Senin, 11 Mei 2015

Mampu Menahan Gelombang Laut 3 Meter, US-2 Kian Dilirik Indonesia

us-2_03l
Indonesia dan Jepang tengah mempersiapkan perjanjian di bidang pertahanan yang akan memfasilitasi perdagangan dan produksi alutsista dari kedua belah pihak. Yusron Ihza Mahendra, Dubes RI untuk Jepang, mengatakan nota kesepahaman (MoU) kerjasama pertahanan telah disepakati saat kunjungan presiden Indonesia Joko Widodo ke Tokyo, Jepang pada bulan Maret lalu.
Meneruskan kerjasama tersebut, mengutip dari japantimes.co,jp (6/5/2015), Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengungkapkan niat Pemerintahan Joko Widodo untuk membeli pesawat amfibi US-2 yang diproduksi ShinMaywa Industries Ltd. “Kami menilai adanya kesesuaian dengan kebutuhan dan berharap dapat membeli. Saat ini masih dalam tahap pengkajian dan jika sudah selesai akan segera dilaporkan ke Presiden,” ujar Ryamizard.
Dari hasil MoU pertahanan antara Indonesia dan Jepang, memungkinkan negara kita mendapatkan pesawat amphibi ShinMaywa Industries US-2 yang telah lama diincar untuk kepentingan SAR (Search and Rescue). US-2, sebagai pesawat amfibi Short Take Off and Landing (STOL) dapat mendarat di tanah atau air. Menhan tertarik dengan salah satu keunggulan dari Pesawat Amphibi ShinMaywa Industries US-2 ini, yaitu pesawat ini bisa menahan gelombang ombak setinggi 3 meter saat berada di laut.
Bagaimana dengan spesifikasi ShinMaywa Industries US-2? Pesawat ini mampu membawa 11 awak ditambah 20 penumpang atau 12 tandu pasien saat bertindak sebagai ambulance udara dengan beban maksimal sampai 17 ton. Pesawat dapat melaju 560 km per jam dengan mesin 4 × Rolls-Royce AE 2100J turboprop, 3,424 kW (4,591 shp), dan 6 baling-baling Dowty R414.
Yang membuat pesawat ini istimewa adalah Ia tidak membutuhkan landasan pacu yang panjang. Kemampuan SOTL yang sempurna memungkinkan US-2 untuk lepas landas dan mendarat dengan jarak landasan yang lebih pendek – baik di darat dan di air, sehingga ia dapat lebih efektif ketika deployment.
US-2 dapat lepas landas di air dengan jarak pacu 280 meter. Untuk lepas landas di daratan, dibutuhkan landas pacu sepanjang 490 meter. Kemampuan ini jelas membuatnya lebih superior ketimbang Beriev Be-200 Altair yang sempat menjadi incaran TNI-AU. Sebagai perbandingan, Be-200 memerlukan jarak pacu 2.300 meter di air dan landas pacu darat sepanjang 1.800 meter.
us2_3

Satu lagi keuntungan MoU dengan Jepang adalah ToT (transfer of technology) yang didapatkan. Seperti yang kita tahu, Rusia, produsen Be-200 terkenal ‘pelit’ dengan ToT, berbeda dengan Jepang atau Korsel.Namun disisi lain, US-2 memiliki ukuran yang lebih kecil. Be-200 bisa membawa 42 penumpang dan dapat dimuati 30 tandu pasien. Be-200 juga terkenal akan kemampuannya mengangkut air untuk pemadaman kebakaran hutan, sebuah insiden yang sering terjadi di Tanah Air.
Jadi siapa yang akan menjadi pujaan tim SAR Indonesia? Mungkinkah Indonesia mendapat keduanya? Kita lihat saja. (Deni Adi)

Spesifikasi ShinMaywa Industries US-2
  • Crew: 11
  • Capacity: 20 passengers or 12 stretchers
  • Length: 33.46 m
  • Wingspan: 33.15 m
  • Height: 9.8 m
  • Wing area: 135.8m²
  • Empty weight: 25,630 kg
  • Maximum speed: 560 km/h
  • Cruise speed: 480 km/h (259 knots, 298 mph)
Indomil.

