Kamis, 26 Februari 2015

Demi Keselamatan, Tatang Sniper Hidup di 'Bawah Tanah' Selama 25 Tahun

Demi Keselamatan, Tatang Sniper Hidup di Bawah Tanah Selama 25 Tahun 
 Tatang Koswara (detikcom)
 
Kini, jejak hidup Tatang Koswara (68) terungkap. Selama hampir 25 tahun, ia menyimpan kisahnya sendiri. Ia mengaku identitasnya selama ini tidak pernah ia ungkap. Pengalaman di Timor Timur, kini Timor Leste, sebagai sniper, tak pernah ia bagi pada siapa pun, termasuk anak dan istrinya.

"Anak istri saya hanya tahu saya pernah ke Timor Timur. Soal di sana saya jadi sniper, tidak tahu," katanya saat berbincang dengan detikcom di Jalan Lombok, Rabu (25/2/2015).

Menurutnya keluarga mengetahuinya belum lama ini, setelah muncul buku 'Sniper Training, Techniques and Weapons' karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000. "Itu juga mereka enggak tahu semuanya, sekarang saja saya ini banyak cerita ke media, jadi mereka tahu," ujar Tatang.

Saat detikcom meminjam KTP-nya untuk difoto, Tatang secara halus menolak. "Saya enggak bisa nunjukin, ini saya sebenarnya masih rahasia. Saya juga ini bingung boleh enggak bicara ke media," katanya.

Pada saat awal-awal kepulangannya dari Timor Leste, Tatang mengaku khawatir identitasnya terungkap, ada pihak yang dendam padanya. "Kalau sekarang kan sudah 25 tahun lebih, ya mungkin tidak apa-apa," ujar Tatang.

Usia Tatang memang sudah tidak muda lagi. Namun ia mengingat detail bagaimana saat ia bertempur dulu. Saat ia harus masuk ke benteng pertahanan musuh seorang diri, untuk mengacaukan kondisi musuh. "Wilayah kekuasan sniper itu bukan di belakang pasukan atau bersama pasukan, tapi harus berada di wilayah musuh," tutur Tatang.

Tatang masuk tentara melalui jalur tamtama di Banten pada 1966. Kala itu sebetulnya dia cuma mengantar sang adik, Dadang, yang ingin menjadi tentara. Tapi karena saat di lokasi pendaftaran banyak yang menyarankan agar dirinya ikut, dia pun mendaftar. Saat tes, ternyata cuma dia yang lulus.

Meski punya ijazah Sekolah Teknik (setara SMP), Tatang melamar sebagai prajurit tamtama menggunakan ijazah SR (Sekolah Rakyat) atau Sekolah Dasar. Selang beberapa tahun ia mengikuti penyesuaian pangkat sesuai ijazah yang dimiliknya itu. Sebagai bintara, ia ditempatkan di Pusat Kesenjataan Infantri (Pusenif). Di sana pula ia mendapatkan mengikuti berbagai pelatihan, mulai kualifikasi raider hingga sniper.
 

Aksinya Sebagai Sniper akan Difilmkan, Tatang Menolak dan Mengaku Sipil

 Puluhan tahun, Tatang Koswara (68), tak mengungkapkan jati dirinya baik pada keluarga maupun kerabat dan kenalannya. Pada 1977-1978 dia beroperasi sebagai sniper di Timor Timur, kini Timor Leste. Ada lebih dari 40 orang yang menjadi korban tembakannya. Meski ia menyembunyikan rapat-rapat soal siapa dirinya, ada seseorang yang mengaku produser menawarkan kisahnya dijadikan sebuah film.

"Jadi pernah ada yang datang ke rumah, bilang tahu kalau saya ini sniper. Ia tertarik mengangkat kisah saya jadi film. Saya dengarkan saja omongan dia. Setelah dia selesai bicara, saya bilang, saya mah bukan sniper, bapak salah orang. Saya mah sipil, bukan tentara," kisah Tatang saat berbincang dengan detikcom di Jalan Lombok, Rabu (25/2/2015).

Tatang mengaku terus berkilah kalau ia bukan lah Tatang sniper yang dimaksud orang itu. "Saya bilang mungkin yang bapak cari Tatang di tempat lain, itu ada di Kostrad yang juga jago tembak," ceritanya sambil tertawa.

