Rabu, 12 Maret 2014

Presiden: penambahan alutsista untuk pertahankan kedaulatan



 Sebuah kapal cepat sea rider milik Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI-AL melakukan patroli di sela gladi Gelar Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) TNI AL periode 2004-2014 di Dermaga Koarmatim Ujung Surabaya, Jatim, Senin (10/3). Gelar tersebut sebagai bentuk inspeksi kesiapan TNI AL dalam menjaga keutuhan NKRI yang akan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.(ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat) 

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan penambahan kekuatan TNI Angkatan Laut bertujuan untuk mempertahankan kedaulatan, bukan karena Indonesia ingin berperang.

"Kita tidak ingin perang. Namun jika harus bertempur dan mempertahankan kedaulatan, kita sudah siap. Kekuatan TNI AL kita bertambah lagi," kata Presiden Yudhoyono di sela peninjauan gelar alat utama sistem persenjataan (Alutsista) dan demo kekuatan persenjataan TNI Angkatan Laut di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jawa Timur, Rabu.

Pelanggaran kedaulatan dapat terjadi dalam beragam bentuk, terutama di wilayah Indonesia yang sebagian besar terdiri dari perairan.

Didampingi Menteri Pertahananan Purnomo Yusgiantoro, Presiden Yudhoyono meninjau gelar alutsista hasil pengadaan pada program pembangunan kekuatan matra laut periode Rencana Strategis 2005-2009 dan 2010-2014.

Menurut Menteri Pertahanan, alutsista yang digelar antara lain empat kapal perang korvet kelas Sigma, empat KRI kelas LPD (Landing Platform Dock), empat Kapal Cepat Rudal (KCR) tipe 40 M, dan dua kapal Patroli Cepat (PC) tipe 43 M.

Untuk Korps Marinir TNI AL telah datang 54 tank amphibi jenis BMP-3F, satu BREM-L (Tank Recovery), 15 Panser LVT 7 A1 (Landing Vehicle Tank), dua pesawat CN 235-220 MPA (Maritime Patrol Aircraft), empat pesawat latih Bonanza G-36, dan tiga helikopter Bell-412 EP.

Pada kesempatan itu juga digelar model atau miniatur alutsista yang pengadaannya melampaui masa bakti Kabinet Indonesia Bersatu II.

"Penyelesaian alutsista laut membutuhkan waktu yang lama," kata Menhan menjelaskan alasan pengadaan yang melampaui masa bakti kabinet.

Alutsista yang disajikan dalam bentuk miniatur antara lain tiga kapal selam, dua kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) jenis frigate, kapal layar latih (Tall Ship) pengganti kapal Dewa Ruci yang sudah berusia 62 tahun, tiga kapal angkut tank yang satu di antaranya untuk mengangkut tank Leopard, dua kapal Bantu Hidro Oseanografi (BH0), dan dua kapal Bantu Cair Minyak (BCM).

TNI AL, tambah Menhan, juga akan diperkuat oleh tiga pesawat CN-235 MPA, 11 unit helikopter Anti Kapal Selam (AKS) yang dilengkapi dipping sonar dan torpedo, lima unit panser BTR-4 dan satu baterai Multiple Launch Rocket System (MLRS).

