Sabtu, 27 Juni 2015

Indonesia Harus Tegas Menghadapi Malaysia

blok ambalat dan sebatik

Hubungan Indonesia dengan Malaysia terkait permasalahan perbatasan selalu naik turun, dimana disatu sisi Malaysia menjadi pihak yang memicu masalah, memancing konflik dengan melakukan pelanggaran batas wilayah (laut dan udara) dengan alutsista militer. Pada era pemerintahan Presiden Soekarno yang mencanangkan Operasi Dwikora (1962), beberapa konflik bersenjata terjadi di pulau Kalimantan antara Indonesia dengan Malaysia. Saat itu dengan dukungan pasukan Australia, Malaysia yang dilindungi dalam Pakta Pertahanan FPDA (Five Power Defence Arrangements) merasa tegar dan tidak takut menghadapi Indonesia.

Apakah dengan terjadinya beberapa kasus pelanggaran batas wilayah, Malaysia bertujuan memancing timbulnya konflik? Ataukah mereka hanya memancing dan menjebak agar kedua negara kembali mencari penyelesaian melalui Mahkamah Internasional. Mereka punya pengalaman menang dalam kasus Sipadan Ligitan. Inilah yang perlu kita perhatikan bersama. Penulis mengajak pembaca, mari kita cermati apa potensi konflik antara Malaysia-Indonesia dan bagaimana seharusnya kita bersikap. Semoga tulisan ini bermanfaat menambah cakrawala pandang kita bersama.

Holsti, K.J. (Kalevi Jaakko), seorang pemikir hubungan internasional dalam bukunya, Internasional Politics ; Frame for Analysis, mengklasifikasikan sumber-sumber konflik antar negara ke dalam beberapa bagian. Di bukunya dia menyebutkan tujuh klasifikasi konflik internasional, dimana tiga diantaranya adalah; 1) konflik wilayah terbatas, 2) konflik yang disebabkan suatu negara berusaha mempertahankan hak teritorial atau hak istimewa untuk melindungi kepentingan keamanan dan kelangsungan hidup negara. 3) konflik kehormatan nasional (prestise). Dalam beberapa waktu terakhir, Panglima TNI Jenderal Moeldoko menyatakan terkait pelanggaran batas oleh pesawat dan kapal perang Malaysia (15/6/2015) akan melayangkan protes kepada Malaysia yang telah melanggar perbatasan. Apalagi, kedua negara telah sepakat menjadikan Ambalat sebagai wilayah dengan status quo.

su_30mk2

SU-30MK2 TNI AU Disiagakan di Blok Ambalat Dengan Senjata Penuh


Satuan TNI AU (Lanud Tarakan) menyatakan, hingga saat ini sudah sembilan kali pesawat perang milik Malaysia tersebut masuk ke wilayah udara Indonesia tanpa izin. Dan Lanud Tarakan Letkol Penerbang Tiopan Hutapea mengatakan adanya pesawat asing yang memasuki wilayah udara Ambalat dan terpantau Satuan Radar 225 Kosek II, Kohanudnas di Tarakan, Kalimantan Utara. Dikatakan oleh Dansat Radar Mayor Lek M Suarna, pelanggaran wilayah di perbatasan memang seringkali dilakukan oleh pesawat tempur Malaysia.

Menurut Laksamana Tedjo Pudjiatno, saat menjabat sebagai Kasal pada tahun 2009, pelanggaran perbatasan laut juga sering dilakukan Malaysia. TNI AL telah menyiagakan enam kapal perangnya untuk menjaga kawasan blok Ambalat. Menurutnya, memang belum ada batas yang jelas antara RI-Malaysia di Ambalat dan masing-masing pihak memiliki landasan hukum yang kuat. "Malaysia bepegang pada peta 1979 yang memasukkan Ambalat sebagai bagian wilayahnya, sedangkan Indonesia juga berpegang pada ketentuan internasional. Jadi, semua punya landasan hukum," katanya. Seperti diketahui batas negara Indonesia dan beberapa negara Asean paling banyak memang bersinggungan dengan Malaysia. Selain Malaysia, perbatasan lainnya dengan Vietnam, Thailand, Timor Leste, dan Filipina. Batas wilayah perbatasan dengan Malaysia tercatat lima segmen perbatasan, yakni Selat Malaka, Selat Malaka Selatan, Singapura Timur, Laut Cina Selatan di sekitar Tanjung Datu yang berbatasan dengan Serawak, dan Laut Sulawesi.

