Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko mengunjungi Prajurit TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas Indonesian Battalion (Satgas Indobatt) Kontingen Garuda XXIII-I/Unifil (United Nations Interim Force in Lebanon) di bawah pimpinan Letkol Inf Andreas Nanang Dwi P., S.IP selaku Komandan Satgas (Dansatgas), bertempat di UN Posn 7-1 Adchid Al Qusayr, Lebanon Selatan, Jumat (10/4/2015).
Kunjungan Panglima TNI ke SatgasIndobatt merupakan rangkaian kegiatan kunjungannya di Lebanon, dengan maksudingin melihat dan mengetahui secara dekat pelaksanaan tugas Prajurit TNI yang tengah melaksanakan tugas sebagai Peacekeepersdalam misi PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) di Lebanon.
Kedatangan
Panglima TNI yang didampingi oleh Asops Panglima TNI Mayjen TNI Indra
Hidayat R., Asintel Panglima TNI Laksda TNI Amri Husaini, Kapuspen TNI
Mayjen TNI M. Fuad Basya, Asops Kasad Mayjen TNI Johny L. Tobing,
Komandan Kontingen Garuda Kolonel Inf Danni Koswara,
beserta rombongan lainnya disambut oleh Dansatgas Indobatt Konga
XXIII-I/Unifil Letkol Inf Andreas Nanang Dwi P, S.IP, didampingi
Wadansatgas Mayor Inf Eko Handono beserta para Prajurit TNI Satgas
Indobatt.
Turut serta dalam penyambutan Panglima TNI di Markas Indobatt, UN Posn 7-1 Adchid Al Qusayr, Lebanon Selatan,yaitu
Komandan Sektor Timur Brigjen Olmos Ruiz dan Wakil Komandan Sektor
Timur Kolonel Kav Yatanabey. Selain itu, kibaran bendera Merah Putih dan
bendera Lebanon dari penduduk setempat dan anak-anak yang berada di
sekitar Area Operasi Indobatt turut pula menyambut kedatangan Panglima
TNI beserta rombongan.
Dalam sambutannya pada acara tatap muka dengan Prajurit TNI Satgas Indobatt,Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldokomenyampaikan terima kasih
atas sambutan yang telah diberikan, dan merasa terkesan dengan
kehadiran para tokoh masyarakat Lebanon Selatan yang turut menyambut
kedatangannya.
“Saya
terkesan dengan kedatangan para tokoh masyarakat maupun agama yang
turut menyambut kedatangan saya beserta rombongan, saya harapkan
hubungan baikdan kerja sama dengan masyarakat Lebanon Selatan yang telah terjalin agar terus di pelihara dengan baik, saya ucapkan terimakasih kepada seluruh prajurit,” ujar Jenderal TNI Moeldoko.
Panglima
TNI juga berpesan, agar Prajurit TNI selalu menjaga nama baik Bangsa
Indonesia dan soliditas para Prajurit TNI khususnya Kontingen Garuda
yang ditugaskan sebagai pasukan perdamaian dimanapun senantiasa
dipelihara. “Dengan soliditas personel dan satuan yang baik, tugas-tugas
mulia yang diemban para Prajurit TNI selama di daerah operasi niscaya
akan dapat dilaksanakan dengan baik pula”, ungkapnya.
Sebelum meninggalkan Markas Indonesian Battalion Kontingen Garuda XXIII-I/Unifil, Panglima TNI berkesempatan meninjau gelar perlengkapan militer dan berfoto bersama seluruh para Prajurit TNI yang sedang melaksanakan tugas sebagai pasukan perdamaian di Lebanon.
|
Sabtu, 11 April 2015
Panglima TNI kunjungi Prajurit TNI Satgas Indobatt di Lebanon Selatan
Jumat, 10 April 2015
5 Pesawat Tempur Terbaik Dunia, Pernah Dimiliki TNI AU
Setelah Perang Dunia II berakhir ditandai dengan menyerahnya Jepang
membuat Indonesia bergerak cepat membangun pertahanan untuk menghadang
kembalinya Belanda ke bumi pertiwi. Usai proklamasi, Indonesia segera
menyita sejumlah pesawat tempur milik Jepang yang ditinggalkan.
Sejak itu, Indonesia menjadi negara kedua di Asia Tenggara yang
memiliki kekuatan pertahanan udara. Saat itu, Indonesia memiliki
sejumlah pesawat tempur, yakni Mitsubishi A6M Zero-Sen, Mitsubishi J2M
Raiden, Nakajima Ki-43 Hayabusa, Nakajima Ki-44 Shoki dan Nakajima Ki-84
Hayate. Indonesia juga menyita pesawat Curtiss P-36 Mohawk, Curtiss
P-40E Warhawk, Supermarine Spitfire, Vought F-4U Corsair milik AU
Belanda.
