Minggu, 10 Mei 2015

Kopassus gunakan pendekatan 3 K ( Kesetaraan, Keadilan ,Kesejahteraan )




















Danjen Kopassus kembali bertemu dengan para tokoh, kali ini dengan tokoh dari Papua yaitu Tokoh Organisasi Papua Merdeka(OPM) Nikson Aroger,Kamis ( 30/4/2015) di lapangan tembak Ksatria Makopassus Jakarta Timur 

Dalam sambutanya, Danjen Kopassus Mayjen TNI Doni Monardo mengucapkan terimakasih atas kehadiran para tokoh Papua dalam acara HUT  ke 63 Korps Baret Merah di Makopassus
Danjen Kopassus  juga mengatakan, masa lalu adalah masa lalu dan kini mari kita songsong masa depan yang lebih baik.
Danjen Kopassus mewakili Korps Baret Merah berjanji akan selalu menjaga keamanan masyarakat Papua, yaitu dengan menerapkan 3 konsep untuk menangani masalah di Papua.
Konsep pertama : Kesetaraan, diharapkan masyarakat Papua dapat menerima seluruh keluarga besar yang datang dari pelbagai daerah dengan hati yang tulus. 
Oleh karena itu, Kopassuss berjanji akan selalu menjaga keamanan dan juga akan selalu mengedepankan faktor kesetaraan dengan penerapan berbagai metodologi, sosial budaya.
Danjen berharap dengan melalui pendekatan kesetaraan ini dapat menarik hati kelompok-kelompok yang selama ini terlibat perselisihan dan ketegangan bersama aparat keamanan.
Konsep Kedua : Pendekatan Keadilan, ini sangatlah penting karena ditemukan banyak ketidakadilan di Papua. Diharapkan dengan adanya keadilan ini, diharapkan keadilan di Papua dapat ditegakkan, seperti adil dalam pendidikan, adil dalam kesejahteraan.  Dan keadilan akan terwujud apabila proses hukum mendapat dukungan.
Konsep Ketiga : Pendekatan Kesejahteraan, pendekatan ini juga sangat penting, karena banyak daerah. Kaya akan alamnya tetapi mereka justrru tidak menikmatinya dengan apa yang mereka miliki.
" Kami Korps Baret Merah akan melindungi diri dan juga masyarakat dari gangguan keamanan," tegas Danjen.
Dan, lanjutnya lagi, apabila tidak ada gangguan-gangguan. Yang dilakukan maka kamipun tidak akan ada upaya-upaya yang konprenhensip. Tetapi manakala ada gangguan, kami akan melakukan upaya melindungi diri dan juga melindungi tanah Papua.
" Marilah kita membina rasa persatuan dan kesatuan," tutup Danjen Kopassus 
Pada kesempatan tersebut Danjen Kopassus memberikan cinderamata kepada Boy Eluay berupa jaket Sahabat Kopassus .Boy Eluay putra sulung Theys Hiyo Eluay pemimpin Organisasi Papua Merdeka (OPM)

Tank Boat, Solusi atau Masalah Baru?

Negeri Indonesia yang terdiri dari ribuan kepulauan memang menghadirkan tantangan tersendiri soal pertahanan dan keamanan. Dengan alur perairan yang sempit, membawa pasukan dan dukungan ofensif ke pedalaman merupakan hal yang sulit. Kapal besar tidak masuk, jalan darat pun tidak ada. Apa solusinya?

Pendekatan yang dilakukan oleh PT Lundin Industry Invest sebagai spesialis pembuat kapal berbahan komposit terhitung ekstrim dan tak tanggung-tanggung: membuat kapal cepat yang mengusung kanon tank, ini merupakan gebrakan teknologi pertama di dunia yang mampu menggentarkan lawan. Di dunia ini hanya Rusia dengan Tral class dan Korea Utara dengan Sariwon Class yang melakukannya. Keduanya digolongkan sebagai korvet.

