Senin, 20 April 2015

TNI AL Terima Pesawat Latih Bonanza G36

 
Pesawat latih Bonanza TNI AL (Foto: Zaenal Effendi)
Pesawat latih Bonanza TNI AL (Foto: Zaenal Effendi)
Surabaya – TNI AL terus meningkatkan kemampuan prajurit udaranya dengan menambah pesawat latih. Hari ini, Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) Juanda mendapatkan 4 buah pesawat latih dasar Bonanza G36 yang diserahkan KSAL Laksamana TNI Ade Supandi.
Komandan Puspenerbal, Laksamana Pertama Sigit Setiyanta mengatakan, pesawat latih yang akan tergabung dalam skuadron 200 wing Udara I Puspenerbal di Surabaya merupakan bagian dari program pembangunan kekuatan TNI AL berdasarkan Minimum Essential Force hingga tahun 2024.
Bonanza G36
Bonanza G36
“Pesawat latih dasar ini akan digunakan untuk mendidik calon-calon penerbang TNI AL sebelum mengoperasikan pesawat operasional,” katanya di Base Ops Lanudal Juanda, Senin (20/4/2015).
Sigit menambahkan, penyerahan 4 pesawat yang mampu mencapai ketinggian maksimal 5.600 meter di atas permukaan laut ini untuk memenuhi pembangunan kekuatan penerbangan.
“Oleh karena itu, KSAL terus melakukan upaya untuk memenuhi pembangunan kekuatan dan mendorong pengadaan pesawat udara untuk memenuhi kebutuhan fungsi intai udara taktis, anti kapal selam serta dukungan logistik cepat dan pengamatan laut,” ungkap dia.
image
Perlu diketahui dalam periode 2015-2019, TNI AL berkomitmen membangun kekuatan khususnya untuk pesawat udara yakni helikopter anti kapal selam 11 buah, helikopter anti kapal permukaan air sebanyak 8 unit, helikopter angkut taktis 4 unit.
Selain alutsista udara, TNI AL juga mengembangkan beberapa pangkalan udara Angkatan Laut (Lanudal) Kelas A sebagai antisipasi pengembangan Kogabwilhan Armada Timur, Tengah dan Barat. (Detik.com).

PIRATE: Penjejak Target Berbasis Elektro Optik di Eurofighter Typhoon dan JAS 39 Gripen

oeps-typhoon
Meski berasal dari ‘dunia’ yang berbeda, ternyata ada beberapa persamaan antar kompetitor pengganti F-5 E/F Tiger II TNI AU. Para kontestan, yakni Eurofighter Typhoon, Dassault Rafale, JAS 39 Gripen NG dan Sukhoi Su-35BM memang sama-sama mengusung twin jet sebagai dapur pacunya, kecuali Gripen yang single engine.
Tapi selain itu, ada beberapa persamaan yang cukup unik dicermati, yakni keempatnya sama-sama mengusung penjejak target berbasis elektro optik. Meski bukan istilah yang populer, penjejak canggih ini mudah dilihat, pasalnya punya bentuk desain bola kaca yang disematkan di sisi luar depan kokpit.
squared_medium_IRST_s_01oeps-typhoon-1-ok
Di artikel terdahulu, Indomiliter.com pernah mengupas tuntas tentang penjejak target berbasis elektro optik OEPS-27 yang terpasang di jet tempur Sukhoi Su-27SK/Su-30MK Flanker TNI AU. Sementara, dari kubu Barat, Eurofighter Typhoon juga dibekali teknologi serupa, yakni PIRATE (Passive InfraRed Airborne Track Equipment) buatan Eurofirst yang merupakan konsorsium dari Sales EX, Thales Optronics, dan Tecnobit. Ketiganya adalah pemasok utama perangkat avionic Typhoon. Dari perannya, PIRATE di Typhoon sebagai pendukung sistem penjejak utama pada radar AESA. Dengan basis FLIR (Forward looking Infra Red), dalam suatu misi bisa saja pilot diharuskan harus melakukan radar silient, atau jaga-jaga bila radar mengalami error, maka PIRATE bakal menjadikan pilot percaya diri meladeni dog fight.
IRST pada Rafale.
IRST pada Rafale.
60369_sukhoi_buatan_rusia_663_382
OEPS-27, penjejak optik di Sukhoi Su-27 TNI AU.

