Minggu, 04 September 2016

Pindad APR-1V: Jejak Rantis Lapis Baja Battle Proven di Bumi Rencong

images

Urusan merancang dan produksi rantis (kendaraan taktis) lapis baja beroda ban sudah dikuasai industri di dalam negeri, tebaran jenis rantis, mulai dari sebatas prototipe sampai yang sudah operasional ragamnya lumayan banyak di kesatuan TNI dan Polri. Namun dari sekian nama-nama rantis lapis baja, tak banyak yang lahir karena tuntutan dalam operasi militer yang sesungguhnya. Dan bila bicara rantis lapis baja yang ‘born to fight,’ maka tak bisa dilupakan sosok APR-1V buatan PT Pindad.

images-(2)apr-1

APR (Angkut Personel Ringan)-1V yang masuk kategori Armoured Personnel Carrier (APC) diciptakan PT Pindad terkait kebutuhan operasi militer di NAD (Nanggroe Aceh Darussalam) pada tahun 2003 – 2004. Pada awalnya Pindad telah memproduksi APR 4×4 yang menggunakan rangka dan mesin (undercarriage) Isuzu 120PS. Dengan latar aroma embargo peralatan militer oleh AS sejak 1999, turut mendorong percepatan rekayasa rantis lapis baja, selain juga karena kebutuhan operasi militer di NAD yang menuntut kehadiran kendaraan lapis baja sekelas panser ringan untuk menumpas separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Sebagai produk yang dirancang serba ekspres, tampilan APR-1V bisa dibilang terkesan jadoel, tidak mencerminkan rantis lapis baja modern. Jika dibandingkan dengan Pindad Komodo Halilintar 4×4 dan Komodo Intai, maka APR-1V jelas kalah sangar. Desainnya terlihat kaku, dan sekilas mengingatkan pada desain kaku rantis lapis baja milik Paspampres (Pasukan Pengamanan Presiden) Commando Ranger atau BTR-40 Kompi Kavaleri TNI AD.

IMG-20160813-WA0003

big4012004-(1)
Interior APR-1V
APR-1V diambil dari sasis truk Isuzu NKR 55
APR-1V diambil dari sasis truk Isuzu NKR 55
Meski begitu, APR-1V sudah menyandang gelar battle proven dalam operasi Darurat Militer di Aceh. Melihat keandalan dan kebandelannya beroperasi di segala medan plus kemampuannya yang sudah teruji dilapangan, termasuk di kemiringan 60 derajat, maka tak salah jika APR-1 menjadi salah satu ranpur buatan Indonesia yang mendapat predikat battle proven. Dari 40 APR-1 yang digelar di Aceh, hanya dua unit yang mengalami kerusakan (satu kecelakaan dan satu lagi karena diterjang Tsunami).

Panser beroda empat ini menggunakan sasis dan mesin truk ringan Isuzu Elf NKR 55 berpenggarak 4×4. Jika melihat sosoknya, panser ini lebih menyerupai mobil Kijang dengan bodi ramping dan memanjang yang dipasangi “baju” lapis baja anti peluru. Walaupun mengadopsi sasis truk sipil, kemampuan panser ini tak bisa dianggap remeh. Lihat saja kemampuannya dalam melahap berbagai medan berat dan terjal. Tak ketinggalan kemampuannya bermanuver dengan lincah dan gesit menjadi keunggulan tersendiri.

Ketahanan lapis bajanya memang belum sanggup menahan terjangan RPG, namun untuk terjangan proyektil kaliber 7,62 mm dari segala arah dapat ditahan. Selain itu dibagian atas panser terdapat turret atau menara putar yang dapat berputar 360 derajat sebagai kubah tempat penembak. Sayangnya, kubah gunner masih semi terbuka dan serba manual, sehingga juru tembak rawan dibidik oleh sniper.

Gunner pelontar granat otomatis AGL-40 di APR-1V.
Gunner pelontar granat otomatis AGL-40 di APR-1V.
Dari aspek persenjataan, APR-1 mampu menggotong beragam senjata standar, mulai dari pelontar granat otomatis AGL-40, senapan mesin berat (SMB) kaliber 12,7 mm, dan senapan mesin sedang GPMG (General Puspose Machine Gun) FN MAG kaliber 7,62 mm. Untuk perlindungan dan pelarian, pada sisi kubah terdpat pelontar granat asap kaliber 60 mm.

Gunner FN MAG 7,62 di kubah APR-1V
Gunner FN MAG 7,62 di kubah APR-1V
Walau dari segi persenjataan dan fungsinya lebih cocok untuk ditempatkan pada level Batalyon Infanteri Mekanis, namun sampai saat ini APR-1V masih setia melengkapi etalase tempur Batalyon Kavaleri 11/Serbu Kodam Iskandar Muda. (Bayu Pamungkas)

Spesifikasi APR-1:
– Produsen: PT Pindad
– Awak: 12 (1 pengemudi, 1 navigator radio, dan 10 personel)
– Kecepatan maksimum: 100 km/jam
– Berat maksimum: 5,2 ton
– Ground Clearance: 35 cm
– Sasis: Isuzu NKR 55
– Mesin: Turbodiesel 2.771 cc – 3.200 PK
– Kapasitasn BBM: 75 liter
 

SEAL Carrier: Siluman Bawah Air Kopaska TNI AL

seal carrier_3

Dikenal punya tugas khusus dalam pertempuran bawah air, menjadikan kelengkapan persenjataan Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL terbilang spesial dibanding unit tempur TNI lainnya. Selain sista dan alat menyelam yang punya kualifikasi khusus, seperti Combat boat X38, senjata APS dan alat selam close circuit, dalam menunjang misi senyap di bawah air, satuan elit ini juga punya wahana transportasi bawah air yang terbilang sangat khas.