Pesawat tempur Malaysia sejak awal 2015 ini telah melakukan provokasi berupa pelanggaran udara di blok Ambalat. Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu Kamis, (4/6/2015) saat berkunjung ke daerah perbatasan di Pulau Sebatik, mengatakan membangun serambi perbatasan adalah salah satu upaya berupa memperkuat penjagaan demi kedaulatan bangsa di gerbang negara. Hal ini merupakan sebuah kewajiban yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Menanggapi pelanggaran wilayah, Menhan menyatakan, “Kalau masih terobos baru kami serang. Ini masih lewat saja. Saya sudah pantau ke sana. Kami tahu bagaimana jaga rumah,” tegasnya. Ryamizard mengatakan manuver Malaysia di Ambalat merupakan masalah kecil. Sehingga publik tak perlu risau, karena pemerintah sudah mengambil langkah waspada terhadap wilayah udara yang kerap disusupi Malaysia.

Menurutnya, untuk mencegah terulangnya pelanggaran batas wilayah, TNI AU dan TNI AL kini menggelar Operasi Perisai Sakti di kawasan Ambalat dengan melibatkan penggelaran alutsista lima pesawat tempur TNI AU terdiri dari 2 Sukhoi SU-27/30, 3 F-16 dan 3 KRI (Kapal Perang TNI AL). Pulau Sebatik merupakan pulau dimana terdapat perbatasan Indonesia dan Malaysia. Secara administratif, bagian Selatan Sebatik dimiliki Indonesia, bagian Utara milik Malaysia. Mengapa Malaysia bersikeras mencoba menguasai Ambalat? Blok Laut Ambalat memiliki luas wilayah sekitar 15.235 KM persegi dan terletak di Laut Sulawesi atau Selat Makassar, dekat perbatasan antara Sabah, Malaysia, dan Kalimantan Timur. Diketahui pada blok ini terdapat kekayaan tambang laut, utamanya minyak, meski tidak semua wilayah di blok ini kaya akan minyak mentah.

Sejak dekade 1960-an, Indonesia dan Malaysia kerap bersitegang mengenai Blok Ambalat. Puncak perseteruan terjadi pada Tahun 2002 ketika Mahkamah Internasional memenangkan Malaysia dalam sengketa kepemilikan Pulau Sipadan dan Ligitan yang terletak di Blok Ambalat. Direktur Politik, Keamanan dan Kewilayahan Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Kemlu Oktaviano Alimudin, di Jakarta, mengatakan Kemlu telah mengirim nota protes ke Malaysia terkait 7 pelanggaran wilayah yang terjadi pada bulan Januari 2015. Dua nota protes yang dikirimkan oleh pemerintah Indonesia kepada pemerintah Malaysia itu merupakan nota protes yang telah ditandatangani oleh Panglima TNI dan dikirimkan oleh Kemlu RI.

Menurut Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, penyebab pelanggaran batas wilayah yang dilakukan oleh negara tetangga itu karena batas wilayah antara Indonesia dan Malaysia masih cenderung abu-abu. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Malaysia telah sepakat untuk segera melakukan perundingan untuk membahas masalah perbatasan, baik wilayah darat, laut, maupun udara. Nota protes yang dikirimkan pemerintah Indonesia ternyata tidak dijawab oleh Malaysia. “Sudah ada 7 nota protes pelanggaran wilayah, semuanya udara, sejak januari 2015. Tapi mereka belum merespon,” kata Octavino Alimudin, dalam jumpa pers di kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (25/6).

Malaysia Harusnya Sadar

Hubungan Indonesia dengan Malaysia beberapa kali terganggu. Sikap mereka sering menyebabkan rasa jengkel rakyat Indonesia. Sebagai contoh misalnya mereka ada yang menjuluki warga kita di Malaysia 'Indon.' Julukan yang merendahkan, terlebih dalam beberapa kasus TKI, yang juga direndahkan. Dengan tanpa peduli dan rasa malu mereka mengakui budaya Indonesia, juga beberapa hasil seni. Malaysia merasa sebagai negara Islam yang kental, tetapi tetap saja masuk dalam persatuan Negara-Negara Persemakmuran Inggris (Commonwealth of Nations), bergabung pada 16 September 1963, Singapura (15 Oktober 1965). Kelompok ini adalah suatu persatuan yang secara sukarela melibatkan negara-negara berdaulat yang didirikan atau pernah dijajah oleh pihak Britania Raya (Inggris) dalam sebuah persatuan. Karena itu Malaysia masih dilindungi dalam Pakta Pertahanan FPDA. Apabila Malaysia dan Singapura diserang, maka Inggris, Australia dan Selandia Baru akan membela dengan kekuatan militer, itulah inti Pakta FPDA. Oleh karena itu tidak heran apabila Malaysia selalu tampil gagah berani menantang Indonesia pada kasus-kasus perbatasan dan kasus-kasus lainnya. Secara politis dan diplomatis dia akan didukung negara-negara persemakmuran lainnya. Hidung Malaysia menjadi lebih tinggi (nose up) setelah memenangkan kasus Sipadan dan Ligitan, nah kini mereka mencoba memainkan kartu Ambalat. Mengapa Indonesia bisa dikalahkan sebelumnya? Jawabannya satu, para pejabat Indonesia kurang terkordinasi, masing-masing tidak yakin dan berjalan sendiri-sendiri. Dapat dikatakan kurang siap menghadapi mahkamah internasional.
Malaysia_MH370_2859611k