Teknologi PIRATE dirancang untuk mencari dan melacak target berikut emisi infra merah, atau berdasarkan panas yang dihasilkan target. PIRATE masuk dalam golongan teknologi IRST (infra red search and track system). Secara umum IRST dapat menjangkau jarak hingga 50 kilometer. Soal cakupan (coverage), untuk sudut azimuth mulai dari -60 sampai +60 derajat, sementara sudut ketinggian mulai dari -60 sampai 15 derajat.
PIRATE beroperasi di dual band infra red, 3-5 dan 8-11 mikrometer. Saat digunakan bersama radar dalam peran udara-ke-udara, perangkat berfungsi sebagai pencari infra merah dan sistem tracking, dengan menyediakan deteksi target pasif. Sementara dalam peran udara-ke-permukaan, PIRATE melakukan identifikasi sasaran dan akuisisi. PIRATE juga memberikan bantuan navigasi dan pendaratan. Seperti halnya OEPS-27 di Sukhoi Su-27/30, PIRATE juga dapat langsung terkoneksi dengan dispay pada helm pilot lewat helmet mounted sight dalam FLIR mode, selain pastinya juga koneksi ke (HUD) Head Up Display.
PIRATE dapat melakukan deteksi otomatis ke 200 sasaran secara simultan dalam single dan multiple tracking. Dalam mendukung duel di udara, PIRATE akan mengambil peran untuk mengarahkan tembakan kanon Mauser BK-27 kaliber 27 mm. Kanon internal dengan laras tunggal pada Typhoon ini dapat melontarkan 1.000 proyektil per menit, sementara kecepatan luncur proyektilnya 1.100 meter per detik.
Tantangan penggunaan kanon ini adalah bekal amunisinya yang hanya 150 butir peluru. Nah, agar setiap tembakan dapat efektif mengenai sasaran, maka disinilah peran PIRATE untuk menjamin tingkat akurasi tembakan. Karena handal sebagai penjejak short range, PIRATE juga dapat mengambil peran dalam aksi penembakan rudal ASRAAM atau AIM-9 Sidewinder.

Mauser BK-27 di Typhoon.
Mauser BK-27 di Typhoon.

Uniknya, PIRATE dan kanon Mauser BK-27 juga dipasang pada sebagai kanon internal pada JAS JAS 39 Gripen (khusus di varian kursi tunggal). Tapi sayangnya, bekal amunisi yang dibawa hanya 120 peluru. Sejatinya keterbatasan amunisi juga menjadi momok pada Sukhoi Su-27/Su-30 dan Su-35MK. Untuk menghemat bobot pesawat, Sukhoi dengan kanon Gsh-30-1 hanya dibekali 150 peluru. Untuk itu pihak Sukhoi sengaja memasang OEPS-27 yang built in laser di Su-27/Su-30, sementara di Sukhoi Su-35BM dengan jenis OLS-35. (Haryo Adjie)

Spesifikasi PIRATE
Length : 680 mm
Width : 591mm
Height : 300mm
Weight : 48 Kg

Sabtu, 18 April 2015

Pengamat: retrofit pesawat murah tapi tidak efisien

Pengamat: retrofit pesawat murah tapi tidak efisien
Petugas menyiramkan cairan ke badan pesawat tempur F16 yang terbakar di ujung landasan pacu Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (16/4/15). (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
 
Pengamat industri militer Asmui Cipta mengatakan bahwa peningkatan kemampuan atau retrofit pesawat bekas memang lebih murah dibandingkan dengan membeli pesawat baru, namun itu tidak efisien.

"Sepintas biaya retrofit murah, tapi sebenarnya tidak efisien karena hasil akhir yang didapat hanya 50 persen," kata Asmui di Jakarta, Jumat.

Ia mengemukakan hal itu terkait insiden terbakarnya pesawat tempur F-16 Fighting Falcon Block 52ID di Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Kamis (16/4). Pesawat tempur hibah dari Amerika Serikat itu merupakan hasil retrofit dari tipe di bawahnya.

"Yang saya ketahui Indonesia sebenarnya akan membeli F-16 Block 52 baru sebanyak enam unit, tapi kemudian ditawari hibah 24 unit tipe di bawahnya yang bisa diretrofit," kata Asmui.

Alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) itu mengatakan, berkaca pada berbagai kasus retrofit alutsista hibah, hasil akhir yang didapat tidak bisa optimal atau maksimal hanya 50 persen.

