Rabu, 21 Oktober 2015

Radar AESA: Absen di Sukhoi Su-35, Hadir di Eurofighter Typhoon dan F-16 Viper

ngsabrwebpromo

Pemerintah lewat Kementerian Pertahanan RI dan TNI AU telah memutuskan Sukhoi Su-35 Super Flanker sebagai pengganti jet tempur F-5 E/F Tiger II. Setelah pernyataan tersebut, lantas bagaimana dengan nasib dari Eurofighter Typhoon dan SAAB JAS Gripen NG yang terbilang gencar dipromosikan di Indonesia? Bahkan meski ada pengumuman atas ‘kemenangan’ Su-35, Lockheed Martin dengan F-16 Viper justru percaya diri menjajakan jet tempur generasi 4.5 tersebut ke Indonesia.

aad1301600593_f-16in-1

Yang unik, meski keputusan pengganti F-5 telah dimenangkan Su-35, namum sampai tulisan ini dibuat belum juga ada kontrak penandatanganan pembelian. Entah mungkin masih ada tarik ulur terkait detail pembelian, seperti nilai kontrak, jenis senjata, dukungan logistik sampai urusan ToT (transfer of technology), yang pastinya butuh waktu untuk mencari kata sepakat. Lain dari itu, para kompetitor Sukhoi masih melihat ada peluang untuk memasok jet tempur baru untuk Indonesia, toh sejatinya diluar pengganti F-5, TNI AU masih butuh beberapa skadron tempur.

13548_20258

Meski Sukhoi Su-35 terbilang superior dan punya banyak keunggulan komparatif, tapi ada satu yang terasa agak ketinggalan, yakni sistem radar yang menganut teknologi PESA (Passive Electronic Scanning Array), seperti yang digunakan pada Sukhoi Su-27. Padahal generasi Su-30MKI (hasil pengembangan Rusia dan India) telah dilengkapi radar Zhuk yang mengusung teknologi AESA (Active Electronically Scanned Array) yang lebih baru.

eurofighter-Captor-E-DA5.jpg.4666966
Radar CAPTOR-E

Radar Sukhoi Su-35
Radar Sukhoi Su-35

Nah, teknologi radar AESA ini sejatinya justru sudah hadir dalam paket sistem sensor Eurofighter Typhoon dan F-16 Viper. Typhoon versi awal dilengkapi mechanically scanned radar CAPTOR-M. Radar ini masih menganut sistem konvensional yaitu scanning dilakukan dengan mengarahkan fisik antena. Radar ini kemudian digantikan dengan Active Electronically Scanned Array (AESA) CAPTOR-E. Sementara F-16 Viper hadir dengan platform SABR (Scalable Agile Beam Radar) AESA yang mengusung antena radar APG-83 buatan Northrop Grumman.

Perbedaan mendasar dari kedua sistem radar terletak pada sumber tenaganya (Transmitter), dimana PESA masih menggunakan 1 sumber tenaga, seperti klystron atau Travelling Wave Tube yang dihubungkan ke antena melalui Kabel atau Waveguide (Pandu Gelombang) yang akan terhubung pada suatu “feed” (bisa Corporate Feed seperti pada N011M BARS atau Space Feed seperti pada N001 PERO) yang akan menyalurkan gelombang elektromagnetik dari Waveguide ke pemancar (Emitter). Sementara pada radar AESA, sumber tenaganya berasal dari banyak modul TR (Transmit-Receive)yang terdapat pada antena .

Radar AESA memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan sistem mekanik konvensional. Radar beam bisa diarahkan lebih cepat dan fleksibel (agile beam steering) secara elektronik. Hasilnya radar ini bisa mendeteksi dan tracking lebih banyak target. Selain itu radar AESA ini juga memiliki kemampuan LPI (Low Probability of Intercept). LPI berarti emisi radar lebih sulit dideteksi lawan. Typhoon bisa menggunakan radar aktif untuk mendeteksi lawan dengan kemungkinan kecil lawan bisa tahu bila sedang di deteksi.

