Sabtu, 04 Oktober 2014

Membahas Pesawat Tempur TNI AU F-5E Tiger II dan Calon Penggantinya

F-5ETiger II
Pesawat Tempur F-5E Tiger II (foto : indomiliter.com)

Dari beberapa jenis pesawat tempur yang dimiliki TNI AU, salah satu yang sangat terkenal dan fenomenal sebagai unsur udara strategis adalah F-5E Tiger II. Pesawat ini kini dinilai sudah tua, berusia 34 tahun  dan mulai ketinggalan jaman dinilai dari sisi performance, khususnya avionik dan sistem persenjataan dibandingkan pesawat tempur lainnya. Dari sejarahnya, TNI AU sejak tanggal 21 April 1980  menerima beberapa pesawat F-5E/F Tiger II buatan Northrop, AS yang diangkut oleh pesawat C-5A Galaxi dalam bentuk rakitan, diterima di Lanud Iswahjudi, Madiun.
Rakitan pesawat tersebut kemudian dirakit oleh para teknisi TNI AU dibawah supervisi Northrop. Pesawat-pesawat F-5E/F selanjutnya secara resmi ditempatkan pada Skadud 14 pada tanggal 5 Mei 1980 sebagai pesawat buru sergap menggantikan pesawat-pesawat F-86 Sabre yang telah dinyatakan habis jam terbangnya. Kini TNI AU telah memiliki pesawat-pesawat tempur handal seperti F-16-C52ID asal hibah dari pemerintah AS, Sukhoi  SU-27SK dan  Sukhoi-30MK, disamping pesawat tempur T-50 Golden Eagle, F-16 A/B, juga Hawk 109/209. Oleh karena itu TNI AU menilai  sudah waktunya dilakukan penggantian  F-5E Tiger tersebut.

Sejarah Skadron Udara 14 dan Sekilas F-5E Tiger II
logo skadud 14Situs dari Pangkalan TNI AU Iswahjudi (sandi IWY) menyebutkan bahwa Skadron Udara (Skadud) 14 dibentuk pada tanggal 1 Juli 1962. Skadron ini sejak awal sudah menyandang predikat sebagai skadron tempur sergap (striker interceptor) pada jajaran Wing Operasional (Wing Ops) 300 di bawah Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas). Pesawat mutakhir yang saat itu digunakan adalah MIG-21 Fishbed yang ikut andil dalam operasi Trikora, Dwikora dan Tumpas. TNI AU (AURI) saat itu mempunyai alutsista sangat terkemuka selain MIG-21 juga TU-16/KS, IL-28 dan beberapa versi pesawat tempur Mig lainnya.
Dengan terjadinya perubahan suhu politik, dibekukannya hubungan diplomatik tahun 1967 dengan Rusia, menyebabkan tidak  terbangnya MIG-21 serta pesawat eks Rusia karena kekurangan suku cadang, maka  pada akhir 1970-an, memaksa pemerintah RI, Departemen Pertahanan dan Keamanan serta TNI AU menoleh ke Barat untuk mengaktifkan kembali unsur pertahanan udara ini. Sebagai pengganti MIG-21,  Skadud 14 kemudian diisi dengan pesawat F-86 Sabre hibah dari Australia pada tahun 1973 melalui proyek "Garuda Bangkit". Pada 19 Pebruari 1973   pesawat F-86 Sabre kiriman pertama  tiba di Lanud Iswahjudi. Tanggal 10 Mei 1974 Skadud 14 menjadi unsur organik Komando Satuan Buru Sergap (Kosatsergap) yang disebut dengan Satuan Buru Sergap F-86 (Satsergap-86). F-86 kemudian aktif dan berfungsi sebagai pesawat buru sergap sekitar 7 tahun.
 Tanggal 21 April 1980 TNI AU menerima beberapa pesawat F-5 Tiger II buatan Northrop dari AS menggantikan F-86 yang kemudian di-grounded. F-5 Tiger II  dibeli dari Pemerintah Amerika melalui program Foreign Military Sales (FMS) dan Military Asistance Program. Pada tanggal 5 Mei 1980 penggunaan pesawat F-5 Tiger E/F Tiger II diresmikan oleh Menhankam/Pangab Jenderal M Yusuf, sebagai pesawat buru sergap TNI Angkatan Udara menggantikan F-86 Avon Sabre. Dan pada bulan Juli 1980 Pesawat C-5 Galaxy mendarat kembali di Lanud Iswahjudi mengangkut kekurangan F-5 yang dibeli dari Northrop Co USA, sehingga Skadron Udara 14 memiliki kekuatan penuh satu Skadron Tempur F-5 E/F Tiger II dengan kekuatan 12 F-5E TigerII dan 4 F-5F (kursi ganda).
Dengan kedatangan pesawat-pesawat F-5E/F yang mampu terbang dengan kecepatan 1,6 Mach (kecepatan suara) tersebut membawa TNI AU kembali  ke era supersonik seperti pada masa MIG-21. Dengan dilengkapi rudal udara ke udara side winder menjadikan F-5 Tiger satu-satunya pesawat buru sergap milik Angkatan Udara pada saat itu. Northrop memberi nama awal penempur mungil yang lincah ini F-5A Freedom Fighter, si Pejuang Kebebasan. Freedom Fighter pada awalnya bisa melesat dengan kecepatan 1,4 Mach di ketinggian 36 ribu kaki, berkat dorongan sepasang mesin J85-GE-13 Turbo Jet, buatan General Electric. Mampu mencapai ketinggian terbang hingga  50.500 kaki.
Dengan kapasitas tanki penuh, F-5 mampu menjangkau jarak 1.387 mil, sementara radius tempur dengan perlengkapan penuh, mencapai 195 mil. Atau dengan tanki penuh plus dua bom, mencapai 558 mil. Lima cantelan di sayap dan badan, mampu menggendong beban seberat 6.200 pounds. Bisa berupa tangki cadangan, bom, misil udara ke darat, serta 20 roket. Di moncongnya yang mancung, dipasangi sepasang kanon 20 mm jenis M39 dengan 280 putaran. Northrop kemudian melakukan modifikasi airframe dan fuselage, kemampuan Tiger  tanki serta dua rudal side winder di wingtip-nya, meningkat radius tempurnya menjadi  656 mil. Jarak jangkau maksimalnya menjadi 1.543 mil. Dengan modifikasi engine  J85-GE-21 Turbojet, kecepatan maksimumnya terakhir tercatat 1,6 Mach.
Dengan dilakukannya beberapa modifikasi, air frame, fuselage, engine, avionic dan fire control system, tercipta Tiger baru yang lebih hebat, pantas digunakan untuk misi dalam meraih keunggulan udara (air superiority). Northrop mengganti kode dan seri penempur mungil ini   dengan kode F-5E Tiger II. Versi tempat duduk gandanya diberi kode F-5F, versi terakhir inilah yang kini masih dipergunakan di TNI AU dan yang akan diganti. Tahun 1995 pernah dilakukan peningkatan program elektronik dan senjata, dalam program MACAN (Modernize of Avionics Capabilities for Armament & Navigation), yang dikerjakan perusahaan Belgia SABCA. Program yang  meningkatkan kemampuan elektronik dan persenjataan, agar  kemampuan F-5E Tiger II bisa setara dengan kemampuan F-16 Fighting Falcon.
Operasi Udara yang sering dilaksanakan adalah operasi pertahanan Udara. Latihan bersama yang pernah diikuti adalah Elang Malindo, Elang Indopura, Elang Thainesia, Elang Ausindo dan Cope West. Penulis mempunyai pengalaman menjadi bagian sebagai air intelligence officer pada saat para penerbang F-5E melaksanakan latihan di Pangkalan AU Thailand Korat.
 Beberapa tokoh TNI AU pernah menjabat sebagai Komandan Skadron 14 (hari jadi 1 Juli 1962), diantaranya, sebagai  komandan pertama adalah Mayor Udara Roesman (marsda Pur) yang mengawaki MIG-21F. Sementara penerbang Skadron Udara 14 lainnya yang penulis ketahui dan ingat diantaranya Letkol Pnb Rudy Taran (Marsda Pur), Letkol Pnb Suyitno (Marsda Pur), Letkol Pnb Holki Alm (Marsda), Mayor Pnb Budihardjo Alm, Letkol Pnb Lambert Silooy (Marsda Pur), Mayor Pnb Zeky Ambadar (Marsda Pur), Mayor Pnb Suryadarma (Marsda Pur), Letkol Pnb Suprihadi (Marsdya Pur), Letkol Pnb Djoko Suyanto (Marsekal Pur), Mayor Pnb Toto Riyanto (Marsdya Pur), Mayor Pnb IB Sanibari (Marsdya Pur), Letkol  Pnb Basri Sidehabi (Marsdya Pur), Letkol Pnb Eris Herryanto (Marsdya Pur), Kapten Pnb Syaugi (Marsda), Letkol Pnb Ismono (Marsdya), Letkol Pnb Yuyu Sutisna (Marsda).
Masing-masing penerbang Skadud 14 yang lulus dalam konversi pesawat F-5Tiger kemudian mendapat Eagle Number yang jumlahnya sudah diatas 100 buah, khusus Eagle zero-zero untuk call sign Komandan Skadron 14. Skadron Udara 14 telah melahirkan para penerbang F-5E Tiger II yang kemudian menjadi pejabat tinggi di TNI dan negara. Diantaranya yang paling menonjol adalah Marsekal (Pur) Djoko Suyanto menjadi Kasau, Panglima TNI dan terakhir sebagai Menko Polhukkam. Marsekal (Pur) Imam Sufaat terakhir sebagai Kasau. Marsdya (Pur) Suprihadi dan Marsdya Eris Herriyanto terakhir sebagai Sekjen Dephan. Marsdya Dede Rusyamsi, Wagub Lemhannas, Marsdya (Pur) Ismono sebagai Dansesko TNI.
Menurut Marsdya (Pur) Suprihadi yang juga adik ipar penulis, kemampuan para penerbang tempur TNI AU lebih terasah setelah menerbangkan F-5E Tiger II, dimana para penerbang dilatih dalam operasi tempur udara. Pemerintah AS pernah mengundang tiga penerbang tempur TNI AU mengikuti pendidikan Instructor Weapon System Course di Arizona yang setara dengan pendidikan Top Gun. Mereka adalah Marsekal (Pur) Djoko Suyanto, Masdya (Pur) Suprihadi dan Marsdya (Pur) Eris Herriyanto yang saat itu masih berpangkat perwira menengah. Itulah sejarah Skadron 14 "Macan Terbang" serta sedikit tentang F-5 E Tiger II serta mereka yang mengawakinya.

