Minggu, 18 Januari 2015

Apakah sudah saatnya Indonesia keluar dari proyek KF-X?

  An artist's impression of South Korea's next-generation KF-X fighter jet. (Yonhap file photo)

An artist’s impression of South Korea’s next-generation KF-X fighter jet. (Yonhap file photo)

Yonhap News Agency dan Korean Herald di tahun 2014 lalu melaporkan bahwa perdiksi biaya development cost dan biaya produksi untuk 250 unit KF-X akan mencapai 20 Triliun Won (US$19.7 milyar).
$19.7 milyar. Kontribusi Indonesia 20% membuahkan angka sekurang-kurangnya $4 milyar atau Rp 48 Trilliun. Bahkan kemungkinan, sebagian besar dari $4 milyar itu harus terlebih dahulu dibayar Indonesia, beberapa tahun sebelum KF-X pertama dapat lepas landas.
Kabar terakhir, menurut Aviation week, parlemen Korsel belum menyetujui mulainya “full-scale-development” untuk KF-X. Ini berarti proyek KF-X masih akan tertunda sampai pemerintah baru Korsel terpilih di tahun 2016.
Sejauh ini KF-X tetap adalah pesawat kertas. Sudah saatnya kita menilik kembali faktor-faktor resiko proyek ini untuk Indonesia. Adalah hak rakyat untuk mengetahui bagaimana uang $4 milyar ini akan dipakai, dan apakah pesawat seperti ini dapat memenuhi cita-cita ”membuat pesawat sendiri.”

Masalah pertama, partnership Korsel-Indonesia dalam KF-X bukanlah partner yang seimbang
Pengalaman, pengetahuan, kemampuan, dan tehnology-expertise KAI (Korean Aerospace Industry) dalam bidang pesawat tempur jauh lebih tinggi dibandingkan PT Dirgantara Indonesia, yang sejauh ini lebih berkonsentrasi ke pesawat angkut ringan, dan lisensi pembuatan helikopter.
Bukankah ini artinya Indonesia seperti “berguru” disana?
Kita memang harus belajar, tapi program semacam KF-X bukanlah tempat yang ideal. Program semacam ini justru menuntut partner yang bisa timbal-balik, dan dapat memberi masukan technical. Dalam hal ini, kemampuan Indonesia dalam industri pesawat tempur NOL besar. Tidak seperti Korea, Indonesia tidak pernah mendapat tawaran ToT, dan merakit pesawat tempur sendiri di Bandung, sedangkan semua pesawat tempur TNI-AU dewasa ini, relatif masih berbasis tehnology tahun 1980-an, atau 1990-an. Ini artinya, Indonesia tidak akan punya kemampuan untuk menawar sebagai partner dalam proyek.
Hasilnya, KF-X akan di-desain murni oleh Korea, menurut spesifikasi yang diinginkan Korea, dan akan mempunyai tujuan utama untuk memenuhi kebutuhan AU Korea. Indonesia tidak akan punya suara apa-apa untuk menentukan semua ini.
Indonesia hanya akan menjadi ”kerbau yang dicocok hidungnya”, yang dipaksa untuk terus menganggukan kepala, untuk semua hal yang di sudah ditentukan kemauan Korsel.

Masalah kedua, Korea Selatan membutuhkan Transfer-of-technology dari salah satu perusahaan yang sudah berpengalaman
Faktanya, walaupun Korea mungkin jauh lebih maju daripada Indonesia, mereka belum mempunyai cukup expertise untuk membuat pesawat tempur sendiri.
Transfer-of-technology dan license-production untuk membuat F-16 C/D di awal tahun 2000-an, dan pengalaman kerjasama membuat T-50 LIFT trainer tidaklah menjadikan Korea sebagai negara yang dapat dibandingkan dengan negara-negara pembuat pesawat tempur tradisional yang lain.
 Berkaitan dengan masalah pertama tadi, karena KF-X adalah “100% made in Korea”; Korsel tidak merasa perlu untuk berdiskusi dengan Indonesia dalam hal memilih partner.
Sebaliknya, mereka sudah langsung mengundang Lockheed-Martin sebagai partner tehnology utama dalam KF-X; sebagai salah satu offset (syarat) dari transaksi pembelian 40 F-35A, yang senilai US$7 milyar.