Radar AESA biasanya dipasang mati ke rangka pesawat. Proses scanning bisa dilakukan dengan cepat secara elektronik. Akan tetapi cara seperti ini hanya bisa mengcover area 120 derajat di depan. Pada CAPTOR-E, array AESA dipasang dalam sebuah gimbal, sehingga bisa digerakkan untuk mengcover area 180 derajat di depan. Gimbal AESA ini adalah sebuah prestasi engineering tersendiri. Jika sistem mekanik konvensional hanya butuh kabel untuk satu antenna transmit/receive. AESA butuh jalur untuk puluhan bahkan ratusan modul transmit receive.

Pada simulasi radar APG-68 AESA di F-16 Viper yang punya kemampuan deteksi jarak jauh (160 nautical mile), pesawat dengan sudut hidung 60 derajat dapat men-track 20 target sekaligus, baik yang terbang rendah maupun terbang tinggi. Radar tentunya dapat di setting sesuai misi air to surface, air to air, dan air to sea. Selain telah digunakan AS, APG-68 AESA saat ini baru digunakan F-16 AU Korea Selatan.

Katakankan untuk dalam suatu kondisi penggunaan radar untuk penjejakan sudah tak maksimal, semisal dalam pertempuran jarak dekat (dog fight), maka yang akan mengambil peran adalah penjejak target berbasis elektro optik. Meski bukan istilah yang populer, penjejak canggih ini mudah dilihat, pasalnya punya bentuk desain bola kaca yang disematkan di sisi luar depan kokpit. Di Typhoon perangkat ini disebut PIRATE (Passive InfraRed Airborne Track Equipment) buatan Eurofirst yang merupakan konsorsium dari Sales EX, Thales Optronics, dan Tecnobit. Ketiganya adalah pemasok utama perangkat avionic Typhoon. Dari perannya, PIRATE di Typhoon sebagai pendukung sistem penjejak utama pada radar AESA. Dengan basis FLIR (Forward looking Infra Red), dalam suatu misi bisa saja pilot diharuskan harus melakukan radar silient, atau jaga-jaga bila radar mengalami error, maka PIRATE bakal menjadikan pilot percaya diri meladeni dog fight. Selain Typhoon, PIRATE juga digunakan pada JAS 39 Gripen.

squared_medium_IRST_s_01

60369_sukhoi_buatan_rusia_663_382

Begitu pun di Sukhoi Su-27/Su-30 dan Su-35, hadir penjejak elektro optik model OEPS-27. Nah, disini minusnya F-16, jet tempur mesin tunggal ini tak dibekali penjejak elektro optik internal. (Gilang Perdana)
 
 

Kebijakan Pertahanan Jokowi – JK Tidak Selaras Visi Misi

  image

Setahun kepemimpinan Joko Widodo-Jusuf Kalla, upaya penguatan sistem pertahanan dinilai belum terlihat. Bahkan, kebijakan pemerintah dalam hal tersebut dianggap tidak selaras dengan visi misi pertahanan yang dipaparkan selama masa kampanye Pilpres 2014 lalu.

Pada poin kelima visi misi Jokowi-JK disebutkan, pemerintah berjanji menguatkan sistem pertahanan dengan pemenuhan kebutuhan pertahanan melalui peningkatan kesejahteraan prajurit dan penyediaan alutsista secara terpadu dengan anggaran pertahanan 1,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB/GDP).

“Realita yang terjadi saat ini, anggaran pertahanan 2016 turun dari anggaran sebelumnya (2015),” kata Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq kepada Kompas.com, Jumat (16/10/2015).

Ketua Komisi 1 DPR Mahfud Siddiq
Ketua Komisi 1 DPR Mahfudz Siddiq

Pemerintah mengajukan anggaran sebesar Rp 95 triliun pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2016. Anggaran tersebut turun Rp 7 triliun dari anggaran 2015 yang mencapai Rp 102 triliun.

Selain itu, Mahfudz juga mengingatkan Jokowi-JK yang ingin menjadikan Indonesia sebagai poros negara maritim dunia.

Pada poin ketujuh visi misi disebutkan, pemerintah ingin membangun TNI yang berorientasi pada kekuatan laut. Dengan demikian, kemampuan TNI diharapkan dapat setara dengan negara-negara di kawasan regional Asia Timur dan kekuatannya disegani.

Mahfudz mengatakan, untuk dapat membangun sebuah negara dengan kekuatan maritim, dibutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Fokus pembangunan pertahanan tak hanya sebatas pada kekuatan laut, tapi juga udara dan darat sebagai bantuan. Sinergi kekuatan pertahanan itu diperlukan untuk mengontrol seluruh wilayah Tanah Air.