Penarikan mundur tentara KNIL dari Nusantara membuat Indonesia
memiliki penambahan kekuatan.TNI AU mengambil alih P-51 Mustang, B-25
Mitchell, T-6 Texan, Douglas A-26 Invader, Douglas C-47 Dakota.
Indonesia juga menerima De Havilland DH-115 Vampire dari Inggris dan
sempat dipakai selama beberapa dekade berikutnya.
Kedekatan Indonesia dengan blok timur di bawah Uni Soviet membuat
negeri ini menerima sejumlah pesawat baru dan paling modern. Pesawat
sejenis Mikoyan-Gurevich MiG-15, hingga MiG 21 dimiliki TNI AU hingga
disebut sebagai Macan Asia.
Berikut pesawat tempur terbaik dunia yang pernah dimiliki TNI AU:
MiG-17 Fresco
Mikoyan-Gurevich MiG-17 merupakan salah satu pesawat tempur modern yang dimiliki TNI AU. Kedekatan hubungan membuat Uni Soviet tak keberatan ketika Indonesia berniat membeli 66 unit pesawat ini.
Mikoyan-Gurevich MiG-17 merupakan salah satu pesawat tempur modern yang dimiliki TNI AU. Kedekatan hubungan membuat Uni Soviet tak keberatan ketika Indonesia berniat membeli 66 unit pesawat ini.
Pesawat ini pertama kali terlibat dalam pertempuran udara di Selat
Taiwan dan Perang Vietnam. Dalam kedua pertempuran itu, pesawat ini
membuat pesawat-pesawat tempur yang diterbangkan pilot AS waspada.
MiG-17 Fresco semula dibuat sebagai pesawat tempur serbaguna dengan
pengoperasian siang hari. Pesawat ini juga dapat digunakan sebagai
pesawat tempur-bomber, tetapi daya angkut bom-nya relatif kecil jika
dibandingkan dengan pesawat lain saat itu, dan biasanya membawa tangki
bahan bakar tambahan selain bom.
MiG-17 memiliki panjang 11,26 meter dan lebar sayap 9,63 meter.
Pesawat berbobot kosong 3.919 kg dan bobot maksimal 5.350 kg ini
dilengkapi mesin Klimov VK-1F. Kecepatan pesawat mencapai 1.145 km per
jam pada ketinggian 10.000 kaki dan melesat sampai 2.060 km.
Pesawat varian ini dipersenjatai dua senapan 23mm NR-23 dan satu
senapan 37mm N-37, yang terpasang di bawah intake-udara. TNI AU sendiri
memiliki dua varian pesawat jenis ini, yakni MiG-17F, MiG-17PF. Semua
varian dapat membawa 100 kg bom hingga 250 kg bom. MiG-17PF TNI AU
dilengkapi radar Izumrud-5 (RP-5).
MiG-21 Fishbed
Tak kalah dengan pendahulunya, MiG-21 memiliki panjang 14,5 meter dan lebar sayap 7.154 meter ini memiliki bobot bersih 8.825 kg. Pesawat ini dilengkapi sebuah mesin Tumansky R25-300 yang membuatnya melesat hingga 2.175 km per jam dengan jarak tempuh 1.210 km.
Tak kalah dengan pendahulunya, MiG-21 memiliki panjang 14,5 meter dan lebar sayap 7.154 meter ini memiliki bobot bersih 8.825 kg. Pesawat ini dilengkapi sebuah mesin Tumansky R25-300 yang membuatnya melesat hingga 2.175 km per jam dengan jarak tempuh 1.210 km.
Pesawat ini menjadi pesawat yang paling sukses dibuat Mikoyan, jet
supersonik ini paling banyak populasinya dan banyak digunakan sejumlah
negara dunia. Salah satu fitur yang menonjol adalah biaya produksinya
yang rendah.
NATO, memberikan julukan khusus untuk MiG-21 yakni ‘fishbed’, yang
berarti fosil ikan. Sedangkan pilot Soviet menyebut pesawat ini
‘balalaika’ karena sayapnya yang berbentuk segitiga.
Seperti MiG-17, MiG-21 juga sukses dalam perang Vietnam. Bodinya yang
ramping membuat jet ini mampu bergerak dengan gesit dan lincah. Kondisi
ini membuat armada AS membuat taktik khusus guna menghadapinya, namun
tindakan itu tak membuat MiG-21 kalah dalam pertempuran udara.
