Rabu, 19 Maret 2014

Menhan: Indonesia masih bekukan kerja sama Australia



 Menhan Purnomo Yusgiantoro (ANTARA FOTO/Fanny Octavianus)

Menteri Pertahanan Indonesia Purnomo Yusgiantoro menegaskan Indonesia masih membekukan tiga kerja sama dengan Australia yaitu tukar menukar informasi intelijen, patroli bersama, dan latihan bersama.

"Memang dalam JIDD (Jakarta International Defense Dialogue) ada pertemuan dengan Menteri Pertahanan Australia, namun tunggu dulu apa yang dibahas karena saya tidak tahu apa yang akan dibicarakan nanti," kata Purnomo dalam konferensi pers di sela acara JIDD di Jakarta, Rabu.

Dia mengatakan keputusan mengenai kebijakan tersebut tidak bisa diambil sendiri oleh Kementerian Pertahanan, karena menyangkut kementerian/lembaga lain yang terkait seperti Kementerian Luar Negeri Indonesia.

Purnomo mengatakan Indonesia memang memiliki masalah dengan Australia, namun hal itu bukan berarti tidak ada hubungan yang terjalin antara dua negara tersebut.

"Indonesia ingin menggagas Indo-Pasifik dan itu konsep Indonesia yang didukung Australia," ujarnya.

Hubungan kedua negara sempat tegang setelah Indonesia membekukan tiga kerja sama dengan Australia karena negara tersebut diduga menyadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pejabat pemerintah Indonesia.

Menteri Pertahanan Australia David Johnston datang dalam "Jakarta International Defence Dialogue" yang mengusung isu kerja sama maritim termasuk mendiskusikan perdagangan manusia.

Menhan RI dan Australia dijadwalkan bertemu di sela forum JIDD pada Rabu pukul 16.00 WIB.

JIDD 2014 mengundang 51 delegasi negara-negara dan 47 sudah mengonfirmasi akan datang.

Pejabat dan delegasi luar negeri yang akan hadir yaitu lima Menteri Pertahanan Australia, Bangladesh, Belanda, Papua Nugini, dan Republik Timor Leste. Selain itu, ada empat panglima angkatan bersenjata Australia, Papua Nugini, Sri Langka, Timor Leste, dan 44 delegasi.

JIDD ke-4 akan diadakan "Asia Pacific Security and Defence Expo" (APSDEX) 2014 yaitu pameran industri pertahanan dan keamanan yang diikuti industri dalam negeri. Tema APSDEX adalah "Driving Indonesian Industries and Partnership in Support of Regional Maritime Collaborations".

JIDD ke-4 dilaksakanan pada 19 dan 20 Maret 2014 di Jakarta Convention Center.

Dugaan Pembajakan MH370 Dipertanyakan



      Pernyataan bahwa Boeing B-777-200ER Malaysia Air dibajak sebagai salah satu dugaan di balik misteri hilangnya pesawat berkode penerbangan MH370 ini, dipertanyakan banyak pihak. Dugaan ini dianggap terlalu dini atau terlalu prematur mengingat bukti-bukti ke arah itu terbilang tidak lengkap. Proses pembajakan biasanya diikuti dengan pernyataan dari pihak pembajak dan di balik setiap pembajakan pasti ada tuntutan, dan itu tidak pernah terjadi. Sebelum pesawat diambil-alih, di dalam kokpit yang dilengkapi pintu tahan peluru dan tak sembarang orang bisa masuk, pilot sesungguhnya juga masih punya waktu untuk mengirim sinyal darurat ke menara pengawas dan itu juga tidak pernah terjadi.

       Pernyataan bahwa MH370 dibajak tersirat kental setelah, dalam jumpa pers Sabtu (15/3) pagi, PM Malaysia Najib Razak mengumumkan bahwa pencarian pesawat akan memasuki babak baru. Ia mengatakan, radar militer Malaysia masih mendeteksi perjalanan pesawat ini setelah keberadaannya tak terdeteksi radar sekunder penerbangan sipil menyusul terputusnya komunikasi dengan awak dan matinya sinyal transponder. Dengan demikian, kalau pun pesawat dibajak, pelaku semestinya memahami benar tentang teknik mengambil alih pesawat .

       Atas dugaan pembajakan yang diumumkan secara resmi PM Malaysia tersebut, otoritas keamanan tak memungkiri turut memeriksa lebih jauh jatidiri dan kehidupan awak pesawat MH370 sebagai salah satu terduga pelaku pembajakan. Dalam salah satu penyelidikan, diketahui pilot Zaharie Ahmad Shah merupakan simpatisan partai oposisi Partai Keadilan Rakyat, memiliki simulator B-777 secara pribadi di rumahnya, dan keluarga yang bersangkutan telah tiga pindah sebelum kejadian.

      Pemerintah Malaysia telah meninggalkan Laut China Selatan sebagai daerah pencarian utama, untuk kemudian memindahkannya ke dua koridor penerbangan yang ditengarai bisa dilewati MH370 yang dibajak. Koridor pertama ditelusuri dari kemungkinan jika setelah pesawat melintas semenanjung Malaysia lalu berbelok ke utara, ke arah Kazhakstan. Sementara koridor kedua, dikembangkan dari kemungkinan jika setelah pesawat melintas semenanjung Malaysia, dibawa ke arah selatan melintas Indonesia menuju Samudera Hindia.