"Dilihat dari anggaran negara yang dikeluarkan, memang lebih murah retrofit. Tapi ini akan menjadi mahal karena alutsista hasil retrofit pastinya digunakan dalam jangka waktu lama, yang mana perawatannya juga membutuhkan biaya lebih besar," katanya.

Menurut dia, ke depan Indonesia harus berpikir dua kali lebih panjang untuk menerima alutsista bekas dari negara lain.

Dikatakannya, dalam kasus hibah F-16, AS tetap diuntungkan meski memberikan secara cuma-cuma, karena minimal bisa mengosongkan hanggarnya dari pesawat yang tak dipakai lagi.

"Dan juga harus dicatat, hibah ini harus dilihat sebagai upaya AS menjaga hubungannya dengan Indonesia yang belakangan rajin membeli pesawat tempur dari negara lain," katanya.

Ia mendukung keinginan Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Agus Supriatna yang menolak masuknya alutsista bekas hibah dari negara lain di masa depan.

"Saya mendukung upaya peremajaan alutsista negara kita, tapi itu harus dengan yang baru. Jangan pertaruhkan nasib bangsa dan prajurit pengguna alutsista tersebut, hanya karena ingin mengeluarkan biaya yang murah," katanya.

Satu pesawat F-16 Fighting Falcon Block 52ID, Kamis (16/4) gagal take off dan terbakar di Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Kepala Staf TNI AU menyebut kejadian ini akibat "malfunction" dan pihaknya langsung melakukan evaluasi menyeluruh. 
 

Panglima TNI: ISIS tidak boleh hidup di Indonesia

Panglima TNI: ISIS tidak boleh hidup di Indonesia
Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Sungguh naif, hina dan tercela...jika Prajurit TNI dan PNS TNI maupun keluarganya terlibat dalam persoalan narkoba"
Bogor (ANTARA News) - Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal TNI Moeldoko mengatakan bahwa bangsa Indonesia termasuk TNI telah menyatakan Islamic State of Iraq Syiria (ISIS) tidak boleh hidup di negeri ini.

"Saya tekankan kepada segenap Prajurit dan PNS TNI untuk senantiasa waspada terhadap aliran-aliran yang mengarah kepada rekrutmen ISIS," katanya dalam sambutan tertulisnya pada upacara pengibaran bendera Merah Putih di Pangkalan TNI Angkatan Udara Atang Sendjaja di Bogor, Jawa Barat, Jumat.

Upacara pengibaran bendera Merah Putih di Pangkalan TNI Angkatan Udara Atang Sendjaja (Lanud Ats) dipimpin langsung Danlanud Ats Marsma TNI Dedy Permadi, di Main Apron, yang diikuti seluruh personel Lanud Ats dan Wingdikum.

Hal pokok lainnya yang menjadi perhatian Panglima TNI adalah penyalahgunaan narkoba, karena itu Panglima TNI memerintahkan kepada unsur Pimpinan Satuan untuk melindungi para prajurit dan PNS-nya, dan begitu juga kepada segenap Prajurit dan PNS TNI untuk melindungi diri dan keluarga dari ancaman narkoba.

"Sungguh naif, hina dan tercela, jika Prajurit TNI dan PNS TNI maupun keluarganya terlibat dalam persoalan narkoba," katanya.

Berkaitan dengan rencana kenaikan tunjangan kinerja dalam waktu yang tidak terlalu lama, Panglima TNI mengharapkan kepada seluruh Prajurit dan PNS TNI bersyukur, serta mengucapkan terima kasih atas perhatian Pemerintah.

"Tidak hanya kenaikan tunjangan kinerja, Pemerintah juga akan meningkatkan kapasitas dan kapabilitas TNI baik personel maupun materiil dan alutsista," katanya.

Besarnya atensi Pemerintah, tuturnya, harus dijawab dengan menunjukkan kinerja para Prajurit dan PNS TNI yang harus terus meningkat, baik dalam konteks tugas pokok, maupun dalam konteks tugas bantuan guna percepatan pembangunan nasional dan di daerah.
 