Kasus Malaysia Airlines MH-370 (malaysia.chronicle.com)

Mengapa penulis menyatakan, "Malaysia harusnya sadar." Rupanya Malaysia selama ini tidak membaca adanya ancaman perang proksi (Proxy War) dimana mereka telah diserang dua kali. Kasus Malaysia Airlines MH-370 dan MH-17 bukankah menjadi sebuah pelajaran sebuah ancaman serius dan yang tidak mampu mereka baca? Penulis berani mengatakan bahwa ada sebuah kekuatan clandestine yang sengaja menyerang Malaysia, dengan target khusus Malaysia Airlines System (MAS). Kini MAS menuju ke kebangkrutan, dimana citranya hancur, penumpang takut naik MAS karena khawatir tidak akan sampai ketujuan. (Baca : Malaysia Airlines Korban Serangan “Clandestine Proxy War”, http://ramalanintelijen.net/?p=9675). Lantas siapa sebenarnya musuh Malaysia itu? Dalam perang proxy, apabila dua negara berperang dan tidak ingin terlibat langsung, maka akan digunakan pihak ketiga, bisa negara lain, LSM, dan bahkan kelompok teroris. Dalam kasus hilangnya pesawat Boeing 777, MH370, penulis banyak menelitinya, kesimpulannya, pelaku adalah kemungkinan besar Captain Pilotnya sendiri.

Ini bisa disimpulkan sebagai aksi teror yang hingga kini tidak jelas motifnya. Ini aksi teror tataran tertinggi, pesawat dilenyapkan sehingga motif tidak terbaca. Efek psikologisnya sangat besar, diberitakan media se dunia dalam beberapa bulan tanpa kejelasan dan bukti, pesawat lenyap begitu saja. Inti serangan adalah ketidak jelasan, dimana manusia sangat takut dan tidak nyaman menghadapi sesuatu yang tidak jelas. Mestinya Malaysia sadar, bahwa itu adalah serangan awal, penulis pernah membuat artikel, kemungkinan adanya serangan kedua? Ternyata terjadi pada pesawat yang sama Boeing777 (MH-17), yang hancur ditembak peluru kendali di Ukraina yang sedang konflik. Lantas sispa penembaknya? Hingga kinipun tidak jelas, para penumpang hanya mati sia-sia. Apakah penembak pemberontak atau justru Ukraina?

Menurut teori perang modern, pemberontak ataupun pemerintah Ukraina bisa saja menjadi pelaku dalam proxy war yang disebut unstate actor. Di Ukraina ada dua kekuatan besar yang bermain yaitu Rusia dan AS. Pemerintah AS menuduh pelakunya adalah pemberontak yang didukung Rusia, sementara Rusia menyanggahnya. Kasus hingga kini tidak dapat dibuktikan, dan Malaysia tetap tidak berdaya. Efak psikologis kembali menghantam MAS berupa kehancuran citra aman. Apakah ini disadari oleh Malaysia? Nah, apabila ditelusuri lebih jauh, nampaknya ada konflik terbuka antara Malaysia dengan Amerika Serikat. Terkait hilangnya MH-370, Mantan PM Malaysia Mahathir menyatakan pada hari Senin (19/5/2014) seperti dikutip laman IB Times, kecelakaan pesawat itu janggal dan menyatakan bahwa badan intelijen Amerika Serikat CIA (Central Intelligence Agency) telah menyembunyikan informasi penting terkait hilangnya MH370. (Klik link ; http://ramalanintelijen.net/?p=8404

Mahathir juga menyatakan bahwa pencarian pesawat itu di pantai Barat Australia (Samudera Hindia) adalah pekerjaan sia-sia, membuang uang dan waktu saja. Mahathir menegaskan kemungkinan pesawat itu berada disuatu tempat tanpa inisial Malaysia. Dikatakannya, "The plane is somewhere, maybe without MAS (Malaysia Airlines) markings,” katanya. “It is a waste of time and money to look for debris or oil slick or to listen for pings from the black box.” Menurut Mahathir, seseorang atau badan pemerintah AS menyembunyikan sesuatu dalam kasus ini dan rasanya tidak adil apabila Malaysia yang harus disalahkan, begitu dia menuliskan dalam blognya. Mahathir juga meminta agar CIA membagi informasi kepada Malaysia. Mahathir juga menyatakan bahwa media tanpa alasan yang jelas telah membatasi pemberitaan tentang Boeing dan CIA. “For some reason, the media will not print anything that involves Boeing or the CIA,” tegasnya.