      Mulai Minggu (16/3) ini, pencarian sudah memasuki minggu kedua. Seperti juga terlibat dalam pencarian minggu lalu, pencarian minggu kedua masih diikuti puluhan pesawat dan kapal dari 14 negara. Komandan Lanud Soewondo, Kolonel Pnb. Handoko, dalam sebuah wawancara dengan wartawan Indonesia mengatakan, tim pencari Indonesia senantiasa berkoordinasi dengan perwira penghubung TNI AU yang ditempatkan di pangkalan udara Butterworth, Malaysia.

      Mendukung teori tentang diterbangkannya pesawat tersebut ke salah satu dari dua koridor pencarian yang dikeluarkan Pemerintah Malaysia, sebuah stasiun radio di New York, WNYC, pesawat mungkin saja mendarat dan disembunyikan di salah satu dari 634 landasan yang ada di 26 negara. Kemungkinan itu didasarkan pada panjang landasan minimal untuk B777. Selain ditanggapi skeptis bebagai pihak, dugaan pembajakan juga dikomentari negatif keluarga penumpang. Mereka diantaranya kecewa mengapa Pemerintah Malaysia baru pada minggu kedua. Pencarian, kata mereka, juga terkesan lambat atau sengaja dibuat lambat.

Harap-harap Cemas Kehadiran Si Badai, Sang Ksatria Baru Pengawal Angkasa Nusantara

 
Rafale TNI AU
Pesawat Tempur Rafale Prancis

Siapa yang tidak kenal dengan Rafale? Pemerhati dunia militer, khususnya dunia aviasi militer pastilah mengenal sosok pesawat tempur andalan Armee de l’Air atau AU negeri Pakdhe Sarkozy ini.
Sosok pesawat tempur, yang dijuluki Bill Gunston “the most beautiful fighter aircraft ever” , kini sedang menjadi buah bibir di bebagai media publikasi militer, bukan karena segudang prestasi tempur, tapi karena kegagalannya memenangkan kontrak pesanan dari bebeberapa negara sepanjang 3 tahun terakhir. Sebegitu burukkah nasib si Badai ini? Tak adakah keberuntungan yang menaungi si Badai yang baru diproduksi 160 unit ini?.
Ternyata dewi fortuna berpihak pada Rafale, durian runtuh buat Dassault, Thales, dan SNECMA sebagai system vendor utama Rafale. Siapakah yang jadi dewa penolong Rafale?
Sebelum mengungkap tabir misteri pemberi napas baru program Rafale, kita bedah dulu si Badai ini.

Jin Rafa a.k.a Rafale, selayang pandang.
Rafale, adalah pesawat tempur generasi 4+ yang menjadi andalan Armee de l’Air (AU Prancis) yang digadang-gadang sebagai ujung tombak armada untuk menggantikan Mirage 2000 dan Mirage F1 sebagai frontline fighter. Uniknya, desain pertama Rafale adalah mengacu pada “carrier based fighter” atau pesawat tempur yang berpangkalan di kapal induk yang kemudian konsep desain berkembang dan diaplikasikan untuk versi AL dan AU. Peran utama yang diemban Rafale adalah superioritas udara, interdiksi, pengintaian, dan platform strategis peluncur rudal nuklir.
Meskipun memiliki dimensi fisik relatif kecil, Rafale mampu bawa persenjataan dalam volume yang sanggup membuat mata terbelalak. 9,5 ton persenjataan pada 14 cantelan di bawah perut, pastilah suatu angka yang impresif, bukan?  14 cantelan itu bisa diisi berbagai “aksesoris” mulai dari rudal AAM MICA dan Meteor. Khusus untuk baseline F3 dan F3R, berbagai macam senjata anti permukaan baik itu itu rudal macam Exocet AM39, Hammer AASM, atau rudal jelajah gress SCALP EG, serta berbagai jenis bom pintar dapat dibawa oleh Rafale.
Itu soal tentengan, bagaimana dengan jeroan? Bicara jeroan, Rafale memiliki sederet sensor yang menjadi mata dan telinga yang diakui oleh industri adalah salah satu yang terbaik di dunia. “Mata” sang Badai, bertumpu pada radar  Thales RBE2  PESA (passive electronically scanned array)/AESA pada varian F3R. Selain radar, sistem pengindera pasif dengan sensor optik/infra merah OSF racikan Thales, yang merupakan sistem penjejak optik/infra merah pertama yang muncul di pespur Barat (sebelumnya hanya dimiliki oleh Flanker family dan MiG-29M milik Rusia).
Selain kedua sensor tersebut, Rafale memiliki suatu piranti yang tak kalah eksotis dan sudah teruji dalam medan tempur, dan berbagai ajang latihan taktis bersama negara NATO. Piranti tersebut adalah SPECTRA, bikinan Thales dan MBDA, yang berfungsi sebagai perangkat perang elektronika (pernika)/electronic warfare. Perangkat ini yang membuat Rafale satu-satunya pesawat tempur NATO yang mampu lolos dari sergapan S-300V dalam suatu simulasi latihan.
Jet Tempur Rafale Prancis (photo by Andrew Dro)
Jet Tempur Rafale Prancis (photo by Andrew Dro)