Menurut Tatang rupanya orang yang mengaku sebagai produser itu melihat twitter cucunya, Yoga. Cucu laki-lakinya itu sempat berkicau soal dirinya.

"Jadi kan saya sudah tahu kalau kakek sempat di Timor Leste. Iseng browsing, eh ternyata lagi ramai soal buku itu (Sniper Training, Techniques and Weapons karya Peter Brokersmith). Ya saya tweet, kalau itu kakek saya. Ya saya bangga," ujar Yoga, yang ikut bersama Tatang saat wawancara.

"Kejadiannya baru-baru ini," tambah Tatang yang mengaku lupa persisnya bulan apa dan tahun berapa.

Tatang mengaku tiga kali menjalankan misi ke Timor Leste pada periode 1977-1978. Ia mengaku tak pernah lama di sana, maksimal sekitar enam bulan. "Enam bulan di sana, terus pulang. Lalu ke sana lagi," ungkapnya.

Selama beroperasi di sana, lebih dari 40 fretilin yang menjadi sasaran tembaknya. Nama Tatang tercatat dalam buku 'Sniper Training, Techniques and Weapons' karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang berada di urutan ke-14 sniper hebat dunia.
 

Kisah Supersemar dan Soekarno ngamuk di Istana Bogor

soekarno. ©2013 Merdeka.com
Di balik kemegahannya, Istana Bogor menyimpan sejarah yang dramatis tentang sebuah perpindahan kekuasaan. Turunnya Surat Perintah 11 Maret atau yang dikenal dengan Supersemar menjadi titik balik berkuasanya Soeharto menggantikan Soekarno. Ada tiga jenderal yang ikut berperan mendalangi turunnya Supersemar. Siapa saja tiga jenderal tersebut? Bagaimana kisah dramatis yang terjadi di Istana Bogor waktu itu?
Hari itu, Jumat tanggal 11 Maret 1966, waktu menunjukkan pukul 13.00 di Istana Bogor. Terdengar deru helikopter mendarat di lapangan istana. Ternyata tiga orang jenderal angkatan darat (AD) datang untuk menemui Soekarno. Ada yang mengatakan mereka datang mengendarai jeep yang dikemudikan oleh Brigjen Muhammad Jusuf yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Perindustrian. Dua jenderal lainnya, yaitu Mayjen Basuki Rachmat (Menteri Veteran dan Demobilisasi) dan Brigjen Amir Mahmud (Panglima Kodam Jaya).
Soekarno sedang istirahat saat trio jenderal datang. Hari itu memang bukan hari yang menggembirakan bagi Soekarno. Tidak seperti biasanya, dia datang ke Istana Bogor lebih awal. Soekarno pergi meninggalkan rapat kabinet di Jakarta menuju Bogor dengan tergesa-gesa. Brigjen Saboer, pengawal dan ajudan kepercayaan Soekarno, melaporkan adanya kericuhan dan pasukan liar mendekati istana. Padahal sebelumnya, Amir Mahmud yang dipercaya untuk mengamankan rapat, melaporkan situasi dalam kondisi aman.
Kejadian tersebut yang memunculkan inisiatif dari Basuki Rachmat dan Jusuf untuk menemui Soekarno di Bogor. Meskipun kedua menteri ini hadir dalam rapat kabinet di Istana Merdeka, tapi mereka tidak tahu menahu mengenai laporan berbeda hingga memunculkan ketegangan antara Saboer dan Amir Mahmud. Sebelum berangkat ke Bogor, trio jenderal sempat menemui Soeharto di Jalan Haji Agus Salim. Waktu itu Soeharto yang telah diangkat Soekarno sebagai Panglima Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, sedang dalam kondisi sakit. Soeharto kemudian mengizinkan ketiganya untuk menemui Soekarno dan menitipkan pesan, Saya bersedia memikul tanggungjawab apabila kewenangan untuk itu diberikan kepada saya untuk melaksanakan stabilitas keamanan dan politik berdasarkan Tritura.
Di balik kedatangan tiga jenderal itu ternyata ada maksud lain. Mereka meminta Soekarno agar memberikan kewenangan penuh kepada Soeharto untuk mengamankan kondisi negara. Berdasarkan pengakuan Lettu Sukardjo, pengawal presiden yang berjaga waktu itu, suasana nampak tegang. Antara tiga jenderal dan Soekarno terlibat adu argumen tentang isi surat kewenangan yang akan diberikan kepada Soeharto. Bahkan Sukardjo mengatakan sempat terjadi todong-todongan senjata antara dirinya dan trio jenderal.
Karena berbagai desakan yang muncul, akhirnya Soekarno menandatangani surat kewenangan untuk Soeharto. Surat itu yang kemudian dikenal dengan nama Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966. Berbekal SP 11 Maret, Soeharto setapak melangkah lebih depan menuju kekuasaan. Dia tampil sebagai pahlawan kesaktian Pancasila yang telah membasmi bahaya komunis dari Tanah Air. Maka setahun pasca keluarnya Supersemar, Soeharto mengubah Indonesia dari era Orde Lama menuju era Orde Baru. Tepat pada tanggal 22 Februari 1967, Soekarno menyerahkan nakhoda pemerintahan Indonesia kepada Soeharto.
Setelah runtuhnya kekuasaan Soeharto, banyak yang mengungkap mengenai kisah di balik munculnya Supersemar. Butir-butir di dalam Supersemar ternyata disalahtafsirkan Soeharto sebagai penyerahan wewenang pimpinan pemerintahan. Ada pula yang meragukan mengenai keaslian dari Supersemar yang dipegang Soeharto dengan yang diberikan oleh Soekarno. Salah satu dari trio jenderal itu diduga menyimpan naskah asli Supersemar. Sayangnya, ketiga jenderal tersebut sudah mangkat dan Supersemar yang asli masih menjadi misteri.
Di balik itu semua, Istana Bogor telah menjadi saksi berbagai sejarah yang akan terekam di dinding-dinding bangunan megah itu sepanjang masa. Istana yang seharusnya menjadi pengingat bagi setiap orang yang singgah atau sekadar melihat rusa-rusa cantik di sana. Istana yang dibangun bukan hanya sebagai penghias kota Bogor. Tapi ia sebuah bangunan yang harusnya menyadarkan kita agar jangan pernah melupakan sejarah. Istana Bogor, sebuah istana yang kini dipilih oleh Presiden Jokowi sebagai tempat utama untuk mengatur pemerintahan Indonesia. (Merdeka)