Pemilihan Calon Pesawat Pengganti
Setelah digunakan selama 33 tahun sejak tahun 1980 TNI AU menilai bahwa perlu dilakukan  pergantian pesawat tempur F-5E Tiger II dengan pesawat tempur strategis baru yang lebih modern dan handal serta mampu menjawab tantangan tugas operasi udara modern sesuai dengan tugas Skadron Udara 14. Pertimbangan perlunya penggantian karena tingkat operasional menurun disebabkan karena usia, terbatasnya sumber pasokan  suku cadang yang mengakibatkan sulit dan mahalnya perawatan pesawat tersebut.
su_35_large
Sukhoi SU-35 Lengkap dengan Senjata (sumber foto : almogaz.com)

Menurut sumber dari Dispenau, pemilihan pesawat sebagai kandidat pengganti F-5E TNI AU dimulai dengan menilai berbagai jenis pesawat  tempur modern, diantaranya pesawat tempur Sukhoi Su-30 MKI,  F-15 SE Silent Eagle, Eurofighter Typhoon, F-16 E/F Block 60/62, Rafale-B, F-18 E/F Super Hornet,  Sukhoi SU-35 Flanker dan JAS-39 Gripen NG. Semuanya adalah pesawat tempur modern  generasi terbaru generasi 4.5 yang secara kasar diperkirakan memenuhi  kriteria pesawat tempur strategis TNI AU.
Karakteristik Umum pesawat, Performance, Persenjataan, dan Avionics pesawat tersebut. Semuanya melalui analisa mendalam terkait dengan  aspek operasi,  tehnis dan non tehnis. Kemudian dilakukan perbandingan kemampuan pesawat yang menjadi kandidat pesawat tempur strategis. Semuanya calon diukur, apakah memenuhi  kriteria penilaian yaitu,  pesawat  jenis multi roleminimal generasi 4.5, mampu menjangkau sasaran strategis dengan radius of action jauh, baik sasaran permukaan dan bawah permukaan, mampu melaksanakan misi pertempuran siang dan malam hari  segala cuaca, memiliki radar modern dengan jangkauan jauh, mampu melaksanakan network centric warfare, perawatan mudah, peralatan avionic, navigasi dan komunikasi modern yang tersandi, peralatan perang elektronika pasif dan aktif serta memiliki kemampuan meluncurkan senjata konvensional, senjata pintar dan senjata pertempuran udara jarak sedang atau beyond visual range.
F-16e_block60
Ilustrasi Pesawat Tempur F-16 Block 60 UEA (Sumber foto : en.wikipedia.com)