Rafale sebagai pendamping Su-35 first line fighter TNI AU
Saat TNI AU mulai mempublikasikan wacana pengadaan pespur sebagai pengganti F-5, sederet nama kandidat mulai bermunculan. Dan Rafale, muncul sebagai salah satu kandidat utama. Apa alasan akhirnya Rafale jadi kandidat kuat. Simak saja fakta dibawah ini:
-Red Flag exercises: Rafale C sukses membukukan skor kill total  26-3 dalam skenario CAP-WVR dan kill 20-2 dalam CAP-BVR. Rafale menjadi bagian dari blue force, melawan red force yang terdiri dari F-15, F-16, dan EF Typhoon.
-Red Flag exercises: Rafale C sukses menghindari lock on dari sistem SAM yang disimulasikan S-300V. Menjadi satu-satunya pemegang rekor “no kills by SAM” dalam sejarah Red Flag!
Dassault sudah mengendus peluang ini dan pernah mengirimkan proposal acquisition offering. Sayang, proposal pertama ini gagal, meskipun dari sisi user sendiri sudah menunjukkan minat tinggi. Kegagalan ini disebabkan karena dassault tidak bersedia memenuhi permintaan ToT kita untuk program IFX dengan skema harga dan volume pembelian yang kita mau. Bayangkan saja mereka menuntut kita untuk beli 64 Rafale B/C baseline F3 dan F3R dengan harga fantastis yang tidak mungkin kita jangkau. Sebagai informasi, item ToT mencakup engine Snecma M88, radar Thales RBE2, dan avionics system integration.
Namun, ternyata kebutuhan financing mereka untuk program baseline F3R memaksa Dassault cs kembali datang dengan menawarkan skema baru yang lebih atraktif.  Selain ada price per unit yang 22% lebih rendah dari initial offering, juga ada ToT penuh untuk spare parts, dan teknologi sensitif yang melekat pada Rafale. Mereka juga setuju untuk memberikan teknologi mesin SNECMA M-88B-4, radar RBE2 AESA, dan……seluruh perangkat perang elektronika SPECTRA, serta source code data link yang memungkinkan Rafale bisa “ngobrol” dengan armada Sukhoi kita! Selain itu mereka juga siap mendukung program pengembangan “network centric battle management system” yang sedang dirintis oleh Dephan.
Gayung bersambut, proposal terbaru tersebut sudah mendapat clearance berlapis, hingga ke tingkat decision maker tertinggi. Skema yang disetujui adalah sebagai berikut:
  1. Initial acquisition programme (delivery Q4 2014 – Q2 2015)
    1. 16 units of Rafale C singe seater F3 variant
    2. 8 units of Rafale B twin seater F3 variant
    3. Provision of latest upgrade of Damocles IRST (baseband 3.00A2)
    4. Provision of SPECTRA jamming pod (undisclosed quantity)
    5. Provision of MICA AAM (IR/active radar homing) undisclosed quantity
    6. Provision of complete package of spare parts, logistic and technical support, and operational management support.
    7. Provision of comprehensive air and ground crew training program (both on Dassault and local sites)
    8. Phase 2 acquisition programme (delivery Q3 2015 – Q4 2016)
      1. 24 units of Rafale C single seater F3 variant
      2. 6 units of Rafale B single seater F3 variant
      3. Provision of SPECTRA jamming pod (batch 2)
      4. Provision of MICA AAM.
      5. Provision of MBDA Meteor (undisclosed quantity).
      6. Initial transfer of technology programme
      7. Phase 3 acquisition programme (delivery Q1 2017-Q4 2017)
        1. 18 units of Rafale C single seater F3R variant.
        2. Upgrade 24  units of batch 1 into F3R variant
        3. Full scheme ToT execution
        4. Provision of MBDA Meteor AAM
        5. Provision of Hammer AASM, SCALP air to ground missile (undisclosed quantity).
        6. Phase 4/Final acquisition programme (2018)
          1. Upgrade 30 units of batch 2 into F3R variant.
          2. Final programme delivery to user.
Selamat datang…Rafale, kami rakyat Indonesia menyambut hangat kedatanganmu. Semoga angkasa nusantara akan semakin aman dengan kehadiranmu(by Narayana)

Minggu, 16 Maret 2014

Satgas Pengadaan KCR Dikukuhkan


ASISTEN Logistik (Aslog) Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana Muda TNI Suyitno, mengukuhkan sekaligus menutup pelatihan kelaikan Satuan Tugas (Satgas) Dalam Negeri Proyek Pengadaan Kapal Cepat Rudal (Yekdakap KCR) Trimaran, di Mabesal Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (14/3).