Selasa, 11 Maret 2014

Perkuat Alutsista, RI Pilih Korsel


Pemerintah menginginkan investasi dari Korea Selatan untuk pembangunan industri komponen dan mesin alat utama sistem persenjataan (alutsista) di Indonesia. Hal tersebut diharapkan dapat masuk di perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif antar kedua Negara (Indonesia-Korea Commprehensive Economic Partnership Agreement/IK-CEPA), kata Menteri Perindustrian MS Hidayat di Jakarta, Senin (10/3).
MS Hidayat selaku pihak pimpinan tim negoisator IK-CEPA lebih lanjut mengatakan selain investasi di sektor elektronik, petrokimia, baja, dan mineral dari Korsel, pemerintah juga bersepakat mengusulkan investasi dari negara produsen pesawat tempur itu di sektor komponen alutsista.
Usulan beberapa sektor sasaran investasi itu juga menjadi sikap terakhir pemerintah menjelang negosiasi ke-8 antara Indonesia dan Korsel, yang dilaksanakan sebelum Mei 2014. "(Komponen alusista) itu investasi yang kita harapkan dari Korsel," ujar Hidayat, setelah rapat dengan Menteri Perdagangan Muhammad Luthfi, Kepala BKPM Mahendra Siregar, dan pihak Kedutaan Besar RI untuk Korsel.
Selama ini, kerja sama Indonesia dan Korea Selatan di bidang alusista, di antaranya, berupa kerja sama mengenai pembuatan pesawat tempur yang diberi nama Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX).
Indonesia memang masih mengimpor sejumlah alusista. Maka itu, dengan mengucurnya investasi untuk komponen Alusista, diharapkan Indonesia dapat mengembangkan produksi alusista dalam negeri. Namun, Investasi Korsel ke Indonesia masih terkonsentrasi di sektor industri karet, plastik, kimia, tekstil, gas, air dan baja.
Menurut KBRI Seoul, pada 2013 realisasi investasi Korsel ke Indonesia adalah sebesar 2,2 miliar dolar AS, meningkat 15,7 persen dari tahun 2012 sebesar 1,95 miliar dollar AS. "Maka dari itu, komponennya adalah bagian dari industri yang kita harapkan masuk," ujar Hidayat.
Mengenai target dan besaran investasi, baik Menperin dan Mendag Luthi mengaku belum dapat membeberkannya sebelum disepakati oleh kedua negara. Kemenperin dalam beberapa kesempatan, menyatakan pengembangan industri alusista, maupun komponennya memang membutuhkan modal besar dengan dukungan teknologi yang tinggi.
Di sektor lain, Korsel juga masih mengkaji untuk mengucurkan investasi seperti di bidang besi baja dan otomotif. Misalnya, untuk investasi perusahaan baja Korsel, POSCO, kedua perwakilan negara masih dalam proses perundingan.

ROL. 

Presiden Inspeksi Alutsista Baru di Surabaya


Helikopter TNI AL
Helikopter Panther TNI AL

Presiden SBY didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono akan melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Jawa Timur mulai Selasa, 11 Maret 2014, hingga Kamis, 13 Maret 2014.
“Benar, Presiden akan melakukan kunjungan kerja di Jawa Timur,” kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat, Media, dan Dokumentasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Anom Surahno, Senin, 10 Maret 2014.
Dalam kunjungannya ini, Presiden SBY akan menyaksikan alat utama sistem persenjataan (alutsista) baru. Hal ini sesuai dengan amanat SBY dalam acara Hari Ulang Tahun TNI ke-68 pada 5 Oktober 2013. Saat itu, SBY mengatakan pemerintah pusat akan mengganti dan menambah alutsista di semua matra dan lini. Hal ini untuk mencapai tahapan kekuatan esensial minimum.
SBY dijadwalkan berangkat dari Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, menuju Surabaya, Selasa siang. Tiba di Surabaya, SBY didampingi Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan rombongan menuju Markas Komando Armada Kawasan Timur TNI AL. Mereka akan menyaksikan penyerahan secara simbolis miniatur pesawat CN 235-220 N-61 MPA oleh Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso kepada Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan Laksamana Muda TNI Rachmad Lubis.
panther-2
Korvet Sigma KRI Iskandar Muda Mengusung Helikopter Panther
Penyerahan miniatur diikuti dengan penandatanganan naskah serah-terima pesawat CN 235-220 N-61 MPA. Pesawat terbaru TNI AL ini sanggup melihat sasaran jarak jauh. Kekuatan pandangan jauh tersebut terletak pada forward looking infra red (FLIR) dan search radar yang diletakkan di bawah badan pesawat.
Adanya search radar dan FLIR dengan teknologi maju ini membantu TNI AL mendeteksi kapal nelayan dari ketinggian 13.000 kaki, sehingga dapat menindak aktivitas pencurian ikan oleh kapal asing. Pesawat ini juga dapat melakukan pemantauan terhadap kapal imigran gelap yang banyak memasuki area pantai selatan Pulau Jawa.
Selanjutnya, bersama dengan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Jenderal Moeldoko, KSAL Laksamana TNI Marsetyo, dan Panglima Komando Armatim Laksamana Muda TNI Agung Pramono, Presiden SBY akan meninjau Dermaga Madura. Di sana akan digelar alutsista TNI AL.
Dalam acara ini akan diadakan demo berupa penyebaran ranjau dari pesawat udara, penembakan RBO dari kapal, demo pembebasan sandera dengan menggunakan sea rider, dan peperangan kapal selam dengan helikopter. Hal ini dilanjutkan dengan aksi sepuluh penerjun yang mendarat di geladak kapal. Rangkaian demo ini akan diakhiri dengan sailing pass kapal TNI AL dan flying pass helikopter Angkatan Laut.
Setelah menyaksikan demo alutsista, SBY selaku Ketua Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) akan membuka rapat KKIP di Gedung Candrasa, Surabaya. Rapat itu akan dihadiri sekitar 80 orang anggota KKIP dan pejabat terkait, termasuk Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.
SBY juga diagendakan mengunjungi Wisata Bahari Lamongan, Kabupaten Lamongan, dan Kelola Mina Laut di Kabupaten Gresik. Rangkaian kunjungan kerja akan diakhiri dengan kunjungan ke pelabuhan pendaratan ikan Kecamatan Bulu, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur. Di sini, SBY beserta rombongan akan melakukan peninjauan. Setelah meninjau pelabuhan pendaratan ikan, SBY akan bertolak menuju Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah. (tempo.co / AGITA SUKMA LISTYANTI)