Kemudian dibandingkan kemampuan  kandidat dalam hal kecepatan, ketinggian operasional, kemampuan tinggal landas, kemampuan jangkauan radar, kemampuan combat radius of action dan  kemampuan agility pesawat. Kemampuan agility bisa diartikan tingkat  kelincahan manuver dan kecepatan reaksi pesawat untuk bertindak menyerang dan bertahan terhadap situasi baru tanpa penundaan waktu.
Juga dilakukan analisa  aspek bidang aeronautic yang meliputi enam katagori yaitu ; usia perawatan air frame,  engine, biaya perawatan, biaya operasi, dan perbandingan usia pakai. Dalam bidang avionic, konfigurasi yang human machine interface, ketersediaan dukungan suku cadang, tingkat kegagalan, publikasi pemeliharaan dan operasional, kehandalan, teknologi, populasi dan kemudahan pemeliharaan.
Dari sisi aspek non tehnis meliputi : tinjauan politis terkait kebijakan pemerintah, transfer teknologi, tingkat ekonomis, perbandingan dengan kemampuan pesawat yang berpotensi menjadi calon lawan,  perkiraan biaya operasional nyata, kesulitan dan kemudahan pengadaan serta yang terpenting kemampuan menghasilkan efek detterent atau penggentar.
TNI AU mengajukan ke Mabes TNI dan kemudian pembahasan selanjutnya serta keputusan penentuan tentang pesawat yang dipilih  masih berada di pihak pemerintah yang diwakili  Kementerian Pertahanan. Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro mengatakan, "Ada beberapa usulan pesawat tempur yang saat ini masih dikaji untuk memilih yang paling tepat. Apakah pesawat tempur dari Rusia, Amerika, Eropa atau dari negara lain," katanya.
Gripen
SAAB JAS 39 Grippen (Sumber foto : military-today.com)

Menhan berharap agar keputusan untuk memilih pesawat tempur pengganti itu segera diputuskan agar pada rencana strategis (Renstra) II 2015-2020 dapat dilakukan pembelian sehingga datang tepat pada waktunya "Saya berharap pesawat tempur yang canggih tersebut mampu membawa peluru kendali jarak jauh," katanya. Sementara Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko mengatakan, TNI AU telah membuat kajian untuk pesawat tempur pengganti F-5 Tiger, yaitu Sukhoi SU-35, F-15, F-16 dan pesawat tempur buatan Swedia. "Kajian itu sedang kami pelajari, tergantung dari kemampuan keuangan negara," kata Panglima.
Kepala Staf TNI AU (Kasau) Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia menambahkan, TNI AU menginginkan satu skuadron (16 unit) dalam pengajuan pesawat tempur pengganti F-5 Tiger. Dikatakannya, "Kami ikuti renstra yang ada. Selanjutnya kami masih revisi sesuai arahan Panglima TNI dan Kemhan sesuai kemampuan negara untuk membuat masterlist."
Dari informasi yang disampaikan para pejabat, serta informasi lainnya, penulis perkirakan kini tersisa ada empat  pesawat tempur canggih yang memenuhi kriteria penilaian awal. Menurut Panglima TNI, F-15 Strike Eagle masih disebut sebagai salah satu kandidat. Pesawat-pesawat yang penulis rekam  tersebut adalah  SAAB Gripen E/F, Dassault Rafale, Su-35BM,serta F-16 Blok 60.  Secara umum harga perkiraan Su-35BM  adalah US$ 75 juta hingga 85 juta dollar perbuah, tergantung spesifikasinya, F-16 Blok 60  sekitar US$ 85 juta, Gripen E/F, US$  110 juta dan Rafale dengan harga US$ 125 juta.
rafale air strike
Pesawat Tempur Dassault Rafale (sumber : military-today.com)

Melihat dan memperkirakan pemilihan ke empat jenis pesawat tempur tersebut, nampaknya tidak perlu diragukan hasil penilaian team evaluasi TNI AU, dipastikan ke-empatnya telah lolos dan memenuhi kriteria esensial maupun tambahan. jenispesawat itu tak usah diragukan lagikecanggihannya. Semuanya penulis perkirakan akan mampu menjalani multi misi, daya jangkau juga mumpuni, kelengkapan avionik dan sistem canggih dan lain sebagainya.
Dari beberapa jenis pesawat, apabila dinilai dari sisi penyederhanaan jenis, maka para pelaku tehnis dan sistem manajemen penerbangan serta alih tehnologi, maka pesawat Sukhoi SU-35BM serta F-16 Block 60 yang akan lebih kuat sebagai kandidat pengganti si Macan Terbang F-5E. Apabila Sukhoi-35BM yang akan dipilih, maka Australia sebagai tetangga terdekat Indonesia kembali akan gundah, walaupun pemerintahnya sudah memutuskan akan membeli pesawat F-35 JSF (Joint Strike Fighter).
The Business Spectator di Australia pernah  menyatakan, "Indonesia merencanakan akan membeli pesawat tempur Sukhoi dari Rusia/India yaitu PAK-FA T-50 atau Su-35S. Jadi pertanyaannya lebih baik (Australia) dipilih F-35 daripada Hornet. Apabila Indonesia kemudian dimasa depan ikut memperkuat Angkatan Udaranya dengan SU-35S atau T-50, maka AU Australia akan menjumpai masalah besar, demikian kesimpulannya.
Lebih jauh analis Bisnis Spectator menyatakan, "Sebagai contoh, JSF (Joint Srike Fighter) dapat beroperasi secara efektif hanya untuk ketinggian maksimal sekitar 40.000 kaki (walau masih bisa beroperasi lebih tinggi tetapi kalah di tingkat yang lebih tinggi). Sebaliknya, Sukhoi dapat beroperasi pada kapasitas penuh di tingkat yang jauh lebih tinggi dan dengan kelebihan dan keuntungan, mereka memiliki sistem dan senjata yang bisa meruntuhkan sebuah JSF Australia sebelum mereka (RAAF) memiliki kesempatan menerapkan slogannya  (first look, first shoot, first kill’). Ditegaskan oleh BS bahwa tidak ada pertempuran udara yang diperlukan. Pesawat Australia sudah runtuh sebelum bertempur, karena disergap jauh sebelum dia menyadarinya.
Sukhoi dinilai jauh lebih unggul dibandingkan JSF. SU-35 memiliki jangkauan efektif sekitar 4.000 km dibandingkan dengan hanya 2.200 km untuk F-35. Ini berarti JSF membutuhkan dukungan pesawat tanker untuk menutup ruang (wilayah Australia) yang lebarnya 4.000km. Selain itu, kecepatan Su-35 adalah Mach 2,4 (hampir dua setengah kali kecepatan suara), sedangkan F-35 terbatas pada Mach 1.6. Menurut Victor M. Chepkin, wakil direktur umum NPO Saturn, mesin AL-41f yang baru akan memungkinkan jet Rusia untuk supercruise (terbang pada kecepatan supersonik untuk jarak jauh.) Dengan tidak harus beralih ke afterburner. Dengan demikian, pesawat dapat mengirit  bahan bakarnya. Kesimpulannya baik F-35 maupun F-18 performance-nya berada dibawah SU-35.
Khusus untuk F-16 Block 60, perbedaan utama dari blok sebelumnya adalah dilakukannya modifikasi avionik dan radar dengan Northrop Grumman AN / APG-80 Active elektronik Scanned Array (AESA) radar, yang membuat pesawat mampu secara bersamaan melacak dan menghancurkan ancaman darat dan udara. Sistem Electronic Warfare cukup maju dan termasuk sistem terpadu antara Elektronik Warfare Suite RWR bersama AN / ALQ-165 Self-Protection Jammer.
Pesawat F-16 Block 60 memungkinkan mengangkut semua persenjataan F-16 Blokck 50/52 yang kompatibel serta AIM-132, Advance Short Range Air-to-Air Missile (ASRAAM) dan AGM-84E Standoff Land Attack Missile (SLAM). Khusus untuk block 60 ini, UEA mendanai seluruh pengembangan dengan biaya sebesar US$ 3.000.000.000, dimana UAE  akan menerima royalti jika ada pesawat F-16 block 60 yang dijual  ke negara-negara lainnya.