Masalah ketiga, partnership dengan Lockheed-Martin, berarti 90% dari komponen KF-X akan di-source dari US.
 Ini tentu saja tidak menjadi masalah besar untuk Korea Selatan, yang dapat dianggap sebagai salah satu negara “sekutu kesayangan” US, menyamai negara-negara lain seperti Australia, Singapore, dan Jepang.
Akan tetapi, ini artinya SEMUA komponen vital yang dibutuhkan untuk KF-X, akan berada di bawah kontrol program FMS (Foreign Military Sales) USA. Pemerintah US akan mempunyai 100% kontrol untuk menentukan kualitas perlengkapan yang boleh dipasangkan ke KF-X, dan ini biasanya adalah mimpi buruk bagi semua pembuat senjata yang memakai komponen buatan US.
 Ada berita dari Korea, bahwa akhirnya jumlah komponen Korea akan menggantikan kebanyakan komponen buatan US dalam KF-X. Tapi komponen yang mana?
Korea bahkan belum mampu menulis “Software Source Code sendiri untuk pesawat FA-50 mereka (versi tempur dari T-50 Golden Eagle). Ini adalah komponen terpenting (yang juga tidak kelihatan) dalam pesawat tempur untuk menentukan perlengkapan apa yang bisa dipasangkan, mulai dari radar, missile, aerial-network, air-combat programming mode, dan counter-measure. Lockheed-Martin (yang juga partner pembuat T-50) adalah penulis Source Code untuk FA-50.
Kalau menulis code untuk FA-50 yang jauh lebih sederhana saja Korea tidak bisa, bagaimana dengan KF-X yang jauh lebih rumit?
Faktanya, Korea belum mempunyai kemampuan industri mandiri untuk membuat AESA radar, aerial network modern, flight control software, dan semua komponen penting lain yang vital. Setelah Lockheed-Martin mengunci “software source code” di KF-X, Korea / Indonesia tidak akan mungkin mengganti semua komponen vital dari buatan US, menjadi non-US.
Hal ini membawa kita ke masalah yang berikutnya.

Masalah keempat, campur tangan program FMS, berarti IF-X Indonesia hanya akan menjadi versi “downgrade” dari KF-X Korea.
Sudah menjadi rahasia umum, kalau pemerintah US selalu campur tangan dalam mengatur level persenjataan yang dibeli negara-negara client-nya.
Mari menengok kembali salah satu deal terpenting US – Indonesia akhir-akhir ini: Pembelian F-16 Block-52ID.
Dan walaupun daftar ini kelihatannya sangat bagus, dan Indonesia mendapat bermacam-macam hadiah, ada beberapa hal yang hilang jika dibandingkan semua transaksi pembelian F-16 Block-50/52 lainnya.
Pertama, dokumen dari DCDA ini saja, bahkan sengaja tidak menyebutkan versi dari radar APG-68. Ini artinya, Indonesia mendapat versi paling basic dari APG-68, bukan tandingan dari APG-68v7 atau v9 yg memperlengkapi F-16 Block-50-52/52+/50+ Singapore, Korea Selatan, Pakistan, dan Maroko. Tentu saja, performa radar v7 dan v9 akan dapat men-lock BVR missile sekelas AMRAAM dari jarak yang lebih jauh dibandingkan APG-68v basic.
Komponen berikutnya yang hilang dari daftar DCDA dibanding dengan F-16 yang dibeli negara-negara diatas adalah Joint-Helmet-Mounted Cueing System (JHMCS). Helm pilot modern ini memungkinkan F-16 untuk membawa AIM-9X. Ini adalah missile generasi terakhir dari keluarga Sidewinder, yang dapat ditembakkan dengan sudut 90 derajat dari arah moncong pesawat. Ketidakberadaan JHMCS di F-16 Block-52ID, berarti jenis Sidewinder yang dapat dibawa hanya akan terbatas di tipe terakhir – AIM-9M.
Terakhir, tentu saja Link-16 data network yang seharusnya menjadi standar pesawat tempur modern juga abstain dalam daftar DCDA untuk F-16 Block-52ID.
Tentu saja, dengan semua perlengkapan yang jauh lebih modern, F-16 Block-52ID kemampuannya jauh diatas jika dibandingkan dengan F-16 Block-15OCU yang sudah kita miliki. Tetapi, jika F-16 Block-52ID dibandingkan dengan semua F-16 Block-50/52 yang lain, tentu saja Block-52ID akan kalah. Ini bukan karena Indonesia membeli bekas, tetapi karena kualitas perlengkapan Indonesia memang sudah beberapa tingkat dibawah standar F-16 Block-50/52 yang lain.
Kemungkinan besar, ini dikarenakan Indonesia berbatasan dengan Australia, yang termasuk ke dalam daftar Non-NATO ally untuk US. Policy yang “tidak terlihat” seperti ini kecil kemungkinannya bisa diubah. Sejarah persekutuan antara Australia – US yang erat ini berawal sejak tahun 1941. Tentu saja, US akan “memastikan” setiap senjata asal US yang dibeli Indonesia, akan dikontrol di level yang tidak membuat Australia menjadi “khawatir”.
Dalam konteks KF-X, Korea (yang masuk ke dalam daftar diatas) boleh jadi akan “di-ijinkan” untuk mengambil semua “top-spec equipment” dari US seperti Raytheon RACR (AESA) radar, Link-16 data network, Joint-Helmet-Mounted-Cueing-System (untuk menembakkan AIM-9x tipe baru), dan tentu saja AIM-120D AMRAAM jenis terbaru yang development-nya sekarang belum selesai.

