigasi INS (Inertial Navigational System) dan Omega Navigation System. Semuanya berbasis teknologi dasawarsa 1980-an.

Lossman menyatakan, sistem Erieye AEW&C memiliki beberapa keunggulan, antara lain bisa disesuaikan dengan keperluan domestik pemakainya. "Bahkan, pijakan alias platform pesawat terbang pembawanya bisa disesuaikan. Yang sudah disertifikasi sejauh ini adalah SAAB 2000 dan Embraer 145," kata dia.

Tipe pesawat terbang "penggendong" yang pertama, SAAB 2000 adalah turboprop.

"Kami sangat memperhatikan aspek operasionalisasi dan biaya ikutannya. Itu sebabnya, pengoperasian pesawat terbang turboprop bisa menekan biaya operasional tanpa mengenyampingkan fungsi dan efektivitasnya," kata dia.

Direktur Pemasaran Sistem Udara SAAB AB Magnus Hagman menyatakan, dari Asia Tenggara, baru Thailand yang menandatangani pemesanan jadi Erieye AEW&C. Angkatan Udara Kerajaan Thailand juga menjadi operator perdana JAS-39 Gripen di ASEAN.

Pensiunan instruktur penerbang tempur pada Angkatan Udara Kerajaan Swedia itu juga berkata, "Salah satu prinsip penting dalam operasi udara militer tempur adalah menempatkan ataus menerbangkan pesawat tempur pada tempat dan waktu yang tepat. Antara sistem Gripen dan Erieye AEW&C saling melengkapi."

Senin, 09 Maret 2015

Ini Dia Cara Australia Sadap Telkomsel

Ilustrasi (ist)
Mantan Kontraktor Badan Intelijen AS Edward Snowden membocorkan dokumen yang memaparkan Indonesia sebagai target pengintaian Australia. Dalam dokumen itu disebutkan bahwa mata-mata Australia menargetkan mengintai jaringan telefon terbesar Indonesia serta sistem telekomunikasi.
Dilansir The Sidney Morning Herald (SMH), Senin (9/3/2015), dokumen yang diterbitkan di Selandia Baru itu Australia Signals Directorate (ASD) telah bekerja sama dengan Government Communications Security Bureau (GCSB) Selandia Baru untuk mendapatkan akses komprehensif jaringan telekomunikasi di seluruh Indonesia dan Pasifik Selatan.
Laporan lebih lanjut para mata-mata Australia dan Selandia Baru menargetkan, jaringan telekomunikasi terbesar di Indonesia dengan menyabotase komunikasi satelit dan kabel telekomunikasi bawah laut, dan mengambil dari panggilan telefon, email, pesan media sosial, dan metadata yang terkait satu dengan lainnya.
Laporan rahasia Selandia Baru yang bocor itu juga menegaskan ketertarikan ASD pada jaringan terbesar di Indonesia, Telkomsel yang melayani lebih dari 122 juta pelanggan. Pekerja Intelijen Selandia Baru yang bekerja pada Bursa di Canberra pada 2009 dan ditempatkan di bagian analisis infrastruktur jaringan ASD itu ditugaskan secara khusus untuk mematai penyedia telekomunikasi Indonesia yakni Telkomsel.
Pengintaian tersebut meliputi penyelidikan catatan panggilan data yang dikirim melalui File Transfer Protocol (FTP) dan mengamati gateway kompresi suara Telkomsel yang digunakan untuk mendukung transmisi lalu lintas telefon internasional dan domestik.
Sementara itu, saat Okezone ingin mengkonfimasi terkait penyadapan tersebut, pihak Telkomsel belum dapat dihubungi. Telefon dan pesan singkat yang dikirimkan belum mendapatkan respon dari Telkomsel.(okezone)

Minggu, 08 Maret 2015

Pejabat RI Kembali Disadap, Apa Saja Informasi yang Diambil?

Pejabat RI Kembali Disadap, Apa Saja Informasi yang Diambil?
Mantan agen NSA, Edward J. Snowden (REUTERS/Mark Blinch/Files)

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Paramadina Dinna Wisnu mengatakan informasi apa pun bisa saja diambil oleh badan intelijen Selandia Baru (GCSB) dan Australia (ASD) melalui perusahaan telekomunikasi. Direktur Program Pasca Sarjana Bidang Diplomasi Universitas Paramadina itu menyebut beragam informasi mulai ekonomi dan politik, bisa saja menjadi target yang dicari.