Kesimpulan
Rencana penggantian pesawat tempur F-5E Tiger II kini terus dalam penjajakan baik pejabat di Mabes TNI AU, Mabes TNI maupun Kementerian Pertahanan. Sebagai pengguna yang faham dengan kebutuhan sebuah pesawat pengganti, dipastikan TNI AU sudah menyimpulkan akan kebutuhan akan peran pesawat,  multirole combat aircraft atau air superiority. Pertimbangan kedua jelas pertimbangan dari sisi commonality/ penyederhanaan. Yaitu pesawat baru sebaiknya tidak terlalu jauh dalam transfer teknologi dikaitkan dengan keberadaan pesawat tempur yang sudah dimiliki. Disinilah nilai tambah baik Sukhoi-35BM ataupun F-16 Block 60, dua jenis yang sudah akrab dengan personil TNI AU.
Hal lain menurut penulis yang juga patut dipertimbangkan yaitu perbandingan dengan kekuatan tempur udara negara-negara tetangga. Australia terutama sudah memutuskan akan membeli pesawat F-35 Joint Strike Fighter, oleh karena itu apabila SU-35 BM yang dipilih, penulis setuju dengan pendapat akan ada peningkatan signifikan pada unsur tempur TNI AU. Australia akan tetap khawatir dengan kemampuan alutsista TNI AU.
Sebagai penutup, pembelian alutsista yang jelas harganya sangat mahal dan memakan waktu cukup lama akan sangat tergantung kepada political will pemerintah yang baru dibawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Di negara manapun, keputusan pembelian sebuah alutsista akan sangat dipengaruhi dengan kondisi dan kepentingan politik sebuah pemerintah. Karena itu TNI AU jangan terlalu berharap F-5E Tiger II dalam waktu dekat akan cepat  proses keputusan dan pengadaan karena keputusannya belum tentu juga bisa dilaksanakan pada renstra 2015-2020. Dinamika politik diperkirakan masih akan mewarnai dan mempengaruhi  hubungan antara pemerintah dengan DPR.
Berdoa dan memberikan alasan yang tepat kepada pemerintahan yang baru  tentang perkembangan situasi kawasan, akan sangat pentingnya pertahanan negara, khususnya mempertahankan sumber daya alam dan energi yang sebentar lagi dimungkinkan terancam oleh kekuatan militer negara agresor. Itulah kira-kira kesimpulan penulis.

Oleh : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen www.ramalanintelijen.net

Suasana Latihan HUT TNI ke 69

Latihan Gladi HUT TNI ke 69 di Surabaya ((All photo: ARC.web.id)
Latihan Gladi HUT TNI ke 69 di Surabaya (All photo: ARC.web.id)
image
image
image
image
image
image
image
image
image
image
image
image
image
image
Suasana persiapan/gladi latihan upacara Ulang Tahun TNI, di Armada Timur, Surabaya (ARC.web.id)
image
image
image
Persiapan terus dilakukan TNI untuk acara parade dan atraksi militer pada HUT TNI ke 69 di Surabaya, 7 Oktober 2014. Ratusan alutsista darat dan udara akan memeriahkan parade militer terbesar dalam sejarah Indonesia. Dan kini persiapan demi persiapan dilakukan untuk pergelaran akbar Selasa 7 Oktober di Surabaya (ARC.web.id).


Pengenalan Helikopter Apache untuk TNI AD


Selain pengadaan 16 jet tempur Sukhoi SU-35 dan 6 kapal selam Kilo, TNI juga sedang mendatangkan 8 Helikopter Apache Guardian, serta 12 helikopter angkut pasukan (multirole) Black Hawk. Tidak itu saja, tiga kapal selam Changbogo serta dua frigate Sigma 10514 juga dalam proses pengadaan. Bahkan frigate Sigma 10514 akan dibuat hinggak 10 kapal. Mulai kapal kedua, frigate Sigma akan dibangun di PT PAL Surabaya. (Harian Kompas, 03/10/2014).
Pengadaan Helikopter Apache dan Black Hawk oleh TNI (Data Kapal Selam Kilo Indonesia (Photo; Koran Kompas 03/10/2014)
Pengadaan Helikopter Apache dan Black Hawk oleh TNI (Data Kapal Selam Kilo Indonesia (Photo; Koran Kompas 03/10/2014)

Bersamaan dengan pengadaan helikopter Apache dan Black Hawk tersebut, digelar pula latihan perang antara TNI AD dengan US army di Situbondo, Jawa Timur. Latihan Garuda Shield tahun ini bisa dikatakan sudah termasuk skala besar dalam latihan taktik pertempuran di hutan, berupa pelatihan dan mengintegrasikan operasi Batalyon Mekanis (Stryker dan Anoa) dari tentara kedua negara.
Yang menonjol dari latihan berjangka satu bulan ini terutama dikirimnya empat helikopter serang Apache ke ujung timur Pulau Jawa.
Latihan Garuda Shield 2014 yang melibatkan helikopter Apache US Army di Situbondo, Jawa Timur (Photo by U.S. Army Sgt. Brooks Fletcher, 16th Mobile Public Affairs Detachment)
Latihan Garuda Shield 2014 yang melibatkan helikopter Apache US Army di Situbondo, Jawa Timur (Photo by U.S. Army Sgt. Brooks Fletcher, 16th Mobile Public Affairs Detachment)
Latihan ini memuncak dengan serangan Operasi gabungan helikopter Apache, Black Hawk, dan Stryker berdampingan dengan helikopter MI-35P Indonesia buatan Rusia, serta pasukan lapis baja Indonesia.
TNI, tahun depan akan menerima satu dari delapan Apache, versi Echo terbaru (Guardian), dan sisa diharapkan an dikirim hingga tahun 2017.
Beberapa pejabat TNI berencana menyebarkan empat helikopter Apache di Kepulauan Natuna, Laut China Selatan sebagai pelindung terhadap klaim China yang semakin tegas di perairan tersebut.
Keempat helikopter Apache dibawa ke Indonesia untuk latihan Garuda Shield, diterbangkan ke kota Surabaya untuk parade militer besar-besaran 7 Oktober, yang menandai ulang tahun ke-69 berdirinya TNI.
Meskipun penerbang Indonesia tidak pernah benar-benar menerbangkan Apache, namun mereka mengambil langkah pertama dengan mengakrabkan diri dengan helikopter tersebut.
“Kami mulai dalam apa yang kita sebut skenario merangkak-jalan-lari, yang kita mulai dengan pelajaran akademik, sosialisasi, hingga menerbangkannya,” kata Letnan Kolonel Hunter Marshall, 25th Aviation Regiment. Setelah itu kita bekerja melalui perencanaan, bagaimana melakukan misi bersama-sama.”
Letkol Marshall menggambarkan tentara Indonesia sebagai “penerbang yang sangat mahir,”. Ia menambahkan TNI akan memiliki pilot yang mampu menerbangkan Apache dengan cara yang hebat.
Selama latihan serangan udara tersebut, Apache dengan kemampuanya yang unik selalu masuk dalam skenario perang yang dibangun.
Chief Warrant Officer 2 Jesse Brenay Sr, salah satu pilot helikopter apache yang ikut dalam latihan penembakan itu, melakukannya berdampingan dengan pilot Indonesia. “Teknologi baru Apache akan menuntut para pilot Indonesia untuk menyesuaikan taktik dan teknik perang mereka”, ujar Brenay.
“Cara mereka berperang akan berubah”, ujar Brenay. “Semacam apa yang kami demonstrasikan di sini, mencoba untuk mengajarkan kepada mereka. Sistem komunikasi di Apache akan membuat komunikasi mereka dengan pasukan di darat, akan lebih baik.
Latihan Garuda Shield 2014 yang melibatkan helikopter Apache US Army di Situbondo, Jawa Timur (Photo by U.S. Army Sgt. Brooks Fletcher, 16th Mobile Public Affairs Detachment)
Latihan Garuda Shield 2014 yang melibatkan helikopter Apache US Army di Situbondo, Jawa Timur (Photo by U.S. Army Sgt. Brooks Fletcher, 16th Mobile Public Affairs Detachment)