Kegiatan pengukuhan didahului dengan pelatihan kelaikan Satgas Dalam Negeri Proyek Pengadaan Kapal Cepat Rudal (KCR) Trimaran yang berlangsung selama lima hari. Para personel Satgas Yekdapak KCR Trimaran yang dikukuhkan, antara lain Komandan Satgas Letkol Laut (KH) Moch. Tholib; Perwira Pengawas Platform Letkol Laut (T) Tegus Subekti; Perwira Sekretaris Mayor Laut (E) Muhamad Yusdi Jauhari, Perwira Sekretaris Mayor Laut (T) Budi Sugiarto; Perwira Pendidikan, Latihan, Administrasi dan Logistik Mayor Laut (S) Tommy Basta, dan Bintara Sekretariat Serda BEK Agin Siswanto.

Usai upacara pengukuhan, Aslog KSAL mengatakan pembangunan KCR Trimaran merupakan pembangunan yang kedua kalinya. Hal ini dimaksudkan sebagai pengganti kapal sebelumnya yang telah terbakar, di mana pada saat itu kapal masih belum diserahterimakan kepada TNI Angkatan Laut.

Permasalahan lain yang dihadapi adalah masih sering terjadi keterlambatan jadwal penyerahan kapal pada proses pembangunan. Hal dikarenakan oleh ketidakmampuan galangan dalam mensinergikan aspek-aspek pengetahuan dan keterampilan tenaga kerjanya dengan baik dan benar.

“Oleh karena itu, untuk menjamin terlaksananya penyerahan kapal tepat waktu dan mutu, dibutuhkan pengawasan oleh personel satgas yang memahami secara detail proses pembangunan kapal yang dilaksanakan oleh galangan. Pengawasan dimulai dari carbon cutting, launchinghingga akhirnya penyerahan kapal dari galangan ke TNI Angkatan Laut selaku pengguna,” kata Aslog KSAL seperti dilansir dalam siaran pers Kasubdispenum Dispenal, Kolonel Laut (S J Widjojono.

Lebih lanjut, Aslog KSAL menjelaskan seluruh materi pelatihan yang diterima dan dipelajari menjadi modal dasar untuk melaksanakan pengawasan proses pembangunan kapal oleh galangan.

“Dengan bekal awal tersebut, tentunya masih diperlukan upaya-upaya proaktif dari setiap individu, untuk selalu berusaha dengan sungguh-sungguh melaksanakan pengawasan secara melekat setiap detail proses pembangunan kapal. Sehingga dengan berakhirnya pelatihan ini, saya harap saudara-saudara telah mengerti dan memahami tugas, semua aturan dan prosedur, serta kegiatan yang harus dilakukan.,” katanya.

Ia juga berharap agar dapat meminimalisir adanya kemungkinan kesalahan-kesalahan prosedur dan penurunan kualitas material pada kapal yang dibangun,. Dengan demikian pembangunan kapal dapat diselesaikan tepat waktu dan dengan kualitas material yang sesuai dengan spesifikasi teknis yang diinginkan. 

Latihan Elang Gesit 2014 Lanud Iwj : SATGASPUR LANUD IWJ BERHASIL HANCURKAN KEKUATAN MUSUH


http://lanud-iswahjudi.mil.id/galeri/img_gambar/717983.jpg

         Pen Lanud Iwj, Magetan (13/3/14). Dari laporan intelijen TNI AU, dilaporkan ada pasukan musuh dari negara musang yang akan menyerang NKRI, dengan mengerahkan kekuatan udara, darat dan intelijennya untuk melaksanakan infiltrasi kewilayah kita. Sehingga Lanud Iswahjudi sebagai Pangkalan Operasi mendapat perintah untuk melaksanakan operasi udara dalam menghadapi kekuatan negara Musang yang akan melakukan infiltrasi.

        Untuk itu Lanud Iswahjudi membentuk satuan tugas operasi yang diawali dengan melakukan persiapan dengan mengadakan briefing dari unsur intelijen, unsur Satgaspur dan unsur Pangkalan. Dari unsur-unsur tersebut menyampaikan paparan kesiapan dan rencana gerak untuk menghadapi kekuatan negara Musang.

         Berawal dari laporan intelijen, terdapat satu pesawat negara Musang jenis Boeing terdekteksi radar telah melaksanakan pengintaian udara di wilayah NKRI. Sehingga Dansatgaspur memerintahkan dua pesawat F-16 malakukan interceptor dan memaksa mendarat (Force Down) pesawat Boeing tersebut di Lanud Iswahjudi. Setelah mendarat, pilot dan copilot pesawat Boeing tersebut diinterogasi oleh unsur Intelijen, Pomau dan Hukum Lanud Iswahjudi.

          Selanjutnya dari informasi intelijen, diketahui negara Musang telah melakukan penyerangan dengan kekuatan udara. Sehingga Lanud Iswahjudi memberangkatkan dua pesawat F-5 Tiger dari Skadron Udara 14, untuk melaksanakan Operasi Lawan Udara Ofensif (OLUO) sehingga pesawat udara negara Musang yang masuk ke wilayah NKRI berhasil dihancurkan.