Tu-16 Badger
TNI AU menerima 25 unit pesawat bomber Tu-16 Badger dengan varian Tu-16KS-1 pada 1961. Pesawat-pesawat ini sedianya bakal digunakan untuk Operasi Trikora dalam merebut kembali Irian Barat dari Belanda.
TNI AU menerima 25 unit pesawat bomber Tu-16 Badger dengan varian Tu-16KS-1 pada 1961. Pesawat-pesawat ini sedianya bakal digunakan untuk Operasi Trikora dalam merebut kembali Irian Barat dari Belanda.
Salah satu targetnya adalah Kapal Hr Ms Karel Doorman, sebuah kapal
induk AL Belanda yang berlayar dekat Irian Barat. Kapal ini menggunakan
rudal anti-kapal AS-1 Kennel,
14 Unit Tu-16 ditempatkan dalam Skadron 41 dan sisanya di Skadron 42.
Kedua skadron ini bermarkas di Pangkalan Udara AURI Iswahyudi, di
Madiun, Jawa Timur. Semua unit Tu-16 tidak diterbangkan lagi pada tahun
1969 dan keluar dari armada AURI pada tahun 1970.
Tu-16 ini memuat 7 orang kru mulai diperkenalkan pada 1954 dan
berhenti diproduksi tahun 1993. Pesawat berbobot kosong 37.200 kg ini
dilengkapi 2 mesin Mikulin AM-3 M-500 dan mampu melesat hingga 1.050 km
per jam, serta mampu menjelajah sampai 7.200 km.
Pesawat ini dilengkapi 6-7 meriam Afanasev Makarov AM-23 23 mm, dan
rudal jenis Raduga KS-1 Komet (AS-1 Kennel), Raduga K-10S (AS-2 Kipper)
anti-kapal, atau Raduga KSR-5 ( AS-6 Kingfish ) anti-kapal. Dalam misi
pengeboman, Tu-16 mampu membawa 9.000 kg bom menuju target. Pesawat
inilah yang dulu sempat membuat Australia ketar-ketir.
North American B-25 Mitchell
Pesawat pembom bermesin kembar kelas menengah ini dibuat North American Aviation dan banyak digunakan sejumlah angkatan udara sekutu. Pesawat ini sering digunakan dalam berbagai misi pemboman udara selama berlangsungnya Perang Dunia II dan tetap digunakan selama dua dekade.
Pesawat pembom bermesin kembar kelas menengah ini dibuat North American Aviation dan banyak digunakan sejumlah angkatan udara sekutu. Pesawat ini sering digunakan dalam berbagai misi pemboman udara selama berlangsungnya Perang Dunia II dan tetap digunakan selama dua dekade.
TNI AU mendapatkan pesawat ini secara gratis dari tangan Angkatan
Udara Belanda (RNLAF). Bersama 26 Invader, keduanya menjadi kekuatan
inti dari Skadron 1 AURI.
Di bawah Skadron 1, kedua pembom B-25 dan B-26 bertugas sebagai
pembom taktis. Tugasnya adalah membantu operasi darat dan Taut. Karena
semakin meningkatnya intensitas konflik horizontal di dalam negeri,
permintaan dukungan dari Skadron 1pun semakin meningkat.
Tidak lama setelah diterima AURI, B-25 langsung ditugaskan untuk
menjalani sejumlah operasi militer di seluruh Tanah Air. termasuk
pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS), PRRI/Permesta hingga
mendukung Operasi Seroja yang berlangsung pada 1975.
Secara spesifikasi, pesawat ini diawaki enam orang kru. Bermesin
Wright R-2600-92 Twin Cyclone 14-silinder air-cooled radial engine, B-25
mampu melesan hingga 272 mph, atau 438 km per jam.
Pesawat ini dilengkapi senapan mesin kaliber 12.7 mm dan kanon T13E1
kaliber 74 mm, serta high velocity aircraft rockets (HVAR) kaliber 127
mm. Bom yang dapat dibawa mencapai 1.360 kg.
A-4 Skyhawks
Pembelian pesawat ini bermula dari memburuknya hubungan Indonesia dengan Uni Soviet di era Orde Baru, alhasil spareparts untuk memperbaiki Il-28 Beagles dan Tu-16 Badgers disetop. Untuk menggantikannya, TNI AU mengincar A-4 Skyhawks dari Amerika Serikat, namun ternyata negara ini hanya mampu memberikan sedikit, sedangkan kebutuhan armada sangat banyak.