Dihadirkan dalam konferensi AVA (Armored Vehicle Asia) 2015 di Jakarta, PT Lundin menghadirkan maket konsep yang disebut X18 tank boat. Kapal yang mampu mengangkut 20 personel dan diawaki 4 orang ini menggunakan konsep desain catamaran dengan lunas kembar dan paralel untuk membelah ombak dan memberikan kestabilan yang pasti. Material yang digunakan adalah komposit, yang didasarkan pada pengalaman Lundin membangun KRI Klewang, kapal tempur TNI AL pertama yang menganut prinsip kasat radar alias stealth.
Yang paling istimewa dari kapal yang memiliki panjang sekitar 18 meter ini adalah senjata utama yang digunakan. Sistem kubah CMI CT-CV 105mm yang sejatinya merupakan kubah untuk tank medium dipasang saja di atas superstruktur X18, langsung di belakang anjungan. Kubah CT-CV memang istimewa, memiliki sudut dongak sampai 45o sehingga dapat digunakan untuk memberikan bantuan tembakan pada pasukan kawan yang tengah melakukan pendaratan. Untuk pertempuran melawan kapal yang lebih besar juga mumpuni, mengingat CT-CV 105 sudah memiliki sistem komputer balistik dan stabilisasi untuk memberikan solusi dan koreksi atas sudut penembakan.
Yang jadi pertanyaan, apakah mungkin konsep ini diwujudkan? Dari sudut lokasi, pemasangan di atap kapal yang notabene menjauhkan beban dari titik berat (CoG) kapal berpotensi menimbulkan ketidakstabilan, apalagi pada saat dilakukan penembakan pada sudut 90o. Belum lagi bobot kubah dan meriam, yang dapat mencapai 7-8 ton. Solusi memangkas bobot dapat dilakukan dengan mengganti kubah dari bahan baja menjadi alumunium, tetapi tentu tidak banyak pula penghematannya. Soal kedua, masalah stabilisasi. Mengandalkan sistem stabilisasi untuk permukaan tanah dengan dua sumbu tentunya tak sebanding dengan ganasnya ombak di perairan Indonesia, sehingga efektifitas meriam 105mm di laut lepas cukup diragukan. Kemungkinan terbesar meriam ini baru akurat saat Tank Boat berada di perairan litoral atau bahkan sangat dekat dengan pantai, plus alur sungai. Selebihnya, Tank Boat mungkin perlu senjata sekunder seperti kanon 25/30/35mm untuk mengusir lawan yang menghadang dari permukaan laut.

Biarpun baru merupakan maket dan gambar di atas kertas, PT Lundin sendiri berencana menggandeng PT Pindad, Bofors Defense sebagai integrator sistem kendali penembakan, dan CMI sebagai pembuat kubah CT-CV 105 sebagai pemasok kubah.

ARC. 

Komandan Sektor Timur UNIFIL tinjau area Indobatt

Komandan Sektor Timur UNIFIL tinjau area Indobatt
Ilustrasi. Tim COE (Contingent Owned Equipment) UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) menggelar Operational Readiness Inspection (ORI) atau pemeriksaan terhadap kesiapan operasional materiil dan perlengkapan Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-I/Unifil (Indobatt/Indonesian Battalion) di UN Posn 7-1, Adchit Al Qusayr Lebanon Selatan, Senin (2/3). UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) sebagai perwakilan PBB di wilayah Lebanon menuntut seluruh satuan yang dikirimkan negara-negara pengirim atau Troops Contributing Country (TCC) harus memiliki kesiapan operasional sesuai standar yang telah ditetapkan. (ANTARA FOTO/Penerangan Konga XXIII-I/Unifil/HO/Koz)
 
Komandan Sektor Timur UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) Brigjen Antonio Ruiz Olmos dari Spanyol meninjau Area Operasi Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda (Konga) XXIII-I/Unifil atau Indobatt (Indonesian Battalion) di sekitar Lebanon Selatan.

Perwira Penerangan Konga XXIII-I/Unifil, Kapten Laut (KH) Ahmad Suberlian, dalam surat elektronik yang diterima Antara di Surabaya, Minggu, melaporkan Komandan Sektor Timur UNIFIL Brigjen Antonio Ruiz Olmos dalam kunjungan pada Jumat (8/5) itu didampingi oleh Wakil Komandan (Wadan) Sektor Timur Kolonel Kav Yotanabey.

Brigjen Antonio Ruiz Olmos meninjau Area Operasi Kompi Alfa di UN Pos 9-63 untuk melihat secara langsung kegiatan Prajurit Indobatt serta meninjau Pos B-78 dan TP-36 yang berada di sekitar pagar perbatasan negara (blue line) Lebanon dengan Israel.

Selanjutnya, Brigjen Antonio Ruiz Olmos didampingi Kolonel Kav Yotanabey mengunjungi Markas Indobatt Konga XXIII-I/Unifil, kedatangannya disambut oleh Wakil Komandan Satgas (Wadansatgas) Indobatt Mayor Inf Eko Handono, para Perwira Staf serta seluruh prajurit Indobatt, di Markas Indobatt UN Posn 7-1 Adshit Al-Qusayr, Lebanon Selatan.

