Kamis, 25 Februari 2016

Presiden Janji Naikkan Anggaran TNI Menjadi Rp 250 T

  Presiden Joko Widodo gelar rapat di Istana Merdeka, Jakarta
Presiden Joko Widodo gelar rapat di Istana Merdeka, Jakarta
 
Presiden Joko Widodo menyadari bahwa untuk membangun TNI yang profesional dan disegani, pemerintah harus mampu memenuhi alutsista (alat utama sistem persenjataan) bagi tiga matra secara terpadu.
Presiden Jokowi mengatakan, saat ini anggaran TNI hanya sekitar 0,89 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), PDB nasional pada kuartal IV Tahun 2015 tumbuh 5,04 persen yakni mencapai Rp 11.540,8 triliun.
“Saya berikan sedikit gambaran bahwa anggaran TNI sebelumnya 0,89 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Yang sebelumnya lagi, 0,78 persen dari PDB, dan sekarang paling tidak 1,1 persen dari PDB kita,” katanya.
“Ke depan kalau pertumbuhan ekonomi bisa naik paling tidak di atas 6, akan muncul angka 1,5 % dari PDB dan ini adalah sebuah angka yang besar. Perhitungan saya tadi kurang lebih bisa mencapai Rp 250 triliun,” ujar Presiden Jokowi dalam pengantar rapat masalah penguatan TNI, di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (23/2/2016).

Presiden mengingatkan, angka-angka itu harus mulai diantisipasi dari sekarang. Artinya, harus ada perencanaan yang matang, betul-betul matang, betul-betul detil, betul-betul terinci, sehingga anggaran dan uang itu dipergunakan dengan baik, tepat guna dan juga terdesain dari awal.
Presiden Jokowi juga menegaskan, agar penggunaan produk-produk dalam negeri menjadi perhatian. Ia mengingatkan penggunaan produk dalam negeri, sangat penting.
“Penting sekali. Kita lihat belanja-belanja yang ada, saya kira sudah sesuai porsi, baik belanja pegawai, belanja barang, alutista. Tapi sekali lagi, perencanaan harus matang, detail, dalam sebuah strategi pembangunan kekuatan seperti apa. Itu yang kita inginkan ke depan,” kata Presiden Jokowi.
Hadir dalam Rapat Terbatas ini antara lain Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko Polhukam Luhut B. Pandjaitan, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko PMK Puan Maharani, Mensesneg Pratikno, Seskab Pramono Anung, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Mendagri Tjahjo Kumolo, Menlu Retno LP Marsudi, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, KSAD, KSAU, KSAL, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti dan Kepala Staf Presiden Teten Masduki. (DID/ES)
 
Sumber : Setkab.go.id

TNI AD Segera Lengkapi Persenjataan MBT Leopard

tank leopard tni
Tank Leopard 2A4 TNI AD
 
TNI AD terus melakukan peremajaan alat utama sistem senjata (alutsista), dengan meneruskan program rencana strategis (renstra) II periode 2015-2019.
“Semua alutsista itu kan lanjutan program. Alutsista roket, meriam, senjata MLRS (multiple launch rocket system) untuk Arhanud, hingga MBT Leopard itu lanjutan (renstra I),” ujar Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Mulyono, di Mabes AD, Selasa (23/2/2016).
tank leopard tni 1
Tank Leopard 2A4 TNI AD
 
Meski begitu, Jenderal Mulyono menyatakan, Mabes AD terus berupaya memperkuat alutsista dengan melakukan pengadaan armada baru. Salah satunya, pembentukan satu skadron helikopter Bell 412 yang sedang dalam tahap pembuatan. Disinggung rencana pengadaan helikopter angkut MI-26 buatan Rusia, KSAD belum bisa mengungkapkannya.

Begitu juga dengan rencana pengadaan helikopter serbu UH-60 Black Hawk, Jenderal Mulyono enggan membocorkannya. Namun ia memastikan kontrak pembelian helikopter serang AH64E Apache buatan Boeing, Amerika Serikat, telah dikerjakan. “Apache belum datang tahun ini, tapi kontrak sudah dimulai,” ujar mantan panglima Kostrad ini.
tank leopard tni 2
Tank Leopard 2A4 TNI AD
TNI AD juga terus melakukan pengadaan barang untuk melengkapi persenjataan MBT Leopard. Menurut KSAD, tank buatan Jerman yang datang selama ini, baru berupa tank murni, belum termasuk perlengkapan lainnya. Karena itu, TNI AD dalam waktu dekat, akan berkunjung ke pabrik Rheinmetall untuk melengkapi pengadaan MBT Leopard.
“Ada perlengkapan yang belum, nanti kita akan lengkapi. Tahun ini, gelar uji penembakan di Jerman. Kita lihat amunisi dan alat komunikasi. Kalau bagus, kita kontrakkan bulan depan,” kata Jenderal Mulyono.
 