Pembelian pesawat ini bermula dari memburuknya hubungan Indonesia dengan Uni Soviet di era Orde Baru, alhasil spareparts untuk memperbaiki Il-28 Beagles dan Tu-16 Badgers disetop. Untuk menggantikannya, TNI AU mengincar A-4 Skyhawks dari Amerika Serikat, namun ternyata negara ini hanya mampu memberikan sedikit, sedangkan kebutuhan armada sangat banyak.
Indonesia lantas memutuskan untuk membeli pesawat tersebut dari
Israel meski tak memiliki hubungan diplomatik sekalipun. Alhasil,
pesawat ini berdinas sejak 1982 hingga dipensiunkan pada 2003. Pada
tahun itu, TNI AU menggantinya dengan dua unit Su-27SK dan dua unit
Su-30MK dari Rusia.
Dengan mengandalkan mesin Pratt & Whitney J52-P8A turbojet,
pesawat ini mampu melesat dengan kecepatan 1.077 km per jam dan menempuh
jarak hingga 3.220 km. Tak heran jika TNI AU sempat menampilkan
kecanggihan pesawat ini dalam serangkaian acara aerobatik udara.
Dalam pertempuran, A-4 Skyhawk dapat mengangkut 2 unit kanon Colt Mk
12 kaliber 20 mm yang mampu menembakkan 100 peluru, menembakkan roket Mk
32 Zuni. Pesawat ini juga dapat membawa AIM-9 Sidewinder, AGM-12
Bullpup, AGM-45 Shrike anti-radiation missile, AGM-62 Walleye TV-guided
glide bomb, dan AGM-65 Maverick.
Sedangkan bom yang dapat diangkut jet tempur ini antara lain
Rockeye-II Mark 20 Cluster Bomb Unit (CBU), Rockeye Mark 7/APAM-59 CBU,
Mark 80 series of unguided bombs, B43 nuclear bomb, B57 nuclear bomb dan
B61 nuclear bomb. (Merdeka.com).
Hawk MK.53: Perjalanan dari Jet Latih, Penempur Taktis Hingga Andalan Tim Aerobatik TNI AU
Pasca berakhirnya pengabdian singkat jet latih Aero L-29 Delfin pada
masa revolusi 1965, praktis TNI AU kehilangan sosok jet latih lanjut
untuk melatih kader penerbang tempurnya. Dan seiring berubahnya haluan
politik di Indonesia, maka poros pengadaan alutsista pun bergeser dari
Eropa Timur ke AS dan Eropa Barat (NATO).
Kekosongan di lini jet latih lanjut nyatanya mendapat perhatian
serius di era Soeharto. Lewat kontrak yang ditandatangani oleh KSAU
Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi dan wakil pabrik British Aerospace pada
1978, Indonesia resmi memesan 20 unit jet latih lanjut Hawk MK.53 dari
Inggris.
Dua unit perdana Hawk MK.53 tiba dari Inggris tahun 1980, dan
memperkuat Skadron Pendidikan (Skadik) 103 Lanud Adisutjipto,
Yogyakarta. Dua pesawat ini bernomer ekor LL-5301 dan LL-5302. Kedua
pesawat mendarat dengan mulus di Lanud Halim Perdanakusuma pada 29
September 1980. Kode LL di ekor pesawat menyiratkan “Latih Lanjut.”
Kemudian seiring reorganisasi TNI AU pada Januari 1985, Hawk MK.53
mendapat ‘promosi’ dengan masuk di jajaran Wing Tempur 300 yang
berkedudukan di Lanud Iswahjudi, Madiun. Rumah baru Hawk MK.53 pun
berganti menjadi Skadron Udara 15. Selain tetap mengemban peran latih
lanjut bagi calon penerbang tempur, Hawk MK.53 juga mengemban peran
sebagai pesawat berlabel TT (Tempur Taktis).
Meski menyandang label TT, sejatinya kemampuan tempur Hawk MK.53 amat
terbatas, maklum kodrat aslinya memang sebagai pesawat latih. Meski
begitu, Hawk MK.53 mampu dipasangi kanon eksternal ADEN 30 mm di bawah
body, roket FFAR
dan bom ringan pada sayapnya. Singkat kata, Hawk MK.53 lumayan untuk
misi serang darat terbatas. Perlu dicatat, varian Hawk MK.53 tidak
dipersiapkan untuk membawa rudal udara ke udara sekelas AIM-9 Sidewinder.