“Jadi kita mengajarkan latihan perang yang mengintegrasikan pasukan udara dan darat,” katanya. “Ini semacam konsep baru bagi mereka. Ini sesuatu yang kami lakukan dengan sangat baik dalam 13 tahun terakhir di Irak dan Afghanistan, jadi kita menyampaikan pelajaran. ”
Integrasi Apache adalah “alasan besar kami di sini,” kata Brenay.”. Apache membawa mereka ke dalam status baru di wilayah ini karena tetangga mereka mulai meng-upgrade alutsistanya, dan saya pikir mereka ingin menjaga kekuatan TNI. Ini adalah kemajuan besar untuk mereka. ”
Jepang, Korea Selatan dan Singapura adalah salah satu negara yang telah membeli Apache dari Boeing.
Brenay dijelaskan uji coba helikopter Apache di Indonesia sebagai “semacam culture shock bagi kami” karena mereka biasa menerbangkan Apache di high altitude, di Fort Carson, Colo.
“Ini benar-benar pertama kalinya kami membawa Echoes ini ke permukaan laut di luar Hawaii dan menjalankan Apache ini, melihat apa yang bisa dilakukan Apache,” katanya. “Apache ini cukup mengesankan.”
Helikopter Apache melakukan penembakan dalam latihan Garuda Shield 2014 (Wyatt Olson/Stars and Stripes)
Helikopter Apache melakukan penembakan dalam latihan Garuda Shield 2014 (Wyatt Olson/Stars and Stripes)
Pilot Angkatan Darat lainnya, Capt. Josh Brown, antusias tentang Indonesia yang membeli Apache, tetapi signifikansi lebih besar dari pembelian pesawat tersebut adalah pasukan AS dan Indonesia belajar untuk beroperasi secara efisien bersama-sama, apakah itu dalam pertempuran atau untuk kemanusiaan bantuan / bencana.
Koordinasi antara kedua pasukan, baik di udara atau di darat, menunjukkan “bagaimana kita akan melakukan pekerjaan di masa depan,” kata Letnan Kolonel Michael Trotter, komandan Batalion 2, Resimen Infanteri 1, dari Lewis -McChord, yang memberikan kontribusi banyak pada elemen di Garuda Shield.
“Kami tidak akan berperang lagi saja,” kata Trotter. “Kami harus bermitra, apakah itu untuk operasi tempur atau apabila diminta oleh pemerintah tuan rumah untuk bantuan, baik bantuan kemanusiaan atau bantuan bencana. Kita bisa berjalan setelah latihan ini, menjadi sanga percaya diri.” (stripes.com).

Hebat! Pesawat CN235 Made in Bandung Bisa Lacak Keberadaan Kapal Selam

//images.detik.com/content/2014/10/03/1036/083145_sesfinishingdihanggar.jpg
CN235 sedang dalam penyelesaian di hanggar PTDI (Foto: Feby/detikFinance)

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) meningkatkan kemampuan salah satu produk unggulannya yakni pesawat baling-baling CN235 dengan teknologi Anti-Submarine Warfare (ASW). Pesawat CN235 ini bisa dilengkapi oleh sonar dan radar khusus yang mampu mendeteksi keberadaan kapal selam.
“Kita coba anti submarine di pesawat CN235. Kita upgrade menjadi anti submarine. Dia bisa deteksi kapal selam,” kata Direktur Niaga dan Restrukturisasi PTDI Budiman Saleh kepada detikFinance, Jumat (3/10/2014).
Selain dilengkapi teknologi anti kapal selam, CN235 bisa dipasang torpedo. Teknologi anti kapal selam ini baru terpasang pada pesawat CN235 yang dibeli dan dimiliki oleh militer Turki.
“Kita ujicobakan pada CN235 di Turki,” sebutnya.
Budiman menjelaskan insinyur PTDI memiliki kemampuan di bidang rekayasa atau pengembangan pesawat. Dengan kemampuan itu, para insinyur mampu meningkatkan kemampuan CN235 yang awalnya merupakan produk kerjasama PTDI dan Cassa Spanyol (sekarang Airbus Military) tersebut.
“Kita banyak buat rekayasa, itu justru bikin nilai lebih tinggi. Itu dilakukan dari Bandung semua,” sebutnya.
Dengan nilai tambah ini, harga pesawat pun bisa melonjak. Varian termahal seperti CN235 MPA. Pesawat yang biasa digunakan untuk patroli laut atau marine patrol ini telah dipakai militer Indonesia dan penjaga pantai Korea Selatan.
“CN235 sangat variatif harganya. Minimal US$ 28 juta. Itu sangat basic sedangkan untuk yang kompleks bisa US$ 55 juta,” jelasnya.
PTDI berencana mengembangkan varian CN235 next generation (nextG). Nantinya kapasitas penumpang akan dinaikkan. Pesawat, CN235 nextG ini, menggunakan sistem navigasi dan komunikasi digital dan glass cockpit technology. (finance.detik.com)

Jumat, 03 Oktober 2014

Dari Tomy Winata Hingga Militer Jadi Pembeli Helikopter Made in Bandung

//images.detik.com/content/2014/10/03/1036/helidi.jpg
Jakarta -Selain pesawat terbang, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) juga menjual helikopter berbagai varian. Salah satu varian terlarisnya adalah helikopter NBO 105.

Untuk penjualan dan perakitan NBO, PTDI menggandeng perusahaan helikopter asal Jerman, MBB. PTDI sudah mampu menjual varian NBO 105 sebanyak 122 unit. Pembeli helikopter buatan PT DI datang dari berbagai kalangan seperti pengusaha ternama Indonesia seperti Tomy Winata dan lainnya, lembaga militer.

