Jumat, 23 Januari 2015

Gripen-NG Pilihan yang Paling “Indonesia” ?. Propaganda !

  Gripen ng-2
saabgroup.com

Pendahuluan
Tadinya saya tidak ingin tulis komentar, akan tetapi propagandanya makin lama cenderung menyesatkan, sehingga perlu dijawab. Sah saja seseorang mengoceh dalam menjual produk, namun bila dalam sales talk-nya menjelekkan produk lawan, tentu ini memancing reaksi dan perlu diluruskan. Terutama yang mengusik penulis adalah pelibatan Su-35. Seperti yang diklaim gripen Indonesia bahwa dia bukan salesman Gripen, penulis juga bukan salesman Su-35 ataupun setiap pesawat lainnya, akan tetapi hanya seorang fanboy yang mendambakan diskusi pencerahan yang saling menghormati dan jujur.

Apple to apple
Membandingkan Gripen dengan Su-35 ibaratnya sama dengan Apple to Jeruk lokal : satu dan dua engine, MTOW yang beda jauh, fuel fraction yang 33% lebih besar, jumlah “hardpoints” / senjata yang dapat diusung, power aperture radar yang jauh lebih besar dan banyak lagi lainnya. Jadi itu menurut saya adalah nonsense. Mungkin pembaca masih ingat ketika Su-30 kita intercept black flight Gulfstream di NTT harus dikejar dengan kecepatan supersonik sampai dapat meskipun Su-30 kita terpaksa mendarat dulu di Lanud El Tari untuk isi bahan bakar lagi. Meskipun tidak ada penjelasan resmi, namun dapat diperkirakan bahwa disini kita berbicara tentang kurun waktu ? 30 menit terbang supersonik. Sejujurnya, kalau kita kejar dengan Gripen, apakah mungkin? Gripen yang katanya bisa supercruise pasti akan kedodoran dan “bingo” sebelum berhasil mencegat.
Gripen NG dan Su-35 masing-masing punya tupoksinya sendiri di angkasa Indonesia.

Gripen dapat di-customize 100% menurut kebutuhan Indonesia
Gripen Indonesia menulis : “misalnya, untuk BVR combat, versi Indonesia dapat membawa tidak hanya Meteor, tapi juga R-77T (infra-red) dan R-77-1 buatan Russia”. Gripen Indonesia terlalu menyederhanakan masalah dan bisa menyesatkan. Penulis sendiri bukan ahlinya, tapi mari kita coba kita lihat permasalahannya : (1) Adaptor (cantelan) AAKU/AKU-170 untuk R-77, (2) integrasi adaptor ke fire control sequence dan radar, (3) interface dengan radar dan IRST, dan masih banyak lainnya. Misalnya, yang paling sederhana saja, apakah adaptor AAKU/AKU-170 langsung dapat dipasang di Gripen? Dipasang tidak jatuh dulu lho, belum bicara kinerja dibawa terbangnya. Sebaliknya, kasus yang sama dapat pula ditanyakan, apakah Meteor dapat dibawa oleh Su-35?
Logika yang benar adalah Gripen tetap Gripen dan Su-35 tetap Su-35. Masing-masing punya tupoksinya sendiri. Su-35 tetap diperlukan sebagai heavy fighter mengingat kondisi geografis Indonesia sebagai negara yang sangat luas serta untuk menangkal F-35 dan F-15SG. Gripen dapat diposisikan sebagai pengganti F-16 Blok 52ID yang ompong (karena tidak punya rudal BVR AIM-120 C7), pengganti F-5 dan Hawk, atau sebagai alternatif seandainya proyek KFX/IFX gagal (bukan dibatalkan seperti diminta oleh Gripen Indonesia).
Gripen Indonesia menulis lagi : “Sebagai sarana pembantu, Gripen-E/F sudah membawa next-generation Gallium-Nitride jammer yang lebih unggul dibanding semua tipe lain. Keunggulan Jammer ini akan membantu menangkal kemampuan radar kecil di AMRAAM untuk “men-lock” Gripen”. Lebih unggul dibanding semua tipe lain? Dari mana sumbernya? Tipikal ocehan seorang salesman. Apakah hanya Gripen yang punya kemampuan seperti ini? Apakah Su-35 juga punya kemampuan ini? SU-35 dapat membawa perlengkapan ECM sebagai berikut : The heavyweight high power KNIRTI SAP -14 Support Jammer ECM pod is a Russian analogue to the US ALQ-99E pod carried on the EA-6B Prowler and EA -18G Growl er. It was developed for Flanker family aircraft and is carried on a large centreline pylon. To date little has been disclosed about this design, but it has been observed on the Su-30MK Flanker G/H and Su-34 Fullbac k . It operates between 1 GHz and 4 GHz .
The KNIRTI SAP-518 ECM pod is a new technology replacement (DRFM?) for the established L005 Sorbstiya series wingtip ECM pods. It operates between 5 GHz and 18 GHz. Sumber http://www.ausairpower.net/APA-Su-35S-Flanker.html.

100% Transfer-of-Technology, dan kesempatan untuk partnership dalam pengembangan proyek Gripen-NG
Tanpa melihat secara utuh dokumen penawaran Gripen tentunya kita hanya dapat meraba-raba. Misalnya, berapa minimum jumlah Gripen yang harus kita beli? Berapa harga fly away cost, dan berapa kalau termasuk R & D? Berapa lama sampai kita dapat merakit (bukan membuat lho) sampai menerbangkan Gripen? Bagaimana dengan klausul embargo? Inggris saja sudah bersuara tidak setuju dan akan mengembargo apabila Brazil akan menjual rakitan Gripennya ke Argentina (lihat juga Gambar 1 di bawah). SAAB itu adalah perusahaan aerospace yang kecil, tidak bisa dibandingkan dengan EADS atau Lockheed misalnya. Kemampuan mengelola 2 proyek ToT besar dalam waktu yang sama patut diragukan. Proyek Gripen Brazil sendiri belum dimulai. Bagaimana dengan time frame proyek Gripen Indonesia? Bagaimana kalau masalah Freeport mengganjal? Engine Gripen, apalagi untuk Gripen NG, masih harus diselesaikan antara SAAB dengan pemerintah USA.
Tentang harga :
  • 2012 – 50-60 million USD per plane; atau 150 million USD dengan R&D costs (di kalkulasi dari rencana pembelian Swiss sebagai partner pengembangan, dan akan membeli 22 Gripen NG dengan harga 3,1 billion Swiss franc; namun pada 18 Mei 2014, 53.4% dari rakyat Swiss memberikan suara tidak setuju dalam sebuah referendum nasional)
  • 2014 – 43 million USD unit flyaway42 million USD unit flyaway
Tentang ongkos operasi per jam Gripen NG: The calculation of the hourly cost of operation determines the Switzerland a flight operating time of 180 hours per year basis. At 22 Gripen, this results in a cost of 24’242 Swiss francs (USD 27.878) per flight hour.
Pada akhirnya, 100% Transfer-of-Technology ini tidak demikian sederhana seperti ditulis oleh Gripen Indonesia.