Sumber : Republika.co.id

Presiden Minta TNI Tak Terpusat di Pulau Jawa

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengunjungi prajurit di pulau terluar
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengunjungi prajurit di pulau terluar
 
Presiden Joko Widodo meminta pengembangan Tentara Nasional Indonesia tidak terpusat di Pulau Jawa. Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan, Presiden ingin pembangunan TNI harus dimulai dari pinggiran Indonesia sehingga merata.
“Presiden meminta pembangunan TNI tidak terpusat di Pulau Jawa tapi betul-betul Indonesiasentris. Dimulai dari pinggiran sehingga kekuatan menjadi merata,” ujar Pramono usai rapat terbatas penguatan TNI di Kantor Presiden, Selasa, 23/2/2016.
Presiden Jokowi secara khusus menggelar rapat terbatas mengenai pengembangan TNI. Selain memberikan instruksi agar pengembangan TNI tidak hanya dilakukan di Pulau Jawa, Presiden meminta agar pembelian alat utama sistem persenjataan / alutsista TNI dilakukan secara transparan dan terukur. Presiden berharap kekuatan TNI dapat meningkat pesat karena era persaingan yang sudah tidak bisa dihindari lagi.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan selama ini pangkalan udara TNI terletak di Madiun, Yogyakarta, dan Malang. Tiga lokasi ini menjadi pusat pengembangan Angkatan Udara. Namun, ke depan, agar TNI bisa lebih leluasa terbang dan berlatih, akan dikembangkan pangkalan udara di Biak, Morotai, Merauke, dan beberapa titik lain di timur Indonesia. “Jadi ini untuk melancarkan penerbangan, alasan ekonomi, dan agar pilot bisa terbang tiap saat dan berlatih,” ujar Pangluma TNI.
Jenderal Gatot mengatakan pulau-pulau terluar di Indonesia masih belum banyak yang digarap. Pengembangan pangkalan udara di bagian timur Indonesia, sangat dibutuhkan untuk menunjang tugas dan fungsi TNI. Pesawat Sukhoi jika mendarat membutuhkan alat aki, oksigen udara, dan sejumlah peralatan. “Sedangkan alat itu hanya di wilayah barat. Di wilayah timur tidak ada. Misalnya pesawat Sukhoi turun di Ambon tidak bisa terbang lagi. Ini akan kami lengkapi segera,” tutur Panglima TNI.
Panglima TNI berencana membangunan pangkalan udara itu, mulai tahun ini. Presiden meminta Panglima dan kementerian terkait untuk melakukan observasi wilayah mana yang paling strategis untuk dijadikan pangkalan, serta estimasi biaya. “Presiden menekankan dihitung benar rupiahnya dan dilakukan sehemat mungkin,” tutup Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.
 
Tempo.co

TNI Harus Siap Hadapi Peperangan Masa Depan

  Kopassus
Kopassus
 
Presiden Joko Widodo menginginkan agar TNI siap dan tahan banting menghadapi segala macam peperangan masa depan. Apalagi, kata Jokowi, di tengah kondisi geografis khas Indonesia yang 2/3 wilayahnya adalah air. Hal ini tentu akan memengaruhi corak peperangan di masa yang akan datang.
“Kita berharap agar TNI siap menghadapi peperangan masa depan di tengah kondisi geografis khas Indonesia atau 2/3 wilayah kita adalah air, dan kini nanti ke depan saya kira akan mempengaruhi corak peperangan di masa yang akan datang. Saya menyadari untuk membangun TNI yang profesional dan disegani harus mampu memenuhi alutsista bagi tiga matra secara terpadu,” ujar Presiden di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (23/2/2016).
Konstruksi TNI masa depan tersebut, disampaikan Presiden Jokowi saat menggelar rapat kabinet terbatas tentang penguatan alat utama sistem pertahanan (alutsista) TNI di Tanah Air.