Pernyataan mantan PM Malaysia tersebut tidak/belum mendapat tanggapan baik dari CIA, Boeing maupun pemerintah AS. Pernyataan resmi pernah keluar dari Kepala CIA John Brennan pada tanggal 12 Maret 2014, bahwa teori hilangnya pesawat karena pilot MH370 melakukan aksi bunuh diri atau kemungkinan adanya aksi teroris tidak dapat diabaikan. (Untuk lengkapnya baca atikel penulis "Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad Menyatakan CIA Menutupi Masalah MH370", http://ramalanintelijen.net/?p=8404). Seperti diketahui, selama memerintah pada masa lalu, Mahathir dikenal sering mengkritisi negara-negara Barat. Bahkan mantan PM Malaysia itu mengeluarkan pernyataan sensitif, mengatakan bahwa serangan ke WTC adalah sebuah rekayasa agar ada alasan AS untuk melakukan serangan terhadap dunia muslim. Mahathir menegaskan, “But whether real or staged, the 9/11 attacks have served the United States and Western countries well. They have an excuse to mount attacks on the Muslim world.”

Selanjutnya Mahathir juga menyerang Presiden Barack Obama, saat berpidato pada menyampaikan pidatonya di Konferensi Umum untuk Dukungan Al-Quds untuk membantu Palestina, di Kuala Lumpur pada Rabu (20/1/2010). Dia menyatakan ,"It is quite easy to promise during election time but you know there are forces in the United States which prevent the President from doing some things. One of the forces is the Jewish lobby, AIPAC.” Dari fakta diatas, apakah Malaysia tidak dapat membaca bahwa mereka dengan gagah berani menyentuh hal prinsip yang paling membuat alergi AS, yaitu soal ancaman terorisme. Kasus runtuhnya WTC pada peristiwa 911 telah merubah politik luar negeri AS dalam mengejar teroris. Bagaimana AS tidak marah dengan perkataan Malaysia bahwa runtuhnya WTC serta meninggalnya 3.000 lebih pada peristiwa 911 itu sebuah rekayasa.

Disinilah mestinya Malaysia harusnya sadar, keberanian dan kenekatannya menentang AS akan berakibat luas, nerupa tekanan besar dan terbukti mereka menjadi target penyadapan oleh NSA. Sementara Singapura yang sama-sama negara yang dilindungi FPDA menjadi agen penyadap jaringan serat optik yang dikendalikan oleh NSA. Dengan demikian Malaysia berada pada posisi yang dimonitor oleh pemerintah AS. Sebagai negara yang besar dan kuat (super power) AS pernah marah dan dengan tegas mengeluarkan Selandia Baru dari Pakta ANZUS karena persoalan kebijakan kapal bertenaga nuklir yang dilarang berlabuh di pelabuhan Selandia Baru.. Jelas sudah kini dan juga dimasa mendatang, AS tidak suka dengan Malaysia, terlebih kini kepentingan militer AS dalam perebutan wilayah Laut China Selatan dengan Tiongkok, menjadi fokus Presiden Obama dengan kebijakan rebalancing. Dalam pengalaman operasi di Irak, AS pernah mengalami kesulitan memperoleh pangkalan depan untuk operasi udara yang ditolak oleh Pakistan. Demikian juga AS pernah ditolak oleh Turki dalam operasi di Irak dan Syria. Kini AS menurut penulis sangat tidak senang dengan Malaysia yang tidak bersahabat. Walau Malaysia masuk dalam FPDA, AS bukan bagian pakta tersebut, hanya bergabung dengan Inggris di NATO serta Australia di ANZUS.