Minggu, 10 Mei 2015

Lantamal XII Sorong Diresmikan Tahun Ini

 
Lantamal XII Sorong, penambahan MEF TNI AL yang merencanakan 11 Lantamal di seluruh Indonesia (photo : Media Indonesia)
Lantamal XII Sorong, penambahan MEF TNI AL yang merencanakan 11 Lantamal di seluruh Indonesia (photo : Media Indonesia)

Pembangunan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) XII di Wilayah Sorong, Papua Barat diharapkan tahun 2015 ini bisa diresmikan. Hal ini dikatakan Panglima Armada Timur Laksamana Muda TNI Darwanto di Kapal KRI Dokter Suharso 990, Jumat (8/5).
Membentuk sebuah organisasi tidak mudah dan cepat, karena membutuhkan sarana dan prasarana lengkap, serta penempatan personilnya. Pemenuhan fasilitas sarana dan prasarana menjadi faktor keterlambatan peresmian Markas Komando Lantamal XII yang sudah terencana sejak tahun 2006 silam.
“Sekarang sudah dalam perencanaan. Kalau untuk pembentukan itu kan perlu fasilitas dulu. Kalau fasilitas sebagian sudah ada, begitu juga dengan Keputusan Presiden sudah ada, jadi tinggal peresmian dan mudah-mudahan tahun ini sudah bisa diresmikan,” kata Darwanto saat meninjau pelaksanaan pengobatan massal di atas KRI Dr Soeharso 990 yang bersandar di Pelabuhan Jayapura.
Pihak TNI AL sendiri masih menganalisa wilayah tugas yang akan dikomando Lantamal XII, sehingga tidak terjadi over lapping mengingat wilayah Papua sendiri sudah ada dua Pangakalan Utama TNI AL yakni Lantamal X di Jayapura dan Lantamal XI di wilayah Merauke.
“Untuk wilayah sedang dianalisa, namun sebenarnya di laut itu tidak ada pembagian karena kita hanya mengikuti wlayah di daerahnya saja,” ujarnya.

(Berita Satu)

Dokumen Australia Ungkap Rencana Bom Napalm TNI AU

 
image
Foto: Sydney Morning Herald

Seorang peneliti di Australia, 09 Mei 2015, membeberkan sebuah dokumen rahasia tahun 1983 yang berisi aksi militer Indonesia menggunakan bom napalm untuk membakar rakyat Timor Timur (Timtim). Aksi militer Indonesia menggunakan bom napalm itu juga diketahui oleh pemerintah Australia dan Amerika Serikat.
Adalah Clinton Fernandes, peneliti sekaligus lektor kepala di Akademi Angkatan Bersenjata Australia yang telah menemukan sebuah dokumen rahasia milik diplomat asal Negeri Kanguru itu. Dokumen dengan tanggal 3 Oktober 1983 berklasifikasi rahasia itu ditemukan di Arsip Nasional Australia.
Penemuan itu menjadi sebuah terobosan bagi Profesor Fernandes dalam penelitian panjangnya tentang hal-hal yang diketahui Australia terkait kejahatan perang yang dilakukan Indonesia di negara bekas jajahan Portugis itu. Dokumen terbaru itu seolah mengulangi pertanyaan atas bantahan Indonesia tentang penggunaan senjata terlarang selama 24 menduduki menduduki Timor Timur.
Salah satu dokumen yang ditemukan Dr Fernandes adalah surat dari konsulat Australia di Bali, Malcolm Mann kepada penasihat Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Dennis Richardson pada 26 September 1983. Isi dokumen itu adalah laporan dari hasil pembicaraan Malcolm dengan konsulat AS di Surabaya kala itu, Jay McNaughton.
Seperti dituturkan Malcolm dalam suratnya ke Richardson kala itu, McNaughton mengaku pernah melihat laporan intelijen yang menyebut tentara TNI Angkatan Udara memasang tangki napalm pada pesawat tempur F5 untuk digunakan di wilayah Indonesia. Tiga tahun sebelumnya, Indonesia memang mendapatkan selusin pesawat tempur buatan Northrop itu dari AS.
Menurut McNaughton, kala itu ada ahli dari AS yang dimintai tolong untuk memasang tangki-tangki napalm. Sebab, TNI AU kesulitan memasang tangki-tangki untuk napalm itu pada pesawat tempur F5.
Surat Konsulat Australia di Bali ke Kedubes Australia di Jakarta. Foto: Sydney Morning Herald
Surat Konsulat Australia di Bali ke Kedubes Australia di Jakarta. Foto: Sydney Morning Herald