Nah, bicara tentang wahana transportasi Kopaska, di artikel terhahulu telah kami kupas mengenai Sea Shadow buatan Anteon Corporation, Panama City Beach, Florida – AS. Dan, seiring tuntutan operasi yang kian meningkat, belum lama ini Kopaska telah dilengkapi sosok siluman bawah air anyar. Yang dimaksud adalah SEAL Carrier. Beda dengan wahana transport bawah air Kopaska sebelumnya, SEAL Carrier bisa dibilang paling sangar, desain alutsista buatan Defence Consulting Europe AB, Swedia menyerupai rancangan kapal selam mini dengan balutan warna hitam, lengkap dengan dua buah sirip pada bagian depan.

SEAL Carrier kodratnya adalah wahana khusus untuk misi infiltrasi melalui bawah permukaan dengan sasaran khusus berupa dermaga laut, kapal perang, dan misi anti pembajakan. SEAL Carrier dapat menyelam hingga kedalaman 40 meter dengan kecepatan 3 – 4 knots. Saat menyelam, SEAL Carrier mengandalkan dua propeller dengan tenaga baterai 25kWh. Jenis baterai pemasok tenaga mengadopsi jenis lithium polymer. Hebatnya, selain bisa melaju di bawah air, SEAL Carrier dapat melaju dengan kecepatan tinggi di permukaan, ibarat speed boat, SEAL Carrier di atas permukaan air dapat melaju hingga 30 knots. Pada saat melaju di permukaan, sumber tenaga beralih ke dua unit mesin diesel Rolls Royce FF270 water jet yang menghasilkan tenaga 350HP.

SEALcarrier

SEALcarrier2

Secara umum, SEAL Carrier dapat beroperasi dalam tiga mode yang berbeda, yaitu di permukaan, setengah tenggelam, dan melaju di bawah permukaan air, seperti halnya kapal selam. Saat menyelam, kapal akan dibanjiri air dengan membuka katup di bagian bawah lambung. Sementara pada moda setengah tenggelam, wastafel kapal menjadi sebuah tempat setengah terendam air. Moda setengah tenggelam di definisikan sebagai titik ketika kapal masih memiliki udara dalam tangki ballast saat dibanjiri air.

SEAL Carrier dioperasikan oleh dua operator (pilot dan copilot) yang memahami tentang olah gerak kapal di bawah permukaan dan atas permukaan. Setiap operator dan penyelam tempur harus sudah siap dengan kelengkapan alat selam ketika menaiki SEAL Carrier, baik alat selam open dan close circuit yang tidak menimbulkan gelembung udara. Dari segi kapasitas angkut, siluman ini dapat membawa 6 personel pasukan katak yang siap tempur.

Seal-Carrier-16

Illustrasjon 1202241212

SEAL Carrier pertama kali sosoknya terlihat saat defile HUT TNI ke-68 bulan Oktober silam. Dan, lima hari setelah HUT TNI, satuan Kopaska Armabar melaksanakan uji coba wahana ini. Kapal saat uji coba diawaki dua teknisi dari Swedia dan empat personel Kopaska. Di Asia, baru Indonesia yang memiliki SEAL Carrier, sementara di negara asalnya, SEAL Carrier ditempatkan di Resimen Marinir I di Berga Naval Base. Wahana dengan bobot 4,3 ton ini juga punya peran taktis dan strategis, semisal berguna dalam tugas patroli terbatas, dan misi pengintaian. Dengan laju 30 knot, kapal ini dapat bergerak hingga radius 277,80 km di permukaan, dan jejalah di bawah air menggunakan tenaga baterai hingga 18,52 km. (Gilang Perdana)

Spesifikasi SEAL Carrier

Panjang : 9,25 meter
Panjang Lambung : 8,45 meter
Beam : 2,21 meter
Tinggi : 1,65 meter
Kru dan Beban : 700 kg
Mesin : 2 unit mesin diesel Rolls Royce FF270 water jet
Bobot Max : 4,360 kg
Kecepatan permukaan : 30 knot
Kecepatan menyelam : 3 – 4 knot
Jangkauan jelajah di permukaan : 150 nautical mile (277,80 km)
Jangkauan jelajah di bawah air : 10 nautical mile (18,52 km)
Kedalaman maksimum : 40 meter
 

X38 Combat Boat Kopaska: Dipercaya Untuk Evakuasi Darurat VVIP

x38_combat_i_3_b

Andaikan terjadi gangguan keamanan yang mengharuskan evakuasi darurat kepada VVIP (Very Very Important Person). Adalah kapal serbu (combat boat) dari Kopaska (Komado Pasukan Katak) TNI AL yang akan beraksi untuk melakukan evakuasi presiden dari titik penjemputan ke safe house.

Inilah yang menjadi skenario dalam pengamanan saat digelarnya KTT ASEAN ke-19 tahun 2011 di Nusa Dua, Bali. Lho kenapa harus dengan combat boat?Wahana untuk evakuasi tentu banyak ragam dan pilihan, apalagi kalau yang di akan evakuasi presiden AS, Barack Obama. Karena lokasi KTT digelar di kawasan pantai Nusa Dua, maka jalur evakuasi yang efektif bisa melalui udara dan laut, dimana yang menjadi safe house dalam skenario ini adalah kapal induk helikopter USS Essex yang berlabuh di perairan Nusa Dua.

Meski syukur tidak insiden yang mengganggu berlangsungnya KTT, tapi patut diacungi jempol bahwa Secret Service memberi kepercayaan evakuasi presiden Obama kepada combat boat X38 Kopaska yang kala itu standby 1 unit menjaga perairan Nusa Dua.

Reputasi dan kehandalan Satkopaska tak usah diragukan lagi, tapi yang menarik disini adalah sosok X38 Combat Boat. Kapal ini bukan termasuk kapal perang, persenjtaannya pun tidak bisa dibilang dahsyat. Lalu apa yang membuat kapal buatan PT. Lundin Industry Invest (NorthSeaBoats), Banyuwangi, Jawa Timur ini begitu diandalkan oleh Kopaska? Jawabannya beragam, kapal dengan panjang 12 meter ini mampu melaju dengan kecepatan tinggi, 40 knot per jam! Dipandang dari sisi desain, kental pula dengan nuansa ‘stealth.’