Suatu saat Malaysia mungkin akan ditinggalkan oleh para pelindungnya demi sebuah kepentingan yang jauh lebih besar. Oleh karena itu, sebaiknya memang Malaysia harus menilai ulang dan memperbaiki hubungan dengan negara-negara Asean lainnya, terutama Indonesia yang luas wilayah serta jumlah penduduknya 40 persen dari gabungan negara-negara Asean. Dalam hal ini pemerintah Indonesia tidak perlu segan-segan apabila berurusan dengan Malaysia yang sering tidak jujur dan seenaknya. Jangan kita terlalu jauh berurusan/bekerjasama dengan Malaysia, khususnya dalam melakukan kerjasama militer. Penulis pernah menemukan adanya ketidak jujuran dalam latihan militer. (Baca : Pengalaman Berlatih, Kostrad Dan Ranger Malaysia, http://ramalanintelijen.net/?p=1544). Jangan justru kita memberikan pekerjaan terkait militer kepada perusahaan Malaysia. Mereka bisa menyusupkan agen intelijennya melalui proyek militer. Yang kurang banyak diketahui, Malaysia sudah cukup lama menyiapkan dua divisi pasukannya termasuk lapis baja di wilayah Malaysia Kalimantan menhadap ke wilayah Indonesia. Dengan kata lain, Indonesia harus cerdik dan tegas menghadapi diplomasi memancing konflik Malaysia yang sering menggunakan kekuatan militernya untuk memrovokasi berupa pelanggaran wilayah. Jangan terpancing seperti dahulu, terlalu cepat membawa kasus Blok Ambalat atau Pulau Sebatik ke meja perundingan Mahkamah Internasional. Mari dukung Menhan dan TNI, seperti ditegaskan Menhan, kalau militernya menerobos kita serang, Itu namanya pemimpin besar dan berani Indonesia. Kita bangga dengan Menhan Ryamizar yang berani dan tidak segan dengan negeri jiran ini. Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Analis Intelijen www.ramalanintelijen.net

Jumat, 26 Juni 2015

Kisah TNI AU Mau Bom Pangkalan Jet Tempur Inggris di Singapura

B-26 Invader. ©repro buku Baret Jingga
B-26 Invader. ©repro buku Baret Jingga
Tahun 1965, Inggris membangun pangkalan utama di Singapura. Pangkalan Udara Militer Tengah Air Force Base menjadi markas jet tempur Inggris.
Saat itu hubungan Indonesia dan Malaysia sedang memburuk. Malaysia meminta bantuan Inggris, Australia dan Selandia Baru. Bantuan langsung datang. Pesawat jet, kapal perang, hingga pasukan elite mereka disiagakan di perbatasan dengan Indonesia.
TNI AU melihat Pangkalan Udara Inggris di Singapura sebagai ancaman. Komando Mandala Siaga (Kolaga) merancang rencana untuk mengebom pangkalan tersebut.
Panglima Komando Operasi Komodor Leo Watimena memimpin briefing di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.
“Pangkalan Udara Militer Tengah Air Force Base dijaga dengan radar dan misil anti serangan udara. Bukan tugas mudah untuk menyerang dan menghancurkannya,” kata Komodor Leo Watimena.
Dia melihat para komandan skadron di depannya. “Siapa di antara kalian yang siap berjibaku menghancurkan tengah ABF?” tanya Leo.
“Saya siap Panglima!” teriak seorang perwira senior.
Tantangan itu dijawab dengan gagah oleh Komandan Skadron I Pembom Taktis Kolonel (Oedara) Pedet Soedarman. Dia merasa perlu mengobarkan semangat anak buahnya dalam konfrontasi melawan Malaysia dan sekutunya.
Pedet Soedarman pilot berpengalaman. Dia kenyang pengalaman menerbangkan pesawat jenis B-25 Mitchel dan B-26 Invander dalam menumpas berbagai penumpasan pemberontakan yang terjadi di tanah air.
Maka saat merencanakan mengebom Tengah ABF, 2 pesawat itu juga yang akan digunakannya. Demikian dikisahkan Pedet Soedarman dalam buku Pengalaman Heroik Penerbang Bomber tahun 2003.
“Direncanakan 50 persen bom yang dijatuhkan dari pesawat itu akan mampu menghancurkan landasan sekaligus mencegah musuh melakukannya,” kata Pedet.
Rencana dan persiapan terus dilakukan. Moril para anggota TNI AU tinggi untuk melaksanakan tugas itu.
Namun angin berubah cepat. Peristiwa G30S mengubah peta politik Indonesia. Presiden Soekarno jatuh dan penggantinya, Presiden Soeharto memutuskan untuk mengakhiri konflik dengan Malaysia.
Dalam waktu singkat pula TNI AU menderita akibat pemerintah Orde Baru memutus semua kerja sama dengan Rusia dan China. Pesawat-pesawat paling canggih milik TNI AU tak bisa terbang gara-gara kekurangan suku cadang. Berakhirlah era Macan Terbang Asia.
Misi mengebom pangkalan jet tempur itu tak pernah digelar. (Merdeka)