“Negara maritim itu adalah suatu konsep dimana dia harus ditopang kemampuan kita untuk mengontrol wilayah kita sendiri,” ujar Mahufdz.

Politik luar negeri belum tegas

Mahfudz juga mengingatkan agar Indonesia mengambil sikap tegas dalam menerapkan kebijakan politik luar negeri, dan tak terombang-ambing dengan dinamika politik kawasan.

“Kita harus mampu menarik suatu garis tegas. Kepentingan nasional kita apa, dan itulah yang harus menjadi dasar kebijakan nasional kita,” kata dia.

Politisi PKS itu, mengatakan, saat ini Amerika Serikat dan China memiliki peran yang besar untuk memengaruhi dinamika kawasan. Secara garis politik, menurut dia, pemerintah cenderung berorientasi barat. Namun, dari sisi penguatan ekonomi, China terlihat lebih mendominasi.

Meski demikian, Mahfudz tak meminta pemerintah condong pada salah satu polar kekuatan yang ada. Pemerintah diharapkan dapat menyuarakan secara jelas kepentingan nasional Indonesia di kancah internasional.

“Sehingga, tidak menimbulkan komplikasi tertentu,” ujarnya.

Kompas.com

Kamis, 15 Oktober 2015

Winchester M-70: Senjata Sniper Legendaris Indonesia, Tatang Koswara

M70_008

Dalam operasi Seroja di Timor Leste (d/h Timor Timur), tak kurang 3.000 pasukan TNI dari berbagai kesatuan telah gugur di medan pertempuran. Tentu jumlah tewas yang lebih besar dirasakan oleh pihak lawan. Dan dibalik sepak terjang operasi tempur yang berlangsung dua dekade tersebut, ada sosok yang amat ditakuti fretilin dan Tropaz, yakni sniper (penembak jitu) legendaris Pembantu Letnan Satu (Peltu) Tatang Koswara dari Pusdikif (Pusat Pendidikan Infanteri) TNI AD.

Tatang Koswara telah tutup usia pada 3 Maret 2015 lalu, namun dedikasi dan prestasinya akan terus dikenang, karena memang belum ada yang menandingi di Indonesia sampai saat ini. Dari beragam aksi heroik Tatang di Timor Timur, aksi di tempur di Remexio, bagian selatan kota Dili menjadi momen emas uji ketangguhan Tatang. Dalam serbuan senyap di Remexio, Tatang berhasil menewaskan 49 musuh. Dari 50 peluru kaliber 7,62 mm yang dibawa, hanya tinggal satu butir yang tersisa dan dibawanya kembali menuju markas. Dalam setiap penugasan, sniper sengaja menyisakan satu peluru untuk misi bunuh diri bila terdesak.

Tatang Koswara di Heli NBO-105 Puspenerbad saat operasi Seroja.
Tatang Koswara di Heli NBO-105 Puspenerbad saat operasi Seroja.

Dalam setiap tugas pengendapan, Tatang faktanya tak pernah membawa buku catatan untuk mencatat jumlah kill. Data tentang jumlah korban dari tembakan Tatang justru dicatat oleh Letnan Ginting yang berperan sebagai pengawal Tatang dalam misi di Remexio. Berdasarkan bahan tercatat tersebut, seorang penulis buku Sniper asal AS, Peter Brookesmith, lewat bukunya “Sniper: Training, Techniques and Weapons,” memasukkan prestasi Tatang sebagai sniper kelas dunia dengan confirmed kills sebanyak 41. Jumlah kills 41 yang dicatat Peter sebenernya jauh dari hitungan sebenarnya, karena Tatang sendiri dalam misi tempurnya di Timor Timur mengaku telah menumbangkan sasaran lebih dari 100 orang.

M70_010p1100302.jpg_thumbnail0

11004159_3winmod70floorplatete


the-riflemans-rifle-senjata-sniper-legendaris-tatang-koswara-rev1

Winchester M-70
Sebelum bergabung dengan TNI, Tatang sejatinya sudah memiliki bakat menembak sedari kecil lewat aksi berburu binatang di hutan. Dan bakat alam itulah yang mendukung kemampuan Tatang dalam penugasannya di militer. Meski punya bakat alam sebagai sniper, namun kemampuan menembak Tatang tidak akan maksimal bila tak ditunjang jenis senapan yang mumpuni. Dan, untuk urusan senapan dalam aksinya di Timor Timur, Ia memilih Winchester M (Model)-70.