Rabu, 25 Februari 2015

Kata TNI AD Soal Tatang ‘Indonesian Sniper’ yang Kini Hidup Buka Warung

  Tatang Koswara
Tatang Koswara

Tatang Koswara satu-satunya sniper Indonesia yang diakui dunia. Namun Pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu) membuat uang pensiunnya tak besar. Kakek tujuh orang cucu ini pun membuka warung makan di lingkungan Kodiklat TNI AD di Bandung. Apa kata TNI AD soal jalan hidup Tatang yang sekarang ini?
“Kalau hidup pas-pasan, memang kemampuan TNI AD dalam hal ini tidak mungkin memberikan kesejahteraan yang lebih di luar kemampuan. Tapi kami memberikan penghargaan,” ujar Kadispen TNI AD Brigjen Wuryanto saat berbincang dengan detikcom, Selasa (24/2/2015) malam.
Nama Tatang masuk dalam buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapons’ karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang tercatat di urutan ke-14 sniper hebat dunia.
Tatang yang kini berusia 68 tahun. Tatang dahulu bertugas dalam misi operasi Timor Leste pada tahun 1977-1978 melawan pasukan fretilin di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat.
Atas kelihain Tatang, pria yang mengaku biasa membidik kepala targetnya ini pun tak ayal mendapat pengakuan dunia. Di masa purna baktinya, selain mengisi pelatihan menembak TNI, Tatang yang mendapat ranking tiga saat mengikuti pendidikan sniper dari Kapten Conway anggota Green Barets Amerika Serikat pada 1973 itu, menjalani hidup dengan membuka warung nasi di kediamannya di lingkungan Kompleks TNI Angkatan Laut, Cibaduyut-Bandung.
Kendati memberikan penghargaan, Wuryanto mengatakan tak mungkin dapat memberikan kesejahteraan di bidang ekonomi yang di luar kemampuan Satuan TNI.
“Sebetulnya kita tetap memberikan penghargaan-penghargaan sesuai prestasi masing-masing prajurit. setiap prestasi pasti dapat penghargaan, pas kejuaran-kejuaraan pasti dikasih medali-medali dan hadiah, hadiah,” ujar Wuryanto.
“Mereka jiwa patriotnya luar biasa. sisi-sisi humanisnya memang perlu diangkat. Dengan kehebatannya itu hidup sederhana. Yakinlah beliau pasti menerima. Kami memang tentara hidupnya pas-pasan, jangankan Bintara, yang perwira juga banyak yang gitu. Tapi memang itu pilihan hidup kami, kami walau sederhana tapi jiwa nasionalismenya nggak diragukan,” tambahnya.
Tatang kini tinggal di Bandung, Jawa Barat. Sebagai pensiunan dia masih tetap berolahraga untuk menjaga kesehatannya. Tatang sesekali mengisi pelatihan menembak bagi TNI. 