Di luar Rusia, Indonesia bakal jadi negara pertama pengguna SU-35

Sukhoi Su-35.  Wikipedia.org
Sukhoi Su-35. Wikipedia.org
TNI AU berencana membeli Sukhoi SU-35 sebagai pengganti pesawat tempur F-5 tiger. Jika rencana ini terealisasi, Indonesia bakal tercatat sebagai negara pertama di luar Rusia yang menggunakan pesawat Sukhoi SU-35.
Selain Indonesia, yang kini sedang bernafsu untuk membeli Sukhoi adalah China. Mereka merasa perlu menambah kekuatan udaranya terkait ketegangan di Laut China Selatan.
Sementara 2012 lalu, Venezuela sudah hampir menandatangani kontrak. Namun belakangan dikabarkan mereka akhirnya memilih Sukhoi SU-30.
Malaysia juga tengah melirik Sukhoi SU-35 untuk memperkuat Tentara Udara Diraja Malaysia. Sukhoi memang bukan produk asing bagi Malaysia. Mereka sudah memiliki Sukhoi SU-30 MKM.
Saat ini baru Rusia yang mengoperasikan Sukhoi SU-35. Pesawat ini memang tidak murah, satu unitnya dibanderol dengan harga sekitar Rp 844 miliar. Harga yang diklaim Rosoboron sebanding dengan kemampuan tempur dan manuver pesawat yang dijuluki pembunuh di angkasa ini.
Harga itu sebenarnya jauh lebih murah dari F-16 tipe terbaru yang ditawarkan AS sebesar Rp 2 triliun lebih.
Jika Indonesia menjadi negara pertama di luar Rusia yang menggunakan Sukhoi SU-35, maka ini mengingatkan kita pada era 1960. Saat itu banyak alutsista yang dijual eksklusif hanya kepada Indonesia di luar Uni Soviet.
Pesawat bomber TU-16 misalnya. Hanya Indonesia yang diperbolehkan menggunakannya. Pesawat inilah yang bikin takut Blok Barat tahun 1960an.
Begitu juga dengan kapal selam kelas kilo. Cuma Indonesia yang diberi hak istimewa untuk membelinya. Tak tanggung-tanggung Rusia menjual 12 kapal selam sekaligus. Menjadikan Indonesia adalah pemilik kapal selam di bumi bagian selatan ini.
Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin menjelaskan bila hal tersebut sudah masuk tahap yang lebih serius. Kendati begitu, soal kapan kesepakatan pembelian SU-35 bisa terjalin, dia sedikit menghindari dengan alasan isu tersebut bersifat internal.
“Jika ditanya sejauh mana, hal itu belum bisa diungkap ke publik, namun kerjasama seputar hal tersebut terus menuju ke arah yang positif,” kata Galuzin ketika ditemui di kediamannya, Jakarta, Kamis, (25/6).
“Dalam pameran Aerospace dan Army exhibition yang dibuka 16 Juni lalu di Moskow, TNI AU diketahui turut menghadiri dan terus berkonsultasi seputar hal itu,” lanjutnya.
Kita tunggu saja, akankah si pembunuh di udara ini akan masuk barisan pesawat buru sergap TNI AU. (Merdeka)

Dua Kapal Perang Indonesia Muncul di Australia

Dua kapal perang Indonesia berlabuh di Darwin, Australia untuk latihan militer bersama. | (Twitter @Portal_Kemlu_RI)
Dua kapal perang Indonesia berlabuh di Darwin, Australia untuk latihan militer bersama. | (Twitter @Portal_Kemlu_RI)