          Namun dalam perang udara tersebut, salah satu pesawat F-5 kita terkena tembakan, dengan keadaan emergency masih dapat melakukan pendaratan darurat di Lanud Iswahjudi dan crash team Lanud Iswahjudi telah siap dengan sigap melaksanakan pengamanan serta mengevakuasi pilot dan copilot yang mengalami cidera ke Rumah Sakit Lanud.

          Disinyalir pasukan musuh melakukan infiltrasi dan sabotase secara tersembunyi terhadap Lanud Iswahjudi, unsur pasukan pengamanan alutsista Lanud Iswahjudi berhasil menangkap dan menemukan bahan peledak yang dipasang oleh penyusup di Skadron Udara 3 dan gudang amunisi, berhasil diamankan oleh pasukan Kamhanlan Lanud Iswahjudi.

          Dari hasil pengintaian dan Informasi Intelijen terhadap negara Musang, didapatkan peta target vital berupa pusat pemerintahan, pabrik amunisi dan gudang logistik musuh, sehingga unsur satuan tugas tempur diberangkatkan dua F-16 sebagai sweeper, dua T-50i Golden Eagle dan dua pesawat F-16 lainnya sebagai striker serta dua pesawat F-5 Tiger sebagai escort yang dilengkapi dengan senjata dan amunisi lengkap, melaksanakan Operasi Serangan Udara strategis (OSUS), menghancurkan target-target musuh yang telah ditentukan.

          Sementara itu terdapat pesawat angkut TNI AU yang mengangkut personel terkena tembakan musuh sehingga terjadi crash landing yang menimbulkan banyak korban meninggal maupun luka-luka, kejadian tersebut secara cepat dan tepat berhasil ditangani oleh personel kesehatan.

          Namun dalam perjalanan pulang selesai melaksanakan OSUS, satu pesawat F-16 dan satu pesawat F-5 terkena tembakan musuh, pesawat F-16 berhasil melakukan pendaratan darurat, dan berhasil di tangani oleh crash team Lanud Iswahjudi. Sementara itu pesawat F-5 mengalami kerusakan yang cukup parah sehingga pilot dan co pilot melakukan eject dan jatuh didaerah musuh. Tim SAR tempur Lanud Iswahjudi berhasil menemukan dan menyelamatkan kedua penerbang dan dievakuasi dengan pesawat colibri ke Lanud Iswahjudi untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

         Demikian skenario latihan �Elang Gesit� tahun 2014 dan penanganan korban massal pada pesawat terbang yang dilaksanakan selama tiga hari di Lanud Iswahjudi. Pada kesempatan tersebut Komandan Lanud Iswahjudi memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan latihan tersebut sehingga dapat berjalan dengan aman, lancar dan sukses.

          Setelah seluruh rangkaian latihan Elang Gesit 2014 Lanud Iswahjudi selesai, Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Yuyu Sutisna, S.E., secara resmi menutup latihan dalam upacara penutupan latihan Elang Gesit 2014, di lapangan Dirgantara Lanud Iswahjudi, Kamis (13/3/14).

          Pada kesempatan tersebut Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Yuyu Sutisna, S.E., mengatakan bahwa latihan yang telah dilaksanakan agar dievaluasi dan dikaji lebih lanjut yang selanjutnya dapat dijadikan dasar dalam menyempurnakan protap untuk pelaksanaan latihan-latihan yang akan datang.

Keterangan Gambar : Satu flight pesawat tempur Lanud Iswahjudi berangkat melaksanakan OSUS pada latihan Elang Gesit 2014 Lanud Iswahjudi, Kamis (13/3/14). (Foto Pentak Lanud Iswahjudi).
Sumber : penlanudiwj

Eurocopter AS 565 Panther TNI AL: Jawaban dari Sebuah Penantian Panjang

SONY DSC
Setelah tujuh tahun dalam penantian, akhirnya korvet SIGMA class TNI AL mendapatkan pasangan helikopter yang sepadan dan mumpuni. Maklum, sejak kapal SIGMA class TNI AL pertama mulai diterima tahun 2007, andalan helikopter di deck-nya bukanlah jenis yang punya kemampuan AKS (anti kapal selam), yang bisa melepas torpedo. Jangankan berkemampuan AKS, melontarkan rudal anti kapal pun tak bisa dilakukan, yang kebetulan ‘paket’ jodoh SIGMA class TNI AL dipercayakan pada sosok helikopter ringan multi peran, NBO-105 buatan PT. Dirgantara Indonesia.
Peran NBO-105 sebagai kepanjangan mata kapal perang, lebih difungsikan untuk misi intai jarak dekat, SAR (search and rescue), dan penindakan ringan dengan adopsi SMS (senapan mesin sedang) GPMG kaliber 7,62 mm sebagai door gun. Kondisi tersebut kerap membuat pemerhati militer di Indonesia menjadi minder, terutama bila membandingkan dengan helikopter tempur AL Malaysia, AL Singapura, dan AL Australia. Sebagai informasi, AL Malaysia (TLDM) mengoperasikan heli Super Lynx dari geladak frigatnya, sementara AL Singapura (RSN) mengoperasikan SH-60B Seahawk, dan AL Australia (RAN) menggunakan heli serang MH-60R Seahawk Romeo.
SONY DSC
KRI Sultan Iskandar Muda dan heli Panther
Heli Panther diatas deck SIGMA class TNI AL
Heli Panther diatas deck SIGMA class TNI AL

