Minggu, 15 Februari 2015

PANSER ANOA MEMPERKUAT KODAM VI/MLW

Balikpapan, Dua buah Panser Anoa 2 buatan Pindad Jumat pagi, 13 Februari 2015 tiba di Makodam VI/Mlw Balikpapan untuk menambah dan memperkuat satuan tempur jajaran Kodam VI/Mlw. Panser ini rencananya akan dialokasikan ke Batalyon 611/Awl Samarinda.  
Dua buah Panser Anoa 2  bermesin Renault  7200 CC. dengan bahan bakar solar ini dapat mengangkut satu Regu Personil  dengan kecepatan maksimal   rata-rata 90 kilometer perjam adalah bantuan dari Mabes TNI AD.

Panser Anoa 2 tersebut sempat dijalankan oleh Pangdam VI/Mlw Mayjen TNI Benny Indra Pujihastono S.I.P. sendiri dan berputar di depan Makodam VI/Mlw Balikpapan usai Pangdam  melaksanakan Senam Aerobik bersama dengan para Prajurit dan PNS di depan Makodam VI/Mlw.

Dalam mengemudikan Panser Anoa tersebut, Pangdam VI/Mlw Mayjen TNI Benny Indra Pujihastono terlihat sangat menguasai dan tidak ragu-ragu menjalankannya disaksikan oleh  para Perwira Staf Ahli, para Asisten dan Kabalak Kodam VI/Mlw serta sejumlah prajurit yang telah mengikuti Senam Aerobik. “ Saya berani menjalankan Panser Anoa ini karena dulu saya  pernah kursus“, kata Mayjen TNI Benny Indra Pujihastono.

Usai mencoba mengemudikan Panser Anoa tersebut, Pangdam VI/Mlw Mayjen TNI Benny Indrta Pujihastono, Kasdam VI/Mlw Brigjen TNI Lodewyk Pusung bersama para Asisten dan Kabalak Kodam VI/Mlw melaksanakan latihan menembak Pistol di lapangan tembak pistol samping Makodam VI/Mlw.

Latihan menembak pistol ini berlangsung seru karena ternyata Pangdam, Kasdam, Asops Kasdam VI/Mlw serta sejumlah pejabat Makodam VI/Mlw bersaing ketat dalam mengumpulkan nilai terbanyak. 

(Penerangan Kodam VI/Mlw)

Sabtu, 14 Februari 2015

Menhan: Batalyon Raider harus profesional

Menhan: Batalyon Raider harus profesional
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. ( ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Batalyon Raider harus profesional dan terdepan karena merupakan salah satu bagian pasukan khusus TNI yang mempunyai tugas berat
Palembang (ANTARA News) - Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu meminta pasukan Batalyon Raider harus profesional dan terdepan dalam menjalan tugas untuk kepentingan bangsa dan negara.
"Batalyon Raider harus profesional dan terdepan karena merupakan salah satu bagian pasukan khusus TNI yang mempunyai tugas berat," kata Menteri Pertahanan saat berkunjung ke markas Batalyon Raider Gandus Palembang, Jumat.
Dia mengatakan, untuk mencapai itu pasukan Raider harus terlatih dengan selalu berlatih secara rutin.
"Latihanlah secara bertahap dan berkelanjutan agar pasukan Raider semakin profesional," kata mantan Danrem Garuda Dempo itu. Selain itu Menhan juga berpesan agar prajurit Raider dalam melaksanakan tugas harus menjaga nama baik TNI. Pegang teguh motto Raider dan tunjukkan yang terbaik dan harus bangga sebagai Pasukan Raider, ujar Ryamizard, mantan Kasdam II/Sriwijaya itu.
Sehubungan itu prajurit Raider harus terus berlatih untuk dapat mencapai tugas yang nantinya semakin profesional, kata pendiri Raider itu. Menhan dalam kunjungan itu didampingi Pangdam II/Sriwijaya Mayor Jenderal TNI Iskandar M Sahil dan diterima Danyon 200/Raider Letkol Inf Yudha Sandi Purwana dan seluruh Prajurit Raider beserta jajarannya. Dalam kesempatan itu juga Menhan mendapat kehormatan dengan pengalungan bunga dan dikukuhkan sebagai warga kehormatan Raider yang ditandai dengan penyematan baret dan pemakaian jaket Raider oleh Danyon. 
 