Dua kapal perang Indonesia muncul di dermaga Darwin, Australia. Dua kapal perang bernama KRI Tombak dan KRI Hiu itu akan latihan militer dengan Angkatan Laut Australia.
Latihan militer tahun kali ini dinilai mengejutkan, karena berlangsung di saat hubungan Indonesia dan Australia sedang tegang. Pemicunya adalah laporan bahwa para pejabat Australia menyuap para penyelundup manusia untuk “membuang” para pencari suaka ke wilayah Indonesia. Indonesia sudah menuntut Australia menjelaskan masalah itu, namun pemerintah Australia menolaknya.
Menurut laporan abc.net.au, Jumat (26/6/2015), kapal perang Angkatan Laut Indonesia, KRI Tombak dan KRI Hiu telah merapat di markas militer HMAS Coonawarra.
Australia dan Indonesia sejatinya telah melakukan kerjasama patroli maritim bernama “AUSINDO Corpat”. Kerjasama itu dimulai dengan patroli pertama pada tahun 2010. Namun, latihan militer bersama in baru pertama kalinya sejak 2013.
Sebelum polemik suap penyelundup manusia, hubungan Indonesia dan Australia dipanaskan oleh eksekusi dua gembong narkoba Bali Nine asal Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran yang dilakukan di Nusakambangan. Sebelum itu, hubungan kedua negara juga pernah memanas setelah muncul laporan mata-mata Australia menyadap ponsel Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2009.
Direktur Pusat Hukum Indonesia Universitas Melbourne, Profesor Tim Lindsey, berharap latihan militer bersama ini akan menjadi cara untuk memperbaiki hubungan Indonesia dan Australia yang sempat retak.
”Hubungan Australia-Indonesia telah dingin,” katanya. ”Fakta bahwa latihan ini akan menjadi kemajuan , ini berita yang sangat baik,” katanya lagi.
”Ini menunjukkan bahwa apa pun yang mungkin terjadi di pemerintah puncak, ada hubungan antara instansi pemerintah dan pasukan pertahanan yang masih tangguh,” ujarnya.
“Australia hanya memiliki satu tetangga raksasa, tetangga utama dan itulah Indonesia raksasa, tetangga utama dan itulah Indonesia. Jika hubungan ini tidak dalam kondisi yang baik, maka akan memiliki implikasi besar bagi kami.” (Sindonews)

TNI AL: Skuadron 100 Jadi Efek Gentar Bagi Penyusup RI

Ilustrasi (ist)
Ilustrasi (ist)
TNI Angkatan Laut kian memantapkan niat untuk menghidupkan kembali Skuadron 100 –pasukan pemburu kapal selam yang berjaya di tahun 1960-an. Pembelian sebelas helikopter antikapal selam (AKS) menjadi tonggak untuk merealisasikan rencana itu.
Kepala Dinas Penerangan TNI AL Kolonel Laut M Zainudin tak menampik kebanggaan institusinya terhadap Skuadron 100 yang dahulu disegani angkatan bersenjata negara lain. “Tentu ditakuti, sebab kapal selam (asing yang menyusup ke perairan Indonesia) bisa dilihat dari atas (oleh helikopter antikapal selam),” kata dia kepada CNN Indonesia, Kamis (25/6).
Oleh sebab itu helikopter antikapal selam menjadi alat utama sistem senjata (alutsista) yang vital dalam pembentukan Skuadron 100. Helikopter-helikopter itu dapat dengan mudah melihat bayangan kapal selam penyusup melalui sonar sembari terbang di atas laut. Sebelas helikopter AKS akan tiba secara bertahap ke tanah air.
“Ini sudah masuk rencana strategi TNI 2015-2019. Program jangka panjang. Satu skuadron terdiri dari 12 helikopter AKS. Sebelas helikopter cukup. Satu skuadron saja terpenuhi bisa menimbulkan efek gentar bagi negara-negara lain di kawasan, terutama yang kerap melanggar wilayah RI,” kata Zainudin.
Apabila pelanggaran wilayah RI oleh kapal perang atau pesawat tempur asing kasatmata, tidak demikian halnya dengan penyusupan oleh kapal selam asing ke laut Indonesia. “Kapal selam tak bisa dilihat langsung oleh mata. Itulah pentingnya helikopter antikapal selam,”ujar Zainudin.
Dahulu Angkatan Bersenjata RI membangun Skuadron 100 dengan helikopter-helikopter Rusia (dulu Uni Soviet). Namun armada peninggalan Rusia itu kini telah uzur dan rongsok, membuat TNI AL kekurangan alat operasional sehingga Skuadron 100 yang sempat menjadi pusat kekuatan operasi laut ‘tenggelam’, dilebur dengan skuadron lain. Sejak 1990-an, TNI AL tak punya lagi helikopter antikapal selam.
Kini TNI AL mulai membangun kembali Skuadron 100 secara bertahap. Sebelas helikopter antikapal selam diproduksi di Perancis oleh Airbus Helicopters (dulu Eurocopter) bekerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia.
Zainudin mengakui alutsista TNI AL memang belum lengkap dan jauh dari sempurna, tapi mereka berupaya melengkapinya dengan bertahap. Itu semua demi menjaga kedaulatan dan ketahanan negara.
Komisi I DPR selaku mitra kerja TNI mengatakan pembelian 11 helikopter antikapal selam masuk dalam program karena TNI AL memang memerlukan helikopter dengan jangkauan luas yang dapat didaratkan di kapal-kapal perang mereka.
“Skuadron itu merupakan bagian dari armada tempur TNI Angkatan Laut. Ada kapal selam, kapal tempur, dan salah satunya helikopter antikapal selam itu,” kata anggota Komisi I Tubagus Hasanuddin di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta.
Kepala Staf TNI AL Laksamana Ade Supendi optimistis Skuadron 100 dapat dihidupkan lagi. “Dulu pesawatnya belum ada. Sekarang ada, tinggal mengaktifkan kembali skuadron itu,” kata di Markas Besar TNI AL, Cilangkap, Jakarta, Rabu malam (24/6).
Sejak 2013, TNI AL menekankan pentingnya helikopter antikapal selam sebagai mata dan telinga kapal perang dalam menjaga kedaulatan maritim RI yang luas perairannya mencapai lebih dari 5,8 juta kilometer.
Untuk diketahui, pasukan militer negara-negara tetangga RI memiliki helikopter antikapal selam di kapal perang mereka. Singapura misalnya menggunakan Sikorsky S-70 B Seahawk, Australia memakai Sikorsky MH-60 R, dan Malaysia punya Super Lynx.(CNN Indonesia)