Aerial data networking
Gripen Indonesia menulis : “Dalam keadaan sekarang, tidak mungkin F-16 Block-15/52ID dan Sukhoi Su-27 Indonesia dapat di-network bersama. TKS-2 Network (kalau ada) di Su-27/30, yang berbasiskan tehnologi Russia tidak akan compatible ke semua sistem pertahananan udara Indonesia yang lain yang rata-rata berbasis teknologi Barat”. Bagaimana dengan kenyataan bahwa Kohanudnas hampir selalu berhasil intetcept black flight dengan Flanker? Salah satu dalil ilmu keteknikan adalah setiap masalah teknik pasti ada solusinya, tergantung mau bayar ongkosnya atau tidak. Misalnya, menggunakan pihak ketiga sebagai interface. Jadi yang dipermasalahkan Gripen Indonesia bukan masalah yang ibaratnya jadi kiamat bagi pertahanan udara. Seperti penulis tulis di atas, masing-masing punya tupoksinya sendiri. Coba berikan skenario dimana Su-27/30/35 akan bekerja sama dengan F-16/ Gripen, nggak cocok heavy fighter disandingkan dengan light fighter. Doktrin pertahanan udara kita adalah pre-emptive strike (strategis) garis ZEE + beyond ZEE menggunakan Su-35, dan supremasi udara di atas ALKI (taktis) menggunakan F-16. Dua teater operasi yang berbeda orientasi misinya, meskipun bisa overlap tetapi biasanya secara insidental.

Gripen-NG adalah proven-concept; satu-satunya tipe yang akan memenuhi kebutuhan, dan keterbatasan Anggaran Indonesia
Gripen-NG adalah proven-concept? Dibantah sendiri oleh Gripen Indonesia “Memang Gripen-E yang pertama baru akan terbang di tahun 2018”. Sedangkan Su-35 sudah diproduksi dan sudah masuk jajaran AU Rusia, dan nampaknya akan dibeli China.
Konsep untuk bisa beroperasi dari jalan lurus sepanjang 800 meter menjadi penting bagi negara kecil seperti Swedia ataupun Singapura akan tetapi tidak krusial bagi Indonesia, yang mempunyai 148 airport panjang 914 – s.d. di atas 3000 m, dan 37 di bawah 914 m ; sumber http://en.wikipedia.org/wiki/Transport_in_Indonesia.

Biaya operasional Sukhoi Flanker yang mencapai Rp 400 juta / jam
Menurut penulis ini masuk kategori rumor/ sas-sus yang tidak jelas sumber datanya. Kabar terakhir mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia di Jakarta, Rabu (11/5) berkata .”Untuk menggerakkan pesawat tempur Sukhoi saja minimal Rp 100 juta dalam satu jam terbang. Sementara denda yang diberikan hanya 60 juta rupiah, sehingga sangat rugi bagi TNI AU untuk biaya operasi Sukhoi yang besar,” sumber http://m.merdeka.com/peristiwa/tni-a…p-60-juta.html.
Penulis sendiri bingung dngan ongkos terbang, perawatan dan spare part dari Sukhoi; bila diambil angka yang disebut mantan KSAU mencapai angka 100 jt rph, yg kalau dianggap 1 USD = Rp. 12600, menjadi USD 7.936 per jam. Penulis coba menghitung dulu biaya komponen fuel yg mudah dihitung :
Max internal fuel SU-35 adalah 11,500 kg. Asumsi tipikal training sortie diisi 50% (ini sdh lebih dari cukup) yaitu 5750 kg JP8, atau sekitar 1897 USgallon. Dengan harga 1 USgallon = USD 3,13 (ini harga sebelum minyak dunia turun), maka komponen bahan bakar adalah USD 5936 atau sekitar Rph. 71.230.000,-.
Total biaya komponen-komponen lainnya (spare part, perawatan, gaji pilot + ground crew dll) adalah selisih USD 7936 – USD 5936 = 2.000; manhour rate pilot + ground crew kita sudah jelas sangat kecil. Kesimpulannya angka 400 jt rph/ flight hour itu sangat patut diragukan, angka 100 jt rph/ flight hour adalah lebih mendekati kenyataan. Misalnya spare part-nya mahal, dinaikkan menjadi USD 10.000 pun (Rph 126.600.000,-) masih sesuai dengan nalar (BTW cek lagi perhitungan saya, mungkin salah).
Gripen Indonesia menggembargembokan cost per fight hour yang paling murah menurut Jane’s. Data ini diunduh dari http://www.stratpost.com/gripen-operational-cost-lowest-of-all-western-fighters-janes berita per tanggal 4 Juli 2012. Jadi masuk akal bahwa data Gripen diambil dari tipe JAS-39A/B/C/D, bukan Gripen NG. Untuk Gripen NG, penulis lebih percaya kepada angka sumber yang di atas sudah disebutkan USD 27.878. Kalau dibagi duapun masih USD 14.000, masih jauh di atas sumber Jane’s.

SAAB/Swedia akan menjadi supplier Indonesia
Boleh saja jadi supplier, akan tetapi berani dan sanggup-kah menjamin embargo tidak akan terjadi? Seperti diketahui, USA menerapkan embargo senjata 1999 – 2006, dan EU dari September 1999 – Januari 2000. Embargo ini, berbarengan dengan krisis finansial yang menimpa Indonesia, mengakibatkan ”kesengsaraan” bagi TNI AU dan secara tidak langsung menambah jumlah kecelakaan pesawat militer (lihat sumber http://indomiliter.mywapblog.com/daftar-kecelakaan-pesawat-militer-tni.xhtml).
image001
Gambar 1 JAS-39/A/B/C/D Gripen

Gambar 1 (maaf masih JAS-29 A/B/C/D) menunjukkan betapa gado-gadonya Gripen ini. Untuk Gripen NG paling tidak radar + radome, dan IRST dari Italia (Selex). Dan engine akan menggunakan General Electric F414G, sebuah variasi dari General Electric F414. Bagaimana kalau engine diembargo lagi?