42186_20120307055359

x38_special_ops_cat2_full

Berdesain catamaran dengan dua lunas, X38 mampu melaju dengan kecepatan tinggi namun tetap stabil dan aman. Dari spesifikasi yang dimiliki, X38 dapat didaulat untuk misi penyerbuan cepat, anti pembajakan, evakuasi medis, SAR, patroli rutin, dan karena dapat beroperasi di perairan dangkal/sungai, X38 sangat ideal untuk mendukung operasi pendaratan amfibi.

USS Essex berperan sebagai safe house untuk presiden Obama
USS Essex berperan sebagai safe house untuk presiden Obama

X38 dibangun dari galangan yang juga sama dengan KRI Klewang 625. Dimana ada ciri khas yang serupa dengan KRI Klewang, dimana lambung kapal dibuat dari bahan fiberglass komposit dengan memanfaatkan sistem vakum resin infus. Konstruksi terbuat dari balsa dan divinicell sandwich dari Diab Swedia. Oleh pabrikannya material yang ditanamkan akan lebih menghemat dalam biaya operasional perawatan. Untuk dapur pacu kapal ini dipercayakan pada dua mesin Marine Diesel VGT 400 PK bertenaga 220 HP buatan Swedia.

Combat_boat

catamaran-kopaska11

Selain mampu ngebut hingga 40 knot, kapal andalan Detasemen 6 Satkopaska Special Boat Unit ini memang ideal untuk operasi pasukan katak, pasalnya pasa sisi buritan terdapat platform untuk memudahkan proses turun dan naik kapal bagi pengelam. Nah bagaimana dengan soal senjata? Kapal ini tidak punya persenjataan yang embedded, semua yang ada memang serba optional, seperti pada sisi haluan (depan ruang kemudi), disiapkan dudukan untuk senjata sekelas FN/M-60 GPMG (General Purpoise Machine Gun) kaliber 7,62 mm, tapi bisa ingin lebih ‘galak’ bisa pula dipasangkan peluncur granat otomatis kaliber 40 mm. Sudut pandang juru tembak di posisi ini bisa mencapai 270 derajat. Sementara di posisi buritan, juga dipasangkan dua unit senjata ringan, bahkan dalam release disebutkan sisi buritan dapat dipasangi dudukan 4 sampai 8 rudal Hellfire.

Awak X38 Combat Boat terdiri dari 2 – 4 personel, yakni utamanya adalah komandan dan nahkoda. Meski ukurannya terbilang imut, kapal serbu ini punya ruang kabin yang nyaman dan dilengkapi beragam instrumen elektronik modern, termasuk radar. Desain jendela yang menghadap depan sangat ergonomis karena dapat menahan silau dan panas. Sebagai kapal untuk misi khusus, X38 juga dapat mengangkut 16 – 20 personel pasukan dengan perlengkapan lengkap.

Beragam instrumen modern (digital) untuk navigasi
Beragam instrumen modern (digital) untuk navigasi
Sisi burutan dilengkapi platform untuk memudahkan penyelam naik dan turun dari kapal
Sisi burutan dilengkapi platform untuk memudahkan penyelam naik dan turun dari kapal
Kapal dengan kendali hidrolik ini dapat membawa bahan bakar solar hingga 700 liter. Sementara untuk menunjang operasi, body kapal dapat membawa 100 liter air tawar untuk kebutuhan awak dan penumpang. Untuk menunjang operasi yang penuh tantangan, sistem teknologo navigasi dipercayakan pada Raymarine C80 yang mencakup integrasi radar, GPS (Global Positioning System), speed-log, echo sounder, dan chart plotter.

Dalam operasi pengamanan KTT ASEAN ke-19 di Nusa Dua, Bali, X38 mengibarkan bendera tengkorak Jolly Rogers yang khas bajak laut. Dalam gelar tempurnya, X38 dapat diangkut ke daerah operasi menggunakan LST (landing ship tank). Kapal yang mulai dirancang pada tahun 2008 ini akrab dengan sebutan “Blackship” oleh masyarakat Manado. Memang dengan warna kamuflasenya sosok X39 terlihat sangar. (Gilang Perdana)


Jumat, 05 Agustus 2016

9M117M1 Arkan: Rudal Anti Tank Andalan Tank BMP-3F Marinir TNI AL

bakcha-u

Meski pengadaannya berjalan lambat, adopsi rudal anti tank dalam beberapa tahun belakangan mulai menjadi perhatian untuk unit tempur di darat. Sebut saja infanteri TNI AD kini telah mengoperasikan rudal anti tank Saab NLAW dan FGM-148 Javelin. Sementara Marinir TNI AL sejak kedatangan ranpur IFV (Infantry Fighting Vehicle) BVP-2 mulai mengoperasikan rudal anti tank AT-5 Spandrel. Dan di era IFV terbaru BMP-3F, Kavaleri Marinir pun menggunakan 9M117M1 Arkan.

BMP-3F_Menkav-1

Lantas apa yang jadi keunggulan 9M117M1 Arkan? Merujuk ke spesifikasinya, Arkan adalah rudal anti tank (Anti Tank Guided Missile) yang dipandu dengan laser. Rudal ini dirancang untuk dilepaskan dari laras kanon/meriam ranpur, namun pola loading rudal ke laras hanya dapat dilakukan secara manual di kaliber laras 100 mm. 9M117M1 Arkan sendiri masuk dalam keluarga besar rudal AT-10 Stabber/AT-12 Swinger. Rudal yang dikembangkan pada akhir tahun 1970 ini juga dikenal sebagai guided projectiles yang menggunakan pemandu laser, menggantikan teknologi sebelumnya yang menggunakan radio command links.