Minggu, 09 Maret 2014

TNI AL kerahkan lima kapal perang cari MH370

 
Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Marsetio, menyatakan TNI AL segera mengerahkan lima kapal perang dan satu helikopter untuk membantu pencarian pesawat terbang Malaysia Airlines nomor penerbangan MH370 yang hilang kontak sejak kemarin pagi (8/3).

"Tadi saya berkomunikasi dengan Panglima Tentera Laut Diraja Malaysia, Laksamana Tan Sri Abdul Aziz. Intinya, mereka meminta kami membantu mencari pesawat terbang Malaysia Airlines yang dinyatakan hilang kontak itu," katanya kepada ANTARA News, di Jakarta, Minggu.

Lima kapal perang TNI AL yang segera ditugaskan itu, kata dia, semuanya tergabung dalam Komando Armada Indonesia Kawasan Barat Indonesia TNI AL. "Ada yang memang sedang tugas patroli dan ada yang langsung diperintahkan berlayar misi dari pangkalannya," kata dia.

Wilayah operasi pencarian bagi kapal-kapal perang TNI AL itu, kata dia, ada di wilayah perairan Indonesia di Selat Malaka.

"Kami kerahkan kekuatan agar misi pencarian ini segera menunjukkan hasil. Kami senantiasa berkoordinasi dan saling membagi informasi dengan rekan-rekan internasional kami dalam misi pencarian ini," kata Marsetio.

Informasi menyebutkan, radar Tentera Udara Diraja Malaysia dikabarkan "menangkap" pantulan gelombang radar satu wahana udara di sekitar ruang udara Penang, Semenanjung Malaka.

MH370 lepas landas dari Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur menuju Beijing pada pukul 00.41 waktu setempat, Sabtu (8/3). Seharusnya, dia mendarat di Beijing pada 06.40 waktu setempat pada hari sama dalam penerbangan tanpa henti itu.

Akan tetapi, radar Pengendali Ruang Udara Subang, Malaysia, kehilangan kontak --baik di layar monitor radar ataupun suara-- dengan MH370 pada pukul 02.41 waktu setempat. Di dalam MH370 yang memakai Boeing B-777-200ER itu terdapat tujuh warganegara Indonesia; semula dikabarkan ada 12. 

PT DI Teken Mou 100 Pesawat N219


Model Pesawat N-219 PTDI,  saat Pameran HUT BPPT di Jakarta (photo:Antara/Dhoni Setiawan)
Model Pesawat N-219 PTDI, saat Pameran HUT BPPT di Jakarta (photo:Antara/Dhoni Setiawan)