Perjumpaan Tatang dengan Winchester M-70 juga punya kisah tersendiri, pasalnya di tahun 70-an belum hadir senapan penembak runduk buatan dalam negeri seperti SPR-1, SPR-2 dan SPR-3. Ceritanya pada tahun 1974 atas prakarsa Danjen Kopassus saat itu, Mayor Jenderal Mung Purhadi Mulyo, dihadirkan pelatih sniper dari elemen Green Beret. Sebagai unit pelaksana berasal dari 30 Batallion 1st Special Forces Group yang punya kemampuan khusus pada perang anti gerilya. Semua siswa akan dinilai melalui semacam uji menembak dari berbagai jarak dan situasi yang dikondisikan seperti pertempuran sungguhan. Dari 30 siswa sniper hasil gemblengan Green Berets, hanya 17 orang yang lulus dan masing-masing langsung dihadiahi senapan sniper Winchester M-70. Diantara 17 orang itulah terdapat nama Tatang Koswara.

535206226.tag.1Winc70PFM40_Sniper_Rifle_System

Beragam varian Winchester M-70.
Beragam varian Winchester M-70.

Slot magasin.
Slot magasin.


Magasin Winchester M-70.
Magasin Winchester M-70.

Senapan Winchester M-70 buatan AS yang digunakan Tatang adalah senapan sniper canggih di jamannya. Di tangan Tatang yang telah mendapatkan latihan beragam kemampuan tempur, Winchester M-70 yang beroperasi dengan sistem bolt action menjadi senjata yang sangat mematikan serta sangat efektif dan efisien saat dipergunakan mengeliminasi sasaran terpilih.
Namun tanpa Winchester M-70 yang dilengkapi alat peredam suara (silencer), teropong bidik malam (night vision), dan akurasi tembakan yang mencapai 900 meter, kemampuan menembak jitu Tatang mungkin juga tidak maksimal. Kombinasi senapan penembak runduk yang canggih dan keterampilan Tatang yang terlatih baik menjadikannya sebagai sniper kaliber dunia.

Dirunut dari sejarahnya, Winchester M-70 dirancang untuk memuaskan kultur berburu masyarakat AS yang terus meningkat dan juga untuk kepentingan militer. Winchester M-70 dikembangkan dari pendahulunya Winchester M-54, dan mulai diproduksi perdana pada tahun 1936. Pada saat itu, Winchester M-70 langsung mendapat pengakuan dan reputasi di kalangan komunitas pemburu. Lewat debutnya yang battle proven di banyak laga pertempuran, ikon senapan berburu ini nyatanya terus diproduksi dalam berbagai varian hingga tahun 2006.


9515148_1

Kiprah Winchester M-70 cukup cemerlang dalam banyak pertempuran. Dalam Perang Dunia II, senapan ini digunakan oleh Marinir AS (USMC) di laga Pasifik melawan Jepang. Pasca Perang Dunia II dan Perang Korea, Winchester M-70 tetap dirawat dan direkondisi sesuai kebutuhan AS. Produksi sesuai standar rekondisi pun terus dilakukan dan dioperasikan militer AS, khususnya untuk kepentingan perlombaan menembak jitu antar satuan. Komponen yang digunakan dalam rekondisi Winchester M-70 seperti teleskop bidik 8X Unerti yang biasa digunakan pada senapan sniper M1903-A1. Saat meletusnya Perang Vietnam, Wichester M-70 yang dioperasikan sudah di upgrade sehingga punya kinerja lebih maksimal.

Aksi Lance Corporal Dalton Gunderson dari 3rd Marine Division dengan Winchester M-70 dalam Perang Vietnam..
Aksi Lance Corporal Dalton Gunderson dari 3rd Marine Division dengan Winchester M-70 dalam Perang Vietnam..

Personel US Army dengan Winchester M-70 di medan Vietnam.
Personel US Army dengan Winchester M-70 di medan Vietnam.