Dinna mengatakan saat dihubungi oleh VIVA.co.id melalui telepon pada Minggu, 8 Maret 2015. Dia menyebut, aksi penyadapan di era kecanggihan teknologi seperti saat ini bukanlah hal baru.

"Justru sudah semua tugas intelijen semua negara untuk melakukan praktik itu. Mereka bahkan kini turut memperhatikan media sosial untuk melacak berita apa jaman sekarang yang bisa tren di masa mendatang," papar Dinna.

Yang pasti, lanjut Dinna, negara yang dibidik untuk disadap Selandia Baru dan Australia merupakan negara penting di kawasan dan bagi geopolitik mereka.

Sementara, ketika ditanya kemungkinan Presiden Joko Widodo yang dijadikan target, Dinna pun tidak menampik kemungkinan itu. Tetapi, Dinna berpendapat, kalau pun kedua badan intelijen itu memiliki informasi mengenai Jokowi, mereka tidak akan membongkarnya ke hadapan publik.

"Informasi yang mereka miliki tidak hanya dipikirkan jangka pendeknya dan digunakan untuk memperburuk hubungan, apalagi dengan negara yang lokasinya dekat," kata Dinna.

Lagipula, bukan berarti ketika mereka berhasil menyadap sistem komunikasi Indonesia, lalu semua informasi berharga bisa diambil. Untuk informasi yang sifatnya penting, lanjut Dinna, semua diberi enkripsi dengan pola tertentu.

"Dan saya mengetahui mereka juga kerap bertanya kepada kita apakah betul cara membaca polanya demikian," kata dia.

Namun, jika laporan mantan kontraktor Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA), Edward J. Snowden, terbukti intelijen Negeri Kanguru menyadap, maka itu telah melanggar tata kelakuan baik (COC) yang diteken pada pertengahan tahun 2014 lalu.

"Jika memang hal itu terjadi, Indonesia jangan bertindak sepeti kebakaran jenggot dan arogan. Kedua negara tetap perlu duduk sebagai negara yang berdaulat," tutur Dinna.

Lalu, evaluasi kembali isi COC tersebut dan lihat poin-poin yang dulu telah disepakati bersama.

Informasi mengenai penyadapan GCSB dan ASD kali pertama diungkap oleh media Selandia Baru, New Zealand Herald dan Radio Selandia Baru. Di situ mereka menulis, kedua badan intelijen itu telah menyadap komunikasi pejabat tinggi beberapa negara yakni di Kepulauan Pasifik dan Indonesia.

Namun, Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi, menyebut berita itu merupakan isu lama yang dimunculkan kembali.

FN MAG 7,62mm GPMG: Senjata Multi Platform, Andalan Infanteri Hingga Beragam Rantis TNI

FNMAG
Dalam mahzab senapan mesin serba guna atau yang kondang disebut GPMG (General Purpose Machine Gun), di linkup TNI ada dua yang dipakai sejak beberapa dekade belakangan, yakni M-60 buatan Saco Defense, AS, dan satunya lagi adalah FN MAG (Mitrailleuse D’appui General) buatan FN (Fabrique Nationale), Belgia. Baik M-60 dan FN MAG, keduanya adalah GPMG yang menggunakan amunisi kaliber 7,62 mm NATO. Yang dalam urusan battle proven, keduanya pun punya cerita-cerita tersendiri. Seperti debut M-60 pada Perang Vietnam.
Meski M-60 dan FN MAG masih cukup ‘merakyat’ di lingkup operasional TNI, tapi untuk urusan adopsi jelas yang unggul adalah FN MAG. Mulai dari TNI AD, TNI AL, dan TNI AU, semua menggunakan senapan mesin ini. Tak hanya jadi senjata pemukul di unit pleton dan batalyon infanteri, bahkan sebagian besar rantis (kendaraan taktis) TNI mengusung FN MAG. Puspenerbad sebagai wakil kavaleri udara di Indonesia, sejak dahulu mempercayai FN MAG sebagai door gun di helikopter Bell-205 A1 dan NBell-412. Menyusul kemudian Puspenerbal memasang FN MAG sebagai door gun di helikopter NBO-105, senjata ini pula yang memberikan bantuan tembakan saat melibas perompak Somalia dalam misi pembebasan kapal MV Sinar Kudus.
Bicara lingkup kesatuan kavaleri, FN MAG sudah menjadi pakem senjata pertahanan jarak dekat di tank Scorpion, BTR-50 Marinir, BTR-40, panser Badak, dan masih banyak lainnya. Tercatat prototipe APC Amfibi Marinir TNI AL, rantis intai Komodo, rantis Den Bravo Paskhas DMV-30, dan P3 Cheetah Kopaska TNI AL, juga mengandalkan FN MAG sebagai senjata penggebuk.