Dalam sambutannya, Komandan Sektor Timur yang didampingi oleh Wadan Sektor Timur dan Wadansatgas Indobatt mengucapkan terima kasih atas pelaksanaan tugas yang telah ditunjukkan personel Indobatt di lapangan selama ini dan menekankan faktor keamanan dalam melaksanakan tugas.

"Saya selaku Komandan Sektor Timur mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Satgas Batalyon Mekanis TNI Konga XXIII-I/Unifil di bawah pimpinan Letkol Inf Andreas Nanang Dwi P yang telah menjalankan tugas di Lebanon Selatan dengan sangat baik dan penuh prestasi selama saya ditugaskan oleh PBB sebagai Komandan Sektor Timur UNIFIL di Lebanon Selatan," kata Brigjen Antonio.

Selanjutnya, Komandan Sektor Timur Unifil beserta rombongan menyaksikan Kesenian Reog asli Indonesia yang ditampilkan oleh para prajurit Cimic (Civilian Military Cordination) Indobatt dibawah pimpinan Kapten Inf Seto Purnomo.

Sebelum meninggalkan Markas Indobatt UN Posn 7-1 Adshit Al-Qusayr, Lebanon Selatan, Wadansatgas Indobatt Mayor Inf Eko Handono memberikan kenang-kenangan berupa cinderamata khas Indonesia kepada Komandan Sektor Timur Brigjen Antonio Ruiz Olmos, dan begitu juga sebaliknya, lalu dilanjutkan foto bersama dengan seluruh prajurit Indobatt. 
 

PT PAL Bangun Tiga Kapal Selam

 
Kapal selam Type 209 Jerman yang dimodifikasi India
Kapal selam Type 209 Jerman yang dimodifikasi India

Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan (Kemenhan) telah menunjuk ITS Surabaya menjadi Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Perang.
“Kita sudah memiliki Pusat Desain Kapal Nasional, lalu Kemenhan meningkatkan statusnya menjadi Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Perang,” kata Dekan FTK ITS Prof Eko Budi Djatmiko di Surabaya, Sabtu (9/5/2015).
Ditemui di sela “Marine Icon 2015″ yang diselenggarakan mahasiswa FTK ITS di kawasan Monumen Kapal Selam (Monkasel) Surabaya, 8-10 Mei itu, ia menjelaskan penunjukan tersebut merupakan bagian dari peran ITS mendukung Poros Maritim.
“Untuk mendukung Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, banyak dosen ITS ditarik ke pusat untuk membantu dalam mewujudkan kebijakan Presiden Joko Widodo itu,” katanya.
Selain penunjukan sebagai pusat desain dan rekayasa kapal perang, ITS juga diminta membantu dalam membangun tol laut dan pembuatan kapal selam di PT PAL yang merupakan kerja sama antara Indonesia dengan Korea.
“Untuk itu, ITS diminta membantu untuk menyiapkan desain pembangunan galangan kapal selam, karena kerja sama dengan Korea itu sudah ditindaklanjuti dengan membuat dua kapal selam di Korea,” katanya.
Tahun berikutnya, kerja sama pembuatan lima kapal selam itu akan dilanjutkan dengan membangun tiga kapal selam sisanya di PT PAL.
“Sejak tahun 1960, ITS sebenarnya sudah mendapat amanah untuk menyiapkan teknologi kemaritiman, namun selalu terkendala dengan kebijakan pemerintah,” katanya saat mendampingi Rektor ITS Prof Joni Hermana.
Untuk itu, ITS akan mengambil peran dalam pembangunan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia itu dengan menyiapkan desain galangan kapal berukuran besar, sekaligus menyiapkan sumber daya manusia untuk galangan itu.
“Dengan demikian, kita akan segera memiliki kapal jenis fregat yang panjangnya sampai 150 meter, bukan sekadar kapal patroli berukuran besar seperti selama ini,” katanya.
Ketua Panitia “Marine Icon 2015″ ITS, Nityasa Manuswara, Marine Icon 2015 yang dibuka Rektor ITS Prof Joni Hermana (8/5) itu, juga bukan sekadar lomba, namun untuk menggugah kesadaran dan pemahaman terhadap pentingnya kemaritiman bagi Bangsa Indonesia.
“Kita lihat kenyataan Indonesia adalah negara maritim, tapi masyarakat belum sadar bahwa kita masyarakat maritim. Buktinya, masih banyak masyarakat yang ‘concern’ ke daratan,” katanya.
Lomba dengan tema “Berkarya Bersama Membangun Peradaban Maritim Indonesia” yang digelar di kawasan Monumen Kapal Selam (Monkasel) Surabaya pada Jumat (8/5) hingga Minggu (10/5) itu, mempertandingkan enam jenis lomba dan memperebutkan Piala Menpora.
Sebanyak enam jenis lomba adalah Marine Diesel Assembling (bongkar pasang mesin diesel) bagi siswa SMK, Waterbike Competition (sepeda air), National Maritime Paper and Essay Competition (lomba karya tulis kemaritiman), Pop Pop Boat Race (kapal uap/perahu tok-tok), Marine Photography Contest (lomba foto kemaritiman), dan Dragon Boat Race (lomba dayung/lomba balap perahu naga). (Kompas.com).