(detikNews)JKGR.

Sniper Indonesia, Tatang Koswara

  Sniper Tatang Koswara
Sniper Tatang Koswara

Tatang Koswara yang berusia 68 tahun, tercatat sebagai sniper legendaris asal Indonesia. Pada 1977-1978 dia beroperasi di Timor Timur, kini Timor Leste. Ada lebih dari 40 orang fretilin yang menjadi korban tembakannya.
Nama Tatang tercatat dalam buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapons’ karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang berada di urutan ke-14 sniper hebat dunia.
Ada satu trik unik yang dilakukan Tatang untuk mengelabui pasukan patroli musuh. Dia membuat sepatu khusus dengan alas dalam posisi terbalik sehingga jejak yang ditinggalkan menjadi berbalik arah.
“Cibaduyut kan dikenal sebagai pabrik sepatu, saya juga mampu membuat sendiri,” ujar Tatang saat ditemui di rumahnya di kawasan Kodiklat TNI di Bandung, 3 Februari lalu.
Masih tampak bugar dan kekar, ingatan Tatang Koswara pun masih jernih. Kakek tujuh cucu ini beroperasi di Remexio, Lautem, Viqueque, Aileu, Becilau, dan Bobonaro di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat.
“Saya pernah tiga kali menjalankan misi, termasuk seorang diri,” ujar Tatang yang memiliki sandi S-3 alias ‘Siluman 3′.
Tatang pernah terluka dalam satu pertempuran. Dia dikepung musuh dan betisnya tertembak peluru. Dengan gunting yang dia miliki, peluru dia cabut sendiri. Tatang yang seorang sniper ini kemudian bisa lolos dan menembak beberapa musuhnya.
“Sambil bersembunyi di kegelapan, saya congkel sendiri kedua peluru itu dengan gunting kuku,” ujar Tatang seraya memperlihatkan bekas luka di kakinya.
Tatang masuk tentara melalui jalur tamtama di Banten pada 1966. Kala itu sebetulnya dia cuma mengantar sang adik, Dadang, yang ingin menjadi tentara. Tapi karena saat di lokasi pendaftaran banyak yang menyarankan agar dirinya ikut, dia pun mendaftar. Saat tes, ternyata cuma dia yang lulus.
Meski punya ijazah Sekolah Teknik (setara SMP), Tatang melamar sebagai prajurit tamtama menggunakan ijazah SR (Sekolah Rakyat) atau Sekolah Dasar. Selang beberapa tahun ia mengikuti penyesuaian pangkat sesuai ijazah yang dimiliknya itu. Sebagai bintara, ia ditempatkan di Pusat Kesenjataan Infantri (Pusenif). Di sana pula ia mendapatkan mengikuti berbagai pelatihan, mulai kualifikasi raider hingga sniper.
Seorang sniper, kata Tatang, harus berani berada di wilayah musuh. Fungsinya antara lain mengacaukan sekaligus melemahkan semangat tempur musuh. Target utama biasanya selain sniper musuh adalah komandan, pembawa senapan mesin, dan pembawa peralatan komunikasi.
Tatang yang biasa menggunakan senjata laras panjang Winchester M-70 selama bertugas. Senjata ini mampu membidik sasaran hingga jarak 900-1000 meter.
Winchester M-70
Winchester M-70