FN MAG dipasang sebagai door gun di heli NBO-105 TNI AL.
FN MAG dipasang sebagai door gun di heli NBO-105 TNI AL.
IMG_20141106_130251
FN MAG di BTR-50. Dengan dimensinya yang besar, BTR-50 juga efektif sebagai tempat berlindung bagi pasukan.
FN MAG di BTR-50. Dengan dimensinya yang besar, BTR-50 juga efektif sebagai tempat berlindung bagi pasukan.
Badak-armed-vehicle-makes-debut-at-show---Indo14-Day3Laris manisnya FN MAG di berbagai kesatuan TNI tentu tak lepas dari pemberdayaan produksi dalam negeri. Pasalnya PT Pindad sejak tahun 2003 telah mengambil lisensi untuk produksi FN MAG di Indonesia, dan jadilah FN MAG versi Indonesia dengan label SPM2. Ada dua varian SPM2 yang diproduksi Pindad, yakni SPM2-V1 (dengan tripod) dan SPM2-V2 (dengan bipod). Varian V2 dicipitakan tahan hingga 3600 tembakan peluru tanpa harus mengganti laras.
Dari segi rancangan dasar, FN MAG sedikit-banyak terinspirasi dari senapan otomatis M1918 BAR, namun diadopsi untuk ammo belt layaknya MG42. Ammo belt bergerak dari arah kiri ke kanan dengan pembuangan casing kosong ke arah depan senapan. Model awal menggunakan stok kayu lalu kemudian diganti menggunakan plastik. Model terkini dilengkapi dengan rel Picatinny untuk pemasangan berbagai optik tambahan.
IMG_20141106_135736
Dua pucuk GPMG FN MAG 7,62mm pada sisi bekalang prototipe APC Amfibi Marinir TNI AL.
Dua pucuk GPMG FN MAG 7,62mm pada sisi bekalang prototipe APC Amfibi Marinir TNI AL.
APC-2
Untuk memudahkan personel tempur, FN MAG dirancang dengan laras pendingin udara yang dapat dengan mudah dilepas pasang. Senapan ini menggunakan sistem gas piston panjang dengan regulator gas yang terletak di bawah laras. Bipod yang melekat pada ujung tabung gas dapat dilipat untuk disesuaikan ketinggiannya. FN MAG dapat menembakan 650–1.000 peluru tiap menitnya. Kecepatan tembak senapan (Rate of fire) dapat dipilih antara “rendah/low” (~ 650 rpm) dan “tinggi/high” (~ 950 rpm), tergantung pada situasi taktis, dan senapan menembak dalam moda full otomatis. Kecepetan luncur proyektil 840 meter per detik, dengan energi pada ujung laras 335 gm. Ketika bipod dilipat, maka fungsinya berperan sebagai pegangan tangan, sesuai digunakan pada posisi menembak dari posisi pinggang (Rambo Style).
Untuk pembidik mempergunakan skala bertingkat setiap 100 meter, mulai dari 300 meter sampai 800 meter pada sisi lain dan skala 800 – 1000 meter pada sisi lainnya. Dengan penyesuaian pada bidikan, jenis peluru, penggunaan tripod dan kondisi lingkungan, jarak tembak maksimumnya bisa mencapai 1.800 meter.
M240, versi FN MAG yang dibuat untuk pasukan AS.
M240, versi FN MAG yang dibuat untuk pasukan AS.
Dengan tripod.
Dengan tripod.
FN MAG dengan pengendali RCWS (Remote Control Weapon System).
FN MAG dengan pengendali RCWS (Remote Control Weapon System).
1
Ruang reload peluru juga dilapisi bahan chromium, dibuat sedemikian rupa hingga tidak memungkinkan terjadinya gangguan pada arus peluru yang mengalir. Pemasok peluru dibuat tidak menjadi satu. Dalam penggunaan di medan pertempuran , peluru berasal dari kotak peluru yang berisi 250 butir peluru. Bahkan untuk versi yang dipasang sebagai searah (coaxial) maupun untuk pesawat terbang/helikopter biasa diadakan modifikasi di tempat pelurunya. Popor kayunya bisa dilepas bersamaan dengan sling dan digantikan oleh penahan getar. Ini sangat berguna untuk versi yang dipasang di pesawat terbang atau helikopter.
Alat genggam berbentuk pestol praktis untuk dipasang secara coaxial dan dilengkapi dengan dudukan bagi remote control. Apabila diperlukan dalam model coaxial pesawat terbang, maka picunya bisa diganti dengan kabel pengokang yang bisa ditarik dari jarak jauh. Untuk menunjang mobilitas, alat pembawa (handle) dan pengunci laras dapat dipindahkan posisinya dalam waktu singkat tanpa banyak kesukaran. Agar tetap awet, larasnnya secara lengkap dilapisi dengan chromium, termasuk juga alat pembawa, regulator gas, pembidik, dan penyembunyi cahaya (flash hider).
8mag_fn_herstal_machine_gun_mitrailleuse_7-62_mm_Belgium_Belgian_Defense_Industry_line_drawing_blueprint_001
Karena perannya sebagai senjata bantuan tembakan, di unit infanteri biasanya FN MAG menjadi andalan di tingkat grup dan pleton. Bobot senjata ini juga tak ringan, dengan berat kosong mencapai 11,79 kg.
FN MAG ditembakkan dengan Rambo Style.
FN MAG ditembakkan dengan Rambo Style.
John Rambo pun pernah menggunakan FN MAG di film Rambo III. Senjata ini dipasang sebagai door gun di heli Hind tiruan.
John Rambo pun pernah menggunakan FN MAG di film Rambo III. Senjata ini dipasang sebagai door gun di heli Hind tiruan.