Kesimpulan si Gripen Indonesia
Kalau disimak dari tulisannya sekarang atau sebelumnya, maka maunya dia adalah F-16 tidak berguna, KFX/IFX dibatalkan saja, dan Flanker dipensiunkan saja karena katanya gampang rusak. Jangan sembarang tulis, tolong diberikan sumbernya. Pengalaman lebih dari satu dekade kita dengan Flanker, tidak ada kecelakaan (dan mudah-mudahan jangan sampai terjadi), intercept black flight, menelorkan lebih dari 5 pilot dengan 1000 jam terbang http://garudamiliter.blogspot.com/2012/10/letkol-penerbang-untung-capai-1000-jam.html http://garudamiliter.blogspot.com/2014/03/letkol-pnb-tony-capai-1000-jam-terbang.html http://infoapajah.blogspot.com/2014/10/letkol-pnb-vincentius-raih-1000-jam.html http://strategi-militer.blogspot.com/2013/08/rahman-fauzi-pilot-pertama-yang-ke.html https://twitter.com/tni_au/status/542666449420943360 http://www.kaskus.co.id/thread/5422cffbc0cb17d9028b4569/mayor-pnb-i-gusti-ngurah-sorga-capai-1000-jam-terbang-dengan-sukhoi/ meskipun kesulitan dengan pengadaan BBM. Ini membuktikan bahwa Flanker kita bukanlah ”hangar queen”, yang nongkrong saja di hangar karena sering rusak.

Penutup
Penulis ingin bertanya : apakah ada pesawat tempur lain yang bisa mengalahkan F-35 dan F-15SG selain Su-35? Kalau ada silahkan buat artikel pendukungnya untuk dibahas di sini, dan bukan melontarkan kata-kata enteng saja.
(by Antonov)

Kamis, 22 Januari 2015

PT PAL Mulai Garap Kapal Perang Pesanan FIlipina

ican/kompas.com Ilustrasi: kapal perang

PT PAL Indonesia (Persero) mulai memproduksi kapal perang pesanan Kementerian Pertahanan Filipina sebanyak dua unit Strategic Sealift Vessel-1 (SSV). PT PAL mendapatkan pesanan tersebut setelah melampaui seleksi lelang internasional yang ketat dan panjang.

Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero) M Firmansyah mengatakan, pesanan kapal dari Filipina ini merupakan sebuah prestasi dan juga tantangan bagi PT PAL. "Nilai investasi untuk kedua kapal perang ini mencapai senilai 90 juta dollar AS," kata Firmansyah saat pemotongan pelat pertama (First Steel Cutting) SSV, Kamis (22/1/2015) di Surabaya.

Kapal perang yang akan dibuat tersebut memiliki ukuran panjang mencapai 123 meter dan lebar 21,8 meter. Dengan ukuran tersebut, akan mampu mengangkut 121 kru kapal dan 500 prajurit. Kapal tersebut juga mampu mengangkut sebanyak empat tank, empat truk, satu mobile hospital, dua jeep, dan dua buah helikopter.

Kapal yang akan memiliki kecepatan maksimal 16 knot dengan mesin berkapasitas 2 x 2.920 kW itu akan mampu beroperasi hingga sebulan penuh di laut.

"Kapal ini dapat mengakomodasi kepentingan pemesan baik mengarungi samudra maupun perairan internasional, termasuk melakukan koordinasi baik dalam operasi militer dan nonmiliter," katanya.

Menko Bidang Kemaritiman, Indroyono Soesilo mengemukakan, SSV ini merupakan pengembangan atas desain dan teknologi dari kapal jenis Landing Platform Dock (LPD) yang telah diserahkan oleh PAL kepada TNI AL pada tahun 2011.

"Sebanyak dua unit LPD yang telah beroperasi adalah KRI Banda Aceh (593) dan kini aktif melakukan evaluasi korban pesawat AirAsia QZ8501. Ada pula KRI Banjarmasin (592) yang didemonstrasikan ke TNI AL Filipina serta membantu misi pembebasan pembajakan perompak di Somalia dan misi kebudayaan ke berbagai negara," katanya.
 

Panglima TNI Tinjau Gelar Komlek di Mabes TNI

Panglima TNI Tinjau Gelar Komlek di Mabes TNI
Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko didampingi antara lain Koorsahli Panglima TNI Mayjen TNI Wisnu Bawa Tenaya, para Asisten Panglima TNI dan Kapuspen TNI Mayjen TNI M. Fuad Basya meninjau gelar alat Komlek (Komunikasi dan Elektronika) di sela-sela acara Rakor Komlek TNI tahun 2015, bertempat di Mabes TNI Cilangkap Jakarta, Kamis (22/1/2015). 
Dalam peninjauannya, Panglima TNI dan rombongan melihat berbagai jenis peralatan Komlek yang digelar serta menerima penjelasan tentang skenario jaring Komlek, antara lain komunikasi dengan HTdari Mabes TNI ke Kotamaops yang ada di Indonesia,  menggunakan HP melalui operator untuk selanjutnya disambungkan ke HT Kotamaops, menggunakan HT Panggilan kepada KRI (Kapal Republik Indonesia) yang sedang melaksanakan operasi, dan menggunakan HT ke pesawat udara yang sedang melaksanakan operasi.
 Jenderal TNI Dr. Moeldoko dalam pengarahannya menyampaikan, salah satu kebijakan Panglima TNI adalah Interoperability yang dapat dioperasionalkan melalui satuan komunikasi. Untuk itu, para perwira harus memahami alat-alat baru yang digunakan dalam rangka menghubungkan, menginteroperabilitikan seluruh instrumen komunikasi, sehingga para perwira kembali ke kesatuan masing-masing dapat mengoperasionalkannya. 
Melalui kebijakan Panglima TNI ini, sebuah terobosan untuk merealisasikan impian kita semua bagaimana alat komunikasi kita bisa diinteroperabilitikan menjadi satu. "Nanti kita akan membangun Kowilhan dan ini merupakan salah satu embrio menuju terwujudnya pembangunan Kowilhan. Jangan setelah membangun Kowilhan baru membangun komunikasi", tegas Panglima TNI. 
"TNI selalu berfikir langkah ke depan untuk mengantisipasi perkembangan zaman, bukan tiba masa tiba akal. Persoalan dan kendala yang dihadapi disampaikan, sehingga dapat dicari solusinya sehingga tuntas", ujar Panglima TNI.
 Rakor yang mengambil tema "Jajaran Komlek TNI Siap Mewujudkan Profesionalisme dan Interoperability Komlek", dihadiri 79 personel terdiri dari : 2 personel Kemhan, 24 personel Mabes TNI, 24 personel TNI AD, 13 personel TNI AL, 11 personel TNI AU dan 5 personel peninjau.


TNI. 