Pemerintah Indonesia pastinya tidak tinggal diam dengan ketimpangan alutsista di lini helikopter AL. TNI AL sebagai kekuatan laut terbesar di Asia Tenggara secara logika harus punya helikopter yang sepadan dengan negara tetangga. Kandidat sudah digodok sejak beberapa lama, hingga muncul nama SH-2G Super Seaprite buatan Kaman Aircraft, AS. Berita ini cukup santer, sampai disebutkan TNI AL akan menerima 11 unit heli ini. Tapi entah karena berbagai alasan, seperti kinerjanya kurang pas dan ukurannya terbilang ‘bongsor’ untuk deck korvet Indonesia. Akhirnya pilihan helikopter serang jatuh kepada kandidat lain, yaitu AS-565 Panther buatan Eurocopter. Heli ini terbilang masih gress, baru saja dipamerkan langsung di hadapan Presiden SBY dalam acara kunjungan kerja di Pangkalan Komando Armada Timur, Dermaga Ujung, Surabaya pada hari Rabu (12/3/2014). Dalam demo dan defile, nampak heli Panther berada di deck helipad KRI Sultan Iskandar Muda 367.

Eurocopter AS 565 Panther
Bagi kebanyakan orang di Indonesia, mungkin sudah akrab dengan bentuk alias desain helikopter ini. Pasalnya AS 565 Panther merupakan versi militer dari heli AS 365 Dauphin. Nah, AS-355 N3 Dauphin tak lain adalah helikopter SAR yang kerap wara-wiri di serial televisi Baywatch. Sebagai versi militer, AS-565 Panther sudah barang tentu dipersiapkan dengan perangkat penunjang misi tempur, terutama misi di lautan. Sebut saja ada peningkatan pada material berbahan komposit, yang menjadikan bodi heli ini lebih kuat dan dapat meredam pancaran gelombang radar. Bodi heli ini bahkan dilengkapi cat khusus yang dapat mengurangi endusan dari sensor infra red. Ini tentunya berguna bila suatu waktu heli diterjang rudal lawan, selain bisa mengandalkan chaff dan flare.
AS 365 Dauphin, andalan US Coast Guard dalam film Baywatch
AS 365 Dauphin, andalan US Coast Guard dalam film Baywatch
AS565_M650

Bicara tentang kekuatan, AS 565 Panther juga dirancang lebih tangguh untuk menghadapi sistuasi sulit. Sebut saja dengan bobot take off 4,3 ton, strukturnya masih bisa mentoleransi bila terjadi vertical impact dari ketinggian 7 meter. Bahkan sistem bahan bakarnya tahan bila terjadi crash dari ketinggian 14 meter, ini berkat tanki bahan bakar yang menggunakan teknologi self sealing. Sistem mesin mendapat porsi perlindungan yang maksimal, seperti kendali mekasisme servo yang dilengkapi lapisan anti peluru. Bila terjadi korslet, pesawat ini pun dilengkapi solusi pemotong kabel, sehingga bisa mencegah terjadinya kebakaran yang fatal.
Diawaki oleh pilot dan co-pilot, Panther dapat membawa 10 pasukan. Dengan komposisi muatan tersebut, orang mengira AS-565 Panther adalah heli yang berbobot besar. Tapi itu keliru, helikopter ini punya bobot maksimum saat take off hanya 4,3 ton. Kuncinya adalah adopsi material bodi dari kombinasi glass fibre yang diperkuat Nomex untuk menambah daya tahan dan sekaligus mengurangi berat helikopter. Nomex juga dikenal sebagai bahan tahan api. Rotorhead dengan empat bilah baling-baling utama menggunakan bahan serat gelas Starflex. Posisi pilot juga ditingkatkan keamanannya dengan kursi yang dapat menahan tekanan gravitasi hingga 20 g.

AS 565 Panther dapat menggotong dua torpedo MK46
AS 565 Panther dapat menggotong dua torpedo MK46
Eurocopter_AS-565MB_Panther_(code_H-25_-_cn.)_de_la_marine_bulgare
Panther dapat dipasangi gunpod kanon kaliber 20 mm dan rudal anti tank HOT

Dirunut dari spesifikasinya, Eurocopter AS565 Panther merupakan helikopter ringan multifungsi yang dirancang untuk angkut pasukan, pendukung logistik, dan evakuasi medis. Versi angkatan darat disebut AS-56UB dan versi naval disebut AS 565 MB (tidak bersenjata) serta AS 565 SB (bersenjata). Heli ini pertama kali terbang pada tahun 1984 dan masuk produksi dua tahun kemudian. Sebanyak 259 unit AS 565 Panther dipesan berdasarkan versi darat (181) dan versi naval (78).
Selain bisa membawa 10 pasukan, untuk evakuasi medis, heli ini dapat membawa empat pasien dan satu dokter. Untuk angkut muatan berat, heli ini dilengkapi dengan tali (sling) dengan kapasitas 1.600 kg. Sementara untuk menunjang misi SAR, dan menurunkan personel lewat tali, terdapat perangkat penarik elektrik (electrical hoist) sepanjang 90 meter untuk beban hingga 27,2 kg.
Visual heli Panther
Visual kokpit heli Panther
Handal dalam misi SAR
Handal dalam misi SAR