Selanjutnya, Richardson meminta Kedutaan AS di Jakarta untuk mengonfirmasi apakah Indonesia memang telah meminta bantuan untuk memasang tangki napalm di F5. Ternyata, Richardson diberitahu bahwa ada kontraktor AS telah digaet oleh Indonesia karena tangki-tangki napalm dibuat di Italia dan diperlukan modifikasi untuk bisa dipasang di F5.
Pada awal November 1983, Richardson lantas meneruskan laporannya itu ke Kementerian Luar Nageri Australia di Canberra. Ia menambahkan dalam catatannya bahwa bantuan teknisi AS sangat erat kaitannya dengan operasi militer Indonesia di Timor Timur.
Seiring munculnya penolakan dari dunia Internasioal atas penggunaan bom napalm di Perang Vietnam, penggunaan senjata pembakar terhadap warga sipil dilarang berdasarkan konvensi PBB tahun 1980. Konvensi itu melarang senjata konvensional yang menimbulkan efek bahaya luar biasa dan menimbulkan dampak tanpa padang bulu. Hanya saja, kala itu Indonesia memang tidak ikut menandatangani Konvensi PBB itu.
Berdasarkan peneluruan Dr Fernandes atas dokumen-dokumen Kementerian Luar Negeri Australia, kala itu Kedubes Australid di Jakarta memang tidak bertindak untuk memprotes Indonesia. Bahkan pemerintahan Australia yang kala itu dipimpin Perdana Menteri Bob Hawke juga tak bereaksi karena justru sangat ingin memperbaiki hubungan dengan Indonesia demi memuluskan negosiasi soal cadangan minyak dan gas di Laut Timor.
Clinton Fernandes. Foto: The Age
Clinton Fernandes. Foto: The Age