Kesimpulan
Kalau mimpi Indonesia untuk ikut proyek semacam KF-X adalah untuk mencari “pesawat tempur buatan sendiri”, mohon maaf!
Ini hanya akan tetap menjadi mimpi belaka yang tidak akan pernah menjadi kenyataan!
Malah boleh dibilang, proyek ini hanyalah suatu penipuan besar untuk seluruh rakyat Indonesia.
Faktanya, KF-X / IF-X tidak akan berbeda jauh dari F-16 yang import, karena semua aspect penting-nya akan sepenuhnya dikontrol oleh pemerintah US. Kebijaksanaan mereka adalah penentu utama untuk hasil akhir IF-X yang “boleh” diambil Indonesia.
Tentu saja, hal ini akan berbeda kalau saja Korea memilih untuk bekerja-sama dengan EADS (Eropa). Hasil akhir KF-X akan lebih menjanjikan dibandingkan sekarang. Tapi tentu saja, Korea tidak akan pernah memikirkan kebutuhan Indonesia dalam hal ini.
Jadi mananya yang “pesawat buatan sendiri”?
Penulis berpendapat bahwa SAAB Gripen-E/F yang sudah ditawarkan melalui program 100% Transfer-of-Technology mempunyai potensi untuk jauh lebih ”Indonesia” dibandingkan KF-X yang ”100% Made in Korea (USA)”, ataupun semua pilihan pesawat import lainnya. Ini akan dibahas di artikel selanjutnya.

Oleh: Gripen-Indonesia
Sumber Link silahkan klik :

KRI Karang Pilang 981: Nasib Kapal Angkut Sipil yang Terkena “Wajib Militer”

Karangpilang2
Wamil (wajib militer) nyatanya tak melulu ditujukan ke warga sipil, untuk memperkuat kebutuhan operasional, baik TNI AL dan TNI AU jamak menerima ‘wamil’ berupa limpahan wahana yang awalnya sebagai transportasi sipil. Di lingkup armada TNI AL, adalah Satban (Satuan Kapal Bantu) yang dipercaya mengkaryakan kapal-kapal eks sipil yang dikonversi sebagai kapal pengangkut pasukan. Nah, untuk urusan yang satu ini, TNI AL rupanya punya bebarapa varian.
Untuk kapal-kapal eks PT Pelni, diberi kode awalan Tanjung. Dan jadilah seperti yang kita kenal KRI Tanjung Kambani 971, KRI Tanjung Oisina 972, KRI Tanjung Nusanive 973, dan KRI Tanjung Fatagar 974. Sebagai eks kapal Pelni yang lumrah mengemban misi transportasi antar pulau jarak menengah – jauh, maka kapal-kapal dengan awalan ‘Tanjung’ punya tonase yang besar. Perannnya cukup strategis, seperti dalam pergeseran pasukan dalam jumlah besar. Di masa damai pun, kapal-kapal ini banyak dimanfaatkan untuk misi sosial.
Selain itu Satban juga punya kapal angkut cepat. Kapal-kapal ini merupakan limpahan dari PT ASDP (Angkutan Sungai Danau dan Penyeberan). Dari kualifikasinya masuk sebagai KFC (Kapal Ferry Cepat). Agar mudah mengkategorikannya, TNI AL memberi identitas awalan nama ‘Karang’ di setiap kapal. Yakni KRI Karang Pilang 981, KRI Karang Tekok 982, KRI Karang Banteng 983, KRI Karang Galang 984, dan KRI Karang Unarang 985. Proses hibah lima kapal ini dilaksanakan antara Departemen Perhubungan ke Departemen Pertahanan pada September 2005 dengan nilai Rp491 miliar. Alasan hibah kapal-kapal ini lantaran KFC mulai sepi peminat, kalah bersaing dengan tiket murah pesawat, dan biaya operasional KFC yang cukup tinggi.
Bagian buritan KRI Karang Pilang 981
Bagian buritan KRI Karang Pilang 981
KRI Karang Unarang 985.
KRI Karang Unarang 985.
KRI Karang Unarang dikembalikan sebagai wahana tranport sipil.
KRI Karang Unarang dikembalikan sebagai wahana tranport sipil.