Didapuk sebagai helikopter untuk AL, bilah baling-baling utama Panther dapat dilipat secara manual dan dilengkapi dengan pin yang bisa dilepas dengan cepat. Baling-baling pada rotor utama terbuat dari serat karbon yang diperkuat dengan plastik yang berisi materi Nomex. Oleh karena itu, baling-baling Panther tahan karat dan tidak mudah rusak. Baling-baling pada ekor (tail rotor) menggunakan teknologi Fenestron (fantail) dengan 11 blade yang member keselematan lebih tinggi bagi awak di darat, awak pesawat, maupun penumpang. Konsep Fenestron paa tail rotor juga mampu mereduksi suara yang cukup lumayan.
Untuk sistem navigasi, Panther menggunakan Thales Avionics. Sistem pengaman komunikasi militer dapat dipasang sesuai kebutuhan operator di negara bersangkutan. Sementara itu untuk kelengkapan tempur elektronik, Panther antara lain dilengkapi dengan Thales TMV 011 Sherlock receiver, infra red jammer, serta flare decoy dispensers.
AS 565 Panther mengusung jenis dua mesin turboshaft Turbomeca Arriel 2C. Masing-masing mesin punya kekuatan 635 kW. Dengan mesin ini, Panther memiliki performa yang dapat diandalkan dalam kondisi apa pun, termasuk panas dan di ketinggian. Kendali mesin digital dengan otoritas penuh memungkinkan starter mesin secara otomatis dan menjamin operasional mesin sesuai batas akselerasi, torque dan suhu. Panther dapat melakukan hovering hingga 2.600 meter dengan kecepatan tidak lebih dari 285 km per jam.

Tampilan 3D Panther
Tampilan 3D Panther
Agusta Westland Super Lynx 300, heli AKS andalan TLDM (AL Malaysia)
Agusta Westland Super Lynx 300, heli AKS andalan TLDM (AL Malaysia)

Untuk kemampuan jelajah, dengan empat tangki dibawah lantai dan satu di tengah fuselage, Panther memiliki kapasitas bahan bakar total 1.130 liter. Untuk jangkauan lebih luas, Panther dapat dilengkapi dengan auxiliary fuel tank dan ferry tank. Panther dapat menjalankan misi hingga 820 km dengan bahan bakar standar. Dari segi suspensi, Panther memiliki gir pendarat tricycle yang ditarik secara hidrolis, dengan roda hidung ganda dan satu roda utama. Unit utama dan hidung dilengkapi dengan oleopneumatic shock absorbers. Roda pada hidung ditarik ke arah belakang dan roda utama ditarik masuk ke fuselage.
Varian naval AS 565 Panther beroperasi di Irlandia, Uni Emirate Arab, Islandia, Saudi Arabia, Israel, AL Meksiko, AL Cina, dan tentunya AL Perancis. Versi bersenjata dan tidak bersenjata dioperasikan oleh AD Brazil. Untuk varian naval terkini, bisa dilengkapi dengan konfigurasi SAR, patroli, intai maritim, AKS dan misi anti kapal permukaan. Untuk misi AKS, Panther dapat dilengkapi dengan dua torpedo. Jenis torpedo yang dapat dibawa adalah MK46 dan A.244. Sementara untuk misi anti kapal permukaan, Panther dapat membawa empat rudal anti kapal berpengendali radar AS 15 TT dan radar Agrion 15 pada dagunya. Mau duel di udara? Panther bisa dipasangi rudal Mistral. Untuk kelengkapan pertahanan, Panther dapat dipasangi kanon GIAT M621 kaliber 20 mm. Karena berasal dari platform heli sipil, Panther tidak dibekali dengan senjata internal.
AS 365 Dauphin pesanan Basarnas dalam proses perakitan di PT. DI
AS 365 Dauphin pesanan Basarnas dalam proses perakitan di PT. DI