Sniper Marinir AS dengan Spotter di laga Vietnam.
Sniper Marinir AS dengan Winchester M-70 plus didampingi Spotter di laga Perang Vietnam.

Salah satu sniper legendaries USMC yang berjaya di Vietnam adalah Sersan Carlos Hatchcock dengan Winchester M-70. Berbekal Winchester M-70 yang dilengkapi alat bidik standar 8X43 Unerti, Hatchcock berhasil mengeliminasi sniper Vietcong melalui tembakan berakurasi tinggi tepat di bagian mata lawan. Peluru Winchester yang melesat menghantam tepat di teleskop senapan mesin Mosin Nagant sniper lawan dan selanjutnya menembus matanya.

Selain memiliki jarak tembak hingga 1.000 meter, magasin Winchester M-70 juga bisa digunakan untuk menembakkan beragam kaliber peluru, sehingga ketika kehabisan peluru, sniper yang bersangkutan bisa meminta peluru senapan laras panjang dari pasukan reguler.

Tidak seperti sniper di era masa kini yang selalu bertugas bersama spotter dan dibekali gear lengkap mulai dari senjata, logistik, dan peralatan medis. Maka Tatang dalam menjalankan misi hanya dilengkapi senapan Winchester M-70, senapan otomatis AK-47 untuk bela diri, beberapa granat, dan peta. Khusus untuk perlengkapan medis hanya dibawa seperlunya. (Disarikan dari buku Satu Peluru Satu Musuh Jatuh – Tatang Koswara Sniper Kelas Dunia – A. Winardi)

Spesifikasi Winchester M-70
– Manufaktur: Winchester Repeating Arms Company
– Sistem operasi: Bolt action (tembak satu-satu)
– Kaliber: 7,62 x 51mm/30-06 Springfield
– Panjang laras: 660 mm
– Berat kosong: 3,62 kg
– Kapasitas magasin: 3/4 atau 5 peluru
– Pembidik: Iron front dengan adjustable rear atau optical optics
– Jarak tembak: Hingga 1.000 meter (bergantung pada jenis laras dan amunisi)
 

Awas! Aceh, Papua, Kalimantan, Ambon dan Bali jadi Target Ledakan Kekerasan

Aksi Massa Anti Kekerasan (antara)
Aksi Massa Anti Kekerasan (antara)

Berdasarkan data yang dihimpun Front Pembela Islam (FPI), sepanjang tahun 2015 ada upaya kuat dari pihak asing untuk meletupkan aneka tindak kekerasan di sejumlah wilayah Indonesia.

Kesimpulan itu disampaikan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) FPI di akun Twitter resmi @DPP_FPI. “Berdasar data yang berhasil dihimpun FPI, tahun 2015 ini memang ada upaya kuat dari pihak luar/asing untuk meletupkan aneka tindakan kekerasan,” tulis @DPP_FPI.

DPP FPI mensinyalir ada lima wilayah di Indonesia yang jadi target operasi “konflik horizontal” oleh pihak asing. Kelima wilayah itu yakni, Aceh, Papua, Kalimantan, Ambon, dan Bali.

“Caranya dengan meledakan konflik berbasis agama, adat, dan soal kedaerahan lainnya. Umat Islam wajib waspada! Dalam hal ini, wilayah yang diduga serta rawan dijadikan target adalah Aceh, Papua, Kalimantan, Ambon, serta Bali,” jelas ‏@DPP_FPI.

Diberitakan sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan ada pihak yang tidak senang dengan kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Hal ini merunut sejumlah konflik antarumat yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Ketua MUI Bidang Kerukunan Antarumat Beragama Yusnar Yusuf di Kantor MUI, menyatakan, besarnya jumlah penganut Islam di Indonesia bukanlah alasan pemeluk agama lain harus mengikuti aturan dari umat mayoritas.

Menurut Yusnar, walau merupakan negara dengan penganut agama Islam terbesar di dunia, Indonesia tidak bergejolak seperti halnya negara-negara Islam di Timur Tengah. Oleh karena itu Yusnar berani mengatakan Indonesia adalah negara paling aman di dunia.

“Tetapi ada orang yang tidak suka dengan itu dan memanfaatkan momentum (untuk melancarkan aksinya),” tutur Yusnar, seperti dikutip republika (14/10).