Sebagai pesawat latih, keluarga Hawk dikenal memberikan kenyamanan
kepada para penerbang. Hawk amat cocok digunakan untuk pengenalan basic
training di jet tempur. Desain sayapnya yang swept wing, menambah
fleksibilitas dalam melakukan manuver di udara. Untuk menunjang
keselamatan, pesawat dilengkapi zero zero rocket boosted ejection seat Martin Baker MK.10, dan dapat digunakan saat pesawat masih ada di landasan. Kanopinya dibekali Miniatur Detonating Cord
(MDC) sebagai pemecah kanopi, menjadikan proses penyelamatan lebih
sempurna. Sementara untuk urusan mesin, Hawk mengusung Rolls Royce Adour
Turbofan dengan sistem modular, alhasil untuk pemeliharaan jadi lebih
ringan.
Berikut beberapa warna yang pernah digunakan pada Hawk MK.53 TNI AU
Andalan Tim Aerobatik TNI AU
Keberadaan Hawk MK.53 juga mewarnai kebangkitan tim aeroabatik TNI AU. Dimulai dengan “Spirit 85” yang tampil perdana pada HUT ABRI 1985 di Kemayoran. Kemudian formasi tim aerobatic melebur dan kembali hidup kembali pada dekade 90-an dengan nama JAT (Jupiter Aerobatic Team). Kini JAT tetap eksis melakukan atraksi aerobatk, namun tak lagi mengandalkan pesawat jet, melainkan dengan pesawat turbo propeller KT-1B Wong Bee buatan Korea Selatan.
Keberadaan Hawk MK.53 juga mewarnai kebangkitan tim aeroabatik TNI AU. Dimulai dengan “Spirit 85” yang tampil perdana pada HUT ABRI 1985 di Kemayoran. Kemudian formasi tim aerobatic melebur dan kembali hidup kembali pada dekade 90-an dengan nama JAT (Jupiter Aerobatic Team). Kini JAT tetap eksis melakukan atraksi aerobatk, namun tak lagi mengandalkan pesawat jet, melainkan dengan pesawat turbo propeller KT-1B Wong Bee buatan Korea Selatan.
Hingga tahun 2011, dari 20 unit Hawk MK.53 yang dibeli Indonesia,
hanya tinggal beberapa unit saja yang beroperasi. Dalam keseharian,
hanya satu atau dua pesawat saja yang terbang akibat suku cadang yang
sudah langka, dan masa pakai pesawat yang sudah mendekati purna tugas.
Kemudian pada Kamis, 12 Maret 2015 menjadi momen bersejarah dan
mengharukan. Dalam cuaca yang sejuk, 2 unit Hawk MK.53 yang tersisa akan
melakukan penerbangan terakhir (last glight) dari Lanud Iswahjudi ke
Lanud Adisutjipto. Dimana nantinya Hawk MK.53 akan menjadi penghuni baru
bagi Museum Dirgantara Mandala, menambah semarak heterogen koleksi
museum, Hawk MK.53 akan berdampingan bersama A4-Skyhawk dan pembom Tu-16 Badger. (Bayu Pamungkas)
Spesifikasi Hawk MK.53
– Pabrik : British Aerospace
– Awak : 2 orang
– Panjang : 11,85 meter
– Rentang sayap : 9,39 meter
– Tinggi : 4,10 meter
– Berat kosong : 3.628 Kg
– Berat maksimum : 7.750 Kg
– Mesin : Rolls Royce/Turbomeca Adour
– Kecepatan max : 1.2 Mach
– Ketinggian max : 13.565 meter
– Jarak jelajah : 2.520 Km
– Kecepatan menanjak : 47 meter per detik
– Pabrik : British Aerospace
– Awak : 2 orang
– Panjang : 11,85 meter
– Rentang sayap : 9,39 meter
– Tinggi : 4,10 meter
– Berat kosong : 3.628 Kg
– Berat maksimum : 7.750 Kg
– Mesin : Rolls Royce/Turbomeca Adour
– Kecepatan max : 1.2 Mach
– Ketinggian max : 13.565 meter
– Jarak jelajah : 2.520 Km
– Kecepatan menanjak : 47 meter per detik
Rabu, 08 April 2015
Pindad PM-2: Generasi Sub Machine Gun dengan Sentuhan Senapan Serbu
Meski sebagian besar berstatus prototipe, PT Pindad terbilang gigih
dalam meluncurkan berbagai inovasi alutsista, salah satu segmen yang
cukup kentara adalah pengembangan senjata perorangan, terkhusus di lini
Sub Machine Gun (SMG). TNI dan Polri memang familiar dengan beragam SMG
besutan luar negeri, sebut saja Daewook K7 dan keluarga H&K MP5 yang
melegenda. Namun sebagai BUMN strategis, adalah keharusan bagi Pindad
untuk terus menciptakan terobosan-terobosan baru.