Trunojoyo Kini Justru Rawan

badrodin, sutarman dan suhardi alius bertiga

Komjen Badrodin, Jenderal Sutarman dan Komjen Suhardi Alius (foto: tempo.co)

Kemelut masalah penggantian Kapolri dinilai agak mereda setelah pada Jumat (16/1/2015) malam Presiden Jokowi mengumumkan di istana Negara, menunda pelantikan Komjen Pol Budi Gunawan (BG) yang telah disetujui DPR RI dalam rapat paripurna pada hari Kamis (15/1/2015) sebagai calon tunggal Kapolri. Presiden menegaskan pengangkatan BG ditunda tetapi tidak dibatalkan. 
Sebelumnya Presiden Jokowi menyatakan menandatangani dua Keppres (Keputusan Presiden), dan juga mengumumkan memberhentikan dengan hormat Jenderal Pol Sutarman sebagai Kapolri dan mengangkat Komjen Pol Badrodin Haiti sebagai Plt (Pelaksana Tugas) Kapolri. 
Presiden membacakan keputusannya dengan didampingi Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno, Jenderal Pol Sutarman, dan Wakapolri Komjen POL Badrodin Haiti. Pada kesempatan itu Sutarman menyatakan menyerahkan tongkat komando kepada Badrodin dan menegaskan bahwa sejak itu maka tugas dan tanggung jawab sebagai Kapolri sudah berpindah ketangan Badrodin. 

Kerawanan di Trunojoyo 
Khalayak ramai sangat faham kalau kita menggunakan nama Trunojoyo, yaitu jalan dimana Kantor Mabes Polri terletak, dan bahkan sandi Kapolri dikenal sebagai Trunojoyo-satu
Mengapa penulis menggunakan kata rawan? Dalam terminologi intelijen, kerawanan adalah salah satu fakta yang dicari oleh lawan dalam peperangan. Lawan atau bakal lawan akan mencari selain kerawanan, juga kekuatan, kemampuan dan niat. Kerawanan ini adalah sebuah kelemahan yang apabila mampu diekploitir oleh pihak lawan maka akan menyebabkan timbulnya kelumpuhan, apabila rawannya dalam dan besar, bukan tidak mungkin akan menyebabkan kelumpuhan permanen.
Mengapa penulis menyebutnya rawan? Tadi petang penulis melihat di salah satu stasiun TV, dimana narasumber yang diwawancarai adalah Komjen Polisi (Purn) Oegroseno, Mantan Wakapolri (2 Agustus 2013 - 4 Maret 2014). Oegro yang alumnus Akpol 1978 ini kemudian yang digantikan oleh Badrodin Haiti. Karena itu penulis menyimak apa yang dikatakannya sebagai narsum terpercaya. Oegro relatif belum terlalu lama meninggalkan Trunojoyo, dia adalah wakil dari Sutarman.
Kemelut atau yang disebut juga sebagai kontroversi menyangkut pencalonan BG beberapa waktu lalu membuat getaran yang agak kuat, menyangkut beberapa institusi, diantaranya istana, DPR, Polri, Polhukkam, Kompolnas dan KPK. Kemudian muncul sikap pro dan kontra bermacam-macam pendapat. Semuanya wajar dalam iklim demokrasi yang kita anut, siapa saja boleh bicara.
Nah, presiden mengambil keputusan, memberhentikan Sutarman sebagai Kapolri, mengangkat Wakapolri sebagai Plt Kapolri, dan menunda pengangkatan dan pelantikan BG sebagai Kapolri. Apakah dengan demikian suasana menjadi dingin? Nampaknya tidak juga. Bermacam diskusi kembali muncul dimana-mana, ini komoditas media yang mengasikkan, walau sementara agak tertutup dengan berita eksekusi mati enam orang yang terlibat kasus narkoba.
Belum lagi sebelumnya terjadi mutasi terhadap Komjen Suhardi Alius, Kabareskrim ke Lemhannas. Media menjadi lebih menyukai berita-berita yang mengejutkan itu. Penulis dalam hal ini tidak akan masuk ke substansi masalah pergantian dan mutasi lebih dalam, untuk menjaga netralitas artikel sebagai blogger senior (usia 67, alumnus Akabri Udara 1970).
Yang menarik, Oegroseno mengingatkan bahwa supaya Badrodin segera membuat pernyataan yang mendinginkan suasana. Yang terpenting dia mengingatkan bahwa Polri adalah sebuah organisasi yang besar, penegak hukum dan bersenjata. Oegroseno menyarankan agar Komjen Budi Gunawan berbesar hati menyampaikan pengunduran diri. Menurutnya siapa yang dijadikan tersangka oleh KPK, umumnya akan ditahan dan diproses ke pengadilan.
Nah, mencermati masalah tersebut, penulis justru menjadi ikut khawatir, karena kini seberapa besar Badrodin sebagai Plt Kapolri berhasil memegang Kodal (Komando dan Pengendalian) ? Oegro yang sangat faham dengan kondisi internal Polri mengkhawatirkan bahwa apabila tidak cepat dilantik Kapolri baru maka Polri akan dipimpin bintang tiga dalam waktu yang tidak jelas. Lantas bagaimana para pejabat teras bintang tiga juga dipimpin bintang tiga. Apakah ada yang dikhawatirkan? Mungkin saja, di Polri (yang masih memakai pangkat bintang), pengaruh, citra dan keseganan selain jabatan juga kepada berapa bintang di pundak seseorang itu.