Cassidian Optronics: Periskop Canggih Untuk Kapal Selam Changbogo Class TNI AL

Colombia_Submarine209_Mast
Bicara tentang kapal selam tentu tak bisa dilepaskan dari keberadaan periskop. Ya, alat inilah yang digadang bagi para awak kapal untuk bisa melihat kondisi langsung di permukaan saat kapal sedang di bawah permukaan air. Selain fungsinya untuk mengamati kondisi aneka obyek di permukaan, periskop juga dapat difungsikan sebagai perangkat bantu bidik untuk penembakkan torpedo.
Korps Hiu Kencana TNI AL yang bakal kedatangan alutsista baru, yakni kapal selam Changbogo Class buatan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME), Korea Selatan, kabarnya akan dilengkapi persikop canggih berteknologi optronics (optical electronics) buatan Cassidian, Jerman. Cassidian sendiri merupakan bagian dari divisi Airbus Defence and Space. Secara label, solusi yang dijual populer dengan sebutan Cassidian Optronics, atau dahulu dikenal dengan nama Carl Zeiss Optronics.
Struktur Cassidian Optronics SERO 250.
Struktur Cassidian Optronics SERO 250.
Konsol lensa pembidik dan lensa pada bagian luar.
Konsol lensa pembidik dan lensa pada bagian luar.
0000240670_resized_rer251onCASSIDIAN-Optronics'-optron
Apa kecanggihan dari Cassidian Optronics? Menurut siaran pers, periskop ini masuk dalam teknologi search periscope yang dibekali sensor infra red untuk meningkatkan kapabilitas intai kapal selam. Lewat tipe SERO 250, Cassidian menawarkan sistem instalasi yang mudah secara modular dan plug in ke struktur kapal selam, menjadikan pihak pemakai tak perlu mengeluarkan biaya tinggi untuk mengganti periskop tuanya.
SERO_250_1_gross
Secara umum, bekal teknologi canggih pada periskop Cassidian Optronics mencakup High-performance optics, Dual-axis, line-of-sight stabilisation, 3-stage optical magnification changer, ESM-EW/GPS antenna interface, Integrated IR camera sensor dan eye-safe laser rangefinder. Dengan segala keunggulan infra red, maka periskop kapal selam dapat beroperasi maksimal di kegelapan malam.
Pelanggan setia Cassidian Optronics adalah kapal selam besutan HDW, Jerman, yaitu Type 209, atau dikenal di lingkup TNI AL sebagai KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402. Bulan Maret tahun 2013, Cassidian Optronics mendapat paket upgrade untuk ‘mempercanggih’ kapal selam Type 209 milik AL Kolombia, dan sebelumnya periskop ini juga telah digunakan oleh AL Turki. (Gilang Perdana)

Kamis, 25 Juni 2015

[Video] F-16 Over Ambalat

Pelanggaran wilayah perbatasan yang kerap dilakukan Malaysia, utamanya di sekitar perairan Ambalat, tentu harus disikapi serius oleh Pemerintah. TNI-AU sebagai alat negara tentu harus siap mengamankan wilayah perbatasan dari gangguan. Salah satunya dengan mengerahkan pesawat tempur. Dan beberapa saat lalu TNI-AU mengerahkan pesawat tempur F-16 asal Skadron 3 yang tergabung dalam operasi Sakti.

ARCinc beruntung mendapatkan video rekaman kokpit saat operasi pengamanan dilakukan. Seolah terbang dengan F-16, itulah sensasi yang didapatkan ketika menonton video ini. Selamat menikmati sembari menunggu waktu berbuka.