TNI Miliki Kepentingan Tinggi Terhadap Swasembada Pangan

TNI Miliki Kepentingan Tinggi Terhadap Swasembada Pangan
TNI memiliki kepentingan yang sangat tinggi terhadap swasembada pangan, hal ini disampaikan Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko pada saat menjadi salah satu panelis dalam Jakarta Food Security Summit-3 di ruang Cendrawasih Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat, Jumat (13/2/2015). Jakarta Food Security Summit-3 mengambil tema  "Kepastian Tata Ruang  dan Ketersediaan lahan untuk Ketahanan Pangan",
Panglima TNI mengatakan bahwa, TNI  memiliki doktrin sistem pertahanan rakyat semesta. Saat negara  ini diserang oleh negara lain maka seluruh sumber daya yang  dimiliki kita mobilisasi untuk kepentingan perang dan sistem pertahanan yang disusun dengan sistem kompartemenisasi. Artinya apabila ada salah satu pulau diserang oleh lawan maka Pangdam setempat harus mempertahankan dirinya secara mandiri dan seluruh logistik juga harus dapat didukung secara mandiri.
Lebih lanjut Panglima TNI menyampaikan bahwa, saat ini banyak orang di daerah perkotaan yang menuntut adanya swasembada pangan, tetapi apabila dibandingkan dengan masyarakat di pedesaan penduduknya tenang-tenang saja tidak meributkan mengenai swasembada pangan. Hal tersebut dikarenakan di desa bibit, pupuk, air dan lahan sulit. "Itu persoalan yang dihadapi masyarakat di daerah. Kita sekarang berbicara swasembada pangan tetapi disisi lain kita juga menikmati import secara tenang-tenang saja," kata Panglima TNI.
Pada saat kunjungan kerja ke daerah-daerah, menurut Panglima TNI sering melihat kondisi petani di pedesaan saat ini seperti museum, dimana cangkul yang dimiliki sudah tua dan orang mengerjakannya juga sudah tua. Di sawah tidak terlihat adanya anak muda yang bekerja sebagai petani. Melihat kondisi di persawahan seperti itu yang membuat anak-anak muda tidak mau menjadi petani, apabila sepanjang stigma petani masih tetap seperti itu.
"Untuk itu, saya mengumpulkan anak-anak muda dari berbagai daerah, saya kumpulkan mahasiswa di beberapa kampus kemudian saya datangkan juga para praktisi yang sukses dan berhasil menanam padi 12 ton perhektar dan jagung  14 ton perhektar.  Saya jembatani petani yang sudah tidak memiliki lahan dan modal untuk bertani sehingga dapat berkomunikasi dengan para mahasiswa yang penuh idealisme", tutur Panglima TNI.
Dalam setiap kesempatan kunjungan di berbagai daerah, Panglima TNI selalu memberikan pengarahan kepada anggota TNI untuk lebih mengoptimalkan lahan yang dimiliki TNI  baik di Batalyon-Batalyon maupun satuan lain agar ditanami sayuran atau dibuat kolam ikan. Sehingga para anggota dapat memenuhi kehidupan sehari-hari dan swasembada pangan sendiri. "Remunerasi  yang diterima prajurit TNI sedikit, maka perlu memaksimalkan lahan yang ada di satuan tersebut, sehingga tidak perlu membeli kebutuhan untuk masak sehari-hari, "kata Jenderal TNI Moeldoko.
Seminar Jakarta Food Security Summit-3 tersebut dipandu oleh Rudyan Kopot dari  Kadin Bagian Kehutanan dan menghadirkan beberapa panelis lainnya, antara lain; Basoeki Karyaatmadja Staf Ahli Menteri Kehutanan, Adang SAF Ahmad Sekretaris Dewan Sumber Daya Air, Sofyan Wanandi Ketua TIM Ahli Wapres dan Agus Purnomo Staf Ahli Presiden Bidang Perubahan Iklim.

TNI. 

Tank Scorpion Perkuat Kodam XII Tanjungpura

 
scorpion-tni-ad
Tank Scorpion TNI AD

Satu Batalyon Tank Scorpion tahun ini akan memperkuat Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) Kodam XII Tanjungpura. Konsekuensinya tahun ini pembangunan Markas Komando (Mako) Yon Kaveleri di Peniti Kabupaten Pontianak dilanjutkan.
Pangdam XII Tanjungpura Mayor Jenderal TNI Toto Rinanto menjelaskan, Tank Scoorpion yang akan memperkuat Alutsista Yonkav Kodam XII TPR ini merupakan Tank Scorpion yang selama ini memperkuat Yonkav Kostrad.
Tank Leopard (kiri) dan Tank Scorpion (kanan)
Tank Leopard (kiri) dan Tank Scorpion (kanan)

“Pengalihan Tank Scorpion Yonkav Kostrad ke Yonkav Kodam XII Tanjungpura, karena disesuaikan dengan struktur tanah dan jalan di Kalbar yang lebih cocok dengan Tank ringan Scorpion dengan berat 8 ton, tidak seperti Main Battle Tank (MBT) atau Tank Tempur Utama Leopard yang merupakan Tank kelas berat.”Tegas Pangdam XII/ TPR Mayjend TNI Toto Rinanto, Kamis (12/02/2015).
Meskipun tank Scorpion tergolong tank ringan dan laras meriamnya hanya berdiamater 76mm sedangkan laras meriam Leopard mencapai 120mm, namun tetap sangat dibutuhkan untuk memperkuat wilayah Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Sarawak Malaysia.(RRI.co.id)