Sebelumnya, terjadi bentrok antarwarga yang menewaskan seorang warga dan melukai empat lainnya serta pembakaran gereja di Desa Sukamakmur, Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil, Selasa (13/10).
 

Kasad : Jaga Pertahanan Negara Bukan Berarti Perang

KASAD Jenderal TNI Mulyono (ist)
KASAD Jenderal TNI Mulyono (ist)

Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Mulyono mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk ikut dalam mewujudkan Sistem Pertahanan Semesta (Sishanta). Salah satunya peran TNI di wilayah yakni Kodim, Korem, hingga Koramil dinilai berperan penting.

Hal itu diungkapkan Mulyono dalam seminar nasional bertema ‘Mewujudkan Sishanta yang Tangguh Melalui Penguatan Peran Binter TNI AD dalam Membantu Menyiapkan Kekuatan Pertahanan Negara’ di kampus UI Depok.

Mulyono menjelaskan, sesuai UUD 1945 seluruh komponen negara wajib ikut dalam mempertahankan pertahanan dan keamanan negara.

“Sehingga generasi saat ini jelas dengan blueprint konsep sinergi dengan TNI mendukung sistem pertahanan negara,” tegasnya, Kamis (15/10/2015).

Ia menambahkan, Sishanta yang dianut bersifat semesta melibatkan seluruh warga negara dipersiapkan secara dini oleh pemerintah, berlanjut melindungi keselamatan bangsa. Dengan mengembangkan seluruh sumber daya nasional memelihara pertahanan negara.

“Dilakukan untuk mempertahankan melindungi dan memelihara kedaulatan. Menempatkan TNI jadi komponen utama. Ancaman non-militer pertahanan unsur utama dengan ancaman yang dihadapi. Pertahanan bukan berarti bicara perang tetapi memberdayakan seluruh komponen bangsa mempertahankan kedaulatan,” tandasnya.

Ia juga mengingatkan generasi muda terkait ancaman proxy war.

“Memanfaatkan sumber daya didukung sarana dan prasarana. Proxy war nyata–nyata kedepan kita hadapi,” tegas Mulyono.(Okezone)

Pasukan Khusus Bentukan Komjen Buwas Terdiri dari TNI dan Polri

  Kepala BNN, Komjen Pol Budi Waseso
Kepala BNN, Komjen Pol Budi Waseso

Setelah mendapatkan izin dari Presiden Jokowi Widodo, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso membentuk pasukan khusus yang fungsi dan operasinya memberangus peredaran narkoba di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Prajurit ini nanti tidak akan bisa disuap, ketika instruksi dari saya A maka dia akan laksanakan A. Perintah tembak kapal, dia akan tembak. Tak ada negoisasi,” tegas Budi Waseso saat konfrensi pers di Epiwalk Epicentrum, Jakarta Selatan, (13/10).

Dibentuknya tim khusus ini, menurut Komjen Buwas, berangkat dari pemikiran idenya. Oleh karena itu, dia mempertaruhkan jabatannya jika prajurit didikannya tersebut gagal memberantas peredaran narkoba di NKRI.

“Kekegagalan pasukan ini berarti kegagalan saya juga. Pertaruhan ini saya sudah sampaikan kepada pak Presiden,” terangnya.

Labih lanjut, saat ini, prajurit militan pemberantas kartel narkoba tersebut, sedang dilatih kemampuannya. Menurut Buwas, anak didiknya itu akan dirahasiakan identitasnya, bahkan lokasi pelatihannya sangat terisolasi.

“Sekarang sedang dilatih khusus, di tempat khusus. Pasukan terdiri dari macam-macam latar belakang profesi, dari TNI sampai Polisi. Seleksinya luar biasa,” terangnya.


Tak hanya itu, para pelatih yang memberikan materi kepada prajurit pun tak tahu-menahu maksud dan tujuan latihan prajuritnya itu.

Karenanya, pelatihan untuk prajurit ini sangat ekslusif. Buwas mengakui tak mengadopsi pola latihan dari manapun.

“Sarana dan prasarana luar biasa. Saya tidak tiru amerika. Ini ide saya sendiri. Peluru gunakan peluru tajam, bukan karet,” jelasnya.

Bahkan, dalam latihan uji coba yang telah dilakukan oleh prajurit militan itu, Buwas menerangkan tak akan ada kesalahan dalam uji coba tersebut. Dalam kesempatan ini, Buwas justru menantang para kartel untuk mengedarkan narkoba di NKRI.