PT Dirgantara Indonesia (PT DI) meneken Memorandum of Understanding (MoU) pesanan 100 pesawat perintis N219. Nantinya, pesawat berkapasitas 19 kursi ini disebut mampu melayani kebutuhan komersial, khususnya di daerah Indonesia timur.
“Tahun ini desain selesai, tahun depan selesai dirakit, akhir 2015 prototipe bisa terbang,” ujar Budi Santoso, Direktur Utama PT DI di sela kunjungan kerja Kementerian Perindustrian dan Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, 7/03/2014.
Saat ini, PT DI tengah fokus untuk membuat 4 prototipe untuk flying dan starting test. Untuk membuat prototipe tersebut, Bappenas memberi dana Rp 310 miliar ke PT DI melalui Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).
“Pemerintah fokus mengembangkan IPTEK dan mendukung pendalaman sektor industri penerbangan,” ujar Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Armida Alisjahbana.
PT DI menargetkan produksi minimum 100 pesawat, meski target penjualannya mencapai 300 pesawat. N219 disiapkan sebagai pesawat perintis untuk mengambil pangsa pasar Twin Otter dan Cessna Caravan.
“Kami mau buat pesawat yang cukup murah, sekitar 4,5-5 juta USD, tergantung konfigurasinya,” ujar VP Marketing PT DI, Arie Wibowo. Harga tersebut terbilang murah jika disandingkan dengan pesaingnya yang kini mematok harga 6-7 juta USD.
Menurut Menteri Perindustrian MS Hidayat, PT DI harus mempunyai visi jangka panjang untuk lebih melebarkan sayap ke dunia internasional. “Setelah domestik kuat, PT DI harus cari ekspansi lain misalnya ke Afrika atau Australia,” ujarnya.
N-219 PT DI (Photo: PT DI)
N-219 PT DI (Photo: PT DI)

Inalum Pasok Bahan Pesawat
Pemerintah membuat rencana besar terhadap PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) yang telah diambil alih dari tangan Jepang. Mulai dari peningkatan produksi, pengembangan kawasan, hingga hilirisasi alumunium menjadi komponen pembuatan pesawat terbang.
Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, hilirisasi akan dilakukan secara bertahap. Mulai dari bahan mentah, produk setengah jadi, hingga kualitas paling tinggi yang biasa digunakan untuk teknologi canggih.
“Kita akan gerakan hilirisasi atau downstream di sana (Inalum), yang menggunakan produk alumunium dari Inalum. Kualitasnya akan kita tingkatkan. Salah satunya adalah alumunium alloy yang digunakan untuk bahan pembuatan pesawat terbang,” ungkap Hidayat, di kantor Kemenko Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (6/3/2014)
Hidayat mengatakan, saat ini pemerintah tengah berkonsentrasi dalam pembuatan peraturan pemerintah (PP) untuk menjadikan Inalum sebagai BUMN. Kemudian adalah rancangan untuk penambahan modal terhadap Inalum.
Berlanjut Inalum akan ada penningkatan produksi menjadi 470 ribu ton per tahun. Saat ini produksi dari Inalum adalah 250.000 ton per tahun. Diharapkan pada tahun 2017 itu tercapai.
Untuk penambahan modalnya, dua opsi yang bisa dilakukan adalah Penyertaan Modal Negara (PMN) dan IPO. Namun Hidayat lebih optimistis untuk jangka panjang, Inalum dapat melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). (tribunnews.com/ KONTAN – Syarifah Nur Aida) / (Arifg/Diego).

Stemme S15: Pesawat Riset Lapan Terbaru


Pesawat terbang Hi-Altitude Long Endurance ini akan dimanfaatkan untuk memantau wilayah perairan dan pemetaan wilayah. Selanjutnya akan dipasangi kendali jarak jauh pada kontrol penerbangannya agar bisa diterbangkan tanpa awak.

Selasa  4 Februari 2014 menjadi hari penting yang lain bagi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Setelah berhasil menguasai iptek di bidang satelit mikro dan peroketan, lembaga litbang di bawah Kementerian Ristek ini mulai menapak ke iptek penerbangan tingkat advanced. Hal itu ditandai dengan uji terbang perdana glider performa tinggi Stemme S15 sebagai langkah awal menuju perancangan sistem air-surveilance yang baru bagi Indonesia .

Hari itu, glider ramping bermesin tunggal dengan rentang sayap 18 meter tersebut diterbangkan oleh Capt. Irwan dari Balai Kalibrasi Kementerian Perhubungan mengitari Curug, Banten, disaksikan pimpinan Lapan. Dengan wahana dua awak yang bisa terbang hingga 20  jam ini, Lapan berharap dapat menyusun sistem pemantau khusus untuk misi pertahanan dan pemetaan yang mobile, efektif dan efisien bagi wilayah  luas.