Sebagai kapal cepat, armada KFC memang mampu ngebut layaknya MTB (Motor Torpedo Boat) Jaguar. KFC dibuat oleh galangan kapal Lurrsen (Fr. Lurssen Werft) di Bremen, Jerman pada tahun 1998. Mengandalkan empat Mesin Pendorong Pokok (MPK) bertenaga Water Jet, dapat dicapai kecepatan maksimal hingga 38 knot, serta kecepatan jelajah 30 knot. Namun, kemampuan dalam kecepatan yang menjadi ciri khas kapal buatan Jerman ini, rupanya menjadi batu sandungan dalam hal operasional. Kecepatan kapal identik dengan borosnya konsumsi bahan bakar. Sementara jika kapal boros bahan bakar, maka gelar operasionalnya akan menjadi sulit, mengingat keterbatasan anggaran.
Untuk itu, dua KFC (KRI Karang Pilang 981 dan KRI Karang Unarang 985) diputuskan guna dilakukan downgrade pada sistem propulsi. Penggantian sistem propulsi dari empat MPK menjadi dua MPK Shaft Propeler adalah usaha untuk menghemat bahan bakar. Kecepatan kapal turun drastis dari 38 knot menjadi 18 knot, namun dari segi konsumsi bahan bakar solar dapat menghemat pemakaian dari 2 ton per jam menjadi 2 ton per hari. Kapasitas maksimal BBM adalah 54 ton dengan kemampuan jelajah kapal mencapai 926 km.
Karena fungsinya juga sebagai kapal angkut militer, maka kapasitas penumpang kapal ini dikurangi untuk memberi tempat bagi peralatan militer yang akan diangkut, dari kapasitas awal 925 orang menjadi 600 orang. Meski mesinnya di downgrade, namun TNI AL melengkapi kapal ini dengan senjata anti serangan udara, khususnya pada KRI Karang Pilang dipasang dua pucuk kanon kaliber 20 mm. Proses modifikasi KRI Karang Pilang 981 dilaksanakan oleh Dock Ship Lift Divisi Kapal Perang PT. PAL. Meski tak punya kemampuan stealth, tapi dengan bodi yang streamline plus badan kapal terbuat dari alumunium, maka secara teknis jika terdeteksi radar kapal perang musuh, kapal ini akan tampak samar.
KM Ambulu (kini KRI Karang Pilang 981)
KM Ambulu (kini KRI Karang Pilang 981)
KRI Karang Tekok 982.
KRI Karang Tekok 982.

Dirunut dari sejarahnya, KM Ambulu (sekarang KRI Karang Pilang 981), KM Mahakam (KRI Karang Tekok 982), KM Serayu (KRI Karang Banteng 983), KM Cisadane (KRI Karang Galang 984), dan KM Barito (KRI Unarang 985). Pengoperasian dua kapal terakhir diserahkan ke Armada RI Kawasan Barat.