Kemahiran menembak Tatang secara alami sudah terlatih sejak remaja. Setiap Jumat, ia biasa membantu orang tuanya berburu bagong (babi hutan) yang kerap merusak lahan pertanian dan perkebunan. Bidikannya lewat senapan locok nyaris tak pernah meleset.
Berbeda dengan warga lain yang biasa bergerombol saat memburu babi, Tatang justru lebih suka menyendiri. dia juga sengaja mengejar babi yang lari ke hutan. “Sasaran bergerak lebih menantang saya. Itu terbawa saat memburu Fretilin di Timtim,” ujarnya.
Saat majalah detik menemui Tatang, dengan penuh ekspresi kakek tujuh cucu itu mengisahkan pengalamannya bertempur di Timor Timur pada 1977-1978. Remexio, Lautem, Viqueque, Aileu, Becilau, dan Bobonaro adalah daerah operasinya di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat.
“Saya waktu itu menjadi pengawal Pak Edi, sekaligus ditugasi sebagai sniper,” kata Tatang saat ditemui majalah detik di kediamannya di lingkungan Kompleks TNI Angkatan Laut, Cibaduyut-Bandung, Selasa (3/2).
Dalam buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapons’ karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, disebutkan bila Tatang dalam tugasnya berhasil melumpuhkan sebanyak 41 target orang-orang Fretilin.
Sandi Tatang, S-3 alias ‘Siluman 3 dimaksudkan karena misi yang diembannya bersifat sangat rahasia. Sementara angka tiga merujuk ranking yang didapatnya saat mengikuti pendidikan sniper dari Kapten Conway anggota Green Barets Amerika Serikat pada 1973.
Tatang Koswara
Sniper Indonesia (ret) Tatang Koswara

Saya Biasa Menembak Kepala!
Tatang Koswara kini sudah pensiun dari TNI. Usianya pun sudah 68 tahun, namun dia tetap bugar, ingatannya juga masih kuat.
Tatang, satu-satunya sniper Indonesia yang diakui dunia.
“Saya biasa membidik kepala. Cuma sekali saya menembak bagian jantung, dia pembawa alat komunikasi. Sekali tembak, alat komunikasi rusak orangnya pun langsung ambruk,” kata Tatang yang ditemui majalahdetik, pada 3 Februari lalu.
Tatang tinggal di Bandung. Sebagai pensiunan dia masih tetap berolahraga untuk menjaga kesehatannya. Tatang sesekali mengisi pelatihan menembak bagi TNI.
Tatang Koswara hidup seadanya. Pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu) membuat uang pensiunnya tak besar. Kakek tujuh orang cucu ini pun membuka warung makan di lingkungan Kodiklat TNI AD di Bandung.
Tatang pensiun pada 1994, bersama istrinya Tati Hayati yang dinikahi pada 1968, mereka tinggal di sebuah rumah sederhana di Cibaduyut. Di ruang tamu berjejer sejumlah medali, sertifikat dan brevet tanda pendidikan yang pernah diikutinya.
Selain uang pensiun dan membuka warung makan, dia juga kadang melatih para sniper TNI.
“Tahun lalu saya selama dua bulan melatih 60-an calon sniper Kopassus. Juga ada permintaan dari Komandan Paskhas di Soreang untuk melatih,” kata Tatang.
tatang koswara
Setahun sebelum pensiun, ia pernah memamerkan kemahirannya sebagai sniper dengan menembak pita balon di atas kepala Jenderal Wismoyo Arismunandar.
“Waktu itu saya diminta memutus pita dengan peluru yang melintas di atas kepala KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat). Pak Wismoyo tak marah, malah memberi saya uang ha-ha-ha,” ujar Tatang.
Mantan Inspektur Jenderal Mabes TNI Letnan Jenderal (Purn) Gerhan Lantara mengakui reputasi Tatang sebagai pelatih sniper. “Pak Tatang adalah salah satu pelatih menembak runduk terbaik yang dimiliki Indonesia. Mungkin saya salah satu muridnya yang terbaik he-he-he,” ujarnya.
Sementara Kolonel (Purn) Peter Hermanus, 74 tahun, mantan ahli senjata di Pindad, menyebut Tatang sebagai prajurit yang lurus. Dia mengingatkan agar bekas anak buahnya itu tetap mensyukuri kondisi yang ada sekarang.
“Dia hidup sederhana karena tidak pandai korupsi, tapi itu lebih baik ketimbang punya rekening gendut ha-ha-ha,” ujar Peter. 

(Detik.com).JKGR.