9m117_001


9M117M1-3_Arkan_missile_at_Engineering_Technologies_2012

AT-10 Stabber terdiri dari tujuh versi, terdiri dari empat versi dasar dan tiga versi yang telah ditingkatkan. Empat versi dasar (basic version) mencakup 9M117 Bastion, rudal ini dilepaskan dari tank T-55/T-55 AM2. Kemudian ada 9M117 Kastet, dilepaskan dari MT-12 field gun yang menggunakan modul pemandu laser khusus. 9M117 Basnya , dilepaskan dari laras BMP-3, dan terakhir 9M116 Sheksna yang ditembakkan dari MBT T-62M. Sedangkan versi yang telah ditingkatkan (improved versions), terdiri dari 9M117M1 Kan ditembakkan dari MT-12 field gun, 9M117M1 Arkan dilepaskan dari laras kanon 2A70 BMP-3, dan 9M116M1 Sheksna untuk tank T-62M.

Perbedaan antara basic version dan improved version adalah hulu ledak tandem (tandem warhead) yang digunakan oleh improved version untuk memungkinkan hasil yang lebih baik terhadap explosive reactive armour (ERA). ERA yang dikembangkan oleh Israel pada 1980-an digadang sebagai lapisan yang mampu melindungi tank dari hulu ledak shaped-charge dengan daya ledak tinggi High-Explosive Anti-Tank (HEAT). Dengan tandem warhead maka 9M117M1 Arkan dipersiapkan untuk bisa menjebol ranpur dengan ERA. Antar versi rudal pada dasarnya identik, namun antara 9M117 dan 9M116 ada perbedaan kaliber, sehingga tidak dapat dipertukarkan. Seperti Kastet tidak bisa dipakai untuk BMP-3.

Dirunut dari kemampuannya, 9M117M1 Arkan kaliber 100 mm punya kecepatan luncur 1.500 meter per detik. Dengan hulu ledak HEAT-T rudal Arkan Marinir TNI AL sanggup menghajar sasaran sejauh 5.500 meter, sementara jarak tembak minimal dipatok 100 meter. Menurut seorang awak BMP-3F, harga per unit 9M117M1 Arkan bisa ditaksir setara dengan Toyota Inova terbaru. Kabarnya lagi dari 10 unit 9M117M1 Arkan yang dimiliki Marinir, lima unit rudal telah ditembakkan untuk keperluan latihan tempur. (Bayu Pamungkas)
 
Indomil. 

Senin, 13 Juni 2016

Pindad Ciptakan Senjata Spesialis Pasukan TNI

SS2 Subsonic  pindad
SS2 Subsonic 5,56 mm dirancang khusus dengan peredam di laras untuk operasi senyap oleh prajurit di medan tempur.
senjata ss3 pindad
Senapan Serbu SS3, menggunakan munisi kal 7,62 mm dgn jarak tembak efektif 400 m (mekanikal) dan 800 m (optikal).
pindad sub machine gunSub Machine Gun PM3,didesain khusus untuk mendukung performa prajurit dlm pertempuran jarak dekat / perang kota.
pistol g2 premium pindad
Pistol G2 Premium, menggunakan munisi kal 9mm & memiliki jarak tembak efektif 25 meter.
senjata pindad
Empat senjata di atas diciptakan untuk mendukung fungsi pasukan yang berbeda-beda dengan kualitas akurasi yang maksimal.
Sumber : Pindad

Pesawat Tempur Su-35 Jadi Dibeli Indonesia

Petempur tercanggih keluarga Flanker, Su-35 (NATO: Flanker-E), tetap dibeli Pemerintah Indonesia untuk memperkuat TNI AU. Saat ini sedang menunggu proses saja. “Jadi dong, saat ini masih dalam proses,” ujar seorang pejabat Kementerian Pertahanan dalam perbincangan tatap muka dengan Angkasa di Jakarta, Jumat, 10 Juni 2016.
Dikatakan, proses yang dimaksud adalah menyangkut soal mata uang yang akan digunakan karena Amerika Serikat melarang penggunaan dolar AS dalam proses pembelian Su-35 oleh Indonesia. “Ini yang saat ini sedang diproses oleh Kementerian Keuangan, apakah akan pakai mata uang Rusia atau bagaimana,” jelasnya.
Proses lain yang masih berjalan adalah menyangkut transfer teknologi yang akan diberikan Rusia kepada Indonesia. Sebagaimana diketahui, sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, setiap pembelian alutsista dari luar negeri harus dibarengi dengan transfer teknologi dan imbal dagang. “Nah, ini juga yang masih dibicarakan. Kita dapat transfer teknologi apa saja dari Rusia,” tambahnya.
Proses lainnya lagi, adalah menyangkut kelengkapan apa saja dalam Su-35 yang diinginkan oleh Indonesia. Ini masih dibicarakan sehingga Su-35 yang akan digunakan oleh Indonesia sesuai dengan apa yang diinginkan guna menunjang tugas-tugas yang diemban TNI AU maupun TNI. Diakui, keputusan membeli Su-35 sudah melalui kajian yang panjang dan final. Dengan beragam keunggulan yang dimiliki, penempur Su-35 dinilai yang paling pas dibutuhkan oleh TNI AU maupun TNI. “Dan, kita pun ingin membeli Su-35 ini lengkap dengan persenjataannya. Jadi pesawat datang satu paket dengan persenjataannya yang lengkap,” jelasnya lagi.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Luhut Binsar Panjaitan, juga menegaskan bahwa Indonesia akan membeli pesawat galak dan canggih buatan Rusia, Sukhoi Su-35. Dijelaskan, Su-35 memiliki kemampuan tempur udara yang sangat mengagumkan dalam menghancurkan musuh maupun membalas serangan lawan. “Pesawat ini memiliki teknologi paling canggih di kelasnya,” ujar Luhut kepada wartawan di Jakarta, 28 Mei 2016.
Pesawat Tempur Su-35
Pesawat Tempur Su-35
Ditanya mengapa kontrak pembelian Su-35 tidak segera ditandatangani, Menkopolhukam menjelaskan bahwa hal ini masih butuh proses. ”Namanya begitu kan adminstrasi dan teknisnya banyak dan panjang,” papar Luhut.
Sukhoi Su-35 merupakan penempur kelas berat generasi 4++. Saat ini Su-35 baru digunakan oleh AU Rusia dengan kode Su-35S. China atau Tiongkok, merupakan negara kedua selain Rusia yang berhasil membeli Su-35 sebanyak 24 unit senilai 2 miliar dolar AS. Penandatangan kontrak pembelian telah dilaksanakan oleh China dan Rusia pada November 2015. AU China (PLAAF) dijadwalkan akan mulai menerima pengiriman Su-35 batch pertama pada akhir tahun ini.
Su-35 merupakan penempur kursi tunggal hasil modernisasi Su-27 yang awalnya diberi kode Su-27M. Varian latih Su-35 berkursi ganda diberi kode Su-35UB yang bentuknya menyerupai Su-30. Su-35 dilengkapi 12 cantelan untuk membawa beragam persenjataan termasuk rudal-rudal andalannya. Pesawat ditenagai dua mesin Saturn 117S (AL-41F1S) afterburning turbofan berteknologi 3D thrust vectoring nozzle.
Di bagian sensor, Su-35 dilengkapi radar Irbis-E passive phased array, OLS-35 infra-red search and track (IRST), dan L265 Khibiny-M electronic warfare pod. Kemampuan jelajah Su-35 sangat mengagumkan karena mampu menjangkau jarak 3.600 km atau 4.500 km dengan tambahan dua tangki bahan bakar eksternal. Kecepatan maksimal Su-35 mencapai Mach 2,25.
Author: Roni Sontani
Sumber : Angkasa.co.id