Pesawat tempur TNI-AU akan berpatroli di Kepri

Pesawat tempur TNI-AU akan berpatroli di Kepri
ilustrasi Satu dari dua Thunder flight Sukhoi Su-30MKI dari Skuadron Udara 11 TNI AU saat mengejar dan memaksa turun pesawat terbang Gulfstream IV, yang melanggar kedaulatan udara nasional, Senin (3/11). Peluru kendali Vympel R-73 Archer menjadi senjata penggentar utama dalam misi itu. (Dinas Penerangan TNI AU)
Kunjungan kali ini dalam melakukan patroli udara mengamankan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) di Kepri,"
Pesawat tempur TNI-AU pada Senin hingga Jumat pekan depan melakukan patroli di wilayah udara Kepulauan Riau, kata Komandan Skadron Udara 12 Letkol Pnb Jajang Setiawan di Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang.

"Kunjungan kali ini dalam melakukan patroli udara mengamankan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) di Kepri," kata Jajang, setibanya empat pesawat tempur TNI-AU jenis Hawk 100/200 dan satu Hercules di Bandara RHF setelah terbang beberapa menit di wilayah udara Tanjungpinang.

Patroli itu mengerahkan 66 personei dengan 12 penerbang tempur.

Dia menambahkan operasi udara mulai dilakukan Senin-Jumat pekan depan. Operasi udara untuk pengamanan titik-titik sepanjang ALKI.

Komandan Lanud Tanjungpinang Letkol Pnb I Ketut Wahyu Wijaya mengharapkan kerja sama dengan satuan TNI lainnya dalam melakukan operasi pengamanan ALKI di Kepri.

"Operasi ini penting, karena Kepri merupakan salah satu pintu masuk Indonesia," ujarnya.

Kehadiran empat pesawat Hawk 100/200 dan satu Hercules ke Tanjungpinang mendapat sambutan hangat dari Pemerintah Kota Tanjungpinang.

Wakil Wali Kota Tanjungpinang Syahrul mengatakan operasi udara ini sebagai bentuk komitmen TNI AU dalam menjaga keamanan negara.

"Kami memberi apresiasi kepada TNI AU. Kami mendukung pelaksanaan operasi ini agar dapat memberikan motivasi bagi generasi muda," katanya.

Kondisi Bandara RAF yang masih belum menyediakan lokasi parkir pesawat tersebut, membuat pemerintah melakukan kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Kepri untuk meningkatkan sarana dan prasarana yang masih belum memadai, termasuk memperpanjang landasan pacu.

Lebanon rasakan manfaat kehadiran Kontingen Garuda

Lebanon rasakan manfaat kehadiran Kontingen Garuda
Kesiapan Operasional Batalyon Mekanis TNI Tim COE (Contingent Owned Equipment) UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) menggelar Operational Readiness Inspection (ORI) atau pemeriksaan terhadap kesiapan operasional materiil dan perlengkapan Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-I/Unifil (Indobatt/Indonesian Battalion) di UN Posn 7-1, Adchit Al Qusayr Lebanon Selatan, Senin (2/3). UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) sebagai perwakilan PBB di wilayah Lebanon menuntut seluruh satuan yang dikirimkan negara-negara pengirim atau Troops Contributing Country (TCC) harus memiliki kesiapan operasional sesuai standar yang telah ditetapkan. (ANTARA FOTO/Penerangan Konga XXIII-I/Unifil)
Lebanon sangat berterima kasih atas partisipasi aktif Indonesia dalam UNIFIL, kerena masyarakat setempat merasakan manfaatnya bukan hanya keamanan Lebanon, namun juga kehidupan sosial di lingkungan tempat tugas."
Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri menyatakan kehadiran Kontingen Garuda yang tergabung dalam Pasukan Penjaga Perdamaian PBB (United Nations Interim Force in Lebanon/ UNIFIL) bermafaat bagi warga setempat.

"Lebanon sangat berterima kasih atas partisipasi aktif Indonesia dalam UNIFIL, kerena masyarakat setempat merasakan manfaatnya bukan hanya keamanan Lebanon, namun juga kehidupan sosial di lingkungan tempat tugas," kata Berri dalam pertemuan dengan Dubes RI untuk Lebanon Achmad Chozin Chumaidy, Jumat.

Koordinator Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Beirut, Wendi Budi Raharjo, kepada ANTARA Kairo menjelaskan, pernyataan Ketua Parlemen itu disampaikan ketika menerima Dubes Chozin di kantornya.

Nabih Berri merujuk pada Satuan Tugas Indonesian Battalion (Satgas Indobatt) Kontingen Garuda XXIII-I/UNIFIL yang saat ini menjalankan misi memelihara perdamaian di Lebanon Selatan yang berbatasan dengan Israel.