Merujuk evolusi sistem pengamatan udara taktis di berbagai negara maju, penggunaan pesawat terbang Hi-Altitude Long Endurance memang telah semakin populer. Jika dengan satelit misi pemantauan diketahui rentan halangan awan, hal ini bisa direduksi dengan bermanuver di bawah awan. Setelah menguasai performa S15, Pusat Teknologi Penerbangan Lapan rencananya akan mencangkokan perangkat flight control dengan kendali jarak jauh agar bisa pula diterbangkan tanpa awak.

Pilihan atas Stemme S15 dijatuhkan setelah tim teknis mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan kandidat lain seperti Diamond DA42 MPP, Diamond DA40 NG, Diamond HK 36 MPP dan Cessna 172R. S15 adalah varian pesawat glider bermotor rancangan khusus Stemme dirancang untuk misi surveillance atau pemantauan udara. Sayapnya telah diperkuat untuk menenteng perangkat seperti FLIR dan kamera video untuk patroli udara dan monitoring lingkungan.

Mendukung kapal perang
Untuk tahap pertama, sistem pemantauan udara berbasis  S15 ini akan dikerahkan untuk mendukung kapal perang TNI AL dalam operasi pengamanan wilayah perairan. Dengan kecepatan jelajah hanya 220 km/jam, salah satu produk andalan Stemme UMS, Strausberg, Jerman ini, bisa  memantau wilayah sejauh 3.000 km dari ketinggian 400-2.000 meter dengan stabilitas aerodinamik yang amat tinggi.

“Kami sudah berdiskusi dengan pihak TNI AL. Pesawat seperti ini bisa menggantikan fungsi kapal ukuran medium. Dengan demikian mereka cukup fokus ke kapal perang besar sebagai kapal komando dan kapal-kapal kecil sebagai kapal kombatan. Untuk memantau wilayah perairan Indonesia, kami pikir cukup dikerahkan empat pesawat seperti ini. Data pantauan bisa dikirim riil-time ke kapal komando,” ungkap Kepala Pustekbang Dr. Gunawan S. Prabowo kepada Angkasa di Jakarta.

Ditambahkan, pihaknya tengah berusaha menyiapkan sistem air-surveillance dengan mobilitas yang amat tinggi. Untuk keperluan ini, baik sistem kendali jarak jauh maupun wahana telah dirancang bisa dimasukkan ke dalam kontainer khusus sehingga bisa dikirim ke berbagai tempat.

Dari operational requirement yang pernah dipaparkan, Pustekbang juga akan mengaplikasikannya sebagai pesawat riset pemula, wahana untuk  verifikasi dan validasi data citra satelit, pemotretan foto udara, monitoring dan pemetaan daerah banjir, pemantauan titik panas kebakaran hujan, serta  misi riset Lapan lainnya.

Angkasa mencatat, perancangan sistem air-surveillance berbasis S15 ini merupakan proyek ketiga Pustekbang terkait program penguasaan  iptek penerbangan. Sementara sebagian enjinirnya dikerahkan untuk menguasai reverse-engineering S15, tahun ini juga sebagian enjinir lainnya diterjunkan untuk merampungkan rancang bangun pesawat komuter N219. Komuter 19 penumpang yang digarap bersama PT Dirgantara Indonesia ini ditargetkan rampung pada 2015.

Sebelum ini mereka telah merampungkan sejumlah pesawat tanpa awak (UAV) ukuran kecil untuk mengasah kemampuan perancangan sistem kendali jarak jauh untuk kontrol penerbangan. ( Adrianus Darmawan)

Melihat Taruna AAU : Melakukan Terjun Pertama


“Kaki rapat! Kaki rapaaat! Kaki rapaaa…tttt! Konsentrasi, lihat ke bawah. Perhatikan itu nomor 7, kakimu belum  rapaattt. Kendalikan parasut, kaki rapaaat…,” teriak pelatih melalui pengeras suara kepada para Taruna AAU yang tengah berhamburan terjun dari pesawat C-130 Hercules.