Minggu, 12 Juni 2016

Mengulas Simposium Terkait PKI, HAM dan Pancasila Dari Perspektif Intelijen

luhut simposium

Menko Polhukam Luhut Panjaitan saat membuka Simposium di Arya Duta (foto :detak)

Pada dua bulan terakhir April dan awal Juni di Jakarta telah digelar dua simposium yang terkait dengan masalah komunis, HAM dan Pancasila. Dalam simposium pertama yang digelar oleh pemerintah (Menko Polhukam), penulis pernah mendapat penjelasan langsung dari Menko Polhukam, Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan (LBP) pada saat pertemuan Akabri lichting 1970 di kantor Polhukam pada tanggal 9 Mei 2016. Penulis satu angkatan dengan LBP, Akabri 1970.

Saat itu LBP menyatakan bahwa simposium itu adalah idenya untuk menyelesaikan masalah pelanggaran HAM di Indonesia, dimana menurutnya HAM internasional menyebutkan terdapat 450.000 korban dari pihak PKI yang dibunuh pada peristiwa 1965. Dalam simposium tersebut, Gubernur Lemhannas Letjen Purn Agus Widjoyo bertindak sebagai Ketua Panitia Pengarah Simposium yang dilaksanakan di Hotel Aryaduta dengan tema "Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan."

Acara yang dimulai pukul 08.30 WIB ini diselenggarakan oleh Menkopolhukam dan Watimpres. Acara tersebut juga dihadiri oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, kalangan akademisi, pegiat hak asasi manusia, mereka yang mengklaim sebagai korban pelanggaran HAM berat, Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965 (YPKP) yang sekaligus korban dari peristiwa itu, Bejo Untung, perwakilan partai politik, serta perwakilan dari lembaga-lembaga pemerintah.
ilham aidit
Ilham Aidit, putra bungsu Ketua Komite Pusat PKI, DN Aidit, "Ini baru pintu pertama, karena menyelesaikan masalah HAM masa lalu, itu pekerjaan panjang," katanya.(Foto : BBC Indonesia).

Menurut informasi sumber lain, simposium tersebut ide dari FSAB (Forum Silaturahmi Anak Bangsa), yaitu kumpulan anak pemberontak (PKI) dan anak korban. FSAB kabarnya diasuh oleh Agus Widjojo. Ide simposium tersebut di fasilitasi LBP. Ternyata kegiatan tersebut ditunggangi oleh Ilham Aidit (Anak DN Aidit, anggota FSAB) setelah bertemu dengan Sidarto Danusubroto, Watimpres, mantan Ketua MPR dari PDIP. Seminggu setelah simposium, menurut informasi Ilham dikeluarkan dari FSAB.

Simposium kedua digelar di Balai Kartini, dengan Ketua pelaksana Letjen Purn Kiki Syahnakri, dimana penulis sempat hadir dalam dua hari pelaksanaan (tanggal 1 dan 2 Juni 2016). Tema yang diusung adalah "Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi lain." Simposium di bagi dalam dua sesi dengan topik ideologi komunis dalam perspektif agama dan ideologi komunis dalam perspektif NKRI.
try sutrisno simposium
Pak Try Soetrisno saat memberikan sambutan pembukaan simposium (foto :tempo)

Perbedaan dari dua simposium intinya pada masalah rekonsiliasi. Simposium Aryaduta yang dibicarakan perumusan rekonsiliasi, sementara simposium Balai Kartini dengan tegas menolak rekonsiliasi. Purnawirawan pembicara kunci (Jenderal Pur Try Sutrisno, Menhan Jenderal Purn Ryamizard Ryacudu) menegaskan adanya indikasi kebangkitan PKI serta implikasinya jika pemerintah meminta maaf kepada PKI.