Dengan empat rudal, Panther bisa beraksi hingga radius 250 km. Sementara untuk misi SAR, Panther mampu mencapai radius 240 km dengan membawa angkutan enam korban. Endurance Panther mencapai 4,5 jam di udara. Sebagai heli SAR, Panther dilengkapi radar pencari Omera ORB 32 pada bagian moncong. Panther juga dibekali EFIS (electronic flight and information system) dengan lima layar besar untuk display di ruang kokpit. Panther dapat beropeasi lewat autopilot dengan dukungan teknologi Sagem dan navigasi berbasis computer Nadir MK2. Bila dibutuhkan, Panther pun dapat dipasangi turret FLIR (forward looking infra red) pada sisi badan pesawat. Keseluruhan sistem komunikasi mengadopsi navigasi inersial Nortrop Grumman dan GPS.
Meski penampakan Panther TNI AL telah terungkap ke publik, tapi belum jelas benar versi apa yang diadopsi, meski besar kemungkinan adalah AS 565 MB Panther. Mengutip informasi dari berbagai media, TNI AL akan membeli 11 unit Panther yang punya kemampuan AKS. Bahkan TNI AL lewat Puspenerbal akan menyiapkan skadron anyar, yaitu Skadron Udara 100. Dari segi penempatan, Panther nantinya akan ditempatkan di 4 korvet SIGMA class, di 3 unit korvet Nakhoda class, dan 2 PKR SIGMA 10514 (perusak kawal rudal). Sayangnya, hangar untuk heli baru bakal ada di PKR SIGMA 10514, sementara di korvet SIGMA dan korvet Nakhoda class tidak dilengkapi fasilitas hangar.
Setidaknya ada dua institusi yang menggunakan heli besutan Eurocopter ini, selain TNI AL, Basarnas juga memesan versi sipilnya, yaitu AS 365 AS-355 N3 Dauphin. Kesemua pesanan dirakit oleh PT DI. (Sam)

Spesifikasi Standar AS 565 Panther
Crew: 2 pilots
Capacity: 10 troops
Length: 13.68 m
Height: 3.97 m
Empty weight: 2.380 kg
Max takeoff weight: 4.300 kg
Powerplant: 2 × Turboméca Arriel 2C turboshaft, 635 kW (852 hp)
Main rotor diameter: 11.94 m
Main rotor area: 111.98 m2
Maximum speed: 306 km/h
Service ceiling: 5.865 m
Rate of climb: 8.9 m/s

RKX-200 EDF, Kemajuan Teknologi Rudal Nasional

 
RKX-200 EDF Lapan (photo: 8ptrkendali.com)
RKX-200 EDF Lapan (photo: 8ptrkendali.com)

Lapan kembali berhasil menerbangkan pesawat Electric Ducted Fan atau EDF di Landasan Pesawat, Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat, tanggal 5 Maret 2014. Setelah keberhasilan ini, pengembangannya akan berlanjut ke Roket RKX-200 Turbo Jet (TJ). Fungsinya akan digunakan untuk pengembangan roket kendali atau rudal jarak pendek, baik untuk pertahanan atau teknologi antariksa.
Awalnya kondisi jelajah diperkirakan pada 180 km/jam, tapi saat uji coba hasilnya sangat membanggakan, yaitu 200 km/jam. Uji terbang sendiri sudah dilakukan sejak 2013.
Penggunaan EDF dikarenakan kemudahan pengoperasian motor, ekonomis, dapat dipergunakan berulang kali (budget terbatas), kehandalan dan kemudahan dipasaran.
“Untuk pesawat RKX 200 TJ, tahun ini Lapan mengembangkan EDF dengan mesin jenis turbo jet yang direncanakan terbang menjangkau kecepatan 250 km/jam,” ujar Kepala Program EDF dan Turbo Jet, Herma Yudhi Irwanto, M. Eng. Meski belum autopilot, menurut Herma Yudhi, target tersebut dapat terpenuhi pada pengujian perdana ini.
RKX-200 EDF Lapan (photo: 8ptrkendali.com)
RKX-200 EDF Lapan (photo: 8ptrkendali.com)

Bentuknya memang agak aneh tidak seperti rudal-rudal yang banyak kita lihat maklum, baru pengembangan. Nah untuk pembuatannya menggunakan geometri pesawat model F-18 (RC F-18). Kenapa? Karena RC F 18 mudah didapatkan di pasaran dan juga karena manuver pesawat F 18 sangat bagus.

Spesifikasi :
Massa total : 18 kg
Diameter : 20 cm
Panjang : 2,2 meter
Luas sayap : 0,75 m
Aerofoil ekor : NACA seri 4 (simetri)
Aerofoil sayap : NACA seri 5

Selain itu, saat dihubungi, salah seorang ahli roket dan rudal PT. Pindad mengaku siap untuk menancapkan hulu ledak. Menurutnya saat ini pembuatan hulu ledak sudah seluruh komponennya asli buatan dalam negeri.
“Sudah itu semua dalam negeri, itu sama saja dengan meriam atau peluru itu hanya campuran. Berapa ukuran berapa itu tergantung dibuatnya,”
Selain RKX 200 EDF, ada juga kakaknya yaitu RKX 300 EDF yang bentuknya sudah lumayan. Proses keberhasilan ini menjadi catatan yang membanggakan bagi Lapan. Pencapaian ini menjadi langkah maju bagi lapan untuk menerapkan teknologi roket yang lebih besar, seperti rencana R-Han 320, 450, atau 520.
Mudah-mudah pengembangannya berjalan lancar. Harapan untuk mempunyai Rudal Jarak Jauh dari darat ke darat atau udara semoga segera tercapai. Salut untuk Lapan meski anggarannya miris. Amin. (by Jalo).
Sumber : Lapan.go.id