                Melaksanakan terjun payung untuk pertama kali dari pesawat, bagi siapapun jelas merupakan pengalaman yang paling mendebarkan. Bagi Taruna Akademi Angkatan Udara (AAU) Tingkat II, kegiatan terjun payung merupakan materi wajib yang harus diikuti. Mereka mengikuti pendidikan Susparadas (Kursus Para Dasar) selama satu bulan di Skadron Pendidikan (Skadik) 204 yang berada di Lanud Sulaiman, Bandung.

                Komandan Skadik 204 Mayor Psk Ahmad Sunawan S. Qodri menjelaskan, Susparadas dilaksanakan selama satu bulan di Lanud Sulaiman dengan jumlah pelajaran mencapai 192 jam pelajaran. Terbagi dalam 50 jam pelajaran teori (ground training) serta 142 jam latihan (drill) teknis. Pendidikan teori dilaksanakan di kelas dengan sedikit praktik. Sementara drill teknis dilakukan di luar kelas atau lapangan. Dalam latihan ini sebelum melaksanakan penerjunan para taruna belajar di simulator kemudi, simulator mock up untuk exit, dan lainnya.

                Praktik terjun payung dari pesawat dilaksanakan pada minggu keempat pendidikan. Para taruna harus melaksanakan tujuh kali penerjunan. Pertama, terjun dari pintu pesawat sebelah kiri. Kedua, terjun dari pintu pesawat sebelah kanan. Ketiga, terjun cepat dari pintu sebelah kiri. Keempat terjun cepat dari pintu sebelah kanan. Kelima, terjun dengan membawa perlengkapan (ransel dan senjata). Keenam, terjun malam. Dan ketujuh, penerjunan dari dua pintu pesawat. “Kiri-kanan, kiri-kanan, dengan interval sekira 3-4 detik,” ujar Qodri menerangkan. Penerjunan dilaksanakan menggunakan parasut statik MC-11C dari pesawat C-130 Hercules dengan ketinggian 1.500 kaki dan kecepatan 120 knot.

Tak terlupakan
Penerjunan pertama bagi semua Taruna AAU selain mendebarkan juga merupakan pengalaan yang tak terlupakan. “Kita misalnya selama ini naik pesawat yang pintunya selalu tertutup. Tapi ketika penerjunan pintu pesawatnya terbuka. Apalagi kalau belum pernah naik pesawat Hercules, sekalinya naik langsung disuruh terjun, dan itu pun saya alami sendiri,” ujar Qodri, alumni AAU 1997 menjabarkan sambil tertawa.

Tidak heran, pada saat dilaksanakan penerjunan Paradas yang pertama, macam-macam ekspresi para taruna pun terlihat. Ada yang diam, pucat, atau komat-kamit. “Di sinilah pelatih berperan untuk membangkitkan semangat dan nyali para mereka. Misalnya dengan membuat yel-yel atau nyanyian agar siswa tidak terlalu ketakutan,” tambahnya.

Malam hari sebelum penerjunan pertama dilaksanakan, para taruna diberi pembekalan akhir dan setelah itu disuruh istirahat pada jam 21.00. Pada jam 03.00 mereka dibangunkan dan kemudian melakukan persiapan. Setelah sholat subuh, sekira jam 05.00 pagi para taruna dibawa menuju ke Lanud Husein Sastranegara di mana pesawat Hercules sudah menunggu. Pesawat terbang dari Lanud Husein dan menerjunkan para taruna di atas landasan rumput Lanud Sulaiman.

Sebelum para taruna melaksanakan penerjunan, beberapa instruktur terjun lebih dahulu. Tujuannya, selain untuk memastikan kondisi cuaca bagus, juga untuk memberikan contoh kepada mereka. Sebagai Komandan Skadik 204, Qodri bahkan selalu bertindak selaku drifter atau penerjun pertama, setelah itu diikuti para instruktur. Dalam waktu 1,5 menit mereka sudah mendarat di lapangan rumput. Setelah semua dirasa oke, barulah giliran para taruna melakukan penerjunan.