Menhan menyatakan bahwa yang dibutuhkan adalah rekonsiliasi perselisihan antara Orde Lama, Orde Baru dan era Reformasi. Saat menyampaikan sambutan, Menhan menyarankan, "Bapak Presiden itu harus bijak dalam persoalan ini, lihat pihaknya siapa, baru dipertimbangkan benar tidaknya," katanya. Juga ditegaskannya tidak perlu bongkar-bongkar kuburan.
pak try dan habib riziq
Pak Try Sutrisno beserta beberapa pembicara setelah membuka simposium “Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain” di Balai Kartini, Jakarta, 1 Juni 2016. (Foto:historia)

Pada Simposium Balai Kartini terlihat demikian banyak purnawirawan dari tiga Angkatan, tokoh-tokoh politik seperti Wakil Ketua DPR Fadli Zon, Efendi Simbolon (PDIP), LSM dan Ormas yang berpartisipasi tercatat 37, tidak hanya sekedar silaturahmi, tetapi lebih kepada ajang pertemuan dengan dasar kebersamaan anti PKI yang masih sangat kuat. Selain Pak Try dan Menhan, juga memberikan presentasi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantio, serta sesepuh TNI Bapak Sayidiman, tokoh NU Marsudi Zuhud, MUI, serta Ketua FPI Habib Rizieq, Mayjen Purn Kivlan Zein, serta beberapa tokoh lainnya.

Purnawirawan senior dan mantan pejabat TNI yang hadir diantaranya Jenderal Purn Widjojo Soejono, Ketua Pepabri Jenderal Pur Agum Gumelar, Ketua PPAD Letjen Suryadi, Mantan Kasau Marsekal Purn Imam Syufaat, Mantan Menkopolhukam Laksamana Pur Tedjo Edhy P, Mantan Kasal, Laksamana Pur Slamet Soebijanto serta sekitar 150 lebih purnawirawan Perwira Tinggi dan menengah TNI. Juga nampak hadir, beberapa perwira tinggi aktif dari Mabes TNI dan Kemhan RI.
Menhan-Ryamizard-Ryacudu-saat-memberikan-sambutannya-dalam-Simposium-Nasional-Anti-PKI-di-Balai-Kartini-Jakarta-Kamis-2-Juni-2016
Menhan Ryamizard Ryacudu saat memberikan sambutannya dalam Simposium Nasional Anti PKI di Balai Kartini, Jakarta (Foto : salam-online)

Dalam penutupan simposium di Balai Kartini, dibacakan rekomendasi oleh Indra Bambang Utoyo (FKPPI), yang intinya adalah pemerintah tidak mengungkit kasus masa lalu dan menolak usulan permintaan maaf kepada PKI. Juga panitia mendesak memasukan nilai-nilai Pancasila dalam kurikulum pendidikan. Menanggapi rekomendasi tersebut, Menko Polhukam menyatakan, akan membentuk tim untuk menyusun hasil rekomendasi dari dua simposium dalam menyikapi penyelesaian kasus HAM masa lalu. Menurutnya tidak masalah ada perbedaan dua simposium tersebut. Tim akan merumuskan dan melaporkan kepada presiden untuk mengambil sikap.

Analisis Kasus Dalam Perspektif Intelijen Komponen Polkam
Perspektif intelijen selalu memberikan saran kepada end user, berupa analisis intelijen yang merupakan hasil akhir dari beberapa informasi yang telah di olah, dikonfirmasikan dan dinilai baik sumber maupun isinya. Nah, dalam kaitan merebaknya isu komunis Indonesia dan PKI, mengapa kini menjadi sebuah isu nasional yang diperdebatkan dan bahkan menjurus kepada pertentangan dikalangan purnawirawan TNI? Ini sebuah pertanyaan yang sebaiknya kita renungkan. Purnawirawan memang bukan TNI lagi, tetapi LBP (Akabri 1970) selalu menyebut dirinya berjiwa tentara, setia , tidak pernah khianat, mantan Kopassus, itulah kebanggaan pribadinya sebagai mantan tentara. Sebuah branding yang memang demikian adanya. LBP menurut penulis lebih kental karakter militernya dibandingkan sebagai pemain politik. Ini titik rawannya dimana dia bisa tergulung oleh keculasan politik.
agus
Gubernur Lemhannas, Agus Widjojo demikian semangat saat simposium di Arya Duta (foto:tempo)

Penulis melihat bahwa 'geger' soal PKI ini bermula karena diadakannya simposium di Aryaduta dengan penjuru Agus Widjoyo (Akabri 1970). Simposium tersebut mengakomodasi mantan-mantan anggota PKI dan keturunan serta simpatisannya, penggiat HAM, maka terbitlah keinginan rekonsiliasi, penyelidikan HAM korban 1965. Saat pertemuan perwakilan Akabri 1970 di Polhukam, LBP menyebut akan mencari apakah benar ada 450.000 korban anggota PKI yang dibunuh dan dikubur? Menurut penulis lantas kalau misalnya yang ketemu 22.000 (seperti yang dikatakannya lebih baik dibandingkan 450.000), terus mau diapakan dan bagaimana? Apakah HAM tetap mau menerima begitu saja? Jumlahnya banyak itu (sebanyak 22 batalyon).

Banyak yang sadar dan faham bahwa isu PKI dan komunisme itu sebuah isu sangat sensitif di Indonesia. Begitu jaringan tertutup simpatisan PKI merasa mendapat angin, makin marak kemunculan simbol-simbol palu arit dimana-mana. Jelas reaksi yang muncul akan berpuluh kali lebih besar berupa penolakan. Penulis mengkhawatirkan, dalam sambutannya kelompok muslim keras seperti FPI sudah menyatakan tidak hanya sekedar melarang tetapi akan menumpas. Artinya ini apa? Seperti yang dikatakan Menhan Ryamizard Ryacudu, ini kalau diteruskan akan berdarah-darah. Bahkan Kivlan Zein dalam pidatonya di muka seribuan lasykar FPI menyebutkan akan menyikat siapapun yang mendukung PKI, dan FPI mengamininya.