"Itu paling tinggi demand. Itu yang paling Laris. Yang beli contohnya pemilik Sampoerna. Dia punya pesawat kita, terus Pelita Air juga. Termasuk institusi sipil, militer dan swasta," kata Direktur Niaga dan Restrukturisasi PTDI Budiman Saleh kepada detikFinance Jumat (3/10/2014).

Varian NBO 105 saat ini sudah tidak lagi dijual oleh PTDI. Sebagai gantinya, PTDI menawarkan pesawat sejenis Fennec buatan Airbus Helicopter.
"Sekarang Airbus Helicopter rilis produk baru Fennec," sebutnya.

Helikopter NBO dahulu sering dipakai oleh TNI pernah mendukung misi-misi perang seperti di Timor Timur (sekarang Timor Leste). NBO dinilai memiliki kemampuan manuver yang baik. Meski sudah tidak dijual lagi di Indonesia, namun NBO 105 ini masih dipakai di negara-negara Eropa dan Afrika.

"Di Eropa dan Afrika masih banyak yang pakai," ujarnya.

Sebelumnya, pemilik Artha Graha Group Tomy Winata mengaku membeli helikopter dan pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di 2008 dan 2009 lalu. Melalui bendera PT Trans Wisata Air (TWA), Tomy mengaku merasa sangat bangga dengan pelayanan PT DI. PT TWA pembeli helikopter Super Puma dan Casa 212-200.
 

Denel NTW-20: Senapan Anti Material Taifib Korps Marinir TNI AL

e0043290_09074221
Indonesia sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar di Asia Tenggara, sudah tentu beragam unit pasukan elitnya akrab dengan jenis senapan sniper atau senapan runduk, utamanya dari kaliber 7,62 mm. Nama-nama senjata sniper seperti Galil dari Israel, G-3 SG-1, AI Artic Warfare, Steyr SSG-69, hingga SPR-1 buatan Pindad, mungkin sudah akrab di telinga para pemerhati persenjataan nasional. Tapi senjata diatas disasar untuk membidik target berupa manusia. Lalu bagaimana dengan misi sniper yang lain, seperti menyasar target peralatan militer sekelas rantis, ranpur atau bahkan menembus ketebalan tembok? Mampukah tugas sniper yang gerak geriknya serba senyap menggasak sasaran yang tergolong high value tersebut?
Jawabannya tentu bisa, dan pola operasi tidak berubah, yang dijalankan tetap dalam kaidah sniper, senyap dan mematikan, tidak ada rudal panggul anti tank atau granat berpeluncur roket yang digunakan. Solusinya tak lain dengan menggunakan senjata anti material. Senapan jenis ini punya bentuk dan peran yang serupa dengan senapan runduk, perbedaannya lebih kepada besarnya kaliber yang berdampak pada daya hancur serta jangkauan proyektil yang pastinya lebih jauh. Menurut Wikipedia, yang masuk dalam kategori senjata anti material adalah senapa dengan kaliber mulai dari 12,7 mm, 14,5 mm, dan 20 mm.
Untuk senapan anti material pun bukan barang baru bagi TNI. Satuan elit Intai Amfibi (Taifib) Korps Marinir TNI AL adalah pengguna senjata jenis ini, tepatnya mengadopsi NTW-20 buatan Denel Mechem dari Afrika Selatan. Penampilan NTW-20 sebagai kelengkapan infanteri Marinir sudah tak asing lagi, ambil contoh saat unjuk kesiapan Yon Mekanis Kontingen pasukan PBB TNI yang akan diberangkatkan ke Lebanon pada tahun 2006 lalu, jelas tampak NTW-20 dan RPG-7 ikut digelar dihadapan media dan petinggi TNI kala itu.
mechem_ntw-20
Aksi Taifib Marinir dengan NTW-20.
Aksi Taifib Marinir dengan NTW-20.
Kesiapan penembak NTW-20 Marinir TNI AL.
Kesiapan penembak NTW-20 Marinir TNI AL.
JASGU 3 dalam parade HUT TNI, tampa ditumpangi senjata andalan Sniper NTW-20.
JASGU 3 dalam parade HUT TNI, tampa ditumpangi senjata andalan Sniper NTW-20.

Bila di Indonesia senjata ini dipopulerkan oleh Taifib Marinir TNI AL, maka senjata laras panjang multi kaliber ini juga kerap tampil di beberapa film layar lebar. Salah satunya dalam film District 9 (2009). Film yang mengambil latar di Afrika Selatan ini mengisahkan perjuangan sekelompok manusia untuk mengusir alien. Uniknya dalam film sci fiction ini juga ditampilkan rantis Casspir yang saat ini digunakan oleh Kopassus TNI AD.

NTW-20
Pengembangan awal NTW-20 jatuh di tangan perancang senjata jempolan dari Afsel, Tony Neophtou, yang terkenal dengan rancangan senapan tabur Neostead. Uniknya, pabrikan Aerotek yang menangani pengembangan senapan ini di tengah jalan diakuisisi oleh divisi Mechem dari grup pabrikan Denel, sehingga NTW-20 dirilis dengan identitas Denel Mechem di depannya. Di lingkup kesenjataan TNI, Denel juga memasok kanon PSU (Penangkis Serangan Udara) kaliber 20 mm, yakni Vektor G12 yang dipasang pada korvet SIGMA class dan KCR (Kapal Cepat Rudal) 40 TNI AL. Sebelum KRI Clurit dipasangi kanon CIWS AK-630M, kapal tersebut menggunakan Vektor G12 sebagai senjata di haluan.
pic_02
NTW-20 dalam film District 9.
NTW-20 dalam film District 9.
600px-D920mm2
Komponen senjata dapat diurai.
Komponen senjata dapat diurai.
p1132766
Denel-NTW-20-image
Filosofi pengembangannya berfokus kepada penggelaran di padang Afrika yan luas dan terbuka, sehingga tentu saja diperlukan senapan yang mampu menjangkau sasaran lawan sebelum sempat bereaksi. Hebatnya, NTW-20 punya kemampuan menembakkan dua jenis proyektil berbeda, yaitu 20 mm dan 14,5 mm Russian. Khusus amunisi 20 mm, yang digunakan adalah peluru 20 x83,5 mm eks senapan anti pesawat Jerman MG-151 pada era Perang Dunia II.
Soal kemampuan, tak perlu ditanya. Ranpur lapis baja setipe BTR dan BMP potensial untuk dirobek lapisan bajanya. Piliah pelurunya cukup beragam, mulai dari jenis HE (High Explosive), fragmentasi, sampai peluru bakar (High Explosive Incendiary). Untuk memilih di antara dua peluru ini, semuanya cukup dilakukan melalui penggantian laras, bolt, dan magasin, yang kesemuanya hanya memerlukan waktu kurang dari satu menit di tangan operator terlatih. Sebagai senapan bolt action yang menembakkan peluru berkaliber besar, wajar jika bolt pada NTW-20 sampai harus memiliki enam lug untuk membantu menahan gaya tekanan yang sangat besar dari kamar peluru. Selain itu, sistem pasok peluru pada NTW termasuk unik, karena menganut model magasin horizontal (seperti pada sten gun) yang dimasukkan dari sisi kiri. Pilihan ini juga terasa masuk akal, karena bobot peluru besar yang di atas rata-rata akan membuat pegas sulit beroperasi dengan optimal, andaikata harus beroperasi melawan gravitasi seperti halnya pada magasin konvensional yang dipasang secara vertikal dari bawah senapan.
Sebelum lebih jauh, sekedar informasi, bolt action adalah (sistem operasi) kokang senjata api yang mana bagian bolt dioperasikan secara manual dengan cara menggesernya ke belakang (menggunakan tuas kecil /handle) agar bagian belakang (breech) laras terbuka, casing peluru kosong yang sudah dipakai terlempar keluar dan peluru baru masuk kedalam breech kemudian bolt ditutup kembali (digeser ke depan secara manual).
Penembak sedang mengokang NTW-20.
Penembak sedang mengokang NTW-20.
Untuk menjaga stabilitas dalam penembakkan, NTW-20 juga ditawarkan dalam model monopod.
Untuk menjaga stabilitas dalam penembakkan, NTW-20 juga ditawarkan dalam model monopod.
Untuk penggantian kaliber, laras NTW-20 dapat diganti dengan mudah.
Untuk penggantian kaliber, laras NTW-20 dapat diganti dengan mudah.