Polri secara singkat ditetapkan oleh UU dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab terhadap keamanan dalam negeri, dan dalam UU tentang TNI bertanggung jawab terhadap pertahanan Negara. Pada Tahun 2013, Presiden SBY mengeluarkan Inpres Nomor. 2/2013 tentang peningkatan efektifitas penanganan gangguan Keamanan Dalam Negeri yang Kodalnya berada di tangan Polri. Dalam tertib sipil, penanganan konflik dengan melibatkan aparat TNI, maka komando dan kendali tetap di Polri, (meski ada perbantuan pasukan dari TNI).
Tidak terbayangkan apabila Polri hanya dipimpin oleh Plt dengan bintang tiga, maka dalam melaksanakan kodal (misalnya) sesuai Inpres diatas, apakah semua akan berjalan lancar? Bintang tiga memegang kodal ke satuan yang dipimpin bintang empat. Pengaruh psikologis antar TNI dan Polri saja sulit terbayangkan. Keduanya instansi yang berbeda, Polri bukan militer. Ini efek lain yang sebaiknya diperhatikan pimpinan nasional. Jelas akan ada konsekwensi-konsekwensi yang merugikan di masa mendatang.
Nah, dengan contoh diatas, nampaknya memang Trunojoyo justru kini rawan. Dalam waktu dekat mungkin kepemimpinan di Polri masih kuat, tetapi apabila pelantikan atau penetapan Kapolri pengganti Sutarman tetap tergantung dalam waktu yang cukup lama, dapat diperkirakan akan ada yang menabuh gendang dan Trunojoyo akan diajak menari sesuai irama gendang.
Sebagai penutup, penulis mengingatkan bahwa sebagai penegak hukum, penanggung jawab Kamdagri, beban Polri sungguh berat. Intelijen kini membaca bahwa ancaman terhadap bangsa dan negara semakin luas dan beragam, sulit dapat diprediksikan.
Ancaman terhadap kepentingan dan keamanan nasional tidak lagi bersifat tradisional, tetapi lebih banyak diwarnai ancaman nontradisional. Hakekat ancaman telah mengalami pergeseran makna, bukan hanya meliputi ancaman internal dan/atau ancaman dari luar yang simetris (konvensional) melainkan juga asimetris (nonkonvensional) yang bersifat global dan sulit dikenali serta dikategorikan sebagai ancaman dari luar atau dari dalam.
Penulis sejalan dengan Komjen Pur Oegroseno yang menyarankan, agar Komjen Pol Budi Gunawan sebaiknya mengundurkan diri sebagai calon Kapolri dan menghadapi serta menyelesaikan urusannya dengan KPK. Ketua KPK sangat yakin bahwa mereka sudah memiliki dua bukti awal dan bahkan lebih. Apabila pemberkasan sudah lebih dari 50 persen, maka BG akan ditahan. Kita tidak tahu berapa lama proses berjalan, karena kabarnya minggu depan KPK akan memulai memeriksa saksi-saksi.
Kebesaran hati BG paling tidak akan menyelamatkan institusi dimana dia telah dibesarkan, dan yang jauh lebih penting Polri akan kembali tegar dalam menangani ATHG terhadap bangsa dan Negara ini. Mungkin dilain sisi,keputusannya akan meringankan beban serta tekanan psikologis yang dialami presiden yang kini mungkin sedang ewuh pekewuh.
Pengabdian sebagai abdi Negara akan dicatat, bukan hanya dari kedudukan, tetapi kebesaran hati dan apa yang kita perbuat kepada bangsa dan negara, itu intinya. Masyarakat akan jauh lebih menghargai anda dari kebesaran hati, tidak usah khawatir. Salam Pray. 

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen www.ramalanintelijen.net


MSSR 2000-I: Radar Intai Kohanudnas dari Airbus Defence and Space

image304
Karena dimensinya yang besar, radar intai udara jarang ditampilkan di hadapan publik. Tapi lain hal dalam HUT TNI ke-69, Oktober 2014 lalu. Dalam defile HUT TNI yang disebut terbesar yang pernah diselenggarakan, TNI AU dan Kohanudnas turut menampilkan salah satu alutsistanya, yakni radar intai terbaru MSSR 2000-I di hadapan publik.
Seperti diketahui, satuan radar intai dalam operasionalnya ditangani personel TNI AU, namun dalam gugus komandonya berada di bawah Kohanudnas (Komando Pertahanan Udara Nasional). Selain kedatangan Weibel Portable Radar buatan Denmark, MSSR 2000-I juga digadang ikut melengkapi kemampuan indra Kohanudnas guna menutupi beberapa blank spot area yang masih ada di Tanah Air.
Ada dua unit radar MSSR 2000-I yang akan memperkuat Kohanudnas, dengan pengiriman terakhir di jadwalkan tuntas pada awal tahun ini. Monopulse Secondary Surveillance Radar MSSR-I adalah mengadopsi sistem modular penuh, yang memenuhi standar ICAO (International Civil Aviation Organization) untuk Mark X dan Mark XII. Sistem radar ini dapat dikonfigurasi sebagai radar sekunder yang terpisah, atau bisa juga digabungkan menjadi satu set dengan radar pemantau utama.
Large Vertical Aperture (LVA) MSSR 2000-I
Large Vertical Aperture (LVA) MSSR 2000-I
8845f68f
Seperti yang ditampilkan dalam HUT TNI ke-69, antena radar MSSR 2000-I mengusung tipe Large Vertical Aperture (LVA) yang terdiri dari 35 kolom radiator dan mencapai gain antena lebih dari 27 dBi. Daya endus radar ini mampu mendeteksi sasaran sejauh 255 nautical mile (setara 472,2 Km). Dalam waktu bersamaan, radar dapat mendeteksi 1.500 sasaran dalam radius 360 derajat, 400 sasaran dalam radius 45 derajat, 110 sasaran di segmen 3.5 derajat. Dengan kemampuannya, MSSR 2000-I digadang mampu mendukung peran kontrol lalu lintas udara.
Airbus Defence and Space selaku manufaktur, mengklaim radar MSSR 2000-I sebagai satu-satunya radar sekunder yang bersertifikat sesuai dengan standar kontrol lalu lintas udara terkini, baik sipil maupun militer. Beberapa fitur yang ditawarkan radar ini adalah identifikasi otomatis teman-atau-musuh (IFF/identification friend or foe) untuk menghindari friendly fire. MSSR 2000 I juga berkemampuan Mode 5, standar IFF militer terbaru yang akan akan diterapkan kepada seluruh negara NATO.
20090223-eads-hr
Radar MSSR-2000-I dapat disimpan di satu cargo dan dapat plug-in dengan antena delapan meter (26 kaki), dan seluruh sistem terhubung ke kontrol lalu lintas udara atau jaringan pertahanan udara terpadu, dengan menggunakan protokol data radar ASTERIX (All Purpose Structured Eurocontrol Surveillance Information Exchange). Selain Indonesia, radar sekunder ini juga telah digunakan oleh Jerman, Perancis, AL Inggris, Portugal dan otoritas sipil penerbangan di Filipina. (Deni Adi)


Kenapa Gripen-NG adalah pilihan yang paling “Indonesia”

  Gambar diambil dari: The face of success, SAAB Group PDF file.
Gambar diambil dari: The face of success, SAAB Group PDF file.