Jadi Tumbal
Saat menjadi wahana transportasi sipil diberi label KFC (Kapal Ferry Cepat), maka kini sudah berubah identitas dalam pengebutan, yakni sebagai KCAP (Kapal Cepat Angkut Personel) yang diawaki oleh 30 anak buah kapal dengan komandan dengan berpangkat mayor.
Sayangnya, kapal angkut cepat ini tinggal satu unit yang dioperasikan TNI AL, yakni KRI Karang Pilang 981. Dengan alasan kurang efisien dalam biaya operasional, satu per satu kapal asli Jerman ini mulai di purna tugaskan. Seperti KRI Karang Banteng 983 yang nasibnya dijadikan tumbal dalam latihan gabungan TNI pada Juni 2014. KRI Karang Banteng 983 dijadikan sasaran tembak rudal Exocet yang dilkepaskan dari korvet KRI Sultan Iskandar Muda 367. Sebelumnya KRI Karang Galang 984 sudah dikaramkan pada tahun 2008, saat itu kapal ini ditembakkan dengan rudal C-802 yang dilepaskan dari KRI Layang FPB-57 Nav V dalam Latihan Gabungan.
KRI Karang Banteng 983.
KRI Karang Banteng 983.

Lalu bagaimana dengan kisah Karang Unarang 985? KRI ini nasibnya masih mujur, karena pada tahun 2012 telah dihibahkan TNI AL kepada Pemerintah Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara, yang akan digunakan untuk mobilitas penumpang dan barang. Sebagai kapal angkut, sejatinya kelengkapan kapal ini terbilang modern, diantaranya adopsi sistem pemadaman sentral otomatis dengan menggunakan smoke detector. Tidak perlu pemadaman manual dengan menggunakan CO2 portabel seperti yang diterapkan di kapal-kapal lama. Begitu pula sistem kemudi sudah memakai joystick. (Bayu Pamungkas)

Spesifikasi KRI Karang Pilang 981
  • Panjang keseluruhan: 69,80 m
  • Panjang antara garis tegak (LBP): 62,00 m
  • Lebar: 10,40 m
  • Berat bersih : 493 metrik ton
  • Tangki BBM (FOT total): 54 ton
  • Kecepatan maksimum : 38 knot
  • Kecepatan jelajah : 30 knot
  • Jarak jelajah maksimum : 926 km
  • Daya mesin penggerak (MPK) 3.805 AW/2 unit.
  • Daya angkut sebanyak 600 pasukan.

Indomil.

Jumat, 16 Januari 2015

Gemuruh di Asia, Mendidih di Asia Tenggara

f-16 indonesia
f-16 Indonesia

Pada dua kesempatan terakhir, sepasang Sukhoi Su-30 untuk memaksa pesawat asing mendarat. Meski sempat diragukan apakah Su-30 Indonesia telah memiliki kemampuan menyerang, karena rudal belum disampaikan untuk jet buatan Rusia.
Tapi konfrontasi menggarisbawahi pergeseran dalam kemampuan militer antara bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Satu dekade yang lalu, angkatan udara Indonesia memiliki sedikit kemampuan tempur canggih, setelah sebagian besar jet tempur mereka harus digrounded karena embargo Amerika serta krisis ekonomi.
Sekarang negara ini meregangkan otot. Anggaran pertahanan resmi di Indonesia telah meningkat empat kali lipat selama dekade terakhir menjadi 8 miliar Dollar Amerika. Sementara itu, suku cadang untuk F-16 yang sempat diembargo juga telah didapatkan. Bahkan pesawat versi baru telah diperintahkan. Delapan helikopter serang Apache Boeing telah dibeli; dan ekspansi angkatan laut yang besar telah terjadi sebagai bagian dari program modernisasi $ 13200000000 lima tahun diumumkan pada bulan Agustus 2013. Su-30 dibeli menggunakan sistem kredit senilai  1 miliar Dollar Amerika pada tahun 2007.
Ekspansi muncul jauh dari selesai. Presiden baru terpilih Joko Widodo membuat swasembada dan eksploitasi sumber daya kepulauan kelautan menjadi tema pemerintahannya, dan dia sudah berbicara akan menaikkan anggaran hingga dua kali lipat.
Sikap ini mencerminkan perubahan laut dalam pemikiran militer Asia Tenggara. Selama beberapa dekade, militer di kawasan itu difokuskan pada pemberontakan dalam negeri, keamanan perbatasan dan, dalam beberapa kasus, mempertahankan kontrol politik. Angkatan Darat kuat adalah kebutuhan pokok.
Tetapi saat ini, pemerintah lebih peduli mengamankan udara dan laut sehingga mereka dapat melaksanakan kedaulatan atas laut dan dasar laut sumber daya, kontes klaim tumpang tindih, mencegah penjarahan hutan dan mineral, dan memantau pergerakan orang. Hal ini memerlukan investasi dalam kekuatan angkatan laut dan udara.
Dengan ekonomi mereka pindah ke yang disebut-menengah – lebih tinggi dalam kasus sepenuhnya dikembangkan Singapore – pemerintah memiliki dana lebih untuk dibelanjakan pada platform militer canggih dan senjata.