Masa Depan Kemandirian Roket Nasional

 
Berdasarkan penelusuran di  Kementerian Pertahanan, ide produksi roket dalam negeri mulai tercetus tahun 2007. Saat itu Kemenristek membentuk Tim D-230 untuk mengembangkan penelitian roket hulu ledak berdiameter 122 milimeter dengan jarak jangkau 20 kilometer.
Prototipe roket D-230 itu dibeli Kementerian Pertahanan yang  menggandeng PT Pindad Indonesia, untuk memperkuat program 1.000 roket. Roket R-Han 122 merupakan pengembangan dari roket sebelumnya, yaitu D-230 tipe RX 1210 yang dikembangkan oleh Kemenristek dengan kecepatan maksimum 1,8 mach yang uji coba peluncurannya  berlangsung mulus.
Roket R-Han 122 ini merupakan hasil kerja sama yang sinergis antara Balitbang Kementerian Pertahanan RI dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenriset), PT Pindad, LAPAN, Perguruan Tinggi dan pihak terkait lainnya. Selanjutnya melakukan integrasi roket dengan penambahan warhead (hulu ledak) sehingga roket berfungsi sebagai senjata yang memiliki daya ledak yang optimal dengan sasaran darat ke darat dengan jarak tembak antara 11-14 km.
Dengan adanya integrasi prototipe roket warhead ini, diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai Alutsista TNI yang selama ini masih tergantung dari luar negeri.