Tuduhan awal bahwa Indonesia menggunakan bom pembakar terhadap warga sipil Timor Timur itu muncul pada tahun 2006, sebagaimana terungkap dalam laporan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Saksi yang dikutip dalam laporan KKR, Lucas da Costa Xavier menuturkan, pepohonan dan rerumputan terbakar begitu terkena bom yang dijatuhkan pesawat TNI AU.
“Banyak warga sipil meninggal karena meminum air yang terkontaminasi pecahan bom yang dijatuhkan dari pesawat, dan banyak lainnya tewas terbakar. Kala itu musim panas, sehingga rumput mudah terbakar,” kenangnya.
Namun, Menteri Pertahanan RI kala itu, Juwono Sudarsono membantahnya dengan menyebut serangan itu “tak pernah terjadi”. “Bagaimana bisa kami menggunakan napalm melawan warga Timor Timur? Waktu itu kami tidak punya kemampuan untuk mengimpor, apalagi membuat napalm sendiri,” kata Juwono.
Bantahan itu juga tak menghentikan Fernandes untuk mendalami kekejaman Indonesia di negeri yang kini bernama Timor Leste itu. Ia menyebut dokumen Kementerian Luar Negei Australia yang baru itu itu sangat signifikan karena menjadi bukti kuat pertama. Sebab, penggunaan bom napalm itu terungkap dari catatan resmi, dan bukan dari kesaksian warga yang selamat.
Fernandes menambahkan, kala itu pemerintahan Partai Buruh yang dipimpin Bob Hawke baru saja berkuasa dan tahu betul bahwa militer Indonesia melakukan tidak kejahatan terhadap kemansian. “Termasuk membakar orang-orang hidup-hidup dengan napalm, tapi mereka (pemerintahan Bob Hawke, red) tidak bicara dan melakukan apapun,” kata Fernandes.
Australia pun sadar dokumen rahasia itu akan mengungkap info intelijen yang sensitif dan berpotensi merusak hubungan dengan Indonesia. Karenanya, Jaksa Agung Australia telah mengetatkan informasi yang sensitif.
Namun, Fernandes tak ciut nyali. “Pemerintahan saat ini seharusnya membuka semua dokumen yang relevan sehingga kebenaran penuh akan muncul,” katanya. (theage/ara/jpnn)

(jpnn.com)

Kopassus gunakan pendekatan 3 K ( Kesetaraan, Keadilan ,Kesejahteraan )




















Danjen Kopassus kembali bertemu dengan para tokoh, kali ini dengan tokoh dari Papua yaitu Tokoh Organisasi Papua Merdeka(OPM) Nikson Aroger,Kamis ( 30/4/2015) di lapangan tembak Ksatria Makopassus Jakarta Timur 

Dalam sambutanya, Danjen Kopassus Mayjen TNI Doni Monardo mengucapkan terimakasih atas kehadiran para tokoh Papua dalam acara HUT  ke 63 Korps Baret Merah di Makopassus
Danjen Kopassus  juga mengatakan, masa lalu adalah masa lalu dan kini mari kita songsong masa depan yang lebih baik.
Danjen Kopassus mewakili Korps Baret Merah berjanji akan selalu menjaga keamanan masyarakat Papua, yaitu dengan menerapkan 3 konsep untuk menangani masalah di Papua.
Konsep pertama : Kesetaraan, diharapkan masyarakat Papua dapat menerima seluruh keluarga besar yang datang dari pelbagai daerah dengan hati yang tulus. 
Oleh karena itu, Kopassuss berjanji akan selalu menjaga keamanan dan juga akan selalu mengedepankan faktor kesetaraan dengan penerapan berbagai metodologi, sosial budaya.
Danjen berharap dengan melalui pendekatan kesetaraan ini dapat menarik hati kelompok-kelompok yang selama ini terlibat perselisihan dan ketegangan bersama aparat keamanan.
Konsep Kedua : Pendekatan Keadilan, ini sangatlah penting karena ditemukan banyak ketidakadilan di Papua. Diharapkan dengan adanya keadilan ini, diharapkan keadilan di Papua dapat ditegakkan, seperti adil dalam pendidikan, adil dalam kesejahteraan.  Dan keadilan akan terwujud apabila proses hukum mendapat dukungan.
Konsep Ketiga : Pendekatan Kesejahteraan, pendekatan ini juga sangat penting, karena banyak daerah. Kaya akan alamnya tetapi mereka justrru tidak menikmatinya dengan apa yang mereka miliki.
" Kami Korps Baret Merah akan melindungi diri dan juga masyarakat dari gangguan keamanan," tegas Danjen.
Dan, lanjutnya lagi, apabila tidak ada gangguan-gangguan. Yang dilakukan maka kamipun tidak akan ada upaya-upaya yang konprenhensip. Tetapi manakala ada gangguan, kami akan melakukan upaya melindungi diri dan juga melindungi tanah Papua.
" Marilah kita membina rasa persatuan dan kesatuan," tutup Danjen Kopassus 
Pada kesempatan tersebut Danjen Kopassus memberikan cinderamata kepada Boy Eluay berupa jaket Sahabat Kopassus .Boy Eluay putra sulung Theys Hiyo Eluay pemimpin Organisasi Papua Merdeka (OPM)

Tank Boat, Solusi atau Masalah Baru?