Sebagai senapan dengan kaliber jumbo, pertanyaan yang timbul selanjutnya, bagaimana NTW-20 mampu meredam daya tolak balik yang dihasilkan peluru 20 mm sehingga bisa ditahan oleh tubuh manusia? NTW-20 rupanya punya tiga jurus jitu untuk menanganinya. Pertama, sistem yang disebut hydraulic double acting damper berupa katup dan perluasan kamar peluru untuk menahan pemuaian tekanan yang dihasilkan oleh tembakan peluru 20 mm. Tabung hidrolis ini dari luar berbentuk tabung menonjol yang ada di bawah laras. Ketika terdorong oleh gaya tolak talik ke belakang, laras dipaksa menarik piston hidrolis yang diisi pelumas, sehingga gerakannya melambat dan hentakannya berkurang.
Jurus kedua, ada pegas penahan (buffer spring) ganda pada bagian bawah-belakang receiver yang menempel ke popor belakang. Pegas penahan ini adalah benteng lapis kedua yang menangani efek tolak balik setelah batang piston hydraulic damper sudah berada di titik puncak peregangannya. Kedua benteng ini membentuk sistem kontinyu yang tidak terputus, sehingga tekanan gaya tolak balik dapat disebar dalam rentang waktu yang lebih panjang agar penembak tidak merasakan tekanan terlalu besar. Terakhir, jurus ketiga berupa muzzle brake dua tingkat yang membantu menyalurkan kilatan api penembakkan dan sebagian gaya tolak balik ke arah depan.
Bagi para pengguna NTW-20, Denel Mechem menyediakan paket lengkap, mulai dari fixed carry handle dan kaki-kali yang sudah jadi standar, laras pengganti, sampai teleskop standar dengan kemampuan 8x. Teleskop sepertinya didesain dengan model scout profile, karena memiliki eye relief (jarak mata dan lensa) yang cukup jauh. Jika tidak puas, pembeli tentu saja berhak menggunakan teleskop dengan magnifikasi lebih besar, mengingat peluru 20 mm memiliki jarak jangkau lebih jauh dibanding 14,5 mm atau 12,7 mm.



Amunisi kaliber 20 mm NTW-20
Amunisi kaliber 20 mm NTW-20
PICT0256
680514_712817345448385_5487640063956343672_o
Keunggulan lain NTW-20 yakni bisa diurai menjadi bagian yang bisa diangkut menggunakan dua ransel besar yang masing-masing berbobot 15 kg. Sehingga minimal bisa dioperasikan tim sniper yang berjumlah dua orang, satu sebagai penembak dan satunya lagi berperan sebagai spotter (observer). Tidak salah bila Marinir TNI AL menjatuhkan pilihan pada NTW-20 sebagai senapan anti material pilihan. Didukung kaliber yang besar, senapan ini menjadi platform multifungsi untuk berbagai aplikasi kemiliteran. (diolah dari berbagai sumber)

Spesifikasi Denel Mechem NTW-20
Asal : Afrika Selatan
Tahun pembuatan : 1990
Kaliber : 14,5 x 114 mm/ 20 x 82 mm
Sistem operasi : bolt action
Panjang total :  2.015 mm/ 1.795 mm
Panjang laras : 1.220 mm/ 1.000 mm
Berat kosong : 33,8 kg/ 30,5 kg
Kecepatan proyektil : 1.000 meter/ 720 meter per detik
Jarak tembak efektif : 2.300 meter/ 1.500 meter
Akurasi : 1 meter
Kapasitas magasin : 5 peluru'

SEKILAS KILO KLAS SUBMARINE type 877K TNI AL

Kapal Selam Kilo Class Proyek 877 EKM
Kapal Selam Kilo Class Proyek 877 EKM

Ngomomg-ngomong soal “Hoax”, saya sengaja memebuat artikel “Hoax” ini mengenai kemampuan Kapal selam Kilo kita yang hasil pengadaaan tahun 2007 lalu. Terserah deh tanggapan para warjager di sini sesuai dengan “azas dan paham keyakinan masing-masing” bagaimana, so saya hanya memberikan sedikit pencerahan saja.
Data KS Kilo kita adalah sebagai berikut: panjang 72,6 meter lebar badan tekan 9,9 meter, sarat kapal 6,6 meter. Tetapi Kilo kita diperpanjang sekitar delapan meter untuk penempatan AIP, air independent propulsion. fuell cell system. Penambahan ruangan yang dipergunakan untuk tangki LOX (liquid oxygen) dan hybrid hidrogen.
Ilustrasi: Dimensi Kilo class + AIP
Ilustrasi artikel: Dimensi Kilo class + AIP