Akhirnya, Proyek Pesawat Jet KFX Korea Selatan-Indonesia Berjalan (Lagi)

image109-e1415207611752
Impian Indonesia memiliki pesawat jet anyar akhirnya berada di jalur yang tepat. Setelah penundaan berkali-kali bahkan sampai kegagalan tender pengadaan oleh Korea Selatan, mitra utama pemerintah yang juga menjadi produsen. Karena hanya satu perusahaan yang mengajukan tawaran untuk mengembangkan pesawat KFX, di mana Indonesia memiliki 20 persen saham di dalamnya. Akhirnya Tender pengembangan pesawat dibuka kembali, membuka jalan agar pesawat idaman baik Korsel maupun Indonesia ini menjadi kenyataan.
Dikutip dari Janes.com (10/2), sebuah dokumen tender di DAPA (Defense Acquisition Program Administration), Program Pengadaan Alutista Korsel, mengatakan pihak yang berkepentingan harus menyerahkan tender mereka melalui portal penawaran elektronik sebelum 24 Februari. DAPA menghargai kontrak KFX di angka KRW 8.669 miliar atau sekitar Rp 7,9 triliun.
Kabar terakhir menyebutkan, Lockheed Martin (AS) dan Airbus Defence and Space (Eropa) akhirnya masuk ke dalam perhitungan tender. Paling tidak masuknya dua nama besar itu memberikan Indonesia sedikit nafas lega di tengah skeptisisme akan proyek pesawat jet stealth ini.
Korea Selatan diperkirakan akan memesan 120 contohKFX, dan Indonesia 80 unit. Bila proyek ini lolos, Indonesia akan memiliki state-of-the-art fighter jetuntuk memperkuat pertahanan dalam negeri. Korsel, sebagai mitra utama sudah tidak perlu diragukan lagi. Mereka punya road-map yang jelas dalam proyek pengembangan jet tempur. Mereka sudah memulainya dengan KT-1, lalu T-50, TA-50 dan setelah itu: FA-50. Lebih dari itu mereka juga punya belasan veteran NASA dan USAF sebagai penasihat proyek KFX.
Purwarupa KFX
Purwarupa KFX
ifx_1_by_n00bmodders-d5to4e6
Jika proyek ini berjalan mulus seperti rencana, TNI AU akan mendapat pesawat jet tempur dual engine dengan kemampuan stealth lebih baik ketimbang Dassault Rafale atau Eurofighter Typhoon, namun masih belum bisa menyamai Lockheed Martin F-35 Lightning II. Secara desain, KFX mirip dengan F-22 Raptor dengan sayap tegak ganda dan rancangan kokpit serta bagian depan fuselage serupa. Untuk mesinnya belum ada kepastian apakah KFX akan menggunakan GE F414 (mesin Super Hornet dan Gripen E/F) atau Eurojet EJ200 (mesin EF Typhoon).
Versi Indonesia dari KFX akan dinamakan IFX, singkatan dari Indonesian Fighter Experimental. Kabarnya versi IFX memiliki beberapa perbedaan, disesuaikan dengan kondisi lapangan yang ada, walau rancang bangun fisiknya telah final. Namun belum ada kejelasan perbedaan KFX dan IFX. Bila semua berjalan mulus, pesawat mulai akan dioperasikan pada pertengahan tahun 2020. Spesifikasi pesawat IFX/KFX antara lain memiliki panjang 51,3 feet, panjang sayap 35,2 feet, tinggi 14.9 feet, berat maksimum untuk take off (MTOW) 53.200 lb, dengan kecepatan maksimum hingga 1.9 Mach. (Deni Adi)