Negeri Indonesia yang terdiri dari ribuan kepulauan memang menghadirkan tantangan tersendiri soal pertahanan dan keamanan. Dengan alur perairan yang sempit, membawa pasukan dan dukungan ofensif ke pedalaman merupakan hal yang sulit. Kapal besar tidak masuk, jalan darat pun tidak ada. Apa solusinya?

Pendekatan yang dilakukan oleh PT Lundin Industry Invest sebagai spesialis pembuat kapal berbahan komposit terhitung ekstrim dan tak tanggung-tanggung: membuat kapal cepat yang mengusung kanon tank, ini merupakan gebrakan teknologi pertama di dunia yang mampu menggentarkan lawan. Di dunia ini hanya Rusia dengan Tral class dan Korea Utara dengan Sariwon Class yang melakukannya. Keduanya digolongkan sebagai korvet.

Dihadirkan dalam konferensi AVA (Armored Vehicle Asia) 2015 di Jakarta, PT Lundin menghadirkan maket konsep yang disebut X18 tank boat. Kapal yang mampu mengangkut 20 personel dan diawaki 4 orang ini menggunakan konsep desain catamaran dengan lunas kembar dan paralel untuk membelah ombak dan memberikan kestabilan yang pasti. Material yang digunakan adalah komposit, yang didasarkan pada pengalaman Lundin membangun KRI Klewang, kapal tempur TNI AL pertama yang menganut prinsip kasat radar alias stealth.
Yang paling istimewa dari kapal yang memiliki panjang sekitar 18 meter ini adalah senjata utama yang digunakan. Sistem kubah CMI CT-CV 105mm yang sejatinya merupakan kubah untuk tank medium dipasang saja di atas superstruktur X18, langsung di belakang anjungan. Kubah CT-CV memang istimewa, memiliki sudut dongak sampai 45o sehingga dapat digunakan untuk memberikan bantuan tembakan pada pasukan kawan yang tengah melakukan pendaratan. Untuk pertempuran melawan kapal yang lebih besar juga mumpuni, mengingat CT-CV 105 sudah memiliki sistem komputer balistik dan stabilisasi untuk memberikan solusi dan koreksi atas sudut penembakan.
Yang jadi pertanyaan, apakah mungkin konsep ini diwujudkan? Dari sudut lokasi, pemasangan di atap kapal yang notabene menjauhkan beban dari titik berat (CoG) kapal berpotensi menimbulkan ketidakstabilan, apalagi pada saat dilakukan penembakan pada sudut 90o. Belum lagi bobot kubah dan meriam, yang dapat mencapai 7-8 ton. Solusi memangkas bobot dapat dilakukan dengan mengganti kubah dari bahan baja menjadi alumunium, tetapi tentu tidak banyak pula penghematannya. Soal kedua, masalah stabilisasi. Mengandalkan sistem stabilisasi untuk permukaan tanah dengan dua sumbu tentunya tak sebanding dengan ganasnya ombak di perairan Indonesia, sehingga efektifitas meriam 105mm di laut lepas cukup diragukan. Kemungkinan terbesar meriam ini baru akurat saat Tank Boat berada di perairan litoral atau bahkan sangat dekat dengan pantai, plus alur sungai. Selebihnya, Tank Boat mungkin perlu senjata sekunder seperti kanon 25/30/35mm untuk mengusir lawan yang menghadang dari permukaan laut.

Biarpun baru merupakan maket dan gambar di atas kertas, PT Lundin sendiri berencana menggandeng PT Pindad, Bofors Defense sebagai integrator sistem kendali penembakan, dan CMI sebagai pembuat kubah CT-CV 105 sebagai pemasok kubah.