Wajah Tempur Taruna Korps Marinir Usai Dikko

Wajah Tempur Taruna Korps Marinir Usai Dikko
Wajah tempur para Komando Taruna Korps Marinir tampak terlihat saat kembali ke Bumimoro Akademi Angkatan Laut usai menyelesaikan Pendidikan Komando (Dikko) yang disambut dengan pengalungan bunga kepada Sermadatar (M) Dany E.B. Segara oleh Wakil Gubernur Akademi Angkatan Laut (AAL) Laksamana Pertama TNI Deddy Muhibah Pribadi, S.H., M.A.P, dalam Upacara Penerimaan Latihan Praktek (Lattek) Pendidikan Komando Taruna Tingkat III Korps Marinir AAL Angkatan ke-61, di Plaza Taruna, AAL, Bumimoro, Surabaya, Senin (23/2).
Lattek Pendidikan Komando (Dikko) yang berhasil diikuti oleh 19 orang Taruna Korps Marinir Angkatan ke-61 ini, merupakan salah satu Program Latihan bagi para Taruna Korps Marinir dengan tujuan memberikan  bekal kemampuan dan pengetahuan sebagai prajurit Komando, baik pada tingkat perorangan maupun tingkat satuan kecil. Dalam lattek yang digelar selama kurang lebih 77 hari tersebut, sarat akan ujian ketahanan baik mental, fisik, maupun intelijensi para Taruna.
Wagub AAL yang mewakili Gubernur AAL menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada para Taruna Korps Marinir Angkatan ke-61 setelah melaksanakan Dikko dengan sungguh-sungguh dan semangat tinggi. Selain itu Wagub AAL juga menghimbau kepada para Taruna untuk mensyukuri keberhasilan lattek ini dengan kerendahan hati agar tidak menjadi lupa diri. Hal tersebut dikarenakan keberhasilan yang telah dicapai mencerminkan suatu prestasi membanggakan melalui serangkaian perjalanan Latihan yang keras dan melelahkan serta membutuhkan tingkat kehati-hatian yang tinggi dan kondisi fisik yang prima.
Pisau Perak yang merupakan simbol peserta terbaik diberikan  kepada Sermadatar (M) Irsanto Karoba, sekaligus menandai Upacara Penerimaan Lattek Dikko Taruna Korps Marinir Angkatan ke-61. Turut hadir dalam Upacara tersebut: Seklem AAL Kolonel Laut (P) Soetrisno Sandi Asmara, S.T., serta para pejabat utama AAL, diantaranya  Kaopsjar AAL Kolonel Marinir Suharto, Kadepgadik Kolonel Laut (E) Saptono Djuniawan, Kadeptek Kolonel Laut (T) Jusep Wildan, S.T., dan Kadepmar AAL Kolonel Marinir Umar Faruq.

TNI. 