Rusia Siap Kembang Kerjasama Teknik Militer Dengan Indonesia di Tahun 2015



 Pemerintah Rusia melalui Duta Besar yang berada di Indonesia, mengatakan ditahun 2015 pihak Rusia siap untuk meneruskan pengembangan kerjasama bidang teknik militer dan bidang pertahanan dengan pemerintah Indonesia.
Dubes Rusia juga berharap hubungan kerjasama militer dan pertahanan yang telah tercapai ditahun lalu akan menjadi fondasi yang baik untuk perkembangan di tahun selanjutnya.  
Demikian dikatakan Duta Besar Rusia untuk Indonesia M.Y.Galuzin saat bertemu dengan Menteri Pertahanan RI, Ryamizard Ryacudu, Kamis (15/01) di Kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta.
Putusan kesiapan pihak Rusia tersebut merupakan tindak lanjut atas kesepakatan yang telah dicapai antara Presiden RI Joko Widodo dengan Presiden Rusia,  Vladimir Putin disela-sela pertemuan APEC tahun 2014 lalu. Adapun salah satu kesepakatannya adalah perkuat hubungan teknik militer dan kerjasama di bidang pertahanan diantara kedua negara.
Pembicaraan kerjasama teknik militer ini juga sempat dibicarakan antara Presiden Joko Widodo dengan Direktur Jenderal Rosoboront Eksport dan Duta Besar Rusia untuk Indonesia pada tanggal 8 Desember 2014. Pada kesempatan tersebut Presiden Joko Widodo membenarkan adanya minat dari Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan kerjasama teknik militer dengan pihak Rusia.
Lebih lanjut Dubes Rusia menjelaskan bahwa pihak Rusia bersedia untuk meneruskan kerjasama terhadap proyek-proyek yang mempunyai prospek besar berdasarkan kesepakatan yang telah dicapai kedua belah pihak.
Ditambahkan Dubes Rusia pihaknya siap untuk meneruskan dan memulai kerjasama dibidang pengadaan beberapa alutsista seperti pesawat tempur multifungsi, jenis SU-35, Kapal Selam Kelas 636. Disamping itu berbagai jenis peralatan untuk Angkatan Darat jenis Panser, Helikopter MI-17, MI-35 dan K-25, kendaraan berat BMP 3 F dan jenis alutsista lain.
Tidak hanya itu, Pemerintah Rusia  juga akan siap mengembangkan kerjasama di bidang industri pertahanan, diantaranya untuk pelaksanaan proses Transfer of Technology, mengadakan Join Production menghasilkan bersama untuk suku cadang berbagai jenis alutsista, mengembangkan skema Offset termasuk juga didirikannya service center.
Oleh karena itu pihaknya kata Dubes Rusia siap menerima kunjungan dari beberapa pejabat militer dan pertahanan dari Indonesia seperti kunjungan KASAL dan KASAU ke Rusia untuk melihat langsung pesawat tempur jenis SU-35 dan kapal selam 636.
Pada kesempatan pertemuan itu, Menhan mengatakan apa yang menjadi harapan dari pihak Rusia adalah keinginan yang sama bagi pihak Indonesia untuk bisa mengembangkan kerjasama teknik militer dengan pihak Rusia.
“ Dari Presiden terdahulu hingga Presiden Rusia yang sekarang Indonesia dengan Rusia menjalin hubungan kerjasama militer, dan kedepannya diharapkan makin meningkat,” Ungkap Menhan.
Menhan juga menyampaikan ketertarikannya akan pengadaan pesawat yang mampu mendarat di permukaan air atau laut (Amphibius Aircraft). Keinginan Menhan ini terkait dengan kebijakan Presiden RI Jokowi yang memberikan perhatiannya terhadap hal kemaritiman. Menurut Menhan pesawat ini berguna untuk melaksanakan patroli terhadap pencurian ikan di laut dan bisa digunakan untuk membantu operasi pencarian kecelakaan jatuhnya pesawat di laut.
“ Karena Presiden kita concern terhadap hal maritim, saya tertarik akan pesawat yang bisa mendarat di Air. Nanti berguna untuk patroli dilaut terhadap pencurian ikan di laut dan bisa digunakan untuk membantu pencarian kecelakaan jatuhnya pesawat di laut.” Kata Menhan.