Keuntungan pertama: Gripen dapat di-customize 100% menurut kebutuhan Indonesia
Pesawat tempur import modern dewasa ini, baik F-16C/D atau Su-30MK2, biasanya memiliki daftar perlengkapan/persenjataan standard yang sudah ditentukan oleh negara penjual. Kelemahannya, pembeli tidak mungkin menambah pilihan lain yang tidak tercantum di dalam daftar si penjual.
Uni Arab Emirates (UAE) saat ini adalah satu-satunya pengguna F-16 Block-60, sub-tipe F-16 yang paling modern di dunia (lebih modern dari versi USAF). UAE bahkan membayar $3 milyar untuk development cost F-16 Block-60, dan sebagai upahnya, akan mendapat royalty kalau Block-60 ini terjual ke negara lain (belum terjual).
Konsep seperti ini mirip dengan KF-X, bukan? Apakah sudah menjadi skenario yang ideal ?
Saatnya berkenalan kembali dengan tehnik jitu FMS pemerintah US untuk mengontrol persenjataan/perlengkapan negara client.
Untuk menghadapi Iran, UAE menginginkan stealth cruise missile jarak yang jangkauannya mencapai 300 km untuk dipasangkan ke F-16 mereka. F-16 USAF tentu saja dapat membawa senjata semacam ini – AGM-158 JASSM stealth cruise missile. Tapi pemerintah US tidak mengijinkan penjualan senjata ini ke semua negara Timur Tengah.
UAE kemudian melirik MBDA Storm Shadow sebagai pilihan kedua untuk memenuhi kebutuhan mereka. Mereka tetap membentur tembok! Pemerintah US juga tidak mengijinkan perubahan source-code untuk F-16 Block-60 UAE yang memungkinkannya membawa Storm Shadow. Solusi UAE untuk menghadapi masalah ini: mereka memasang MBDA Storm Shadow (versi mereka: Black Shaheen cruise missile) ke Mirage 2000-9 mereka.
Tragedi UAE ini pasti akan terulang dalam KF-X versi Indonesia atau F-16 Block-62.
Tidak seperti UAE, Indonesia tidak akan mempunyai dompet yang cukup tebal untuk membayar harganya.
Di sinilah kunci keunggulan Gripen Negara pembeli mempunyai kebebasan penuh untuk menentukan sendiri apa yang dibutuhkan untuk Gripen mereka.
Gripen-NG di Brazil memberikan contoh yang baik. Kalau melihat diagram breakdown dari Gripen Brazil, local content sudah cukup banyak. Versi Brazil juga akan memasangkan sistem aerial network buatan sendiri, dan mengintegrasikan missile A-Darter (hasil kerjasama Brazil – Afrika Selatan).  Hasilnya, Gripen untuk Brazil sudah akan berbeda dibandingkan milik Swedia. Sepuluh tahun di masa depan, perbedaan perlengkapan antara Gripen Brazil dan Swedia akan semakin membesar, tergantung pilihan masing-masing.
Gripen untuk Indonesia tentu saja juga berpotensi menuju ke arah yang sama. SAAB akan mentransfer source code Gripen (contoh: Brazil) sebagai bagian dari 100% ToT.
Penguasaan Source Code di Gripen memberikan kebebasan untuk Indonesia memilih senjata. Ini akan menjadi deterrent effect tersendiri, dan mendorong kreativitas pemakai.
Misalnya, untuk BVR combat, versi Indonesia dapat membawa tidak hanya Meteor, tapi juga R-77T (infra-red) dan R-77-1 buatan Russia. Kombinasi seperti ini sudah akan menjadi mimpi buruk untuk latihan pilot untuk RAAF Australia dan RSAF Singapore. Sekarang mereka harus berlatih untuk menghadapi 3 macam sub-variant missile yg berbeda, dari negara pembuat yang berlawanan satu sama lain.
Kalau mereka melihat Gripen Indonesia di radar, mereka juga harus menebak, sebenarnya Gripen ini akan membawa senjata yang mana ?.
Sebaliknya, untuk latihan BVR combat, pilot-pilot Indonesia hanya perlu berlatih untuk menghadapi AMRAAM C-7. Sebagai sarana pembantu, Gripen-E/F sudah membawa next-generation Gallium-Nitride jammer yang lebih unggul dibanding semua tipe lain. Keunggulan Jammer ini akan membantu menangkal kemampuan radar kecil di AMRAAM untuk “men-lock” Gripen.
Apapun yang diinginkan Indonesia, dapat disampaikan langsung ke SAAB, dan mereka akan mencoba mengakomodasi, dalam batasan platform Gripen.

Keuntungan kedua: 100% Transfer-of-Technology, dan kesempatan untuk partnership dalam pengembangan proyek Gripen-NG
Kita tidak akan pernah bisa berlari, kalau belum pernah belajar berjalan. Artikel Transfer-of-Technology, sudah membahas hal ini.
Pembelian Gripen akan memberikan kesempatan untuk Indonesia mulai belajar dari NOL. Inilah tempat terbaik untuk mulai terlebih dahulu mendalami tehnologi salah satu pesawat tempur paling modern dewasa ini. Tawaran 100% ToT dari SAAB, tentu saja juga akan membuka peluang yang besar untuk Indonesia dapat merakit Gripen sendiri di Bandung. Indonesia kemudian akan dapat mulai melihat dalam jangka menengah-panjang, seberapa banyak ”part” dalam Gripen yang akan menjadi ”made in Indonesia”.
Ini bukan berarti setelahnya, SAAB akan berpangku tangan, dan mendikte kita seperti kasus FMS pemerintah US. Pembelian Gripen-NG dari SAAB juga akan menjadi undangan untuk bergabung dalam proyek bersama untuk memajukan Gripen fighter system. Brazil sudah dinobatkan sebagai salah satu partner untuk Gripen-NG project, pertama-tama untuk produksi lokal mereka, tapi kemudian untuk semua “Gripen NG customers”. Indonesia juga akan lebih berpeluang mendapat tempat duduk yang sama.
Gripen-NG akan menjadi proyek bersama dari negara-negara yang non-blok / netral, bebas dari pengaruh industri-industri militer tradisional US, dan Russia. Kerjasama antara SAAB (Swedia),  dan PT DI (Indonesia), dalam Gripen-NG akan berpeluang besar menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan di dunia aviation.