Tidak hanya populer di medan pertempuran, FN MAG juga sering nongol di film dan video game. Namun, uniknya yang sering kita temui adalah senapan M240, milik tentara AS yang juga dibuat berdasarkan lisensi FN MAG. Pada film aksi all-star, The Expendables 2 kita bisa lihat Jason Statham menembakan M240 yang terpasang pada kapal amfibi Albatros. Bahkan, pada ranah anime Jepang M420 dapat kita lihat di Macross Zero. Di anime bergenre sci-fi mecha itu M240 ditempelkan pada tank MBT Abrams. (Deni Adi)

Spesifikasi
-Negara asal : Belgia
– Berat : 11 kg
– Kaliber : 7,62 x 51mm NATO
– Panjang keseluruhan dengan popor: 1,26 meter
– Panjang laras: 54,5 cm
– Action: Gas operated .
– Mode Tembak : Fully Automatic .
– Rate of Fire: 600 – 1000 Rounds per menit.
– Jarak tembak efektif : 1.500 – 1.800 meter
– Feed : 100 round belt.

Satgas Puter XVII gelar latihan "raid amfibi"

Prajurit "Serigala Putih" (Yonif-5 Marinir) yang tergabung dalam Satuan Tugas Marinir Pengamanan Pulau Terdepan (Puter) XVII menggelar latihan "raid amfibi" di Daerah Basis Angkatan Laut (DBAL) Armatim, Ujung, Surabaya, Jumat.

Latihan yang disaksikan Komandan Batalyon Infanteri-5 Marinir Letkol Mar Rudi Harto Marpaung selaku Pimpinan Latihan dan perwira di jajaran Yonif-5 Marinir, itu dipimpin Pasi Ops Yonif-5 Mar Mayor Marinir Agung Prasetyo dan diikuti 44 anggota Satgas Puter XVII.

Kegiatan diawali dengan pemberian perintah operasi oleh Kapten Marinir Wachit Hasyim selaku Komandan Satgas Puter XVII.

Pada jam 24.00 WIB, prajurit yang tergabung dalam Satgas Puter XVII itu berangkat dari titik luncur untuk melaksanakan raid amfibi guna menghancurkan sasaran musuh.