DMC. 

Pengganti F-5 Tiger Indonesia (Leaks)

  Saab Gripen NG Swedia
Saab Gripen NG Swedia

Sudah DIPILIH bung. Menurut wartawan senior istana K.I.S Ma**agie saat mewawancarai RB.Pan**itan kastaf kepresidenan tetang potensi ekonomi BUMN strategis dalam kerjasama asia afrika, usai rapat persiapan jelang ulang tahun KTT ASIA AFRIKA, Lu*ut menuturkan bahwa “indonesia telah memutuskan pembelian sekitar 32 pesawat jenis gripen F dari swedia, dimana 10 pesawat akan dirakit di Swedia sisanya akan dirakit di brazil kmudian Indonesia. Dengan keputusan ini maka PT.DI akan menjadi supervisor bagi pembagunan pesawat gripen untuk pasar asia.sebagai persiapan presiden akan meninjau fasilitas ke bandung.”
Menurut info lain yang dapat dipercaya a*di wi*ayanto lah yang berkeras mengolkan gripen setelah sebelumnya wapres jusuf kala menawarkan euro fighter 2 batch,tapi ditolak jokowi karena bekas stock jerman dan inggris.sebagai persiapan tim dari kemenhan & PT.DI akan berangkat ke skandinavia untuk pengurusan kontrak.MOU akan ditandangani awal april skaligus press relaease..
Apakah ini akan mengantikan F-5 tunggu saja presss releasenya awal april.
Saya tuliskan disini agar para formil warjager tahu saja.kebetulan saya dan narasumber sama sama kuli tinta. Hanya dia bidang ekonomi dan saya bidang editing.dia di istana saya di redaksi. (Posting by Kunto).
*Thanks Kunto atas informasinya.
nb: rekan rekan berita ini belum terkonfirmasi, dan anggap sebagai background informasi, untuk menggali informasi yang lebih mendalam.  Mohon bijak menyikapinya. Salam.

Sukhoi SU-35 Pilihan Pengganti F-5 TNI AU

Panglima
Panglima TNI Jenderal Moeldoko (Detik.com)

Pesawat tempur TNI AU F-5 dinilai sudah mulai menua dan tim dari TNI AU telah melakukan sejumlah kajian untuk mencari pengganti pesawat buatan Amerika Serikat tersebut.
“Terkait kondisi F-5, TNI AU juga telah membuat kajian alternatif-alternatif penggantinya,” kata Panglima TNI Jenderal Moeldoko usai menghadiri sertijab KSAU di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Kamis (15/1/2015).
Ada 3 alternatif yang masuk daftar pengganti F-5. Sukhoi SU-35 buatan Rusia disebut-sebut sebagai pengganti yang paling diminati.
“Pertama Sukhoi 35, kedua F-16, ketiga Gripen dari Swedia. Tiga-tiganya sudah kita sampaikan kepada Menhan dan yang dipilih TNI AU adalah menempatkan Sukhoi 35 paling atas,” jelas Moeldoko.
Pesawat tempur TNI AU F-5 bikinan AS itu memang sudah termasuk uzur yaitu sekitar 34 tahun usianya dan mulai ketinggalan zaman. Sementara calon penggantinya yang disebut-sebut yaitu Sukhoi Su-35 memang berkemampuan tinggi dan menandingi F-15 Eagle dan F-16 Fighting Falcon bikinan AS. 

Detik.