Keuntungan Ketiga: Aerial Data Networking
Data Networking Gripen Gambar dari SAAB group
Data Networking Gripen Gambar dari SAAB group

Networking akan membagi satu gambaran yang sama untuk target (lawan), tanpa perlu mengandalkan kemampuan deteksi individual. Target mungkin dideteksi oleh radar di darat, dari kapal, pesawat AEW&C, atau mungkin pesawat tempur lain, tapi setiap pilot pesawat tempur akan mempunyai pengetahuan yang penuh lokasi, ketinggian, dan kecepatan lawan. Tentu saja, semuanya akan tahu benar bagaimana caranya menembak jatuh lawan tersebut. Pihak mana yang dapat membuat gambaran lawan lebih baik, tentu saja akan menjadi pihak yang lebih unggul didalam konflik.
Dalam keadaan sekarang, tidak mungkin F-16 Block-15/52ID dan Sukhoi Su-27 Indonesia dapat di-network bersama. US tidak memberikan (atau tidak mengijinkan) Link-16 NATO-standard network di F-16 Block-52ID, sedangkan TKS-2 Network (kalau ada) di Su-27/30, yang berbasiskan tehnologi Russia tidak akan compatible ke semua sistem pertahananan udara Indonesia yang lain yang rata-rata berbasis tehnologi Barat.
Kelemahan lain, Indonesia tidak akan dapat memasang data network buatan pihak ketiga untuk menghubungkan Su-27/30 dan F-16. Peraturan FMS US tidak mengijinkan modifikasi apapun di F-16 tanpa persetujuan mereka. Di lain pihak, belum pernah ada negara lain yang mencoba memasang Aerial Network buatan Barat yang lebih modern di atas Sukhoi Flanker.
Kesulitan ini akan membawa dampak yang jelek di saat konflik, karena F-16 dan Su-27/30 Indonesia akan bertempur sebagai dua kekuatan yang terpisah, yang hanya dapat dikoordinasi melalui radio. Dan karena sistem radio kedua tipe pesawat ini juga dibuat dari dua sumber yang berbeda, kemungkinannya juga sangat besar untuk lawan dapat melakukan jamming dan mengacaukan signal komunikasi / koordinasi pemakaian kedua tipe ini.
Pembelian Sukhoi Su-35, F-16 Block-62, atau KF-X tidak akan menyelesaikan permasalahan ini. Sebaliknya, Gripen fighter system akan menjadi satu-satunya solusi yang dapat diambil Indonesia.
Swedia adalah salah satu pelopor konsep networking, pertama kalu mulai mencoba sistem ini di tahun 1957. Dengan sistem network TIDLS Swedia (non-NATO, bebas dari kontrol US), SAAB Gripen akan membuka lembaran baru untuk Indonesia. Sistem TIDLS Gripen hampir tidak mungkin bisa di “jamming”. Berbeda dengan Link-16, sistem TIDLS di Gripen akan menghubungkan lebih sedikit pemakai (4 Gripen), tapi pembagian data jauh lebih lengkap/unggul untuk memberikan ‘situational awareness’ yang terbaik. SAAB sudah meningkatkan kemampuan ini lebih lanjut dalam format WISCOM untuk lebih memaksimalkan kemampuan AESA/IRST di Gripen-NG.
Kerjasama dengan Swedia,  akan membuka peluang bagi Indonesia untuk mulai ke tahap pengembangan sistem National Data Link network sendiri, yang tidak hanya akan terbatas di Gripen saja. Kebutuhan Indonesia akan unik, hanya untuk Indonesia sendiri.
Semua Alutsista dari AU, AL, dan AD yang sudah terintegrasi fully networked ke dalam sistem pertahanan yang terpadu, akan menjadi deterrent factor tersendiri, yang sukar ditandingi negara lain.

Keuntungan keempat: Gripen-NG adalah proven-concept; satu-satunya tipe yang akan memenuhi kebutuhan, dan keterbatasan Anggaran Indonesia
Memang Gripen-E yang pertama baru akan terbang di tahun 2018. Tidak seperti proyek KF-X, atau proyek yang tidak karuan seperti F-35 — 90% dari semua komponen baru yang akan dipasangkan di Gripen-E/F sudah berhasil di tes dalam bentuk Gripen-NG demonstrator. Tidak ada tehnologi yang dipakai dalam Gripen-E/F yang belum teruji atau beresiko tinggi.
Gripen-NG adalah proven concept, dan dari segi kemampuan patut diperhitungkan oleh semua negara-negara tetangga yg bersenjatakan pesawat tempur buatan US. Perpaduan TIDLS data-link, kemampuan supercruise, dan Meteor BVRAAM (BVR missile terbaik di dunia) akan membuat lawan berpikir dua kali kalau mau mencoba “menjajal” pertahanan udara Indonesia.
Fleksibilitas Gripen untuk bisa beroperasi dari jalan lurus sepanjang 800 meter, juga dapat disesuaikan dengan proyek pembangunan infrastruktur di seluruh Indonesia. Kenapa tidak? Tentu saja ini perpaduan istimewa, kalau pembangunan infrastruktur di setiap tempat dapat diperhitungkan dengan konsep “jalan lurus disini akan menjadi pangkalan gerilya untuk Gripen”. Sekarang Indonesia dapat membangun ribuan “pangkalan rahasia” untuk Gripen di seluruh pelosok negeri.
Masalah selanjutnya, training.
Jumlah latihan jam terbang standar untuk pilot NATO dewasa ini adalah 170 jam terbang / tahun. Pilot USAF dan US Navy mempunyai standar yang lebih tinggi – 220 jam / tahun. RSAF Singapore dan RAAF Australia, yang dibentuk menurut standard NATO, kemungkinan besar akan mempunyai latihan jam terbang per pilot diantara angka 170 jam – 220 jam per tahun ini.
Indonesia boleh membeli pesawat tempur yang sebagaimanapun hebatnya, tapi tanpa investasi dalam jam latihan, tetap akan mudah dikalahkan oleh F-18A/B Australia, atau F-16 Block-52+ Singapore yang jauh lebih “inferior”, hanya karena pilot mereka jauh lebih terlatih.
Flight hour cost (IHS Jane’s)
Flight hour cost (IHS Jane’s)

Dengan biaya operasional Sukhoi Flanker yang mencapai Rp 400 juta / jam, Indonesia akan membutuhkan Rp 1 Triliun per tahun untuk mencapai angka latihan 170 jam per tahun, hanya untuk 16 Sukhoi. Dengan biaya operasional Gripen (lihat gambar), Indonesia hanya perlu mengeluarkan kurang dari setengah dari biaya tersebut untuk mencapai 170 jam training untuk 48 Gripen (3 Skuadron).
Kenyataannya, Anggaran militer Singapore dan Australia jauh lebih tinggi. Perlengkapan mereka lebih modern, persenjataan lebih lengkap, dan keduanya tidak pernah mengalami masa embargo militer. Gripen-NG, dengan biaya operasional yang bahkan lebih murah dibandingkan F-16, akan memberikan kesempatan untuk Indonesia untuk mengejar ketinggalan, atau menyamai kemampuan mereka.