Kontingen Garuda di bawah pimpinan Letkol Inf Andreas Nanang Dwi tersebut pada Jumat (10/4) pekan lalu dikunjungi oleh Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko.

Berri mengemukakan, rakyat Lebanon tidak akan melupakan jasa-jasa prajurit UNIFIL asal Indonesia yang bertugas di Lebanon.

Dubes Chozin yang baru saja bertugas di Lebanon itu melakukan serangkaiann pertemuan dengan sejumlah pejabat di negara sahabat tersebut untuk memperkenalkan diri, kata Wendi.

Dalam kesempatan itu, Dubes Chozin menyampaikan undangan dari pemerintah Indonesia untuk menghadiri HUT ke-60 Konferensi Asia Afrika di Bandung pada pekan depan.

Nabih Berri menyambut baik undangan tersebut dan menyatakan akan mengirim dua anggota parlemen menghadiri perhelatan akbar Asia Afrika itu, ujar Wendi Budi Raharjo. 
 

Conformal Fuel Tanks, Terobosan Eurofighter Typhoon Untuk ToT di Indonesia

Typhoon-CFT-Al-Ain
Dengan pertimbangan bahwa pemerintahan Presiden Jokowi mencanangkan kepentingan maritim sebagai target utama pembangunan, maka pihak pabrikan yang ingin berkompetisi memenangkan tender pengadaan jet tempur pengganti F-5 E/F Tiger II TNI AU, harus pintar-pintar meracik strategi untuk mencari celah pemasaran yang mengena pada kebutuhan yang bersinggungan dengan elemen maritim. Eurofighter Typhoon bisa jadi contoh menarik, penempur berlabel multirole dan air superiority ini menawarkan solusi yang lumayan lengkap, baik dari sisi adopsi teknologi anyar hingga tawaran produksi komponen Typhoon di dalam negeri.
Meski kodrat jet tempur seperti Typhoon lebih mengedepankan air superiority dan ground attack. Tapi sifatnya yang multirole, ditambah dukungan kapabilitas twin engine menjadikan Typhoon yang telah beroperasi di 20 skadron di tujuh negara amat mumpuni untuk tugas yang jauh dari daratan. Terlebih pilihan senjata yang tersedia cukup lengkap. Mengingat kondisi geografis Indonesia yang demikian luas, kemampuan jarak tempuh (range) dan radius tempur (combat radius) menjadi faktor yang harus benar-benar diperhitungkan dalam memilih jet tempur, terlebih pada tugas intercept. Persoalan range dan combat radius tambah krusial lagi, mengingat pangkalan udara (lanud) yang bisa menjadi tumpuan jet tempur di Indonesia masih terbatas.

Paul Smith, pilot demo Eurofighter Typhoon.
Paul Smith, pilot demo Eurofighter Typhoon.
Estimasi combat radius Typhoon dengan CFT.
Estimasi combat radius Typhoon dengan CFT.

Dalam paparannya kepada Indomiliter.com, Paul Smith, pilot demo Eurofighter Typhoon memberikan simulasi gelar radius tempur Typhoon bila pesawat ini lepas landas dari lanud Iswahjudi – Madiun, lanud Supadio – Pontianak, lanud Hasanuddin – Makassar, dan lanud Roesmin Nurjadin – Pekanbaru. Keempat lanud tersebut merupakan pangkalan utama TNI AU tempat home base dari skadron tempur. Dalam radius tempur (lihat di gambar estimasi), nampak Typhoon dapat menjangkau titik potensial hotspot untuk melakukan intercept yang cukup jauh dari pangkalan. Di sisi selatan, bahkan Typhoon mampu menerobos sisi Australia bagian utara, dan di sisi utara, Typhoon dapat menjangkau daratan Thailand serta meng-coverage hingga wilayah Samudera Hindia.
“Simulasi radius tempur tersebut sudah di kalkulasi tanpa dukungan air refuelling (pengisian bahan bakar di udara),” ujar Paul Smith. Skenario tanpa air refuelling memang perlu dikedepankan, mengigat kemampuan TNI AU amat terbatas untuk menunjang air refuelling. Pasalnya hingga saat ini, TNI AU hanya punya dua unit pesawat tanker tua, yakni KC-130B Hercules di skadron udara 32 yang melayani armada Sukhoi Su-30MK dan Hawk 200. Meski demikian, Smith memastikan Typhoon dapat melaksanakan proses air refuelling dengan KC-130B Hercules lewat hose-drogue pods. Justru gambaran radius tempur Typhoon pada gambar dapat dicapai lewat adopsi CFT (conformal fuel tanks).