Ranger AS kagum lihat aksi Raider TNI AD, langsung minta berguru


US Ranger latihan bersama Raider AD. ©2015 Merdeka.com
US Ranger latihan bersama Raider AD. ©2015 Merdeka.com

Pengakuan soal ketangguhan Tentara Nasional Indonesia di hadapan militer dunia lainnya seakan tak habis-habis. Merdeka.com sebelumnya mengangkat kisah Kopaska AL ataupun Kopassus. Kini, giliran pasukan khusus milik Angkatan Darat yang berada di bawah naungan Kodam Brawijaya ikut mengundang decak kagum asing.
Pada Oktober 2014, Resimen 2nd Stryker Pasukan Khusus Ranger, Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army) menggelar latihan di Indonesia. Mereka berlatih bersama dengan Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat, Batalion Infanteri 411/Raider.
Latihan yang digelar di Hutan Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, itu digelar sebulan penuh. Seperti dilansir military.com (2/10/2014), para tentara AS sengaja datang jauh-jauh untuk mempelajari taktik perang daerah tropis.
Tak disangka, latihan survival di tengah hutan Jatim itu sangat mengerikan. Dari pengakuan Pratu Juan Gonzalez (20 tahun), persiapan mereka di Negeri Paman Sam jadi kurang gahar.
Sebelum berangkat satu kompi pasukan Ranger ini dilatih bertahan hidup di Pegunungan Fort Irwin, California sebulan penuh. Itu saja sudah berat sekali.
“Latihan yang mengerikan di kampung halaman tidak menggambarkan apa yang saya alami di Jawa Timur. Ada beberapa hal yang belum saya dapat. Misalnya bagaimana bila tiba-tiba berhadapan ular,” kata Gonzalez yang berasal dari Kota Chicago ini.
Dan dalam momen itulah, aksi-aksi pasukan Raider TNI AD begitu memesona bagi Gonzalez. Rekan yang baru dia kenal ini mengajarkan bagaimana bertahan hidup di hutan tropis yang serba lembab sehingga menguras energi. Termasuk membunuh dan menyantap hewan buas, contohnya ular.
“Saya sangat takut ular. Saya tidak mau melakukannya lagi,” kata anggota regu penembak ini sambil tergelak.
Dari segi ketahanan fisik, walau berasal dari iklim yang berbeda, Pasukan Ranger AS mengakui hebatnya Raider dalam menghemat tenaga. Banyak tips didapatkan para infanteri asing ini, misalnya metode bertempur di hutan hujan yang mengandalkan gerak cepat.
Sersan Jeffrey Baldwin salah satu yang merasakan manfaat latihan bersama ini. Dia mengaku tak segan-segan berguru pada pasukan Raider karena efektivitas tempur TNI AD dalam situasi lingkungan mahakeras.
“Saya sangat kagum dengan pasukan Indonesia. Saya banyak mendapatkan ilmu baru,” ujarnya.

Di luar itu, Ranger AS merasa betah berlatih sebulan di Situbondo karena tentara Indonesia sangat ramah. Mereka jadi kawan yang bisa diandalkan untuk bertahan hidup.
Selama 30 hari, dua pasukan beda negara ini hidup bersama. Mereka harus mencari bahan makanan alami, menangkap hewan, serta bertahan dari cuaca yang berubah-ubah di hutan.
“Kami benar-benar saling terikat satu sama lain selama pelatihan. Kenangan itu sangat membekas,” kata Gonzalez.
Sekadar informasi, US Ranger yang berlatih di Jatim itu dikirim dari Joint Base Lewis-Mchord. Divisi tersebut adalah yang paling banyak dikirim bertempur di Afghanistan dan Irak, karena dianggap punya pengetahuan taktis terlengkap menghadapi perang gerilya kota maupun hutan.
Sepanjang perang delapan tahun di Irak, anggota divisi Stryker yang tewas ‘cuma’ 42 prajurit. Batalion inilah pasukan yang paling akhir ditarik dari medan tempur di Timur Tengah.
Sementara Infanteri Raider adalah satuan tempur khusus untuk pertempuran darat. Dibentuk sejak Oktober 1945, pasukan dengan motto “Cepat, Senyap, dan Tepat” ini tercatat berjasa memadamkan pemberontakan APRA, PRRI/Permesta, serta menumpas DI/TII.
Dalam operasi militer di Aceh selama 2001-2003, pasukan Raider-lah yang bertanggung jawab menewaskan Panglima GAM Tengku Ishak Daud.