Keuntungan Kelima: SAAB/Swedia akan menjadi supplier Indonesia
Sebelum tahun 2000-an, Swedia / SAAB bukanlah penjual pesawat tempur yg aktif seperti UK atau Perancis di dunia internasional. Produk mereka selalu bersaing, tapi tidak pernah dijual bebas. SAAB J-35 Draken hanya dijual ke negara-negara Skandinavia yang lain, sedangkan JA-37 Viggen bahkan tidak dijual ke negara lain.
Kebanyakan negara di dunia ini, tentu sudah membina hubungan baik dengan salah satu supplier traditional — US, Russia, Perancis, dan UK. Kalau hubungan mereka sudah baik, biasanya sudah sulit untuk pindah. Lagipula, kemampuan marketing SAAB jelas bukan tandingan Boeing, Lockheed, EADS, atau Dassault.
Kemampuan geopolitik US untuk melakukan tekanan diplomatis cukup besar (supaya negara lain membeli senjata mereka), dan mereka tentu saja rajin membagi-bagi subsidi gratis bagi pembeli senjata mereka. Tidak seperti Pakistan, Indonesia tidak akan mungkin bisa dapat banyak! US akan tetap lebih “sayang” ke Australia dan Singapore.
Swedia yang netral tidak akan mau ambil pusing dengan permainan semacam itu. Tidak akan ada motivasi ”terselubung” yang menyertai pembelian senjata dari Swedia.
Keberanian untuk menawarkan 100% ToT, berarti Swedia / SAAB melihat adanya peluang kerja sama yang besar dengan industri pertahanan Indonesia. Di lain pihak, SAAB justru menolak untuk ikut kompetisi pesawat tempur di negara tetangganya sendiri, Denmark (ini sangat mengejutkan!), Canada, dan Korea (untuk F-X III diundang, tapi menolak untuk ikut).

Kesimpulan
Seberapa hebatnya Gripen untuk Indonesia, tidak seperti pilihan lain, akan murni 100% tergantung kepada kemampuan Indonesia untuk berinovasi, dan tentu saja komitmen sendiri. Dan tidak seperti Flanker, pesawat ini tidak akan menghabiskan uang anggaran militer hanya untuk biaya operasional, jadi dana yang sudah terbatas dapat dialihkan ke bagian lain.
Gripen akan membuka pintu untuk para ahli Indonesia, bukan hanya dalam bidang pesawat tempur, tapi juga dalam bidang persenjataan, perlengkapan, programming, dan data networking yang modern.  
Tidak seperti KF-X berbasiskan tehnologi US, tidak akan ada tehnologi yang dirahasiakan. Bukan tidak mungkin, bahkan semua perlengkapan innovatif yang sudah berhasil dikembangkan melalui sistem Gripen, bahkan dapat di eksport di kemudian hari.
PT DI (tergantung jumlah investasi negara di Gripen) juga akan berpeluang untuk menjadi sub-contractor utama perakitan Gripen di kawasan Asia-Pasifik.
Memilih Gripen-NG akan membebaskan kita dari kemungkinan belenggu FMS yang terus mengancam semua tipe buatan US / Korea (sama saja), dan juga menjamin kestabilan dan kesiapan tempur dibandingkan Sukhoi Flanker yang sudah mempunyai reputasi gampang rusak.
Pembelian Gripen-NG akan menjadi langkah pertama Indonesia untuk mencapai sistem pertahanan yang mandiri.

Catatan penutup
Mesin F414G di Gripen-NG adalah satu-satunya komponen yang masih buatan US. Tapi kita tidak perlu terlalu khawatir! Di masa embargo dahulu saja, Indonesia masih bisa mengudarakan F-16 untuk menghadapi insiden pulau Bawean.
Indonesia tentu akan belajar bagaimana cara men-service mesin F414G tanpa bantuan luar. Lagipula, mesin ini sudah mengumpulkan jutaan jam terbang, dan sangat relaible. Di lain pihak, tidak pernah ada satupun Gripen yang pernah jatuh karena kerusakan mesin.
Tambahan: Iran saja masih mampu menerbangkan F-14A, walaupun sudah di-embargo sejak tahun 1979.
 
(by Gripen Indonesia)
 

Rabu, 21 Januari 2015

  TNI Kekurangan 450 Juta Peluru
KEBUTUHAN prajurit TNI terhadap peluru per tahunnya masih defisit sekitar 450 juta butir. Kekurangan itu coba dipasok PT Pindad yang awal tahun ini baru saja disuntik dana Rp700 miliar agar tentara mampu memenuhi standar kemampuan ideal.
Direktur Utama PT Pindad (persero) Silmy Karim mengungkapkan kebutuhan peluru per prajurit per tahun ialah 1.500 butir. Menurutnya, permintaan tahun ini dari pihak Kementerian Pertahanan baru berkisar 100 juta hingga 150 juta butir.
“Hal itu jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan tahunan sekitar 400 ribu prajurit.Kebutuhan peluru di Indonesia untuk menjamin level kemampuan prajurit yang ideal itu ialah 600 juta peluru,” kata Silmy di Kantor Wapres, Jakarta, kemarin.
Kebutuhan ideal prajurit akan peluru itu, jelasnya, didasarkan atas perhitungan kebutuhan latihan menembak. Sebanyak 1.500 peluru per tahun atau 4,1 peluru per hari dibutuhkan untuk menjaga kemampuan menembak prajurit.
“Seharusnya ini ada ruang industri pertahanan, dalam hal ini Pindad yang ditugasi mendukung alutsista (alat utama sistem senjata), khususnya amunisi itu, menyerap atau istilahnya merespons dengan persiapan peningkatan kapasitas,” tutur dia. Bagi Silmy, peningkatan produksi amunisi itu bukan lagi angan-angan. Suntikan penyertaan modal negara (PMN) kepada Pindad sebesar Rp700 miliar untuk 2015 sudah menjadi modal yang cukup. Dana itu, kata dia, salah satunya bakal digunakan untuk peningkatan kapasitas produksi.
Terutama untuk memenuhi kebutuhan Kementerian Pertahanan, TNI, dan Polri.”Selain itu, untuk modernisasi peralatan dan perlengkapan mesin,” imbuhnya.
Menyoal penyediaan alutsista, sambungnya, Pindad sudah bersiap untuk memproduksi dua jenis yang sudah dibebankan kepada pihaknya, yakni tank kelas main battle yang tak terlalu berat sekaligus punya kemampuan water cannon serta roket.
Silmy mengakui pembuatan alutsista tersebut tak semata mengandalkan usaha dalam negeri. Pihaknya sudah menjalin kerja bareng dengan sejumlah negara.
Ia mencontohkan, Pindad bekerja sama dengan Jerman untuk mengembangkan amunisi kaliber besar, dengan Belgia dan Italia untuk memproduksi bagian kubah tank (turret), serta dengan Turki untuk mengembangkan platform tank.
“Kerja sama penting untuk alih teknologi.Hal itu untuk menghemat biaya dan waktu riset,” tukasnya.