Kita tidak menyalahkan, LBP sebagai pejabat resmi pemerintah yang memiliki pemikiran untuk menyelesaikan masalah HAM khususnya dalam hal ini tragedi 1965. Barangkali ada saran masukan yang kuat (indikasi dari Watimpres?) atau tekanan soal HAM ke kementerian yang dipimpinnya, jelas ini sesuatu yang wajar. Seperti juga masalah HAM saat operasi Timor Timur, yang terus ditiupkan para penggiat HAM internasional, tetapi tidak pernah dibuat semacam simposium atau semacamnya untuk penyelesaian. Hingga kini juga adem ayem saja. Apakah masalah HAM ini kemudian menjadi panggung khusus? Menurut penulis, justru ada yang sengaja memasukkan LBP kedalam killing ground, dilibatkan dalam kegaduhan dengan tujuan tertentu. Dilain sisi, Agus Widjojo dikenal sebagai perwira pintar, putra Jenderal korban pembunuhan PKI yang banyak pengalaman. Agus jelas mendapat tugas dalam simposium dengan sudut pandangnya sendiri, dengan jabatan yang melekat sebagai Gubernur Lemhannas, banyak pihak yang menjadi heran. Akhirnya publik menilai bahwa Agus ini mendukung PKI, jelas repot bukan? Jenderal walaupun sudah pensiun tetap harus menjaga martabat dan ucapannya, sekali dia bicara maka dia akan berusaha mempertahankan dan mempertanggung jawabkan ucapannya.
hendro-2
Oleh karenanya Agus kini beresiko berhadapan dengan para senior dan juniornya di PPAD dalam perspektif yang berbeda. Menurut seniornya saat acara ILC, Hendropriyono (mantan Kepala BIN) mengatakan bahwa seseorang tidak hanya cukup pintar, tetapi harus melihat dan menyesuaikan situasi dan kondisi. Hendro menyarankan masalah ini dihentikan saja, sudah cukup dan berbahaya karena implikasinya akan luas. Masukan tokoh intelijen yang sebaiknya di perhatikan. Purnawirawan TNI itu jelas berpegang kepada Pancasila, UUD 1945, Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Oleh karenanya, apabila dia tidak berada di struktural, maka Pancasila adalah bagian dari keyakinannya dan akan dipertahankan. Nah, begitu dirasa dan diketahui bahwa PKI sebagai bahaya laten yang pernah memberontak mendapat angin dari pemerintah (apapun alasannya), maka gelombang penolakan dari para purnawirawan akan terus membesar dan pasti akan melibatkan kelompok-kelompok agama yang anti kepada PKI karena dinilai ber-ideologi komunis yang atheis. Dalam masalah keyakinan ideologi, banyak pihak yang akan bertindak keras apabila dinilai membahayakan Pancasila sebagai dasar negara.

Analisis Komprehensif Intelstrat
Dari perspektif intelijen yang lebih luas dari komponen lainnya, dalam melihat kasus kebangkitan PKI sebagai bahaya laten, penulis mencoba menganalisis lebih komprehensif dengan pisau bedah intelstrat. Dalam melihat kasus-kasus yang merebak di Indonesia, kita harus melihat dengan cakrawala pandang yang lebih luas. Dari sisi komponen ideologi, apakah komunis merupakan ancaman tunggal? Menurut Panglima TNI Gatot Nurmantyo, dalam presentasinya di Balai Kartini 2 Juni 2016, mengatakan ada ancaman lain yang harus juga diwaspadai yaitu Neo Kapitalisme dan Neo Liberalisme. Penulis teringat saat mengikuti pendidikan intelijen pada tahun 1978, Kepala Sekolah yang seorang Kolonel (Alm) mengatakan bahwa ancaman terhadap bangsa Indonesia dimasa depan adalah Komunisme dan Liberalisme. Dalam menguasai negara, menurut sang guru, perbedaannya kalau Liberalisme tidak perlu mempunyai partai, tetapi Komunisme pakemnya harus memiliki partai. Harus kita akui kini faham liberal sudah merasuk ke dalam sistem apapun di Indonesia, berupa penerapan demokrasi liberal dan penerapan HAM. Karena saat ini tidak ada partai komunis yang resmi, maka para elit parpol dan aparat keamanan dan intelijen sebaiknya waspada menelisik, apakah ada parpol baik lama maupun bentukan baru yang di infiltrasi kader-kader komunis. Cepat atau lambat parpol tersebut akan berubah dan dikuasai menjadi semacam PKI Gaya Baru. Inilah bahaya laten yang harus disadari.
jokowi-belum-terpikir-berikan-jatah-menteri-buat-golkar-765x510 (1)
 Presiden Jokowi dan Ketua Umum Golkar Setya Novanto (Foto; boel.asia)

Terkait penilaian komponen intelstrat politik, Presiden Jokowi kini mampu menarik Partai Golkar menjadi pendukungnya. Dengan demikian pada pemilu 2019, PDIP tidak akan bisa semaunya mendiktenya. Golkar yang berkoalisi dengan pemerintah secara perlahan akan semakin kuat, kita lihat saja nanti. Siapa tokoh Golkar, pemainnya hanya dua Setya Novanto (SN) dan LBP. Saat Musyawarah Nasional, LBP berada di tengah-tengah pengurus dan mengendalikan para Ketua-Ketua Daerah. SN yang dikenal mempunyai cacat yang disebut persekongkolan jahat soal Freeport, akhirnya sukses menjadi Ketua Umum Golkar dengan dukungan LBP. Dalam sebuah dinamika politik, yang penulis lihat adalah kepentingan Jokowi menarik Golkar kepihaknya. SN menjadi Ketua yang digadang LBP ke Jokowi, akan mudah di tekan apabila berbuat macam-macam. Catatannya di Kejagung masih belum kering tintanya. Lantas bagaimana LBP? Mungkin ada yang dilupakannya? Yang perlu diingat, senjata mematikan presiden adalah hak "prerogatif," setiap saat bisa mengganti pembantunya di kabinet. Menurut penulis, justru dengan kegaduhan soal PKI dan benturan dengan seniornya di Angkatan Darat (PPAD), ini akan menurunkan posisi tawarnya. Jokowi butuh Golkar, bukan orang perorang, dan etape konsolidasi Golkar sudah selesai dalam genggaman.
309417_kepala-staf-kepresidenan-luhut-panjaitan-presiden-joko-widodo_663_382
Presiden Jokowi dan Menko Polhukam, akan terus bersama? (foto: politik.news.viva)