Jumat, 13 Februari 2015

Beraninya TNI AU ancam tembak jatuh pesawat pembom Australia

ilustrasi (ist)
Tanggal 4 September 1999, menjadi peristiwa bersejarah bagi rakyat Timor Leste. Tepat pada hari itu pula, negeri yang terletak di Pulau Timor ini melepaskan diri dari Indonesia. Di mana dalam hasil jajak pendapat memperlihatkan 78,5 persen warganya ingin berpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Namun, tidak semua orang mau menerima hasil itu, kelompok pro-integrasi malah menyerang kelompok anti-integrasi hingga membuat Dili, ibu kota Timor Leste, mencekam. Kekacauan yang terjadi di kota tersebut membuat Indonesia mendapat kecaman, bahkan Australia mengambil tindakan dengan mengusulkan pembentukan The International Force of East Timor (Interfet).
Pasukan ini terpaksa diterima Indonesia setelah serangkaian tekanan dan kritik keras dari Amerika Serikat, Australia, Inggris, Prancis, Jepang hingga PBB terhadap upaya pengamanan. Padahal, dalam perjanjian New York, Indonesia berjanji memberikan pengamanan selama berlangsungnya jajak pendapat.
Kehadiran Interfet justru membuat publik Tanah Air merasa gerah, rakyat merasa Indonesia sedang ditelanjangi habis-habisan oleh pasukan asing. Meski dikritik sana sini, pemerintah hanya diam. Namun, TNI saat itu masih bertindak tegas terhadap pasukan asing, terutama Australia yang ingin membawa pesawat pembomnya ke Timor Leste.
Ketika media sedang gencar memberitakan kedatangan pasukan Interfet, AU Australia meminta izin untuk membawa masuk pesawat pembom strategis jenis F-111C ke Timor Leste. Mendengar itu, Panglima Komando Operasi TNI-AU 2, Marsekal Madya Ian Santoso Perdanakusuma naik pitam, dia tidak memberikan izin pesawat tersebut untuk masuk.
“If you cross our border, I’ll shoot you down,” ancam Ian dengan tegas dan singkat, seperti disandur dalam buku ‘Mengawali Integrasi Mengusung Reformasi: Pengabdian Alumni Akabri Pertama 1970′, Cetakan Pertama, September 2012.
Ian yakin Australia tak akan berani menyeberangkan pesawat tersebut hingga ke Timor Leste. Tak mau disebut gertak sambal, dia pun memerintahkan 12 jet tempur, yakni A-4 Skyhawk, Hawk 200 serta F-16 Fighting Falcon lengkap dengan rudal, radar deteksi disiagakan. Bahkan, dia juga mempersiapkan Lanud di Makassar, Kupang, Surabaya, Malang dan Madiun sebagai tempat pendaratan alternatif.
Ian juga mempersiapkan pesawat Hercules C-130 di Lanud Abdurrahman Saleh di Malang agar bisa mendukung penerbangan A-4 Skyhawk. Selama mempersiapkan mesin perang tersebut, Ian juga telah memperhitungkan untung ruginya jika memang terjadi pertempuran di udara.
“Dua kali gempur. Saya yakin tidak akan ada yang ketiga, karena pasti sudah sama-sama habis,” ucap putra pahlawan nasional Halim Perdanakusuma ini.
Mendapat ancaman itu, nyali Australia ciut juga. Mereka membatalkan pengiriman pesawat-pesawat tersebut ke Timor Leste. Meski begitu, TNI beberapa kali mendapati penerbangan gelap (black flight) di dekat wilayah udara Indonesia, diduga dilakukan militer Australia. (Merdeka)

Batalyon infantri latihan pengamanan perbatasan Indonesia-Timor Leste

Batalyon infantri latihan pengamanan perbatasan Indonesia-Timor Leste
ilustrasi - pelepasan pasukan pengamanan perbatasan (ANTARA FOTO/Basri Marzuki)
 
Prajurit Batalyon 725 Woroagi Korem 143 Haluoleo Provinsi Sulawesi Tenggara menjalani latihan sebagai persiapan menyambut penugasan pengamanan di wilayah perbatasan negara Indonesia dan Timor Leste.

Komandan Batalyon 725 Woroagi Mayor (Inf) Nurman Syahreda di Kendari, Jumat, mengatakan prajurit yang dipersiapkan untuk pengamanan perbatasan sebanyak 350 orang.

"Pergeseran prajurit untuk mengamankan wilayah perbatasan dua negara (Indonesia dan Timor Leste) yang dulunya bersaudara berdasarkan perintah Mabes TNI Angkatan Darat," kata Nurman.

Setengah prajurit Batalyon Woroagi yang menjalani latihan maksimal tersebut akan dikirim ke perbatasan Indonesia-Timor Leste pada Agustus 2015.

"Prajurit Batalyon Woroagi sebanyak 650 orang. Artinya separuh dari prajurit yang ada akan bertugas di luar daerah namun tidak masalah dengan keamanan dalam wilayah Sultra," katanya.

Prajurit Batalyon 725 Woroagi sebanyak 650 orang dibagi dalam tiga kompi, yakni kompi A di Boro Boro, Kabupaten Konawe Selatan, kompi B Pomalaa, Kabupaten Kolaka dan kompi C Kaisabu, Kabupaten Buton.

Latihan fisik dan senjata bagi prajurit TNI Angkatan Darat rutin digelar namun menghadapi penugasan pengamanan wilayah antarnegara makin ditingkatkan.

"Ya, prajurit militer harus siap fisik dan mental untuk berlatih dan ditugaskan menjaga kedaulatan negara atau mengemban tugas perdamaian dari Perserikatan Bangsa Bangsa," kata Nurman.