ARC. 

Komandan Sektor Timur UNIFIL tinjau area Indobatt

Komandan Sektor Timur UNIFIL tinjau area Indobatt
Ilustrasi. Tim COE (Contingent Owned Equipment) UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) menggelar Operational Readiness Inspection (ORI) atau pemeriksaan terhadap kesiapan operasional materiil dan perlengkapan Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-I/Unifil (Indobatt/Indonesian Battalion) di UN Posn 7-1, Adchit Al Qusayr Lebanon Selatan, Senin (2/3). UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) sebagai perwakilan PBB di wilayah Lebanon menuntut seluruh satuan yang dikirimkan negara-negara pengirim atau Troops Contributing Country (TCC) harus memiliki kesiapan operasional sesuai standar yang telah ditetapkan. (ANTARA FOTO/Penerangan Konga XXIII-I/Unifil/HO/Koz)
 
Komandan Sektor Timur UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) Brigjen Antonio Ruiz Olmos dari Spanyol meninjau Area Operasi Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda (Konga) XXIII-I/Unifil atau Indobatt (Indonesian Battalion) di sekitar Lebanon Selatan.

Perwira Penerangan Konga XXIII-I/Unifil, Kapten Laut (KH) Ahmad Suberlian, dalam surat elektronik yang diterima Antara di Surabaya, Minggu, melaporkan Komandan Sektor Timur UNIFIL Brigjen Antonio Ruiz Olmos dalam kunjungan pada Jumat (8/5) itu didampingi oleh Wakil Komandan (Wadan) Sektor Timur Kolonel Kav Yotanabey.

Brigjen Antonio Ruiz Olmos meninjau Area Operasi Kompi Alfa di UN Pos 9-63 untuk melihat secara langsung kegiatan Prajurit Indobatt serta meninjau Pos B-78 dan TP-36 yang berada di sekitar pagar perbatasan negara (blue line) Lebanon dengan Israel.

Selanjutnya, Brigjen Antonio Ruiz Olmos didampingi Kolonel Kav Yotanabey mengunjungi Markas Indobatt Konga XXIII-I/Unifil, kedatangannya disambut oleh Wakil Komandan Satgas (Wadansatgas) Indobatt Mayor Inf Eko Handono, para Perwira Staf serta seluruh prajurit Indobatt, di Markas Indobatt UN Posn 7-1 Adshit Al-Qusayr, Lebanon Selatan.

Dalam sambutannya, Komandan Sektor Timur yang didampingi oleh Wadan Sektor Timur dan Wadansatgas Indobatt mengucapkan terima kasih atas pelaksanaan tugas yang telah ditunjukkan personel Indobatt di lapangan selama ini dan menekankan faktor keamanan dalam melaksanakan tugas.

"Saya selaku Komandan Sektor Timur mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Satgas Batalyon Mekanis TNI Konga XXIII-I/Unifil di bawah pimpinan Letkol Inf Andreas Nanang Dwi P yang telah menjalankan tugas di Lebanon Selatan dengan sangat baik dan penuh prestasi selama saya ditugaskan oleh PBB sebagai Komandan Sektor Timur UNIFIL di Lebanon Selatan," kata Brigjen Antonio.

Selanjutnya, Komandan Sektor Timur Unifil beserta rombongan menyaksikan Kesenian Reog asli Indonesia yang ditampilkan oleh para prajurit Cimic (Civilian Military Cordination) Indobatt dibawah pimpinan Kapten Inf Seto Purnomo.

Sebelum meninggalkan Markas Indobatt UN Posn 7-1 Adshit Al-Qusayr, Lebanon Selatan, Wadansatgas Indobatt Mayor Inf Eko Handono memberikan kenang-kenangan berupa cinderamata khas Indonesia kepada Komandan Sektor Timur Brigjen Antonio Ruiz Olmos, dan begitu juga sebaliknya, lalu dilanjutkan foto bersama dengan seluruh prajurit Indobatt. 
 