Pada Jam "J" pukul 02.00 WIB dilaksanakan perebutan sasaran berupa instalasi radar, setelah berhasil direbut dan dikuasai, kemudian dilakukan penghancuran.

Setelah latihan usai, Komandan Batalyon Infanteri-5 Marinir Letkol Mar Rudi Harto Marpaung selaku Pimpinan Latihan mengatakan latihan raid amfibi dilaksanakan untuk meningkatkan profesionalisme prajurit dalam melaksanakan tugas.

Selain itu, juga sebagai sarana mengasah kemampuan tempur prajurit secara individu maupun kelompok, sehingga dapat diaplikasikan di daerah penugasan apabila dibutuhkan.

Latihan "raid amfibi" merupakan salah satu materi dalam latihan pratugas. Latihan lainnya adalah renang, dayung, exersisi perahu karet, motoris, "long range navigation" dan menembak.

Satgas Puter XVII akan menggantikan Satgas Puter XVI yang menempati beberapa pulau terdepan di wilayah Indonesia Timur, antara lain Pulau Dana Rote, Pulau Batek, Pulau Fanildo dan Pulau Brass.

Di sela-sela latihan sejak Selasa (3/3) itu, Komandan Brigif-1 Marinir Kolonel Marinir Y. Rudy Sulistyanto sempat meninjau langsung latihan Pratugas Ambalat XIX dan Pulau Terdepan (Puter) XVII di dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Kamis (5/3).

Saat ditinjau Komandan Brigif-1 Marinir itu, prajurit yang tergabung dalam Satgas Ambalat XIX sedang melaksanakan latihan renang laut, dayung perahu karet, exersisi perahu karet, survival, dan menembak senapan.

Tak mau ketinggalan, para prajurit yang tergabung dalam Satgas Puter XVII pun melaksanakan latihan renang laut, dayung perahu karet, exersisi perahu karet dan drill raid amfibi.
 

TNI Bangun Pertahanan Alami di Perbatasan RI-Malaysia

TNI Bangun Pertahanan Alami di Perbatasan RI-Malaysia
Panglima TNI, Jenderal Moeldoko, menanam pohon kemiri sunan di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, pada Sabtu, 7 Maret 2015. (Pusat Penerangan TNI)
 
Tentara Nasional Indonesia (TNI) membangun pertahanan alami di perbatasan Indonesia dengan Malaysia di Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, pada Sabtu, 7 Maret 2015. Pertahanan itu adalah pohon kemiri sunan.

Panglima TNI, Jenderal Moeldoko, meresmikan penanaman kemiri sunan di area seluar 5.000 hektare. Ada 12.300 batang bibit kemiri sunan, 200 bibit grafiting kemiri sunan, dan 25 kilogram benih kemiri sunan, yang ditanam di kawasan itu.

Menurut Panglima, sebagaimana siaran pers Pusat Penerangan TNI yang diterima VIVA.co.id, penanaman pohon itu sebagai upaya penyediaan dan pemanfaatan energi terbarukan serta pencegahan pemanasan global.

“Selain berguna untuk ketahanan pangan, hasil pengolahan buah kemiri ini mampu menjadi bahan bio diesel yang nantinya mampu digunakan warga sekitar dan pasukan TNI di wilayah perbatasan,” katanya.

“Di sisi lain, penanaman pohon ini juga mempunyai nilai strategis untuk TNI, karena hutan pohon kemiri sunan dapat sebagai tameng atau perlindungan terhadap prajurit apabila diserang musuh,” Panglima menambahkan.

Selain untuk membangun ekosistem hutan dan mengurangi dampak pemanasan global, penanaman pohon itu juga untuk membangun semangat menanam bukan menebang kepada masyarakat luas. Pohon-pohon itu kelak juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar dan menciptakan ketahanan energi bagi bangsa Indonesia.

Kegiatan itu adalah hasil kerja sama Kementerian Kehutanan dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat serta Asia Pasific R-20. Direktur Asia-Pasifik R-20, Nico Barito, kemiri sunan adalah tanaman yang berasal dari Filipina yang memiliki ketahanan hidup sampai 75 tahun. Pada usia lima tahun sudah mulai produktif  serta cukup baik pada berbagai kondisi lahan. Bijinya dapat menghasilkan minyak sebagai bahan baku bio diesel yang sangat cocok dibudidayakan di wilayah tropis Indonesia.