Proses Pembuatan Roket R Han 122
Saat memasuki bisnis massal, pemerintah membentuk Konsorsium Roket Nasional dengan ketuanya adalah Bapak Sonny Ibrahim sebagai Ketua Program Roket Nasional PT DI yang menjelaskan bahwa rencana pembuatan roket secara massal sebenarnya sudah ada sejak 2005.
Namun, baru dikembangkan roket D-230 pada 2007 hingga terbentuk konsorsium tersebut. Konsorsium itu beranggotakan sejumlah industri strategis yang mengerjakan bermacam komponen roket. Selain digunakan sebagai sistem pertahanan juga akan digunakan sebagai penelitian satelit. Dalam konsorsium tersebut terdapat PT Pindad yang mengembangkan launcher dan firing system dengan laras 16/warhead dan mobil launcher (hulu ledak).
Kemudian, PT Dahana menyediakan propellant. PT Krakatau Steel untuk mengembangkan material tabung dan struktur roket. PT DI membuat desain dan menguji jarak terbang. Pendukung lainnya seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika turut mendukung dengan menyediakan alat penentu posisi jatuhnya roket.
ITB turut menyediakan sistem kamera nirkabel untuk menangkap dan mengirim gambar saat roket tiba di sasaran. Demikian halnya dengan UGM Yogya, ITS Surabaya, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Suryadharma, Universitas Negeri 11 Maret dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya yang terlibat dalam proses pembuatannya.
Proses Riset Roket R-Han 122
Pembuatan roket militer ini cukup menarik, karena para periset beberapa kali melakukan uji coba hingga menemukan kesempurnaan pada roket R-Han 122. Pada awalnya, tahun 2003 silam periset menggunakan ketebalan baja 1,2 mm, tetapi kemudian produk tersebut justru cepat jebol. Maka dari itu, mulai diperbaiki sistem isolasi termal. Saat roket meluncur sempurna dibutuhkan suhu 3.000 Celcius.
Pembakaran itu bisa berakibat fatal, apabila sistem isolasi termal tidak bekerja dengan baik. Oleh karena itu, di ruang isolasi termal diberi karet atau polimer yang bisa menghambat panas. Untuk materialnya, dipilih bahan ringan, yakni aluminium, agar bisa menghambat panas.
Sehingga termalnya dapat bekerja dengan cukup baik, dan roket itu pun akhirnya dapat terbang tepat sasaran serta tidak pernah rusak selama uji coba. Serangkaian uji coba roket itu, untuk melihat kemampuan strategis yang dimiliki oleh industri pertahanan dalam negeri kita dalam menguasai ilmu peroketan.
Banyak negara maju yang sudah menguasai ilmu tersebut, namun enggan membagi karena dinilai sangat strategis. Maka dari itu, Pemerintah berusaha mengadakan penelitian dan mengembangkan kemampuan yang ada guna menguasai teknologi tersebut untuk kepentingan nasional ke depannya.
Uji coba ini adalah bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan teknologi di bidang roket. Pemerintah bersama dengan industri strategi bersinergi dalam hal ini untuk mengembangkan roket.
Pengembangan Roket R-Han 122
Dalam pengembangannya, Indonesia harus mandiri dalam penelitian dan rekayasa teknologi di bidang pertahanan negara sebagai pemacu para peneliti Indonesia. Oleh karena itu, Roket berkaliber 122 mm ini terwujud yang rencananya akan ditempatkan sebagian besar di KRI (kapal-kapal perang RI).
Tak ketinggalan juga, Armed yang menjadi bagian dari institusi TNI Angkatan Darat dilibatkan dalam penggunaan senjata ini karena fokus sasarannya  adalah sasaran darat. Roket R-Han 122 ini juga dikembangkan dalam rangka mengurangi ketergantungan pengadaan dari luar negeri dengan memberdayakan potensi dan kemampuan industri dalam negeri.
Selama ini, Indonesia masih membeli roket dari negara lain.
“Dengan harga satu roket R-Han 122 membutuhkan dana Rp 75 juta yang artinya untuk 500 roket dibutuhkan Rp 37,5 miliar akan jauh lebih murah jika dibandingkan dengan membeli dari luar negeri yang harganya mencapai 110 juta rupiah per roket,” jelas Menhan saat itu, Purnomo Yusgiantoro.
500 roket tahap awal ini merupakan bagian dari 1.000 roket yang ditargetkan. Idealnya kebutuhan roket untuk peralatan pertahanan RI lebih dari 500 unit. Sebanyak 750 roket diselesaikan pembuatannya pada tahun 2013 dan pada tahun 2014 dirampungkan program produksi 1.000 roket pertahanan untuk TNI Angkatan Darat dan TNI Angkatan Laut.
Roket R-Han ini tidak dijual ke luar negeri, karena masih dalam proses penyempurnaan. Namun, tidak menutup kemungkinan akan dipasarkan jika nantinya pengujiannya sudah selesai. Untuk R-Han 122 sudah menemui hasil yang menggembirakan, sekarang sedang menyempurnakan roket D-230.
Indonesia sebagai negara kepulauan yang luas membutuhkan sistem pertahanan yang  lebih baik untuk mempertahankan wilayahnya terutama wilayah perbatasan.Dengan produksi mandiri ini, maka negara-negara lain tidak akan mudah meremehkan produksi hasil karya putera bangsa Indonesia sehingga meningkatkan detterence/ efek gentar yang dimiliki oleh TNI.
Rencana kedepannya Kemhan bersama Konsorsium Roket Nasional sedang mengembangkan roket kaliber 320 dengan jarak capai 70 km, dan Kaliber 450 dengan jarak capai sekitar 100 km. Semoga semua bisa dilaksanakan dengan baik, dan kemandirian alutsista strategis ini bisa membanggakan negeri tercinta ini.

(Kemenperin dan berbagai Sumber) JKGR.

Sabtu, 09 Mei 2015

ITS jadi pusat rekayasa kapal perang

ITS jadi pusat rekayasa kapal perang
Dokumentasi (ANTARA FOTO/Zainuddin MN)
kita akan segera memiliki kapal jenis fregat yang panjangnya sampai 150 meter"
Kementerian Pertahanan telah menunjuk ITS Surabaya menjadi Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Perang.

"Kita sudah memiliki Pusat Desain Kapal Nasional, lalu Kemenhan meningkatkan statusnya menjadi Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Perang," kata Dekan FTK ITS Prof Eko Budi Djatmiko di Surabaya, Sabtu.

Ditemui di sela "Marine Icon 2015" yang diselenggarakan mahasiswa FTK ITS di kawasan Monumen Kapal Selam Surabaya, dia menjelaskan penunjukan itu adalah bagian dari peran ITS dalam mendukung Poros Maritim.