PT PAL Bangun Tiga Kapal Selam

 
Kapal selam Type 209 Jerman yang dimodifikasi India
Kapal selam Type 209 Jerman yang dimodifikasi India

Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan (Kemenhan) telah menunjuk ITS Surabaya menjadi Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Perang.
“Kita sudah memiliki Pusat Desain Kapal Nasional, lalu Kemenhan meningkatkan statusnya menjadi Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Perang,” kata Dekan FTK ITS Prof Eko Budi Djatmiko di Surabaya, Sabtu (9/5/2015).
Ditemui di sela “Marine Icon 2015″ yang diselenggarakan mahasiswa FTK ITS di kawasan Monumen Kapal Selam (Monkasel) Surabaya, 8-10 Mei itu, ia menjelaskan penunjukan tersebut merupakan bagian dari peran ITS mendukung Poros Maritim.
“Untuk mendukung Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, banyak dosen ITS ditarik ke pusat untuk membantu dalam mewujudkan kebijakan Presiden Joko Widodo itu,” katanya.
Selain penunjukan sebagai pusat desain dan rekayasa kapal perang, ITS juga diminta membantu dalam membangun tol laut dan pembuatan kapal selam di PT PAL yang merupakan kerja sama antara Indonesia dengan Korea.
“Untuk itu, ITS diminta membantu untuk menyiapkan desain pembangunan galangan kapal selam, karena kerja sama dengan Korea itu sudah ditindaklanjuti dengan membuat dua kapal selam di Korea,” katanya.
Tahun berikutnya, kerja sama pembuatan lima kapal selam itu akan dilanjutkan dengan membangun tiga kapal selam sisanya di PT PAL.
“Sejak tahun 1960, ITS sebenarnya sudah mendapat amanah untuk menyiapkan teknologi kemaritiman, namun selalu terkendala dengan kebijakan pemerintah,” katanya saat mendampingi Rektor ITS Prof Joni Hermana.
Untuk itu, ITS akan mengambil peran dalam pembangunan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia itu dengan menyiapkan desain galangan kapal berukuran besar, sekaligus menyiapkan sumber daya manusia untuk galangan itu.
“Dengan demikian, kita akan segera memiliki kapal jenis fregat yang panjangnya sampai 150 meter, bukan sekadar kapal patroli berukuran besar seperti selama ini,” katanya.
Ketua Panitia “Marine Icon 2015″ ITS, Nityasa Manuswara, Marine Icon 2015 yang dibuka Rektor ITS Prof Joni Hermana (8/5) itu, juga bukan sekadar lomba, namun untuk menggugah kesadaran dan pemahaman terhadap pentingnya kemaritiman bagi Bangsa Indonesia.
“Kita lihat kenyataan Indonesia adalah negara maritim, tapi masyarakat belum sadar bahwa kita masyarakat maritim. Buktinya, masih banyak masyarakat yang ‘concern’ ke daratan,” katanya.
Lomba dengan tema “Berkarya Bersama Membangun Peradaban Maritim Indonesia” yang digelar di kawasan Monumen Kapal Selam (Monkasel) Surabaya pada Jumat (8/5) hingga Minggu (10/5) itu, mempertandingkan enam jenis lomba dan memperebutkan Piala Menpora.
Sebanyak enam jenis lomba adalah Marine Diesel Assembling (bongkar pasang mesin diesel) bagi siswa SMK, Waterbike Competition (sepeda air), National Maritime Paper and Essay Competition (lomba karya tulis kemaritiman), Pop Pop Boat Race (kapal uap/perahu tok-tok), Marine Photography Contest (lomba foto kemaritiman), dan Dragon Boat Race (lomba dayung/lomba balap perahu naga). (Kompas.com).