Setelah kurang berhasil dalam pemasaran PM-1, karena paling banter
hanya dibuat ke versi PM-1A1 ‘forest guard gun’ untuk para penjaga hutan
(Korps Jagawarna), masih di kaliber 9 mm, Pindad kemudian bangkit
dengan merilis desain orisinil untuk generasi SMG keduanya. Sesuai tren,
SMG generasi baru yang diberi label PM-2 dibangun dengan memanfaatkan
receiver SS-2, bahkan Pindad sentuhan Daewook K7 pada desain final PM-2.
Pada awalnya muncul tiga prototipe PM-2, yakni mulai dari PM-2V1,
PM-2V2, dan PM-2V3. Untuk PM-2V1 dan PM-2V2 terlihat mengadopsi bentuk
receiver konvensional, sementara PM-2V3 menggunakan pengokang depan ala
HK MP5, hingga varian ini RIS (Rail Interface System) Picatinny, mirip
dengan yang digunakan pada SS-1 R5. Dengan adanya RIS, maka senjata ini
dapat dipasangi perangkat optical sight.
Pindad juga menawarkan beragam jenis popor untuk PM-2. Mulai dari
popor lipat besi ala SS-1 yang diperpendek, hingga model popor
teleskopik empat posisi yang mencomot carabine M4. Karena menggunakan
kaliber 9 mm, Pindad melakukan perubahan minor, diperlihatkan dengan
mengubah ukuran lubang magasin 5,56 mm. Ini memberi pengaruh positif
pada rigiditas magasin, meski bibir lubang magasin lebih dipertebal agar
penembak dapat memasukan magasin lebih mudah.
Lebih detail, pada bagian tiang pejera dilinndugi cincin alias ghost
ring, sementara pisirnya menganut model diopter biasa. Pada komponen
dalam, PM-2 masih menganut mekanisme blowback yang sederhana. Menganut prinsip low velocity, Pindad merancang PM-2 dengan beberapa pilihan amunisi, diantaranya:
MU-1TJ : Peluru standar NATO tipe 9 x 19 mm FMJ
MU-1M : Peluru high accuracy, dibuat dengan kontrol kualitas yang lebih baik.
MU-1S : Peluru subsonic, dibuat khusus untuk operasi senyap.
MU-1H : Peluru hampa, dibuat berbentuk crimp (bintang) dilapisi lilin untuk menahan mesiu di dalamnya.
MU-1K : Peluru karet, untuk operasi anti huru hara.
MU-1M : Peluru high accuracy, dibuat dengan kontrol kualitas yang lebih baik.
MU-1S : Peluru subsonic, dibuat khusus untuk operasi senyap.
MU-1H : Peluru hampa, dibuat berbentuk crimp (bintang) dilapisi lilin untuk menahan mesiu di dalamnya.
MU-1K : Peluru karet, untuk operasi anti huru hara.
Spesifikasi Pindad PM-2
– Tahun rilis : 2007
– Kaliber : 9 x 19 mm
– Sistem operasi : blowback
– Panjang total : 625 mm (popor terentang), 417 mm (popor terlipat)
– Panjang laras : 195 mm
– Bobot kosong : 2,9 Kg
– Jarak tembak efektif : 150 meter
– Kecepatan tembak : 550 peluru per menit
– Kecepatan proyektil : Peluru MU-1TJ (380 meter/detik), MU-S (300 meter/detik)
– Magasin : 32 peluru
– Tahun rilis : 2007
– Kaliber : 9 x 19 mm
– Sistem operasi : blowback
– Panjang total : 625 mm (popor terentang), 417 mm (popor terlipat)
– Panjang laras : 195 mm
– Bobot kosong : 2,9 Kg
– Jarak tembak efektif : 150 meter
– Kecepatan tembak : 550 peluru per menit
– Kecepatan proyektil : Peluru MU-1TJ (380 meter/detik), MU-S (300 meter/detik)
– Magasin : 32 peluru
Fasilitas Produksi Kapal Selam Indonesia Dibangun
Pemenuhan Kapal Selam oleh Pemerintah Indonesia untuk pengamanan
batas wilayah laut Indonesia terlaksana dengan pembelian 3 kapal selam
dari Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering, Korea Selatan (DSME)
oleh Kementerian Pertahanan RI. Pembelian kapal selam turut disertai
Transfer of Technology yang melibatkan sekitar 206 personil PT PAL
INDONESIA, untuk mempelajari produksi kapal selam di Korea. Hal ini
sejalan dengan implementasi Undang-Undang 16 Tahun 2012 tentang Industri
pertahanan, dimana PT PAL INDONESIA diberikan mandat untuk dapat secara
mandiri memproduksi kapal selam bagi Indonesia.