"Untuk mendukung Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, banyak dosen ITS ditarik ke pusat untuk membantu dalam mewujudkan kebijakan Presiden Joko Widodo itu," katanya.

Selain penunjukan sebagai pusat desain dan rekayasa kapal perang, ITS juga diminta membantu membangun tol laut dan pembuatan kapal selam di PT PAL yang merupakan kerja sama antara Indonesia dengan Korea Selatan.

Tahun berikutnya, kerja sama pembuatan lima kapal selam itu akan dilanjutkan dengan membangun tiga kapal selam sisanya di PT PAL.

"Sejak tahun 1960, ITS sebenarnya sudah mendapat amanah untuk menyiapkan teknologi kemaritiman, namun selalu terkendala dengan kebijakan pemerintah," katanya.

ITS akan mengambil peran dalam pembangunan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia itu dengan menyiapkan desain galangan kapal berukuran besar, sekaligus menyiapkan sumber daya manusia untuk galangan itu.

"Dengan demikian, kita akan segera memiliki kapal jenis fregat yang panjangnya sampai 150 meter, bukan sekadar kapal patroli berukuran besar seperti selama ini," katanya.

Ketua Panitia "Marine Icon 2015" ITS, Nityasa Manuswara, Marine Icon 2015 yang dibuka Rektor ITS Prof Joni Hermana (8/5) itu bukan sekadar lomba, namun untuk menggugah kesadaran dan pemahaman terhadap pentingnya kemaritiman bagi bangsa Indonesia.

"Kita lihat kenyataan Indonesia adalah negara maritim, tapi masyarakat belum sadar bahwa kita masyarakat maritim. Buktinya, masih banyak masyarakat yang concern ke daratan," katanya.

Lomba dengan tema "Berkarya Bersama Membangun Peradaban Maritim Indonesia" yang digelar di kawasan Monumen Kapal Selam pada Jumat hingga Minggu esok itu,mempertandingkan enam jenis lomba dan memperebutkan Piala Menpora.

Keenam jenis lomba adalah Marine Diesel Assembling (bongkar pasang mesin diesel) bagi siswa SMK, Waterbike Competition (sepeda air), National Maritime Paper and Essay Competition (lomba karya tulis kemaritiman), Pop Pop Boat Race (kapal uap/perahu tok-tok), Marine Photography Contest (lomba foto kemaritiman), dan Dragon Boat Race (lomba dayung/lomba balap perahu naga).
 

Seorang tentara Malaysia ditangkap di Sebatik

 
Wilayah Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia (istimewa)
Wilayah Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia (istimewa)

Nunukan – Seorang anggota tentara Malaysia tertangkap aparat Kepolisian Sektor Sei Nyamuk Kecamatan Sebatik Timur Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, karena masuk secara ilegal atau tidak menggunakan paspor.
Kepala Polsek Sei Nyamuk, Iptu Oman di Pulau Sebatik, Jumat malam menerangkan, anggota tentara Malaysia tersebut diamankan ketika ditemukan di Pelabuhan Sei Nyamuk sekitar pukul 09.30 WITA.
Kapolsek Sei Nyamuk menegaskan, saat dilakukan interogasi kepadanya, ia mengaku sebagai warga negara Malaysia yang masuk ke Pulau Sebatik untuk menemui keluarganya yang berada di Kabupaten Nunukan Kota Tarakan dan Kabupaten Berau (Kaltim).
WN Malaysia ini diketahui sebagai seorang anggota tentara ketika dilakukan penggeledahan ditemukan kartu anggota nomor 6191458 dengan pangkat LLP atas nama Raymonega Bin Taguna kelahiran 17 Mei 1986.
Pada kartu pengenal itu pula, dia diketahui bersuku bangsa Murut Negeri Sabah sebagai pasukan REJ 507 AW tentara Malaysia di Pengawal Keselamatan Security Guard Apartemen yang beralamat Penampang Kota Kinabalu Negeri Sabah.
“Jadi ketika diinterogasi yang bersangkutan mengaku sengaja tidak membawa Identity Card Malaysia miliknya supaya dianggap sebagai warga Malaysia biasa,” ujar Oman melalui pernyataan tertulisnya.
Sehubungan dengan penangkapan anggota tentara Malaysia ini, aparat kepolisian setempat langsung menyerahkannya kepada petugas Imigrasi Pulau Sebatik untuk diamankan dan ditindaklanjuti. (ANTARA News)