?”Ke depan kalau pertumbuhan ekonomi naik paling tidak di atas 6%, akan muncul anggaran TNI 1,5% dari PDB. Ini angka yang besar. Hitungan saya sekitar Rp 250 triliun, yang mulai diantisipasi dari sekarang,” ujar Presiden.
TNI diminta memiliki perencanaan yang betul-betul matang dan detail mengenai sistem pertahanan di Indonesia, termasuk meningkatkan penggunaan produk dalam negeri untuk alutsista TNI.
 
Sindonews.com

Setelah Indonesia, Polandia Juga Upgrade Tank Leopard 2A4

  tank leopard
Militer Polandia meng-upgrade 128 tank Leopard 2A4, lewat Rheinmetall Defence yang bekerja sama dengan perusahaan Polandia Polska Grupa Zbrojeniowa (PGZ) dan ZM Bumar-Labedy S.A.
Rheinmetall akan bersifat sebagai strategic partner, yang menyuplai kemampuan kunci yang krusial, termasuk teknologi elektronik dan sistem senjata. Proyek ini bernilai 220 juta Euro, untuk Rheinmetall.

128 MBT Leopard 2A4 ini dibeli Polandia tahun 2002 dari surplus stok tank Bundeswehr Jerman. Upgrade ini akan distandarisasi dengan Leopard 2A5 and 2A6, Jerman.
Menyusul Kanada dan Indonesia, Polandia ini negara ketiga pengguna tank Leopard yang memilih Rheinmetall sebagai partner teknologi untuk program besar modernisasi militer. Selain Bundeswehr, kini ada 17 negara yang menggunakan Main Battle Tank / MBT Leopard 2.
 
Rheinmetall-defence.com

TNI AD Uji Tembak Minigun M-130

  minigun tni
minigun
mingun 3

TNI AD mulai menguji coba tembakan Minigun M134D buatan Amerika Serikat yang dipasang di helikopter. TNI AD memesan 20 unit M-134 Minigun lewat MJA Tech tahun 2015. Senjata ini mempunyai enam laras dengan sistem penembakan elektronik.
Minigun M-130 menembakkan peluru 7,62 mm standar NATO 3000 butir/ menit, (50 peluru per/detik) dan bisa ditembakkan hingga 30.000 peluru. M134 berbahan titanium sehingga lebih ringan 20% dari pendahulunya. Dari berat sekitar 30 kg menjadi 25 kg. Senjata ini bisa dipasang pada hellicopter Bell 412, kendaraan tempur, kapal maupun pesawat.
 
Pr1v4t33r – Defence.PK

Hubungan Militer Indonesia Rusia, Memasuki Fase Baru

 Atase militer Kedutaan Besar Rusia untuk Indonesia, Kolonel Nikolay Nikolayuk (Photo : Liputan6.com)
Atase militer Kedutaan Besar Rusia untuk Indonesia, Kolonel Nikolay Nikolayuk (Photo : Liputan6.com)
 
Atase militer Kedutaan Besar Rusia untuk Indonesia, Kolonel Nikolay Nikolayuk mengingatkan Rusia dan Indonesia memiliki sejarah kemitraan yang cukup panjang. Kemitraan keduanya dimulai tak lama setelah Indonesia merdeka.
Kolonel Nikolayuk mengatakan Rusia telah mendukung Indonesia sejak awal kemerdekaan. Dan saat ini hubungan kedua negara terus berkembang, dan tengah memasuki fase baru.
“Berbicara mengenai sejarah hubungan antara Rusia dan Indonesia, saya ingin mengatakan, Rusia sudah memberikan dukungan baik secara militer ataupun politik kepada Indonesia sejak awal Indonesia merdeka,” kata Kolonel Nikolayuk, saat perayaan hari Angkatan Bersenjata Rusia, 23/2/2016, di Jakarta.

“Saat ini hubungan kedua negara telah memasuki babak baru, khususnya dalam bidang pertahanan. Indonesia dan Rusia dua negara yang bersahabat. Kami memiliki kerjasama teknik militer yang sangat aktif, dan perlahan-perlahan terus meningkatkan hubungan militer kami,” ujarnya.
Rusia sangat siap untuk mengembangkan hubungan dengan Indonesia, sebagaimana Indonesia juga sangat siap untuk mengembangkan hubungan dengan Rusia.
“Kami memiliki tradisi yang sangat baik, dan pengalaman berkejasama yang sangat luas, yang bisa menjadi pijakan yang baik untuk kerjasama lebih lanjut di tengah persahabatan kedua negara,” Kolonel Nikolay Nikolayuk.
 
Sindonews.com