Pemilihan siapa taruna pertama yang harus melakukan penerjunan, sepenuhnya berdasarkan penilaian dan pertimbangan para pelatih. Para taruna dinilai selama melakukan drill teknis, demikian juga faktor psikologisnya. “Walaupun, pada faktanya, taruna yang mahir melakukan drill teknis belum jaminan terjunnya paling baik. Mahir di darat, belum tentu juga mahir di udara. Sebaliknya, ada yang saat di darat takut, tapi pas terjun malah bagus,” tambah Qodri. Pada penerjunan berikutnya, para pelatih pun mengacak susunan penerjunan, sehingga taruna yang sudah melakukan penerjuanan pertama, berikutnya diganti dengan yang lain. “Masalahnya ini kan terjun, kalau yang pertama loncat ketakutan, ini akan memengaruhi interval waktu. Sedangkan pesawat terus melaju.”

Qodri memaparkan, kemahiran taruna dinilai dari lima hal. Teknik melipat payung, teknik exit, teknik mengemudikan parasut, teknik mendarat, dan teknik mengepaskan pemakaian payung, ransel, dan senjata. Mengingat panjang landasan rupmput Lanud Sulaiman yang 1.000 meter, satu sorti penerjunan biasanya dilaksanakan tiga atau empat run. Setiap run terdiri dari 12-14 taruna. Setelah itu pesawat berputar dan kemudian menerjunkan lagi run berikutnya. “Pada setiap run, terdapat satu instruktur pokok, biasanya perwira menenah, dan lima instruktur pembantu pelatih,” lanjutnya.

Faktor mental
Lalu bagaimana bila menjelang loncat taruna malah ketakutan? “Tetap diterjunkan, pelatih akan mendorongnya,” terang Qodri. “Ketakutan biasanya muncul karena faktor mental saja. Toh semua pelajaran dan drill teknis sudah diajarkan. Awalnya saja takut, setelah loncat dan parasut mengembang, besoknya dia sudah berani untuk terjun.”
Memang tidak dipungkiri, selama empat detik pertama penerjunan biasanya siswa Susparadas memang “blank”. Namun begitu payung statik yang sudah dirancang mengembang secara otomatis, siswa kemudian langsung sadar dan kemudian mengemudikan payungnya. “Teknik loncat yang kadang para taruna lupa walaupun sudah diajarkan,” kata seorang pelatih. Pada saat loncat dari pintu kiri, maka siswa harus loncat dengan kaki kiri terlebih dahulu. Ini untuk menghindari twist atau putaran tubuh. “Sama seperti kalau kita turun dari bisa yang sedang melaju, walaupun pelan tapi kalau kaki kanan duluan, maka kita akan terguling,” ujarnya.

Pada saat terjun, kaki harus dirapatkan mengingat ketinggian terjun yang rendah dan tumpuan kaki ke tanah yang harus sama. Usai menjejak tanah, siswa harus langsung menggulingkan tubuhnya dengan baik. Ini untuk menghindari tekanan yang keras yang dapat mengakibatkan kaki patah.

Susparadas bagi taruna AAU merupakan kurikulum wajib. Bila gagal, siswa harus mengulang lagi tahun berikutnya. Sebaliknya, mereka yang lulus di akhir pendidikan akan mengikuti upacara wingday dan mendapatkan brevet terjun Para Dasar. Bulan lalu pendidikan Susparadas A-175 dilaksanakan oleh 113 siswa  terdiri dari 97 siswa Taruna AAU dan 16 siswa PSDP Sekbang. Selain Taruna AAU, Taruna PSDP alias siswa penerbang militer jalur cepat ini juga wajib mengikuti Susparadas.

Ada satu yang unik setiap pelaksanaan terjun Susparadas, yaitu ada satu pelatih yang bertugas memberikan instruksi melalui pengeras suara kepada para taruna yang sedang terjun. Dibilang unik karena intonasinya instruksinya terdengar lucu dan kadang seperti reporter sepakbola. Perintahnya tegas namun meliuk-liuk dan tidak menakutkan. “Kaki rapat, kaki rapaaat, kaki rapaaat.., tarik kemudi kanaaan,” ujar Serma Masdukin, sang pelatih yang meberikan instruksi. Semua yang menyaksikan, termasuk beberapa orang tua siswa, kadang berdebar kadang juga tertawa-tawa. Nyatanya, cara ini sudah dilakukan sejak dahulu dan itu menjadi semacam tradisi yang turun-temurun diteruskan. Seru dan menggelitik. (Roni Sontani)