“Uji coba sudah dilakukan pake proyektil panas, terbukti sempurna. Siapapun yang mau coba masuk, saya tidak ragu. Peluru tak akan meleset, silahkan masuk kemari,” terangnya.

jpnn.com

Letkol Inf Dwi Sasongko Pimpin Konga XXIII-J/Unifil di Lebanon

  1

2

3

4

5

6

7


Mabes TNI kembali menyiapkan Satuan Tugas Batalyon Infanteri Mekanis (Satgas Yonif Mekanis) TNI Konga XXIII-J/Unifil (United Nations Interim Force In Lebanon) untuk menggantikan Satgas Yonif Mekanis Konga XXIII-I/Unifil yang akan berakhir masa tugasnya bulan depan. Penugasan pasukan TNI ke Lebanon ini didasari Resolusi DK PBB nomor 1701 tanggal 11 Agustus 2006 tentang wewenang dan penambahan pasukan PBB di Unifil Lebanon.

Satgas Yonif Mekanis TNI Konga XXIII-J/Unifil yang beranggotakan 850 Prajurit TNI dari tiga Angkatan (537 TNI AD, 231 TNI AL dan 82 TNI AU) di bawah pimpinan Letkol Inf Dwi Sasongko, S.E., abituren Akademi Militer 1998 dan merupakan Lulusan Terbaik (Adhi Makayasa) yang saat ini menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) 305 Para Raider, Karawang, Jawa Barat, mendapatkan kehormatan sekaligus tantangan untuk menunjukkan profesionalisme prajurit TNI di dunia internasional, yang merupakan tugas sangat berat karena pasukan Kontingen Garuda sebelumnya yang juga bertugas di tempat yang sama telah melaksanakan tugasnya dengan baik.

Adapun riwayat jabatan yang pernah diemban oleh Letkol Inf Dwi Sasongko, S.E., yaitu : Danton 1/B/Yontar Akmil tahun 2000, Danton 3/A/502/Divif 2 Kostrad tahun 2001, Danton 1/A/502/Divif 2 Kostrad tahun 2002, Pasi 2 Pandu Udara Brigif Linud 18/Kostrad tahun 2004, Dankipan A/503/Divif 2 Kostrad tahun 2005, Pasi 2/Ops/503/Divif 2 Kostrad tahun 2007, Kasi 5/Ter Brigif Linud 18/2 Kostrad tahun 2008, Kasi 2/Ops Brigif Linud 18/2 Kostrad tahun 2010, Wadanyonif 502/Divif 2 Kostrad tahun 2011, Pamen Kostrad (Dik Sesko) tahun 2012, Ps KGB OYU Dep OYU tahun 2012, Ps KGB Kodal Dep Kodal tahun 2013, Ps Pabandya Lat Sops Kostrad tahun 2013, Danyonif 305 Para Raider/17/1 Kostrad tahun 2014 sampai sekarang.

Dengan berbagai pengalaman tugas yang dimilikinya selama mengabdi di TNI Angkatan Darat, tidak diragukan lagi Letkol Inf Dwi Sasongko akan mampu melaksanakan tugas untuk lebih mengharumkan merah putih di dunia internasional.

Satgas Batalyon Mekanis TNI Konga XXIII-J/Unifil telah selesai melaksanakan Pratugas (Pre Deployment Training) selama sebulan di PMPP TNI, Sentul, dan siap ditugaskan selama setahun dalam misi Peacekeeping Operation di Lebanon. Para prajurit yang terpilih dalam Satgas ini merupakan prajurit-prajurit pilihan yang telah lulus seleksi untuk tergabung menjadi seorang Peacekeepers.

Saat ini terdapat kurang lebih 2.673 Peacekeepers asal Indonesia yang terdapat di seluruh belahan dunia sebagai Pasukan Pemelihara Perdamaian dibawah naungan PBB. Hal ini membuktikan kontribusi pasukan Indonesia dalam memelihara perdamaian dunia yang sesuai dengan salah satu tujuan bangsa Indonesia dalam alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945, yaitu “ikut melaksanakan ketertiban dunia, yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Pen Konga XXIII-J/Unifil. Sabtu 14 Oktober 2015