Groundbreaking Pembangunan Fasilitas produksi Kapal Selam dihadiri
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Asisten Deputi Usaha Industri Agro dan
Industri Strategis Kementerian BUMN, Kapusada Baranahan Kementerian
Pertahanan, Tim Pelaksana KKIP, Perwakilan Daewoo Logistics, Direktur
Utama PT Waskita Karya (Persero), Jajaran Dewan Komisaris dan Direksi PT
PAL INDONESIA, serta para Insan PAL yang mengikuti TOT kapal selam.
Pemancangan tiang pancang pertama (Groundbreaking) fasilitas produksi
kapal selam ini, sebagai tanda dimulainya pekerjaan konstruksi di lokasi
proyek pembangunan fasilitas kapal selam yang letaknya di area sekitar
dermaga divisi Pemeliharaan dan Perbaikan (Harkan) PT PAL INDONESIA.
Direktur Utama PT PAL INDONESIA, M. Firmansyah Arifin menyampaikan,
sesuai amanah yang diberikan oleh pemerintah melalui keputusan KKIP No.
SKEP/04/KKIP/XII/2012 tanggal 20 Des 2012 tentang penguasaan teknologi
kapal selam, maka PAL INDONESIA telah melakukan 2 kegiatan yakni
penyiapan SDM melalui TOT dan juga pembangunan fasilitas produksi kapal
selam. Tak lupa juga disampaikan terima kasih kepada Komisi 1 dan komisi
6 DPR RI, Kementerian Pertahanan, Kementerian BUMN, Kementerian
Keuangan, dan partner-partner strategis yang turut serta.
Pada kesempatan ini, Laksamana TNI (Purn) Sumardjono selaku Ketua
Pelaksana KKIP menyampaikan beberapa kajian penting ; ”Kita berharap
program ini dapat memberikan dampak positif baik dalam aspek ekonomi,
aspek politik, pengembangan kekuatan TNI, maupun bagi pengembangan
industri pertahanan di Indonesia,” ucapnya lantang. Acara ini bukan
sekedar ceremonial biasa tetapi harus dapat kita jadikan sebagai
momentum kebangkitan industri pertahanan dalam pemenuhan alutsista
terutama untuk kapal kombatan.
Kapusada Baranahan Kementerian Pertahanan, Laksamana Pertama
Listyanto memberikan arahan agar proyek pembangunan kapal selam ini
dapat berjalan tepat waktu. Disampaikan juga mengenai permenhan yang
sedang tahap finalisasi, bahwa seluruh kegiatan harus mengacu pada
kebutuhan gelar di lapangan. Jadi akan ditarik mundur sejak kapan
penyiapan dokumen, dana dari dimulainya proses pembangunan. Hal ini
dirasa penting, agar proyek-proyek yang akan dikerjakan dapat dimulai
dan selesai tepat waktu.
Pembangunan ini bersinergi dengan BUMN Karya, yakni PT Waskita Karya
(Persero) yang siap membangun fasilitas produksi kapal selam dengan luas
area 170 m x 110 m yang terdiri dari Bengkel utama dan Bengkel
Pendukung dengan kapasitas 2.000 ton. Selain untuk pembangunan kapal
selam, bengkel ini juga akan digunakan sebagai tempat pemeliharaan dan
perbaikan nantinya. Pembangunan fasilitas produksi Kapal Selam selain
perwujudan dari pemenuhan rencana strategis pertahanan, juga sebagai
pusat riset dan pengembangan teknologi untuk penguasaan sumber daya
kelautan.
Produksi kapal selam akan menandai penguasaan teknologi termodern
oleh putra-putri bangsa dalam pembangunan kapal bawah air sebagai wujud
kebangkitan program kemandirian bangsa dalam mempertahankan dan
mengamankan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Produksi ini
akan menjadi kapal pertama karya putra-putri bangsa sebagai hasil dari
kerjasama teknologi dengan Korea Selatan.