Presiden jelas memiliki catatan lengkap soal Free Port, Panama Papers, dan kini jelas ada masukan soal kegaduhan simposium. Di sisi lain ada Menhan dengan dukungan para sesepuh TNI AD dan PPAD yang berada di garis yang berbeda pandangan dengan LBP. Kasus Andi Wijayanto dan Tedjo Edhie adalah contoh kasus, betapa mudahnya seseorang diturunkan dari jabatannya (cukup setahun saja). Demikian juga dengan LBP demikian ringan dan mudah digeser dari jabatan Kastaf Kepresidenan yang powerfull ke posisi kementerian kordinator (adhock). Jadi yang perlu diingat, jabatan itu seperti baju, mudah dipakaikan dan juga mudah dilepaskan. Presiden Jokowi rasanya juga akan berhitung apabila harus berseberangan dengan mayoritas para purnawirawan TNI. Oleh karena itu posisi LBP ataupun Agus Widjoyo nampaknya bisa terancam setiap saat. Apabila dilihat dari Intelstrat Komponen Ekonomi, maka presiden Jokowi menurut penulis menjadi target yang diperhitungkan lawan dan akan mereka turunkan. Mengapa? Pertama dalam kasus Laut China Selatan (LCS), sikap Indonesia dinilai mengambang dan justru lebih berpihak ke China. Amerika Serikat sejak tahun 2009 menegaskan selain Australia, Jepang, Filipina, Korea Selatan dan Singapura, dikatakan oleh Presiden Obama, bahwa Malaysia dan Indonesia diharapkan menjadi mitra.
604tzomz
 Posisi Pulau Natuna Indonesia serta garis klaim China dan beberapa negara (Foto : UNCLOS)

Dalam perkembangan politik dan ekonomi, Malaysia lebih memilih China sebagai partner utama perdagangan dan kini Indonesia nampaknya juga demikian. Kini kedua negara mulai disisihkan dan mungkin akan dilupakan oleh AS (potensi menjadi musuh). AS kini mulai menggandeng Vietnam yang selama ini di blokade soal senjata. Presiden Obama beberapa waktu lalu berkunjung dan akan mempersenjatai Vietnam dengan membuka akses pembelian senjata ke AS. Negosiasi AS dengan Vietnam sebagai mitra dalam menghadapi China nampaknya sudah mencapai titik temu. Vietnam dinilai AS lebih tegas posisi politiknya dibandingkan dengan Malaysia dan Indonesia. Posisi geopolitik ini sebaiknya harus dilihat inner circle sebagai sebuah ancaman kelangsungan Jokowi sebagai presiden. Malaysia menurut penulis telah beberapa kali diserang dengan proxy war (kasus MH370 dan MH17), serta upaya menurunkan PM Najib, diantaranya dengan membuka dosa korupsi dan aibnya. Pertanyaannya pola apa yang akan dipakai menyerang Jokowi? Sisi lain yang harus diwaspadai pemerintah Indonesia adalah masalah tax amnesty. Kini mulai muncul penolakan RUU Tax Amnesty baik di DPR maupun parpol. Upaya serta konsep dahsyat presiden ini diperkirakan akan menarik uang Indonesia yang tercecer dan disimpan di luar negeri. Tidak terbayangkan berapa uang orang Indonesia yang mengendap di negara tetangga misalnya. Apabila uang tersebut pulang kandang, maka negara-negara tersebut akan bergetar dan beberapa bank diperkirakan bisa saja colaps. Ini jelas tidak diinginkan. Penulis memonitor adanya informasi upaya gratifikasi sangat tertutup dari luar negeri untuk menghalangi pengesahan RUU Tax Amnesty. Bila plan A tersebut gagal akan dilanjutkan kepada serangan nilai kurs rupiah, dan plan C adalah penurunan Jokowi (info yang perlu pendalaman).

Oleh karenanya, penulis memperkirakan bahwa isu diangkatnya masalah kebangkitan PKI juga merupakan bagian dari proxy, dimana mereka yang terlibat umumnya tidak sadar adanya operasi conditioning. Tujuan dari isu ini adalah untuk memecah belah dan mengadu domba, menimbulkan perang saudara. Konflik sudah mulai memercik baik dikalangan grass root maupun midle class, yang berbahaya terjadi dikalangan purnawirawan yang pengaruhnya masih besar. Ingat perang saudara di Ambon dan Poso, baru dapat diselesaikan berapa tahun kemudian. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama kembali merenungkan dan memikirkannya. Kesimpulan penulis, munculnya kasus-kasus tersebut merupakan bagian dengan target akhir yang besar, yaitu menurunkan presiden. Presiden Jokowi yang demikian terkenal justru dinilai sebagai ancaman serius oleh beberapa negara. Secara konstitusi jelas sulit menurunkan Jokowi yang karena belum ada dosa politiknya. Oleh karenanya menurunkan presiden yang populis ini oleh penulis terbaca konsepnya mengarah penciptakan chaos, perang saudara, melemahkan perekonomian dan menghancurkan citra dan kredibilitas. Itulah target utamanya, yang lainnya adalah sasaran antara dalam rangka mematangkan kondisi. Kira-kira begitulah akhir analisis.

Penulis : Marsda (Pur) Prayitno Ramelan, Analis Intelijen, www.ramalanintelijen.net