Eurofighter Typhoon milik AU Italia laklukan air refuelling dengan KC-130 Hercules.
Eurofighter Typhoon milik AU Italia laklukan air refuelling dengan KC-130 Hercules.

Conformal Fuel Tanks
Ini merupakan terapan solusi bahan bakar modern yang pertama kali diperkenalkan pada jet tempur F-15 C/E Eagle. CFT berupa tanki bahan bakar tambahan yang dipasang pada pundak bodi pesawat, dirancang mengikuti kontur desain, sehingga CFT terlihat menyatu dengan bodi. Dengan adopsi CFT, jarak tempuh dan radius tempur otomatis terdongkrak. Meski pada sisi lain, bobot pesawat ikut naik, ditambah berkurangnya sisi aerodinamis pesawat.
Peran CFT bisa saling melengkapi dengan tanki bahan bakar eksternal (drop tanks) yang bisa ‘dibuang’ saat terbang. CFT punya sisi kelemahan, yakni tak dapat dilepaskan di udara, untuk melepasnya perlu waktu yang tak oleh ground crew, terutama guna melepas sambungan pipa ke bodi pesawat. Keberaan CFT juga bisa melimitasi kapasitas “g” dari pesawat. Meskipun masalah berat tambahan selalu ada, penalti drag dan “g” tidak selalu menjadi isu yang absolut. CFT di pesawat F-15 malah mengurangi drag dan memungkinkan kecepatan maksimum yang lebih tinggi.
Tampilan bodi Typhoon dengan CFT.
Tampilan bodi Typhoon dengan CFT.
Typhoon AU Inggris tanpa CFT
Typhoon AU Inggris tanpa CFT
Varian senjata andalan Typhoon,
Varian senjata andalan Typhoon,
CFT pada F-16 Block 52+.
CFT pada F-16 Block 52+.

Bagaimana dengan CFT di Eurofighter Typhoon? Dengan adopsi dua CFT, dimana setiap CFT dapat memuat 1.500 liter, maka combat radius Typhoon dapat meningkat 25%, tentu tergantung pada konfigurasi persenjataan yang dibawa. Dengan 5 ton bahan bakar, standarnya Typhoon punya jangkauan 2.900 Km. Sementara bicara combat radius, bergantung pada misi yang diemban, semisal antara ground attack dan air defence punya perbedaan yang amat kentara. Di luar adopsi CFT dan air refuelling, dengan membawa 3 drop tanks, Typhoon dapat terbang ferry hingga 3.790 Km.
Nah, komponen CFT inilah yang ditawarkan Eurofighter untuk nantinya bisa diproduksi di PT Dirgantara Indonesia, bila kelak pemerintah memutuskan membeli Typhoon. Produksi CFT bisa jadi skenario yang ditawarkan dalam sistem offset terkait kewajiban ToT (transfer of technology) dari manufaktur. Sayangnya, pihak AU Inggris yang banyak menugaskan Typhoon dalam misi ground attack di Libya, belum menjadikan pemasangan CFT sebagai prioritas.
Tampilan close up kokpit.
Tampilan close up kokpit.
Hardpoint options
Hardpoint options
typhoonpylons
Namun, untuk Indonesia adopsi CFT layak dipertimbangkan, mengingat daya jangkau jet tempur dapat terdongkak tanpa perlu dukungan pesawat tanker. Keunggulan Typhoon lainnya ada di supercruise capability, jet ini dapat terbang menjelajah di kecepatan supersonic tanpa afterburner dengan membawa persenjataan penuh. Di kawasan Asia Tenggara, baru Singapura yang mengusung teknologi CFT, yakni dipasang pada jet tempur F-16 Block 52+.

Sonic Boom
Terkait tugas maritim, semisal untuk misi penindakan yang membutuhkan reaksi cepat. Typhoon punya adonan senjata yang mutakhir hingga low level. Bila yang dihadapi misi anti kapal, Typhoon bisa membawa rudal Harpoon atau RBS-15. Tapi bila yang dihadapi perompak, Typhoon cukup terbang rendah sembari melepaskan sonic boom, dijamin perompak akan kocar kacir. Bila masih membandel, ada kanon Mauser BK-27 kaliber 27 mm yang siap menyalak. (Haryo Adjie)