Berat pemindahan airnya (displacement) di atas air 2325 ton, di bawah air (menyelam) 3076 ton. Kapal kita ditenagai dengan dua buah mesin diesel type 4-2DL-42M bertenaga 3650 HP, dibawah air bergerak dengan menggunakan motor listrik pokok bertenaga 5900 HP, yang didukung pula dengan dua buah motor listrik auxiliary type MT-165 berkekuatan 204 HP, serta motor ekonomi yang berkekuatan 103 HP (setara dengan PG-103 ex Whiskey class). Besarnya tenaga diesel di kapal ini memberikan gambaran akan usaha memperkecil probabilitas discretion, dengan mempersingkat waktu pengisian batere.
Transfer of powernya menggunakan system electrical transfer power, seperti pada type U-209. Kecepatan KS kita ini berkisar sekitar 10 knot saat berlayar diatas air, 17 knot saat menyelam, dan 9 knot saat berlayar dengan RDP (rabotayet diesel potwodoy / DBA diesel bekerja di bawah air,). Jarak jelajahnya mencapai 6.000 mil dengan kecepatan 7 knot RDP, dan saat berlayar dengan rezim motor ekonomis dan dalam kondisi silent run, akan dapat mencapai jarak 400 mil dengan kecepatan 3 knot. Kemampuan kedalaman selam normalnya mencapai 240 meter.
“Disamping itu, Kilo kita sudah dikaji magnetic anomaly signaturenya, sehingga sudah di demagnitisasi sedemikian rupa sehingga kemungkinan KS kita ini terdeteksi oleh MAD (Magnetic Anomaly Detection) yang menjadi andalan pesawat terbang Lockheed P-3B “Orion”, pesawat anti kapal selam Australian Navy maupun penggantinya nanti Boeing P-8 Poseidon, akan turun menjadi seminimal mungkin.”
Awak kapalnya berjumlah kurang lebih “50-an orang dengan belasan orang diantaranya Perwira”. Sumber tenaga bawah airnya menggunakan batere dengan kekuatan 9700 kWH, yang merupakan pengembangan dari batere CY-45 ex Whiskey class. Salah satu diantara sekian banyak  keistimewaan positif  KS kilo kita ini adalah reserve buoyancynya yang mencapai nilai 23%, yang berarti, bahwa walau kapal ini mengalami kebocoran, akan tetapi, dengan reserve buoyancynya yang sebesar itu, kemungkinan penyelamatan kapal masih amat tinggi.
KS Kilo kita memiliki enam peluncur torpedo caliber 53,3 cm yang tertata pada bagian haluannya. Peluncur ini dapat menembakkan baik long torpedo anti kapal atas air standard Angkatan Laut Rusia, maupun torpedo pendek anti kapa lselam dari type USET 80. Sebagai konfigurasi alternative, setiap torpedo dapat digantikan dengan dua ranjau. Torpedo cadangan yang dibawanya berjumlah dua belas torpedo.
Pengendalian torpedonya pada kapal sudah menggunakan Murena MVU-119EM, yang jauh lebih modern dari TAS-L2 yang pernah kita pergunakan di “Whiskey class” dahulu. Dengan Kemampuan Murena, kecuali dapat dipergunakan untuk mengendalikan tembakan dua jenis torpedo tersebut, yaitu standard straight run long heavy weight torpedo, bagi sasaran kapal atas air, dan untuk menembakkan short torpedo, torpedo kendali anti kapal selam, juga telah memungkinkan kita melacak (searching) beberapa sasaran sekaligus, serta membidik dan menembak (tracking, firing) dua diantara sekian banyak sasaran yang telah dilacak, dengan suatu kepresisian yang sempurna.
Selain itu KS Kilo kita ini diperlengkapi juga dengan SSM (Surface to surface missile) Novator Alfa SS-N-27, yang dapat ditembakkan dari peluncur torpedonya untuk mengatasi gangguan helicopter anti kapal selam yang mencoba mengintai.
Kalau untuk mengatasi pesawat patroli maritim sejenis Orion P-3 milik Sonotan yang mencoba menginderanya dengan MAD, dipasang SAM (Surface to Air Missile) dari type SA-N-5/8  “Gremlin” atau “Strella 3”, yang menggunakan pengendalian dengan kepala pelacak infra merah. SAM dapat ditembakkan dari peluncur portable yang tertata dianjungan, yang letak nya diantara tabung RDP dan antena komunikasi.
Sonar yang dipergunakan pada KS Kilo kita merupakan suatu sonar pelacak dan penyerang (search and attack) aktif pasif berfrekwensi rendah dari type Sharkteeth/Sharkfin (MGK-400) yang mampu mengindera kapal musuh dari jarak yang amat jauh. Untuk  ESM nya, Kilo kita sudah menggunakan ESM dari type “Squidhead” atau “Brickpulp”. Tetapi pembaring radionya masih menggunakan “Quad loop”, masih sama dengan yang dipergunakan dikapal selam “Whiskey class.” Sementara untuk Radarnya menggunakan surface search radar “Snoop tray” MRP 25  dengan band I, yang bekerja pada frekwensi sekitar 8 s/d 10 GHz , sedangkan sarana  komunikasinya dilengkapi dengan TX/RX HF dan VHF.
Periskopnya menggunakan dua PZKG, yang dipergunakan baik sebagai attack maupun search periscope. Diameter tabung periskop PZKG ini 180 mm, dengan penggunaan Quasi Binocular Viewing untuk mengurangi stress pada mata penggunanya.

Pergelaran
Sejatinya setiap pergelaran KS itu tergantung dari displacementnya, membutuhkan suatu kedalaman tertentu. Makin besar tonnase kapal selam, maka akan semakin dalam kedalaman laut yang dibutuhkannya untuk menyelam dengan aman. Dengan bobotnya yang berkisar sekitar 3000 ton kalu di bawah air, maka Kilo kita dapat dipastikan akan membutuhkan laut dengan kedalaman minimal 200 meter untuk menyelam dengan aman, dalam arti, memiliki ruang gerak yang uenak untuk melaksanakan manuver penghindaran, apabila (kalau lagi apes) suatu waktu tertangkap oleh alat deteksi kapal ASW musuh.
Mengingat bahwa dalam kenyataannya, laut pedalaman Indonesia yang berada diantara pulau pulau di Indonesia kedalamannya rata rata hanya sekitar enam puluh meter, (kecuali Laut Banda)  maka udah jelas dong pergelaran Kilo kita ini dimana? Ya, kapal selam Kilo kita ini digelar (di-deployment) dilaut luar, antara lain di Samudra Hindia, baik disisi Barat maupun disisi Selatan Negara kita, dan di daerah tepian Samudra Pasifik, yaitu di sisi Timur Negara kita, dimana kedalamannya rata-rata diatas dua ratus meter. Tentunya, peran yang diberikan pada KS kita ini lalu akan lebih merupakan suatu patroli pengaman garis luar terhadap musuh yang datang dari arah yang jauh. Atau kalau boleh lebih dipertegas lagi tugasnya akan merupakan tugas pencegatan (intercept) terhadap kekuatan musuh yang akan menyerang kita, jauh di tengah laut, bahkan sebelum mereka sempat melihat daratan kita.
Peta wilayah perairan dan ZEE Indonesia
Peta wilayah perairan dan ZEE Indonesia
Variasi kedalaman laut Indonesia. image: Google Earth

Makanya kalau ngintip Kilo kita ini berada di Dermaga SATSEL Ujung Timur Surabaya sana, dijamin enggak bakalan nemu deh, meskipun situ-situ udah nongkrongin di dermaga sono 24 jam tiap hari selama setahun. Selain alasan di atas ada satu alasan lagi, yaitu :  di pangkalan ALRI Surabaya ada “satu sepitan” antara markas SATSEL dan graving dock ex KRI IRIAN, kedalamannya tidak memungkinkan untuk dilewati KS dengan tonnase gede macam Kilo dengan mudah, kecuali pada saat air laut pasang itu juga pasang yang paling tinggi.” jadi dimanakah pangkalannya Kilo kita ini? “Top Secret”.
“Wira Ananta Rudhiro”
“Jalesveva Jayamahe”
“Just IMHO and HOAX”
(By pocong syerem) Nb : “diolah dari beberapa sumber”