Acara diakhiri dengan peninjauan lokasi fasilitas produksi kapal
selam, yang kemudian dilanjutkan dengan laporan progress pembangunan
kapal selam oleh PT PAL INDONESIA pada Tim Pelaksana KKIP yang
dilaksanakan di gedung PIP lantai IV. (pal.co.id)
Tahun ini, Kodam XVIII Kasuari Terbentuk
Pangdam
XVII Cendrawasih, Mayjen TNI Fransen G. Siahaan didampingi Asintel
Kasdam XVII Cenderawasih, Kol Inf Immanuel Ginting dalam keterangan pers
di Makodam Cenderawasih, Kamis (29/1/2015) (Alfian Kartono)
Dalam waktu dekat Pemerintah Pusat membentuk Komando
Daerah Militer (Kodam) yang baru di Provinsi Papua Barat, terpisah dari
Kodam XVII Cenderawasih Papua. Panglima Kodam XVII/ Cenderawasih, Mayjen
TNI Fransen G Siahaan mengatakan pembentukan Kodam Papua Barat sudah
mendapat persetujuan dari Presiden Joko Widodo.
Menurut Fransen, pembangunan Markas Kodam sedang dibangun dan diperkirakan selesai akhir 2015.
“Kodam Papua Barat, akan diberi nama Kasuari dan harapannya Panglima
Kodam XVIII/ Kasuari nantinya berasal dari putra asli Papua. Saat ini
ada 2 putra Papua yang berpangkat jenderal TNI dan seorang lagi
berpangkat Kolonel,” jelas Fransen dihadapan peserta Musrembang Provinsi
Papua Barat di Manokwari, Papua Barat, Selasa (7/4/2015).
Dijelaskan Fransen, setelah terbentuk Kodam XVIII/ Kasuari akan
membawahi Komando Resor Militer (Korem) 171/ Praja Wira Tama yang
berkedudukan di Sorong dan Korem 173/ Praja Wira Braja yang berkedudukan
di Biak.
“Untuk pembentukan Kodim dan Koramil akan mengikuti Kodam baru ini.
Saat ini kami pun sedang menyiapkan personil yang akan bertugas di Kodam
Papua Barat,” ungkap Fransen.
Saat kunjungan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jendral TNI Gatot
Nurmantyo ke Manokwari, Papua Barat, beberapa waktu lalu, mengungkapkan
rencana pembangunan Markas Kodam Papua Barat di lokasi Markas Kompi C
dan D Kodim 1703 Manokwari di Kelurahan Arfai, Distrik Manokwari
Selatan, Kabupaten Manokwari. Sementara untuk Markas Kompi C dan D Kodim
1703 Manokwari akan dipindahkan ke Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari
yang sebelumnya merupakan lahan yang diperuntukkan untuk pembangunan
Markas Kodam dari Pemerintah Provinsi Papua Barat. (Kompas.com).
KSAD : Australia Dorong Timor Timur Merdeka, Incar Minyak
Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Gatot
Nurmantyo, mengungkapkan motif di balik sikap Australia yang membantu
Timor Timur merdeka dari Indonesia dan kemudian menjadi negara Timor
Leste pada 20 Mei 2002.
Australia, kata Gatot Nurmantyo, mengincar cadangan minyak dan gas di
lepas pantai Laut Timor atau dikenal dikenal dengan Celah Timor.
Australia ingin menguasai cadangan minyak yang melimpah di Celah Timor.
“Itu adalah bentuk proxy war (perang dengan memanfaatkan pihak
ketiga). Australia saat itu membantu Timor Timur untuk lepas dari
Indonesia. Itu diakui Xanana Gusmao (Perdana Menteri Timor Leste), bahwa
Australia ada di balik lepasnya Timor Timur,” ujar Gatot dalam acara
pertemuan Forum Pimpinan ?Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur di
Malang, Selasa, 7 April 2015.
Celah Timor adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kawasan
perairan antara Pulau Timor, Indonesia dan Australia. Batas laut antara
Australia dan Indonesia dinegosiasikan pada tahun 1972. Namun bagian
batas itu masih dalam perselisihan karena Portugal yang waktu itu
mengklaim wilayah atas Timor Leste memutuskan untuk membatalkan
mengikuti negosiasi.
Namun Timor Leste belum menentukan batas perairannya dengan negara
tetangganya, Indonesia dan Australia. Negosiasi dimulai sejak tahun
2002. Meski sejumlah persetujuan interim, batas-batas perairan yang
permanen belum ditentukan.
Australia dan perusahaan minyak internasional dituduh menekan Timor
Leste untuk menerima formula bagi-hasil minyak. Timor Leste dan
Australia menandatangani traktat pada Januari 2006 namun belum
diratifikasi oleh negara lain hingga delapan bulan ke depan.
(Viva.co.id).
Langganan:
Komentar (Atom)