Aero L-29 Delfin: Generasi Pertama Jet Latih Tempur TNI AU

DSC00868
Tak hanya jet tempur MiG-21, MIiG-17, MiG-15 dan pembom Tu-16 yang nasibnya tereliminasi akibat perubahan haluan politik di Indonesia pasca tahun 1965. Ada lagi jenis jet latih tempur yang nasibnya harus berakhir begitu cepat di Tanah Air. Padahal, saat itu jet latih tempur ini usianya tergolong sangat muda dan modern pada jamannya. Inilah Aero L-29 Delfin, atau populer juga disebut L-29 Dolphin dalam bahasa Inggris.
Eksistensi jet tempur ini lumayan besar pada masanya, lantaran Aero L-29 Delfin menjadi jet latih militer standar untuk negara-negara Pakta Warsawa di era 60-an. Bila disejajarkan di lingkup NATO, L-29 sekelas dengan keluarga jet Hawk besutan British Aerospace. Uniknya, L-29 bukan buatan Uni Soviet, melainkan diproduksi oleh Aero Vodovochy dari Chekoslowakia.
Pengembangan L-29 diawali dari permintaan Uni Soviet akan sebuah pesawat latih bermesin jet. Permintaan ini dijawab oleh perusahaan Aero Vodovochy. Purwarupa L-29, dengan kode nama XL-29 pertama kali mengudara pada 5 April 1959 dan menggunakan mesin Bristol Siddeley Viper dari Inggris.
262716_316_3_b1
Aero L-29 kemudian menjadi pesawat jet latih standar bagi blok timur. produksi pertama pesawat jet ini dikirim pada April 1963. Tak mau ada sentuhan barat, L-29 lantas diganti mensinnya menggunakan M701, rancangan asli Cekoslowakia. Sampai tahun 1976 Aero terus memproduksi L-29 Delfin. Total L-29 telah diproduksi sebanyak 3.500 unit.
Mesin Cekoslowakia M701 dengan tujuh ruang pembakaran memiliki daya dorong mencapai 1.960 lbs, serta kecepatan maksimum 820 km/jam. Patut dicatat, M701 merupakan mesin pesawat jet pertama yang mempunyai kompresor sentrifugal fase tunggal dimotori oleh flow turbin axial fase tunggal. L-29 dapat mengudara selama 2 jam 30 menit dengan jarak jelajah hingga 894 km, menggunakan tip tank pada sayap.
191-i-1024Dlkab8
Aero L-29 Delfin memiliki desain maksimal untuk pesawat kelas sub-sonik dengan posisi tempat duduk tandem dengan sayap lurus. Pesawat ini mampu mengangkut dua drop-tanks 150 kg, 100 kg bom, dengan pod yang masing-masing berisi empat roket 67 mm atau dua pod senapan mesin 7,62 mm. Kecepatan maksimal dengan persenjataan penuh di bawah sayap mencapai 0,7 Mach dan 0,75 Mach tanpa persenjataan.
Dari 3.500 unit yang di produksi. 3000 pesawat dikirim ke Uni Soviet, sedangkan sisanya dikirim ke negara blok-timur atau negara non-blok yang memiliki hubungan pertemanan dengan Uni Soviet, termasuk Mesir, Irak dan Indonesia.
aero-l-29-dolphin-nose-digihistory12
Indonesia menempatkan Aero L-29 Delfin pada Skuadron Udara 15 (pada waktu itu bernama Kesatuan Pendidikan 017) di Lanud Adi Sucipto, Yogjakarta. Pasca pergantian Orde baru, pada tahun 1965 Kesdik 017 grounded L-29 karena konotasinya yang erat dengan Uni Soviet. Saat ini, L-29 TNI AU masih dapat dilihat di Museum Pusat TNI AU Mandala Dirgantara, Yogyakarta. (Deni Adi)

Spesifikasi
• Kru: siswa dan instruktur
• Panjang: 10,81 m
• Rentang sayap: 10,29 m
• Tinggi: 3,13 m
• Luas sayap: 19,8 m²
• Berat kosong: 2280 kg
• Berat isi: 3286 kg (7244 lb)
• Berat maksimum saat lepas landas: 3540 kg
• Mesin: 1 × Motorlet M-701C , 8,7 kN (1960 lbf)

Selasa, 24 Februari 2015

Skadron Udara 1 Tingkatkan Kemampuan Terbang Malam

Skadron  Udara  1 Tingkatkan  Kemampuan  Terbang  Malam
Langit senja di atas Kota Pontianak yang biasanya sunyi, mendadak terdengar gelegar suara pesawat tempur yang lepas landas dan meraung-raung di udara.  Hal Ini disebabkan pesawat Hawk 100/200 yang berhome base di Skadron Udara 1 sedang melaksanakan Latihan Terbang Malam, Selasa (24/02). 

Komandan Lanud Supadio Kolonel Pnb Tedi Rizalihadi, S.T, menjelaskan Latihan Terbang Malam yang sedang dilaksanakan oleh Skadron Udara 1 berguna untuk  meningkatkan profesional para Penerbang dalam mengantisipasi kemungkinan akan terjadi gangguan, ancaman serta pelanggaran wilayah kedaulatan hukum Nasional oleh pihak lain dalam segala situasi dan kondisi. 
"Bagi para Penerbang Tempur, Terbang Malam bukan merupakan hal yang luar biasa namun perlu untuk pembiasaan terutama pada saat lepas landas dan mendarat yang sangat mengandalkan instrumen yang ada disamping visual dengan alat bantu lampu penerangan yang ada di dua sisi landasan, untuk itu para Penerbang dituntut lebih teliti dan hati-hati dalam menerbangkan pesawat serta melakukan manuver-manuver tertentu," tambah Danlanud Supadio.
Hal senada juga disampaikan Komandan Skadron Udara 1 Letkol Pnb Sidik Setiyono, Latihan Terbang Malam ini salah satu Latihan yang penting  bagi para Penerbang maupun Ground Crew sehingga dapat meningkatkan kemampuan operasional Skadron Udara 1. 


TNI.